Skripsi Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
359 research outputs found
Sort by
Pengaruh Substitusi Modiffied Cassava Flour (MOCAF), Pada Terigu Terhadap Sifat Fisikokimia dan Organoleptik Mi Kering.
ABSTRAK Rizki A.W, Andrik. 2014. Kontrol Arah Dan Kecepatan Motor DC Menggunakan Android . Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro. Program Studi D3 Teknik Elektronika, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hakkun Elmunsyah, M.T. (II) Dyah Lestari, S.T., M.Eng. Kata Kunci : : Trainer, Kontrol, Arah dan Kecepatan Motor DC, Android. Perkembangan teknologi saat ini mendorong manusia untuk terus berpikir kreatif, tidak hanya menemukan penemuan-penemuan baru, tapi juga memaksimalkan sebuah sistem yang telah ada. Dengan demikian kebutuhan manusia tentang sistem kontrol yang memudahkan setiap pekerjaanya setiap tahun semakin berkembang. Sistem kontrol secara wireless sangat diminati karena pemakaianya lebih efisien dan praktis. Bluetooth contohnya dalam hal efisiensi Bluetooth sangat diminati karena harga yang murah dan cara pemakaian yang relatif gampang. Dalam hal ini kemajuan teknologi dan sistem kontrol secara wireless dapat dipadukan yang tentunya akan tercipta suatu sistem yang lebih efisien dan praktis tentunya dapat lebih memudahkan pekerjaan manusia. Motor DC harus dapat di kontrol arah dan kecepatanya agar sebuah sistem yang dirancang dapat berjalan seperti yang diinginkan, Suatu contoh untuk menggerakkan pintu rumah yang digerakkan oleh Motor DC kecepatan putaran Motor berpengaruh terhadap halus tidaknya pergerakan pintu dan arah putar Motor berfungsi untuk menutup dan membuka pintu. Perancangan trainer kontrol arah dan kecepatan Motor DC menggunakan Android dimana kendali wireless yang digunakan adalah Bluetooth tediri dari beberapa tahapan yaitu: (1) Study literatur, (2) Proses perancangan, (3) Pembuatan alat, (4) Pengujian rangkaian per blok diagram, (5) pengujian keseluruhan, (6) Hasil pengujian. Trainer yang dikembangkan menggunakan Mikrokontroler ATmega16 sebagai tempat pemprosesan semua Input/ Output terjadi, modul Bluetooth HC-05 sebagai jalur komunikasi antara smartphone dan sistem yang dirancang, Driver Motor L298 berfungsi untuk mengatur putaran Motor DC agar dapat di ubah arah dan kecepatan dari Motor DC dan aplikasi yang terpasang pada smartphone Android sebagai remote kontrol dari sistem ini. Uji kinerja rancangan diketahui bahwa: (a) Minimum sistem ATmega16 berfungsi dengan baik yang telah diuji dengan cara menguji PORT ATmega16 sebagai Input/ Output; (b) Driver Motor L298 berfungsi dengan baik yang di uji dengan cara memberikan sinyal PWM yang dibangkitkan dari mikrokontroler; (c) Modul Bluetooth HC-05 berfungsi dengan baik yang di uji dengan cara menghubungkan Modul Bluetooth, mikrokontroler, Android dan LCD sebagai penampil data yang di terima dari Android; (d) Pengujian Program di CVAVR; (e) pengujian rangkaian kontrol arah dan kecepatan Motor DC menggunakan Android. Dengan demikian trainer yang dibuat dapat berfungsi dengan baik dan sesuai dengan perancangan
KESIAPAN GURU PRODUKTIF JASA BOGA DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMKN 3 MALANG
ABSTRAK Kusfianti, Dewi Masitha. 2014. Kesiapan Guru Produktif Jasa Boga dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMKN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rina Rifqie Mariana, M.P (II) Dra. Teti Setiawati, M.Pd Kata Kunci: kesiapan guru, implementasi kurikulum, kurikulum 2013 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 ditinjau dari empat kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional di SMKN 3 Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah guru produktif program keahlian tata boga di kelas X yang menerapkan Kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode observasi, kuesioner, wawancara serta dokumentasi. Pedoman observasi merupakan instrumen untuk data primer, sedangkan angket, wawancara serta dokumentasi merupakan instrumen untuk data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru produktif jasa boga dalam implementasi Kurikulum 2013 di SMKN 3 Malang: (a) berdasarkan kompetensi pedagogik dikategorikan cukup siap dengan mean 3,03 dan dari 3 