Skripsi Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    359 research outputs found

    PENGARUH SUBTITUSI TEPUNG TEMPE PADA PEMBUATAN KERUPUK TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN DAN MUTU ORGANOLEPTIK

    No full text
    ABSTRAK Anugerah, Dion S. 2016. Pengaruh Subtitusi Tepung Tempe Pada Pembuatan Kerupuk Terhadap Kandungan Protein dan Mutu Organoleptik. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata Kunci : kerupuk, tempe, protein, organoleptik. Kerupuk merupakan makanan kering yang populer di Indonesia sebagai camilan atau pelengkap hidangan khas nusantara. Tempe merupakan salah satu pangan fungsional yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi tepung tempe terhadap kadar protein dan sifat organoleptik, yaitu uji mutu hedonik (warna, rasa,dan tekstur kerupuk tempe yang telah digoreng), uji hedonik (warna, rasa, dan tekstur) kerupuk tempe yang telah digoreng. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga jenis subtitusi yang berbeda yaitu subtitusi tepung tempe dengan tapioka dengan presentase 20%:80%, 30%:70%, dan 40%:60% dengan dua kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis ANOVA (Analysis of Variance). Jika terdapat perbedaan antar pelakuan, maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat protein tertinggi terdapat pada subtitusi tepung tempe dengan tapioka 40%:60%. Uji mutu hedonik warna, rasa, dan tekstur dengan nilai tertinggi terdapat pada subtitusi tepung tempe dengan tapioka 20%:80%. Tingkat kesukaan warna dan rasa kerupuk tempe dengan nilai tertinggi terdapat pada subtitusi tepung tempe dengan tapioka 30%:70%. Tingkat kesukaan tekstur kerupuk tempe dengan nilai tertinggi terdapat pada subtitusi tepung tempe dengan tapioka 20%:80%. Kesimpulan penelitian menunjukan bahwa subtitusi tepung tempe dengan tapioka 20%:80%, 30%:70%, dan 40%:60% tidak bepengaruh nyata terhadap kandungan protein kerupuk tempe. Subtitusi tepung tempe dengan tapioka 20%:80%, 30%:70%, dan 40%:60% tidak berpengaruh nyata terhadap uji mutu hedonik warna, rasa, dan tekstur kerupuk tempe. Subtitusi tepung tempe dengan tapioka 20%:80%, 30%:70%, dan 40%:60% berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan warna dan rasa kerupuk tempe. Subtitusi tepung tempe dengan tapioka 20%:80%, 30%:70%, dan 40%:60% tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat tekstur kerupuk tempe

    Uji Organoleptik dan Uji Fisik Rengginang Beras Merah dan Rengginang Beras Ketan Putih

    No full text
    ABSTRAK   Sejak dulu rengginang terbuat dari beras ketan putih saja, dan tidak ada inovasi. Beras merah memiliki efek kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan beras ketan putih dan beras merah memiliki serat yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah memghasilkan formula rengginang beras merah,uji hedonik dan mutu hedonik dan tingkat pengembangan rengginang beras merah dan rengginang beras ketan putih. Jenis penelitian ini adalah penelitian exsperimen pada rengginang beras merah dan rengginang beras ketan putih. Pengamatan dilakukan terhadap sifat hedonik dan mutu hedonik, serta tingkat pengembangan rengginang beras ketan putih. Hasil penelitian ini adalah formula rengginang beras merah 100 gram 2gram garam, air dan minyak goreng secukupnya. Konsumen yang menyatakan rasa rengginang beras merah gurih 40% dan yang menyatakan rasa rengginang beras ketan putih gurih 64%. Konsumen yang menyatakan tekstur rengginang beras merah renyah 43% dan yang menyatakan tekstur rengginang beras ketan putih gurih 70%. Tingkat kesukaan konsumen terhadap warna rengginang beras merah: 46% suka 43% cukup suka 10% biasa saja 1% kurang suka dan tingkat kesukaan konsumen terhadap warna rengginang beras ketan putih: 76% suka 17% cukup suka 7% biasa saja dan tidak ada konsumen yang kurang suka maupun tidak suka terhadap rengginang ketan putih. Tingkat kesukaan konsumen terhadap rasa rengginang beras merah:36% suka 35% cukup suka 27% biasa saja 1% kurang suka 1% tidak suka, dan tingkat kesukaan konsumen terhadap rasa rengginang beras ketan putih:66% suka 29% cukup suka 5% biasa saja dan tidak ada konsumen yang kurang suka maupun tidak suka terhadap rengginang beras ketan putih.Tingkat kesukaan konsumen terhadap tekstur rengginang beras merah:  49% suka 42% cukup suka 8% biasa saja 1% kurang suka dan tida ada konsumen yang tidak suka terhadap tekstur rengginang beras merah. Tingkat kesukaan konsumen terhadap tekstur rengginang beras ketan putih: 71% suka 24% cukup suka 5% biasa saja dan tidak ada konsumen yang kurang suka maupun tidak suka terhadap tekstur rengginang beras ketan putih. Volume pengembangan rata-rata rengginang beras merah 134,5% dan volume pengembangan rata-rata rengginang beras ketan putih 150% Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah konsumen lebih menyukai rengginang beras ketan putih dibandingkan dengan rengginang  beras merah

