MEDIA LITBANG SULTENG
Not a member yet
67 research outputs found
Sort by
BEBERAPA PERUBAHAN SIFAT KIMIA ALOFAN DARI ANDISOL SETELAH MENJERAP ASAM HUMAT DAN ASAM SILIKAT
Alofan merupakan bagian mineral amorf dari andisol yang memiliki sifat yang sangat reaktif. Sifat-sifat ini dapat berubah apabila alofan direaksikan dengan asam-asam organik (humat) maupun asam silikat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan sifat kimia alofan setelah menjerap asam humat dan asam silikat. Pemberian asam humat dan asam silikat masing-masing 100 mg.l-1 pada 0,6 gr.l-1 komponen mineral amorf (alofan) dari 8 tanah Andisol dalam percobaan ini menunjukkan bahwa asam humat-asam tersebut dapat meningkatkan pH, menurunkan KPK serta meningkatkan KPA alofan
PEMANFAATAN TOMAT AFKIRAN UNTUK PRODUKSI LIKOPEN
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi produksi likopen melalui proses perebusan dengan air bebas mineral atau aquades. Pencapaian tujuan telah dilakukan pemisahan likopen dari tomat afkiran menggunakan perlakuan pengaruh rasio air/tomat afkiran, pengaruh waktu, dan pengaruh suhu perebusan terhadap rendemen dan derajat kemurnian produk likopen. Derjat kemurnian likopen ditentukan menggunakan metode spektrofotometri. Hasil yang diperoleh menunjukkan derajat kemurnian likopen dipengaruhi oleh rasio air/tomat afkiran, waktu dan suhu perebusan, sedangkan rendemen likopen hanya dipengaruhi ole h rasio air/tomat afkiran. Rendemen likopen tertinggi (2,91 %) terdapat pada penggunaan rasio air/tomat afkiran 1,5 : 1 (b/b), waktu perebusan 75 menit dan suhu perebusan 50 oC, sedangkan derajat kemurnian likopen tertinggi (68 %) terdapat pada rasio air/tomat afkiran 1,5 : 1 (b/b), waktu perebusan 75 menit dan suhu perebusan 80 o
MAKNA WANITA TENTANG PERUBAHAN PERAN (Hasil kajian Disertasi wanita isteri nelayan Suku Kaili dalam perubahan peran dari domestik Tradisonal ke Publik produktif)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna wanita isteri nelayan dalam perubahan peran dari domestik tradisional ke publik produktif. Untuk mengetahui kriteria-kriteria apa yang menyebabkan pilihan wanita isteri nelayan untuk kedua peran tersebut. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan di kampulere yang wanitanya banyak melakukan aktifitas menjual ikan, rumah mereka rata-rata dipinggir pantai. Penentuan informan dipilih secara sengaja yaitu purposive sampling dengan metode bola salju. Terpilihnya informan ada tiga kriteria: pertama aktivitasnya terfokus pada menjual ikan, kedua aktivitasnya tergolong rajin, ketiga aktivitasnya malas tidak terlalu terfokus menjual ikan Teknik pengambilan data melalui pengamatan, wawancara yang terdiri atas tiga: wawancara pendahuluan, wawancara mendalam, juga wawancara secara kelompok untuk tujuan mencek keakuratan informasi yang disampaikan oleh informan sewaktu dilakukan wawancara individual. Analisis data dengan proses editing data, kategorisasi data, intrepretasi data, dan merumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan masalah penelitian. Hasil penelitian sebagai berikut: Makna perempuan tentang rumah tangga domestik tradisional adalah semata-mata mengurus rumah tangga, selalu tergantung suami, bosan dirumah, sempit wawasan, perasaan selalu