Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
Not a member yet
418 research outputs found
Sort by
PENGARUH EDUKASI DENGAN METODE ROLE PLAY TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN BULLYING PADA ANAK SEKOLAH DASAR
Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap orang-orang atau kelompok lain yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menyakiti secara fisik maupun mental. Bullying dapat menyebabkan depresi, kurang percaya diri, kesedihan (perasaan sedih, duka cita, kesusahan hati), merasa bodoh dan tidak berharga sehingga kepercayaan diri mereka menjadi rendah dan meningkatkan kecemasan sosial. Pelaku bullying dapat mempunyai efek untuk berbuat kriminalitas. Pengetahuan tentang bullying dan efeknya adalah penting untuk diterapakan dalam mencegah perilaku bullying. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui edukasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan tentang pencegahan bullying pada anak sekolah dasar.. Jenis penelitian adalah quasi eksperiment one group pretest posttest design dengan populasi penelitian adalah anak sekolah dasar. Tehnik pengambilan sample dengan purposive sampling yakni kelas empat dan lima yang berjumlah 64 siswa. Instrumen penelitian adalah intrumen pengetahuan siswa tentang bullying yang terdiri dari 17 pertanyaan dalam bentuk closed ended question yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menggunakan wilcoxon didapatkan hasil P value adalah 0,000<0,005 artinya terdapat pengaruh edukasi dengan metode role play terhadap pengetahuan tentang pencegahan bullying pada anak sekolah Dasar. Disarankan bagi sekolah agar menyisipkan pelajaran tentang bullying dengan metode role play untuk pencegahan bullying.
Bullying is an aggressive behavior carried out by individuals or groups against other people or groups that are carried out repeatedly using hurting physically and mentally. Bullying can cause depression, lack of confidence, sadness (feelings of sadness, sorrow, distress), feeling stupid and worthless so that their confidence is low and increases social anxiety. Bullying can have the effect of committing a crime. Knowledge about bullying and its effects is important to be applied in preventing bullying behavior. Knowledge can be increased through education. The purpose of this study was to determine the effect of education on knowledge about the prevention of bullying in elementary school children. The type of research is a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with the study population is elementary school children. The sampling technique was purposive sampling in the fourth and fifth grades totaling 64 students. The instrument of this study was the instrument of students\u27 knowledge about bullying which consisted of 17 questions in the form of closed-ended questions that had been tested for validity and reliability. The results of the study using Wilcoxon showed that the P value was 0,000 <0.005, meaning that there was an influence of education with the role-play method on knowledge about preventing bullying in elementary school children. It is recommended for schools to insert lessons about bullying with the role-play method for bullying prevention
RESILIENSI REMAJA PUTRI KORBAN BULLYING DI SEMARANG: STUDI DESKRIPTIF
Fenomena bullying yang dialami oleh remaja begitu mengkhawatirkan dengan berbagai dampak buruk yang dapat dialami oleh remaja korban bullying. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran resiliensi remaja putri korban bullying. Penelitian ini menggunakan cross-sectional design dengan pendekatan deskriptif. Purposive sampling digunakan untuk teknik pengambilan data dan diperoleh 329 remaja putri korban bullying pada dua sekolah di Semarang sebagi responden penelitian. Kuesioner Adolescent Resilience Scale (ARS) digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi. Data analisis disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menujukkan 48,93% responden mempunyai tingkat resiliensi tinggi; 41,34% kategori sedang dan 9,73% kategori rendah. Berdasarkan hal tersebut, kebutuhan partnership antara perawat dengan sekolah dan orang tua perlu ditingkatkan sehingga intervensi anti-bullying yang bersifat holistic mampu menekan dampak negatif dari bullying melalui peningkatan resiliensi korban bullying.
