Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
Not a member yet
    418 research outputs found

    ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH DAN SATURASI OKSIGEN PERIFER (SPO2)

    Get PDF
    Tekanan darah merupakan faktor yang sangat penting pada sistem sirkulasi. Tidak semua tekanan darah berada dalam batas normal sehingga menyebabkan munculnya gangguan pada tekanan darah yakni hipertensi dan hipotensi. Prevalensi hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta masuk di urutan ke-14 yaitu sebesar 25,7%. Selain itu ada cara untuk mendeteksi adanya gangguan tekanan darah atau masalah sirkulasi pada tubuh dengan cara memeriksa tekanan darah dan mengetahui nilai saturasi oksigen. Gangguan tekanan darah yang bisa mempengaruhi nilai pada saturasi oksigen di tubuh. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan umur dan jenis kelamin dengan tekanan darah dan saturasi oksigen (SpO2) pada mahasiswa keperawatan salah satu universitas di Yogyakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi adalah seluruh mahasiswa salah satu kampus keperawatan salah satu universitas di Yogyakarta berjumlah 137 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan 120 responden yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah sphygmomanometer digital, pulse oximetry, dan lembar observasi. Analisis data penelitian menggunakan uji Kruskal wallis. Mayoritas berjenis kelamin perempuan yaitu 108 responden (90%). Mayoritas kategori remaja akhir yaitu 117 responden (97,5%). Mayoritas tekanan darah pada mahasiswa kategori normal sebanyak 81 responden (67,5%). Nilai median saturasi oksigen (SpO2) yaitu 98 mmHg. Hasil analisis bivariat antara umur dan jenis kelamin dengan tekanan darah didapatkan p-value 0,641 dan 0,176. Hasil analisis bivariat antara usia dan jenis kelamin dengan saturasi oksigen (SpO2) didapatkan p-value 0,385 dan 0,964. Hasil analisis bivariat antara tekanan darah dan saturasi oksigen (SpO2)  didapatkani p value adalah 0,010. Tidak ada hubungan signifikan antara umur dan jenis kelamin dengan tekanan darah. Tidak ada hubungan signifikan antara umur dan jenis kelamin dengan saturasi oksigen (SpO2). Ada hubungan antara tekanan darah dengan saturasi oksigen (SpO2) pada Mahasiswa Keperawatan   Blood pressure is a very important factor in the circulatory system. Not all blood pressure is within normal limits, causing interference with blood pressure, namely hypertension and hypotension. The prevalence of hypertension in the Special Region of Yogyakarta is ranked 14th at 25.7%. In addition there are ways to detect blood pressure disorders or circulation problems in the body by checking blood pressure and knowing the value of oxygen saturation. Blood pressure disorders that can affect the value of oxygen saturation in the body. The study aims to analyze the relationship between age and sex with blood pressure and oxygen saturation (SpO2) in nursing students at a university in Yogyakarta. This research is a type of correlation study with a cross sectional study design. The population is all students of one nursing campus of a university in Yogyakarta totaling 137 people. The sampling technique used is total sampling with 120 respondents who fit the inclusion and exclusion criteria. The research instruments used were digital sphygmomanometer, pulse oximetry, and observation sheets. Analysis of research data using the Kruskal Wallis test. The majority of women are 108 respondents (90%). The majority of late adolescent categories are 117 respondents (97.5%). The majority of blood pressure in normal category students was 81 respondents (67.5%). The median value of oxygen saturation (SpO2) is 98 mmHg. The results of bivariate analysis between age and sex with blood pressure obtained p-values ​​of 0.641 and 0.176. The results of bivariate analysis between age and sex with oxygen saturation (SpO2) obtained p-values ​​of 0.385 and 0.964. The results of the bivariate analysis between blood pressure and oxygen saturation (SpO2) found that the p value was 0.010. There is no significant relationship between age and sex with blood pressure. There is no significant relationship between age and sex with oxygen saturation (SpO2). There is a relationship between blood pressure and oxygen saturation (SpO2) in nursing students

    HUBUNGAN USIA, JENIS KELAMIN DAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR GULA DARAH PUASA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI KLINIK PRATAMA RAWAT JALAN PROKLAMASI, DEPOK, JAWA BARAT

