MEDIA LITBANG SULTENG
Not a member yet
67 research outputs found
Sort by
PERKEMBANGAN ARAH FALSAFAH DESAIN SEISMIK STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT
Gempa bumi yang melanda berbagai daerah dan kota-kota di dunia dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir menyebabkan kerusakan bangunan dan kerugian ekonomi, sehingga telah menuntut adanya suatu pendekatan baru dalam perencanaan bangunan di daerah rawan gempa. Selama ini falsafah desain seismic yang dipakai, seperti juga yang dianut oleh standar Perencanaan Ketahanan Gempa Indonesia SKBI 1.3.53.1987, adalah : akibat gempa kecil atau sedang, struktur bangunan harus dijamin tidak rusak; sedangkan akibat gempa kuat yang jarang terjadi, struktur harus dijamin tidak roboh, walau diijinkan mengalami kerusakan dengan pola yang telah direncanakan.Pendekatan dengan falsafah ini ternyata belum menjamin terkendalikannya kerusakan bangunan maupun isinya serta terganggunya aktivitas bisnis terhadap gempa dengan intensitas sedang sampai kuat. Lagi pula ketentuan-ketentuan yang dibangun di atas falsafah ini belum menjamin tercapainya keseragaman resiko akibat gempa pada bangunan di wilayah yang sama. Tulisan ini memaparkan Konsep “Performance-based Seismic Design” yang menawarkan suatu pendekatan baru bagi desain seismic struktur bangunan gedung. Metoda analisis yang dapat dipakai untuk melakukan evaluasi kinerja dan kriteria batas untuk setiap kinerja juga diuraikan secara ringkas. Pada bagian akhir dipaparkan pula peran berbagai pihak yang terkait untuk memastikan efektifitas pendekatan baru ini dalam mencegah kerugian akibat gempa yang tidak diharapkan
KARAKTERISASI MORFOLOGI VARIETAS JAGUNG KETAN DI KECAMATAN ULUBONGKA KABUPATEN TOJO UNA-UNA
The research aiming to invent, characterize, and identify the character varieties of cultivar cluster of glutinous maize at Mire, Watusongu, and Paranonge Villages of Ulubongka Subdistric Tojo Una-una Residence was conducted in January to March 2010. The research employs survey and observation where sample locations is based on information taken from Agriculture, Estate, Animal Husbandry and Animal Healthy Agencies of Tojo Una-una Regency. Observation was focused on morphological characters such as plant weight, stem diameter, length and width of leaf flowering time, knob length, knob circle with and without seeds, length of stem stalk, number of seed per knob, number of seed rows per knob, number of seeds per row, length of seed row per knob, seed weight per knob, knob weight, weight of knob without seed, weight of 100 seeds, and number of seed colour. Cluster analysis was done further using SYSTAT 8,0 Software Program. The result shows that based on sub regency dendrogram there are six cultivar groups with genetic relationship, of each was represented by PR01 and PR04 from Paranonge Village, MR04, MR05 and MR01 from Mire Village, and WT04 from Watusongu Village as chosen cultivars at Ulubongka Subdistric
PENENTUAN STADIA KEMASAKAN BUAH NANGKA TOAYA MELALUI KAJIAN MORFOLOGI DAN FISIOLOGI BENIH
Dalam penyediaan benih nangka bermutu, tingkat kemasakan buah menjadi penting karena sangat menentukan vigor dan viabilitas benih yang dihasilkan. Vigor dan viabilitas merupakan refleksi kekuatan tumbuh dan kemampuan adaptasi tanaman saat di lapangan. Pengkajian secara morfologi dengan metode deskriptif dan kajian fisiologi memberikan hasil adanya perubahan morfologi pada setiap umur kemasakan buah. Namun pada stadia kemasakan M4 (Umur 37 Minggu) tidak terjadi perubahan karena atribut pertumbuhan telah mencapai maksimun dan mengalami penurunan setelah tercapai masak fisiologi benih. Perbedaan tingkat kemasakan benih nangka ditandai dengan perbedaan fisiologi seperti Bobot basah, bobot kering, daya berkecambah, kecepatan berkecambah dan pemunculan kecambah. Melalui kajian morfologi diperoleh empat stadia kemasakan buah nangka yakni M1, M2, M3, dan M4 stadia kemasakan yang terbaik untuk dijadikan benih bermutu adalah stadia M4 (Umur 8 bulan setelah anthesis)
