FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
159 research outputs found
Sort by
PELANGGARAN BIDAL KESANTUNAN BERBAHASA WARGANET DALAM KOLOM KOMENTAR TWITTER @FIERSABESARI
ABSTRAK: Kesantunan berbahasa sejatinya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kini, di tambah dengan kemajuan teknologi memudahkan orang untuk menjalin komunikasi. Hubungan komunikasi dapat berjalan dengan baik apabila mengedepankan prinsip kesantunan. Prinsip kesantunan dapat selalu dijunjung baik bertutur dalam media sosial maupun secara tatap muka. Apabila tidak patuh dengan prinsip kesantunanan, maka tuturan tersebut tidak santun. Tujuan dari penelitian ini yakni memaparkan bentuk tuturan yang melanggar prinsip kesantunan dalam twitter @FiersaBesari khususnya dalam kolom reply. Adapun cuitan khusus yang dipilih yakni mengenai tuturan yang mengkritik dan menyindir pemerintah Indonesia. Pelanggaran kesantunan tersebut diukur dengan prinsip kesatunan berupa bidal. Metode penelitian menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara simak, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih dengan teknik dasar BUL dan teknik lanjutan perluas. Hasil dari penelitian ini memaparkan beragam bentuk tuturan yang melanggar prinsip kesantunan. Adapun bidal-bidal yang dilanggar yakni, bidal penghargaan, bidal pemufakatan, dan bidal kesimpatian. Dari keenam bidal yang digunakan untuk mengukur kesantunan, terdapat tiga bidal yang ditemukan pelanggaran.KATA KUNCI: Kesantunan Berbahasa, Prinsip Kesantunan, Bidal, Twitter VIOLATIONS OF CITIZENS IN CITIZENS'S LANGUAGE IN THE COMMENTS COLUMN TWITTER @FIERSABESARI ABSTRACT: Politeness in language is actually close to everyday life. Now, coupled with advances in technology, it is easier for people to establish communication. Communication relations can run well if they prioritize the principle of politeness. The principle of politeness can always be upheld both speaking in social media and face to face. If you do not comply with the principle of politeness, then the speech is not polite. The purpose of this study is to describe the form of speech that violates the principle of politeness in @FiersaBesari's twitter, especially in the reply column. The special tweets that were chosen were about speeches that criticized and satirized the Indonesian government. The violation of politeness is measured by the principle of unity in the form of a thimble. The research method uses data collection techniques by observing, recording, and documenting. The data analysis technique in this study used the agih method with the BUL basic technique and the extended extension technique. The results of this study describe various forms of speech that violate the principle of politeness. The thimbles that were violated were the thimble of appreciation, the thimble of consensus, and the thimble of sympathy. Of the six thimbles used to measure politeness, there were three thimbles that found violations.KEYWORDS: Politeness Speech Act, Politeness Politeness Principle, Bidal, Twitter
DERIVASI VERBA DENOMINA BAHASA INDONESIA PADA WEBSITE BERITA ONLINE (KAJIAN MORFOLOGI)
ABSTRAK: Penelitian ini membahas tentang derivasi verba denomina bahasa Indonesia pada artikel berita online. Pada tahap pembahasan penelitian ini akan menguraikan proses morfologis data yang berbentuk kata pada artikel berita periode tahun 2021. Tujuan penelitian ini agar pembaca dapat memahami proses morfologis sekaligus fenomena perpindahan kategori kelas kata yang ditemui pada tulisan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yakni cara kerja dalam penelitian yang mendeskripsikan data yang berupa kalimat maupun kata berdasarkan nomina pembentuk verba dan distribusi afiks pembentuk verba denomina. Metode penyediaan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode Agih dengan teknik lanjutan Ultimate Constituent Analysis (UCA) atau Urai Unsur Terkecil untuk menguraikan satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Data akan disajikan dalam bentuk nonformal dengan mengklasifikan data yang didapat, lalu diuraikan setiap pola pada masing-masing bentuk yang ditemukan. Hasil penelitian ini menemukan 18 bentuk proses afiksasi yang menyebabkan perpindahan kategori kata dan makna kata. Kesimpulannya adalah tidak semua verba berasal dari bentuk dasar verba, melainkan dapat berasal dari bentuk nomina. Benuk afiksasi yang membentuk verba tidak hanya berdasarkan prefiks, tetapi juga konfiks. Selain itu, proses verba denomina akan