    Get PDF
    Diabetes melitus biasa disebut “the silent killer†karena penyakit ini dapat menimbulkan dampak pada semua organ tubuh dan berbagai macam keluhan. Data World Health Organization (WHO) memprediksi kenaikan jumlah pasien diabetes melitus di Indonesia dari 8,43 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 21,257 juta jiwa pada tahun 2030. Peningkatan kejadian kasus diabetes melitus dipengaruhi berbagai faktor seperti perubahan pola gaya hidup, perubahan usia, dan kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin dan indeks massa tubuh dengan kadar gula darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional study. Penelitian ini dilakukan di Klinik Pratama Rawat Jalan Proklamasi, Depok, Jawa Barat dengan jumlah sampel sebanyak 134 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang berhubungan dengan kadar gula darah puasa adalah usia (p-value=0,004). Pada variabel yang tidak memiliki hubungan dengan kadar gula darah puasa adalah jenis kelamin (p-value=0,331), dan dan indeks massa tubuh (p-value=0,502). Jadi, dapat disimpulkan bahwa usia perlu diperhatikan dalam melakukan perawatan diabetes melitus tipe 2.   Diabetes mellitus is commonly called “the silent killer†because this disease can have an impact on all organs of the body and various complaints. The World Health Organization (WHO) predicts an increase in the number of diabetes mellitus patients in Indonesia from 8.43 million in 2000 to 21.257 million in 2030. Increased incidence of diabetes mellitus cases is influenced by various factors such as changes in lifestyle patterns, age changes, and culture. This study aimed to determine the relationship of age, sex and body mass index with fasting blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus. The method of this study used a cross-sectional study design. This research was conducted at the Klinik Pratama Rawat Jalan Proklamasi, Depok, West Java with a total sample of 134 respondents. Sampling in this study used a purposive sampling method. Data analysis using the Chi-Square test. The results showed that age-related blood fasting blood sugar levels (p-value=0,004). The variables that have no relationship with fasting blood sugar levels are gender (p-value=0,331) and body mass index (p-value=0,502). It can be concluded that age has to be considered in treating type 2 diabetes mellitus

    IMPLEMENTASI DISKUSI REFLEKSI KASUS (DRK) MENINGKATKAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENERAPKAN SOP MANAJEMEN NYERI

    Get PDF
    Keberhasilan pelayanan kesehatan sangat tergantung pada partisipasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Banyaknya tugas yang hars dilakukan perawat membuat perawat kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai pemberi asuhan keperawatan. Salah satu kegiatan untuk memecahkan masalah yang muncul dalam pelayanan kesehatan salah satunya dengan refleksi kasus yang di Indonesia diperkenalkan melalui kegiatan Diskusi Refleksi Kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dapat meningkatkan kepatuhan perawat dalam melaksanakan SPO manajemen nyeri di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment dengan dilakukan pada responden yang berjumlah 35 responden. Analisa data untuk menguji pre dan post menggunakan Uji PairedT-test atauUji T berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan kepatuhan penerapan sop manajemen nyeri didapatkan t hitung 13.126 dan signifikansi 0,00.   The success of health services is highly dependent on the participation of nurses to provide quality nursing care. The number of tasks that must be done by nurses makes nurses less optimal in carrying out their duties as providers of nursing care. One of the activities to solve problems that arise in the health service is one of them by reflecting cases which introduced in Indonesia through the Case Reflection Discussion. This study aims to determine whether the Case Reflection Disscussion (CRD) can increase nurses\u27 compliance in implementing SOP pain management at PKU Muhammadiyah Hospital in Yogyakarta. Data analysis pre and post test used the Paired T-test or Paired T Test. The results of this study indicate that there is a significant effect of compliance with the application of standart operating procedure (SOP) pain management obtained t count 13,126 and a significance of 0.00

