FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
159 research outputs found
Sort by
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN KAMUS DIGITAL BERBASIS BUDAYA INDONESIA UNTUK PEMBELAJARAN BIPA
ABSTRAK: Bahan ajar BIPA digunakan oleh pemelajar BIPA sebagai sarana belajar untuk mencapai indikator dari standar kompetensi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek budaya Indonesia yang dibutuhkan sebagai isi kamus digital berbasis budaya Indonesia untuk pembelajaran BIPA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan jenis analisis isi. Analisis isi dalam penelitian ini digunakan untuk mengkaji kebutuhan pengembangan kamus digital berbasis budaya Indonesia untuk pembelajaran BIPA. Sumber data adalah pemelajar BIPA yang sedang belajar di lembaga bahasa BIPA. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada pemelajar BIPA dan wawancara dengan pengajar BIPA, serta melakukan analisis dokumen buku ajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga aspek budaya yang paling diminati untuk menjadi isi kamus digital yaitu, tradisi, tempat wisata, dan religi. Model kamusnya yaitu bergambar dan berdeskripsi.KATA KUNCI: Bahan ajar; BIPA; Budaya Indonesia; Kamus Digital ANALYSYS OF THE DEVELOPMENT NEEDS OF AN INDONESIAN CULTURE-BASED DIGITAL DICTIONARY FOR INDONESIAN LANGUAGE LEARNING ABSTRACT: Teaching materials for Indonesian for Foreign Speakers (BIPA) are utilized by BIPA instructors and learners as learning tools to achieve the indicators of the Indonesian Language Competency Standards for Foreign Speakers. This research aims to describe the cultural aspects of Indonesia needed as content for a culture-based digital dictionary for BIPA learning. The method used in this research is qualitative descriptive. This study is a type of content analysis. Content analysis in this research is used to examine the needs for the development of a culture-based digital dictionary for BIPA learning. The data source is BIPA learners studying at BIPA language institutions. Data collection techniques involve distributing questionnaires to BIPA learners, conducting interviews with BIPA instructors, and analyzing teaching materials documents. The results of this research show that there are three cultural aspects that are most favored to be included in the digital dictionary, namely, traditions, tourist destinations, and religious aspects. The dictionary model includes images and descriptions.KEYWORDS: Teaching materials; BIPA; Indonesia Culture; Digital Dictionar
DAMAR KAMBANG: RESISTANSI PEREMPUAN MADURA ATAS BUDAYA NORMATIF
ABSTRAK: Tulisan ini mendiskusikan perempuan Madura dalam novel Damar Kambang karya Muna Masyari, penulis asal Madura, yang melakukan perlawanan atas budaya normatif. Muna Masyari dikenalsebagai penulis Madura dengan karakteristik karya yang mengangkat budaya Madura. Dalam novel Damar Kambang, Muna Masyari menarasikan tiga perempuan dengan sudut pandang “aku” narator perempuan dalam pergulatan pernikahan. Metode close reading dengan teknik membaca dan mencatat digunakan untuk mengurai permasalahan penelitian. Data yang dikumpulkan berfokus pada sudut pandang “aku” narator perempuan, keterkaitan tokoh, peristiwa, dan alur yang menunjukkan bahwa novel Damar Kambang menempatkan perempuan Madura tidak sebagai objek. Perempuan Madura dalam institusi pernikahan pada novel Damar Kambang secara berulang ditampilkan mempertanyakan dan menunjukkan diri sebagai subjek. Protes terhadap norma mengenai peran dan identitas perempuan Madura serta tengka (tatakrama Madura) ditampilkan melalui penggambaran karakter perempuan yang memutuskan melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, dominasi hubungan seksual dalam pernikahan terhadap laki-laki, dan penyerahan diri pada laki-laki yang tidak dicintai sebagai bentuk pelunas utang.KATA KUNCI: Damar Kambang; gender; perempuan Madura; resistansi DAMAR KAMBANG: MADURESE WOMEN’S RESISTANCE TO NORMATIVE CULTURE ABSTRACT: This article discusses Madurese women in the Damar Kambang novel by Muna Masyari, a writer from Madura, who fights against normative culture. Muna Masyari is known as a Madurese writer with works highlighting Madurese culture. In the Damar Kambang novel, Muna Masyari narrates three women from the perspective of the female narrator’s “I” in their marriage