    Formulasi dan Bauran Pemasaran Produk Pumpkin Seed Crispy Cookies

    No full text
    ABSTRAK   Wati, Cintany Dwi Trisna. 2017. Formulasi dan Bauran Pemasaran Produk Pumpkin Seed Crispy Cookies. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, Ph.D. (II) Ir. Issutarti, M.P.   Kata Kunci: tepung labu kuning, biji labu kuning, cookies, kandungan proksimat, bauran pemasaran   Hal yang mendorong penelitian ini adalah kandungan gizi biji labuyang cukup tinggi, namun pemanfaatannya masih kurang. Biji labu dapat dijadikan pengganti kacang almond pada almond crispy cookies. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan proksimat, mutu hedonik, tingkat kesukaan, formula terbaik, dan bauran pemasaran. Penelitian eksperimen ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua kali pengulangan. Data kandungan proksimat, uji hedonik, dan uji mutu hedonik dianalisis menggunakan ANOVA. Data bauran pemasaran (produk, harga, promosi, dan distribusi) dianalisis secara deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kandungan proksimat pumpkin seed crispycookies meliputi protein, lemak, air, abu, karbohidrat, dan serat kasar secara berurutan untuk perlakuan 50%:10% yaitu 13,55; 13,63; 0,82; 1,24; 70,76  dan 0,35, untuk perlakuan 30%:30% yaitu 14,60; 15,50; 0,99; 1,37; 67,53; dan 0,47, untuk perlakuan 10%:50% yaitu 15,46; 16,41; 1,09; 1,47; 65,56 dan 0,59. Persentase penggantian tepung labu kuning dan biji labu kuning yang dihaluskanberpengaruh signifikan terhadap mutu hedonik rasa, aroma, tekstur, dan warna. Rasa, aroma, dan warna dengan rerata tertinggi pada perlakuan 50%:10%, tekstur dengan rerata tertinggi pada perlakuan 30%:30%. Persentase penggantian tepung labu kuning dan biji labu kuning yang dihaluskanjuga berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesukaan rasa, aroma, tekstur, dan warna. Tingkat kesukaan rasa dan aroma dengan rerata tertinggi pada perlakuan 30%:30%, tingkat kesukaan tekstur dan warna dengan rerata tertinggi pada perlakuan 50%:10. Formula terbaik diperoleh dari perlakuan 30%:30%. Desain merek yang disukai yaitu desain merek B, bauran harga dan ukuran yang disukai adalah A, promosi yang disukai yaitu melalui instagram, saluran distribusi yang disukai melalui outlet. Kesimpulan dari penelitian ini formula yang memenuhi SNI cookies 2011 yaitu cookies dengan formula 1 (perlakuan 50%:10%). Formula terbaik yang diperoleh dari penelitian ini yaitu cookiesformula 2  (perlakuan 30%:30%), namun belum memenuhi SNI cookies 2011. Oleh sebab itu disarankan formula terbaik diperuntukkan bagi konsumen yang membatasi asupan karbohidrat

    HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TENTANG SARANA DAN PRASARANA LABORATORIUM PASTRY DENGAN HASIL BELAJAR PRAKTIKUM MATAKULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PATISERI (Studi pada Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Angkatan 2014 OFF A Universitas Negeri Malang)

