FON : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
159 research outputs found
Sort by
Pembelajaran Penulisan Kalimat Majemuk dengan Self-learning CD
Penelitian ini adalah sebagai pengaplikasian sebuah penelitian pengembangan model tentang prototipe media web-based yang kemudian diimplementasikan ke dalam bentuk CD untuk pembelajaran sendiri. Target dari penelitian lanjutan ini adalah untuk membantu peserta didik kelas 11 agar mereka dapat mengembangkan pengetahuan mereka tentang pembentukan kalimat majemuk (bertingkat dan setara) secara mandiri. Dengan CD pembelajaran mandiri ini, diharapkan kemampuan mereka dalam menulis karangan narasi menjadi lebih baik karena mereka mampu menulis kalimat majemuk setara/bertingkat dalam esai narasi yang mereka tulis.Penelitian kuantitatif ini dilakukan dengan kuasi eksperimen dimana 30 peserta didik dari dua kelas 11 diambil secara acak sebagai sampel. Pre-tes dilakukan dengan meminta peserta didik menulis karangan narasi dengan tema “Best things in last vacation”, dan pos-tes dilakukan dengan meminta mereka menulis karanga narasi bertema “Bad things in Last vacation.” Setelah pre-tes, peserta didik diberikan CD pelatihan pembentukan kalimat bahasa Inggris selama satu minggu. Post-test dilakukan setelah mereka melakukan pembelajaran mandiri dengan menggunakan CD. Hasil kemudian dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian holistik (Brown , 2004, h.242). Hasil dari penghitungan SPSS 22.0 menyatakan bahwa terdapat hasil yang signifikan dari hasil pembelajaran mandiri dengan menggunakan CD pembelajaran Pembentukan Kalimat Majemuk
KEBANGGAAN TERHADAP BAHASA INDONESIA (LANGUAGE PRIDE) DI PURWAKARTA
Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa selalu dijaga, salah satunya dengan menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu bidang studi yang wajib diikuti oleh warga negara Indonesia sejak sekolah dasar hingga di perguruan tinggi. Tujuan dari pembinaan bahasa Indonesia melalui pendidikan formal tersebut di samping bermaksud agar warga negara terutama yang menempuh pendidikan formal memiliki keterampilan berbahasa lisan maupun tulis, juga diharapkan memiliki jati diri yang ajeg serta memiliki sikap bahasa Indonesia yang baik sebagai wujud kebanggaan bahasa (language pride). Penelitian ini didasarkan pada kajian sikap bahasa, terutama kebanggaan mahasiswa terhadap bahasa Indonesia. Dengan metode observasi dan wawancara permulaan secara langsung penulis memeroleh data sementara berupa respon mahasiswa mengenai kebanggaan bahasa (languagepride) terhadap bahasa Indonesia perlu dikaji lebih mendalam. Hal ini disebabkan berbagai alasan yang terungkap dari jawaban sementara mahasiswa Polibisnis Purwakarta. Penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui bagaimana sikap bahasa terutama kebanggaan mahasiswa Polibisnis Purwakarta terhadap bahasa Indonesia. Untuk menjaring data tentang sikap bangga bahasa terhadap bahasa Indonesia tersebut, penulis mengimplementasikan kriteria penilaian sikap kebanggaan terhadap bahasa Indonesia dengan menggunakan beberapa pertanyaan tidak terstruktur untuk dijawab oleh mahasiswa Polibisnis Purwakarta. Pernyataan-pernyataan tersebut diharapkan dapat melihat kecenderungan mahasiswa menampakkan sikap bahasanya terutama kebanggaannya terhadap bahasa Indonesia. Harapannya, sikap bahasa terutama kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia yang baik hadir dalam diri mahasiswa secara sadar dan penuh cinta sehingga kasus hilangnya bahasa seperti di Irlandia tidak terjadi di Indonesia