struggles. The close reading method and note-taking techniques are used to analyze the issues in the novel. The data collected focuses on the female narrators “I” point of view, the relationship between characters, events, and plot, which shows that Damar Kambang’s novel places Madurese women not as objects. Madurese women in the institution of marriage in the Damar Kambang novel repeatedly display judgment and show themselves as subjects. Protests against Madurese norms for women’s roles and indentity as well as “tengka” (Madurean etiquette) are represented by the portrayal of the characters’ decision to have sexual relations outside of marriage, the dominance of sexual relations within marriage over men, and surrendering herself to a men she doesn’t love as a form of paying off her debt.KEYWORDS: Damar Kambang; gender; Madurese womens; resistanc
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL HATI SUHITA KARYA KHILMA ANIS
ABSTRAK: Novel sebagai sebuah karya sastra selalu mengandung nilai-nilai yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca. Melalui nilai-nilai tersebut diharapkan para pembaca dapat menjadikannya sebagai media refleksi bagi diri untuk berbenah ke arah yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam novel “Hati Suhita” karya Khilma Anis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa kalimat-kalimat yang menggambarkan nilai pendidikan karakter Sumber data penelitian adalah novel “Hati Suhita” karya Khilma Anis. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca-catat, sedangkan nalisis data dilakukan dengan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel “Hati Suhita” karya Khilma Anis. mengandung nilai-nilai pendidikan karakter, seperti nilai: (1) religius, (2) tanggung jawab, (3) gemar membaca, (4)kerja keras, (5) komunikatif, (6) peduli sosial, (7) kreatif, dan (8) cinta damai. Nilai-nilai tersebut menyatu padu dengan serangkaian cerita di dalam novel dan dimunculkan pengarang secara tersurat dan tersirat.KATA KUNCI: nilai; pendidikan karakter; novel THE VALUE OF CHARACTER EDUCATION IN THE NOVEL HATI SUHITA BY KHILMA ANIS ABSTRACT: Novel as a literary work always contains values that the author wants to convey to the reader. Through these values, readers are expected to be able to make it a medium of reflection for themselves to improve in a better direction. This study aims to describe the value of character education in the novel "Hati Suhita" by Khilma Anis. This study used descriptive qualitative method. Source of research data is the novel "Hati Suhita" by Khilma Anis. The data was collected using the reading-note technique, while the data analysis was carried out using the descriptive technique. The results showed that the novel "Hati Suhita" by Khilma Anis. contains character education values, such as: (1) religious, (2) responsibility, (3) fond of reading, (4) hard work, (5) communicative, (6) social care, (7) creative, and (8) peace-loving. These values are integrated into a series of stories in the novel and the authors appear implicitly and explicitly.KEYWORDS: values, character education, nove
KEBUTUHAN BAHAN AJAR BIPA UNTUK PENUTUR BAHASA JEPANG BERBASIS KEARIFAN LOKAL JAKARTA
ABSTRAK: Bahasa Indonesia saat ini semakin dikenal di kalangan internasional. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor peningkatan peminat pembelajaran Bahasa Indonesia oleh Penutur Asing (BIPA). Di sisi lain, Jakarta sebagai pintu gerbang masuknya turis manca negara, memiliki kekhasan dan kearifan lokal tersendiri yang memungkinkan untuk diperkenalkan kepada Pembelajar BIPA khususnya yang berdomisili di Jakarta yang berminat pula terhadap budaya lokal. Pembelajaran BIPA yang berbasis pada kearifan lokal, membawa pemikiran baru kearah pengembangan bahan ajarnya, atau bahan ajar tambahan yang diharapkan dapat memberi variasi bahan ajar yang telah tersedia saat ini. Penelitian ini merupakan penjajakan berupa analisis kebutuhan pengembangan bahan ajar BIPA bagi penutur bahasa Jepang berbasis muatan lokal Jakarta. Penelitian menggunakan metode deskriptif. Melalui teknik angket, data dikumpulkan dari pembelajar dan pengajar BIPA. Dari hasil pengolahan data dapat diketahui bahwa sebagian pembelajar memikili tujuan agar dapat berkomunikasi dengan teman orang Indonesia. Tujuan lainnya adalah untuk kebutuhan komunikasi dan bekerja di Indonesia. Umunya mereka merupakan pembelajar awal, menyukai pembelajaran secara individu dengan menggunakan media pembelajaran yang bersifat visual seperti buku serta tontonan. Sumber pembelajaran yang biasa digunakan, selain buku ajar, berupa video pembelajaran pada You Tube, serta penelusuran di google. Dalam hal kearifan lokal Jakarta, Ondel-Ondel dan Rumah Adat Betawi menjadi tema yang paling diminati. Selanjutnya diikuti oleh tema mengenai Baju Demang Betawi, Roti Buaya, Nyorog, Tanjidor, Gambang Kromong, Cerita Si Pitung, Pencak Silat, dan terakhir Lenong. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai bentuk serta muatan kearifan lokal Jakarta yang diharapkan dapat berintergrasi dalam pembelajaran BIPA bagi penutur bahasa Jepang. KATA KUNCI: bahan ajar; BIPA; Jakarta; kearifan lokal; kebutuhan NEED ANALYSIS OF BIPA LEARNING MATERIALS FOR JAPANESE SPEAKERS BASED ON JAKARTA’S WISDOM ABSTRACT: Indonesian is currently well-known in international tourism. This can be one of the factors in learning Indonesian by Foreign Speakers (BIPA). Also, Jakarta as the gateway for foreign tourists, has its own uniqueness and local Traditions that can be introduced to BIPA Learners, especially those domiciled in Jakarta who are also interested in local culture. BIPA learning based on local wisdom brings new ideas towards the development of its teaching materials or additional teaching materials that are expected to provide variations in the teaching materials that are currently available. This study explores the need to develop BIPA teaching materials for Japanese speakers based on local content in Jakarta. The study uses a descriptive method. Data was collected from BIPA learners and teachers through a questionnaire technique. The results of data processing, can be seen that some learners have the goal of being able to communicate friends. And other to meet communication needs and work in Indonesia. Generally, a Beginner, like individual learning using visual media such as books and shows. Commonly used learning resources, in addition to textbooks, are Google search and Youtube. the local wisdom of Jakarta, Ondel-Ondel and Betawi Traditional Houses are most popular themes. This is followed by themes regarding Baju Demang Betawi, Roti Buaya, Nyorog, Tanjidor, Gambang Kromong, Cerita Si Pitung, Pencak Silat, and finally Lenong. This study aims to provide an overview of the form and content of local wisdom of Jakarta which is expected to be integrated into BIPA learning for Japanese speakers. KEYWORDS: BIPA; Jakarta; learning materials; local wisdom; needs analysi
Tahap Perkembangan Pemerolehan Bahasa Pertama Pada Anak Usia Dini Berdasarkan Perspektif Psikolinguistik
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tahapan pemerolehan bahasa pertama pada anak usia dini berdasarkan perspektif psikolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan teknik observasi dalam pengumpulan data. Penelitian dilakukan di PAUD dengan menggunakan teknik purposive sampling untuk pemilihan sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pemerolehan bahasa pada anak usia dini dimulai dari tahap pra-linguistik, tahap satu kata, tahap dua kata, dan tahap banyak kata. Setiap tahapan tersebut berlangsung melalui interaksi dengan ibu dan orang sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Anak usia dini mampu mengucapkan bunyi vokal yang tidak bermakna pada usia 0-7 bulan (tahap pra-linguistik), menggunakan satu kata pada usia 12-18 bulan (tahap satu kata), dua kata pada usia 18-24 bulan (tahap dua kata), dan tiga atau lebih kata pada usia 3-5 tahun (tahap banyak kata). Penelitian ini menambah justifikasi empiris tentang proses dan tahapan pemerolehan bahasa pada anak usia dini serta memberikan wawasan bagi mahasiswa dan pembaca di Program Studi Sastra Indonesia mengenai proses pemerolehan bahasa pada anak usia dini.KATA KUNCI: Pemerolehan bahasa; Anak usia dini; Psikolinguistik TAHAP PERKEMBANGAN PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA PADA ANAK USIA DINI BERDASARKAN PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIKABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tahapan pemerolehan bahasa pertama pada anak usia dini berdasarkan perspektif psikolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan teknik observasi dalam pengumpulan data. Penelitian dilakukan di PAUD dengan menggunakan teknik purposive sampling untuk pemilihan sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pemerolehan bahasa pada anak usia dini dimulai dari tahap pra-linguistik, tahap satu kata, tahap dua kata, dan tahap banyak kata. Setiap tahapan tersebut berlangsung melalui interaksi dengan ibu dan orang sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Anak usia dini mampu mengucapkan bunyi vokal yang tidak bermakna pada usia 0-7 bulan (tahap pra-linguistik), menggunakan satu kata pada usia 12-18 bulan (tahap satu kata), dua kata pada usia 18-24 bulan (tahap dua kata), dan tiga atau lebih kata pada usia 3-5 tahun (tahap banyak kata). Penelitian ini menambah justifikasi empiris tentang proses dan tahapan pemerolehan bahasa pada anak usia dini serta memberikan wawasan bagi mahasiswa dan pembaca di Program Studi Sastra Indonesia mengenai proses pemerolehan bahasa pada anak usia dini.KATA KUNCI: Pemerolehan bahasa; Anak usia dini; Psikolinguisti
JEJAK TRADISI "ANTU BANYU" MASYARAKAT MELAYU PALEMBANG: ANALISIS FUNGSI DAN SIGNIFIKANSI KONTEKSTUAL
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang fungsi linguistik dan implikasi kontektual dari istilah Antu Banyu yang berkembang dalam komunitas Melayu Palembang. Metode kualitatif dimanfaatkan sebagai metode penelitian dengan menggunakan dokumentasi, observasi, dan wawancara untuk mengumpulkan data. Kerangka analisis yang digunakan mengikuti model Miles dan Huberman mencakup reduksi data, penyajian data melalui lensa teoritis Finnegan, dan diakhiri dengan penyimpulan hasil analisis data. Melalui kuisioner yang melibatkan 50 orang responden yang dikelompokkan menjadi Gen X, Gen Y, Gen Milenial, dan Gen Z, sekaligus wawancara dengan para ahli, terlihat bahwa istilah Antu Banyu diketahui secara universal. Sumber keluarga memainkan peran penting dalam memahami istilah tersebut, seringkali terkait dengan keyakinan terhadap mitos hantu yang hidup di air. Klasifikasi istilah Antu Banyu mencakup 15 fungsi dan konteks yang berbeda, yaitu perenang handal, penyelam terampil, penguasa perairan, seseorang yang meninggal di air, seseorang yang mandinya sangat lama, seseorang yang mandi di sungai saat magrib atau malam hari, siswa ataupun pekerja yang datang dan pergi sesuka hati, seseorang yang pelit, seseorang yang menghindar dari kewajiban dan tanggung jawab, ejekan kepada orang yang tidak disukai, seseorang yang memiliki ilmu hitam, peringatan bahaya, untuk menakut-nakuti orang, hantu yang hidup di air, dan seseorang yang gesit dan lincah dalam mengerjakan sesuatu. Semua penggunaan istilah Antu Banyu yang berkembang di masyarakat Melayu Palembang berkaitan erat dengan mitos hantu air yang masih sangat dipercaya. Namun, konotasi positif pada istilah tersebut pun ditemukan pada beberapa fungsi. Hal ini mengindikasikan pergeseran semantik yang signifikan dalam penggunaannya.KATA KUNCI: Finnegan, hantu air; masyarakat melayu Palembang; mitos; semantik. “ANTU BANYU” TRADITIONS IN PALEMBANG MALAY COMMUNITY: ANALYSIS OF FUNCTION AND CONTEXTUAL SIGNIFICANCE ABSTRACT: This study aims to delve extensively into the linguistic functionality and contextual implications of the term Antu Banyu, which developed within the Palembang Malay community. Qualitative methods are employed as research methods by using documentation, observation, and interview in collecting data. The analytical framework adopted follows Miles and Huberman's model, encompassing data reduction, data presentation through Finnegan's theoretical approach, and data analysis conclusion. Through a questionnaire involving 50 respondents categorized into Generation X, Generation Y, Generation Millennial, and Generation Z, and alongside experts interviews, it becomes apparent that the term Antu Banyu that all respondents were familiar with the term Antu Banyu. Most of the information about the term Antu Banyu was universally recognized. Family sources play a pivotal role in comprehending the term, often intertwined with the myth of water ghost. The Antu Banyu term spans 15 distinct functions and contexts, including that of an adept swimmer, skilled diver, nautical experts, deceased in the water, prolonged bathers, twilight or nocturnal river bathers, undisciplined students or workers, miserly person, obligation-averse individual, derisive remarks directed at disliked persons, black magic shaman, danger harbinger, intimidation means, river ghosts, and adroit task performers. All applications of the Antu Banyu term, as molded by Palembang Malay society, remain closely related to the enduring myth of water ghosts, upheld by persistent convictions. However, select usages of the term exhibit positive connotations across diverse functions, signaling a notable shift in its semantic utilization.KEYWORDS: Finnegan; ghost water; Palembang Malay community; myth; semantic