This study aimed to describe the resilience level of female adolescence who experienced as bullying victim. A crossectional design and descriptive approach were selected. About 329 female adolescence who experienced as bullied at some high school at Semarang city, Indonesia were recruited as respondent using purposive sampling technique. The Adolescence Resilience Scale was used to measure the resilience levels. Results showed that 48.93% respondent reached the high level of resilience; 41.34% respondents the middle; and only 9.73% respondents had the lower of resilience. Therefore, partnership between school nurses, school personnel, and parents are necessary to develop the anti-bullying program as holistic interventions; hence it can depress the negative impact of bullying by increasing the bullying victim’s resilience
STUDI KUALITATIF : KEBUTUHAN IBU HAMIL DENGAN DIABETES MELITUS GESTASIONAL DI KABUPATEN KARANGANYAR JAWA TENGAH
GDM dapat berpotensi menimbulkan komplikasi serius yang dapat mengakibatkan risiko kesehatan jangka pendek dan jangka panjang bagi ibu dan bayinya. diagnosis GDM menimbulkan efek emosional yang negatif. Persepsi ibu hamil tentang GDM dapat memengaruhi perubahan gaya hidup. Garis pertama penatalaksanaan DMG yaitu dengan perubahan gaya hidup. Tujuan menggali secara mendalam kebutuhan ibu dengan diagnosis diabetes melitus gestasional. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi di Kabupaten Karanganyar yaitu Puskesmas Jaten I, Puskesmas Matesih dan RSUD Kabupaten Karanganyar, pada bulan Oktober 2019 - Januari 2020. Sampel secara criterion sampling Pengumpulan data dengan semistructure interview dengan one on one interview. Uji Keabsahan Data dengan Credibility pada penelitian ini menggunakan strategi validitas triangulasi, Tranferability, Dependability, Confirmability. Analisis data dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian kebutuhan ibu hamil dengan DMG teridentifikasi empat tema, yaitu dukungan keluarga dalam hal mengontrol pola makan, mengatarkan periksa ke tenaga kesehatan, dan mengingatkan untuk aktifitas olah raga. Dukungan sosial, yaitu cara mengontrol gula darah. Dukungan tenaga kesehatan, yaitu saran dan motivasi untuk mengontrol gula darah. Informasi mendapat saran atau perawatan DMG dalam kehamilan adalah dari tenaga kesehatan yaitu bidan, dokter, serta selain tenaga kesehatan dari teman dan internet. Kesimpulannya kebutuhan ibu hamil dengan DMG teridentifikasi empat tema, yaitu dukungan keluarga, dukungan sosial, dukungan tenaga kesehatan dan informasi.
GDM can overcome serious problems that can overcome short-term and long-term health problems for mother and baby. a diagnosis of GDM has a negative emotional effect. Pregnant women \u27s perception of GDM can affect lifestyle changes. The first line of management of DMG is lifestyle changes. Diagnosis of gestational diabetes mellitus. Qualitative research methods by studying phenomenology. Locations in Karanganyar Regency are Jaten I Health Center, Matesih Health Center and Karanganyar District Public Hospital, in October 2019 - January 2020. Sample sampling criteria Data collection by semi-structured interviews with one-on-one interviews. Data Validity Test with Credibility in this study using the triangulation validity strategy, Transparency, Dependability, Confirmability. Data analysis with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results of the study of the needs of pregnant women with DMG identified four themes, namely supporting the family in terms of controlling diet, sending check to health workers, and reminding for sports activities. Social support, which is a way to control blood sugar. Support of Health Workers, namely advice and motivation to control blood sugar. The information obtained from DMG advice or treatment in the assessment is from health workers, namely midwives, doctors, and also health workers from friends and the internet. In conclusion, the needs of pregnant women with DMG identified four themes, namely family support, social support, support of health workers and information.
 
POTENSI DIURETIK FRAKSI EKSTRAK ETANOL DAUN SELEDRI (Apium graveilens Linn.) SECARA INVIVO SEBAGAI HERBAL ANTIHIPERTENSI
Hipertensi merupakan penyakit kenaikan tekanan darah lebih dari 140 mmHg. Hipertensi merupakan masalah utama kesehatan di dunia dan jumlah penderita semakin meningkat dari tahun ke tahun. Seiring dengan meningkatnya prevalensi hipertensi di Indonesia dan banyaknya faktor yang berpengaruh dalam pemilihan obat-obatan antihipertensi sintetik, maka dituntut terus untuk mengembangkan obat yang berasal dari alam. Seledri (Apium graveolens) telah diketahui mempunyai aktivitas antihipertensi dengan adanya kandungan apigenin yang berperan sebagai antagonis kalsium sehingga mempunyai efek vasodilatasi atau vasorelaksasi. Tujuan : Diketahuinya Tingkat dosis yang efektif dari ekstrak daun seledri sebagai obat hipertensi. Metode : Penelitian eksperimental post test only control group design. Hasil : Kelompok I (Dosis Ekstrak 300mg) memiliki Frekuensi BAK 4 kali, volume urin 1,80ml dan Potensi daya diuretic 20%, Kelompok II (Dosis Ekstrak 400mg) memiliki Frekuensi BAK 5 kali, volume urin 2,50ml dan Potensi daya diuretic 67%, Kelompok III (Dosis Ekstrak 500mg) memiliki Frekuensi BAK 6 kali, volume urin 2,85ml dan Potensi daya diuretic 90%, Kelompok IV (Furosemida) memiliki Frekuensi BAK 8 kali, volume urin 2,80ml dan Potensi daya diuretic 87%, Kelompok V (Aquades) memiliki Frekuensi BAK 4 kali, volume urin 1,50ml dan Potensi daya diuretic 0%. Kesimpulan : Potensi daya diuretic action yang paling tinggi dan efektif adalah kelompok III (dosis ekstrak daun seledri dosis 500mg) sebesar 90% karena memiliki efek frekuensi Buang air kecil (BAK) 6 kali dan volume urine 2,85 ml dibandingkan dengan kelompok lain.
