JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi
Not a member yet
227 research outputs found
Sort by
Pengaruh Parent Involvement dan Academic Self-Concept Terhadap School Engagement Dalam Situasi Pandemi Covid-19 Pada Siswa SMK “X” Di Kota Bandung
The purpose of this study was to see the influence of parent involvement and academic self-concept on school engagement among students at SMK "X" Bandung. This research was conducted to look at parent involvement and academic self-concept on school engagement in class X – XII students at SMKN "X" Bandung City. This study refers to the theory of parent involvement, academic self-concept as the independent variable, and school engagement as the dependent variable. The researcher gave parent involvement, academic self-concept, and school engagement questionnaires to the students of SMK "X" Bandung. The research methodology is multiple regression quantitative method with a total sample of 368 students taken randomly at each grade level. Data processing uses the SPSS 22 technique. The results show that there is an effect of parent involvement on school engagement, there is an influence of academic self-concept on school engagement, and there is an influence of academic self-concept and parent involvement simultaneously on school engagement in SMK students. X Bandung. The researcher suggests the next researcher to conduct research on high school (non-vocational high school), to see whether the same trend can occur in other high school environments, and to conduct research by adding other variables so that the effects of the various variables can be mapped.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh parent involvement dan academic self-concept terhadap school engagement pada siswa SMK “X” Bandung. Penelitian dilakukan untuk melihat parent involvement dan academic self-concept terhadap school engagement pada siswa kelas X – XII SMKN “X” Kota Bandung. Penelitian ini mengacu pada teori parent involvement, academic self-concept sebagai variabel bebas, dan school engagement sebagai variabel terikat. Peneliti memberikan kuesioner parent involvement, academic self-concept, dan school engagementkepada siswa siswi SMK “X” Bandung. Metodologi penelitian ini yaitu metode kuantitatif regresi berganda dengan jumlah sampel sebanyak 368 siswa yang diambil secara random di tiap jenjang kelas. Pengolahan data menggunakan teknis SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari parent involvement terhadap school engagement, terdapat pengaruh dari academic self-concept terhadap school engagement, dan terdapat pengaruh dari academic self-concept dan parent involvement secara simultan terhadap school engagement pada siswa SMK X Bandung. Peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian pada SMU (non SMK), untuk melihat apakah kecenderungan yang sama dapat terjadi di lingkungan sekolah menengah atas lain, dan melakukan penelitian dengan menambahkan variabel lain sehingga dapat dipetakan pengaruh antar variable yang lebih beragam
Analisis Faktor Konfirmatori Terhadap Skala Cyberloafing Mahasiswa
The implementation of online distance learning creates a new deviant behaviour in higher education students. There are symptoms of student behaviour who negligent in using the internet for purposes that are not related to learning which is known as cyberloafing. Considering the rapid development of technology, the measurement of student cyberloafing behaviour needs to be developed continuously. Thus, this study aims to develop previous scales related to student cyberloafing to stay up to date.
Based on literature review that discusses the measurement of student cyberloafing, a 20-item scale form created. The data were collected from 506 undergraduate students at a large university in Jakarta who have online distance learning experiences. Data were analysed using Confirmatory Factor Analysis (CFA) with the JASP program. The results of this study indicate that the student cyberloafing scale model is in accordance with the theory where three dimensions are indicated, namely social purpose cyberloafing, academic cyberloafing, dan gaming purpose cyberloafing. The scale has a good fit model based on CFI, TLI, RMSEA, SRMR and GFI.
Keywords: confirmatory factor analysis; cyberloafing; student cyberloafing; student cyberloafing scale
Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh secara daring mengakibatkan munculnya perilaku menyimpang pada mahasiswa. Terdapat gejala perilaku mahasiswa yang lalai dalam menggunakan internet untuk tujuan yang tidak berkaitan dengan pembelajaran yang dikenal dengan istilah cyberloafing. Melihat pesatnya perkembangan teknologi, pengukuran perilaku cyberloafing pada mahasiswa perlu terus dikembangkan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan skala cyberloafing pada mahasiswa agar tetap sesuai dengan kondisi terkini.
