Skripsi Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
359 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perbedaan Substitusi Tepung Daun Kelor Pada Tiwul Instan Terhadap Kadar Protein, Kadar Serat dan Uji Organoleptik
ABSTRAK Julaykha, Elis. 2014. Pengaruh Perbedaan Substitusi Tepung Daun Kelor Pada Tiwul Instan Terhadap Kadar Protein, Kadar Serat dan Uji Organoleptik. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd (II) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T.,M.Pd Kata Kunci : tepung gaplek, tepung daun kelor, tiwul instan, kadar protein, kadar serat. Tiwul instan substitusi tepung daun kelor merupakan tiwul instan yang telah disubstitusi tepung daun kelor melalui proses pencampuran, pengukusan, dan pengeringan. Bahan dasar pembuatan tiwul instan ini adalah tepung gaplek dan tepung daun kelor. Tepung gaplek yang berkualitas baik adalah berwarna putih bersih dan beraroma khas singkong, sedangkan tepung daun kelor berasal dari daun kelor yang diproses dengan cara dikeringkan dan dibuat serbuk dengan cara dihaluskan dan diayak. Pembuatan tiwul instan substitusi tepung daun kelor yaitu melalui proses pencampuran, pengukusan, dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein, kadar serat dan organoleptik (uji hedonik dan mutu hedonik warna, aroma, tekstur dan rasa tiwul instan substitusi tepung daun kelor berdasarkan substitusi 5%, 10% dan 15%). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan tiwul instan substitusi tepung daun kelor berdasarkan substitusi 5%, 10% dan 15% sebanyak tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakana analisis one way Anova. Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar protein tiwul instan substitusi tepung daun kelor 5% adalah 3,267gr, 10% adalah 3,943gr, 15% adalah 5,225gr. Rerata kadar serat tiwul instan substitusi tepung daun kelor 5% adalah 4,393gr, 10% adalah 4,430gr, 15% adalah 4,447gr. Rerata tingkat kesukaan terhadap warna tiwul instan substitusi tepung daun kelor 5% adalah 3,89, 10% adalah 2,94, 15% adalah 2,22. Rerata tingkat kesukaan terhadap aroma pada tiwul instan substitusi tepung daun kelor 5% adalah 3,11, 10 % adalah 2,42, 15 % adalah 1,64. Rerata tingkat kesukaan terhadap tekstur pada tiwul instan substitusi tepung daun kelor 5 % adalah 3,28, 10 % adalah 2,78, 15 % adalah 2,22. Rerata tingkat kesukaan terhadap rasa pada tiwul instan substitusi tepung daun kelor 5 % adalah 4,08, 10 % adalah 2,78, 15 % adalah 1,78. Panelis lebih banyak menyukai tiwul dengan substitusi tepung daun kelor sebanyak 5%. Pengolahan tiwul dengan substitusi tepung daun kelor 5% menghasilkan warna yang baik yaitu hijau agak kecokelatan, aroma khas gaplek dan tidak langu, tekstur bisa berbuti, rasa gurih dan tidak pahit
PENGARUH STABILIZER PATI UBI JALAR TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK ES KRIM STMJ
ABSTRAK Yoantika, Efa Nuffy. 2014. Pengaruh Stabilizer Pati Ubi Jalar Terhadap Karakteristik Fisik, Kimia dan Organoleptik Es Krim STMJ. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd Kata kunci: es krim STMJ, stabilizer pati ubi jalar STMJ (Susu Telur Madu Jahe) merupakan minuman kesehatan yang disajikan hangat yang terbuat dari susu, telur, madu dan jahe. STMJ memiliki kandungan gizi yang tinggi, tetapi ada banyak orang yang kurang menyukai minuman ini, karena komposisi bahannya seperti jamu, sehingga perlu adanya pengembangan dan inovasi. Bahan STMJ serupa dengan bahan untuk membuat es krim, sehingga produk minuman ini dapat dikembangkan menjadi es krim. Es krim yang baik dengan tekstur lembut dan tidak seperti es batu, perlu ditambahkan stabilizer. Pati ubi jalar akan diteliti untuk bahan penstabil es krim STMJ, karena memiliki sifat fisik membentuk gel dan sebagai stabilizer suatu makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stabilizer pati ubi jalar terhadap karakteristik fisik, kimia dan organoleptik es krim STMJ. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan variabel konsentrasi stabilizer pati ubi jalar. Konsentrasi stabilizer yang digunakan adalah 0,3% ; 0,4% ; 0,5% dengan 2 kali ulangan. Berdasarkan hasil penelitian, overrun es krim STMJ dengan konsentrasi stabilizer 0,3% memiliki rerata (6,70 ± 1,84)%, konsentrasi stabilizer 0,4% memiliki rerata (5,25 ± 2,48)%, konsentrasi stabilizer 0,5% memiliki rerata (3,90 ± 1,56)%. Kecepatan meleleh es krim STMJ dengan konsentrasi stabilizer 0,3% memiliki rerata (21,50 ± 0,71) menit, konsentrasi stabilizer 0,4% memiliki rerata (24,50 ± 0,71) menit, konsentrasi stabilizer 0,5% memiliki rerata (28,00 ± 1,41) menit. Kadar lemak es krim STMJ tiap 100 gram dengan konsentrasi stabilizer 0,3% memiliki rerata (3,69 ± 0,3), konsentrasi stabilizer 0,4% memiliki rerata (3,02 ± 0,20), konsentrasi stabilizer 0,5% memiliki rerata (3,16 ± 0,55). Kadar protein es krim STMJ tiap 100 gram dengan konsentrasi stabilizer 0,3% memiliki rerata (3,39 ± 0,15), konsentrasi stabilizer 0,4% memiliki rerata (2,63 ± 0,16) dan konsentrasi stabilizer 0,5% memiliki rerata (2,76 ± 0,10). Penambahan pati ubi jalar sebagai bahan penstabil berpengaruh nyata terhadap kecepatan meleleh dan protein, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap overrun dan lemak. Penambahan pati ubi jalar berpengaruh nyata terhadap karakteristik organoleptik es krim STMJ meliputi uji hedonik: rasa manis dan tekstur serta mutu hedonik: warna, rasa manis dan tekstur. Tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap uji hedonik: warna, rasa pedas dan aroma dan uji mutu hedonik: rasa pedas dan aroma
Kajian Mutu Minuman Instan Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus.L) Sebagai Minuman Fungsional
ABSTRAK Anggraeni, Fitria. 2014. Kajian Mutu Minuman Instan Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus.L)Sebagai Minuman Fungsional. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dra Mazarina Devi, M.Si. (2) Dra. Rini Sudjarwati, M.Pd. Kata Kunci: minuman instan, rimpang rumput teki, minuman fungsional Rimpang rumput teki mengandung kalsium, zat besi, magnesium, minyak atsiri, vitamin C, beta-karoten, ribovlafin, dan saponin. Kandungan rimpang rumput teki digunakan untuk mengurangi atau menyembuhkan penyakit yaitu nyeri haid dan menurunkan kadar kolesterol. Tujuan penelitian ini adalah bagaimana formulasi yang tepat, proses pengolahan, perbedaan uji hedonik dan mutu hedonik terhadap rasa, warna dan tekstur, perbedaan kandungan kadar air, kalsium, magnesium, zat besi dan timbal pada minuman instan rimpang rumput teki. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan formula minuman instan rimpang rumput teki yaitu formula A1, A2 dan A3 dengan dua kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap 1000 gram rimpang rumput teki memiliki kandungan kalsium sebesar 93,00±0,27 mg, zat besi sebesar 31,54±0,21 mg, dan magnesium sebesar 580,48±0,79 mg. Formula minuman instan rimpang rumput teki yang tepat terdapat pada formula A3 karena memiliki rasa cukup manis dan gurih beraroma rimpang rumput teki ketika dilarutkan dalam air. Teknologi pembuatan minuman instan rimpang rumput teki menggunakan metode kristalisasi. Hasil uji hedonik dan mutu hedonik terhadap rasa dan warna pada minuman instan rimpang rumput teki terdapat perbedaan, sedangkan tekstur tidak terdapat perbedaan. Hasil penelitian menunujukkan bahwa tiap 1000 gram minuman instan rimpang rumput teki memiliki kandungan kadar air sebesar 2,32±0,04 mg (formula A1), 4,13±0,04 mg (formula A2) dan 3,71±0,05 mg (formula A3), kalsium sebesar 83,29±0,38 mg (formula A1), 82,10±1,23 mg (formula A2), dan 83,21±0,27 mg (formula A3), zat besi sebesar 13,01±0,25 mg (formula A1), 12,09±0,16 mg (formula A2), dan 14,86±0,19 mg (formula A3), magnesium sebesar 109±61,00 mg (formula A1), 104,60±1,93 mg (formula A2), dan 124,93±0,10 mg (formula A3), dan timbal pada minuman instan rimpang rumput teki tidak terdeteksi. Perbedaan kadar air, kalsium, magnesium dan zat besi dipengaruhi oleh kosentrasi rimpang rumput teki dan gula pasir. ABSTRACT Anggraeni, Fitria. 2014. Study of Quality for Instant Beverage of Nutgrass Root Rhizome (Cyperus rotundus.L) as Functional Beverage. Sarjana Thesis, Study Program of Catering Service, Department of Industry Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisors: Dr. Dra Mazarina Devi, M.Si. (2) Dra. Rini Sudjarwati, M.Pd. Keywords: instant beverage, nutgrass root rhizome, functional beverage Nutgrass root rhizome contains calcium, iron, magnesium, essential oil, vitamin C, beta-carotene, riboflavin, and saponins. Those contain of nutgrass root rhizome used to decrease or healing the disease, which is menstruation pain and decrease the cholesterol level. The aim of this research is to know how are the correct formulation, processing, and the difference of hedonic and hedonic quality test to the taste, color, and texture, the difference of water, calcium, magnesium, iron, and lead content to the instant beverage of nutgrass root rhizome. Research plan that used is Complete Random Plan (RAL-Rancangan Acak Lengkap) with three formula treatments for instant beverage of nutgrass root rhizome, which is A1, A2, and A3 formula with twice repeating. Research result shows that for every 1000 gram nutgrass root rhizome there are calcium content for 93,00±0,27 mg, iron for 31,54±0,21 mg, and magnesium for 580,48±0,79 mg. The correct formula for instant beverage of nutgrass root rhizome is A3 formula, because it has sweet and savory taste with nutgrass root rhizome aroma when it is diluted into the water. The producing technology for instant beverage of nutgrass root rhizome uses crystallization method. Hedonic and hedonic quality test result to the taste and color for instant beverage of nutgrass root rhizome has the difference, whereas there is no difference in texture. Research result shows that in every 1000 gram instant beverage of nutgrass root rhizome there is water content for 2,32±0,04 mg (A1 formula), 4,13±0,04 mg (A2 formula) and 3,71±0,05 mg (A3 formula), calcium for 83,29±0,38 mg (A1 formula), 82,10±1,23 mg (A2 formula), and 83,21±0,27 mg (A3 formula), iron for 13,01±0,25 mg (A1 formula), 12,09±0,16 mg (A2 formula), and 14,86±0,19 mg (A3 formula), magnesium for 109±61,00 mg (A1 formula), 104,60±1,93 mg (A2 formula), and 124,93±0,10 mg (A3 formula). Meanwhile, the lead content in instant beverage of nutgrass root rhizome is undetected. The difference of water, calcium, magnesium, and iron content influenced by concentration of nutgrass root rhizome and sugar.