menghasilkan derivasi pada kata yang diturunkan.KATA KUNCI: Afiksasi; berita; derivasi; verba denominaDERIVATION OF INDONESIAN VERB DENOMINATIONS IN TERMINAL MOJOK ABSTRACT: This study discusses the derivation of Indonesian denominational verbs in online news articles. At the discussion stage, this research will describe the morphological process of data in the form of words in news articles for the period 2021. The purpose of this study is so that readers can understand the morphological process as well as the phenomenon of word class category displacement encountered in writing. This study uses a qualitative descriptive method, namely the way of working in research that describes data in the form of sentences and words based on the noun forming the verb and the distribution of affixes forming the denominational verb. The method of providing data used in this study is the method of listening to the technique of note-taking. The data were analyzed using the agih method with an advanced technique of 'Ultimate Constituent Analysis' (UCA) to describe certain lingual units of the smallest elements. The data will be presented in a non-formal form by classifying the data obtained, then describing each pattern in each of the forms found. The result of this research is that there are 18 forms of affixation process that cause the displacement of word categories and word meanings. The conclusion is that not all verbs come from the basic form of the verb, but can come from the noun form. The forms of affixation that form verbs are not only based on prefixes, but also confixes. In addition, the process of denominational verbs will result in the derivation of the derived word.KEYWORDS: Affixation; berita; derivation; noun ver
PEMANFAATAN POSTER MY WALL SEBAGAI MEDIA PIDATO PERSUASIF KAMPANYE VAKSIN COVID-19 UNTUK SISWA SMP
ABSTRAK: Kegiatan pembelajaran Kompetensi Dasar (KD) pada siswa SMP Negeri 10 Malang memiliki kendala dalam menuangkan gagasan dalam pidato persuasif secara tulis. Hal ini diketahui melalui hasil observasi dan wawancara. Terbukti dari tugas yang dikumpulkan hanya 3 yang dikumpulkan. Selain itu, kedala sinyal internet siswa dan pegawai kurang memadai. Dengan hanya 3 siswa yang mengumpulkan tugas dapat disimpulkan bahwa tema yang digunakan kurang aktual. Penelitian ini akan membahas Kompetensi Dasar (KD) menuangkan gagasan dalam pidato persuasif secara tulis dengan mengangkat tema kampanye vaksin Covid-19, tema tersebut dirasa aktual dengan pandemi Covid-19 yang sedang dialami. Dalam penelitian ini menggunakan platform Poster My Wall sebagai media sebagai pembuatan poster pidato persuasif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses interaksi belajar, kendala yang dihadapi, dan hasil belajar siswa dengan pemanfaatan platform Poster My Wall dalam Kompetensi Dasar (KD) dalam menuangkan gagasan pidato persuasif secara tulis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 9 di SMP Negeri 10 Malang dengan jumlah 22 siswa. Intrumen penelitian berupa pedoman observasi, kisi-kisi tes kinerja, dan rubrik penilaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 22 siswa dalam kelas 9 siswa masuk dalam kualifikasi sangat baik dengan persentase 49% dan 13 siswa masuk dalam kualifikasi baik dengan persentase 59%. Berdasarkan hasil tersebut pengguaan platform Poster My Wall memiliki pengaruh pada pembelajaran dalam menuangkan gagasan dalam pidato persuasif secara tulis.KATA KUNCI: Keterampilan; Pidato Persuasif; Poster My WallUTILIZATION OF MY WALL POSTER AS A MEDIA PERSUASIVE SPEECH FOR COVID-19 VACCINE CAMPAIGN FOR JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTSABSTRACT: Basic Competency (KD) learning activities for SMP Negeri 10 Malang students have problems in expressing ideas in written persuasive speeches. This is known through the results of observations and interviews. It is evident from the tasks that were collected only 3 were collected. In addition, the internet signal for students and staff is inadequate. With only 3 students collecting assignments, it can be concluded that the theme used is not actual. This study will discuss Basic Competence (KD) expressing ideas in written persuasive speeches with the theme of the Covid-19 vaccine campaign, the theme is felt to be actual with the Covid-19 pandemic that is being experienced. In this study, the Poster My Wall platform was used as a medium for making persuasive speech posters. The purpose of this study was to determine the process of learning