FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
    159 research outputs found

    FENOMENA DAN REALITAS SOSIAL BUDAYA SERTA NILAI-NILAI PADA CERITA RAKYAT CIREBON

    Full text link
    ABSTRAK: Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk karya  sastra  lama, yaitu cerita dari  zaman  dahulu  yang  hidup di kalangan rakyat  dan  diwariskan secara lisan. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita rakyat berguna bagi kehidupan masyarakat sekarang ,di antaranya sebagai pembelajaran nilai-nilai karakter dan sebuah kekayaan budaya. Cerita rakyat pada masyarakat Cirebon sangat beragam, ada yang berkaitan dengan nama tempat atau disebut juga legenda, berkaitan dengan kepercayaan atau mite, berkaitan dengan sejarah, maupun berkaitan dengan kehidupan hewan atau fabel, dan lain-lain. Pesan-pesan dalam cerita rakyat ini jika dikaji dengan pendekatan sosiologi sastra akan terungkap misteri sejarah dan nilai-nilai kemasyarakatan yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. Cerita rakyat Cirebon merupakan cerita yang tumbuh pada masyarakat Cirebon. Cirebon berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta – Cirebon – Semarang – Surabaya. Masyarakat Cirebon memiliki pandangan hidup yang didasari dari implementasi adat istiadat yang didasarkan pada penjabaran hadis dan al-qur'an, di antara pandangan-pandangan hidup yang dipegang erat oleh masyarakat adat suku Cirebon yaitu "petatah-petitih" (pesan) dari Syekh Syarief Hidayatullah (Sunan GunungJati).Kata Kunci: cerita rakyat; sosiologi sastra PHENOMENCES AND SOCIAL-CULTURAL REALITY AND VALUES IN THE STORY OF THE CIREBON PEOPLEABSTRACT: Folklore is one form of old literary work, namely stories from ancient times that lived among the people and were passed down orally. The noble values contained in folklore are useful for the life of today's society, including learning character values and a cultural wealth. Folklore in Cirebon society is very diverse, some are related to place names or also called legends, related to beliefs or myths, related to history, or to the life of animals or fables, and others. The messages in this folklore, if studied with a sociological literary approach, will reveal the historical mysteries and social values contained in these folk tales. Cirebon folklore is a story that grows in Cirebon society. Cirebon is on the north coast of Java Island or what is known as the Pantura route that connects Jakarta - Cirebon - Semarang - Surabaya. The Cirebon people have a view of life which is based on the implementation of customs which is based on the translation of hadiths and the al-qur'an, among the views of life that are closely held by the Cirebon tribal people, namely "petatah-petitih" (message) from Syekh Syarief Hidayatullah (Sunan GunungJati).        Keywords: folklore; sociology of literatur

    STEREOTIP KEHIDUPAN WARIA DALAM NOVEL RUMAH ILALANG KARYA STEBBY JULIONATAN

    Full text link
    ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengetahui Stereotip yang melekat pada kehidupan waria dalam novel Rumah Ilalang karya Stebby Julionatan. Stereotip yang dimaksud adalah gambaran atau cerminan kehidupan waria yang terjadi pada lingkungan masyarakat dalam karya sastra. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan Sosiologi Sastra. Sumber penelitian ini berasal dari novel Rumah Ilalang karya Stebby Julionatan. Data penelitian ini berupa kutipan, kalimat, dan paragraf yang berupa gambaran atau cerminan kehidupan waria. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode membaca Novel dan mengidentifikasikan konteks permasalahan yang akan diteliti. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Humberman melalui langkah-langkah (1) penyeleksian data, (2) pemaparan data, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil memperlihatkan waria direpresentasikan dalam tiga aspek, yaitu (1) tidak beragama, (2) tidak memiliki pekerjaan yang tetap, (3) tidak diterima dengan baik oleh masyarakat.KATA KUNCI: novel rumah ilalang; stereotip; waria STEREOTYPES OF TRANSVESTITE LIFE IN RUMAH ILALANG BY STEBBY JULIONATAN ABSTRACT: This study aims to determine the stereotypes inherent in transvestite life in the Rumah Ilalang by Stebby Julionatan. This stereotype is a picture or reflection of transvestite life that occurs in the community environment in literary works in the form of novels. This type of research is descriptive-qualitative research with a sociological approach to literature. The source of this research is Rumah Ilalang by Stebby Julionatan. This research datas are the form of quotes, sentences, and paragraphs in the form of a picture or reflection of the life of transvestites. Data collection techniques are done by reading novels and identifying the context of the problem to be studied. The data analysis technique used in this study is the data analysis design presented by Miles and Humberman through the steps (1) selecting data, (2) disclosing data, and (3) drawing conclusions. The result show transgenders were represented in three aspects, namely (1) not having religion, (2) not having a permanent job, (3) not being well received by the community.KEYWORDS: rumah ilalang novels; stereotypes; transvestit