Pengaruh Perbedaan Perlakuan Pembuatan Tepung Biji Nangka (Artocarpus heteropyllus lamk) Terhadap Kualitas Cookies Lidah Kucing Tepung Biji Nangka
ABSTRAK Santoso, Minnar Titis. 2013. Pengaruh Perbedaan Perlakuan Pembuatan Tepung Biji Nangka (Artocarpus heteropyllus lamk) Terhadap Kualitas Cookies Lidah Kucing Tepung Biji Nangka. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Rini Sudjarwati, M. Pd, (II) Laili Hidayati, S. Pd., M. Si. Kata Kunci: Biji Nangka, Tepung Biji Nangka, Cookies Lidah Kucing Biji nangka merupakan hasil sampingan dari buah nangka yang tinggi kalsium dan fosfor. Tepung biji nangka adalah tepung yang dihasilkan dari penurunan kadar air dan penghancuran biji nangka segar dan kukus. Cookies lidah kucing berbentuk pipih, lonjong, rasanya manis dan bertekstur renyah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi pengaruh perbedaan perlakuan pembuatan tepung biji nangka terhadap sifat kimia, sifat fisik, uji mutu hedonik dan uji hedonik cookies lidah kucing tepung biji nangka segar dan kukus. Panelis dalam penelitian ini Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Angkatan 2009 dan 2010 sebanyak 50 panelis. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian kandungan kalsium tidak ada perbedaan pada tepung biji nangka segar dan kukus yaitu 253,82±1,02 mg tiap 1kg tepung dan 243,99±1,20 mg tiap 1kg tepung,ada perbedaan kalsium cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 197,63±0,45mg tiap 1kg cookies dan kukus 184,70±0,64mg tiap 1kg cookies.Tidak ada perbedaan fosfor tepung biji nangka segar 0,04±0,00% tiap 100g tepung dan kukus 0,05±0,00% tiap100g tepung, Ada perbedaan fosfor cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 0,14±0,00% tiap 100g cookies dan kukus 0,17±0,00% tiap 100g cookies.Ada perbedaan kandungan kadar air tepung biji nangka segar 5,31±0,03% tiap 100g tepung dan kukus 5,95±0,05% tiap 100g tepung, Ada perbedaan kadar air cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 2,38±0,04% tiap 100g cookies dan kukus 3,79±0,06% tiap 100g cookies. Ada perbedaan sifat fisik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar yaitu (L)62,25 dan (b) 22,45 dan kukus (L)64,85 dan (b)25,25.Tidak ada perbedaan sifat fisik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar (a)27,25 dan kukus (a) 21,75.Ada perbedaan sifat fisik tekstur cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 0,75 N dan kukus 2,15 N. Tidak ada perbedaan mutu hedonik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,02 dan kukus 4,14 yaitu warna kuning agak cokelat.Ada perbedaan mutu hedonik rasa cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 3,28 dan kukus 3,64 yaitu rasa cukup manis dan gurih. Tidak ada perbedaan mutu hedonik tekstur cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,44 dan kukus 4,22 yaitu cukup renyah. Tidak ada perbedaan hedonik warna cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,18 dan kukus 4,42 yaitu agak suka. Tidak ada perbedaan hedonik rasa cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,08 dan kukus 4,14 yaitu agak suka. Tidak ada perbedaan hedonik tekstur cookies lidah kucing tepung biji nangka segar 4,4 dan kukus 4,24 dengan penilaian agak suka.
Evaluasi Mutu Organoleptik dan Kandungan Protein Sosis dengan Substitusi Kacang Tunggak dan Sosis dengan Substitusi Kacang Kedelai
ABSTRAK Juwita, Arsa. 2014. Evaluasi Mutu Organoleptik dan Kandungan Protein Sosis dengan Substitusi Kacang Tunggak dan Sosis dengan Substitusi Kacang Kedelai. Skripsi, Program Studi Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rini Sudjarwati, M.Pd., (II) Ir. Ummi Rohajatien, M.P. Kata kunci: sosis, kacang tunggak, kacang kedelai, protein Kacang tunggak dan kacang kedelai merupakan beberapa jenis kacangkacangan yang ada di Indonesia yang potensial sebagai sumber zat gizi diantaranya sumber protein nabati, mineral, vitamin B, karbohidrat komplek, lemak dan serat makanan. Di Indonesia kacang tunggak dan kacang kedelai masih belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dan hanya digunakan sebagai pencampur sayuran dan bahan baku pembuatan tempe. Salah satu cara meningkatkan daya guna kacang tunggak dan kacang kedelai sebagai bahan baku industri adalah menjadikan kacang tunggak dan kacang kedelai sebagai bahan substitusi pada pembuatan sosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang sejauh mana potensi kacang tunggak dan kacang kedelai sebagai bahan pembuatan sosis, untuk mengetahui tentang kandungan protein pada sosis substitusi kacang kedelai dan sosis substitusi kacang tunggak, serta tingkat penerimaan anak-anak terhadap sosis substitusi kacang tunggak dan sosis substitusi kacang kedelai. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu membuat sosis dengan substitusi kacang tunggak dengan kacang kedelai dengan menggunakan persentase yang berbeda serta menganalisis kandungan protein pada setiap perlakuan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Sidik Ragam, apabila ada perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test, teknik analisis yang digunakan untuk melihat kandungan protein yaitu melalui uji laboratorium dan dilanjutkan dengan Analisis Sidik Ragam, apabila ada perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian terhadap uji mutu hedonik sosis substitusi kacang tunggak menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada tekstur sosis substitusi kacang tunggak dan tidak terdapat perbedaan pada warna, aroma dan rasa sosis substitusi kacang tunggak. Pada uji mutu hedonik sosis substitusi kacang kedelai terdapat perbedaan pada warna dan aroma sosis substitusi kacang kedelai dan tidak terdapat perbedaan pada rasa dan tekstur sosis substitusi kacang kedelai. Pada uji hedonik terdapat perbedaan yang sangat nyata pada warna, aroma, rasa, dan tekstur produk sosis substitusi kacang kedelai dan sosis substitusi kacang tunggak. Sosis yang mempunyai kandungan protein paling tinggi adalah sosis dengan substitusi kacang kedelai 35%
Hubungan Kebiasaan Makan denga Risiko Anemia pada Mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang.
