JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi
Not a member yet
    227 research outputs found

    Influence of Adult Attachment on Mental Well-being in Young Adults

    Full text link
    Mental health problems in young adults continue to increase in Indonesia, especially problems related to relationships with others. This study aims to examine the effect of adult attachment on mental well-being in young adults. Data collection was conducted in the form of a survey using the Adult Attachment Style Questionnaire and The Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale. Participants in this study were 302 people aged 18 to 40 years who lived in Jabodetabek. The data analysis used multiple linear regression. The results of this study indicate that overall attachment style has a significant effect on mental well-being. Secure attachment (χ²(1) = 272.02, p <.001) and dismissing attachment (χ²(1) = 15.08, p <.001) both significantly contributed to predicting mental well-being, while fearful attachment (χ²(1) = 11.37, p = .001) and preoccupied attachment (χ²(1) = 4.58, p = .032) had a significant negative influence on mental well-being. These findings will provide implications for improving the mental well-being of young adults by considering their attachments in adulthood and can be a reference for professionals to develop psychological interventions for mental well-being.Permasalahan kesehatan mental pada dewasa muda masih terus meningkat di Indonesia, terutama permasalahan yang berkaitan dengan hubungan dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kelekatan orang dewasa terhadap kesejahteran mental pada dewasa muda. Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk survei dengan menggunakan Instrumen Adult Attachment Style Questionnaire dan The Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale. Partisipan dalam penelitian ini adalah 302 orang dengan rentang usia 18 hingga 40 tahun yang berdomisili di Jabodetabek. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keseluruhan attachment style memiliki pengaruh signifikan terhadap mental well-being. Secure attachment (χ²(1) = 272.02, p <.001) dan dismissing attachment (χ²(1) = 15.08, p <.001) keduanya secara signifikan berkontribusi dalam memprediksi mental well-being, sedangkan fearful Attachment (χ²(1) = 11.37, p = .001) dan preoccupied attachment (χ²(1) = 4.58, p = .032) memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap mental well-being. Temuan ini akan memberikan implikasi untuk meningkatkan mental well-being orang dewasa muda dengan mempertimbangkan keterikatan mereka pada masa dewasa, dan dapat menjadi referensi bagi para Profesional untuk mengembangkan intervensi psikologis untuk mental well-being

    Peristiwa Kerusuhan Mei 1998: Sebuah Gambaran Pengampunan Para Korban

    Full text link
    More than two decades have passed, and the events of the May 1998 riots have left trauma and fear in the victims up until this day. One of the consequences is there is a shifting view and behavior between Chinese Indonesians and Pribumi (Indigenous) community. Based on previous research, it was found that forgiveness could increase individual prosocial tendencies and be able to cope with trauma, especially in cases of racial violence trauma. Therefore, this research was conducted to find out about the forgiveness of the direct victims of the May 1998 riots. This study used a phenomenological approach with thematic analysis, with data collection methods in the form of interviews with three participants who were victims of the May 1998 riots. The data obtained from the interviews were then processed using the thematic analysis method. From the results of the study, it was found that the three participants had the determination to forgive the perpetrators and not to blame the Indigenous ethnicity for the riots that occurred, even though there were still shifting in the feelings and behavior of the Chinese ethnic towards the PribumiIndonesians as a result of the May 1998 riots.Walau telah berlalu lebih dari dua dekade, peristiwa kerusuhan Mei 1998 meninggalkan trauma dan ketakutan pada para korbannya hingga saat ini. Salah satu konsekuensinya ialah perubahan pandangan dan perilaku etnis Tionghoa dalam berelasi dengan etnis Pribumi. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa pengampunan dapat meningkatkan kecenderungan prososial individu serta mampu menanggulangi trauma, khususnya pada kasus trauma kekerasan rasial. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pengampunan pada para korban langsung kerusuhan Mei 1998, mengingat pentingnya relasi yang baik antar etnis di negara Indonesia yang memiliki beragam etnis. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan analisa tematik, dengan metode pengumpulan data berupa wawancara terhadap tiga orang partisipan yang merupakan korban pada kerusuhan Mei 1998. Data yang didapat pada wawancara lalu diolah dengan menggunakan metode analisa tematik. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa ketiga partisipan memiliki tekad untuk mengampuni para pelaku dan tidak menyalahkan etnis Pribumi atas kerusuhan yang terjadi, meskipun masih terdapat perubahan perasaan dan perilaku dari etnis Tionghoa terhadap etnis Pribumi akibat peristiwa kerusuhan Mei 1998

