JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi
Not a member yet
    227 research outputs found

    Kontribusi Strength Based Parenting dan Academic Self-Efficacy terhadap Engagement pada Siswa SD Mutiara Harapan Pangkalan Kerinci Riau

    Full text link
    This study aims to investigate the contributions of Strength-Based Parenting and Academic Self-Efficacy to the level of engagement among students at SD Mutiara Harapan Pangkalan Kerinci Riau. Strength-Based Parenting is an approach to parenting that focuses on developing a child's strengths and potential, while Academic Self-Efficacy refers to an individual's belief in his ability to face academic tasks. This study used a quantitative approach involving 102 students of SD Mutiara Harapan as the research participants. Data was obtained through a questionnaire that measured the level of Strength-Based Parenting, Academic Self-Efficacy, and student engagement. Data analysis was performed using regression techniques to examine the relationship between the variables studied. The results showed that Strength-Based Parenting and Academic Self-Efficacy significantly contributed to the level of engagement of SD Mutiara Harapan students. The higher the level of Strength-Based Parenting received by students and the higher the Academic Self-Efficacy that students have, the level of student engagement tends to increase. This research makes an important contribution to understanding the factors that influence engagement in elementary students, especially in the context of using the Strength-Based Parenting approach and developing Academic Self-Efficacy. The results of this study can provide practical guidance for parents and educators in strengthening student engagement through positive parenting approaches and building academic self-confidence.  Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kontribusi Strength-Based Parenting dan Academic Self-Efficacy terhadap tingkat engagement (keterlibatan) pada siswa SD Mutiara Harapan Pangkalan Kerinci Riau. Strength-Based Parenting merupakan pendekatan dalam pengasuhan yang memfokuskan pada mengembangkan kekuatan dan potensi anak, sedangkan Academic Self-Efficacy merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menghadapi tugas akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 102 siswa SD Mutiara Harapan sebagai partisipan penelitian. Data diperoleh melalui kuesioner yang mengukur tingkat Strength-Based Parenting, Academic Self-Efficacy, dan engagement pada siswa. Analisis data dilakukan menggunakan teknik regresi untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Strength-Based Parenting dan Academic Self-Efficacy secara signifikan berkontribusi terhadap tingkat engagement pada siswa SD Mutiara Harapan. Semakin tinggi tingkat Strength-Based Parenting yang diterima oleh siswa dan semakin tinggi Academic Self-Efficacy yang dimiliki siswa, maka tingkat engagement siswa cenderung meningkat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap engagement pada siswa SD, terutama dalam konteks penggunaan pendekatan Strength-Based Parenting dan pengembangan Academic Self-Efficacy. Hasil penelitian ini dapat memberikan panduan praktis bagi orang tua dan pendidik dalam memperkuat engagement siswa melalui pendekatan pengasuhan yang positif dan pembangunan keyakinan diri akademik

    Pengembangan Skala Cyberchondria Versi Pendek

    Full text link
    This study aims to develop and validate a short version of the Cyberchondria Severity Scale (CSS). Exploratory Factor Analysis (EFA) was employed to identify the factor structure of the cyberchondria scale. The initial assumption tests indicated the scale's suitability for factor analysis (KMO > 0.5;Studi ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi versi pendek Cyberchondria Severity Scale (CSS).Cyberchondria adalah perilaku pencarian informasi kesehatan di internet yang berlebihan. Uji Exploratory Factor Analysis (EFA) digunakan untuk mengidentifikasi struktur faktor skala cyberchondria. Hasil uji asumsi awal menunjukkan skala layak untuk dianalisis faktor (KMO > 0,5

    Di Mana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung: Urgensi Integrasi Budaya dalam Intervensi Psikologi