PENERAPAN TEKNIK “PASAR” DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Penelitian ini berawal dari pengamatan peneliti terhadap respon dan minat mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Hasil angket atau kuesioner menyebutkan bahwa pengajaran dosen yang konvensional menjadi faktor utama mahasiswa kurang menyukai pembelajaran bahasa Indonesia. Di samping itu, materi yang kurang menarik atau tidak penting juga menjadi faktor pelengkap kurangnya kesadaran atau minat mahasiswa dalam menyikapi pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan demikian, perlu adanya intervensi berupa suatu teknik agar pembelajaran bahasa Indonesia dapat menyenangkan dan efektif.Adapun tujuan penelitian dari penerapan teknik “pasar” adalah untuk meningkatkan kemandirian, kecerdasan emosional, aspek kognitif, saling ketergantungan, multi sensasi, kesenangan, dan artikulasi. Sedangkan elemen yang diperoleh dalam aktivitas pembelajaran yaitu berupa kerja individu/kelompok, keterampilan berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, dan melihat.Peneliti menggunakan metode penyelidikan (inquiry learning) dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Hasil data kuantitatif dan deskriptif dapat menjelaskan sintaks pembelajaran secara rinci. Dengan demikian berdasarkan hasil analisis data, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan teknik “pasar” efektif dalam meningkatkan tidak hanya minat, tetapi kreativitas mahasiswa untuk menentukan suatu pendekatan sampai media pembelajaran yang akan digunakan di kelas
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMBAWAKAN ACARA DI KELAS VIII A SMP NEGERI 2 GARAWANGI
Proses Pembelajaran berbicara secara realita sangat memprihatinkan karena masih banyak siswa yang pemalu, tidak berani tampil dan tidak percaya diri, padahal dilihar secara sepintas siswa tersebut mampu berbicara dengan suara nyaring namun bila disuruh maju untuk tampil mereka tidak berani, dari satu kelas yang berjumlah 30 orang yang memberanikan diri untuk tampil membawakan acara hanya 25 % atau 8 orang.Berdasarkan pernyataan diatas, maka penulis berusaha dan berpikir mencari solusi pemecahannya untuk mengatasi masalah tersebut. Penulis melakukan penelitian yang dilakukan di kelas VIII A dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran  Demonstrasi Untuk meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Membawakan  Acara di Kelas VIII A SMP Negeri 2 Garawangi†Tahun Pelajara2013/2014.Dari data yang berupa angket diperoleh gambaran, bahwa pada umumnya siswa senang dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia yang bervariasi, sehingga mereka tidak lagi malu dan berani tampil didepan umum untuk membawakan acara.Sesuai dengan tujuan yang dirumuskan, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa berbicara dalam membawakan acara dan ternyata setelah dilakukan penelitian dapat dilihat dari data yang akurat terbukti dari perkembangan siklus pertama, siklus kedua dan siklus ketiga meningkat dari 25 %, 60 % sampai 100 %.Hasil akhir dari penelitian ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa, Penerapan Model Pembelajaran Demonstrasi dalam pembelajaran membawakan acara sangat tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara
Bahasa Indonesia Telah Diproklamasikan Sebagai Bahasa Internasional
Hampir empat tahun telah berlalu dan gema nyaring proklamasi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional tetap saja sayup-sayup meskipun diyakini seperti yang diamanatkan di dalam Proklamasi Bahasa – KBI X itu sendiri, semua berjalan secara alami menuju ke sebuah tujuan yang sebenarnya tidak tepat juga dikatakan tujuan karena tujuan itu telah dicapai dan bersama-sama dengan tujuan itulah semua berjalan sekarang ini. Makalah singkat berikut ini mencoba mencatat semua latar belakang peristiwa sederhana yang melatarbelakangi diproklamirkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional, yang versi digitalnya diunggah melalui Facebook, sedangkan versi tertulisnya dimuat di dalam harian Tribunnews yang terbit di Kalimantan
BAHASA INDONESIA MENUJU BAHASA INTERNASIONAL