    ANALISIS KEJAHATAN BERBAHASA DALAM BERSOSIAL MEDIA (LINGUISTIK FORENSIK)

    Full text link
    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kejahatan berbahasa berdampak hukum pada tindak tutur ilokusi ekspresif bentuk penghinaan, fitnah, dan makian. Ditemukan dalam penelitian berupa kejahatan berbahasa berdampak hukum pada tindak tutur ilokusi ekspresif bentuk penghinaan, fitnah, dan makian. Pertama, Bentuk-bentuk ilokusi penghinaan yang dilakukan oleh pengguna media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif penghinaan yaitu omong kosong, omong doang, pakai otak,bohong, iqnya rendah, mempermalukan diri sendiri, otak kosong, tong kosong nyaring bunyinya, banyak ballena, ular berkepala dua, dan seribu wajah. Kedua, Bentuk-bentuk ilokusi fitnah yang dilakukan pengguna sosial media pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif fitnah yaitu, tidak ada sekali sama sekali kinerja yang diberikan, melakukan korupsi, melakukan kecuangan, calon koruptor, menjadi provokator, melakukan kelicikan, dan mendapatkan bantuan. Ketiga, Bentuk-bentuk ilokusi fitnah dilakukan oleh pengguna media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif makian yaitu, telaso, sundala, tidak punya rasa malu, munafik, calon ahli neraka, balao, rakus harta, bau tanah, mulut comberan, kongkong, dan tolo-tolo

    KASUS HOAKS PANDEMI COVID-19: SUATU TINJAUAN LINGUISTIK FORENSIK

    Full text link
    ABSTRAK: Penelitian ini berfokus pada kajian linguistik forensik yang membahas mengenai Kasus Hoaks Pandemi Covid-19 yang beredar di media sosial. Adapun tujuan penelitian ini mendeskripsikan kategori kasus hoaks Covid-19 dan menganalisis karakteristik kebahasaan pada kasus kejahatan berbahasa yakni kasus hoaks dimasa pandemi Covid-19. Data dalam penelitian ini didapatkan melalui laman resmi kementrian komunikasi dan informatika (kemenkominfo). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, teknik baca, teknik catat. Proses analisis data dalam mendeskripsikan kategori hoaks pandemi Covid-19 dengan mengidentifikasi data berdasarkan pemahaman teori kasus hoaks dan memahami hukum sesuai peraturan perundang-undangan. Sedangkan dalam proses menganalisis karakteristik kebahasaan pada kasus hoaks pandemi Covid-19 dengan menggunakan pendekatan semantik, sintaksis dan teori konteks Halliday. Hasil dalam penelitian ini terdapat dua bentuk kategori kasus hoaks mengenai pandemi Covid-19 yang banyak beredar di sosial media, yakni kasus hoaks berjenis misinformasi dan kasus hoaks berjenis disinformasi. Hasil analisis karakteristik kebahasaan yang menjadi penanda kebohongan berupa 1) penggunaan kosa-kata atau diksi 2) bentuk kalimat pada teks kasus hoaks 3) analisis konteks berisi fakta serta tujuan pelaku.KATA KUNCI: Covid-19; hoaks; linguistik forensik. THE CASE OF THE COVID-19 PANDEMIC HOAX: AN OVERVIEW OF FORENSIC LINGUISTICS ABSTRACT: This research focused on forensic Linguistic Review which discussed about hoax case of Covid-19 pandemic circulated in social media. The purpose of this research is to describe the category of Covid-19 hoaxes and to analyze the linguistics’ characteristic of language wickedness’ case which is hoax case of Covid-19 pandemic. The date in this research was gained by the official website of the Ministry of Communications and Informatics. The techniques of data collection were documentation technique, reading technique, and notepad technique. The process of data analysis to describe the category of Covid-19 hoaxes were data identification based on theoretical comprehension of hoax cases and legislation-based-law comprehension. Meanwhile, in processes of linguistics’ characteristic analysis on the hoax case of Covid-19 pandemic were semantics approach, syntax and Halliday context theory. The result of this research found that there are two categories on hoax case of Covid-19 pandemic which were circulating in social media, namely hoax cases caused by misinformation and hoax cases caused by disinformation. The linguistics’ characteristic that became the sign of lies are 1) the using of vocabulary and diction; 2) the sentence structure in the hoax case text; 3) the context analysis which includes the fact and the goals of the perpetrators.KEYWORDS: Covid-19; forensic linguistics, hoax

