Skripsi Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
359 research outputs found
Sort by
Formulasi Tepung Pelapis Berbahan Dasar Tepung Singkong ( Manihot esculenta) dan Tepung Tapioka Serta Aplikasinya Sebagai Pelapis Keripik Tempe
ABSTRAK Wijayanti, Novia Putri. 2015. Formulasi Tepung Pelapis Berbahan Dasar Tepung Singkong ( Manihot esculenta) dan Tepung Tapioka Serta Aplikasinya Sebagai Pelapis Keripik Tempe. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P., (II) Dra Wiwik Wahyuni M.Pd. Kata Kunci: Tepung Pelapis, Tepung Tapioka dan Tepung Singkong. Pelapis goreng (batter) adalah tepung yang digunakan untuk melapisi makanan digunakan meningkatkan tekstur, rasa dan, volume. Untuk mengurangi ketergantungan pada tepung beras dapat dibuat tepung dari umbi- umbian untuk meningkatkan penganekaragaman pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio tepung singkong dan tepung tapioka terhadap kadar air, daya patah, serat dan uji hedonik (warna, rasa, aroma dan tekstur), serta mendapatkan formula terbaik keripik tempe. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga rasio antara tepung singkong dan tepung tapioka 40:60%, 50:50%, 60:40% dengan dua kali pengulangan . Analisis yang digunakan meliputi kadar air, daya patah, serat dan uji hedonik (warna, rasa, aroma dan tekstur). Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA (Analysis of Variance), jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Duncan Analysis. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasio tepung pelapis berbahan tepung singkong dan tepung tapioka dengan kadar air terendah pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 40:60% , serat tertinggi pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 60:40%, daya patah tertinggi pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 40:60% . Hasil uji hedonik warna yang disukai pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 40:60%, hasil uji hedonik aroma disukai pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 40:60%, uji hedonik rasa yang disukai pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 50:50% dan uji hedonik tekstur disukai pada rasio tepung singkong dan tepung tapioka 40:60%. Formula terbaik adalah formula 1 dengan rasio tepung singkong dan tepung tapioka 40:60%
Hubungan Pola Makan dan Pengetahuan Gizi dengan Kadar Hb Ibu Hamil Trimester II dan III di Wilayah Kerja Puskesmas Kanigoro
ABSTRAK HUBUNGAN POLA MAKAN DAN PENGETAHUAN GIZI DENGAN KADAR Hb IBU HAMIL TRIMESTER II DAN III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KANIGORO Umi Sholichah 1, Mazarina Devi 2 , Rini Sudjarwati 2 1 S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, E-mail: [email protected] 2 Dosen Pembimbing Abstract: Pregnant women are one of the groups affected by anemia. In connection with that, a discussion about the relationship between food pattern and nutritional knowledge with the Hb level of trimester II and III pregnant women is needed. The research design adjusted in this research was cross sectional which was done in the work field of Puskesmas Kanigoro Blitar Regency with 38 pregnant women as the samples which was selected by purposive sampling. The food pattern data collection was conducted by using food recall 2x24 hours and food frequency questioner, while the data of nutritional knowledge of the pregnant women was tested using closed-questioner, and the Hb level of the pregnant women was tested by using the experts’ method. The data analysis was done by using chi square test. Based on the chi square test between food pattern and haemoglobin level there is a relationship between diet and the Hb level of pregnant women, however there is no relationship between knowledge of nutrition with the Hb level of trimester II and III pregnant women. Keywords: food pattren, knowledge of nutrition, Haemoglobin of Pregnan women Abstrak: Ibu hamil merupakan salah satu kelompok rentan terkena anemia. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pola makan dan pengetahuan gizi dengan kadar Hb ibu hamil. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro Kabupaten Blitar dengan sampel 38 ibu hamil dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data pola makan dilakukan dengan menggunakan food recall 2x24 jam dan food frequency questioner, sedangkan data pengetahuan gizi menggunakan questioner tertutup dan kadar Hb dites menggunakan metode sahli. Analisis data menggunakan uji chi square. Berdasarkan analisis diperoleh terdapat hubungan pola makan dan kadar Hb ibu hamil, namun tidak terdapat hubungan antara pola makan dengan pengetahuan gizi serta tidak terdapat pula hubungan pengetahuan gizi dengan kadar Hb ibu hamil trimester II dan III. Salah satu masalah gizi ibu hamil adalah terkena anemia gizi besi. Anemia atau kekurangan darah merupakan suatu keadaan kronis, ketika kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit berkurang (Fairus, 2010:94). Anemia pada ibu hamil memiliki dampak pada ibu dan bayi. Berdasarkan penelitian di Yogjakarta, anemia ibu hamil mengakibatkan berat bayi lahir rendah. Menurunnya kadar hemoglobin pada ibu hamil disebabkan kurangnya asupan zat besi. Pada ibu hamil terjadi peningkatan kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin dan terjadinya perubahan pada darah selama kehamilan mengakibatkan volume darah meningkat sebanyak 50% dan sel darah merah bertambah 20-30% (Nasoetion, 1988:24). Peningkatan