    MCKENZIE EXERCISE DAN WILLIAM’S FLEXION EXERCISE EFEKTIF MENURUNKAN INTENSITAS LOW BACK PAIN

    Get PDF
    Low Back pain (LBP) merupakan sindroma klinis yang ditandai dengan nyeri pada regio punggung bawah dengan atau tanpa disertai nyeri tungkai. Pembatik berisiko mengalami LBP. McKenzie Exercise dan William’s Flexion Exercise merupakan back exercise yang mudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas McKenzie Exercise dan William‘s Flexion Exercise untuk menurunkan intensitas LBP pada pembatik. Penelitian menggunakan two-group pretest-posttest design. Sebanyak 20 orang pembatik di Kampung Batik Giriloyo dipilih dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian dibagi menjadi dua, yaitu kelompok yang melakukan McKenzie Exercise dan kelompok yang melakukan William’s Flexion Exercise. Kedua kelompok melakukan latihan tersebut dengan frekuensi tiga kali seminggu selama dua minggu. Sebelum dan sesudah latihan, intensitas LBP diukur menggunakan Numeric Rating Scale.  Uji Wilcoxon digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan intensitas LBP sebelum dan sesudah latihan. Uji Mann-Whitney digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efektivitas McKenzie Exercise dan William’s Flexion Exercise  dalam menurunkan intensitas LBP. Analisis data menunjukkan intensitas LBP  pada kedua kelompok sebelum melakukan back exercise adalah 5 (4-6). Pada kelompok yang melakukan McKenzie Exercise maupun kelompok yang melakukan William’s Flexion Exercise didapatkan penurunan intensitas LBP menjadi 2 (1-3). Terdapat perbedaan intensitas LBP sebelum dan sesudah latihan pada kelompok McKenzie Exercise (p = 0,004) dan pada kelompok William Flexion Exercise (p = 0,004). Tidak ada perbedaan penurunan intensitas LBP antara kelompok McKenzie Exercise dan kelompok William’s Flexion Exercise (p = 0,328). Low Back Pain (LBP) is a clinical syndrome that consists of pain at the lower back region with or without limb pain. Batik workers were at risk of LBP. McKenzie Exercise and William’s Flexion Exercise are an easy back exercise. This study was aimed to compare the effectiveness of McKenzie Exercise and William’s Flexion Exercise for reducing LBP among batik workers. This study used a two-group pretest-posttest design. A total of 20 batik workers in Kampung Batik Giriloyo were selected by purposive sampling technique. The research subjects were divided into two, namely the group doing the McKenzie Exercise and the group doing the William’s Flexion Exercise. Both groups did the exercise three times a week for two weeks. Before and after the exercise, the intensity of LBP was measured using the Numeric Rating Scale. The Wilcoxon test was used to determine whether there were differences in LBP intensity before and after exercise. The Mann-Whitney test was used to determine whether there was a difference in the effectiveness of the McKenzie Exercise and William\u27s Flexion Exercise in reducing LBP intensity. Data analysis showed LBP intensity in both groups before doing back exercise was 5 (4-6). In the group that did the McKenzie Exercise and the group that did the William’s Flexion Exercise, the LBP intensity decreased to 2 (1-3). There were differences in LBP intensity before and after exercise in the McKenzie Exercise group (p = 0.004) and the William’s Flexion Exercise group (p = 0.004). There was no difference in the decrease in LBP intensity between the McKenzie Exercise group and the William’s Flexion Exercise group (p = 0.328)