    Peningkatan Kejujuran Akademik pada Mahasiswa melalui Pelatihan Pendidikan Anti Korupsi

    No full text
    Students may indeed be seen as not committing acts of corruption at all with state funds, but the violations they commit are irresponsibility for what has been entrusted to them, especially in an academic context. If positioned equally, conditions like this have the potential to cause students to commit the same acts of corruption as public officials. Based on this problem, a special intervention or treatment is needed to improve student academic honesty, one of which is anti-corruption education training. This research aims to see how effective anti-corruption education training is in improving academic honesty in students. The research method used was an experiment with the target subjects being 22 active students of the Psychology Study Program Unjani Yogyakarta. The experimental design used in this research is One Group Pretest Posttest Design, where there is only 1 group of subjects, namely the experimental group. Based on the results of data analysis through the paired sample t test, a significance value of 0.000 was obtained (p < 0.05). This means that there is a very significant difference before and after the anti-corruption education training given to the training participants.Mahasiswa mungkin memang dilihat tidak sama sekali melakukan tindak korupsi terhadap uang negara, namun pelanggaran yang mereka lakukan adalah tidak bertanggungjawab atas apa yang telah diamanahkan kepadanya terutama dalam konteks akademik. Apabila diposisikan secara setara, maka kondisi seperti ini sangat berpotensi membuat mahasiswa untuk melakukan tindak korupsi yang sama dengan pejabat publik. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka diperlukan sebuah intervensi atau tritmen khusus untuk meningkatkan kejujuran akademik mahasiswa, salah satunya dengan pelatihan pendidikan anti korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa efektif pelatihan pendidikan anti korupsi dalam meningkatkan kejujuran akademik pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan sasaran subjek 22 orang mahasiswa aktif Prodi Psikologi Unjani Yogyakarta. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest Posttest Design, dimana hanya ada 1 kelompok subjek saja yaitu kelompok eksperimen. Berdasarkan hasil analisis data melalui uji Paired sample t test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Artinya ada perbedaan yang sangat signifikan sebelum dan sesudah pelatihan pendidikan anti korupsi diberikan kepada peserta pelatihan

    Long Term Mnemonic: Keefektifan Teknik Keyword Mnemonic untuk Meningkatkan Memori Jangka Panjang Kosakata Bahasa Inggris

    Full text link
    The Psychology Major at X University uses a lot of English references. Learning effectiveness is reduced for students with poor understanding of English. Understanding a language is related to long-term memory, the system responsible for storing various information for a long time. Mnemonic techniques can be used to organizing memory. This study aims to determine whether the mnemonic method can help students to improve long term memory in mastering English vocabulary. Participants are active students of the Psychology Major at X University, aged 18-22 years. The division of participants into the experimental and control group was carried out by random assignment. The instrument used a module containing 35 English vocabularies, the mnemonic was given to the experimental group module. Posttest in this study used 20 multiple choice questions. Each correct answer is given a score of 5 and wrong is 0. This study shows that there is no significant difference (t = 0.97, Sig. = 0.17) between the experimental group (mean = 69.18, SD = 7.07) with the control group (mean = 59.23, SD = 7.36). So, it can be concluded that the mnemonic technique does not make a significant difference in learning English vocabularyProdi Psikologi Universitas X banyak menggunakan referensi utama berbahasa Inggris. Keefektifan belajar menjadi berkurang bagi mahasiswa dengan pemahaman bahasa Inggris yang kurang. Pemahaman suatu bahasa terkait dengan memori jangka panjang, yaitu sistem penanggung jawab pada penyimpanan berbagai informasi untuk jangka waktu yang panjang. Untuk membantu seseorang dalam mengorganisasikan memori, seseorang dapat menggunakan teknik mnemonic. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode mnemonic dapat membantu mahasiswa untuk meningkatkan long term memory dalam menguasai kosakata bahasa Inggris. Partisipan merupakan mahasiswa aktif Prodi Psikologi Universitas X dengan usia 18 - 22 tahun. Pembagian partisipan ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan dengan random assignment dengan randomized blocking. Instrumen yang digunakan adalah modul berisi 35 kosakata bahasa Inggris, mnemonic diberikan pada modul kelompok eksperimen. Posttest pada penelitian ini menggunakan 20 soal pilihan ganda. Setiap jawaban benar diberikan skor 5 dan salah diberikan skor 0, sehingga minimal skor adalah 0 dan maksimal skor adalah 100. Penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan (t= 0.97, Sig.=0.17) antara kelompok eksperimen (mean = 69.18, SD = 7.07) dengan kelompok kontrol (mean = 59.23, SD = 7.36). Maka, dapat disimpulkan bahwa teknik mnemonic memberikan perbedaan signifikan dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris

    Validasi Alat Ukur Frekuensi Photo Manipulation di Indonesia: Perspektif Rasch Model

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat ukur frekuensi photo manipulation atau manipulasi foto dan eksplorasi variabel demografi terhadap frekuensi manipulasi foto. Pengembangan alat ukur ini menggunakan perspektif analisis Rasch Model data politomus dengan partial credit model (PCM). Skala frekuensi manipulasi foto ini memiliki tiga dimensi yaitu photo filters use, body image manipualtion, dan facial image manipulation. Skala frekuensi manipulasi foto pada tahap awal terdiri dari 14 item dengan skala likert 4 opsi jawaban. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari 228 orang dengan rentang usia mulai dari 18 sampai lebih dari 30 tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa asumsi unidimensionalitas, local indepenence, fit statistics dan reliabilitas yang bisa diterima. Setiap threshold berfungsi dengan baik secara monoton ke arah yang diharapkan. Hasil uji differential item function didapatkan item 4 dan item 7 tidak berfungsi dengan baik

    PERAN REGULASI EMOSI TERHADAP PERILAKU MENCARI PERTOLONGAN PADA KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN DI DEWASA AWAL

    No full text
    The stage of early adulthood in human development is to establish romantic relationships with the opposite sex. Therefore, having a romantic relationship is important for individuals at that age. Out of these four types of violence, emotional violence is the one that cannot be seen in real life, and even the victims don't really feel that what they are experiencing is a form of emotional violence. In emotional violence, the perpetrator will play a role by manipulating the victim, so that the victim does not even realize what he is experiencing, but gradually the impact of the violence is felt in everyday life. Meanwhile, the position of victims who are manipulated and unaware of the violence they experience, makes them feel that their perception of the situation they are experiencing is unrealistic, victims usually do not recognize or recognize emotional violence, and they develop coping mechanisms such as denial and minimize the violence they experience. With this condition it is difficult for victims to seek help for what they are experiencing. There are predictors that can influence the behavior of seeking help, including the regulation of the victim's emotions, the intensity of the search for help itself, and so on. In order to seek help from a manipulative, emotionally abusive state, the victim must have trust in others. Conditions that are astonishing and difficult to understand and believe are like victims of natural emotional abuse, forcing them to only want to open up to people they truly trust.Tugas perkembangan manusia dalam tahapan umur dewasa awal adalah untuk menjalin relasi romantis dengan lawan jenisnya. Sehingga menjalin relasi romantis penting untuk dilakukan individu di usia tersebut. Dari keempat jenis kekerasan ini, kekerasan emosional lah yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata, dan bahkan korbannya tidak benar-benar merasakan bahwa yang ia alami adalah sebuah bentuk kekerasan emosional. Dalam kekerasan emosional, pelaku akan memainkan peran dengan cara memanipulasi korban, sehingga korban bahkan tidak menyadari apa yang ia alami, namun lambat laun dampak dari kekerasan tersebut dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu posisi korban yang termanipulasi dan tidak menyadari kekerasan yang dialami, membuat mereka merasa memiliki persepsi mengenai situasi yang dialami tidak realistis, biasanya korban tidak mengakui atau mengenali kekerasan emosional, dan mereka mengembangkan mekanisme coping seperti penyangkalan dan meminimalkan kekerasan mereka alami. Dengan kondisi ini sulit untuk korban mencari pertolongan atas apa yang mereka alami. Terdapat prediktor yang dapat mempengaruhi perilaku mencari pertolongan tersebut antara lain regulasi emosi korban, intensi dari pencarian pertolongan itu sendiri, dan lain sebagainya. Guna mencari bantuan dari kondisi kekerasan emosional yang penuh manipulatif, korban harus memiliki kepercayaan kepada orang lain. Kondisi yang membingungkan dan sulit dipahami dan dipercaya seperti yang korban kekerasan emosional alami, memaksa mereka untuk hanya mau terbuka kepada orang yang benar-benar ia percaya