    Full text link
    Pada Era Society 5.0 yang dinamis dan penuh tantangan sekarang, psikologi memiliki peran krusial membantu masyarakat menavigasi kompleksitas modernitas. Dalam lanskap yang terus berubah dengan percepatan teknologi seperti kecerdasan buatan dan isu-isu sosial yang meliputi kemiskinan, kerusakan lingkungan, serta diskriminasi di tempat kerja, kehidupan manusia menjadi semakin kompleks dan menuntut solusi yang tidak hanya efektif tetapi juga responsif. Psikologi, sebagai ilmu yang mempelajari perilaku serta proses fisiologis dan mental yang mendasarinya, memiliki kapasitas untuk menerapkan pengetahuannya tentang dinamika manusia untuk mengatasi tantangan dan permasalahan yang dihadapi manusia (Weiten dkk., 2018). Dengan demikian, Psikologi tidak hanya bertujuan untuk memahami dan menganalisis interaksi manusia dengan lingkungan dan isu-isunya, tetapi juga memberikan intervensi yang tepat sebagai respons terhadap kompleksitas tersebut. Salah satu intervensi psikologi dalam menanggapi isu-isu sosial adalah intervensi perubahan perilaku. Perubahan perilaku dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks. Misalnya, dalam konteks lingkungan, perubahan perilaku diterapkan dengan efektif mendorong penggunaan transportasi publik (Bamberg, 2006), mendorong praktik perilaku konservasi air atau penggunaan sumber daya air secara bijak (Datta dkk., 2015; Seyranian dkk., 2016), meningkatkan kebiasaan penggunaan kertas yang hemat (Egebark & Ekstrom, 2016), serta mengurangi penggunaan plastik (Rubens dkk., 2015). Dalam domain kesehatan, perubahan perilaku terwujud misalnya dalam meningkatkan jumlah kunjungan perempuan untuk melakukan pemeriksaan dini kesehatan payudara (Cohen & Azaiza, 2010) dan mendorong individu untuk lebih mengkonsumsi makanan sehat (Montagni dkk., 2020). Pada konteks kepatuhan membayar pajak, intervensi perubahan perilaku terbukti dapat meningkatkan ketaatan membayar pajak masyarakat di Guatemala (Kettle, 2016). Dalam konteks finansial, intervensi perubahan perilaku mendorong individu menabung secara lebih teratur sebagai persiapan masa pensiun (Garcia & Vila, 2020).Dalam konteks Era Society 5.0 yang semakin kompleks, tulisan ini menekankan pentingnya integrasi budaya dalam intervensi psikologi serta perlunya mempertimbangkan faktor budaya dalam merancang intervensi yang efektif. Psikologi, terutama melalui teknik nudge, memiliki potensi besar dalam mengubah perilaku manusia. Namun, teknik nudge yang berhasil dalam satu budaya belum tentu berhasil dalam budaya lainnya, sebab budaya berperan dala, memengaruhi persepsi, nilai, hinga pembuatan keputusan individu. Melalui beberapa bahasan atas intervensi-intervensi sebelumnya, tampak bahwa budaya yang diabaikan dalam intervensi akan membuat intervensi tidak efektif. Oleh karena itu, responsif terhadap perbedaan budaya menjadi kunci untuk merancang intervensi yang relevan dan efektif. Dalam menghadapi tantangan ini, memahami keragaman budaya secara mendalam akan memperkaya perspektif dan strategi intervensi psikologis, menjadikannya lebih responsif dan terhadap kebutuhan masyarakat

    Analysis of Situational Judgement Test Items on State-Owned Enterprise Employee Leadership Competencies using Rasch Model