Berdasarkan kajian literatur yang membahas tentang pengukuran cyberloafing pada mahasiswa, sebuah skala yang terdiri dari 20 item dibuat. Data dikumpulkan dari 506 mahasiswa program sarjana di Jakarta yang memiliki pengalaman belajar jarak jauh secara daring. Data dianalisis menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan program JASP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model skala cyberloafing pada mahasiswa sesuai dengan teori yang menunjukkan adanya tiga dimensi, yaitu cyberloafing dengan tujuan sosial, cyberloafing dengan tujuan akademis, dan cyberloafing dengan tujuan bermain. Skala ini memiliki model fit yang baik berdasarkan CFI, TLI, RMSEA, SRMR dan GFI.
Kata kunci: analisis faktor konfirmatori; cyberloafing; cyberloafing mahasiswa, skala cyberloafing mahasisw
Pengalaman Pembelajaran Jarak Jauh Mahasiswa : Peran Self-Regulated Online Learning Dan Persepsi Dukungan Sosial Terhadap Motivasi Akademik
College students have higher academic requirements and responsibilities compared to previous education levels. Being academically motivated is very important so that success at college can be achieved. However, remote learning due to COVID-19 pandemic rises new challenges for college students in maintaining their academic motivation level. Previous research has shown that self-regulated learning (SRL) and perceived social support have a significant positive relationship with academic motivation. This study aims to determine the effect of self-regulated online learning (SROL) which is SRL in an online learning environment, as well as perceived social support on the academic motivation of college students who participated in remote learning, either fully online or blended learning between online and offline. A total of 162 undergraduate and postgraduate students were involved in this study. Academic motivation is measured through the Academic Motivation Scale (AMS); SROL is measured through the Self-Regulated Online Learning (SROL) scale; and perceived social support is measured through the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). The results of multiple linear regression analysis indicate that SROL and perceived social support together have a positive and significant effect of 35.9% on academic motivation. Furthermore, SROL was found to make a greater contribution to the academic motivation of college students participating in remote learning compared to perceived social support.Mahasiswa memiliki tuntutan akademik dan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan jenjang-jenjang sebelumnya. Memiliki motivasi akademik menjadi hal yang sangat penting agar kesuksesan saat berkuliah dapat tercapai. Namun adanya PJJ karena pandemi COVID-19 memunculkan tantangan baru bagi mahasiswa dalam mempertahankan motivasi akademiknya. Penelitian terdahulu menunjukkan jika self-regulated learning (SRL) dan persepsi dukungan sosial memiliki hubungan positif yang signifikan dengan motivasi akademik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-regulated online learning (SROL) yang merupakan SRL dalam lingkungan pembelajaran daring, serta persepsi dukungan sosial terhadap motivasi akademik mahasiswa yang berkuliah jarak jauh (PJJ) baik secara daring sepenuhnya maupun campuran antara daring dan luring. Terdapat total 162 mahasiswa S1 dan S2 yang terlibat dalam studi ini. Motivasi akademik diukur melalui Academic Motivation Scale (AMS); SROL diukur melalui skala Self Regulated Online Learning (SROL); dan persepsi dukungan sosial diukur melalui Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan jika SROL dan persepsi dukungan sosial secara bersama- sama memberikan pengaruh positif dan signifikan sebesar 35.9% terhadap motivasi akademik. Lebih lanjut, SROL ditemukan memberikan kontribusi yang lebih besar pada motivasi akademik mahasiswa yang mengikuti PJJ dibandingkan persepsi dukungan sosial
Peran Kecerdasan Emosional Sebagai Mediator antara Mindfulnes dengan Motivasi Akademik Mahasiswa selama PJJ
Academic motivation is an important factor that supports student success in their learning activities. This study aims to examine the role of emotional intelligence as a mediator in the relationship between mindfulness and academic motivation. The participants in this study were 161 undergraduate and postgraduate students doing distance learning. Data collection was carried out by distributing questionnaires online and the sampling technique used was convenience sampling. The measurement tools used are the Academic Motivation Scale (AMS), the Mindful Attention Awareness Scale (MAAS), and the Wong Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS). The data obtained were analyzed quantitatively using the PROCESS v3.5 macro from the model Hayes 4. The results showed that emotional intelligence acts as a mediator in the relationship between mindfulness and academic motivation. Students' awareness of the "here and now" situation makes them more aware of and regulates their emotions so that they are able to increase their academic motivation. Implications and suggestions for further research are discussed further.Motivasi akademik merupakan salah satu faktor penting yang mendukung kesuksesan mahasiswa dalam kegiatan belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kecerdasan emosional sebagai mediator dalam hubungan antara mindfulness dengan motivasi akademik. Partisipan penelitian ini adalah 161 mahasiswa S1 dan S2 yang melakukan pembelajaran jarak jauh. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara daring dan teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Academic Motivation Scale (AMS), Mindful Attention Awareness Scale (MAAS), dan Wong Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS). Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif menggunakan macro PROCESS v3.5 dari model 4 Hayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan sebagai mediator pada hubungan antara mindfulness dengan motivasi akademik. Kesadaran mahasiswa pada keadaan “here and now” membuat mereka lebih dapat menyadari dan meregulasi emosinya sehingga mampu untuk dapat meningkatkan motivasi akademiknya. Implikasi dan saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan lebih lanjut