ABSTRAK Purbayanti, Ririn. 2014. Hubungan Kebiasaan Makan denga Risiko Anemia pada Mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si, (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci : Kebiasaan Makan, Anemia, Mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang Kebiasaan makan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi. Kebiasaan makan yang kurang baik adalah dasar dari kekurangan zat gizi. Anemia merupakan salah satu masalah akibat kurangnya asupan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan makan dengan risiko anemia pada mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang. Penelitian ini termasuk penelitian korelasi dengan metode pendekatan cross sectional. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2010, 2011, dan 2012 yang berjumlah 60 mahasiswi. Data kebiasaan makan diperoleh dari form food recall dan data kadar hemoglobin diperoleh dari alat tes kadar hemoglobin digital analyzer easytouch GCHb. Analisis data penelitian menggunakan Rank Spearman. Berdasarkan hasil analisis data kebiasaan makan dengan risiko anemia pada mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecukupan protein, vitamin A, Riboflavin, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan zinc dengan risiko anemia dengan nilai sig (2-tailed) protein sebesar 0,009, vitamin A sebesar 0,011, riboflavin sebesar 0,009, asam folat sebesar 0,012, vitamin B12 sebesar 0,008, vitamin C sebesar 0,019, zat besi sebesar 0,000, dan zinc sebesar 0,014. Hasil uji korelasi antara fiber dengan risiko anemia menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan nilai sig (2-tailed) fiber sebesar 0,078. Sesuai dengan analisis data, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan risiko anemia. Mahasiswi Tata Boga Universitas Negeri Malang masih banyak yang kurang memperhatikan kebiasaan makan sehingga masih banyak yang mengalami anemia. ABSTRACT Purbayanti, Ririn. 2014. The Relationship between Food Habit and Anemia Risk of Female Students in Food Service Program State University of Malang. Mini Thesis. Department of Industrial Technology, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si, (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Keywords: Food Habit, Anemia, Female Students in Food Service Program State University of Malang Food habit is main factor to fulfill nutrition needs. Less good food habit is a basic from malnutrition. Anemia is one of problem that caused by the lack of nutrition intake that needed by our body. This research aimed to determine the relationship between food habit with anemia risk of female students in Food Service Program State University of Malang. This research included into correlation research with cross sectional approach. Sampling technique in this research uses purposive sampling, which is female students in Food Service Program State University of Malang from the year of 2010, 2011, and 2012 that amounted for 60 students. Food habit data obtained by form food recall and data of hemoglobin level that obtained from test instrument of hemoglobin level, digital analyzer easy touch GCHb. Research data analysis uses Rank Spearman. Base on the result of data analysis food habit with anemia risk of female students in Food Service Program State University of Malang, it can be known that there is significant relationship between protein, A vitamine, riboflavin, folic acid, B12 vitamine, iron, and zinc sufficiency with anemia risk with sig value (2-tailed) of protein for 0.009, A vitamine for 0.011, riboflavin for 0.009, folic acid for 0.012, B12 vitamine for 0.008, C vitamine for 0.019, iron for 0.000, and zinc for 0.44. Result of correlation test between fiber and anemia risk shows insignificant relationship with sig value (2-tailed) of fiber for 0.078. In line with data analysis, it can be known that there is significant relationship between food habit with anemia risk. There are many female students in Food Servive Program State University of Malang that do not pay less attention to the food habit, thus there are many female students that suffered by anemia
Hubungan Antara Karakteristik Keluarga dan Status Gizi Batita di Dusun Landangan Kabupaten Probolinggo.