kebutuhan gizi pada ibu hamil terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada tubuhnya. Perubahan-perubahan tersebut terutama berhubungan dengan darah, sistem kardiovaskuler, sistem pencernaan, jaringan lemak, dan saluran uro-ganitalis (Nasoetion, 1988:23). Kebutuhan zat gizi yang meningkat, mengakibatkan perbedaan kebutuhan jumlah makanan yang dikonsumsi selama hamil. Tiap trimester kehamilan memiliki perlakuan dalam mengkonsumsi makan yang berbeda. Pada trimester pertama ibu hamil akan merasa tidak enak dan lemah karena makanan yang dikonsumsi selalu ingin dimuntahkan (Proverawati, 2010:48). Rasa mual akan berkurang memasuki trimester kedua masa kehamilan, Sehingga ibu memiliki perlakuan dalam mengkonsumsi makanan yang berbeda ketika hamil. Tinggi rendahnya pendidikan dan pengetahuan tentang gizi erat kaitannya dengan keadaan gizi masyarakat, termasuk gizi ibu hamil (Depkes, 2000). Menurut Susilawati (2011) pengetahuan berhubungan dengan kepatuhan karena pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku. Susilawati (2011) dalam penelitiannya juga menyatakan pengetahuan yang diperoleh melalui pengindraan ibu hamil terhadap info kesehatan selama kehamilan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil dalam menjaga kesehatan. Berdasarkan data Dinkes kota Blitar (2012), daerah kabupaten Blitar masih terdapat berat bayi lahir rendah cukup banyak. Pada bulan Juli terdapat 49 bayi dengan berat badan lahir rendah, mengalami peningkatan 16% pada bulan Agustus dan semakin meningkat pada bulan September dan Oktober yaitu 22% dan 24 %. Kecamatan Kanigoro merupakan salah satu daerah yang memiliki peningkatan BBLR yang tersebar diwilayah kerja Puskesmas Kanigoro METODE Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian survey analitik. Rancangan penelitian yang disesuaikan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi meliputi seluruh ibu hamil yang memeriksakan kandungan di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro sebanyak 192. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dengan kriteria usia kehamilan trimester II dan III, bukan kehamilan pertama, merupakan kehamilan yang sehat, ibu hamil tidak mempunyai penyakit kronis dan bersedia dijadikan sampel. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria Kebanyak 38 ibu haamil. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data tentang pola makan, pengetahuan gizi dan kadar Hb. Data pola makan ibu hamil diperoleh langsung dari ibu hamil menggunakan FFQ dan Food Recall 2x 24 jam. Data pengetahuan gizi ibu hamil menggunakan questioner tertutup. Data kadar Hb diperoleh dari petugas yang memeriksa kadar Hb dengan metode sahli. Sedangkan data sekunder meliputi usia ibu hamil, berat badan ibu hamil dan penyakit ibu hamil. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data ordinal sehingga analisis yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan pola makan ibu hamil dan pengetahuan gizi dengan kadar hemoglobin menggunakan uji chi square. Pengolahan data menggunakan microsoft excel dan SPSS 15,0 for windows. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Makan Ibu Hamil Frekuensi makan ibu hamil Frekuensi makan ibu hamil yang anemia (24,24%) ibu hamil makan 2x sehari dan (75,76%) ibu hamil makan 3x sehari. Ibu hamil yang tidak anemia 100% makan 3x sehari. Anjuran makan pada ibu hamil menurut Rusilanti (2006:7) agar makan 3 sampai 5 porsi sehari dengan menu sehat dan seimbang. Berdasarkan penelitian, frekuensi makan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro masih terdapat ibu hamil yang mengkonsumsi makan kurang dari 3x sehari. Distribusi Makan Berdasarkan Kelengkapan Menu Ibu hamil yang tidak anemia sebanyak (40%) ibu hamil dalam sehari mengkonsumsi 1x makan dengan menu makanan lengkap dan (60%) ibu hamil dalam sehari mengkonsumsi 2x menu makanan lengkap. Ibu hamil yang anemia sebanyak (90,9%) ibu hamil tidak mengkonsumsi makanan dengan menu lengkap tetapi hanya mengkonsumsi nasi, lauk pauk nabati dan sayuran. Almatsier (2005) menyatakan pola konsumsi makanan adalah susunan makanan yang dikonsumsi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan tubuh dalam satu hidangan lengkap. Bahan pangan yang dikonsumsi ibu hamil harus meliputi enam kelompok, yaitu makanan yang mengandung protein hewani dan nabati, susu dan olahannya, roti dan bebijian, buah dan sayur yang kaya vitamin C, sayuran berwarna hijau, serta buah dan sayuran lain (Arisman, 2010:13). Berdasarkan penelitian, mayoritas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro tidak mengkonsumsi menu makanan lengkap untuk ibu hamil. Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Pokok Ibu hamil yang mengkonsumsi nasi putih >1x/hari (100%). Ibu hamil yang mengkonsumsi nasi jagung 1-3x/minggu (5,26%). Ibu hamil yang mengkonsumsi nasi tiwul 1-3x/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi mie 1-3x/minggu (26,31%). Berdasarkan penelitian, ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro mengkonsumsi nasi putih sebagai makanan pokok. Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Lauk Pauk Hewani Lauk pauk hewani yang dikonsumsi ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro adalah telur, olahan hati ayam, ikan tongkol, daging ayam dan daging sapi. Ibu hamil yang mengkonsumsi telur 4-6x/minggu (13,15%), dan 1-3x/minggu (60,53%). Ibu hamil yang mengkonsumsi daging ayam 4-6x/minggu (2,63%) dan 1-3x/minggu (36,84%). Ibu hamil yang mengkonsumsi hati 1-3/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi daging sapi 1-3x/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi ikan 4-6x/minggu (7,89%) dan 1-3x/minggu (52,63%). Berdasarkan penelitian, lauk pauk hewani jarang dikonsumsi oleh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro. Sebagian ibu hamil mengaku bahwa tidak menyukai makan ikan ketika hamil. Selain itu terdapat ibu hamil yang tidak mempu membelinya. Hal ini mengakibatkan ibu hamil kurang mengkonsumsi lauk pauk hewani sehinga kekurangan protein hewani. Protein digunakan untuk menambah unsur-unsur dalam cairan darah, terutama hemoglobin dan plasma darah (Nadesul, 2011:6). Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Lauk Pauk Nabati Bahan makanan nabati yang biasa dikonsumsi ibu hamil yaitu olahan tahu, olahan tempe, sari kedelai, dan olahan kacang hijau. Ibu hamil yang mengkonsumsi tahu 1x/hari (13,15%), 4-6x/minggu (26,32%) dan 1-3x/minggu (60,52%). Ibu hamil yang mengkonsumsi tempe 1x/hari (47,37%), 4-6x/minggu (39,47%) dan 1-3x/minggu (13,16%). Ibu hamil yang mengkonsumsi sari kedelai 1x/hari (18,42%), 4-6x/minggu (5,26%), 1-3/minggu (23,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi kacang hijau 1x/hari (13,16%), 4-6x/mingu (10,53%), 1-3x/minggu (42,1%). Sebagian besar ibu ketika hamil menambah mengkonsumsi sari kedelai dan kacang hijau karena diyakini baik untuk bayi. Sari kedelai dipercaya menjadikan bayi yang lahir mempunyai kulit yang putih dan kacang hijau dianggap menjadikan bayi yang lahir mempunyai rambut yang lebat. Berdasarkan penelitian, sebagian besar ibu hamil mengkonsumsi bahan makanan nabati walaupun dengan tujuan bukan untuk kesehatan. Hal ini menunjukan ibu hamil percaya tabu dalam mengkonsumsi makanan. Frekuensi dan Jenis Bahan Makana Sayuran Ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro baik yang tidak anemia maupun anemia rata-rata setiap hari mengkonsumsi sayuran >1x/hari. Walaupun mengkonsumsi sayuran >1x/hari, namun tidak semua sayuran yang dikonsumsi adalah sayuran hijau. Sayuran hijau merupakan salah satu sumber zat besi, namun serapan zat besi dari sumber bahan ini masih rendah dibandingkan dari protein hewani (Arisman, 2010). Berdasarkan penelitian, ibu hamil kurang mengkonsumsi sayuran yang mengandung zat besi. Ibu hamil mengkonsumsi sayuran yang berasal dari kebunnya dan mengkonsumsi sayuran sesuai musim. Sehingga ibu hamil kekurangn zat besi yang membantu pembentukan sel darah merah. Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Buah Buah-buahan yang banyak terdapat pada wilayah Kanigoro dan selalu ada adalah pepaya, pisang, serta jambu biji. ibu hamil yang mengkonsumsi jambu biji 4-6x/minggu (18,42%), dan 1-3x/minggu (26,32%). Ibu hamil yang mengkonsumsi pepaya 4-6x/minggu (7,89%), dan 1-3x/minggu (31,53%). Ibu hamil yang mengkonsumsi pisang 1x/hari (10,52%), 4-6x/minggu (26,32%), 1-3/minggu (13,16%). Ibu hamil yang mengkonsumsi jeruk 4-6x/minggu (5,26%), dan 1-3x/minggu (7,89%). Ibu hamil yang mengkonsumsi melon 4-6x/minggu (2,63%). Ibu hamil yang mengkonsumsi apel 4-6x/minggu (5,26%). Dalam penelitian ini, sumber vitamin C diperoleh dari buah jambu biji, jeruk dan pepaya yang dikonsumsi 1-3x/minggu oleh beberapa ibu hamil baik yang tidak anemia maupun anemia. Jambu biji serta buah lain dikonsumsi hanya ketika ingin memakannya (ngidam) dan ketika berbuah, karena kebanyakan buah diambil dari hasil kebunnya. Sehingga ibu hamil masih kurang mengkonsumsi vitamin C. Mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C baik dibutuhkan ibu hamil untuk membantu penyerapan zat besi (Arisman, 2010: 17). Frekuensi dan Jenis Bahan Makanan Susu dan Tablet Zat Besi Ibu hamil yang mengkonsumsi susu ibu hamil >1x/hari (7,89%), 1x/hari (26,36%), 4-6x/minggu (18,42%), dan 1-3x/minggu (15,79%). Ibu hamil yang mengkonsumsi suplemen zat besi 1x/hari (7,89%), 4-6x/minggu (52,63%), dan 1-3x/minggu (39,47%). Sebagian ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro mengkonsumsi tablet Fe dari bidan serta susu ibu hamil. Selain tablet Fe dan susu terdapat ibu hamil yang mengkonsumsi tablet kalsium. Konsumsi tablet Fe pada ibu hamil baik yang tidak anemia maupun anemia rata-rata sudah cukup baik, ibu hamil mengkonsumsi tablet Fe dalam waktu 4-6x/minggu. Menurut Arisman (2010:16) setiap ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen zat besi sebesar 30-60 mg setiap hari dimulai pada minggu ke-12 kehamilan. Berdasarkan penelitian ibu hamil yang anemia memiliki kebiasaan mengkonsumsi teh, susu, serta tablet kalsium yang hampir bersamaan dengan mengkonsumsi tablet Fe. Kopi, teh, garam kalsium, magnesium dan fitat dapat mengikat Fe sehingga mengurangi jumlah serapan (Arisman 2010:17). Tablet Fe sebaiknya dikonsumsi tidak dalam waktu bersama dengan zat yang dapat mengikat Fe (Arisman, 2010:17). Sebaran Ibu Hamil Berdasarkan Jumlah Penghasilan Keluarga Ibu hamil yang tidak anemia memiliki jumlah penghasilan keluarga ≥Rp.245.743,00. Ibu hamil yang anemia 45,46% memiliki jumlah penghasilan ≥Rp.245.743,00 dan 54,54% memiliki jumlah penghasilan BPS (2012), menetapkan bahwa batas garis kemiskinan wilayah Jawa Timur adalah Rp.245.743,00. Hasil penenelitian, rata-rata pendapatan perkapita ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro dibawah batas kemiskinan wilayah Jawa Timur, dan termasuk keluarga pra sejahtera. Suhardjo (2003:25) menyatakan semakin banyak