Catatan Editor: Menavigasi Tantangan dan Menciptakan Peluang, Peran Vital Ilmu Psikologi di Era Kecerdasan Buatan
Catatan editor kali ini mencoba untuk melihat perspektif umum dari peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam ilmu psikologi dan dampaknya terhadap kesehatan mental manusia. Penulis menunjukkan bahwa teknologi AI dapat memengaruhi berbagai aspek perilaku dan kesehatan mental manusia, seperti gangguan tidur, ketergantungan pada teknologi, dan masalah kesehatan mental lainnya. Selain itu, teknologi AI juga dapat memengaruhi pengambilan keputusan manusia dalam berbagai bidang, seperti pada perekrutan karyawan atau penegakan hukum.
Salah satu studi di jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menunjukkan bahwa ketergantungan pada internet dan teknologi dapat menyebabkan gangguan perilaku, seperti obsesi dengan internet, rasa cemas saat tidak menggunakan perangkat digital, dan kehilangan kontrol atas penggunaan teknologi. Studi yang ada menunjukkan bahwa semakin sering seseorang menggunakan teknologi, semakin besar kemungkinan mereka mengalami masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, psikologi harus memahami dampak dari perkembangan teknologi AI terhadap kesehatan mental dan perilaku manusia. Psikologi dapat memainkan peran penting dalam mengatasi tantangan yang dihadapi oleh teknologi AI, seperti mengembangkan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dan mendorong penggunaan teknologi AI yang bertanggung jawab. Artikel ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang peran AI dalam ilmu psikologi dan memotivasi para peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang dampak teknologi AI terhadap kesehatan mental manusia
Pengaruh Cyberbullying terhadap Self-Blaming pada Remaja Pengguna Instagram
Technological developments make it easier for humans to network widely through social media such as Instagram. Active Instagram users in Indonesia are dominated by teenagers. The existence of social media allows cyberbullying to occur, which is an act of bullying via the internet that can trigger victims to blame themselves. The purpose of this study was to determine the effect of cyberbullying on adolescents who experience self-blaming via Instagram. The method used in this study is quantitative with a non-experimental regression approach. The data collection technique was carried out using an instrument in the form of a Likert scale, while the data collection method was through a questionnaire filled out via the Google form. Participants in this study were young Instagram users aged 18-22 years. Based on the results of the simple regression test that has been carried out by researchers, it can be concluded that cyberbullying has a significant effect on self-blaming. After conducting this research, it is hoped that further researchers can intervene through education on social media such as distributing e-flyers related to cyberbullying behavior so that they can suppress cyberbullying actions that occur on social media.Perkembangan teknologi mempermudah manusia untuk berjejaring secara luas melalui media sosial seperti Instagram. Pengguna aktif Instagram di Indonesia didominasi oleh para remaja. Keberadaan media sosial tersebut memungkinkan terjadinya cyberbullying, yaitu sebuah tindakan perundungan melalui internet yang dapat memicu korban untuk menyalahkan dirinya sendiri. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui pengaruh cyberbullying terhadap remaja yang mengalami self-blaming melalui Instagram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan regresi non eksperimental. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan instrumen berupa Likert scale, sedangkan metode pengambilan data melalui kuesioner yang diisi melalui google form. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja pengguna Instagram yang berusia 18-22 tahun. Berdasarkan hasil uji regresi sederhana yang telah dilakukan peneliti, dapat disimpulkan bahwa cyberbullying memiliki pengaruh yang signifikan terhadap self-blaming. Setelah dilakukan penelitian ini, diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan intervensi melalui edukasi di media sosial seperti menyebarkan e-flyer terkait perilaku cyberbullying sehingga dapat menekan tindakan cyberbullying yang terjadi di media sosial
Faktor Struktural Social Appearance Anxiety Scale
Abstract
This study aimed to adopt social appearance anxiety scale developed by Hart (2008). This study showed the instrument fit for Indonesian adolenscent. Analysis used to show structure factor of social appearance anxiety. Research respondent were 100 adolenscent in Yogyakarta. The result showed p-value = 0,63 ( >0,5). While from RMSEA and TLI showed fit model.