    INNOVATION METHOD ONLINE PEER ASSISTED LEARNING TO LEARNING SATISFACTION THORAX PHYSICAL EXAMINATION SKILLS

    No full text
    Kepuasan belajar mahasiswa menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan di sebuah institusi. Kepuasan belajar juga merupakan salah satu faktor yang dapat memprediksi hasil belajar. Sebagai upaya meningkatkan kepuasan belajar mahasiswa pada pembelajaran keterampilan klinik, perlu bagi institusi pendidikan untuk memberikan inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Metode yang ditawarkan adalah Online peer-assisted learning. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kepuasan belajar pemeriksaan fisik thorak sebelum dan setelah diterapkan metode Online peer assisted learning. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experimental, dengan pendekatan post-test control group design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa keperawatan tahun kedua  STIKes Surya Global sebanyak 140 mahasiswa. Jumlah responden 70  diambil dengan tekhnik simple random sampling menjadi kelompok kontrol dan intervensi. Kelompok intervensi diberikan model pembelajaran Peer-assisted learning (PAL) dengan bantuan teknologi video call dalam whatsapp. Kelompok kontrol dengan model pembelajaran Peer-assisted learning face to face seperti yang selama ini dilakukan. Instrumen kepuasan belajar dalam penelitian ini diadopsi dari penelitian Cohen dan Baruth. Analisis data menggunakan uji independet t  test untuk membandingkan rata-rata nilai posttest kepuasan belajar. Hasil analisis menunjukan terdapat peningkatan kepuasan belajar secara signifikan dengan nilai p value 0.001. Rerata nilai kepuasan belajar metode Online Peer Asisted Learning (OPAL 41,65 (SD = 2,85), dan nilai rerata kepuasan belajar dengan metode Peer Asisted Learning (PAL) 39,05 (SD =3,10). Metode Online peer assisted learning (OPAL) terbukti mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan belajar keterampilan pemeriksaan fisik thorak pada mahasiswa keperawatan.    Student learning satisfaction is one of the benchmarks for the success of the education system implemented in an institution. Learning satisfaction is also one of the factors that can predict learning outcomes. In an effort to increase student learning satisfaction in clinical skills learning, it is necessary for educational institutions to provide technology-based learning innovations. The method offered is online peer-assisted learning. The purpose of this study was to determine differences in learning satisfaction in the physical examination of Thorax before and after the online peer assisted learning method was applied. This study used a Quasy Experimental design, with a post-test control group design approach. The population of this study were 140 students of the second year of STIKes Surya Global nursing students. Respondents 70 were taken by simple random sampling technique into the control and intervention groups. The intervention group was given a Peer-assisted learning (PAL) learning model with the help of video call technology in WhatsApp. The control group uses the face-to-face peer-assisted learning model as has been done so far. The learning satisfaction instrument in this study was adopted from Cohen and Baruth\u27s research. The data analysis used the independent t test to compare the average posttest scores for learning satisfaction. The analysis showed that there was a significant increase in learning satisfaction with a p value of 0.001. The mean value of learning satisfaction with the Online Peer Asisted Learning method (OPAL 41.65 (SD = 2.85), and the average value of learning satisfaction with the Peer Asisted Learning (PAL) method is 39.05 (SD = 3.10). Online peer assisted method Learning (OPAL) is proven to have a significant effect on the learning satisfaction of Thoracic physical examination skills in nursing students

    SENAM AEROBIC UNTUK MENGATASI NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL ISHLAH SEMARANG

    Get PDF
    Dismenore merupakan nyeri yang biasanya bersifat kram dan berpusat pada  perut bagian bawah yang terasa selama menstruasi, terkadang sampai parah sehingga mengganggu aktivitas. Prevalensi nyeri menstruasi pada remaja di Indonesia berkisar  antara 43% hingga 93%. Tujuan penelitian  ini untuk mengetahui pengaruh olahraga senam aerobic terhadap nyeri dismenorea pada remaja puteri di Pondok Pesantren Al Ishlah Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental Two groups Pre Test dan Post Test with control. Instrumen nyeri yang digunakan adalah Numeric rating Scale (NRS), dengan skala 0-10. Penelitian dilakukan pada 50 remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi. Remaja yang memenuhi kriteria pada skrining diberikan latihan fisik berupa aerobik pada kelompok perlakuan dan jogging pada kelompok kontrol. Latihan fisik dilakukan 2 kali terjadwal dalam seminggu, masing-masing minimal 30 menit selama 3 siklus menstruasi. Rata-rata nyeri dismenore sebelum dilakukan tindakan adalah 3.24+0.523 dan setelah intervensi 1.08+0.277. Hasil uji dengan Mann Whitney didapatkan senam aerobic lebih efektif untuk mengurangi nyeri dibandingkan jogging dengan mean rank sebesar 20,96 dan nilai p value 0.000. Olahraga mampu meningkatkan produksi endorphin (penghilang rasa sakit alami tubuh) sehingga menghilangkan nyeri ketika menstruasi. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan pasokan darah ke organ reproduksi sehingga memperlancar peredaran darah. Diharapkan remaja putri dapat rutin melakukan olahraga senam aerobic minimal 1 kali dalam seminggu untuk mengurangi nyeri menstruasi.   Dysmenorrhea is pain usually cramping and centered on the lower abdomen that is felt during menstruation, sometimes to severe so that it interferes with activity. The prevalence of menstrual pain in adolescents in Indonesia ranges from 43% to 93%. The purpose of this study was to determine the effect of jogging on dysmenorrhoea pain in young girls at Al Ishlah Islamic Boarding School in Semarang. This study used an experimental design of Two groups Pre Test and Post Test with control. The pain instrument used was the Numeric rating Scale (NRS), with a scale of 0-10. The study was conducted on 50 young women who experience menstrual pain. Adolescents who met the screening criteria were given physical exercise in the form of aerobics in the treatment group and jogging in the control group. Physical exercise was scheduled twice a week, each with a minimum of 30 minutes for 3 menstrual cycles. The mean pain of dysmenorrhea before the action was 3.24 + 0.523 and after the intervention 1.08 + 0.277. Aerobic exercise was more effective in reducing pain than jogging with a p value of 0,000. Exercise could increase endorphin production (the body\u27s natural pain reliever) so that pain relief during menstruation. In addition, exercise could increase blood supply to the reproductive organs thereby improving blood circulation. It was expected that young women can routinely exercise at least once a week to reduce menstrual pain