    TIPOLOGI FONOLOGIS PADA BAHASA WEBINAR BIDANG PENDIDIKAN (KAJIAN FONOLOGI GENERATIF)

    Full text link
    ABSTRAK: Dilaksanakannya penelitian melalui pendekatan fonologi generatif ini bertujuan mendeskripsikan proses dan kaidah fonologis bahasa webinar khususnya bidang pendidikan. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif, sedangkan analisis datanya menggunakan model analisis Mile Huberman. Sumber data penelitian ini adalah empat rekaman video webinar. Data penelitian berupa kata yang secara fonetis merepresentasikan tipologi fonologis bahasa webinar.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses fonologis meliputi 1) asimilasi bertipe regresif, total, parsial, dan langsung, 2) pelemahan bunyi bertipe aferesis, sinkop, dan apokop, sedangkan penguatan bunyi bertipe protesis, epentesis, paragog, dan peluncuran, 3) netralisasi terjadi pada perubahan fonetis bunyi [b] menjadi bunyi [p], dan bunyi [d] menjadi [t] terjadi pada suku kata akhir (koda), 4) disimilasi terjadi secara langsung yang ditandai berubahnya deret konsonan [jj] menjadi [rj], deret konsonan [tt] menjadi [pt], deret konsonan [rr] menjadi [l], dan deret konsonan [ll] menjadi [j], 5) metatesis terjadi karena perubahan letak bunyi KKV dalam silabel menjadi KVK. Pengaidahan fonologis didasarkan fitur distingtif fonem dan penggunaan notasi fitur distingtif.KATA KUNCI: bahasa webinar; fonologi generatif; tipologi  PHONOLOGICAL TYPOLOGY IN THE WEBINAR LANGUAGE OF EDUCATION (STUDY OF GENERATIVE PHONOLOGY) ABSTRACT: This current generative phonology study is aimed at describing the processes as well as the phonological patterns of webinar language, specifically in the education field. Descriptive qualitative design was employed; the data analysis was conducted by means of Miles Huberman model. The data were collected from the webinar recordings. Data in the form of words that phonetically represent phonological typologies of webinar language. It has been revealed that the phonological processes include 1) assimilation with the types of regressive, total, partial, and direct; 2) sound attenuation with the types of apheresis, syncope, and apocope; while sound reinforcement is evident by means of prosthesis, epenthesis, paragoge, and gliding; 3) neutralization from the sound of [b] into [p], and the sound [d] into [t] in the last syllable (coda); 4) dissimilation that occurs directly demonstrated by the alteration of consonant cluster [jj] into [rj], consonant cluster [tt] into [pt], consonant cluster [rr] into [l], and consonant cluster [ll] into [j]; 5) metathesis occurs due to the alteration of sound position of CCV into CVC in a syllable. Phonological patterns are based on phoneme distinctive features and the use of distinctive feature notation.KEYWORDS: webinar language; generative phonology; typologie