    No full text
    Asesmen kompetensi SDM memiliki peran krusial dalam organisasi, khusunya pada PT X, sebuah BUMN di sektor transportasi Indonesia. PT X mengembangkan tes kompetensi kepemimpinan melalui Situational Judgement Test (SJT), diharapkan dapat secara objektif mengukur kompetensi dengan skenario pekerjaan realistis. Penelitian ini melibatkan 2.368 karyawan PT X dari kelompok jabatan level 1. Analisis butir dilakukan pada 48 aitem yang mengukur 7 kompetensi kepemimpinan pada level kompetensi 1, dengan tujuan meningkatkan mutu tes melalui perbaikan atau penghapusan butir yang tidak sesuai. Ditemukan bahwa sebanyak 15 aitem dijawab >50% responden, sedangkan 33 aitem dijawab benar oleh <50% responden. Meskipun sebagian besar aitem memiliki tingkat kesukaran yang baik (-2 ≥ b ≥ +2), beberapa aitem seperti DLE 1.3.3, DLE 1.2.2, dan DEX 1.2.2 yang memiliki tingkat kesukaran kurang baik. Pengukuran paling akurat ditemukan pada beberapa aitem, seperti SOR 1.2.1, SOR 1.3.1, SOR 1.1.1, dan SOR 1.1.2, sementara DEX 1.2.2 menunjukkan pengukuran yang kurang akurat. Evaluasi kecocokan (Infit & Outfit) pada seluruh aitem menunjukkan nilai yang sesuai (0,5 – 1,5) dengan kompetensi yang diukur, menegaskan keandalan tes. Wright Map menunjukkan kompetensi DEX mampu mengukur keseluruhan abilitas; kompetensi DLE mampu memotret abilitas responden rata-rata hingga tinggi; kompetensi Strategic Orientation (SOR), Developing Organizational Capabilities (DOC), dan Leading Change (LCH) memotret abilitas rata-rata; kompetensi Global Business Savvy (GBS) dan Managing Diversity (MDI) memotret abilitas pada tingkat rata-rata dan di bawah rata-rata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tes SJT ini memiliki kualitas butir yang baik dan dapat diandalkan untuk asesmen kompetensi PT X secara berkelanjuta.Asesmen kompetensi SDM memiliki peran krusial dalam organisasi, khusunya pada PT X, sebuah BUMN di sektor transportasi Indonesia. PT X mengembangkan tes kompetensi kepemimpinan melalui Situational Judgement Test (SJT), diharapkan dapat secara objektif mengukur kompetensi dengan skenario pekerjaan realistis. Dengan total population sampling, penelitian ini melibatkan 2.368 karyawan PT X dari kelompok jabatan level 1. Analisis butir dilakukan pada 48 aitem yang mengukur 7 kompetensi kepemimpinan pada level kompetensi 1, dengan tujuan meningkatkan mutu tes melalui perbaikan atau penghapusan butir yang tidak sesuai. Ditemukan bahwa sebanyak 15 aitem dijawab >50% responden, sedangkan 33 aitem dijawab benar oleh <50% responden. Meskipun sebagian besar aitem memiliki tingkat kesukaran yang baik (-2 ≥ b ≥ +2), beberapa aitem seperti DLE 1.3.3, DLE 1.2.2, dan DEX 1.2.2 yang memiliki tingkat kesukaran kurang baik. Pengukuran paling akurat ditemukan pada beberapa aitem, seperti SOR 1.2.1, SOR 1.3.1, SOR 1.1.1, dan SOR 1.1.2, sementara DEX 1.2.2 menunjukkan pengukuran yang kurang akurat. Evaluasi kecocokan (Infit & Outfit) pada seluruh aitem menunjukkan nilai yang sesuai (0,5 – 1,5) dengan kompetensi yang diukur, menegaskan keandalan tes. Wright Map menunjukkan kompetensi DEX mampu mengukur keseluruhan abilitas; kompetensi DLE mampu memotret abilitas responden rata-rata hingga tinggi; kompetensi Strategic Orientation (SOR), Developing Organizational Capabilities (DOC), dan Leading Change (LCH) memotret abilitas rata-rata; kompetensi Global Business Savvy (GBS) dan Managing Diversity (MDI) memotret abilitas pada tingkat rata-rata dan di bawah rata-rata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tes SJT ini memiliki kualitas butir yang baik dan dapat diandalkan untuk asesmen kompetensi PT X secara berkelanjutan