    KETIADAAN ANAK LAKI-LAKI: AKANKAH MENJADI FAKTOR PENGHALANG PEMAKAIAN KONTRASEPSI?

    Get PDF
    Tingkat penggunaan alat kontrasepsi (CPR) dan fertilitas (TFR) yang berbeda antar provinsi menimbulkan pertanyaan apakah ada pengaruh budaya terhadap  pemakaian alat kontrasepsi modern yang merupakan program pemerintah melalui BKKBN. Perbedaaan TFR dan CPR antara Provinsi Sumatera Utara yang memperlihatkan masih tingginya TFR dan rendahnya CPR dibandingkan dengan Jawa Tengah menimbulkan dugaan bahwa hal ini terjadi karena adanya budaya yaitu sistem kekerabatan patrilineal pada Suku Batak yang merupakan suku yang dominan di Sumatera Utara. Budaya patrilineal yang memberi nilai lebih anak laki-laki menyebabkan berkurangnya keikutsertaan wanita dalam menggunakan alat kontrasepsi karena adanya keinginan untuk memiliki anak laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi jenis kelamin anak masih hidup yang dimiliki wanita terhadap penggunaan alat KB modern di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Dalam studi ini, data yang digunakan adalah data cross-sectional untuk survei tahun 2017 di wilayah Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa di Sumatera Utara wanita yang mempunyai anak laki-laki saja berpeluang lebih besar untuk memakai alat kotrasepsi modern daripada wanita yang tidak mempunyai anak laki-laki yang menunjukkan masih adanya son preference, sedangkan di Jawa Tengah komposisi jenis kelamin mempengaruhi penggunaan alat kontrasepsi.   Differences in levels of contraceptive use (CPR) and fertility (TFR) between provinces raise the question of whether there is a cultural influence on the use of modern contraception which is a government program through the BKKBN. The difference of TFR and CPR between North Sumatra Province which shows high TFR and low CPR compared to Central Java raises suspicion this is caused by patrilineal kinship culture in the Batak tribe which is the dominant tribe in North Sumatra. A patrilineal culture that gives more value to boy/s leads to reduced participation of women in using contraception because of the desire to have a son. This study aims to determine the effect of children sex composition on the use of modern family planning in North Sumatra and Central Java Province. The data used are data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). In this study, the data used were cross-sectional data for the 2017 survey in North Sumatra and Central Java. In North Sumatra, the analysis showed that women who only had boys had a greater chance of using modern contraception than women who did not have boys who showed preference for boys, whereas in Central Java the sex composition does not affect contraceptive use

    PENGARUH PENDIDIKAN TEMAN SEBAYA (PEER EDUCATION) KESEHATAN MENSTRUASI TERHADAP KESIAPAN SISWI SD MENGHADAPI MENSTRUASI AWAL