PENGEMBANGAN SILABUS DAN MATERI AJAR MATA KULIAH BAHASA INDONESIA BERBASIS LITERASI KOMPREHENSIF
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk silabus dan materi ajar mata kuliah Bahasa Indonesia berbasis literasi komprehensif. Mahasiswa membutuhkan pembelajaran bahasa Indonesia dalam tataran aplikasi yang tinggi untuk pengembangan kompetensi kebahasaan, sementara silabus dan materi ajar terdahulu lebih memfokuskan pada pengembangan aspek kognitif saja. Untuk itu penelitian silabus dan materi ajar ini menjadi penting dilaksanakan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pengembangan yang mengadopsi pengembangan Borg dan Gall dengan implementasinya pada tiga tahap pengembangan yaitu tahap analisis kebutuhan, tahap analisis dokumen yang ada, dan tahap pengembangan produk. Setiap tahap pengembangan menggunakan teknik pengumpulan data berupa teknik observasi, wawancara, dan angket. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi serta analisis data deskriptif kuantitatif berupa rerata skor dan persentase. Hasil penelitian yang diperoleh adalah 1) kebutuhan dosen yaitu a)kebutuhan yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu dan penghela ilmu pengetahuan, b)materi yang berkaitan dengan pengembangan teks, eksplorasi dunia pustaka, desain proposal dan hasil serta artikel jurnal dan aplikasi mendeley, OJS dan google scholar, c)metode dan pembelajaran berbasis literasi dan kecakapan abad 21, dan d) evaluasi yang berbasis kelas. 2)kebutuhan mahasiswa pada pengembangan pembelajaran yang meningkatkan aspek kompetensi kognitif, psikomotorik dan afektif. 3) Pengembangan produk berupa silabus dan materi ajar yang diimplementasikan dalam tujuan yang memuat aspek kognitif, psikomotorik dan afektif, materi yang berbasis pada pengembangan kompetensi menulis akademik, metode dan pendekatan yang berbasis pada teks, dan evaluasi yang berbasis kelas..KATA KUNCI: bahasa Indonesia; literasi komprehensif ; materi ajar; silabus DEVELOPMENT OF SYLLABUS AND TEACHING MATERIALS FOR COMPREHENSIVE LITERATION-BASED INDONESIAN COURSES ABSTRACT: This research aims to produce syllabus products and teaching materials for comprehensive literacy-based Indonesian courses. Students need learning Indonesian at a high level of application for the development of linguistic competence, while the syllabus and previous teaching materials focused more on developing cognitive aspects only. For this reason, it is important to carry out research on the syllabus and teaching materials. This research was conducted using a development method that adopted the development of Borg and Gall with its implementation in three stages of development, namely the needs analysis stage, the existing document analysis stage, and the product development stage. Each stage of development uses data collection techniques in the form of observation techniques, interviews and questionnaires. Data analysis used qualitative data analysis, namely data reduction, data presentation and verification as well as quantitative data analysis in the form of average scores and percentages. The research results obtained are 1) lecturers' needs, namely a) needs related to learning objectives that make Indonesian a unifying and knowledge-traveling tool, b) material related to text development, exploration of the world of literature, proposal design and results as well as journal articles and Mendeley, OJS and Google Scholar applications, c) 21st century literacy and skills-based methods and learning, and d) class-based evaluation. 2) the needs of students in the development of learning that improves aspects of cognitive, psychomotor and affective competence. 3) Product development in the form of a syllabus and teaching materials implemented in objectives that include cognitive, psychomotor and affective aspects, material based on the development of academic writing competence, text-based methods and approaches, and class-based evaluation.KEYWORDS: Indonesian; comprehensive literacy; teaching materials; syllabu