    STRATEGI KRITIK CERPEN “TELINGA” TERHADAP ORBA: MENINJAU STRUKTUR PRODUKSI DAN IDEOLOGI TEKS

    Full text link
    ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi kritik cerpen “Telinga” karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) terhadap rezim Orde Baru (Orba) Indonesia. Hal tersebut akan dijelaskan dengan cara meninjau struktur produksi dan ideologi teks cerpen “Telinga” karya SGA. Untuk menjelaskannya, penelitian ini menggunakan teori kritik sastra materialistis Terry Eagleton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode dialektika. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menjelaskan ideologi teks sebagai produk pengolahan estetik atas struktur produksi pada masa Orba. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut. Pertama, cerpen “Telinga” sebagai kritik hadir dengan cara menerobos struktur produksi pada masa Orba yang selalu diatur oleh pemerintah. Struktur produksi pada masa Orba yang berkaitan dengan corak produksi umum didominasi oleh pemerintah. Segala bentuk produksi diatur sehingga muncul ideologi umum represif yang berada dalam naungan ideologi Pancasila. Hal tersebut memengaruhi corak produksi sastra yang dituntut untuk pro-pemerintah. Namun, ideologi kepengarangan SGA justru hadir sebagai bentuk resistensi kepada pemerintah sehingga ideologi estetik dalam cerpen “Telinga” berbentuk kontradiksi dengan ideologi umum pada masa Orba. Kedua, kritik cerpen “Telinga” diartikulasikan dengan ideologi teks yang hadir melalui simbol-simbol. Dalam manifestasinya, cerpen “Telinga” berhasil mengkritik Orba dengan cara menyampaikan fakta realitas tanpa harus digugat oleh pemerintah. Kritik tersebut pada gilirannya juga memanfaatkan narasi satire. Dengan demikian, cerpen “Telinga” sebagai kritik dinaturalisasikan melalui ruang estetik untuk mengungkap fakta yang dibungkam pada masa Orba.KATA KUNCI: Struktur produksi; estetik; ideologi teks; Orde Baru (Orba); Terry Eagleton   “TELINGA” SHORT STORY CRITICISM STRATEGY TOWARDS THE ORBA: REVIEWING PRODUCTION STRUCTURE AND IDEOLOGY OF THE TEXT ABSTRACT: This research aims to explain the strategy of “Telinga” short story by Seno Gumira Ajidarma (SGA) towards the Indonesian New Order (Orba) regime. It will be explained by reviewing the production structure and ideology of the text of “Telinga” short story by SGA. This research uses Terry Eagleton’s literature’s materialistic criticism theory. The method used in this research is the dialectical method. This method allows the researcher to explain the ideology of the text as a product of aesthetic processing of the production structure during the Orba era. The results showed the following. First, “Telinga” short story as a criticism comes by breaking through the production structure during the Orba era which was always regulated by the government. The production structure during the Orba era related to the general mode of production was dominated by the government. All forms of production are regulated in order that a repressive general ideology emerges under the auspices of the Pancasila ideology. This affected the literary mode of production which was demanded to support the government. However, the SGA’s authorship ideology actually exists as a form of resistance againts the government in order that the aesthetic ideology in “Telinga” short story contradicts the general ideology during the Orba era. Second, “Telinga” short story criticism is articulated with the ideology of the text which is present through symbols. In its manifestation, “Telinga” short story successfully criticizes the Orba regime by delivering reality-based fact without any accusation by government. The critic on its turn also applies satire narracy. Therefore, “Telinga” short story as criticism naturalized through an aesthetic space to reveal silenced fact during the Orba era.KEYWORDS: Production structure; aesthetic; ideology of the text; New Order (Orba); Terry Eagleto