    Adaptasi dan Uji Psikometri Alat Ukur Perilaku Ramah Lingkungan Versi Indonesia

    Full text link
    Environmentally-friendly behavior is widely studied in Indonesia. However during the last 5 years, there has not yet been a study focusing on testing the psychometric properties of such measure. The main purpose of this study is to adapt an instrument to measure environmentally-friendly behavior and to examine the reliability and validity of the Indonesian translation of the scale. The sample composed of 196 adults with age range 18-25 years old. The original version contained 10 items. The final version of the translated scale contained five items, which showed a reliability coefficients of 0.78. The reasons for the elimination of items in the translated version are discussed. Moreover, the results of the factor analysis confirmed the fit of the model measuring a single factor, namely environmentally-friendly behavior. Ultimately, it was determined that the Indonesian version of the Environmentally-Friendly Behavior is a reliable and valid scale.Perilaku ramah lingkungan telah banyak diteliti di Indonesia. Akan tetapi, dalam kurun waktu lima tahun terakhir belum ada penelitian yang fokus pada pengujian psikometri alat ukur perilaku ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengadaptasi skala pengukuran perilaku ramah lingkungan serta menguji validitas dan reliabilitas skala tersebut. Sampel penelitian terdiri dari 196 orang dengan rentang usia 18-25 tahun. Versi asli dari alat ukur ini terdiri dari 10 aitem. Versi final dari alat ukur yang telah diadaptasi terdiri dari lima aitem, dan menunjukkan koefisien reliabilitas sebesar 0.78. Alasan eliminasi aitem dalam versi Bahasa Indonesia juga didiskusikan. Selain itu, hasil analisis faktor menghasilkan model satu faktor yang fit dengan data dan mengkonfirmasi bahwa alat ukur ini mengukur satu faktor, yaitu perilaku ramah lingkungan. Dengan demikian, alat ukur Perilaku Ramah Lingkungan versi Bahasa Indonesia disimpulkan sebagai skala yang sahih dan reliabel

    Peran Mediasi Dogmatisme dalam Hubungan antara Need for Closure dan Intellectual Humility

    Full text link
    The role of Intellectual Humility (IH) - an awareness of the limits of one's knowledge - is crucial in fostering meaningful social interactions and dialogues within pluralistic societies. Previous research found that people who need quick answers and avoid ambiguous situations or different opinions (known as individuals with high Need for Closure, or NFC) also have low IH. However, there are also studies that do not find a significant relationship between NFC and IH. Therefore, this study aimed to investigate to what extent NFC could predict IH and whether being dogmatic played a mediating role in the relationship of NFC and IH. We surveyed 232 individuals aged 17–70 years (mean age = 30.69, SD = 10.98, 55.6% female), administering the NFC, IH, and Dogmatism scales. Our mediation analysis, employing PROCESS Model 4, revealed that while NFC did not directly predict IH, it indirectly predicted IH through the full mediation of individual dogmatism. This finding underscores the critical role of dogmatism as a factor that can be targeted to enhance IH. Discussion of the findings of this research will emphasize the importance of a deeper understanding of factors that can reduce dogmatism in the future to improve IH and consequently, the quality of social discourse in pluralistic societies.Peran Intellectual Humility (IH) – kesadaran bahwa pengetahuan kita terbatas – sangat penting dalam mendorong interaksi dan dialog sosial yang bermakna dalam masyarakat plural. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang yang membutuhkan jawaban yang cepat dan menghindari situasi ambigu atau perbedaan pendapat (dikenal sebagai individu dengan Need for Closure, atau NFC tinggi) juga memiliki IH yang rendah. Namun ada juga penelitian yang tidak menemukan hubungan signifikan antara NFC dan IH. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana NFC dapat memprediksi IH dan apakah sikap dogmatis memainkan peran mediasi dalam hubungan NFC dan IH. Kami melakukan survei pada 232 orang berusia 17–70 tahun (usia rata-rata = 30,69, SD = 10,98, 55,6% perempuan), dengan menggunakan skala NFC, IH, dan Dogmatisme. Analisis mediasi dengan PROCESS Model 4, menunjukkan bahwa meskipun NFC tidak secara langsung memprediksi IH, NFC secara tidak langsung memprediksi IH melalui mediasi penuh dogmatisme individu. Temuan ini menggarisbawahi peran penting dogmatisme sebagai faktor yang perlu ditargetkan untuk meningkatkan IH. Pembahasan temuan penelitian ini akan menekankan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang dapat mengurangi dogmatisme di masa depan untuk meningkatkan IH dan kualitas wacana sosial dalam masyarakat plural