EKSPLORASI STILISTIKA PADA NOVEL-NOVEL KARYA ANDREA HIRATA
ABSTRAK: Penelitian ini merupakan kajian stilistika pada novel Edensor, Ayah, Sirkus Pohon, Buku Besar Peminum Kopi, dan Guru Aini karya Andrea Hirata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan stilistika pada unsur pemajasan, penyiasatan struktur, dan citraan dalam novel-novel tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Edensor, Buku Besar Peminum Kopi, dan Guru Aini, pemajasan didominasi oleh metafora karena kesamaan genre komedi, petualangan, dan inspiratif. Sementara itu, dalam novel Ayah dan Sirkus Pohon, pemajasan lebih banyak menggunakan personifikasi yang sesuai dengan genre keluarga dan romantis. Pada unsur penyiasatan struktur, hiperbola mendominasi novel Ayah, Buku Besar Peminum Kopi, dan Guru Aini, yang memiliki kesamaan genre keluarga dan perjalanan. Sebaliknya, repetisi lebih banyak digunakan dalam novel Edensor dan Sirkus Pohon yang bergenre romantis dan inspiratif. Unsur citraan dalam semua novel lebih didominasi oleh citraan visual dibandingkan auditif dan kinestetik. Penggunaan citraan visual ini memperkuat deskripsi lingkungan dan suasana hati tokoh, serta membantu pembaca dalam membayangkan skenario yang dihadirkan secara lebih jelas dan mendalam. KATA KUNCI: Andea Hirata; Citraan; Kesastraan; Pemajasan; Penyiasatan Struktur; Stilistika A STYLISTIC EXPLORATION OF ANDREA HIRATA'S NOVELSABSTRACT: This research is a stylistic study of the novels Edensor, Ayah, Sirkus Pohon, Buku Besar Peminum Kopi, and Guru Aini by Andrea Hirata. This research aims to describe the use of stylistics in the elements of exaggeration, structural investigation, and imagery in the novels. The method used is descriptive qualitative with content analysis technique. The results showed that in Edensor, Buku Besar Peminum Kopi, and Guru Aini, metaphors dominate the use of stylistics due to the similarity of comedy, adventure, and inspirational genres. Meanwhile, in Ayah and Sirkus Pohon, the use of personification is more in line with the family and romantic genres. In the element of structural manipulation, hyperbole dominates the novels Ayah, Buku Besar Peminum Kopi, and Guru Aini, which have the family and travel genres in common. In contrast, repetition is used more in Edensor and Sirkus Pohon, which have romantic and inspirational genres. The imagery element in all novels is dominated by visual imagery rather than auditive and kinesthetic. The use of visual imagery strengthens the description of the characters' environment and mood, and helps the reader to imagine the scenario more clearly and deeply. KEYWORDS: Andea Hirata; Explanation; Imagery; Literature; Structure Investigation; Stylistic
PENGEMBANGAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM MENULIS TEKS DESKRIPSI PESERTA DIDIK KELAS VII SMP PGRI 1 KEDIRI BERDASARKAN KURIKULUM MERDEKA
ABSTRAK: Saat ini pendidikan di Indonesia menerapkan Kurikulum Merdeka. Terdapat beberapa tuntutan dalam Kurikulum Merdeka yaitu (1) menuntut adanya keterlibatan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dalam proses pembelajaran, (2) menuntut peserta didik memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai dengan bakat dan minatnya, dan (3) pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil Pelajar Pancasila. Secara tidak langsung untuk memenuhi tuntutan tersebut pelaku pendidikan dalam hal ini guru harus mampu berinovasi. Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah membuat media elektronik yang mampu membuat peserta didik berpikir kritis dan mampu belajar secara mandiri. Penelitian ini berupaya mengembangkan media audiovisual pada kurikulum merdeka dalam menulis teks deskripsi peserta didik kelas VII SMP. Tujuan penelitian pengembangan ini secara umum yang akan dicapai adalah tersusunnya media audiovisual pada kurikulum merdeka dalam menulis teks deskripsi peserta didik kelas VII SMP. Sedangkan tujuan khusus yang akan dicapai sebagai berikut yaitu menjelaskan kebutuhan guru dan peserta didik terhadap media audiovisual dalam pembelajaran menulis teks deskripsi peserta didik kelas VII SMP, menjelaskan proses pengembangan media audiovisual dalam pembelajaran menulis teks deskripsi peserta didik kelas VII SMP dan menjelaskan kelayakan media audiovisual dalam pembelajaran menulis teks deskripsi peserta didik kelas VII SMP. Prosedur pengembangan dalam penelitian ini adalah adaptasi prosedur pengembangan ADDIE (Reiser dan Mollenda, 1990). Adapun langkahnya yaitu (1) analisis (analyze), (2) desain (design), (3) pengembangan (development), (4) implementasi (implementation), dan (5) evaluasi (evaluation). Subjek penelitian ini adalah ahli perancangan pembelajaran, ahli materi/isi, ahli kebahasaan, ahli media, pengguna (guru), dan pengguna (peserta didik). Instrumen pengumpulan data berupa lembar penilaian yang dinilai oleh ahli perancangan pembelajaran, ahli materi/isi, ahli kebahasaan, ahli media, pengguna (guru), dan pengguna (peserta didik). Hasil uji coba menunjukkan bahwa pertama yaitu penilaian ahli perancangan pembelajaran, diperoleh hasil penilaian sebesar 92% dengan kategori “sangat layak”. Yang kedua yaitu penilaian ahli materi/isi, diperoleh hasil penilaian sebesar 87% dengan kategori “layak”. Yang ketiga yaitu penilaian ahli kebahasaan, diperoleh hasil penilaian sebesar 93% dengan kategori “sangat layak”. Keempat penilaian ahli media, diperoleh hasil penilaian sebesar 79% dengan kategori “cukup layak”. Selain dinilai oleh para ahli, produk juga dinilai oleh pengguna baik itu guru maupun peserta didik. Penilaian yang dilakukan pengguna guru terbagi menjadi tiga aspek yaitu aspek materi/isi, aspek kebahasaan, dan aspek media. Penilaian aspek materi/isi diperoleh hasil sebesar 94% dengan kategori “sangat layak”. Penilaian aspek kebahasaan diperoleh hasil sebesar 89% dengan kategori “layak”. Sedangkan penilaian aspek media diperoleh hasil sebesar 92% dengan kategori “sangat layak”. Berikutnya penilaian dari pengguna peserta didik, diperoleh hasil penilaian sebesar 87% dengan kategori “layak”. Dengan perolehan tersebut, maka dapat dikategorikan bahwa produk media audiovisual dalam pembelajaran menulis teks deskripsi peserta didik kelas VII SMP layak digunakan dalam proses pembelajaran.KATA KUNCI: pengembangan, media audiovisual, teks deskripsi, kurikulum merdeka AUDIOVISUAL MEDIA DEVELOPMENT IN WRITINGDESCRIPTION TEXT OF STUDENTS OF CLASS VII SMP PGRI 1 KEDIRIBASED ON INDEPENDENT CURRICULUM ABSTRACT: Currently, education in Indonesia applies the Independent Curriculum. There are several demands in the Merdeka Curriculum, namely (1) demanding the involvement of ICT (Information Communication Technology) in the learning process, (2) requiring students to choose what subjects they want to learn according to their talents and interests, and (3) project-based learning to development of soft skills and character according to the Pancasila Student profile. Indirectly, to meet these demands, educators, in this case teachers, must be able to innovate. One form of this innovation is creating electronic media that is able to make students think critically and be able to learn independently. This research seeks to develop audiovisual media in the independent curriculum in writing descriptive texts for class VII students of junior high school. The general aim of this development research that will be achieved is the compilation of audiovisual media in the independent curriculum in writing descriptive texts for class VII students of junior high school. While the specific objectives to be achieved are as follows namely explaining the needs of teachers and students for audiovisual media in learning to write descriptive texts for class VII junior high school students, explaining the process of developing audiovisual media in learning to write descriptive texts for class VII students of junior high schools and explaining the feasibility of audiovisual media in learning to write descriptive texts for class VII students of junior high school. The development procedure in this study is an adaptation of the ADDIE development procedure (Reiser and Mollenda, 1990). The steps are (1) analysis (analyze), (2) design (3) development (development), (4) implementation (implementation), and (5) evaluation (evaluation). The subjects of this