aspek yang diamati semua guru (100%) dinyatakan cukup siap; (b) berdasarkan kompetensi kepribadian dikategorikan siap dengan mean 3,27 dan dari 4 aspek yang diamati, sebagian guru (50%) dinyatakan siap sedangkan sebagian guru lainnya (50%) dinyatakan cukup siap; (c) berdasarkan kompetensi sosial dikategorikan cukup siap dengan mean 3,17 dan dari 3 aspek yang diamati, sebagian kecil guru (25%) dinyatakan siap dan sebagian besar guru (75%) dinyatakan cukup siap; (d) berdasarkan kompetensi profesional dikategorikan cukup siap dengan mean 3,14 dan dari 4 aspek yang diamati, sebagian kecil guru (25%) dinyatakan siap dan sebagian besar guru (75%) dinyatakan cukup siap. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesiapan guru produktif Jasa Boga: (a) berdasarkan kompetensi pedagogik dikategorikan cukup siap; (b) berdasarkan kompetensi kepribadian dikategorikan siap; (c) berdasarkan kompetensi sosial dikategorikan cukup siap; (d) berdasarkan kompetensi profesional dikategorikan cukup siap. Guru diharapkan lebih banyak mengkaji kembali terkait penerapan Kurikulum 2013, mengembangkan metode pembelajaran yang digunakan, lebih tepat waktu dalam pembelajaran dan melengkapi instrumen penilaian sesuai aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan, serta mengaktifkan kegiatan MGMP sehingga efektif untuk wadah berbagi informasi lebih dalam terkait implementasi Kurikulum 2013. Sekolah diharapkan lebih meningkatkan kompetensi guru dengan mengadakan workshop terkait penyusunan perencanaan pembelajaran.
Pengaruh Pengolahan dan Pengeringan Buah Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Perubahan Kandungan Kalsium dan Vitamin C dan Aplikasinya Pada Mi Basah
ABSTRAK Saputri, Herlina Dwi. 2014. Pengaruh Pengolahan dan Pengeringan Buah Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Perubahan Kandungan Kalsium dan Vitamin C dan Aplikasinya Pada Mi Basah. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Amat Nyoto, M.Pd (2) Ir. Ummi Rohajatien, M. P Kata kunci: Tepung buah pare, mi basah, uji hedonik. Buah pare merupakan sayuran buah yang mempunyai kandungan gizi cukup tinggi, diantaranya kalsium dan vitamin C. Fungsi utama kalsium adalah untuk pembentukan tulang dan gigi, sedangkan vitamin C dapat berfungsi sebagai antioksidan. Oleh karena itu buah pare berpotensi untuk dikembangkan menjadi tepung buah pare yang dapat diolah menjadi aneka kuliner. Mi basah merupakan salah satu kuliner yang dipilih sebagai produk aplikasi dari tepung buah pare. Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan tepung buah pare yang baik, serta mendapatkan mi basah subtitusi tepung buah pare yang paling disukai oleh panelis. Metode pengolahan yang digunakan untuk membuat tepung buah pare adalah metode pengolahan blansir dan non blansir dengan proses pengeringan matahari dan cabiner dryer. Uji organoleptik untuk tepung buah pare meliputi uji kimia (kalsium dan vitamin C) dan uji mutu hedonik (warna dan aroma). Rancangan percobaan yang dilakukan adalah rancangan acak lengkap berpola faktorial. Uji organoleptik yang dilakukan terhadap mi basah buah pare adalah uji hedonik (kesukaan) untuk melihat kesukaan konsumen terhadap mi basah dengan subtitusi buah pare 5%, 10%, 15 %. Data dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji DMRT, sedangkan untuk mengetahui perlakuan terbaik digunakan metode indeks efektivitas. Hasil data mi basah buah pare yang paling disukai oleh konsumen dianalisis menggunakan Spider Web. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengolahan dan proses pengeringan berpengaruh terhadap kandungan kalsium tepung buah pare tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan vitamin C tepung buah pare. Kandungan kalsium tertinggi adalah kandungan kalsium tepung buah pare melalui proses pengeringan cabinet dryer dan metode pengolahan non blansir sebesar 838,37 ppm, sedangkan kandungan vitamin c berkisar antara 0.067 mg/100 g (0.67 ppm) sampai dengan 0,073 mg/100 g (0,73 ppm). Berdasarkan indeks efektivitas diperoleh terbaik yaitu tepung buah pare melalui proses pengeringan cabinet dryer dan metode pengolahan non blansir. Mi basah yang paling disukai oleh panelis adalah mi basah subtitusi tepung buah pare 5 %.