ABSTRAK Syahfitri, Furqoni. 2014. Hubungan Antara Karakteristik Keluarga dan Status Gizi Batita di Dusun Landangan Kabupaten Probolinggo. Skripsi.Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si. (II) Aisyah Larasati, ST., MT., MIM., Ph. D. Kata Kunci: Karakteristik Keluarga, Status Gizi, Batita Masalah stunting (status gizi pendek berdasarkan indeks panjang badan menurut umur atau tinggi badan menurut umur) masih menjadi masalah nasional. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa prevalensi balita menurut indeks TB/U (Tinggi Badan menurut Usia) mencapai 35,6%. Hal ini menunjukan masalah prevalensi balita pendek di Indonesia cukup serius. Tujuan penelitian ini yaitumengidentifikasi karakteristik keluarga batita Dusun Landangan Kabupaten Probolinggo, mempelajari status gizi batita Dusun Landangan Kabupaten Probolinggo, dan mengkaji hubungan antara karakteristik keluarga batita dan status gizi batita Dusun Landangan Kabupaten Probolinggo. Penelitian ini menggunakan survey analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 102 batita. Sampel penelitian adalah sampel jenuh, yaitu 102 batita di Dusun Landangan Kabupaten Probolinggo. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Uji yang digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara variabel penelitian adalah uji crosstabsdengan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkanbahwa status gizi batita di Dusun Landangan beragam. Status gizi berdasarkan tinggi badan menurut usia dengan kategori sangat pendek sejumlah 7 batita (6,86%).Status gizi berdasarkan tinggi badan menurut usia dengan kategoripendek sejumlah20 batita(19,61%).Status gizi berdasarkan tinggi badan menurut usia dengan kategori normal sejumlah69batita (67,65%). Status gizi berdasarkan tinggi badan menurut usia dengan kategoritinggi sejumlah6 batita(5,88%).Sesuai dengan analisis data, dapat diketahui bahwa pendidikan ayah batita, pekerjaan keluarga dan pendapatan keluarga batita mempunyai hubungan yang signifikan terhadap status gizi batita. Karakteristik keluarga batita yang meliputi usia orang tua batita, besar keluarga batita dan pendidikan ibu batita tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap status gizi batita
Hubungan Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Lansia di Kota Malang (Studi Kasus di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang)
ABSTRAK Widyaningsih, Ita. 2014. Hubungan Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Lansia di Kota Malang (Studi Kasus di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang). Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Industri, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Mazarina Devi, M.Si, (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Konsumsi Makanan, Status Gizi, Lansia Peningkatan jumlah lansia terjadi akibat dari meningkatnya umur harapan hidup manusia yang merupakan dampak positif dari keberhasilan pembangunan nasional, khususnya di bidang kesehatan. Kesehatan lansia dapat tercapai apabila mempunyai tingkat konsumsi makan yang baik. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi karakteristik lansia, mengamati status gizi lansia, menganalisis konsumsi makanan lansia, dan menganalisis hubungan konsumsi makanan dengan status gizi lansia di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang dilakukan di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang dengan sampel 94 lansia yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data konsumsi makanan diperoleh dengan menggunakan instrumen food recall 2x24 jam, sedangkan data status gizi diperoleh dengan menggunakan indeks antrophometri yaitu BB/TB. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan dan status gizi adalah menggunakan korelasi rank spearman. Berdasarkan analisis data tingkat konsumsi energi lansia di Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang termasuk dalam kategori kurang. Hal ini terbukti dengan persentase 62% lansia mempunyai konsumsi makan kurang dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Sebagian besar status gizi lansia di Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang adalah berstatus gizi tidak normal. Persentase status gizi lansia di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang adalah 45% lansia berstatus gizi normal, dan 55% lansia berstatus gizi kurus dan obesitas. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara konsumsi makanan dengan status gizi pada lansia di Kelurahan Tanjungrejo Kota Malang