RESPON PERTUMBUHAN PADA BERBAGAI KEDALAMAN BIBIT DAN UMUR PANEN RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii DI PERAIRAN TELUK PALU
Penelitian tentang respon pertumbuhan pada berbagai kedalaman bibit dan umur panen rumput laut bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman bibit dan umur panen terhadap pertumbuhan mutlak, produksi, dan produktivitas. Penelitian menggunakan metode bentangan tali ris apung berbentuk empat persegi panjang (18 x 18 meter) yang didesain dalam rancangan lingkungan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor, yaitu faktor kedalaman bibit (K1 20 cm dan K2 50 cm) dan faktor umur panen (U1 40 hari, U2 45 hari, dan U3 50 hari) setelah tanam. Dengan demikian terdapat 6 kombinasi perlakuan dalam 3 ulangan tali ris, sehingga diperoleh 18 satuan unit percobaan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa, kedua faktor tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan produksi, tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pruktivitas rumput laut. Namun demikian faktor interaksi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan mutlak dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi rumput laut. Bentuk interaksinya merupakan interaksi positif. Hasil uji BNT menunjukkan bahwa, kombinasi perlakuan K1U1 berbeda dan berinteraksi sangat nyata dengan K1U2 dan K1U3. Demikian halnya pada kombinasi perlakuan K2U1 dengan K2U2 dan K2U3, serta kombinasi perlakuan K2U2 dengan K2U3 terhadap pertumbuhan mutlak dengan nilai interaksi sebesar 34,44 g/hari. Selanjutnya kombinasi perlakuan K1U1 berbeda dan berinteraksi nyata dengan K1U2 dan K1U3. Demikian halnya pada kombinasi perlakuan K2U3 dengan K2U1 dan K2U2, serta kombinasi perlakuan K2U1 dan K2U2 terhadap produksi dengan nilai interaksi sebesar 944,98 g.
STUDI POTENSI KAWASAN LORE TENGAH UNTUK PENGEMBANGAN SAPI POTONG
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tentang potensi padang penggembalaan alam, khususnya tentang kapasitas tampung (caryng capacity), komposisi botanis hijauan dan komposisi nutrient hijauan padang penggembalaan alam serta uji kecocokan lahan untuk pengembangan jenis hijauan makanan ternak dilaksanakan di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso Sulawesi Tengah di laksanakan pada tanggal 15 April 2009 sampai dengan 10 Oktober 2009. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Menggunakan metode Deskriptif dan Eksploratif. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purporsive sampling. Keberadaan padang penggembalaan alam di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso seluas ±1800 Ha hanya didominasi oleh satu jenis rumput yaitu rumput Themeda digantae, berpotensi menunjang kegiatan peternakan sapi potong dalam hal ini untuk mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi potong, walaupun hingga kini belum ada upaya perbaikan mutu padang penggembalaan untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitasnya. Untuk itu perlu adanya sentuhan untuk perbaikan agronomis dan manajemen pemanfaatannya. Selain itu perlu adanya introduksi tanaman baru (rumput gajah, rumput raja, rumput benggala dll) dan legume (lamtoro, gamal, turi dll) yang lebih produktif, dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan sasaran, persisten, dan tahan tekanan (intensitas) penggembalaan. Hasil dari analisa tanah memberikan gambaran tentang manfaat tanah untuk pertumbuhan tanaman hijauan makanan ternak sesuai sifat-sifat fisiknya, kandungan bahan organik, dan komposisi kimianya. Sehingga direkomendasikan untuk penggunaan pupuk dan atau penanaman leguminosa untuk membantu menyuburkan tanah terutama untuk meningkatkan unsur Nitrogen tanah