study were learning design experts, material/content experts, language experts, media experts, users (teachers), and users (students). The data collection instrument was in the form of assessment sheets which were assessed by learning design experts, material/content experts, language experts, media experts, users (teachers), and users (students). The trial results showed that first, namely the assessment of learning design experts, an assessment result of 92% was obtained in the "very feasible" category. The second, namely the assessment of material/content experts, obtained an assessment result of 87% in the "decent" category. The third is the assessment of linguistic experts,obtained the results of the assessment of 93% with the category "very feasible". The four assessments of media experts, obtained an assessment result of 79% in the "reasonable enough" category.Apart from being assessed by experts, the product is also assessed by users, both teachers and students. The assessment carried out by teacher users is divided into three aspects, namely material/content aspects, linguistic aspects, and media aspects. The assessment of the material/content aspect obtained a result of 94% in the "very decent" category. Assessment of linguistic aspects obtained results of 89% in the "decent" category. While the media aspect assessment obtained results of 92% in the "very decent" category. Next, the assessment of student users obtained an assessment result of 87% in the "decent" category. With these acquisitions, it can be categorized that audiovisual media products in learning to write descriptive texts for class VII SMP students are appropriate to use in the learning process.KEYWORDS: development, audiovisual media, descriptive text, independent curriculu
Representasi Perempuan dalam Pemberitaan Puan & Megawati di Instagram (AWK Sara Mills)
ABSTRAK: Kehadiran kembali perempuan dalam pemberitaan politik di instagram selalu menjadi pembahasan yang populer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan apa saja bentuk jenis-jenis representasi yang digunakan dalam pemberitaan dan pola bahasa yang terbentuk dari kolom deskripsi pemberitaan Puan Maharani dan Megawati Soekarnoputri di Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik literature (dibacam ditandai, dan dicatat) dipergunakan untuk mengumpulkan data. Sumber data diambil dari kolom deskripsi yang terdapat pada unggahan instagram berisi pemberitaan Puan Maharani dan Megawati Soekarnoputri di akun resmi media sosial instagram Kompas.com. Hasil penelitian ini kalimat dalam pemberitaan yang dianalisis menggunakan ilmu analisis wacana kritis Sara Mills yang dibagi menjadi 3 posisi, yaitu : posisi subjek-objek, posisi pembaca, dan posisi media. Selain itu, ditemukan 25 data yang masing-masing dikategorikan ke dalam berbagai jenis representasi seperti representasi nama, representasi kata ganti, representasi jabatan, dan representasi kekerabatan.KATA KUNCI: Representasi Perempuan; Sara Mills; analisis wacana kritis Women's Representation in Puan Megawati's News on Instagram (Critical discourse analysis Sara Mills)ABSTRACT: The reappearance of women in political reporting on Instagram has always been a popular topic of discussion. The aim of this research is to explain the types of representation used in reporting and the language patterns formed from the description column of Puan Maharani and Megawati Soekarnoputri's reporting on Instagram. This research use desciptive qualitative approach. Literature techniques (read, marked and recorded) were used to collect data. The data source was taken from the description column contained in the Instagram upload containing news about Puan Maharani and Megawati Soekarnoputri on the official Instagram social media account Kompas.com. The results of this research are sentences in the news that are analyzed using Sara Mills' critical discourse analysis science which is divided into 3 positions, namely: subject-object position, reader position, and media position. In addition, 25 data were found, each of which was categorized into various types of representation such as name representation, pronoun representation, position representation, and kinship representation.KEYWORDS: women representation; Sara Mills; political discourse, Critical Discourse Analysis