    No full text
    ABSTRAK   Anggraini, Lintang Manik. 2017. Hubungan Persepsi Mahasiswa tentang Sarana dan Prasarana Laboratorium Pastry dengan Hasil Belajar Praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Laili Hidayati, S.Pd., M.Si (2) Dr. Dwi Agus Sudjimat, S.T, M.Pd.   Kata Kunci: persepsi, sarana, prasarana, hasil belajar.   Keberadaan laboratorium penting untuk  Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga sebagai tempat untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam mengolah makanan. Persepsi atau tanggapan mahasiswa tentang sarana dan prasarana laboratorium pastry pada setiap mahasiswa berbeda sesuai dengan pengalaman dan tingkat pemahaman masing-masing. Persepsi mahasiswa mengenai sarana dilihat dari jumlah, kondisi dan ketepatan penggunaan sarana, sedangkan prasarana dilihat dari kondisi dan kenyamanan penggunaan prasarana pada laboratorium pastry yang telah digunakan untuk praktikum mata kuliah Teknologi Pengolahan Patiseri. Persepsi mahasiswa mengenai sarana dan prasarana dapat dijadikan tolak ukur dalam memahami proses pembelajaran mata kuliah tersebut sedangkan hasil belajar dapat dijadikan sebagai tolak ukur pada keberhasilan suatu pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui (a) hubungan antara persepsi mahasiswa tentang sarana laboratorium pastry dengan hasil belajar praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri, (b) hubungan antara persepsi mahasiswa tentang prasarana laboratorium pastry dengan hasil belajar praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri, (c) hubungan antara persepsi mahasiswa tentang sarana dan prasarana laboratorium pastry dengan hasil belajar praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan rancangan penelitian korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang S1 Pendidikan Tata Boga tahun angkatan 2014 Offering A dengan jumlah mahasiswa 31 orang yang seluruhnya dijadikan sampel penelitian. Hasil penelitian adalah: (1) ada hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang sarana laboratorium pastry dengan hasil belajar praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri dengan kontribusi hubungan yang ditimbulkan oleh sarana laboratotium pastry sebesar 39,5%; (2) ada hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang prasarana laboratorium pastry dengan hasil belajar praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri dengan kontribusi hubungan yang ditimbulkan oleh prasarana laboratotium pastry sebesar 38,9%; (3) ada hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang sarana dan prasarana laboratorium pastry dengan hasil belajar praktikum Matakuliah Teknologi Pengolahan Patiseri dengan kontribusi pengaruh yang ditimbulkan oleh sarana dan prasarana laboratotium pastry sebesar 78,4%

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN MAKANAN INDONESIA BERBASIS EDMODO PADA KELAS XI PAKET KEAHLIAN JASA BOGA

    No full text
    ABSTRAK Prahestyningrum, Enggar Nilam. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Pengolahan dan Penyajian Makanan Indonesia berbasis Edmodo pada Kelas XI Paket Keahlian Jasa Boga. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes, (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci : Bahan Ajar, Pengolahan dan Penyajian Makanan Indonesia,Edmodo.Pengembangan bahan ajar pengolahan dan penyajian makanan Indonesia berbasis Edmodo dilaksanakan  pada kelas XI jasa boga 1 dan XI jasa boga 2, paket keahlian jasa boga, program studi tata boga di SMK Negeri 1 Cerme Gresik. Pengembangan ini bertujuan untuk menguji kualitas bahan ajar yang diaplikasikan pada Edmodo. Desain penelitian dan pengembangan yang digunakan terdiri dari beberapa tahapan antara lain potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk dan revisi produk. Desain pembelajaran menggunakan model ADDIE sebagai desain penyusunan bahan ajar yang terdiri dari analyze, design, development, implementation dan evaluation. Hasil validasi terhadap kelayakan bahan ajar pengolahan dan penyajian makanan Indonesia yang disajikan dalam bentuk pdf  dan diunggah pada Edmodo ini memiliki hasil penilaian oleh ahli validasi materi (dosen) terhadap materi yang disajikan dalam bahan ajar pengolahan dan penyajian makanan Indonesia berbasis Edmodo, mendapatkan persentase 84,3% dari ahli materi (dosen) yang artinya materi yang disajikan dalam pengembangan bahan ajar ini sangat valid dan tidak revisi, sedangkan hasil penilaian oleh ahli validasi materi (guru) terhadap materi yang disajikan dalam bahan ajar pengolahan dan penyajian makanan Indonesia menggunakan Edmodo, memperoleh persentase 86,45% yang artinya sangat valid dan tidak revisi. Penilaian oleh ahli media pada materi yang disajikan dalam bahan ajar pengolahan dan penyajian makanan Indonesia berbasis Edmodo, memperoleh persentase 85,4% yang artinya sangat valid dan tidak revisi.  Penilaian oleh ahli bahasa pada pada materi yang disajikan dalam bahan ajar pengolahan dan penyajian makanan Indonesia berbasis Edmodo, memperoleh persentase 87,5% yang artinya valid dan tidak revisi. Kesimpulan pada pembelajaran ini telah memenuhi syarat yang ditinjau dari kesesuaian materi, kemudahan penggunaan media, dan kesesuaian tata tulis dan tata bahasa