    Get PDF
    Remaja yang akan mengalami menstruasi pertama membutuhkan kesiapan mental yang baik dan harus diberikan pengetahuan tentang proses menstruasi dan juga informasi tentang menarche agar siap secara mental untuk menghadapinya. Salah satu media anak dalam memperoleh informasi adalah dari teman sebayanya. Pendidikan melaui teman sebaya (peer education) merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk pelaksanaan intervensi promosi kesehatan pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendidikan teman sebaya (peer education) kesehatan menstruasi terhadap kesiapan menghadapi menarche siswi SD 2 Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta. Metode penelitian adalah pre experimental dengan desain one group pretest - posttest. Penelitian ini dilakukan pada  bulan Agustus 2019 di SD 2 Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dengan jumlah responden 39 orang. Uji statistik Paired t test digunakan untuk melihat pengaruh pendidikan teman sebaya (peer education) kesehatan menstruasi terhadap kesiapan menghadapi menarche. Kesiapan responden dalam menghadapi menarche sebelum intervensi peer education berada pada kategori baik dan cukup masing-masing sebanyak 16 (41%) responden. Kesiapan responden dalam menghadapi menarche sesudah intervensi peer education berada pada kategori baik sebanyak 27 (69,2%) responden. Hasil uji paired t test menunjukkan nilai signifikansi 0,03 (p<0.05). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara kesiapan responden sebelum dan sesudah intervensi peer education. Metode peer education dapat digunakan sekolah dalam upaya meningkatkan kesiapan siswi dalam menghadapi menstruasi awal.   Adolescents who are about to experience their first menstruation require good mental readiness and must be given knowledge about the menstrual process and also information about menarche to be mentally ready to face it. One of the children\u27s media in obtaining information is from their peers. Peer education is one of the most frequently used methods for implementing health promotion interventions for adolescents. This study aims to determine the influence of peer education on menstruation toward readiness of menarche. This study uses a pre experimental research method with one group pretest - posttest design. This study has conducted in August 2019 at SD 2 Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta with 39 respondents. Paired t test statistical test was used to assess the effect of peer education on menstrual health on readiness to face menarche. The readiness of respondents in facing menarche before the peer education intervention was in the good category and quite as much as each of 16 (41%) respondents. The readiness of respondents in facing menarche after peer education intervention was in a good category of 27 (69.2%) respondents. Paired T test results obtained a significance value of 0.003 (p <0.05). Based on the results of this study, it can be concluded that there are differences between the readiness of students before and after menstrual health peer education interventions. The peer education method can be used to increase student’s readiness in confront early menstruation