    Pengembangan Skala Kesiapan Kerja Versi Indonesia pada Karyawan Kontrak

    No full text
    In industries and organizations, there are two types of employees: permanent and contract. Permanent employees have advantages like higher abilities, stronger commitment, job satisfaction, and innovative behavior. On the one hand, many contract employees in Indonesia insist on being permanent employees. However, in reality, institutions in Indonesia need help in converting their contract employees into permanent employees. Considerations of commitment and the costs involved, as well as doubts about the readiness of contract employees to work, become issues in this matter. There is a need for proper selection to assess the readiness of employees to predict their capabilities in work. Therefore, this study aims to develop a work readiness measurement tool suitable for Indonesia. Using a quantitative method, the development of this measurement tool involves five stages: conceptualization, construction, testing, item analysis, and measurement tool revision. The participants involved in the study were 320 contract employees, resulting in a 24-item Work Readiness Scale. The coefficient α of the Work Readiness Scale for the 24 items was 0.864, while this measurement tool's goodness of fit analysis yielded CFI 0.95, RMSEA 0.06, IFI 0.95, and NFI 0.90. In conclusion, this measurement tool is generally reliable and valid.    Sebagai bagian penting dari industri dan organisasi, terdapat dua jenis karyawan yakni karyawan tetap dan kontrak. Karyawan tetap memiliki kelebihan dari karyawan kontrak misalnya dalam hal kemampuan, komitmen, kepuasan kerja, dan perilaku inovatif yang lebih tinggi. Di satu sisi, banyak karyawan kontrak di Indonesia menuntut dijadikan karyawan tetap. Akan tetapi, pada kenyataannya, instansi di Indonesia memiliki kesulitan untuk mengangkat karyawan kontraknya menjadi karyawan tetap. Pertimbangan akan komitmen serta biaya yang harus dikeluarkan, serta keraguan instansi akan kesiapan bekerja dari para karyawan kontraknya menjadi masalah dalam hal ini. Perlu adanya seleksi tepat untuk mengukur kesiapan bekerja karyawannya agar dapat memprediksi kemampuan seseorang dalam bekerja. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan alat ukur work readiness yang sesuai dengan Indonesia. Dengan menggunakan metode kuantitatif, pengembangan alat ukur ini terdapat lima tahap, yaitu konseptualisasi, konstruksi, uji coba, analisis item, dan revisi alat ukur. Partisipan yang terlibat sebanyak 320 karyawan kontrak, sehingga dihasilkan alat ukur Work Readiness 24 Item. Hasil koefisien α Work Readiness Scale dari 24 item adalah sebesar 0.864, sedangkan analisis goodness of fit dari alat ukur ini ialah CFI 0.95, RMSEA 0.06, IFI 0.95, dan NFI 0.90. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa alat ukur ini secara keseluruhan dinilai reliabel dan valid.   &nbsp

    e-LIT: Pengembangan Instrumen Penilaian Literasi Digital bagi Generasi Digital-Native