keywords: social appearance anxiety, structure factorAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi alat ukur social appearance anxiety yang disusun oleh Hart (2008). Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah alat ukur cocok untuk remaja di Indonesia. Analisis digunakan untuk melihat faktor struktur dari social appearance anxiety. Sebanyak 100 orang remaja menjadi sampel pada penelitian ini. Hasil penelitian menyatakan bahwa alat ukur ini fit dapat digunakan pada remaja di Indonesia. Hasil tersebut ditunjukkan dari nilai p-value 0,63 (>0,5). Sementara hasil analisis dari RMSEA, dan TLI angka yang diperoleh menunjukkan model fit.
Kata kunci: kecemasan penampilan sosial, struktur faktor
 
Pengembangan dan Pengujian Validitas Skala Perilaku Mengemudi Berbahasa Indonesia
In 2018, the discourse on creating a psychological test to apply for a driver's license in Indonesia was sounded, but creating the right instrument for a psychological test is not easy. In 2022 scientifically, there is one instrument for the psychological assessment process, but from a psychometric perspective, it still has many weaknesses. Therefore, this research aims to develop a psychological test that meets the elements of good validity and reliability. This study uses the factor analysis method of scale development design. The participants in this study were 323 participants from various cities in Indonesia who voluntarily participated in a series of activities obtained by purposive sampling technique. By testing the content validity with Aiken and construct validity with confirmatory factor analysis, the study found that 24 of the 30 items developed on the Driving Behavior Scale were valid and very reliable. This research implies that the Driving Behavior Scale is suitable as a psychological test for making a driver's license
Evaluation of Psychometric Characteristics of A Logical Reasoning Tool With The Classic Test Theory Approach
Research on logical reasoning began to be carried out in Indonesia, it is necessary to conduct an evaluation of the psychometric characteristics possessed by logical reasoning measurement tools made by researchers. Logical reasoning measurement tools made by researchers need to be re-evaluated considering there are weaknesses in terms of using a relatively small number of subjects, so that it can affect the standardization of logical reasoning measuring devices. This study aims to obtain an overview of item difficulty index, item discrimination index, effectiveness of the distractors, validity, reliability, and error measurement from the logical reasoning measurement tool. Respondents in this study amounted to 7.730 students, consisting of 3.897 men and 3.833 women with an age range of 15-19 years. The research data were analyzed with the help of Microsoft Excel 2007, SPSS version 22.00, and ITEMAN version 3.6. The results of this study indicate that the item difficulty index moves from 0.35 to 0.80 which belongs to the easy and medium category. This study also shows that the item discrimination index moves from 0.10 to 0.71 with four items rejected and need to be aborted. This study also shows that the effectiveness of the distractors contained in each item in the logical reasoning measure is in the effective category. This study also shows that each item in the logical reasoning measure is considered valid in terms of factorial validity through exploratory factor analysis (EFA) procedures. This study also shows that the measurement of logical reasoning is relatively reliable with a Cronbach Alpha coefficient of 0.906. This study also shows that the measurement error obtained in this study is ± 3.92 of the total score obtained using a logical reasoning measure with a confidence level of 95%, with the actual score estimate obtained by respondents moving from 12.08 to 19.92, if the scores obtained by respondents sixteen.Penelitian tentang penalaran logis mulai banyak dilakukan di Indonesia, maka perlu untuk melakukan evaluasi mengenai karakteristik psikometrik yang dimiliki oleh alat ukur penalaran logis yang dibuat oleh peneliti. Alat ukur penalaran logis yang dibuat oleh peneliti perlu dievaluasi kembali mengingat terdapat kelemahan dari segi penggunaan jumlah subjek yang relatif sedikit, sehingga dapat mempengaruhi standarisasi pada alat ukur penalaran logis. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran indeks kesukaran item, daya diskriminasi item, efektivitas distraktor, validitas, reliabilitas, dan kesalahan pengukuran dari alat ukur penalaran logis. Responden dalam penelitian ini berjumlah 7.730 siswa, yang terdiri atas 3.897 laki-laki dan 3.833 perempuan dengan rentang usia 15-19 tahun. Data penelitian dianalisis dengan bantuan program Microsoft Excel 2007, SPSS versi 22.00, dan ITEMAN versi 3.6. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks kesukaran item bergerak dari 0,35 sampai 0,80 yang tergolong pada kategori mudah dan sedang. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa daya diskriminasi item bergerak dari 0,10 sampai 0,71 dengan empat item yang ditolak dan perlu digugurkan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa efektivitas distraktor yang terdapat pada setiap item dalam alat ukur penalaran logis berada pada kategori yang efektif. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa setiap item dalam alat ukur penalaran logis tergolong valid ditinjau dari validitas faktorial melalui prosedur exploratory factor analysis (EFA). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa alat ukur penalaran logis tergolong reliabel dengan koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,906. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kesalahan pengukuran yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu ±3,92 dari skor total yang diperoleh menggunakan alat ukur penalaran logis dengan tingkat kepercayaan 95%, dengan estimasi skor yang sebenarnya didapatkan oleh responden bergerak dari nilai 12,08 sampai 19,92, jika skor yang diperoleh oleh responden sebesar enam belas
Menelaah Learning Loss Selama Emergency Remote Teaching di Indonesia
The emergence of the Covid 19 Pandemic in March 2020 in Indonesia meant that education implementation regulations needed adjustments to protect education implementers from this infectious virus. The government has determined Distance Learning (PJJ) as the new learning regulation and is most likely to be implemented. Transforming learning activities from face-to-face to PJJ should require careful preparation and adequate training. However, due to its emergency nature and not much time available, preparations were not carried out as planned. The urgent transition to online teaching as a response to the COVID 19 pandemic is referred to as emergency remote teaching (ERT). Emergency Remote Teaching is a distance teaching method applied by educational institutions in crisis situations because face-to-face learning is not possible. The transition from face-to-face learning to ERT has caused a number of new problems to emerge in the world of education. With several obstacles and problems found, learning during the ERT period recorded at least a third of the school year lost. This situation could potentially lead to a decline in academic knowledge and skills which could cause learning loss. Learning loss will continue to impact and accumulate even until students return to face-to-face learning. School closures due to the Covid-19 pandemic and increasing the risk of learning loss can also have a significant impact on the risk of decreasing happinessKemunculan Pandemi Covid 19 pada Maret 2020 di Indonesia, membuat regulasi pelaksanaan Pendidikan perlu penyesuaian untuk melindungi pelaksana Pendidikan dari virus menular tersebut. Pemerintah menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai regulasi pembelajaran yang baru dan paling memungkinkan untuk diterapkan. Mentransformasikan kegiatan belajar dari tatap muka ke dalam PJJ seharusnya membutuhkan persiapan yang matang dan pelatihan yang memadai. Namun karena sifatnya yang darurat dan tidak banyak waktu yang tersedia, persiapanpun tidak dilaksanakan seadanya. Peralihan yang bersifat mendesak ke pengajaran daring sebagai respon terhadap pandemi COVID 19 disebut sebagai emergency remote teaching (ERT). Emergency Remote Teaching adalah metode pengajaran jarak jauh yang diterapkan oleh institusi pendidikan dalam situasi krisis karena tidak memungkinkan dilaksanakan pembelajaran secara tatap muka. Transisi perubahan pembelajaran tatap muka menjadi ERT menyebabkan sejumlah permasalahan baru yang muncul dalam dunia Pendidikan. Dengan sejumlah kendala dan permasalahan yang ditemukan, pembelajaran di masa ERT mencatat setidaknya kehilangan sepertiga tahun sekolah. Situasi ini dapat berpotensi pada penurunan pengetahuan dan keterampilan akademik yang dapat menyebabkan learning loss. Learning loss akan terus berdampak dan mengakumulasi bahkan hingga peserta didik kembali belajar secara tatap muka. Penutupan sekolah sekolah akibat Pendemi covid 19 dan meningkatkan risiko learning loss dapat berdampak signifikan pula pada risiko menurunnya kebahagiaa