    Pengaruh Loneliness dan Self-Control Terhadap Online Game Addiction

    Full text link
    The development of information technology has brought various conveniences to everyday life, including easier access to online games. However, a negative impact that is often overlooked is online game addiction which can adversely affect a person's physical, mental and social health. The purpose of this study is to understand the influence of loneliness and self-control on online game addiction in gaming community members. This study used a correlational quantitative approach with 220 research subjects from the online gaming community. This study used the OGA scale from Lemmens (2009) to measure online game addiction variables, UCLA Loneliness Scale Version 3 from Russel (1996) to measure loneliness variables, and Self-Control Scale (SCS) from Tangney (2004) to measure self-control variables. The results showed that there is a significant influence between loneliness and self-control on online game addiction.Perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk akses yang lebih mudah terhadap online games. Namun, dampak negatif yang sering kali diabaikan adalah kecanduan game online yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pengaruh loneliness dan self-control terhadap online game addiction pada anggota komunitas game. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan subjek penelitian berjumlah 220 anggota komunitas game online. Penelitian ini menggunakan skala OGA dari Lemmens (2009) untuk mengukur variabel online game addiction, UCLA Loneliness Scale Version 3 dari Russel (1996) untuk mengukur variabel loneliness, dan Self-Control Scale (SCS) dari Tangney (2004) untuk mengukur variabel self-control. Hasil penelitian meunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara loneliness dan self-control terhadap online game addictio

    UJI VALIDITAS KONSTRUK SCHOOL CLIMATE DENGAN METODE CONFIRMATORY FACTOR ANALYSIS (CFA)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk dari instrumen iklim sekolah yang diadaptasi dari Fisher dkk. (2020) menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA). Instrumen ini mengukur tiga dimensi iklim sekolah: keterhubungan sekolah (school connectedness), keamanan sekolah (school safety), dan hubungan antar teman (peer relationships). Data dikumpulkan dari 875 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa model second-order memiliki kecocokan yang baik (RMSEA = 0,049, CFI = 0,953, TLI = 0,941) dan semua item valid dengan muatan faktor yang signifikan (nilai-t > 1,96). Penelitian ini menegaskan bahwa instrumen yang diadaptasi adalah ukuran yang andal dan valid untuk mengukur school climate dalam konteks pendidikan di Indonesia khususnya Madrasah Aliyah.Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk dari instrumen iklim sekolah yang diadaptasi dari Fisher dkk. (2020) menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA). Instrumen ini mengukur tiga dimensi iklim sekolah: keterhubungan sekolah (school connectedness), keamanan sekolah (school safety), dan hubungan antar teman (peer relationships). Data dikumpulkan dari 875 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa model second-order memiliki kecocokan yang baik (RMSEA = 0,049, CFI = 0,953, TLI = 0,941) dan semua item valid dengan muatan faktor yang signifikan (nilai-t > 1,96). Penelitian ini menegaskan bahwa instrumen yang diadaptasi adalah ukuran yang andal dan valid untuk mengukur school climate dalam konteks pendidikan di Indonesia khususnya Madrasah Aliyah