    Full text link
    Digital literacy is becoming increasingly important in the current era of digitalization, but the level of digital literacy in Indonesia is still low. This research aims to develop and test the psychometric properties of the LD-UAJ Digital Literacy Test as a measure of students' digital literacy abilities. The LD-UAJ test is designed to measure the minimum proficiency in digital technology before entering the workforce. It is an achievement test consisting of 30 multiple-choice questions that measure five dimensions of digital literacy: information and data literacy, communication and collaboration, digital competence, security, and problem-solving.   The development of the LD-UAJ digital literacy test involved two data collection phases with 97 active undergraduate students. Through the convenience sampling technique, 46 participants were involved in the pilot test, and 51 in the field test. In this study, item analysis, validity, and reliability methods were used to evaluate the psychometric properties of the LD-UAJ test. The analysis results show that the LD-UAJ test has good validity in terms of content validity, particularly through expert opinions, and face validity with the participants. The reliability results indicate that the LD-UAJ test is reliable with an omega coefficient of 0.82.   Further research is needed to validate the criterion-related validity as the criteria used during the development did not show a strong relationship with digital literacy. This study also highlights the existing barriers in the development of the LD-UAJ test, such as time limitations, low student interest and participation, and difficulties in obtaining a sufficiently large sample. However, the LD-UAJ test is expected to be a useful measuring tool in evaluating students' level of digital literacy and can help recommend appropriate training to enhance their digital literacy understanding.   Keywords: Literasi digital menjadi semakin penting dalam era digitalisasi saat ini, namun tingkat literasi digital di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji properti psikometri dari Tes Literasi Digital UAJ (tes LD-UAJ) sebagai alat ukur kemampuan literasi digital mahasiswa. Tes LD-UAJ dirancang untuk mengukur kemampuan minimum penguasaan teknologi digital sebelum memasuki dunia kerja. Tes ini merupakan achievement test yang terdiri dari 30 soal pilihan ganda yang mengukur lima dimensi literasi digital, yaitu literasi informasi dan data, komunikasi dan kolaborasi, kompetensi digital, keamanan, dan pemecahan masalah. Tes literasi digital UAJ dalam pengembangannya melibatkan dua kali pengambilan data kepada 97 mahasiswa aktif jenjang S1. Melalui teknik convenience sampling, terdapat 46 partisipan yang terlibat dalam uji coba dan 51 uji lapangan. Dalam penelitian ini, digunakan metode analisis item, validitas, dan reliabilitas untuk mengevaluasi property psikometri tes LD-UAJ. Hasil analisis menunjukkan bahwa tes LD-UAJ memiliki validitas yang baik dalam hal validitas isi, khususnya melalui pendapat ahli dan validitas muka dengan para partisipan. Hasil reliabilitas menunjukkan bahwa tes LD-UAJ reliabel dengan koefisien omega sebesar 0,82. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk melakukan validasi kriteria sebab kriteria yang digunakan saat pengembangan belum menunjukkan hubungan yang kuat dengan literasi digital. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih ada hambatan dalam pengembangan tes LD-UAJ, seperti keterbatasan waktu, rendahnya minat dan partisipasi mahasiswa, serta kesulitan dalam mendapatkan sampel yang cukup besar. Namun, tes LD-UAJ diharapkan dapat menjadi alat ukur yang berguna dalam mengevaluasi tingkat literasi digital mahasiswa dan dapat membantu rekomendasi pelatihan yang sesuai dengan area kemampuan digital mahasiswa sehingga dapat meningkatkan pemahaman literasi digitalnya.   Kata kunci: evaluasi psikometri; internet; teknologi digital; tes LD-UAJ; tes literasi digita

    Pelatihan Mindfulness untuk Mengurangi Burnout pada Guru Inklusi Di PKBM Lentera Fajar Indonesia