    PENGGUNAAN MEDIA KADO ILMU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN PADA PESERTA DIDIK

    Full text link
    ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat masalah mengenai penggunaan media kado ilmu dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen pada peserta didik. Penelitian ini merupakan salah satu jenis penelitian tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitataif yaitu pengumpulan data berupa data yang ditemukan pada saat melakukan penelitian dengan menggunakan media kadoilmu pada pesertadidik. Teknik yang dipakai dalam penelitian ini yaitu teknik non tes berupa observasi (pengamatan) terhadap peserta didik dan pendidik, dan teknik tes berupa hasil pekerjaan peserta didik yang di lakukan untuk mengetahui presentase ketuntasan hasilbelajar peserta didik. Teknik analisis data yaitu data hasil pekerjaan peserta didik yang dianalisis dengan cara membaca, memeriksa, dan menilai. Sehingga berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media kado ilmu dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menuli scerpen, yakni dengan adanya ketuntasan belajar peserta didik pada siklus 1 yang tuntas 8 orang atau 28,57%, yang tidak tuntas 20 orang atau 71,43% sedangkan pada siklus II jumlahpeserta didik yang tuntasmeningkat menjadi 27 orang atau 96,42%, dengan 1 orang atau 4,00% yang menunjukan tidak tuntas.KATA KUNCI: Media Kadoilmu,Cerpen,Pesertadidik.  THE USE OF SCIENTIFIC MEDIA MEDIA IN IMPROVING THE WRITING ABILITY OF STUDENTS IN EDUCATION ABSTRACT: This study aims to raise the issue of the use of science gift media in improving short story writing skills in students. This research is one type of Classroom Action Research (CAR). This research uses descriptive qualitative method that is data collection in the form of data found at the time of conducting research using gift items on students. The techniques used in this study are non-test techniques in the form of observations (observers) of students and educators, and test techniques in the form of student work done to determine the percentage of completeness of student learning outcomes. Data analysis technique is the data of students' work which is analyzed by reading, checking, and assessing. So based on the results of the study it was concluded that learning by using science gift media can improve the ability of students in writing scerpenes, namely by completing the learning of students in cycle 1 which is complete 8 people or 28.57%, which is not completed 20 people or 71, 43% while in the second cycle the number of students who completed completed increased to 27 people or 96.42%, with 1 person or 4.00% who showed incomplete.KEYWORDS: Kadoilmu Media, Short Stories, Islamic Education Participant

    OBJEKTIFIKASI DAN RESILIENSI PEREMPUAN DALAM NOVEL PEREMPUAN BAYANGAN KARYA NETTY VIRGIANTINI

    Full text link
    ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap adanya objektifikasi dan resiliensi perempuan di dalam novel Perempuan Bayangan karya Netty Virgiantini. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kritik sastra feminis. Data berupa kata, frasa, dan kalimat dari objek penelitian dipilih dengan teknik simak-catat setelah melalui pembacaan tertutup. Data kemudian diklasifikasi, diinterpretasi, dan dikaji dengan teori yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan rentan mengalami objektifikasi, sebagaimana yang dialami oleh tokoh utama perempuan, Ningrum. Objektifikasi tersebut dilakukan oleh orangtua yang memaksanya untuk menikah, kedua calon mertuanya yang menolaknya karena tidak dapat memberikan keturunan, Satria yang memanfaatkannya untuk menghilangkan kesepian dan melampiaskan hasrat seksual, dan arwah Utari yang mengharapkannya menjadi istri pengganti. Tokoh perempuan tersebut menyikapi objektifikasi dengan resiliensi secara verbal dan juga dalam bentuk tindakan aktif. KATA KUNCI: kritik sastra feminis; Netty Virgiantini, objektifikasi; perempuan; resiliensi  OBJECTIVES AND WOMEN'S RESILIENCE IN NETTY VIRGIANTINI's NOVEL PEREMPUAN BAYANGAN ABSTRACT: This study aims to reveal the objectification and resilience of women in the novel Perempuan Bayangan by Netty Virgiantini. This research was conducted in April 2021. The method used in this research is descriptive qualitative, with a feminist literary criticism approach. Data in the form of words, phrases, and sentences from the research object were selected using the note-taking technique after going through closed reading. The data are then classified, interpreted, and reviewed with relevant theories. The results of this study indicate that women are prone to objectification, as experienced by the main female character, Ningrum. The objectification was carried out by her parents (who forced her to marry), her two prospective parents-in-law (who rejected her because she was unable to give offspring), Satria (who used her to get rid of loneliness and indulge sexual desires), and the spirit of Utari (who expected her to become a substitute wife). The female character responds to objectification with resilience verbally and also in the form of active action. KEYWORDS: feminist literary criticism; Netty Virgiantini, objectification; resilience; wome

    NAMA JULUKAN ORANG DI DERMO MULYOAGUNG KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG (KAJIAN SEMANTIK)