Dalam perikehidupan masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tata ekonomi dan politik. Di bidang ekonomi, misalnya, telah terjadi perubahan dalam sistem perdagangan dari perdagangan tradisional ke perdagangan bebas, dari sistem tawar ke sistem harga mati. Situasi itu telah merambah ke kota-kota kecil di Tanah Air. Bahkan, sistem itu telah merambah ke perdagangan eceran (kecil), seperti pasar-pasar/toko kecil (mini market) dan kios-kios barang dan minuman. Selain hilangnya budaya tawar, ada fenomena baru sedang mewabah seolah menandai kelas sosial masyarakat, yaitu belanja secara daring (online), belanja tak perlu keluar rumah cukup memesan secara daring dan barang diantar ke rumah. Kondisi itu mendatangkan pengusaha besar memasuki area perdagangan tradisional, bahkan sejumlah pengusaha besar dari luar Indonesia mendekati pasar-pasar tradisional. Sistem perdagangan pun telah berubah diawali dengan Tata Ekonomi Eropa dan perkembangan di kawasan Asia Tenggara. Kawasan Asia Tenggara ini telah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kondisi itu telah menempatkan bahasa asing pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan memengaruhi perkembangan bahasa di kawasan negara-negara ASEAN, seperti bahasa Indonesia (Sugono, 2014). Keadaan itu telah membawa perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat dalam bertindak dan berbahasa, khususnya di Indonesia. Misalnya, rasa kebersamaan telah tergeserkan oleh individualisme; interaksi sosial di tempat umum telah kehilangan ruang, seperti pusat belanja yang disebut pasar dahulu menjadi tempat interaksi sosial warga masyarakat. Kini tempat itu telah berganti pasar modern (swalayan) yang tidak memberi peluang terjadinya interaksi sosial, bahkan antara pembeli dan penjual, apalagi dengan pemilik barang dagangan, tidak ada percakapan. Gejala tersebut merupakan indikasi bahwa ruang gerak penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan mengalami pergeseran. Sebaliknya, penggunaan bahasa asing makin memperoleh tempat dalam tatanan kehidupan masa kini
SISTEM SAPAAN KERABAT KERATON SURAKARTA HADININGRAT
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan sistem sapaan yang sering digunakan oleh masyarakat Keraton Surakarta Hadiningrat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode simak, libat, cakap, rekam, dan catat. Analisis data dalam penelitian ini secara deskriptif dengan menggunakan analisis isi. Hasil dari wawancara dikodifikasikan kemudian dimasukan kedalam instrumen penelitian dan dianalisis. Hasil penelitian menunjukan dalam sistem sapaan Keraton Surakarta Hadiningrat terdapat sepuluh kriteria yang bisa digunakan untuk menyapa, yaitu berdasarkan kekerabatan, berdasarkan keturunan, berdasarkan situasi, berdasarkan status sosial, berdasarkan asal, berdasarkan keintiman, berdasarkan jenis kelamin, berdasarkan status pernikahan, berdasarkan usia, dan berdasarkan gelar. Sistem sapaan yang digunakan kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat diketahui yang paling banyak muncul adalah sapaan yang berdasarkan asal dari kota berjumlah 52 kata atau 7,8% dan yang paling jarang muncul adalah sapaan berdasarkan gelar keagamaan berjumlah 1 kata atau 0,1%
PENGGUNAAN NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL SAADAWI SEBAGAI BAHAN AJAR DALAM PEMBELAJARAN WACANA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PBSI TAHUN AKADEMIK 2017/2018
Bahan ajar merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembelajaran, idealnya seorang pengajar membuat sendiri bahan ajar sesuai dengan materi yang akan diajarkan kepada peserta didik, sehingga mempermudah peserta didik dalam mempelajari materi. Sumber bahan ajar bisa dari buku, modul atau karya sastra misalnya hasil analisis novel karena novel merupakan karya sastra yang sarat makna.Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari tahun lalu yang berjudul Analisis wacana kritis pada novel perempuan di titik nol larya Nawal el saadawi dilihat dari tokoh danperwatakan, konflik serta amanat.Selanjutnya hasil penelitian tersebut diujicobakan sebagai bahan ajar mata kuliah wacana dengan judul penelitian ini Penggunaan Novel Perempuan Di Titik Nol Karyanawal El Saadawi Sebagai Bahan Ajar Dalam Pembelajaran Wacana Pada Mahasiswa Program Studi PBSI Tahun Akademik 2017/2018. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimanakah hasil pembelajaran wacana bahasa Indonesia sebelum penggunaan bahan ajar hasil analisis novel perempuan di titik nol karya nawal el saadawi pada mahasiswa PBSI Uniku tahun ajaran 2017-2018? (2) Bagaimanakah hasil pembelajaran wacana bahasa Indonesia setelah penggunaan bahan ajar hasil analisis novel perempuan di titik nol karya nawal el saadawi pada mahasiswa PBSI Uniku tahun ajaran 2017-2018? (3) Apakah novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal el Saadawi efektif dalam pembeljaran mata kuliah wacana bahasa Indonesia pada mahasiswa PBSI Uniku tahun ajaran 2017-2018? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Ingin mengetahui hasil pembelajaran Wacana bahasa Indonesia sebelum penggunaan bahan ajar hasil analisis novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi pada mahasiswa PBSI Uniku tahun ajaran 2017-2018.(2) Ingin mengetahui hasil pembelajaran wacana bahasa Indonesia setelah penggunaan bahan ajar hasil analisis novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi pada mahasiswa PBSI Uniku tahun ajaran 2017-2018.(3) Ingin mengethui efektifitas penggunaan bahan ajar hasil analisis novel perempuan di titik nol karya nawal el saadawi pada mahasiswa PBSI Uniku tahun ajaran 2017-2018. Hipotesispenelitian ini adalah penggunaan novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal el Saadwi sebagai bahan ajar mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia pada mahasiswa prodi PBSI tahun ajaran 2017/2018 efektif digunakan dalam pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu (1) Hasil pembelajaran wacana sebelum menggunakan novel Perempuan Dititik Nol sebagai bahan ajar rata-ratanya adalah 64,29.(2) Hasil pembelajaran wacana sesudah menggunakan novel Perempuan Dititik Nol sebagai bahan ajar rata-ratanya adalah 75,96. (3) Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar analisis wacana yang cukup signifikan antara sebelum dan sesudah menggunakan Novel Perempuan Dititik Nol sebagai bahan ajar. Hal ini menunjukkan bahwa novel Perempuan Dititik Nol efektif digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran tersebut
PERBANDINGAN SK DAN KD PADA STANDAR ISI KURIKULUM 2006 DENGAN KI DAN KD PADA STANDAR ISI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SMP KELAS IX DILIHAT DARI TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN, CAKUPAN ILMU KETERAMPILAN BERBAHASA, ILMU KEBAHASAAN, DAN ILMU KESASTRAAN
Penelitian ini merupakan sebuah perbandingan hasil analisis isi SK dan KD dengan KI dan KD. Rumusan Masalah:1)bagaimanakah Taksonomi Tujuan Pembelajaran dalam SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas IX?; 2) bagaimanakah Taksonomi Tujuan Pembelajaran dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas IX?; 3) bagaimanakah perbandingan Taksonomi Tujuan Pembelajaran dalam SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX?; 4) bagaimanakah cakupan ilmu keterampilan berbahasa dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa IndonesiaSMP Kelas IX?; 5) bagaimanakah perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX dilihat dari cakupan ilmu keterampilan berbahasa?; 6) bagaimanakah cakupan ilmu kebahasaan dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa IndonesiaSMP Kelas IX?; 7) bagaimanakah perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan?; 8) bagaimanakah cakupan ilmu kesastraan dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa IndonesiaSMP Kelas IX?; 9) bagaimanakah perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX dilihat dari cakupan ilmu kesastraan?Tujuan Penelitian: 1) ingin mengetahui Taksonomi Tujuan Pembelajaran dalam SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas IX; 2) ingin mengetahui Taksonomi Tujuan Pembelajaran dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas IX;3) ingin mengetahui perbandingan Taksonomi Tujuan Pembelajaran dalam SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX;4) ingin mengetahui cakupan ilmu keterampilan berbahasa dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa IndonesiaSMP Kelas IX;5) ingin mengetahui perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX dilihat dari cakupan ilmu keterampilan berbahasa;6) ingin mengetahui