Hypertension is a disease of increasing blood pressure more than 140 mmHg. Hypertension is a major health problem in the world and the number of sufferers is increasing from year to year. Along with the increasing prevalence of hypertension in Indonesia and the many factors that influence the selection of synthetic antihypertensive drugs, it is demanded to continue to develop drugs derived from nature. Celery (Apium graveolens) has been known to have antihypertensive activity in the presence of apigenin which acts as a calcium antagonist so that it has a vasodilating or vasorelaxation effect. Objective: To determine the effective dose level of celery leaf extract as a hypertension drug. Methods: Experimental research post test only control group design. Results: Group I (Extract dose 300mg) had urinary frequency 4 times, urine volume 1.80ml and diuretic power potential of 20%, Group II (extract dose 400mg) had urinary frequency 5 times, urine volume 2.50ml and diuretic power potential 67 %, Group III (Extract dose of 500 mg) has a urinary frequency of 6 times, urine volume is 2.85 ml and diuretic power potential of 90%, Group IV (Furosemide) has a urinary frequency of 8 times, urine volume is 2.80 ml and potential diuretic power is 87%, Group V (Aquades) had urinary frequency 4 times, urine volume 1.50 ml and diuretic potential of 0%. Conclusion: The highest and most effective potential for diuretic action is group III (500mg dose of celery leaf extract) by 90% because it has an effect of 6 times urination frequency and 2.85 ml urine volume compared to other groups
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) METODE PERKOLASI TERHADAP Pseudomonas aeroginusa
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui daya hambat ekstrak etil asetat daun sukun metode perkolasi dan konsentrasi optimal ekstrak daun sukun yang dapat menghambat Pseudomonas aeroginusa. Metodologi penelitian yang digunakan adalah analitik eksperimental dengan pendekatan post tes with control. Penelitian ini dilakukan pada Juli 2018 sampai dengan Mei 2019 di Laboratorium Bakteriologi STIKES Nasional. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan uji lanjut Man Whitney. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona hambat ektrak etil asetat daun sukun terhadap P aeroginusa metode perkolasi berturut turut pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% adalah .9; 12 mm; 13.17 mm; 14.17 mm; 15.67 mm, hasil uji Kruskal Wallis didapati nilap p 0.000, sehingga dapat disimpulkan bahwa ektrak etil asetat daun sukun mampu menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeroginusa dengan konsentrasi optimal 100%.