    ADAPTASI BINGE-WATCHING ENGAGEMENT SCALE QUESTIONNAIRE (BWESQ) DALAM BAHASA INDONESIA

    Full text link
    Kemajuan internet menyediakan akses layanan media streaming video online dengan segala kemudahan dalam penggunaannya melalui smartphone menyebabkan munculnya berbagai layanan video on demand (VoD). Banyak orang mulai berlangganan VoD serta membuat meningkatnya perilaku menonton beberapa episode serial TV dalam sekali duduk yang disebut binge watching. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melakukan adaptasi skala Binge-Watching Engagement Scale Questionnaire (BWESQ) ke dalam Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara daring dengan menyebarkan Google Form pada individu yang berusia 14-29 tahun, merupakan pelanggan layanan platform video-on-demand, dan pernah menonton serial TV 1-2 episode atau lebih dalam sekali duduk. Responden berjumlah 52 orang laki-laki dan 148 orang perempuan. Panduan adaptasi yang digunakan adalah International Test Commission (2017) dan analisis data melakukan pengujian reliabilitas dan uji Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil penelitian menunjukkan nilai reliabilitas skala sebesar 0,956 dan uji CFA menunjukkan nilai CFI= 0,923, TLI=0,903, dan RMSEA=0,0775 yang berarti bahwa skala ini sudah sesuai dengan model fit dan reliabel untuk mengukur perilaku binge watching di Indonesia.Kemajuan internet menyediakan akses layanan media streaming video online dengan segala kemudahan dalam penggunaannya melalui smartphone menyebabkan munculnya berbagai layanan video on demand (VoD). Banyak orang mulai berlangganan VoD serta membuat meningkatnya perilaku menonton beberapa episode serial TV dalam sekali duduk yang disebut binge watching. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melakukan adaptasi skala Binge-Watching Engagement Scale Questionnaire (BWESQ) ke dalam Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara daring dengan menyebarkan Google Form pada individu yang berusia 14-29 tahun, merupakan pelanggan layanan platform video-on-demand, dan pernah menonton serial TV 1-2 episode atau lebih dalam sekali duduk. Responden berjumlah 52 orang laki-laki dan 148 orang perempuan. Panduan adaptasi yang digunakan adalah International Test Commission (2017) dan analisis data melakukan pengujian reliabilitas dan uji Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil penelitian menunjukkan nilai reliabilitas skala sebesar 0,956 dan uji CFA menunjukkan nilai CFI= 0,923, TLI=0,903, dan RMSEA=0,0775 yang berarti bahwa skala ini sudah sesuai dengan model fit dan reliabel untuk mengukur perilaku binge watching di Indonesi

    ADAPTASI SKALA ALLOPHILIA TERHADAP LANSIA

    Full text link
    Lansia di Indonesia akan terus bertambah dan diprediksi dapat menjadi populasi terbesar jika dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Orang-orang yang masuk kedalam kelompok lanjut usia ini perlu tetap menjalin hubungan tidak dengan orang seusianya saja, melainkan juga orang-orang yang lebih muda. Hubungan yang antara lansia dan generasi yang lebih muda dapat membentuk hubungan positif dengan memberikan dukungan sosial. Berbagai penelitian mencoba meningkatkan hubungan positif ini, sayangnya penelitian-penelitian tersebut belum memiliki instrumen alat ukur yang dapat dikatakan valid dan reliabel. Penelitian ini mencoba mengadaptasi alat ukur skala allophilia pada lansia ke Bahasa Indonesia, dengan melibatkan 304 partisipan. Metode adaptasi yang digunakan pada penelitian ini mengikuti panduan adaptasi alat ukur lintas budaya dan metode statistik exploratory factor analysis dan confirmatory analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang diadaptasi ke bahasa Indonesia menunjukkan alat ukur yang valid dan reliabel. Lebih lanjut alat ukur ini lebih sesuai jika digunakan menggunakan struktur solusi 2 faktor dibandingkan 5 faktor yang ada pada alat ukur berbahasa Inggris.Lansia di Indonesia akan terus bertambah dan diprediksi dapat menjadi populasi terbesar jika dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Orang-orang yang masuk kedalam kelompok lanjut usia ini perlu tetap menjalin hubungan tidak dengan orang seusianya saja, melainkan juga orang-orang yang lebih muda. Hubungan yang antara lansia dan generasi yang lebih muda dapat membentuk hubungan positif dengan memberikan dukungan sosial. Berbagai penelitian mencoba meningkatkan hubungan positif ini, sayangnya penelitian-penelitian tersebut belum memiliki instrumen alat ukur yang dapat dikatakan valid dan reliabel. Penelitian ini mencoba mengadaptasi alat ukur skala allophilia pada lansia di Indonesia, dengan melibatkan 304 partisipan. Metode adaptasi yang digunakan pada penelitian ini mengikuti panduan adaptasi alat ukur lintas budaya dan metode statistik exploratory factor analysis dan confirmatory analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang diadaptasi ke bahasa Indonesia menunjukkan alat ukur yang valid dan reliabel. Lebih lanjut alat ukur ini lebih sesuai jika digunakan menggunakan struktur solusi 2 faktor dibandingkan 5 faktor yang ada pada alat ukur berbahasa Inggris

    175

    full texts

    227

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