    Uji Orgnoleptik Cendol Buah Dengan Rasio Tepung Beras dan Pisang Candi yang Berbeda

    No full text
    ABSTRAK Pisang candi merupakan salah satu buah khas Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang. Pisang candi bisa digunakan sebagai cendol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mutu organoleptik dan hedonik warna, rasa, aroma dan tekstur cendol beras rasio pisang candi dengan persentase substitusi 40%, 50% dan 60%.Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan Rancangan Rancak Lengkap (RAL) dengan 1 perlakuan dan dua kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan  ANOVA dan jika ada perbedaan dilakukan uji DUNCAN.Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh rasio penambahan buah pisang pada cendol beras terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur cendol. Skor warna tertinggi dicapai perlakuan rasio  60% : 40%, dengan skor 3,8 (putih agak cerah). Skor rasa tertinggi dicapai perlakuan rasio 60% : 40% dengan skor 3,9 (rasa pisang agak kuat). Skor aroma tertinggi dicapai perlakuan 60% : 40% dengan skor 4,0 (aroma pisang cukup kuat). Skor tekstur tertinggi dicapai perlakuan rasio 40% : 60% dengan skor 4,0 (tekstur cendol cukup kuat).  Terdapat pengaruh rasio pisang pada cendol beras terhadap tingkat kesukaan warna, rasa, aroma dan teksktur cendol. Skor tingkat kesukaan warna tertinggi dicapai perlakuan 60% : 40% dengan skor 3,6 (biasa).Skor tingkat kesukaan rasa tertinggi dicapai perlakuan 60% : 40% dengan skor 4,5 (agak suka).Skor tingkat kesukaan aroma tertinggi dicapai perlakuan 60% : 40% dengan skor 4,5 (agak suka).Skor tingkat kesukaan tekstur tertinggi dicapai perlakuan 40% : 60% dengan skor 4,4 (agak suka). Semakin banyak rasio penambahan  pisang pada cendol buah, warna cendol semakin cerah, rasa  dan aroma cendol semakin kuat, tekstur semakin tidak kenyal. Sementara tingkat kesukaaan warna, rasa, aroma semakin meningkat sementara kesukaan tekstur menurun. Saran :  untuk memperbaiki tekstur cendol perlakuan 60% : 40% disarankan meneliti penggunaan agar-agar dalam jumlah yang lebih banyak

    Analisis Bauran Produk dan Bauran Harga Produk Kerupuk Limbah Tulang Ikan Tenggiri

    No full text
    ABSTRAK   Khafidloh, Umi. 2017. Analisis Bauran Produk dan Bauran Harga ProdukKerupuk Limbah Tulang Ikan Tenggiri. Skripsi, Jurusan TeknologiIndustri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Aisyah Larasati, Ph.D., (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd.   Kata Kunci: tulang ikan tenggiri, kerupuk ikan, bauran produk, bauran harga. Produk kerupuk yang dijual umummya menggunakan bahan tambahanseperti ikan, udang, dan sayur. Tulang ikan tenggiri merupakan salah satu hasilsamping dari pengolahan limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan.Penambahan tulang ikan tenggiri pada produk kerupuk bertujuan untukmemanfaatkan hasil limbah tulang ikan tenggiri di daerah Mojokerto. Selain itu,penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji kimia (kalsium, protein, kadarair, dan kadar abu), bauran produk, bauran harga, serta formula terbaik kerupuktulang ikan tenggiri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua kali pengulangan. Panelis yangterlibat adalah panelis konsumen sejumlah 100 orang. Data hasil analisis kimiadiuji secara statistik menggunakan uji ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan’sdan analisis descriptive. Perlakuan terbaik ditentukan menggunakan metodeindeks efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung tulang ikantenggiri dengan persentase yang berbeda menyebabkan perbedaan yang signifikanterhadap hasil uji kimia (kalsium, protein, kadar air, dan kadar abu), hasil uji fisik(kecerahan warna), hasil uji hedonik (warna, aroma, dan kerenyahan), dan hasiluji mutu hedonik (aroma, rasa, dan kerenyahan). Namun, penambahan tepungtulang ikan tenggiri dengan persentase yang berbeda tidak menyebabkanperbedaan yang signifikan terhadap hasil uji hedonik rasa. Formula terbaik yangdiperoleh yaitu formula dengan penambahan tepung tulang ikan tenggiri 10%dengan nilai total 0,65. Hasil uji kimia yang diperoleh yaitu kalsium 804,34 (mg/100 g), protein 9,49%, kadar air 1,29%, dan kadar abu 0,05%. Hasil uji fisikkecerahan warna 72,44%. Hasil uji hedonik yang diperoleh yaitu warna 4,48,aroma 4,12, rasa 4,16, dan kerenyahan 4,48. Hasil uji mutu hedonik yangdiperoleh yaitu aroma 4,4, rasa 3,73, dan kerenyahan 4,58. Hasil analisis bauranproduk untuk desain kemasan menunjukkan bahwa desain kemasan 2 palingdisukai panelis. Hasil analisis bauran harga dan ukuran menunjukkan bahwa hargadan ukuran 2 paling disukai, yaitu produk yang dirancang dengan harga Rp8.900,- dan ukuran 250 gram