The research about Antibacteria of Percolation Etyl Acetate of Breadfruit Leaf Extract to inhibit Pseudomonas aeroginusa had finished.. This study is an analytic experimental design and post test with control. The research was done during Juli 2018 to May 2019 at Bacteriological Laboratory of STIKES Nasional. Hypothesis test is done with Kruskal Wallis, post hoc test followed by Man Whitney. The result of this study has been found radical zone diameter in 20%, 40%, 60%, 80% and 100% concentration are 9 mm; 12 mm; 13.17 mm; 14.17 mm; 15.67 mm. The result Kruskal Wallis test is found to be signicant, which means Artocarpus altilis leaf ethyl acetate extract are able to inhibit the growth of P. aeroginusa with optimum concentration is 100%
KEJADIAN INFEKSI Trichophyton mentagrophytes TERKAIT PERSONAL HYGIENE ANTARA NELAYAN DENGAN PENGOLAH IKAN RUMAHAN DI WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU
Dermatofitosis adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Trichophyton mentagrophytes adalah penyebab dermatofitosis yang paling sering ditemukan di wilayah pesisir dan di negara tropis dengan tingkat higienitas yang rendah, seperti nelayan dan pengolah ikan rumahan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis prevalensi kejadian infeksi jamur Trichophyton mentagrophytes terkait personal hygiene antara nelayan dan pengolah ikan rumahan di wilayah pesisir Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analisis laboratorium dengan rancangan penelitian cross-sectional study. Sampel penelitian sebanyak 62 orang nelayan dan 62 orang pengolah ikan rumahan. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan consecutive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 71,4% kejadian dermatofitosis terbanyak adalah tinea pedis dengan 5,6% teridentifikasi sebagai Trichophyton mentagrophytes dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan prevalensi kejadian infeksi jamur Trichophyton mentagrophytes antara nelayan dengan pengolah ikan rumahan (p=0,689). Angka kejadian tinea pedis yang tinggi harus senantiasa dilakukan edukasi untuk perbaikan kebiasaan hidup yang berdampak kepada peningkatan kualitas hidup para nelayan dan pengolah ikan rumahan.
Dermatophytosis is a skin disease caused by dermatophytic fungi. Trichophyton mentagrophytes (T. mentagrophytes) is a fungal species that is most often found in coastal areas because this species can last long on the sand beach and can causes dermatophytosis, especially for fishermen and home-based fish butchers. The research aimed to analyze the prevalence of Trichophyton mentagrophytes infection related to personal hygiene between fishermen and home-based fish butchers. The research sampling technique was used Consecutive Sampling. The research samples were 62 fishermen and 62 home-based fish butchers in the coastal areas of Sumber Jaya Village, Kampung Melayu District, Bengkulu City. The result showed 71,4% of the most prevalent dermatophytosis cases were tinea pedis with 5,6% identified as T. mentagrophytes. There was no significant difference between fishermen and home-based fish butchers in the prevalence of Trichophyton mentagrophytes infections (P=0,689). The high incidence of tinea pedis should be educated to improve living habits that have an impact o improving the quality of life of fishermen and home-based butchers
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT (IKM) TERHADAP PELAYANAN RAWAT JALAN PESERTA BPJS KESEHATAN DI PUSKESMAS YOGYAKARTA
Puskesmas Kotagede I Kodya Yogyakarta dan Puskesmas Bambanglipuro Kabupaten Bantul merupakan pelayanan publik yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Masyarakat yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di kedua puskesmas tersebut masih memberikan keluhan terkait dengan pelayanan seperti antrean di pendaftaran yang lama, ruang tunggu yang kurang karena pada waktu pasien banyak maka menunggu antreannya harus berdiri. Lama waktu tunggu antara 15 sampai 30 menit. Waktu tunggu di pelayanan farmasi atau obat juga lama kurang lebih 30 menit bahkan bisa sampai 1 jam pada waktu pengunjungnya banyak. Penelitian bertujuan untuk menentukan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas Yogyakarta. Jenis penelitian adalah penelitian survei dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien peserta BPJS Kesehatan yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Kotagede I dan Bambanglipuro. Sampel diambil secara quota sampling sebanyak 100 peserta BPJS Kesehatan, dari Puskesmas Kotagede I sebanyak 50 orang dan dari Puskesmas Bambanglipuro Bantul sebanyak 50 orang. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kotagede I dan Bambanglipuro Bantul pada November 2018. Data dianalisis menggunakan perhitungan Indeks Kepuasan Masyarakat dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil nilai indeks kepuasan masyarakat sebesar 3,04732 dan setelah dikonversikan sebesar 76,183 menunjukkan bahwa mutu pelayanan di Pelayanan Rawat Jalan Peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Yogyakarta berada pada kategori “B†atau kinerja unit pelayanan “Baikâ€Â. Unsur pelayanan tertinggi adalah unsur keamanan pelayanan yaitu sebesar 3.12 dan yang terendah adalah unsur prosedur pelayanan senilai 2,94. Kesimpulan indeks kepuasan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di puskesmas adalah Baik.