TUJUH PILAR UTAMA MENGENAL PAKAIAN ADAT SUKU PAMONA
Tulisan dan desain mengenal baju adat suku Pamona tidak dimaksudkan sebagai sebuah tulisan ilmia yang utuh, sehingga dalam penulisan ini tidak ditampilkan kaidah-kaidah baku dalam penyusunan karya ini. Karya tulis dan desain ini hanya merupakan “sebuah lontaran pemikiran” sebagai pengantar dalam curah pendapat dengan judul TUJUH PILAR UTAMA MENGENAL PAKAIAN ADAT SUKU PAMONA. Ilmu pengetahuan tentang kebudayaan dalam perspektif sosial budaya pada hakekatnya adalah fasilitator terhadap suatu perubahan dan perkembangan yang dinginkan masyarakat menuju kepada kondisi yang lebih baik. Artinya aplikasi budaya akan menjadikan manusia merasa berkelebihan dan dihormati jika dibandingkan dengan dirinya yang tidak memiliki, tidak disentuh atau tidak bersentuhan dengan ilmu pengetahuan tentang budaya yang berkembang. Manusia yang memiliki budaya sepantasnya lebih maju, lebih cerdas, lebih terbuka serta berkualitas, lebih sejahtera dan beriman. Idealnya apliksi budaya seharusnya dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia yang mengantar pada perilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat.Persoalanya ialah ketidak mampuan masyarakat suku Pamona yang sangat terbatas untuk menggali dan menemukan warisan budaya leluhur dan mengaplikasikanya kedalam tata kehidupan keseharian dalam pergaulan antar sesama suku maupun antar suku-suku lain yang saling berinteraksi namun tetap dapat mempertahankan ciri khas identitas suku sendiri. Warisan budaya leluhur yang sudah sejak lama ditebar dan dituturkan dari generasi kegenarasi berikutnya ternyata terkubur, terpenjarakan, disisikan serta dikucilkan oleh karena tidak adanya rasa percaya diri dan rasa menghormati terhadap budaya sendiri, ahirnya meniru budaya lain yang dianggap lebih. Pada ahirnya budaya suku Pamona tidak lagi dikenal dan terasing dinegerinya sndiri. Bertalian dengan dampak tersebut dan untuk mengantisipasi perubahan budaya peniruan, sangat diperlukan batasan dan ruang lingkup yang jelas tentang adat dan budaya Pamona khususnya pada penggunaan baju adat. Keberhasilanapliksi budaya Pamona pada baju adat terletak pada citra suku suku Pamona sendiri sebagai pencipta sekaligus sebagai pengguna
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PERAIRAN LAGUNA DESA TOLONGANO KECAMATAN BANAWA SELATAN
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman plankton yang ada di Perairan Laguna, Desa Tolongano, Kecamatan Banawa Selatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – Juli 2009. Pengambilan sampel plankton bertempat di Perairan Laguna, Desa Tolongano, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala. Identifikasi sampel dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako. Metode penelitian yang digunakan adalah purpossive sampling method (penempatan titik sampel dengan sengaja). Stasiun pengambilan sampel terdiri atas 5 stasiun, dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada pukul 07.00, 12.00, dan 17.00 WITA. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kelimpahan fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae berkisar antara 8.925 – 16.135 ind/l dan kelimpahan zooplankton dari kelas Crustacea berkisar antara 35 – 70 ind/l, indeks keanekaragaman fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae berkisar antara 2,010 – 2,504 dan indeks keanekaragaman zooplankton dari kelas Crustacea berkisar antara 0 – 0,6931, indeks dominansi dari kelas Bacillariophyceae berkisar antara 1,1995 – 1,2326 menunjukkan ada jenis plankton yang mendominasi, yaitu Nitzchia sp
ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN LAHAN PADA BEBERAPA SUB DAS DI KAWASAN DANAU POSO
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi tingkat kerusakan lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia maupun secara alamiah di kawasan Danau Poso. Selain itu teridentifikasinya potensi dan permasalahan, serta terciptanya keserasian/keterpaduan pemanfaat kawasan Danau Poso. Obyek penelitian meliputi Sub DAS Kodina-Boe, Bancea-Panja, Taipa, Meko, Salukai, Toinasa, Saluopa-Mayakeli, Peura-Sangele, dan Sub Das Dulumai-Tokilo yang merupakan kawaan Danau Poso. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan non eksprimental, sedangkan analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat degradasi lahan adalah sistem Pakar (Expert System/EXSYS). Model regresi ganda (multiple regression) digunakan untuk mengetahui hubungan variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y) pada setiap Sub DAS menurut metode Draper dan Smith (1992). Hasil analisis tingkat kerusakan lahan di wilayah penelitian menunjukkan bahwa umumnya pada lahan-lahan usaha pertanian berada pada tingkat kerusakan agak rusak (AR) sampai rusak (R). Sedangkan lahan terbuka pada semua Sub DAS berada pada kategori kelas rusak. Dinamisasi sosial kependudukan yang tinggi merupakan salah satu penyebab penting kerusakan lahan dan menyusutnya luas hutan. Berdasarkan hasil analisis regresi pada setipa Sub Das dalam Kawasan Danau Poso diketahui bahwa terdapat lima variabel yang berperanan penting dalam pendugaan tingkat kerusakan lahan yaitu (1) lahan terbuka, (2) luas hutan sekunder, (3) luas kebun campuran, (4) padang rumput, dan (5) Kepadatan Penduduk
KAJIAN METODE PERBANYAKAN KLONAL PADA TANAMAN KAKAO
Kemampuan produksi dan kualitas hasil tanaman sangat ditentukan oleh faktor genetik. Tanaman kakao yang memiliki potensi genetik tinggi perlu dikembangkan dan diperbanyak melalui teknik perbanyakan klonal agar diperoleh suatu populasi yang memiliki keseragaman genetik. Pada kegiatan ini telah dicobakan tiga metode perbanyakan klonal, yaitu sambung samping, sambung pucuk dan okulasi. Persentase keberhasilan dari ketiga metode perbanyakan tersebut ditentukan dengan cara menghitung perbandingan antara jumlah entres/mata yang tumbuh dan jumlah total entres/mata yang disambung/ditempel dikali seratus persen. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan sambungan dari tiga metode perbanyakan klonal yang dicobakan sangat bervariasi. Metode sambung pucuk memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi, yaitu 98,83%, dan disusul metode sambung samping dan okulasi masing-masing 73,47% dan 11,54%. Selanjutnya, tingkat keberhasilan dari setiap metode perbanyakan klonal relatif sama pada kedua klon kakao (BP 07 dan SP 07) yang digunakan. Dengan demikian, dua metode perbanyakan klonal, yaitu sambung pucuk dan sambung samping dapat menjadi metode pilihan dalam rangka percepatan perbanyakan klon-klon kakao unggul guna mendukung program rehabilitasi dan peremajaan tanaman kakao di Sulawesi Tengah
PANGAN DAN KETERSEDIAAN PANGAN
Ketersediaan pangan bersumber dari beras di Provinsi Sulawesi Tengah mencapai 222.073 ton, dan produksi tertinggi dihasilkan Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 79.659 ton. Ada 3 Kabupaten dan 1 Kota mengalami defisit ketersediaan beras, masing-masing Kabupaten Banggai Kepulauan, Buol, Tojo Una-una, dan Kota Palu, serta 7 daerah lainnya menjadi lumbung beras. Secara keseluruhan ketersediaan beras di Provinsi Sulawesi Tengah mampu memenuhi 65 persen kebutuhan konsumsi beras berikutnya