mempunyai uang semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut untuk membeli bahan makanan. Sebaran Ibu Hamil Berdasarkan Pendidikan Akhir Ibu hamil yang tidak anemia sebesar 60% memiliki pendidikan akhir SLTA, dan 40% memiliki pendidikan akhir Perguruan Tinggi. Ibu hamil yang anemia sebesar 6,06% berpendidikan akhir SD, sebesar 39,38% berpendidikan akhir SLTP, sebesar 51,51% berpendidikan akhir SLTA dan sebesar 3,04% berpendidikan akhir perguruan tinggi. Pendidikan akhir ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro baik yang anemia maupun tidak anemia adalah SLTA. Hal ini menunjukan tingkat pendidikan ibu hamil tidak mempengaruhi pola makan. Sebaran Ibu Hamil Berdasarkan Jumlah Keluarga Ibu hamil yang tidak anemia sejumlah 100% memiliki jumlah keluarga ≤4 orang atau keluarga kecil. Ibu hamil yang anemia sejumlah 36,36% memiliki jumlah keluarga >4orang atau keluarga besar, sejumlah 63,64% memiliki jumlah keluarga ≤4 orang. Rata-rata ibu hamil baik yang anemia maupun tidak anemia memiliki jumlah keluarga ≤4 orang atau dalam kategori keluarga kecil. Dalam penelitian ini jumlah keluarga tidak mempengaruhi pola makan. Semakin banyak anggota keluarga, semakin banyak pula jumlah makanan yang dibutuhkan setiap harinya. Jika jumlah makanan tidak sesuai untuk kebutuhan keluarga, maka tiap anggota mengalami kekurangan jumlah makanan (Proverawati, 2010:50). Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Ibu hamil yang tidak anemia memiliki tingkat pengetahuan gizi tinggi sebesar 60%, ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebesar 20%, dan ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan gizi kurang sebasar 20%. Ibu hamil yang anemia memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 30,30%, memiliki tingkat pengetahuan cukup sebesar 21,21% dan memiliki tingkat pengetahuan kurang sebesar 48,48%. Susilawati (2011) menyatakan pengetahuan yang diperoleh melalui pengindraan ibu hamil terhadap info kesehatan selama kehamilan berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil dalam menjaga kesehatan. Pengetahuan ibu hamil tentang bahan makanan yang mengandung zat besi serta zat yang dapat membantu penyerapan rata-rata masih kurang. Menurut Soehardjo (2005:46), salah satu yang harus diperhatikan tentang pentingnya pengetahuan gizi adalah ilmu gizi memberikan fakta yang perlu diterapkan sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi. Berdasarkan hasil penelitian, ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro kurang informasi tentang bahan makanan dan zat gizi yang penting dikonsumsi selama hamil. Kadar Hb Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kanigoro Kadar Hb ibu hamil trimester II dan III di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1 Sebaran Ibu Hamil Menurut Jumlah Kadar Hb Kategori Kadar Hb Tidak anemia (≥ 11g%) Anemia ringan (9-10g%) Anemia sedang (7-8g%) Anemia berat (≤ 7g%) 6 0 13.16 71.05 15.79 0 Jumlah 38 100 Kadar hemoglobin ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kanigoro sebagian besar antara 9-10g% atau dalam kategori anemia ringan. Sebagian besar ibu hamil yang mengalami anemia adalah ibu hamil trimester III. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32-36 minggu atau trimester III (Proverawati, 2010:76). Zat gizi yang mempengaruhi pembentukan kadar Hb antara lain protein, vitamin A, vitamin C, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B9, vitamin B12, zat besi serta zink. Zat besi, protein dan vitamin B9 (asam folat) berfungsi dalam pembentukan hemoglobin. Kecukupan zat besi, protein dan vitamin B9 pada ibu hamil yang anemia rata-rat
Pengaruh Varietas Belimbing Manis (Averrhoa carambola L) dan Jenis Stabilizer Terhadap Kandungan Gizi Velva Belimbing Manis dan Sifat Organoleptiknya
ABSTRAK Mukaromah, Niswatul. 2013. Pengaruh Varietas Belimbing Manis dan Jenis Stabilizer Terhadap Kandungan Gizi Velva Belimbing Manis dan Sifat Organoleptiknya. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd, M.Pd Kata kunci: velva buah, belimbing manis, stabilizer, kandungan gizi, sifat organoleptik Belimbing manis Karangsari merupakan salah satu produk unggulan di Blitar, Jawa Timur. Produksi belimbing manis terjadi sepanjang tahun dan berbuah lebat. Upaya meningkatkan nilai ekonominya dan mengatasi sifat mudah rusak saat musim panen maka belimbing manis dapat diolah menjadi velva buah. Velva buah merupakan makanan beku sejenis es krim yang banyak mengandung serat dan vitamin C. Kandungan serat dan vitamin C buah belimbing manis yang cukup tinggi menjadikan buah belimbing manis potensial untuk produk velva buah yang kaya akan vitamin C dan serat. Pembuatan velva buah diperlukan bahan stabilizer untuk memperbaiki kualitas velva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varietas belimbing manis dan jenis stabilizer terhadap kandungan gizi velva belimbing manis dan sifat organoleptiknya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah varietas belimbing manis (Karangsari dan lokal) dan faktor II adalah jenis stabilizer (CMC, karagenan, pektin). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak dua kali.Hasil penelitian kandungan gizi menunjukkan bahwa kandungan vitamin C tiap 100 gram buah belimbing manis Karangsari sebesar 99,25 ± 6,90 mg, dan kandungan serat pangannya tiap 100 gram sebesar 11,75 ± 1,73. Kandungan vitamin C tiap 100 gram puree belimbing manis Karangsari sebesar 66,25 ± 10,72 mg, dan kandungan serat pangannya tiap 100 gram sebesar 9,74 ± 1,48. Kandungan vitamin C tiap 100 gram buah belimbing manis lokal sebesar 99,75 ± 7,27 mg, dan kandungan serat pangannya tiap 100 gram sebesar 11,98 ± 1,34. Kandungan vitamin C tiap 100 gram puree belimbing manis lokal sebesar 67,5 ± 6,45 mg, dan kandungan serat pangannya tiap 100 gram sebesar 9,85 ± 1,49. Varietas belimbing manis dan jenis stabilizer berpengaruh terhadap kandungan vitamin C velva belimbing manis, namun tidak berpengaruh terhadap kandungan serat pangan velva belimbing manis. Sifat organoleptik pada uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada warna dan aroma velva belimbing manis, serta uji mutu hedonik warna velva belimbing manis terdapat perbedaan yang nyata, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap uji hedonik tekstur dan uji mutu hedonik rasa, tekstur dan aroma velva belimbing manis. Varietas belimbing manis dan jenis stabilizer terhadap overrun dan daya leleh velva belimbing manis, tidak berpengaruh.
Analisis Kondisi Higiene Sanitasi Makanan Jajanan Sekolah yang di Jual di Lingkungan Sekolah Dasar di Kota Malang
ABSTRAK Hanifah, Siti. 2014. Analisis Kondisi Higiene Sanitasi Makanan Jajanan Sekolah yang di Jual di Lingkungan Sekolah Dasar di Kota Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Amat Nyoto, M.Pd., (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.kes. Kata kunci: higiene , sanitasi, makanan jajanan Kasus keracunan makanan jajanan sekolah banyak disebabkan oleh kurangnya pengetahuan penjual makanan jajanan tentang higiene sanitasi makanan. Makanan jajanan dapat tercemar oleh debu, lalat yang hinggap pada makanan maupun mikroba yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi higiene personal penjual makanan jajanan yang berada di luar sekolah, kondisi sanitasi tempat berjualan, dan kondisi sanitasi peralatan yang digunakan oleh penjual makanan jajanan di luar sekolah. Penelitian deskriptif dengan metode survey ini dilakukan di 5 (lima) Sekolah Dasar di Kota Malang yaitu SDN Dinoyo I, SDN Madyopuro 6, SDN Tanjung I, SD Kartika 51, dan MIN Malang I. Objek dari penelitian penjual makanan jajanan dan 5 (lima) jenis makanan jajanan yang mencakup cilok, leker, batagor, pukis mini, dan es potong. Pengumpulan data menggunakan pengamatan langsung/observasi dan wawancara, sedangkan analisis data mengguanakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa higiene personal penjual makanan jajanan tidak memenuhi persyaratan higiene penjamah makanan. Kondisi sanitasi tempat berjualan sudah bersih. Peralatan yang digunakan berbahan plastik dan stainless steel. Penjual menggunakan kantong plastik sebagai kemasan untuk makanan jajanan. Maka dari penelitian ini disarankan agar anak usia Sekolah Dasar lebih memperhatikan kebersihan dan kandungan gizi makanan jajanan sekolah
Pengaruh Penggunaan Ubi Jalar Ungu (Ipomea batatas varietas samarinda) sebagai Filler terhadap Kadar Antosianin, Sifat Fisik dan Organoleptik Nugget Ayam
ABSTRAKRani, Oky Nur. Pengaruh Penggunaan Ubi Jalar Ungu (Ipomea batatas varietas samarinda) sebagai Filler terhadap Kadar Antosianin, Sifat Fisik dan Organoleptik Nugget Ayam. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra. Titi Mutiara K., M.P. (II) Ir.IssutartiKata kunci: nugget ayam, filler, tepung dan pati ubi jalar ungu, antosianin, tekstur, warna, organoleptik.Ubi jalar merupakan salah satu jenis umbi-umbian sumber pati. Ubi jalar ungu memiliki kelebihan dibandingkan ubi jalar warna lain yaitu kadar antosianin yang tinggi. Ubi jalar ungu sebagai sumber pati dan tinggi antosianin dapat dimanfaatkan sebagai filler nugget ayam.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kadar antosianin pada nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu dan nugget ayam filler pati ubi jalar ungu, sifat fisik (tekstur dan warna) dan organoleptik yang meliputi warna, tekstur dan aroma nugget ayam. Metode pengujian antosianin menggunakan pH-differential Spektrofotometer uv vis, metode pengujian tekstur menggunakan Tensile strength dan metode pengujian warna menggunakan Hunter Color Reader. Data hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar antosianin, tekstur, tingkat kecerahan (a*) dan tingkat warna kuning (b*) terdapat perbedaan; kadar antosianin nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu 0,21 ppm dan antosianin nugget ayam filler pati ubi jalar ungu 0,002 ppm; tekstur nugget ayam filler pati ubi jalar ungu 20,7, nugget ayam filler terigu 14,9 dan nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu 13,8; tingkat kecerahan (L*) nugget ayam filler terigu 55,9, nugget ayam filler pati ubi jalar ungu 52,5 dan nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu 48,2; tingkat warna kuning (b*) nugget ayam filler terigu17,7, nugget ayam filler pati ubi jalar ungu 16,1 dan nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu 14,2. Tingkat warna merah (a*) tidak terdapat perbedaan; nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu14,3, nugget ayam filler terigu 13,4 dan nugget ayam filler pati ubi jalar ungu 13,3. Hasil organoleptik nugget ayam menunjukkan terdapat perbedaan pada warna, tekstur dan aroma. Warna dan tekstur paling disukai nugget ayam filler terigu. Aroma paling disukai nugget ayam filler tepung ubi jalar ungu. ABSTRACTRani, Oky Nur. The Effect of Using Purple Sweet Potato (Ipomea batatas varetas samarinda ) as a Filler on the Anthocyanin