interaction, the obstacles faced, and student learning outcomes by using the Poster My Wall platform in Basic Competence (KD) in expressing ideas for written persuasive speeches. This research is a descriptive qualitative research with case study method. The subjects in this study were grade 9 students at SMP Negeri 10 Malang with a total of 22 students. The research instruments were in the form of observation guidelines, performance test grids, and assessment rubrics. The results of this study indicate that out of 22 students in grade 9 students are in very good qualifications with a percentage of 49% and 13 students are in good qualifications with a percentage of 59%. Based on these results, the use of the Poster My Wall platform has an influence on learning in expressing ideas in written persuasive speeches.KEYWORDS: Skills; Persuasive Speech; My Wall Poster
PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X SMA BERBASIS FLIPBOOK MAKER
ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk materi ajar yang layak, praktis, dan efektif bagi siswa SMAN 4 Luwu Utara kelas X dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini yaitu penelitian dan pengembangan (research and development). Model pengembangan yang digunakan adalah model Four-D (4-D) yang telah di modifikasi menjadi model Three-D (3-D) terdiri dari 3 tahap yang meliputi: Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan). Desain tindakan yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan (Rd) ini adalah pretest-posttest design. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah validasi dan observasi. Hasil penelitian dan pengembangan (RD) ini: (a) dihasilkan produk materi ajar Bahasa Indonesia kelas X SMAN 4 Luwu Utara berbasis media flipbook maker, (b) materi ajar Bahasa Indonesia kelas X berbasis media flipbook maker yang telah dinyatakan layak oleh ahli dan subjek uji coba, (c) materi ajar Bahasa Indonesia kelas X berbasis media flipbook maker yang telah dinyatakan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat ketuntasan tes kemampuan kelompok uji lapangan I dan II masing-masing sebesar 59% dan 77%. (d) materi ajar Bahasa Indonesia kelas X berbasis media flipbook maker yang telah dinyatakan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan hasil angket respon siswa dan guru. Rerata total respon guru terhadap materi ajar sebesar 3,8 atau dengan kategori baik. Rerata respon siswa uji coba lapangan I dan II masing-masing sebesar 4,1 dengan kategori praktis.KATA KUNCI: Bahasa Indonesia; Flipbook Maker; Materi Ajar; Pengembangan DEVELOPMENT OF INDONESIAN TEACHING MATERIALS FOR CLASS X SMAN 4 LUWU NORTH BASED ON FLIPBOOK MAKER ABSTRACT: The purpose of this research is to produce teaching materials that are feasible, practical, and effective for students of SMAN 4 North Luwu class X in Indonesian subjects. This type of research is research and development (research and development). The development model used is a Four-D (4-D) model which has been modified into a Three-D (3-D) model consisting of 3 stages which include: Define, Design, Develop . The action design used in this research and development (RD) is a pretest-posttest design. Data collection techniques used are validation and observation. The results of this research and development (RD) are: (a) Indonesian class X teaching materials are produced at SMAN 4 Luwu Utara based onmedia flipbook maker, (b) Indonesian class X teaching materials are based onmedia flipbook maker which have been declared feasible by experts and subjects. Trials, (c) Indonesian class X teaching materials based onmedia flipbook maker which have been declared effective for use in learning. This is indicated by the level of completeness of the field test group I and II, which are 59% and 77%, respectively. (d) Indonesian class X teaching materials based onmedia flipbook maker which have been declared practical for use in learning. This is indicated by the results of the student and teacher response questionnaires. The average total teacher response to teaching materials is 3.8 or in good category. The average student responses for field trials I and II were 4.1 each in the practical category.KEYWORDS: Development; Teaching materials; Indonesian; flipbook Make
INTERTEKSTUAL TEMBANG TRADISIONAL JAWA LIR-ILIR DALAM PUISI INDONESIA MODERN