    No full text
    Burnout has various impacts in various work professions, especially teachers, interventions carried out to solve stress problems that lead to burnout are so rare. The research was conducted to find out whether mindfulness training had an impact on reducing burnout symptoms in inclusive teachers at PKBM Lentera Fajar Indonesia. The samples Paired T-Test analysis test showed that the post-test average score of the burnout questionnaire with mindfulness training in inclusive teacher was significantly smaller than the pre-test average score.used is a one-group pre-test and post-test design. This study uses an adapted burnout measurement tool. The t-test in the form of a paired sample t-test obtained a significance value of 0.001<0.005. This means, the burnout level before and after being given mindfulness training is not the same. Thus, it can be stated that there is a significant difference between before being given training and after being given mindfulness training, it can be concluded that mindfulness training for burnout in inclusive teachers can reduce the level of burnout in participants.Burnout mempunyai dampak yang beragam di berbagai profesi pekerjaan terutama guru, intervensi yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan stress yang mengarah pada Burnout juga masih jarang. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah pelatihan Mindfulness memiliki dampak untuk menurunkan gejala Burnout pada guru inklusi di PKBM Lentera Fajar Indonesia. Uji analisis Sample Paired T-Test menunjukkan Skor rata-rata post-test dari kuesioner Burnout dengan pelatihan Mindfulness pada guru inklusi lebih kecil secara signifikan dibanding skor rata-rata pretest. Sampel yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design. Penelitian ini menggunakan alat ukur Burnout yang diadaptasi. Uji t berupa Paired sample t-test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.001<0.005. Hal ini berarti, tingkat Burnout sebelum dan sesudah diberikan pelatihan Mindfulness tidak sama. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum diberikan pelatihan dengan sesudah diberikan pelatihan Mindfulness, dapat disimpulkan bahwa pelatihan mindfulness untuk Burnout pada guru inklusi dapat menurunkan tingkat Burnout pada partisipan

    Uji Reliabilitas dan Validitas Skala Karakter Baik (SKB) untuk Siswa SMA/Sederajat Di Indonesia

    Full text link
    Good character is a congruence of thought, feelings and behaviors that are in accordance with principles of morality. Since 2016 Indonesian education system attempts to develop good character in students using principles for encouraging character education (PPK, Penguatan Pendidikan Karakter). The principles of PPK are based on Pancasila, Indonesia national ideology. These five principles are religiosity, nationalism, independence, cooperation, and integrity. Currently, there are no instrument for measuring good character in accordance with the principle of PPK. This study aims to develop a reliable and valid measuring tool for good character that can be used for measuring good character in Indonesian high school students. In the development of this measurement, this study tests the reliability with discriminatory item analysis using SPSS v.21. Construct validity was measured using confirmatory factor analysis with JASP emulation MPlus, from which group norm was formed with average of 10 and standard deviation of 3. The subjects of this study are 728 Indonesian high school students. The result of this study show that the instrument can be deemed reliable with Cronbach alpha of 0.892. This instrument also shows model fit p-value of 0.000, SRMRS of 0.078 and GFI of 0.957, which can be interpreted as a reliable in term of measurement.Karakter baik (good character) merupakan bentuk keselarasan dari pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang sesuai moral dan diharapkan dimiliki oleh setiap pribadi. Sejak tahun 2016, Indonesia telah berupaya untuk membentuk karakter baik bagi setiap anak bangsa dengan menerapkankan nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang bersumber dari Pancasila di dalam dunia pendidikan. Lima nilai prioritas PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas, Namun demikian, sampai saat ini belum ditemukan pengukuran karakter yang baik dengan kontekstualisasi kelima nilai PPK tersebut. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan alat ukur karakter baik yang reliabel, valid sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan karakter yang baik bagi siswa/i SMA/sederajat di Indonesia. Pada pengembangan alat ukur ini, peneliti menguji reliabilitas dan melakukan analisis diskriminasi item menggunakan SPSS Versi 21, validitas konstruk melalui confirmatory factor analysis menggunakan JASP emulation MPlus, dan menyusun norma kelompok menggunakan skor standar dengan skor rata-rata = 10 dan deviasi standar = 3. Populasi dari pengujian alat ukur ini adalah siswa/i SMA sederajat di Indonesia dengan sebanyak 728 sampel. Hasilnya menunjukkan bahwa alat ukur Skala Karakter Baik adalah alat ukur yang reliabel (Cronbach alpha = 0,892) dan valid (Model Fit RMSEA p-value=0,000, SRMS=0,078, GFI=0,957)

    175

    full texts

    227

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