Inovasi Pempek rmulasi Ikan Nila dan Ikan Teri
ABSTRAK Deviana, Frida. 2014. Inovasi Pempek Formulasi Ikan Nila dan Ikan Teri. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd (II) Ir. Ummi Rohajatien, M.P. Kata Kunci: Pempek, Ikan, IkanNila, Ikan Teri. Pempek adalah kudapan khas Palembang yang digemari masyarakat karena selain rasa yang gurih pempek juga memiliki kandungan gizi yang berasal dari daging ikan yang merupakan bahan utama dalam pembuatan pempek. Pempek disajikan dengan saus berwarna kecoklatan yang disebut kuah cuka atau kuah cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, asam kandis, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam.Pempek dalam penelitian ini menggunakan 2 jenis ikan yaitu ikan nila (Oreochromisniloticus) dan ikan teri (Engraulidae). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rasa, aroma, tekstur, kalsium, protein dan warna pada pempek. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengamatan dan pengukuran data dilakukan sesuai dengan uji organoleptik (uji perbedaan dan uji kesukaan) meliputi rasa, aroma, dan tekstur dan uji laboratorium kalsium, protein, dan warna pempek formulasi ikan nila (Oreochromisniloticus) dan ikan teri (Engraulidae). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan anova dengan uji lanjut DMRT (apabila Fhitung > Ftabel). Hasil penelitian terhadap uji mutu hedonic menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rasa dan aroma. Sedangkan pada mutuh edonik tesktur tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Rasa yang paling gurih dengan rerata skor skor 3,80 pada ulangan 1 adalah pempek formulasi perbandingan 50:50, sedangkan aroma yang paling beraroma dengan rerata skor 3,95 pada ulangan 1 adalah pempek formulasi perbandingan 70:30. Uji kesukaan panelis/hedonik terdapat perbedaan secara signifikan pada rasa, sedangkan pada aroma dan tekstur tidak tedapat perbedaan yang signifikan. Rasa yang paling disukai panelis adalah pempek formulasi perbandingan 50:50 dengan rerata skor 3,70 pada ulangan 1. Hasil uji kimia dan fisik pempek formlasi ikan nila dan ikan teri pada kalsium tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil protein menunjukkan perbedaan secara signifikan dengan rerata skor tertinggi 8,32 pada perlakuan perbandingan 70%:30% dan terendah 6,66 pada perlakuan perbandingan 50%:50%. Uji fisik pada warna yang meliputi nilai L*(kecerahan), a*(intensitasmerah), b*(intensitaskuning) juga menunjukkan hasil tidak berbeda secara signifikan
Inovasi Kerupuk Kerang Darah (Anadara Granosa), Kerang Hijau (Mytilus Viridia L), Kerang Kapak (Ordo Ostreoida) sebagai salah satu alternatif produk makanan jajanan anak sekolah yang bergizi
ABSTRAK Lestari, Diana. 2013. Inovasi Kerupuk Kerang Darah (Anadara Granosa), Kerang Hijau (Mytilus Viridia L), Kerang Kapak (Ordo Ostreoida) Sebagai Salah Satu Alternatif Produk Makanan Jajanan Anak Sekolah Yang Bergizi. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Ir. Ummi Rohajatien, M.P (2) Dra. Rini Sudjarwarti, M.Pd Kata kunci : makanan jajanan, daging kerang, anak sekolah Kerang adalah binatang lunak (Mollusca) yang hidup dilaut, bercangkang dua. Insangnya berlapis-lapis dan berkaki simping serta memiliki benang byssus kerang merupakan salah satu hasil perikanan yang mempunyai nilai gizi yang baik dan dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan protein hewani.Pada penelitihan ini eksprerimen yaitu pada membuat kerupuk berbahan dasar daging kerang dengan persentase berbeda serta menganalisis kandungan protein pada setiap perlakuan. Analisis data yang digunakan adalah Duncan’s Multiple Range Test, teknik analisis yang digunakan untuk melihat kandungan protein yaitu melalui uji laboratorium dan dilanjutkan dengan analisis Anova Ral Pola Tersarang. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan adanya perbedaan warna tekstur pada kerupuk daging kerang darah 15%, 20% dan 25% sedangkan pada rasa dan warna adanya perbedaan daging kerang darah 15% 20% dan 25%, sedangkan pada kerupuk daging kerang kapak 15%, 20% dan 25% tidak terdapat perbedaan aroma, rasa tekstur sedangkan pada kerupuk daging kerang kapak terdapat perbedaan warna.Kerupuk daging kerang hijau 15%, 20% dan 25% tidak terdapat perbedaan warna aroma, dan adanya perbedaan pada rasa dan tekstur pada kerupuk daging kerang hijau. Warna, aroma tekstur dan rasa kerupuk daging kerang yang paling banyak disukai panelis adalah kerupuk daging kerang darah 15%, sedangkan warna, aroma, tekstur dan rasa kerupuk daging kerang yang paling disukai panelis adalah daging kerang kapak 25%, dan sedangkan warna, aroma , tekstur dan rasa kerupuk daging kerang hijau yang paling disukai panelis adalah 15%. Hasil analisis kandungan protein kerupuk daging kerang menunjukkan penggunaan pada kerupuk daging kerang kapak 25% memiliki kandungan protein yang paling tinggi yaitu 5,88% per100 gram dibandingkan kerupuk daging kerang yang lain dan kandungan protein terendah pada kerupuk daging kerang darah 15% memiliki kandungan 1,80% per100 gram
Implementasi Kesehatan Keselamatan Kerja dan Hygiene Sanitasi Pada Pembelajaran Praktikum di SMK Negeri 3 Malang
ABSTRAK Anggraini, Ratih. 2013. Implementasi Kesehatan Keselamatan Kerja dan Hygiene Sanitasi (K3HS) pada Pembelajaran Praktikum di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd (II) Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd Kata Kunci: kesehatan keselamatan kerja, hygiene sanitasi, peran guru Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi prosedur kesehatan keselamatan kerja dan hygiene sanitasi pada pembelajaran praktikum ditinjau dari peranan guru dalam melakukan proses implementasi dalam suatu pembelajaran praktikum kompetensi keahlian jasa boga di SMK Negeri 3 Malang. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data penelitian ini adalah guru kompetensi keahlian jasa boga yang mengajar mata pelajaran produktif (praktikum) di kelas XII Kompetensi Keahlian Jasa Boga. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan kuesioner atau angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kesehatan keselamatan kerja dan hygiene sanitasi pada pembelajaran praktikum di SMK Negeri 3 Malang sebagai berikut: (a) peran guru dalam implementasi K3HS pada pembelajaran praktikum rata-rata menunjukkan kategori standar, namun dari 24 aspek pengamatan 6 aspek diantaranya menunjukkan rata-rata cukup standar. Artinya bahwa keenam aspek tersebut perlu diperbaiki agar proses pembelajaran terstandar; dan (b) sikap siswa terhadap implementasi prosedur K3HS pada pembelajaran praktikum yang dilakukan guru rata-rata menunjukkan kategori standar, namun perhatian dan pengawasan guru lebih diintensifkan mengingat pada aspek pelaksanaan piket dan aspek siswa melakukan kesalahan ketika guru lengah dalam pengawasan menjadi suatu aspek yang masih dilakukan peserta didik pada saat pelaksanaan praktikum. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi K3HS pada pembelajaran praktikum di SMK Negeri 3 Malang dikategorikan standar dengan kriteria baik, namun juga terdapat kekurangan dalam beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Pada indikator kesesuaian RPP, seharusnya guru menyertakan prosedur K3HS sebagai bagian dari proses implementasi karena pada dasarnya prosedur K3HS merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran praktikum. Sekolah seharusnya memiliki standar operasional prosedur tersendiri sebagai acuan bagi peserta didik dalam melaksanakan praktikum, sehingga proses pembelajaran praktikum memiliki acuan standar pada setiap prosedur kerja di laboratorium. Secara umum dan menyeluruh peran guru perlu ditingkatkan selama pembelajaran praktikum berlangsung, mengingat pengawasan dan perhatian secara konsisten dan kontinyu terhadap siswa masih diperlukan walaupun siswa sudah berada di kelas XII
Pengembangan Suplemen Bahan Ajar Teknik Pengolahan Makanan Oriental. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.