Content, Physical Characteristics and Organoleptic Test of Chicken Nugget. Thesis.Industrial Engineering Department, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisor (I) Dr. Dra. Titi Mutiara K., M.P. (II) Ir.IssutartiKeywords: Chicken nugget, filler, flour and starch purple sweet potato, anthocyanin, texture, colour, organoleptic testSweet potato is a source type of a starch tuber. Purple sweet potato has an strength of color rather than another sweet potato that is the high level of anthocyanin. Purple sweet potato as source of a starch and high anthocyanin can be used as filler of a chicken nuggget.The objectives of this research were to find the difference of anthocyanin level from chicken nugget with flour of purple sweet potato filler and chicken nugget with the starch of purple sweeet potato filler, physical characteristics (texture and color) and organoleptic is color, texture and flavor of the chicken nugget. The method to test the anthocyanin use pH-differential Spektrofotometeruvvis, the method to test the texture use Tensile strength and a method of testing color use Hunter Color Reader. Data result of the research were analyzed statistically using ANOVA and DMRT(Duncan’s Multiple Range Test.Result of the research showed that anthocyanin-content, texture, and the rate of brightness (L*) and the level of yellow color (b*) showed difference; anthocyanin-content of chicken nugget with flour purple sweet potato filler 0,21 ppm and chicken nugget with starch purple sweet potato filler 0,002 ppm; texture of chicken nugget with starch purple sweet potato filler 20,7, chicken nugget with wheat filler 14,9 and chicken nugget with flour purple sweet potato filler 13,8; the rate of brightness (L*) chicken nugget with wheat filler 55,9,chicken nugget with starch purple sweet potato filler 52,5 and chicken nugget with flour purple sweet potato filler 48,2; the level of yellow color (b*)chicken nugget with wheat filler 17,7, chicken nugget with starch purple sweet potato filler 16,1and chicken nugget with flour purple sweet potato filler14,2. The level of red color (a*) not different; chicken nugget with flour purple sweet potato filler 14,3, chicken nugget with wheat filler 13,3, chicken nugget with starch purple sweet potato filler 13,3.Result of the organoleptic shows that there are different on color, texture and flavor. The most fovorited color and texture chicken nugget with wheat filler. The most favorited flavor chicken nugget with flour purple sweet potato filler.
Kandungan Vitamin C, β-karoten dan Uji HedonikpadaInovasiProdukAwetanBuah Pare (Momordicacharantia L.)
ABSTRAKSelpamira, Dermalata, A. E. 2014. Kandungan Vitamin C, β-karoten dan Uji Hedonik padaI novasi Produk Awetan Buah Pare ( Momordicacharantia L. ). Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri. FakultasTeknik. UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Ir. Ummi Rohajatien, M.P., (II) Dra. Rini Sudjarwati, M.Pd.Kata Kunci: Buah Pare hijau ( Momordicacharantia L. ), manisan basah, pickleManisan basah adalah olahan buah atau sayur yang diawetkan dengan menambahkan gula dengan konsentrasi tinggi dan disajikan dalam keadaan basah dengan larutan gula. Pickle adalah hasil pengolahan sayur-sayuran dan buah-buahan secara fermentasi dengan menggunakan larutan gula dan garam. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan manisan basah dan pickle adalah buah pare hijau ( Momordicacharantia L. ) yang memiliki bentuk lonjong kecil dengan panjang 8-30cm, berwarna hijau dengan bintil halus pada permukaannya, rasanya pahit dan ukurannya lebih kecil dibandingkan pare putih.Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang perubahan kadar β-karoten dan vitamin C pada buah pare dari efek pengolahan yang berbeda dilakukan dengan menggunakan penelitian eksperimen dengan uji hedonik yang meliputi tekstur, warna dan aroma dari manisan basah pare dan pickle pare ( Momordicacharantia L. ). Data dianalisa menggunakan uji-t ( One Sample T Test) dengan bantuan SPSS for windows versi 16.0 untuk melihatkan dungan kadar vitamin C dan-karoten tertinggi dari produk pare segar, manisan basah pare dan pickle pare. Dan analisis untuk uji penerimaan panelis dilakukan dengan nilai (LOA) Level Of Acceptance yang digunakan adalah 70% dari nilai rata-rata angka nilai tertinggi 9 yaitu 6,3.Hasil penelitian menunjukkan kandungan β-karoten tertinggi terdapat pada produk pare segar yaitu1,6174 mg/100gr, rerata kandungan β-karoten terendah terdapat pada produkmanisanbasah pare adalah 0,2177 mg/100gr. Kadar kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada produk pare segar yaitu 62,016 mg/100gr, dan rerata kandungan vitamin C terendah terdapat pada produk pickle pare yaitu 20,499 mg/100gr. Hasil analisis menggunakan uji-tuntuk uji penerimaan rerata parameter tekstur pada produk manisan basah pare sebesar 6,6 dan pada produk pickle pare sebesar 6,4. Hasil analisis menggunakan uji-tuntuk uji penerimaan analisis rerata parameter warna pada produk manisan basah pare sebesar 6,5 dan pada produk pickle pare sebesar 6,4. Hasil analisis menggunakan uji-tuntuk uji penerimaan analisis rerata parameter aroma pada produk manisan basah pare sebesar 6,5 dan pada produk pickle pare sebesar 6,5. Hasil analisis LOA pada daya terima penelis terhadap tingkat kesukaan tekstur, warna dan aroma produk manisan basah pare dan pickle pare secara keseluruhan dapat diterima panelis.  