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pemaknaan terhadap tembang tradisional Jawa Lir-ilir dalam bentuk puisi Indonesia modern. Data penelitian berupa teks tembang tradisional Jawa Lir ilir karya Sunan Kalijaga, puisi berjudul Lir-ilir karya Sindhunata, dan puisi berjudul Lir-ilir untuk Negeriku karya Dimas Indianto S. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan corak metodenya mendeskripsikan data secara mendalam. Data dikumpulkan melalui tahapan pembacaan teks tembang dan puisi secara seksama, mengklasifikasikan data, menafsirkan hasil analisis data, mengkonfirmasi hasil analisis, dan menyimpulkan hasil analisis. Sumber data penelitian adalah buku puisi berjudul Air Kata-kata (2019) karya Sindhunata dan buku puisi berjudul Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2014) karya Dimas Indianto, dkk. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa terdapat hubungan intertekstual antara teks tembang tradisional Jawa Lir ilir karya Sunan Kalijaga dengan puisi berjudul Lir-ilir karya Sindhunata, dan puisi Lir-ilir untuk Negeriku karya Dimas Indianto S. Tembang Lir-ilir yang merupakan hipogramnya memberi pengaruh terhadap puisi Lir-ilir untuk Negeriku karya Dimas Indianto S., dan puisi berjudul Lir-ilir karya Sindhunata dari segi bentuk dan ide. Puisi Lir-ilir karya Sindhunata dan puisi Lir-ilir untuk Negeriku karya Dimas Indianto S. memaknai tembang Lir-ilir karya Sunan Kalijaga. Pemaknaan tersebut menyangkut beberapa hal, meliputi: pemaknaan cinta tanah air, pemaknaan spiritualitas, dan pemaknaan terhadap hakikat hidup. KATA KUNCI: intertekstual, puisi Indonesia, tembang tradisional Jawa INTERTEXTUAL TRADITIONAL TEMBANG JAVA LIR-ILIR IN CONTEMPORARY INDONESIAN POETRY ABSTRACT: This study aims to determine the form of meaning of the traditional Javanese song Lir-ilir in the form of modern Indonesian poetry. The research data are the text of the traditional Javanese song Lir ilir by Sunan Kalijaga, a poem entitled Lir-ilir by Sindhunata, and a poem entitled Lir-ilir for Negeriku by Dimas Indianto S. This research is a descriptive qualitative research with the method of describing the data in depth. Data were collected through the stages of reading the text of the song and poetry carefully, classifying the data, interpreting the results of data analysis, confirming the results of the analysis, and concluding the results of the analysis. Sources of research data are a poetry book entitled Air Kata-kata (2019) by Sindhunata and a poetry book entitled Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2014) by Dimas Indianto, et al. The results of this study indicate that there is an intertextual relationship between the text of the traditional Javanese song Lir ilir by Sunan Kalijaga with the poem entitled Lir-ilir by Sindhunata, and the poem Lir-ilir for Negeriku by Dimas Indianto S. Tembang Lir-ilir which is the hypogram gives an influence to the poem Lir-ilir for Negeriku by Dimas Indianto S., and the poem entitled Lir-ilir by Sindhunata in terms of form and idea. Sindhunata's Lir-ilir poem and Dimas Indianto S.'s Lir-ilir poem for Negeriku interpret the song Lir-ilir by Sunan Kalijaga. The meaning involves several things, including: the meaning of love for the homeland, the meaning of spirituality, and the meaning of the nature of life. KEYWORDS: intertextual, Indonesian poetry, Javanese traditional song
ANALISIS TERJEMAHAN UJARAN SEKSISME DAN PELECEHAN SEKSUAL DALAM SUBTITLE BAHASA INDONESIA DI DALAM FILM RED SPARROW
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ujaran seksisme dan pelecehan seksual yang terdapat dalam hasil terjemahan subtitle film Red Sparrow yang diterjemahkan oleh penerjemah tidak resmi yaitu Pein Akatsuki. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, teori Analisi Wacana Kritis atau AWK dari Sarah Mills digunakan dalam mengklasifikasi data dan menganalisis data ujaran-ujaran yang bersifat seksisme dan pelecehan seksual yang terdapat dalam hasil penerjemahan subtitle yang dilakukan oeh penerjemah tidak resmi Pein Akatsuki. Hasil penelitian ini menunjukan dari 20 data dialog dalam hasil terjemahan subtitle terdapat 13 ujaran yang mengandung seksisme dan pelecehan seksual terhadap para wanita yang bekerja sebagai agen pipit dalam film Red Sparrow.KATA KUNCI: penerjemahan, subtitle, seksisme, pelecehan seksual ANALYSIS SEXISM AND SEXUAL HARRASMENT SPEECH IN INDONESIAN SUBTITLE IN THE MOVIE ENTITLED RED SPARROW ABSTRACT: This research is intended to analyze sexist and sexual harassment speech in translation result of subtitle conducted by Pein Akatsuki as an unofficial translator in the movie entitled Red Sparrow. Qualitative descriptive method is used in this research, in classifying and analyzing sexist and sexual harassment speeches in the subtitle in the movie, Critical Discourse Analysis or CDA from Sarah Mils is used. The result of this research shows that from 20 dialogs, there are 13 speechs contain sexism and sexual harrasment to all women who works as an agent sparrow in the movie entitled Red Sparrow.KEYWORDS: translation, subtitle, sexism, sexual harrasmen