tertekan, komunikasi kurang, dan tidak mampu mengambil keputusan. Makna wanita di publik produktif; mampu mandiri, mampu memenuhi ekonomi rumah tangga, luas wawasan, perasaan bebas, komunikasi luas, aktualisasi diri, dihargai masyarakat, percaya diri dan mampu mengambil keputusan. Kesimpulan : dari kedua peran tersebut mereka rata-rata mempunyai pilihan peran di publik produktif. Walaupun pilihan mereka di publik produktif namun kedua tanggung jawab tersebut keduanya baik domestik tradisional maupun publik produktif tetap tanggung jawab mereka dengan alasan mereka mencintai keluarga (suami dan anak-anak). Saran: Kepada pengambil keputusan dan pihak-pihak terkait supaya membantu nelayan dan isteri nelayan yang aktifitasnya di publik produktif demi kelanjutan generasi mereka serta pengembangan aktifitas mereka dan bisa berkontribusi terhadap pembangunan
KEBERHASILAN OKULASI VARIETAS JERUK MANIS PADA BERBAGAI PERBANDINGAN PUPUK KANDANG
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh varietas dan takaran pupuk kandang terhadap keberhasilan okulasi pada tanaman jeruk telah dilaksanakan bulan Maret-Juli 2010. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah varietas jeruk yang terdiri dari 2 macam yaitu varietas Keprok So E dan varietas Keprok Tejakula. Faktor kedua adalah perbandingan tanah dan pupuk kandang yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: tanpa pupuk kandang, tanah + pupuk kadang (1 : 1), tanah + pupuk kadang (1 : 2), dan tanah + pupuk kadang (2 : 1), sehingga diperoleh 8 kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali dan total percobaan adalah 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Keprok Tejakula menghasilkan persentase okulasi jadi, persentase bibit mati, panjang tunas, dan jumlah daun pada tunas yang lebih baik. Perbandingan tanah dan pupuk kandang 1 : 1 memberikan waktu mencapai 50% tumbuh tunas, persentase okulasi jadi, persentase bibit mati, panjang tunas, jumlah daun pada tunas, dan diameter tunas okulasi yang lebih baik dibanding dengan dosis lainnya
KAJIAN TEKNOLOGI PRODUKSI ASAP CAIR DARI SABUT KELAPA
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model peralatan destilator-pirolisis dan waktu pembakaran sabut kelapa yang menghasilkan asap cair dengan rendemen tinggi, serta mendapatkan keterangan tentang kandungan kimia asap cair yang dihasilkan dari berbagai model peralatan destilator-pirolisis. Pencapaian tujuan dilakukan dengan menerapkan lima model peralatan destilator-pirolisis dan empat tingkatan waktu pembakaran, serta melakukan analisis kadar fenol secara spektrofotometri, kadar karbonil secara spektrofotometri, kadar asam asetat secara titrasi dan keasaman asap cair menggunakan pH meter. Hasil yang diperoleh menunjukkan model peralatan destilator-pirolisis dan waktu pembakaran berpengaruh terhadap rendemen asap cair yang dihasilkan. Penggunaan model E dan waktu pembakaran 2,5 jam menghasilkan asap cair dengan rendemen tertinggi, yakni 6,03 %. Model peralatan destilator-pirolisis tidak berpengaruh terhadap kadar fenol, karbonil, asam asetat dan keasaman asap cair yang dihasilkan. Asap cair sabut kelapa mengandung fenol 3,03 %, karbonil 10,26 % dan asam asetat 9,22 % , serta memiliki keasaman (pH) sebesar 3,16.