Pengembangan Bahan Ajar Mengolah Makanan Indonesia Kelas X di SMKN 1 Bagor Nganjuk
ABSTRAK Gunartin, Ika. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Mengolah Makanan Indonesia Kelas X SMK N 1 Bagor Nganjuk. Skripsi, Jurusan Teknoligi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembingbing: (1) Dr. H. Amat Nyoto, M.Pd., (2) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci: bahan ajar, mengolah makanan Indonesia, SMK, tataboga. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa informasi, alat, teks dan seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis yang digunakan guru untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan mengajar. Bahan ajar mengolah makanan Indonesia yaitu bahan ajar pendidikan Mengolah Makanan Indonesia dianggap sangat penting adanya dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan bahan ajar yang layak untuk digunakan sebagai sumber belajar pada mata pelajaran mengolah makanan Indonesia. Langkah-langkah dalam pengembangan bahan ajar, yaitu (1) Pre design stage, (2) Design stage, (3) Post design stage.Validasibahan ajar mengolah makanan Indonesia dilakukan ahli materi pembelajaran, ahli media pembelajaran, dan ahli bahasa Indonesia.Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada siswa kelas X jasaboga di SMK N 1 Bagor Nganjuk. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penilaian produk pengembangan ini berupa instrument penilaian dan wawancara bebas. Analisa data dimulai dari validasi dari ahli media, ahli materi ,dan ahli bahasa Indonesia lalu diujicobakan pada kelompok kecil yaitu siswa SMK N 1 Bagor. Penilaian dari ahli media memperoleh hasil 64.5%, ahli materi (dosen) memperoleh hasil 62,5%, ahli materi (guru) 84,4%, ahli bahasa memperoleh hasil 70%, uji coba siswa memperoleh skor 88,9%. Berdasarkan kriteria kelayakan produk diketahui bahwa bahan ajar mengolah makanan Indonesia tergolong layak . Saran bagi peneliti selanjutnya adalah hasil pengembangan ini hanya sampai tersusunnya sebuah produk, belum sampai pada tingkat keefektifan bahan ajar dalam proses pembelajaran. Sehingga perlu dilanjutkan pada penelitian keefektifan produk yang dikembangkan. Mengembangkan produk bahan ajar dengan pokok bahasan atau materi lain. Tahap uji coba produk ini hanya pada tahap uji coba terbatas, belum sampai pada tahap uji coba lebih luas,oleh karena itu disarankan untuk melanjutkan penelitian dan pengembangan ke tahap uji coba lebih luas
PERBEDAAN HASIL BELAJAR KOMPETENSI MENYEDIAKAN LAYANAN MAKAN DAN MINUM MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN METODE EKSPERIMEN (Studi Pada KompetensiKeahlian Jasa Boga Kelas XI SMK Negeri 3 Blitar)
ABSTRAK Hendrayana, Tomi.2013. PerbedaanHasil Belajar Kompetensi Menyediakan Layanan Makan dan Minum MenggunakanMetode Demontrasi dan Metode Eksperimen (StudiPadaProgram Keahlian Jasa Boga Kelas XI SMK Negeri 3 Blitar).Skripsi, JurusanTeknologiIndustri, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Dra.Nunung Nurjanah, M.Kes, (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si Kata Kunci :hasilbelajar, metode eksperimen, metode demontrasi, layanan makan dan minum. Standar Kompetensi pelayanan makan dan minum merupakan kompetensi yang wajib ditempuh oleh siswa SMK Jurusan Jasa Boga. Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan, ditemukan data nilai siswa pada sebagian siswa kelas XI Jasa Boga pada Kompetensi Dasar Minuman Non alkohol masih rendah, hal tersebut disebabkan karena metode pembelajaran yang kurang interaktif. Penggunaan metode eksperimen dan metode demontrasi dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa khususnya pada Kompetensi Dasar Minuman Non Alkohol. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Quasi Eksperimental dengan teknik sampling populasi yaitu keseluruhan kelas XI Jasa Boga. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan soal pretest dan posttest. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik parametrik, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas dengan menggunakan bantuan soft ware SPSS 16.0, uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan akhir (t-test) yaitu membedakan rata-rata masing-masing metode pembelajaran dan di analisis menggunakan uji t (t-test) dengan bantuan SPPS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar Kompetensi Dasar Minuman Non Alkohol pada materi teh dan kopi yang diajar menggunakan metode demontrasi dengan metode eksperimen, hasil belajar dengan penerapan metode eksperimen lebih baik dari pada penerapan metode demontrasi. Hasil dapat diketahui dari kenaikan nilai rata-rata kedua kelas yang berbeda, kelas metode demontrasi mempunyai rata-rata nilai pretest 68,9 dan posttest 73,9, hal tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata sebanyak 5 poin, sedangkan kelas metode eksperimen mempunyai rata-rata nilai pretest 67,1 dan posttest 81,8, hal tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata sebanyak 14,8 poin. Kesimpulannya bahwa ada perbedaan hasil belajar antara penerapan metode eksperimen dan metode demontrasi dengan nilai rata-rata metode eksperimen lebih tinggi yaitu 81,8 sedangkan kelas metode demontrasi sebesar 73,9.