cakupan ilmu kebahasaan dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa IndonesiaSMP Kelas IX;7) ingin mengetahui perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan;8) ingin mengetahui cakupan ilmu kesastraan dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa IndonesiaSMP Kelas IX; 9) ingin mengetahui perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX dilihat dari cakupan ilmu kesastraan.Metode: deskriptif kualitatif. Simpulan: 1) taksonomi tujuan pembelajaran dalamSK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas IX adalah siswa lebih ditekankan dalam ranah kognitif memahami, selanjutnyapsikomotor organisisi, dan afektif menghayati nilai; 2) taksonomi tujuan pembelajaran dalam KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas IX adalah siswa lebih ditekankan dalam ranah kognitif memahami, selanjutnyaafektif menghayati nilai, dan psikomotor persepsi; 3) perbandingan taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD kurikulum 2006 dengan KI dan KD kurikulum 2013 adalah SK dan KD kurikulum 2006 urutannya kognitif memahami, psikomotor organisisi, afektif menghayati nilai, KI dan KD kurikulum 2013 urutannya kognitif memahami, afektif menghayati nilai, psikomotor persepsi;4) cakupan ilmu keterampilan berbahasa dalam KI dan KD kurikulum 2013 yang paling banyak dipelajari adalah menulis, selanjutnya berbicara, menyimak, membaca;5) perbandingan SK dan KD kurikulum 2006 dengan KI dan KD kurikulum 2013 dilihat dari cakupan ilmu keterampilan berbahasa adalah SK dan KD kurikulum 2006 berbicara, menulis, membaca, menyimak, sedangkan KI dan KD kurikulum 2013 menulis, berbicara, menyimak, membaca;6) cakupan ilmu kebahasaan dalam KI dan KD kurikulum 2013 yang paling banyak dipelajari adalah semantik, selanjutnya sintaksis, fonologi, morfologi;7) perbandingan SK dan KD kurikulum 2006 dengan KI dan KD kurikulum 2013 dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan adalah SK dan KD kurikulum 2006 urutannya sintaksis, fonologi, semantik, morfologi, sedangkan KI dan KD kurikulum 2013 urutannya semantik, sintaksis, fonologi, morfologi;8) cakupan ilmu kesastraan dalam KI dan KD kurikulum 2013 yang paling banyak dipelajari adalah prosa fiksi dan drama, selanjutnya puisi; 9) perbandingan SK dan KD kurikulum 2006 dengan KI dan KD kurikulum 2013 dilihat dari cakupan ilmu kesastraan adalah SK dan KD kurikulum 2006 urutannya prosa fiksi, drama, puisi, sedangkan KI dan KD kurikulum 2013 urutannya prosa fiksi dan drama, selanjutnya puisi.Kata kunci: perbandingan, kurikulum 2006, kurikulum 2013
ANALISIS KESALAHAN BAHASA DAN MAKNA BAHASA PADA SPANDUK DI SEPANJANG JALAN SILIWANGI KABUPATEN KUNINGAN PERIODE FEBRUARI 2015
ABSTRAK Â Judul penelitian ini adalah Analisis Kesalahan Bahasa dan Makna Bahasa pada Spanduk di Sepanjang Jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan Periode Februari 2015. Rumusan Masalah: 1) bagaimana kesalahan bahasa yang terdapat dalam spanduk di sepanjang jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan periode Februari 2015?; 2) bagaimana makna bahasa yang terdapat dalam spanduk di sepanjang jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan periode Februari 2015?; 3) termasuk kedalam jenis makna apa sajakah bahasa yang ada dalam spanduk di sepanjang jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan periode Februari 2015? Metode: deskripsi kualitiatif. Simpulan: 1) jumlah kesuluruhan kesalahan berbahasa sebanyak 13 kesalahan, kesalahan penggunaan EYD berjumlah 6, dan kalimat berjumlah 7 yang muncul pada spanduk di sepanjang jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan; 2) analisis makna bahasa yang terdapat dalam spanduk di sepanjang jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan periode Februari 2015 merupakan analisis makna dan tulisannya yang terdapat dalam spanduk; 3) jenis makna yang terdapat dalam pada spanduk di sepanjang jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan adalah makna leksikal dan gramatikal.Kata Kunci : Analisis, Kesalahan Bahasa, Makna Bahasa, dan Spandu