    Perancangan Bauran Produk dan Analisis Sifat Kimia Teh Daun Murbei dalam Kemasan Siap Minum dengan Penambahan Kayu Secang

    No full text
    ABSTRAK   Yunita, E. 2017. Perancangan Bauran Produk dan Analisis Sifat Kimia Teh Daun Murbei dalam Kemasan Siap Minum dengan Penambahan Kayu Secang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, S.T., M.T., MIM., Ph.D. (II) Ir. Issutarti, M.P.   Kata Kunci: daun murbei, kayu secang, teh, bauran produk Daun murbei merupakan salah satu bahan yang mengandung antioksidan tinggi karena terdapat polifenol di dalamnya. Pemanfaatan daun murbei sebagai teh dapat mengekstrak kandungan polifenol tersebut karena polifenol larut dalam ekstraksi air panas. Teh merupakan minuman yang digemari oleh masyarakat, sehingga ada banyak jenis teh yang sudah beredar di pasaran. Pembuatan teh daun murbei siap minum dengan penambahan kayu secang merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan daya guna daun murbei sebagai salah satu bahan pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan polifenol dan aktivitas antioksidan, serta mendapatkan formula terbaik dan rancangan bauran produk (mutu, merek, dan kemasan) teh daun murbei siap minum dengan penambahan kayu secang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu perlakuan dan dua kali pengulangan pada setiap level perlakuan. Data kandungan polifenol, aktivitas antioksidan, uji hedonik, dan uji mutu hedonik dianalisis menggunakan ANOVA. Jika terdapat perbedaan, maka dilakukan uji lanjut (Post Hoc Test). Data desain merek dan kemasan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kayu secang dengan jumlah yang berbeda menyebabkan perbedaan yang signifikan terhadap hasil uji kandungan polifenol, aktivitas antioksidan, sifat hedonik warna dan rasa, serta mutu hedonik warna, aroma, dan rasa teh daun murbei siap minum. Namun, sifat hedonik aroma teh daun murbei siap minum tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa formula terbaik teh daun murbei siap minum adalah formula dengan penambahan kayu secang 30%. Rancangan bauran produk untuk teh daun murbei siap minum dengan penambahan kayu secang adalah formula teh dengan penambahan kayu secang 30% yang menghasilkan warna coklat, aroma sedikit khas jeruk nipis, dan rasa sedikit masam, serta penggunaan desain merek dan kemasan B