ABSTRAK A’yun, Nurma Qurrota. 2014. Pengembangan Suplemen Bahan Ajar Teknik Pengolahan Makanan Oriental. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, Ph.D. (II) Dra. Rini Sudjarwati, M.Pd Kata Kunci: Suplemen Bahan Ajar, Teknik Pengolahan Makanan Oriental, Dick dan Carey. Mata kuliah Teknik Pengolahan Makanan Oriental mencakup ciri khas makanan oriental dan pengetahuan bahan-bahan makanan yang tersedia di negara-negara yang terletak di wilayah Asia, khususnya wilayah Asia Timur. Suplemen bahan ajar mampu membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan mahasiswa terhadap kehadiran dosen. Penelitan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan suplemen bahan ajar mata kuliah Teknik Pengolahan Makanan Oriental khususnya wilayah Asia Timur untuk mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dan mengetahui kelayakannya. Suplemen bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari: (1) halaman sampul, (2) kata pengantar, (3) daftar isi, (4) bab pendahuluan, (5) bab pembelajaran, (6) evaluasi, (7) penutup, (8) daftar pustaka dan (9) glosarium. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Dick dan Carey yang menggunakan 10 tahapan yaitu (1) analisis kebutuhan dan tujuan, (2) analisis pembelajaran, (3) analisis peserta didik dan konteks, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan instrumen assessment, (6) pengembangan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran, (8) merancang dan melakukan penilaian formatif, (9) melakukan revisi dan (10) merancang dan melakukan evaluasi produk. Proses validasi dilaksanakan oleh validator ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. Serta diujicobakan kepada mahasiswa dengan cara uji coba secara perseorangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Validasi ahli ditujukan untuk mengukur kelayakan materi yang terdapat dalam media tersebut, kelayakan media yang dikembangkan serta kelayakan bahasa yang digunakan. Validasi menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Hasil analisa digunakan untuk menentukan kelayakan media sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh persentase hasil validasi ahli materi sebesar 93%, ahli media 94% dan ahli bahasa 95%. Hasil uji coba secara perseorangan 86%, uji coba kelompok kecil 93%, uji coba lapangan 92%. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa hasil uji coba lapangan tentang penggunaan bahan ajar sudah memenuhi kriteria valid dan secara keseluruhan dinyatakan layak. Suplemen bahan ajar yang dikembangkan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran pada mata kuliah Teknik Pengolahan Makanan Oriental
Hubungan Tingkat Konsumsi Energi Protein dengan Status Gizi Balita di Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo Kota Pasuruan
ABSTRAK Silvia, Riza. 2014. Hubungan Tingkat Konsumsi Energi Protein dengan Status Gizi Balita di Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo Kota Pasuruan. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si. (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Tingkat Konsumsi Energi Protein, Status Gizi, Balita. Balita merupakan kelompok usia rentan terkena penyakit dan permasalahan gizi. Keadaan gizi di waktu balita berpengaruh dengan keadaan gizi di waktu dewasa. Berkaitan dengan hal itu maka perlu diadakan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi balita. Rancangan penelitian yang disesuaikan dalam penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan di Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo Kota Pasuruan dengan sampel 97 balita yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data tingkat konsumsi energi dan protein diperoleh dengan menggunakan instrumen food recall 2x24 jam, sedangkan data status gizi diperoleh dengan menggunakan indeks antropometri yaitu BB/U. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi adalah menggunakan korelasi rank spearman. Berdasarkan analisis data masih ada balita yang mengalami status gizi kurang sebanyak 17,5%, balita dengan status gizi buruk sebanyak 4,1%, dan balita status gizi lebih sebanyak 3,1%, namun di Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo sebagian besar berstatus gizi baik yaitu sebanyak 75,3%. Tingkat konsumsi energi Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo Kota Pasuruan sebagian besar berkategori normal yaitu ≥70% AKG. Tingkat konsumsi protein balita di Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo Kota Pasuruan sebagian besar berkategori lebih yaitu ≥120% AKG. Hasil analisis data yaitu dengan menggunakan korelasi rank spearman diperoleh ada hubungan yang positif antara tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi balita di Puskesmas Karangketug dan Puskesmas Gadingrejo Kota Pasuruan. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat konsumsi energi protein balita di Puskesmas Karangketug dan Gadingrejo Kota Pasuruan sudah baik demikian pula dengan status gizi balita, namun jenis makanan yang diberikan kepada balita kurang beragam. Diharapkan ibu balita memberikan asupan dari jenis makanan yang beragam agar semakin lengkap zat gizi yang diperoleh tubuh balita. ABSTRACT Silvia, Riza. 2014. The Relationship Between Energy Consumption Of Protein And Nutritional Status of the Children Under Five Years Old at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan. Thesis, Department of Industrial Technology, Faculty of Engineering, State University of Malang. Supervisors: (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si. (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Keywords: Energy Consumption Of Protein, Nutritional Status, Children Under Five Years Old. Children under five years old are the age group who susceptible to disease and nutrient problems. The nutrient state during the childhood will affect on the nutrient state during the adulthood. In relation to such problem, further research is required to find out the relationship between energy and protein consumption and nutrient status of the children under five years old. The adjusted design of the research was cross sectional that was conducted at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan with 97 children under five years old as samples of the research who have been chosen by pusposive sampling. Data on energy and protein consumption was collected using the instrument of food recall 2x24 hours, while nutrient status data used anthropometric indices body weight by age (BW/A). Analysis of the research used the Rank Spearman correlation in order to find out the relationship between energy and protein consumtion with the nutrient. Based on the analysis data, there are 17,5% children under five years old have less nutrient status, 4,1% children under five years old have poor nutrient status, and 3,1% children under five years old have over nutrient status, however, most of the children under five years old at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan have better nutrient status with peresentation 75,3%. Most of the energy consumption children under five years old at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan are categorized in normal state ≥70% RDA. Most of the protein consumption children under five years old at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan are categorized in over state ≥120% RDA. Result of the data analysis using Rank Spearman correlation shows positive correlation between energy and protein consumption with nutrient status of the children under five years old at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan. From the above statement it can be concluded that the level of energy and protein consumption of children under five years old at the Public Health Centers of Karangketug and Gadingrejo in Pasuruan is good as well as nutrient status, but the thype of food given to infants less diverse. It is expected that the mother gave the intake of a variety of types of food so that more complete of nutrients for children under five years olds body
KESIAPAN GURU PRODUKTIF JASA BOGA DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMKN 3 MALANG
ABSTRAKKusfianti, Dewi Masitha. 2014. Kesiapan Guru Produktif Jasa Boga dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMKN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rina Rifqie Mariana, M.P (II) Dra. Teti Setiawati, M.PdKata Kunci: kesiapan guru, implementasi kurikulum, kurikulum 2013Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 ditinjau dari empat kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional di SMKN 3 Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah guru produktif program keahlian tata boga di kelas X yang menerapkan Kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode observasi, kuesioner, wawancara serta dokumentasi. Pedoman observasi merupakan instrumen untuk data primer, sedangkan angket, wawancara serta dokumentasi merupakan instrumen untuk data sekunder.