Kotagede I Health Center, Yogyakarta District, and Bambanglipuro Health Center, Bantul District are public services that provide health services to the surrounding community. People who use health services in both health centers still give some complaints related to the services they receive such as queues at longtime registration, lack of waiting room because when there are many patients waiting for the queue to stand up. In addition, the waiting time at the time of the examination is also approximately 15 to 30 minutes. The waiting time in pharmaceutical or drug services also takes approximately 30 minutes or even up to 1 hour when there are many visitors. This study’s objective is to determine the Community Satisfaction Index that utilizes health services in Yogyakarta health centers. This type of research is survey research using quantitative descriptive methods with a cross-sectional research design. The population in this study were all patients participating who use outpatient services at the Kotagede I and Bambanglipuro Health Center. Samples were taken by quota sampling with a total of 100 patients, from the Kotagede I health center as many as 50 people and from the Bambanglipuro Health Center Bantul as many as 50 people. The study was conducted at the Kotagede I and Bambanglipuro Health Center in November 2018. Quantitative data were analyzed using the calculation of the Community Satisfaction Index and presented in tabular form. The results of the community satisfaction index of 3.04732 and after being converted were 76.183 indicating that the quality of service in the Outpatient Services at the Yogyakarta Public Health Center was in the "B" category or the "Good" service unit performance. The highest service element is obtained service security element that is equal to 3.12 and the lowest is service element worth 2.94
TINGKAT SELF CARE KLIEN RAWAT JALAN DIABETES MELLITUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial bahkan spiritual penderitanya. Salah satu upaya untuk dapat meminimalkan komplikasi DM adalah dengan melakukan self care DM. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kepatuhan self care pada pasien DM yang menjalani rawat jalan di RS PKU Muhamamdiyah Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 54 responden pasien rawat jalan di poliklinik penyakit dalam di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada bulan Agustus 2019. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner SDSCA (Summary Diabetes Self Care Activities). Sebagian besar responden memiliki nilai tinggi dalam perilaku self care (51,9%). Perlunya upaya untuk meningkatkan kepatuhan self care pada pasien DM dan perawat dapat berperan penting didalamnya.
Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that can affect the physical, psychological, social and even spiritual condition of the sufferer. One effort to minimize DM complications is by doing DM self care. This study aims to describe the level of self care adherence in DM patients undergoing outpatient care at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul. This research is a quantitative research using a cross sectional approach. A sample of 54 respondents who were outpatients in the internal medicine clinic at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul in August 2019. The measuring instrument used was the SDSCA (Summary Diabetes Self Care Activities) questionnaire. Self-care behavior in the majority of respondents in the high category (51.9%). The need for efforts to improve self-care compliance in DM patients and nurses can play an important role in it. The results of this study indicate that the majority of DM patient have high self-care behavior
PERBANDINGAN APLIKASI TERAPI AKUPUNKTUR DENGAN SUSU FERMENTASI KEFIR UNTUK MENGHAMBAT PROSES PENUAAN DINI DI KOTA SURAKARTA
Penuaan atau aging merupakan perubahan manusia yang diakibatkan oleh faktor usia, psikologi, dan sosial. Penuaan juga dipengaruhi oleh faktor reactitive oxygen species (ROS) yang dihasilkan dalam sel. Tindakan akupunktur pada titik Zusanli (ST36) untuk anti aging mempunyai efek dalam melawan penuaan dengan meningkatnya aktivitas serum SOD dan penurunan serum Malondialdehyde (MDA). Kefir merupakan minuman susu fermentasi oleh mikroba atau bakteri asam laktat (Lactobacillus acidophilus, L. kefir, L. kerfigranum, L. parakefir) sehingga dikenal sebagai minuman probiotik karena mengandung mikroba yang baik untuk sistem pencernaan sehingga diketahui dapat berperan sebagai mencegah penuaan (aging). Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan antara antara aplikasi terapi akupunktur dengan susu fermentasi kefir untuk menghambat proses penuaan dini di Kota Surakarta. Metode penelitian adalah Quasy eksperimental dengan pendekatan Randomized Controlled Trial. Hasil penelitian menunjukkan skor anti oksidan pada kelompok sebelum terapi akupunktur sebesar 22.823,53 dan kelompok pemberian susu fermentasi kefir sebesar 20.352,94, dan gabungan kelompok pemberian terapi akupunktur dan pemberian susu fermentasi kefir sebesar 23.411,76. Skor anti oksidan pada kelompok setelah terapi akupunktur 18.176,47 kelompok pemberian susu fermentasi kefir, 17.764,70, dan gabungan kelompok pemberian terapi akupunktur dan pemeberian susu fermentasi kefir 19.294,12. Kesimpulan tidak ada perbedaan antara ketiga perlakuan yaitu pemberian terapi akupuntur; susu fermentasi kefir maupun kombinasi pemberian terapi akupuntur dan susu fermentasi kefir untuk menghambat proses penuaan dini di Kota Surakarta namun perpaduan akupunktur dan pemberian kefir mempunyai hasil yang lebih bagus. Manfaat dari penelitian yaitu aplikasi akupunktur dan kefir minuman fermentasi dapat dijadikan referensi untuk inovasi sebagai terapi alternatif pada kasus penuaan dini.