PENGARUH BAHAN MARINASI TERHADAP KADAR PROTEIN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK SOSIS IKAN BANDENG (Chanos chanos)
ABSTRAK Afitri, Aprilia Duwi. 2014. Pengaruh Bahan Marinasi Terhadap Kandungan Protein Dan Sifat Organoleptik Sosis Ikan Bandeng (Chanos chanos). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si, (II) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si. Kata Kunci: bahan marinasi, kandungan protein, sifat organoleptik, sosis, ikan bandeng Kandungan protein ikan bandeng cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sosis ikan. Proses pembuatan sosis ikan bandeng dibutuhkan perlakuan tambahan karena dimungkinkan adanya bau lumpur pada bahan baku ikan bandeng. Teknik untuk menutupi bau lumpur pada ikan bandeng dapat dilakukan dengan cara dimarinasi pada larutan kunyit atau larutan asam jawa. Penambahan asam pada bahan makanan yang mengandung protein dapat mengakibatkan denaturasi protein. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian tentang pengaruh bahan marinasi terhadap kandungan protein dan sifat organoleptik sosis ikan bandeng. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh bahan marinasi terhadap kandungan protein total sosis ikan bandeng dan sifat organoleptik (hedonik dan mutu hedonik) sosis ikan bandeng yang meliputi rasa, warna, tekstur dan aroma. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Pengumpulan data dilakukan dengan analisis kadar protein menggunakan metode Semi Mikro-Kjehdahl, uji mutu hedonik dan uji hedonik (kesukaan) sosis ikan bandeng yang meliputi rasa, warna, tekstur dan aroma. Data hasil analisis kadar protein, sifat mutu hedonik dan sifat hedonik (kesukaan) sosis ikan bandeng dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dan jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk data varians homogen dan Tamhane’s T2 untuk data varians tidak homogen. Hasil penelitian menunjukkan bahan marinasi tidak berpengaruh terhadap kadar protein sosis ikan bandeng. Bahan marinasi berpengaruh terhadap sifat mutu hedonik rasa, warna dan tekstur sosis ikan bandeng, namun tidak berpengaruh terhadap sifat mutu hedonik aroma sosis ikan bandeng. Bahan marinasi berpengaruh terhadap sifat hedonik (kesukaan) rasa, warna tekstur dan aroma sosis ikan bandeng
STUDI KASUS KEJADIAN GONDOK PADA ANAK SEKOLAH DASAR DENGAN KEBIASAAN MAKAN DI SDN 2 KARANGPATIHAN PONOROGO
ABSTRAK Dewi, Andhita Puspa Rusmala. 2013. Studi Kasus Kejadian Gondok Pada Anak Sekolah Dasar Dengan Kebiasaan Makan di SDN 2 Karangpatihan Ponorogo. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Industri, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Mazarina Devi, M.Si, (II) Dra. Rini Sudjarwati, M.Pd. Kata Kunci: Kebiasaan Makan, GAKY, Anak Sekolah Dasar (SD) Dasar dari kekurangan zat gizi yaitu dipengaruhi oleh kebiasaan makan yang kurang baik. Kebiasaan makan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi. Gondok merupakan salah satu masalah akibat kurangnya asupan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kebiasaan makan dengan kejadian gondok pada anak usia sekolah dasar di SDN 2 Karangpatihan Ponorogo. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V SDN 2 Karangpatihan Ponorogo yang berjumlah 34 siswa. Analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara variabel penelitian adalah analisis Rank Spearman. Berdasarkan hasil analisis data kebiasaan makan yang terdiri dari Kebiasaan Makan Menu Lengkap Per Hari dengan Kejadian Gondok nilai yang diperoleh yaitu sebesar 0,482 dengan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,050. Nilai yang diperoleh dari Tingkat Konsusmsi Pangan Sumber Yodium dengan Kejadian Gondok sebesar 0,255 dengan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,032. Nilai yang diperoleh dari Tingkat Konsumsi Pangan Sumber Goitrogenic dengan Kejadian Gondok sebesar 0,408 dengan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,014. Nilai yang diperoleh dari Tingkat Penggunaan Garam Beryodium dengan Kejadian Gondok sebesar 0,052 dengan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,044. Hasil analisis statistik, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan kejadian gondok. Saran penelitian ini yaitu berharap mampu memperbaiki konsumsi pangan terutama asupan yodium, serta lebih memperhatikan tumbuh kembang anak dan kebutuhan gizi anak untk mengurangi tingkat kejadian gondok