KAJIAN ETNOLINGUISTIK BENTUK DAN MAKNA PENAMAAN PETILASAN PADA MASA KERAJAAN DI KABUPATEN BLITAR
ABSTRAK: Penamaan seringkali menjadi tempat menyimpan sejarah dan makna kultural bagi masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna penamaan petilasan pada masa kerajaan di Kabupaten Blitar dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini diperoleh dari 2 informan, yaitu Bapak Handoko (44 tahun, Kepala Desa Serang Kabupaten Blitar) dan Ibu Sunarmi (61 tahun, juru kunci Candi Mleri). Data penelitian berupa tuturan informan yang berkaitan dengan fokus permasalahan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara, rekam, dan catat. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengklasifikasi, menginterpretasi, mendeskripsikan, dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penamaan petilasan pada masa kerajaan di Kabupaten Blitar terdapat dua jenis bentuk satuan bahasa yaitu, berupa (1) frasa nomina modifikatif simpleks dan (2) frasa nomina modifikatif kompleks. Pada frasa nomina modifikatif simpleks ditemukan frasa yang berstruktur nomina dan nomina, nomina dan verba, serta nomina dan adjektiva. Sementara itu, pada frasa nomina modifikatif kompleks ditemukan frasa berstruktur kata dan frasa serta frasa dan frasa. Makna penamaan petilasan pada masa kerajaan di Kabupaten Blitar terdiri atas makna leksikal dan makna kultural. Pada makna leksikal digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu mengacu pada suatu (1) tempat, (2) bangunan, (3) daerah, dan (4) benda. Sementara itu, pada makna kultural menggambarkan pola pemikiran masyarakat untuk menyatakan (1) konservasi alam, (2) pelestarian sejarah, (3) sarana spiritual, (4) penghormatan tokoh masyarakat, dan (5) mitos.KATA KUNCI: bentuk, etnolinguistik; Kabupaten Blitar; makna, masa kerajaan; penamaan petilasanETHNOLINGUISTIC STUDY OF THE FORM AND MEANING NAMING PETILASAN AT GOVERNMENT TIME IN BLITAR REGENCYABSTRACT: Naming is often a place to store history and cultural meaning for its people. This research describes the form and meaning of naming petilasan during the kingdom in Blitar Regency using an ethnolinguistic approach. This research includes a type of case study research with qualitative descriptive methods. We got the source of this research data from 2 informants, namely Mr Handoko (44 years old, Head of Serang Village of Blitar Regency) and Mrs Sunarmi (61 years old, caretaker of Mleri Temple). Research data as informant speech related to the focus of the problem. Library studies, interviews, records, and notes did data collection techniques. Data analysis techniques are performed by identifying, classifying, interpreting, describing, and concluding. The results showed that the form of naming petilasan during the kingdom in Blitar Regency there are two types of language unit forms as (1) simplex modification noun phrase and (2) complex modification noun phrase. In the phrase, simplex modification noun found phrases that are structured noun and noun, noun and verb, and noun and adjective. Meanwhile, in complex modification, noun phrases are found structured phrases of words and phrases, and phrases and phrases. The meaning of naming petilasan during the kingdom in Blitar Regency comprises lexical meaning and cultural meaning. It classified lexical meaning into four types, which refers to a (1) place, (2) building, (3) area, and (4) objects. Meanwhile, the cultural meaning describes the pattern of public thought to state (1) conservation of nature, (2) preservation of history, (3) spiritual means, (4) respect for community leaders, and (5) myths.KEYWORDS: form, ethnolinguistic; Blitar Regency; meaning, government time; naming of petilasa
GANGGUAN BERBAHASA TATARAN FONOLOGIS PADA TUTURAN PENDERITA STROKE ISKEMIK: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK
ABSTRAK: Gangguan berbahasa (language disorders) jauh lebih kompleks dibandingkan gangguan wicara (speech disorders). Gangguan berbahasa dalam istilah medis disebut afasia. Penderita akan mengalami kesulitan berkomunikasi serta cenderung gagal dalam menerapkan kemampuan berbahasa. Imbasnya, penderita gangguan ini akan mengalami deviasi atau penyimpangan linguistis. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan gangguan berbahasa yang dialami pasien stroke iskemik. Gejala yang paling tampak pada penderita stroke iskemik sangat khas, yakni penyimpangan tataran fonologis. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif kajian ini menempatkan subjek penderita gangguan hemisfer kiri, di mana bagian tersebut dalam kajian neurolinguitik memiliki fungsi sebagai pengolah kemampuan linguistik seseorang, seperti fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantis. Data penelitian ini berupa tuturan seorang subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, rekam, catat, wawancara dan elitasi menggunakan media gambar dan daftar pertanyaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penyimpangan tataran fonologis, antara lain (1) penghilangan atau penyederhanaan fonem, (2) penggantian fonem, dan (3) ketidakberaturan pada tuturan penderita stroke iskemik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gangguan berbahasa tataran fonologis merupakan bentuk kesalahan dan/atau penyimpangan yang terjadi pada seseorang penderita stroke iskemik yang disebabkan oleh kerusakan lesi kortikal di otak kiri, tepatnya di daerah broca, yang mengkhususkan diri dalam tugas-tugas pemroduksian bahasa.KATA KUNCI: Afasia; gangguan bahasa; penyimpangan fonologis; psikolinguistik; stroke iskemik. PHONOLOGICAL LANGUAGE DISORDERS IN ISCEMIC STROKE PATIENTS: A PSYCHOLINGUISTIC STUDY ABSTRACT: Language disorders are much more complex than speech disorders. Language disorders in medical terms are called aphasia. Patients will have difficulty communicating and tend to fail in applying language skills. As a result, people with this disorder will experience linguistic deviations or deviations. This study aims to classify and describe language disorders experienced by ischemic stroke patients. The most visible symptom in ischemic stroke patients is very typical, namely phonological level deviations. By using a descriptive-qualitative method, this study places the subject with left hemisphere disorders, where this section in neurolinguistic studies has a function as a processing of one's linguistic abilities, such as phonological, morphological, syntactic, and semantic. The data of this research is the speech of a research subject who experienced an ischemic stroke. Data was collected by using observation, recording, note-taking, interviewing and elicitation techniques using picture media and a list of questions. The results of this study indicate that there are deviations at the phonological level, including (1) omission or simplification of phonemes, (2) replacement of phonemes, and (3) irregularities in the speech of ischemic stroke sufferers. So it can be concluded that language disorders at the phonological level are a form of errors and/or deviations that occur in a person with ischemic stroke caused by damage to cortical lesions in the left brain, precisely in Broca's area, which specializes in language production tasks.KEYWORDS: Aphasia; language disorders; phonological aberrations; psycholinguistics; ischemic stroke
NOVEL TARIAN BUMI KARYA OKA RUSMINI (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE)
ABSTRAK: Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk deskripsi yang dianalisis dengan cara pandang teori Semiotika Charles Sanders Peirce. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data-data yang dimaksud tersebut berupa kata, frasa, atau klausa yang mengandung ikon, indeks, dan simbol dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Fokus dalam penelitian ini adalah analisis novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini dengan menggunakan kajian semiotika melalui deskripsi makna ikon, indeks, dan simbol. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi, teknik baca, dan teknik catat. Analisis data yang akan dilakukan pada penelitian ini mengikuti tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, penyimpulan dan verifikasi data. Hasil pada penelitian ini ditemukan bentuk ikon, indeks, dan simbol pada novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini dengan menggunakan kajian semiotika Charles Sanders Pierce. Pertama, bentuk ikon ditemukan tokoh Luh Sekar sebagai ikon perempuan ambisius, tokoh Telaga sebagai ikon perempuan keras, dan tokoh Sagra sebagai ikon perempuan yang tegas. Kedua, bentuk indeks ditemukan indeks penderitaan tokoh Luh Sekar dan indeks malangnya nasib tokoh Telaga. Ketiga, Simbol yang ditemukan dari penelitian ini adalah simbol budaya Bali.Kata Kunci: Ikon, Indeks, Semiotika, dan Simbol, EARTH DANCE NOVEL BY OKA RUSMINI (SEMIOTIC STUDIES OF CHARLES SANDERS PEIRCE) ABSTRACT: This type of research is qualitative research. The data obtained was presented in the form of a description analyzed by the semiotics theory of Charles Sanders Peirce. The design used in this study is descriptive qualitative. The data in question are words, phrases, or clauses containing icons, indexes, and symbols in the novel Dance of the Earth by Oka Rusmini. The focus of this study is the analysis of the novel Dance of the Earth by Oka Rusmini using semiotic studies through descriptions of the meaning of icons, indexes, and symbols. The data collection techniques used in this study are documentation techniques, reading techniques, and record techniques. The data analysis that will be conducted in this study follows three stages, namely: data reduction, data presentation, data collection and verification. The results in this study found the shape of icons, indexes, and symbols in the novel Earth Dance by Oka Rusmini using the semiotic study of Charles Sanders Pierce. First, the iconic shape was found by Luh Sekar as an ambitious female icon, Telaga figure as a hard female icon, and Sagra figure as a stern female icon. Second, the form of index found the suffering index of Luh Sekar figures and the unfortunate index of the fate of Telaga figures. Third, the symbol found in this study is a symbol of Balinese culture. Keywords: Icons, Indexes, Semiotics, and Symbols
PERTARUNGAN SIMBOLIK DALAM SLOGAN PILKADA SULAWESI SELATAN TAHUN 2020: SUATU TINJAUAN ANALISIS WACANA KRITIS PIERRE BOUDIEU
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk merepresentasikan bentuk-bentuk pertarungan simbolik aspek eufemisasi dan aspek sensorisasi dalam slogan pilkada Sulawesi Selatan tahun 2020. Fokus penelitian ini yaitu slogan pilkada Sulawesi Selatan tahun 2020. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, teknik baca, dan teknik catat. Data dalam penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memuat slogan pilkada Sulawesi Selatan tahun 2020. Sumber data dalam penelitian ini adalah media cetak berupa spanduk, banner, baliho dan stiker kampanye kandidat pilkada Sulawesi Selatan tahun 2020. Teori yang digunakan sebagai acuan untuk menganalisis bentuk pertarungan simbolik adalah teori analisis wacana kritis Pierre Bourdieu.Hasil dalam penelitian ini ditemukan 14 bentuk pertarungan simbolik dalam slogan pilkada Sulawesi Selatan Tahun 2020. Pertarungan simbolik aspek eufemisasi yang ditemukan terdiri atas bentuk perubahan, kebangkitan, keren, harapan, lanjutkan, kebersamaan, persatuan, kesejahteraan, kebaruan, identitas, dan merakyat. Pertarungan simbolik yang menggunakan aspek sensorisasi terdiri atas bentuk sindiran, kejujuran dan kesantunan.KATA KUNCI: Pertarungan Simbolik, Eufemisasi, Sensorisasi, PilkadaANALYSIS OF LANGUAGED CRIMES IN SOCIAL MEDIA(FORENSIC LINGUISTIC) ABSTRACT: The study aims to represent the symbolic forms of euphemism and censorship aspects in regional election slogans in South Sulawesi in 2020. The focus of the study is the regional election slogans in South Sulawesi in 2020. The type of descriptive research used in this study refers to a qualitative approach. Data collection techniques used were documentation, reading, and note-taking techniques. The data in this study were words, phrases, clauses, and sentences that contained slogans for the regional elections in South Sulawesi in 2020. The data sources in this study were printed media in the forms of banners, billboards, and campaign stickers for the regional election candidates campaign in South Sulawesi in 2020. The reference for analyzing the form of symbolic battles employed Pierre Bourdieu's theory of critical discourse analysis. The results of the study discovered 14 forms of symbolic battles in regional elections slogans in South Sulawesi in 2020. The symbolic battles of euphemism aspects which were discosvered consisted of the forms of change, revival, coolness, hope, continue, togetherness, unity, prosperity, novelty, identity, and populist. The symbolic battles that used censorship aspect consisted of satire, honesty, and politeness.KEYWORDS: Symbolic Battle, Euphemism, Censorship, Regional Elections