Aging is a human change caused by age, psychology, and social factors. Aging is also influenced by the Reactitive Oxygen Species (ROS) factors produced in cells. The acupuncture action at the Zusanli point (36) for anti-aging results has an effect against aging with increasing serum SOD activity and decreasing serum Malondialdehyde (MDA). Kefir is a fermented milk drink by microbes or lactic acid bacteria (Lactobacillus acidophilus, L. kefir, L. kerfigranum, L. parakefir) so it is known as a probiotic drink because it contains microbes that are good for the digestive system so that it is known to play a role as preventing aging (aging). The purpose of this study was to determine the difference between the application of acupuncture therapy with kefir fermented milk to inhibit the process of premature aging in the city of Surakarta. The research method is an experimental Quasy with a Randomized Controlled Trial approach. The results showed the anti-oxidant score in the group before acupuncture therapy was 22,823.53 and the group giving kefir fermentation milk was 20,352.94, and the combined group giving acupuncture therapy and giving kefir fermentation milk was 23,411.76. Anti-oxidant score in the group after acupuncture therapy 18,176.47 group giving kefir fermentation milk, 17,764.70, and combined group giving acupuncture therapy and giving kefir fermentation milk 19,294.12. Conclusion there is no difference between the three treatments, namely the provision of acupuncture therapy; Kefir fermented milk and a combination of acupuncture therapy and kefir fermented milk to inhibit the process of premature aging in the city of Surakarta. The benefits of the research are the application of acupuncture and fermented beverage kefir can be used as a reference for innovation as an alternative therapy in cases of premature aging
BEBAN KERJA MENTAL, FISIK DAN WAKTU PERAWAT DI POLI RSUD dr. SLAMET GARUT
Beban kerja mental merupakan suatu perbedaan antara kapasitas dan kemampuan dalam melakukan pekerjaan atau tugas-tugasnya. Beban kerja yang tinggi bisa menyebabkan beban kerja mental, fisik, dan waktu sedangkan beban kerja yang rendah bisa menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran beban kerja mental, fisik, dan waktu perawat di ruangan poli RSU dr, Slamet Garut. Metode Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif, Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat di ruangan poli RSU dr Slamet Garut. Teknik pengambilan sampel total sampling, dengan besar sampel yaitu 62 orang perawat. Pengukuran beban kerja mental menggunakan NASA TLX yang dinilai oleh peneliti dari lembar kuesioner. Analisis data menggunakan analisis deskritif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan beban kerja mental kategori tinggi sebanyak 58 responden (100,0%), beban kerja fisik kategori tinggi sebanyak 57 responden (98,3%), dan beban kerja waktu kategori tinggi sebanyak 57 responden (98,3%). Kesimpulan penelitian ini menggambarkan bahwa beban kerja perawat di ruangan poli RSU dr Slamet Garut kategori tinggi baik beban kerja mental, fisik, dan waktu. Perlunya perbaikan manajemen keperawatan perawat perlu menjaga kondisi fisik dan mental dalam memberikan pelayanan keperawatan karena beban kerja yang tinggi.
Mental workload is a difference between capacity and ability to do work or tasks. High workload can cause mental workload, physical, time and low workload can cause boredom and burnout. This study is to find out how the mental, physical and nurse workload depictions in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital. The research method used quantitative descriptive design. The population of the study was all nurses in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital. The sampling technique was total sampling, with 62 nurses. The measurement of mental workload using NASA TLX which was assessed by researchers from the questionnaire sheet. The data analysis used quantitative descriptive analysis. The results showed that mental workload in the high category was 58 respondents (100.0%), physical workload in the high category was 57 respondents (98.3%), and the time workload in the high category was 57 respondents (98.3%). The conclusion was the workload of nurses in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital in a high category both mental, physical, and time workloads. There needs to be an improvement in nursing management and nurses need to maintain physical and mental conditions in providing nursing services because of high workloads