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru produktif jasa boga dalam implementasi Kurikulum 2013 di SMKN 3 Malang: (a) berdasarkan kompetensi pedagogik dikategorikan cukup siap dengan mean 3,03 dan dari 3 aspek yang diamati semua guru (100%) dinyatakan cukup siap; (b) berdasarkan kompetensi kepribadian dikategorikan siap dengan mean 3,27 dan dari 4 aspek yang diamati, sebagian guru (50%) dinyatakan siap sedangkan sebagian guru lainnya (50%) dinyatakan cukup siap; (c) berdasarkan kompetensi sosial dikategorikan cukup siap dengan mean 3,17 dan dari 3 aspek yang diamati, sebagian kecil guru (25%) dinyatakan siap dan sebagian besar guru (75%) dinyatakan cukup siap; (d) berdasarkan kompetensi profesional dikategorikan cukup siap dengan mean 3,14 dan dari 4 aspek yang diamati, sebagian kecil guru (25%) dinyatakan siap dan sebagian besar guru (75%) dinyatakan cukup siap.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesiapan guru produktif Jasa Boga: (a) berdasarkan kompetensi pedagogik dikategorikan cukup siap; (b) berdasarkan kompetensi kepribadian dikategorikan siap; (c) berdasarkan kompetensi sosial dikategorikan cukup siap; (d) berdasarkan kompetensi profesional dikategorikan cukup siap. Guru diharapkan lebih banyak mengkaji kembali terkait penerapan Kurikulum 2013, mengembangkan metode pembelajaran yang digunakan, lebih tepat waktu dalam pembelajaran dan melengkapi instrumen penilaian sesuai aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan, serta mengaktifkan kegiatan MGMP sehingga efektif untuk wadah berbagi informasi lebih dalam terkait implementasi Kurikulum 2013. Sekolah diharapkan lebih meningkatkan kompetensi guru dengan mengadakan workshop terkait penyusunan perencanaan pembelajaran.
Pemanfaatan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Pada Pembuatan Permen Jelly
ABSTRAK Pereira, Ollivia, Christy. 2015. Pemanfaatan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Pada Pembuatan PermenJelly. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si., (II) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T. Kata Kunci: Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi), Permen Jelly. Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) adalah buah yang berbentuk bulat lonjong persegi hingga seperti torpedo, panjangnya 4-10 cm,berwarna hijau muda dengan sisa kelopak bunga menempel pada ujungnya, daging buahnya berair banyak dan rasanya asam. Pemanfaatan buah belimbing wuluh selama ini masih terbatas yaitu sebagai bahan penyedap masakan, sehingga untuk memanfaatkannya dibuatlahpermen yang bernilai ekonomis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan kalium, kadar air, sifat fisik warna dan tekstur, mutu hedonik rasa dan aroma, tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna, tekstur, dan aroma pada permen jelly belimbing wuluh. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan dua perlakuan yaitu menggunakan juice dan smoothie belimbing wuluh dengan dua kali pengulangan. Metode analisis yang digunakan adalah Uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan kalium pada permen jelly belimbing wuluhmenggunakan juice belimbing wuluh 11,39 ppm dan kandungan kalium permen jelly belimbing wuluhmenggunakan smoothie belimbing wuluh 9,53 ppm.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air pada permen jelly belimbing wuluhmenggunakan juice belimbing wuluh 16,63% dan pada permen jelly belimbing wuluhmenggunakan smoothie belimbing wuluh 20,41%.Hasil rerata uji fisik warna permen jelly belimbing wuluh menggunakan juice belimbing wuluh (47,45), smoothie(58,93) dan tekstur permen jelly belimbing wuluh menggunakan juice belimbing wuluh (3,25 N), smoothie (2,4 N)dan tidak terdapat perbedaan. Hasil rerata uji mutu hedonik rasa permen jelly belimbing wuluhmenggunakan juice belimbing wuluh (3,46), smoothie (3,2) dantidak terdapat perbedaan, sedangkan rerata uji mutu hedonik aroma permen jelly belimbing wuluh menggunakan juice belimbing wuluh (4,12), smoothie (3,00) danterdapat perbedaan. Hasil rerata uji hedonik rasa permen jelly belimbing wuluh menggunakan juice belimbing wuluh (3,42), smoothie (3,14) dantidak terdapat perbedaan. Hasil rerata uji hedonik warna permen jelly belimbing wuluhmenggunakan juice belimbing wuluh (4,66), smoothie (3,82), tekstur permen jelly belimbing wuluh menggunakan juice belimbing wuluh(4,34), smoothie (3,78), dan aroma permen jelly belimbing wuluhmenggunakan juice belimbing wuluh (2,92), smoothie (2,36). Hasil ujihedonikwarna, tekstur, dan aroma terdapat perbedaan