    Full text link
    ABSTRAK: Kajian semantik adalah kajian yang berperan menyelidiki makna dan arti dalam suatu bahasa pada umumnya. Penamaan adalah proses pelabelan terhadap suatu benda, orang, atau peristiwa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk nama julukan orang dan (2) mendeskripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi nama julukan orang di Dermo Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Jenis penelitian ini merupakan jenis kualitatif. Data penelitian berupa aspek semantik meliputi bentuk, makna leksikal, serta faktor yang melatarbelakangi pembentukan nama julukan orang di Dermo Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan di Dermo Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu simak dan catat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menujukkan bahwa (1) bentuk-bentuk nama julukan orang didasarkan pada jumlah kata, kelas kata, serta sumber bahasa dan (2) faktor yang melatarbelakangi nama julukan orang di Dermo Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang terdiri atas pemendekan, peniruan bunyi, dan sifat khas.Kata Kunci: Nama julukan; penamaan; semantik NICKNAMES OF PEOPLE IN DERMO MULYOAGUNG DAU DISTRICT MALANG REGENCY (STUDY OF SEMANTIC) ABSTRACT: Semantic is a study that has the role of investigating the meaning and meaning in a language in general. Naming is the process of labeling an object, person or event. This study aims to (1) describe the forms of people's nicknames and (2) describe the factors behind people's nicknames in Dermo Mulyoagung, Dau District, Malang Regency. This type of research is a qualitative type. The research data is in the form of semantic aspects including form, lexical meaning, and the factors behind the formation of people's nicknames in Dermo Mulyoagung, Dau District, Malang Regency. Sources of data in this study were informants at Dermo Mulyoagung, Dau District, Malang Regency. Data collection techniques in this study were listening and taking notes. The data analysis technique used in this research is descriptive analysis. The results of the study show that (1) the forms of people's nicknames are based on the number of words, word classes, and language sources and (2) factors behind people's nicknames in Dermo Mulyoagung, Dau District, Malang Regency consisting of shortening, sound imitation, and distinctive characteristics.Keywords: Naming; nicknames; semantic

    MORFOFONEMIK DALAM TULISAN ARTIKEL KARYA SISWA KELAS XII SMK MULTIMEDIA TUMPANG

    Full text link
    ABSTRAK: Kompetensi menulis artikel pada kelas XII jenjang SMK sesuai dengan kurikulum 2013 KI 3.47 dan KD 4.47. Penelitian ini difokuskan pada morfofonemik dalam artikel karangan siswa kelas XII SMK Multimedia Tumpang yaitu pada proses penambahan fonem, pelesapan fonem, peluluhan fonem, perubahan fonem dan pergeseran fonem. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan termasuk jenis penelitian analisis teks. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa morfofonemik dalam artikel karangan siswa kelas XII SMK Multimedia Tumpang, 1).  Hanya terdapat penambahan fonem, pelesapan fonem, peluluhan fonem, perubahan fonem serta tidak ditemukan pergeseran fonem. 2).  Tidak semua proses afiksasi mengakibatkan perubahan , diantara proses afiksasi yang menyebabkan perubahan adalah prefiksasi /ber-/, prefiksasi /me-/ dan klofiksasi /me-kan/, /me-i/. Prefiksasi /pe-/ dan konfiksasi /pe-an/ ,prefiksasi /per-/ dan konfiksasi /per-an/, prefiksasi /ter-/ . 3). Kerancuan morfofonemik sebanyak 5 kata. 4). tidak ditemukan perubahan fonem pada proses sufiksasi /-an/. KATA KUNCI: Morfofonemik, artikel, afiksasi, kurikulum 2013 MORPHONEMICS IN THE WRITING OF STUDENTS 'ARTICLES CLASS XII SMK ABSTRACT: Writing competence in class XII at SMK according to the 2013 curriculum, KI 3.47 and KD 4.47. This research is focused on the morphophonemic in the articles written by the XII grade students of SMK Multimedia Tumpang, namely the process of phoneme appearance, phoneme impingement, phoneme pulsation, phoneme change and phoneme shift. This research uses a qualitative descriptive approach and is a type of text analysis research. The results of this study indicate that the morphophonemic in the article written by class XII students of SMK Multimedia Tumpang, 1). There were only phoneme occurrences, phoneme impingement, phoneme pulsation, phoneme change and no phoneme shift was found. 2). Not all affixation processes result in morphophonemic, among the affixation processes that cause phoneme changes are prefixation / ber- /, prefix / me / and cllofixation / me -kan /, / me-i /. Prefixation / reposition / and fixation / message /, prefix / per- / and confixation / per -an /, prefixation / ter- /. 3). Morphophonemic confusion is 5 words. 4). no morphophonemic found in the / -an / suffixation process.KEY WORDS: Morphophonemic, articles, affixation, 2013 curriculu

    155

    full texts

    159

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