Pengembangan Produk Bubur Bayi Instan Substitusi Tepung Labu Kuning dan Tepung Ikan Gabus
ABSTRAK Labu kuning dan ikan gabus merupakan bahan pangan lokal yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat untuk MP-ASI. Pemanfaatan tepung labu kuning dan tepung ikan gabus untuk bahan substitusi dalam pengembangan produk bubur bayi instan dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis kandungan gizi dan daya terima produk. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor. Perlakuan dalam penelitian ini adalah substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus pada formula bubur bayi instan dengan persentase yang berbeda: (1) formula A (10% tepung labu kuning, 15% tepung ikan gabus); (2) formula B (10% tepung labu kuning, 20% tepung ikan gabus); dan (3) formula C (15% tepung labu kuning, 20% tepung ikan gabus). Substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus pada ketiga formula bubur bayi instan menghasilkan perbedaan kadar betakaroten, zat besi, kalsium, dan serat kasar berbeda secara signifikan (p 0,05). Hasil uji hedonik warna dan aroma bubur bayi instan signifikan (p 0,05). Kadar protein, betakaroten, zat besi, dan serat kasar bubur bayi instan substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus formula B dan C sudah memenuhi persyaratan kandungan gizi bubur bayi instan dari Kementrian Kesehatan RI. Bubur bayi instan formula B tiap 100 gramnya mengandung kadar protein 28,37 gram, betakaroten 0,512 mg, zat besi 5,21 mg, dan serat kasar 3,52 gram. Bubur bayi instan formula C mengandung kadar protein 28,32 gram, betakaroten 0,60 mg, zat besi 5,861 mg, dan serat kasar 4,335 gram. Bubur bayi instan substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus formula B dan C dari sisi kandungan gizi produk, dapat dijadikan sebagai alternatif MP-ASI untuk bayi usia 6-12 bulan. Disarankan untuk dilakukan uji keamanan pangan terhadap produk bubur bayi instan substitusi tepung labu kuning dan tepung ikan gabus yang dihasilkan untuk mengetahui ada tidaknya resiko pencemaran oleh mikro organisme maupun logam berbahaya
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Presentasi dengan Menggunakan Prezi Desktop Pada Mata Pelajaran Sanitasi, Hygiene dan Keselamatan Kerja di SMKN 2 Boyolangu
ABSTRAK Imamah, Yulia Nurul. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Presentasi Dengan Menggunakan Prezi Desktop Pada Mata Pelajaran Sanitasi, Hygiene dan Keselamatan Kerja di SMKN 2 Boyolangu. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, Ph.D. (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Prezi Desktop, Sanitasi, Hygiene dan Keselamatan Kerja. Penelitan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis presentasi dengan menggunakan prezi desktop pada mata pelajaran Sanitasi, Hygiene dan Keselamatan Kerja di SMKN 2 Boyolangu dan mengetahui kelayakannya. Media Pembelajaran yang dikembangkan terdiri dari materi bahan pembersih dan kecelakaan kerja. Pengembangan media pembelajaran prezi desktop diharapkan dapat membantu guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan baik dan dapat membantu siswa memahami materi pelajaran yang telah disampaikan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg & Gall yang menggunakan 10 tahapan yaitu (1) penelitian dan pengumpulan informasi awal; (2) perencanaan; (3) pengembangan format produk awal; (4) uji coba awal; (5) revisi produk; (6) uji coba lapangan; (7) revisi produk; (8) uji lapangan; (9) revisi produk akhir; dan (10) diseminasi. Uji lapangan dilaksanakan oleh siswa kelas X Tata Boga. Pemilihan sampel uji lapangan menggunakan purposive sampling. Proses validasi dilaksanakan oleh validator ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. Validasi ahli ditujukan untuk mengukur kelayakan media yang dikembangkan. Validasi menggunakan kuesioner dengan skala likert. Hasil analisa digunakan untuk menentukan kelayakan media sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, didapat persentase hasil validasi ahli media sebesar 96,25%, ahli bahasa sebesar 82,5% dan ahli materi 94,64%. Hasil uji coba lapangan 90,7% dan uji lapangan 94,85%. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil uji coba sudah memenuhi kriteria valid dan secara keseluruhan dinyatakan layak serta dapat diimplementasikan dalam pembelajaran pada mata pelajaran Sanitasi, Hygiene dan Keselamatan Kerja