    BEHAVIOR BASED SAFETY SEKTOR INFORMAL BECAK MOTOR DI YOGYAKARTA

    Get PDF
    Peningkatan jumlah pengguna becak motor dan peningkatan eksistensi dimata penumpang Yogyakarta tidak lantas menjadikan dinas perhubungan DIY merekomendasikan becak motor sebagai salah satu angkutan yang berkeselamatan, hal ini dikarenakan beberapa kasus kecelakaan yang menimpa becak motor akibat konstruksi angkutan yang kurang baik dan perilaku pengemudi yang dinilai kurang selamat. Pada tahun 2016 sebuah media nasional mengabarkan bahwa selama kurun waktu 2015 di makasar telah terjadi 13 kasus kecelakaan becak motor yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia. Penelitian ini merupakan penelitian kombinasi (mix method) yang menggunakan desain deskriptif. Metode pengumpulan data kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner secara personal. Sedangkan data kualitatif didapatkan dengan wawancara terstruktur kepada reponden dan observasi untuk checklist kegiatan. Populasi dalam penelitian seluruh anggota Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PMBY) dengan sampel 94 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah komponen Behavior Based Safety (BBS) dan perilaku keselamatan pengemudi becak motor. Analisa data kuantitatif menggunakan Software smart PLS 3.0.  hasil uji kuantitatif menunjukkan variabel yang saling berpengaruh yaitu pengetahuan dengan intensi yang memiliki P-value 0,042. Intensi dengan perilaku P-value 0,016. Persepsi dengan perilaku 0,019. Sedangkan variabel yang tidak saling berpengaruh adalah, persepsi dengan intensi 6,057. Pengetahuan dengan persepsi 1.035 dan pengetahuan dengan perilaku 0,374. Sedangkan data pendukung kualitatif menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku keselamatan pengendara becak motor serta minimnya perlengkapan keselamatan yang dimiliki oleh pekerja sehingga perilaku selamat belum dapat diwujudkan. Pengendara bentor yang memiliki pengetahuan yang bagus dan niat yang bagus namun tidak didukung dengan sarana prasarana dan kebijakan keselamatan yang memadai maka tidak akan berperilaku keselamatan yang baik dalam berkendara.   There is an increasing number of the motorized pedicab and increasing existence among passengers in Yogyakarta do not necessarily make the Yogyakarta Special Territory (DIY) Transportation Agency recommends the motorized pedicab as one of the safe transports. This is the result of several cases of accidents that happen to the motorized pedicab due to the poor construction and the unsafe behavior among motorized pedicab drivers. The national media in 2006 reported that there were 13 motorized pedicab accidents in 2015 that resulted in 3 deaths. This was a mix method research that applied a descriptive design. Quantitative data collection methods were conducted using a personal questionnaire. Meanwhile, qualitative data was obtained by performing structured interviews with respondents and observations for the activity checklist. The population was all members of the Yogyakarta Motorized Pedicab Association (PMBY) with population 270 and the sample 94 people. The variables included the BBS components and the safety behavior of motorized pedicab drivers. Quantitative data analysis used SmartPLS 3.0 Software. Knowledge with perception showed a P value of 1.035 and knowledge with behavior showed a P value of 0.374. Quantitative test results showed interrelated variables, namely knowledge with the intention that had a P-value of 0.042. Intention variable with the behavior showed a P value of 0.016. Perception with behavior showed a P value of 0.019. Meanwhile, uncorrelated variable was perception with the intention of a P value of 6.057. Knowledge with perceptions showed a P value of a 1.035 and knowledge with behavior showed a P value of 0.374. Meanwhile, qualitative supporting data revealed that there was no correlation between knowledge and safety behavior among motorized pedicab drivers as well as the lack of safety equipment workers had so that safety behaviour cannot be practiced yet. Motorized pedicab drivers with good knowledge and good intentions but are not supported with adequate infrastructure and facilities as well as safety policies will not practice safe driving

    PENGARUH ABDOMINAL MASSAGE DALAM UPAYA PENCEGAHAN KONSTIPASI PADA LANJUT USIA DI BPSTW ABIYOSO YOGYAKARTA

    No full text
    Salah satu gangguan pola eliminasi defekasi adalah konstipasi. Dari 20 lansiadi BPSTW Abiyoso, ternyata 9 diantaranya mengungkapkan mengalami kesulitan untuk buang air besar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh abdominal massage untuk mencegah konstipasi pada lansia di BPSTW Abiyoso Yogyakarta dan faktor counfounding yang mempengaruhi pola eliminasi defekasi lansia di BPSTW Abiyoso Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental, dimana peneliti membandingkan perbedaan pola eliminasi defekasi pada kelompok kontrol dan intervensi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 32 responden yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 16 responden pada kelompok kontrol dan 16 responden pada kelompok intervensi. Hasil uji t-independen menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan score defekasi pada kelompok kontrol dan intervensi artinya ada pengaruh pemberian abdominal massage pada lansia terhadap keteraturan pola eliminasi defekasi pada lansia (p value = 0.049; ? = 0.05). Perawat dapat menggunakan abdominal massage sebagai salah satu terapi non farmakologi untuk menjaga keteraturan pola eliminasi defekasi pada lansia.   One disruption of the pattern of elimination of defecation is constipation. Elderly and someone who has a decreased physical ability are at risk for constipation. The purpose of this research is to know the effect of abdominal massage to prevent constipation toward elderly at BPSTW Abiyoso in Yogyakarta.  This research uses quasi experimental, which compares the differences of elimination defecation patterns between kontrol and intervention groups. The number of sampels were 32 respondents, divided into 2 groups, i.e. 16 respondents in the kontrol group and 16 respondents in the intervention group. Independent t-test results showed significant difference defecation scores between the kontrol and intervention groups, meaning that there is the effect of abdominal massage to prevent constipation towrad elderly (p value = 0.049; ? = 0.05). Confounding variables related with the pattern of elimination is physical activity

    388

    full texts

    418

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