    Pengaruh Praktik Kerja Lapangan Terhadap Soft Skill Siswa SMK Bidang Keahlian Jasa Boga di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK Mustika, Ria Cahya. 2017. Pengaruh Praktik Kerja Lapangan Terhadap Soft Skill Siswa SMK Bidang Keahlian Jasa Boga di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes., (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Praktik Kerja Lapangan (PKL), Soft SkillPraktik kerja lapangan (PKL) adalah serangkaian pembelajaran praktik yang pelaksanaannya di dunia usaha atau dunia industri (DU/DI) dan dilakukan oleh siswa SMK di Kota Malang, sebagai upaya untuk memperoleh keterampilan bekerja dan bersikap dalam rangka menghadapi dunia kerja. Praktik kerja lapangan (PKL) dipengaruhi oleh soft skill setiap individu. Soft skill adalah serangkaian keterampilan non akademik meliputi mampu berkomunikasi secara tertulis, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan keterampilan memahami antar pribadi yang dimiliki oleh siswa SMK Bidang Keahlian Jasa Boga di Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh praktik kerja lapangan (PKL) terhadap soft skill siswa SMK Bidang Keahlian Jasa Boga di Kota Malang serta mengetahui faktor yang paling mewakili soft skill.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan mendeskripsikan seberapa besar pengaruh pengalaman praktik kerja lapangan (PKL) sebagai variabel bebas terhadap soft skill siswa SMK. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Bidang Keahlian Jasa Boga di Kota Malang yang yang sudah melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) dengan jumlah sampel 127 responden. Pengambilan sampel menggunakan proposional random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linier sederhana dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kerja lapangan (PKL) berpengaruh terhadap soft skill (keterampilan komunikasi tertulis, keterampilan berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, dan keterampilan memahami antar pribadi) siswa SMK Bidang Keahlian Jasa Boga di Kota Malang sebesar 50,5%. Keterampilan pemecahan masalah merupakan faktor yang paling mewakili soft skill dengan nilai ekstraksi sebesar 93,6%, dibandingkan keterampilan komunikasi berpikir kritis sebesar 88,4%, keterampilan, keterampilan memahami antar pribadi sebesar 76,2%, dan keterampilan komunikasi tertulis sebesar 73,9%

    Higiene Sanitasi Laboratorium Pengolahan Makanan SMK Negeri 2 Jombang

    No full text
    ABSTRAK Penerapan perilaku higiene sanitasi yang sesuai standar dalam jasa boga merupakan faktor pendukung bagaimana kegiatan praktik di laboratorium pengolahanan makanan dapat berjalan tanpa hambatan. Hal ini sangat penting dimiliki oleh setiap individu yang bekerja di laboratorium pada bidang jasa boga, karena berhubungan langsung dengan alat-alat dan bahan makanan mentah maupun matang yang dapat memicu bahaya apabila dalam proses pengolahan makanan di laboratorium lalai atau menyalahi prosedur higiene sanitasi yang ada.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui kondisi higiene sanitasi laboratorium pengolahan makanan SMK Negeri 2 Jombang. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 2 Jombang. Sumber data dalam penelitian ini adalah laboratorium pengolahan makanan SMK Negeri 2 Jombang, satu guru praktik makanan Indonesia, dan 32 siswa yang sedang praktik. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil penelitian menyatakan bahwa fasilitas higiene yang dimiliki laboratorium pengolahan makanan SMK Negeri 2 Jombang yaitu tempat cuci tangan, tempat cuci peralatan yang digunakan jadi satu untuk tempat cuci bahan makanan, tempat sampah, peralatan dapur, peralatan pencegah serangga dan tikus. Higiene penjamah makanan di SMK Negeri 2 Jombang yang telah diterapkan pada saat praktik adalah penggunaan kacu, penggunaan jas laboratorium, penggunaan celemek, penggunaan lap, penggunaan sepatu. Sanitasi bangunan laboratorium pengolahan makanan yang meliputi saluran pembuangan air, air, lantai ruangan, meja penunjang, dinding ruangan, langit-langit ruangan, ventilasi ruangan, kondisi cahaya ruangan seluruh fasilitas dalam kondisi baik dan berfungsi dengan baik.Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan bahwa Fasilitas higiene dalam kondisi baik namun masih ada fasilitas higiene yang jumlah dan kelengkapan penunjangnya masih terbatas. Namun dalam hal penggunaan topi masih ada siswa yang tidak tertib dalam menggunakan topi atau penutup kepala saat praktik di dalam ruangan laboratorium pengolahan makanan. Sanitasi bangunan laboratorium pengolahan makanan SMK Negeri 2 Jombang seluruh fasilitasnya dalam kondisi baik dan berfungsi dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan melakukan perbaikan dan penambahan fasilitas cuci tangan di dalam ruangan laboratorium pengolahan makanan dan menambah kelengkapan cuci tangan. Melakukan penambahan fasilitas dan kelengkapan tempat cuci bahan makanan. Melengkapi alat perangkap serangga dan tikus

    0

    full texts

    359

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Tata Boga - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