PEMERIKSAAN MUTU DAN UKURAN BAJA TULANGAN DI PASARAN KOTA PALU
Baja tulangan adalah merupakan bahan yang sangat penting dalam konstruksi, terutama pada konstruksi beton bertulang tidak dapat dihindari mengingat baja tulangan merupakan salah satu faktor penentu dalam kuat atau tidaknya konstruksi. Tinjauan mutu dan ukuran baja tulangan dipasaran Kota Palu sangat perlu, karena mengingat banyaknya baja tulangan yang dipasarkan dengan kualitas dan ukuran yang beraneka ragam, maka perlu adanya pemeriksaan sampel yang diambil secara acak dari distributor/toko yang ada di Kota palu sehingga dari hasil pengujian ini dapat diketahui sejauh mana, mutu dan ukuran baja tulangan tersebut apakah sudah memenuhi standar yang ada atau tidak dari tiap-tiap ukuran. Dari hasil pemeriksaan Laboratorium bahwa mutu dan ukuran baja tulangan yang ada dipasaran Kota Palu dari berbagai macam ukuran dan kualitas terdapat dua jenis ukuran yaitu ukuran fulldan ukuran tidak full (nama pasaran ”Banci”), dalam hal ini yang sempat diteliti (diuji) adalah : ukuran ø 12 mm, ø 10 mm, ø 8 mm berhubung karena ukuran baja tulangan tersebut yang paling sering digunakan dan terbatasnya waktu penelitian. Dari kesimpulan hasil pengujian baja tulangan di Laboratorium di dapatkan : - Ukuran ø 12 Banci = ukuran ø 10 full - Ukuran ø 10 Banci = ukuran ø 8 full - Ukuran ø 8 Banci = ukuran ø 6 full Serta hasil pengujian ukuran panjang , berat, dan mekanik yakni tarik (tegangan, regangan, kontraksi), kekerasan dan lengkung
EKSPLORASI PADI GOGO LOKAL DI KABUPATEN BANGGAI EKSPLORASI PADI GOGO LOKAL DI KABUPATEN BANGGAI
Tujuan penelitian adalah mengevaluasi keragaman dan kemiripan karakter vegetatif dan generatif padi gogo di Kabupaten Banggai. Penelitian ini yang meliputi kegiatan menanam padi gogo dari hasil ekplorasi, kegiatan uji karakter morfologi, kegiatan analisis cluster, kegiatan identifikasi padi gogo dengan cara isozim. Uji karasterisasi morfologi menggunakan analisis cluster skala 1,5 diperoleh delapan varietas padi gogo yang memiliki karakter berbeda satu sama lainnya. Tampak satu varietas yang membentuk garis lurus yang menunjukan tidak terdapat hubungan kekerabatan dengan varietas lainnya yaitu varietas ”Superwin” yang mengelompok sendiri (terpisah) dengan padi gogo lainnya. Keragaman pita enzim EST terlihat bahwa varietas Sunggul Manohong, varietas Laleha, varietas Talate, dan varietas Tano memiliki penampilan keragaman pita enzim EST yang sama, namun berbeda dengan varietas Superwin,varietas Habo, varietas Salampati, varietas Superwin,varietas Habo,varietas Salampati, ketiganya menunjukan perbedaan. Dengan demikian terdapat empat kelompok dari varietas tersebu
SISTEM HIDROPONIK DENGAN NUTRISI DAN MEDIA TANAM BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L) pada nutrisi dan media tanam berbeda secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Birobuli Kecamatan Palu Selatan dengan ketinggian tempat ± 84 m dpl, suhu rata-rata 34,14oC dan kelembaban rata-rata 55,4%, yang dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2008. Data percobaan dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah perlakuan nutrisi yang terdiri dari tiga taraf yaitu Nutrisi AB Mix, Nutrisi Nederland dan Nutrisi Buatan Sendiri. Faktor kedua adalah perlakuan media tanam yang terdiri dari tiga taraf yaitu Pasir, Pasir dan Arang Sekam (1 : 1) serta Pasir dan Arang Sekam (3 : 1). Nutrisi buatan sendiri dan media tanam pasir memberikan hasil terbaik bagi pertumbuhan dan hasil selada sehingga diperoleh berat segar tajuk tanaman selada 152,18 gram per pohon
KAJIAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii SKALA RUMAH TANGGA
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi pengolahan karaginan yang dapat diterapkan di daerah pedesaan melalui penggunaan air sebagai pengekstrak karaginan dan penggunaan pupuk KCl (kalium klorida) sebagai pemisah karaginan dalam ekstrak. Pencapaian tujuan telah dilakukan penelitian melalui menerapkan perlakuan pengaruh konsentrasi kalium klorida, pengaruh rasio air/rumput laut dan pengaruh waktu reaksi terhadap mutu (khusus penggunaan kalium klorida) dan rendemen karaginan. Hasil yang diperoleh memberikan keterangan rendemen karaginan dipengaruhi oleh konsentrasi kalium klorida dengan rendemen tertinggi ( 30,18 %) terdapat pada penggunaan konsentrasi kalium klorida 0,4 molar, dan rendemen terendah (21,73 %) terdapat pada penggunaan konsentrasi kalium klorida 0,1 molar. Rendemen karaginan pada penggunaan konsentrasi kalium klorida 0,4 molar tidak berbeda dengan penggunaan konsentrasi kalium klorida 0,3 molar. Mutu karaginan ( kadar air, kadar abu, kadar abu tidak larut asam, kadar sulfat, viskositas dan kekuatan gel) yang dihasilkan memenuhi standar FAO dan tidak dipengaruhi oleh konsentrasi kalium klorida. Rendemen karaginan dipengaruhi oleh rasio air/rumput laut dengan rendemen tertinggi (33,01 %) terdapat pada penggunaan rasio air/rumput laut 55 : 1, dan rendemen terendah (27,98 %) ditemukan pada penggunaan rasio air/rumput laut 35 : 1 atas dasar v/b. Rendemen karaginan pada rasio air/rumput laut 55 : 1 tidak berbeda dengan rasio 50 : 1 dan rasio 45 : 1 atas dasar v/b. Rendemen karaginan dipengaruhi oleh waktu ekstraksi dengan rendemen tertinggi (33,53 %) ditemukan pada penggunaan waktu ekstraksi 3 jam, dan rendemen terendah 26,17 %) terdapat pada penggunaan waktu ekstraksi 1 jam. Rendemen karaginan pada waktu ekstraksi 3 jam tidak berbeda dengan waktu reaksi 2 dan 2,5 jam
KOMPATIBILITAS BATANG BAWAH NANGKA (ARTOCARPUS HETEROPYLLUS LAMK) KULTIVAR BEKA-3 DAN TULO-5 TERHADAP BERBAGAI ENTRIS TERPILIH
Telah diketahui bahwa tingkat keberhasilan pertautan sambungan pada tanaman nangka masih sangat rendah. Hal ini diduga akibat faktor fisiologis yaitu tingginya kandungan getah, ketidaksesuaian ukuran diameter batang bawah dengan entris, serta faktor lingkungan di sekitar lokasi pertumbuhan bibit. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan saat bibit berumur 3 bulan dan ditanam pada lokasi yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kompatibilitas bibit batang bawah dan keberhasilan pertautan sambungan pada berbagai entris dengan cara grafting pada bibit tanaman nangka. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2010, di Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 2 faktor. Faktor pertama menggunakan berbagai kultivar batang bawah yang terdiri atas dua taraf, yaitu : BA = Kultivar Beka-3 dan BB = Kultivar Tulo-5 . Faktor kedua menggunakan kultivar entris yang terdiri atas tiga taraf, yaitu : KA = Kultivar Lambara, KB = Kultivar Bora, KC = Kultivar Toaya. Dengan demikian terdapat 6 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali sebagai kelompok, sehingga diperoleh 18 unit perlakuan. Setiap unit percobaan terdapat 10 bibit tanaman dan total bibit 180 bibit tanaman. Analisis ragam menunjukkan bahwa berbagai kultivar batang bawah dan entris berpengaruh sangat nyata terhadap bibit bertaut. Terdapat interaksi antara batang bawah Beka-3 dan entris Lambara terhadap persentase bibit bertau