MEDIA LITBANG SULTENG
Not a member yet
    67 research outputs found

    TEKNIK PENGUASAAN ENGLISH VOCABULARY DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

    Full text link
    Kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi lisan dan tulisan ditentukan dari penguasaan mereka akan kosakata bahasa Inggris. Ketika dosen dan mahasiswa sebagai sumber daya manusia di bidang pengajaran bahasa Inggris memiliki tingkat penguasaan kosakata bahasa Inggris yang rendah, kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa Inggris secara lisan dan tulisan juga mengalami hambatan besar bahkan tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini akan berdampak sangat besar terhadap pembelajaran dan pengajaran bahasa Inggris nantinya di berbagai tingkat pendidikan. Tulisan ini mencoba mengangkat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan penguasaan kosakata bahasa Inggris sehingga tujuan pembelajaran bahasa Inggris sebagai alat komunikasi lisan dan tulisan dapat tercapai dengan optimal

    STRUKTUR KOMUNITAS ARTHROPODA PADA EKOSISTEM CABAI TANPA PERLAKUAN INSEKTISIDA

    Full text link
    Community Structure Arthropods in chilli ecosytem undtreated insectisides. were analysed using tree methods. The methods were sweep net, direct observation for crown arthropods, pitfall trap for soil surface arthropods. The arthropods collected were the examined in the laboratory. The orders and families were identified and classified on the bassis of the guilds. The analyses  showed that the 26 families of 8 orders of arthropods with the total 1942 individuals on chilli crown and 25 families of 11 orders with total 593. As many as three guilds of arthropods were obtained from the structure analyses : phytophags, natural enemies of Arthropods, and others

    RESPON KAMBING KACANG JANTAN TERHADAP WAKTU PEMBERIAN PAKAN

    Full text link
    Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui respon kambing kacang jantan terhadap waktu pemberian pakan, telah dilaksanakan di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Propinsi Sulawesi Tengah yang berlangsung dari tanggal 19 Mei 2005 sampai dengan tanggal 11 Agustus 2005.   Penelitian ini menggunakan 15 ekor kambing kacang jantan dengan kisaran umur 10-12 bulan dengan bobot badan antara 9 sampai dengan  18 kg.   Ternak tersebut ditempatkan dalam kandang individual berlantai papan berbentuk panggung yang disekat sebanyak 15 petak, dengan ukuran setiap petak adalah 75 x 75 cm dan tinggi 75 cm.   Masing-masing kandang dilengkapi dengan bak makan terbuat dari papan dan sebuah baskom untuk tempat  air minum.   Penelitian ini menggunakan 15 ekor kambing kacang jantan dengan kisaran umur 10 – 12 bulan dengan bobot badan antara 9 sampai dengan 18 kg.   Ternak tersebut ditempatkan dalam kandang individual berlantai papan berbentuk panggung yang disekat sebanyak 15 petak, dengan ukuran setiap petak adalah 75 x 75 cm dan tinggi 75 cm.   Masing-masing kandang dilengkapi dengan bak makan terbuat dari papan dan sebuah baskom untuk tempat air minum.   Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 kelompok sebagai ulangan.   Adapun perlakuan yang dicobakan terdiri atas lima level waktu pemberian pakan, yaitu WM1 = Pemberian pakan pada jam 08.00 Wita, WM2 = Pemberian pakan pada jam 09.30 Wita, WM3 = Pemberian pakan pada jam 11.00 Wita, WM4 = Pemberian pakan  pada  jam  12.30  Wita   dan   WP5 = Pemberian pakan pada jam 14.00 Wita. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap konsumsi bahan kering ransum, TDN, protein, Ca, P, serat kasar   ternak kambing jantan

    STRATEGI RISET RUMPUT LAUT UNTUK PRODUKSI PRODUK SPESIFIK DAERAH SULAWESI TENGAH

    Full text link
    Masyarakat Sulawesi Tengah pada dasarnya telah mengenal rumput laut sejak dulu, namun baru dilakukan kegiatan budidaya dalam skala kecil pada tahun 1990.  Perkembangan budidaya rumput laut kearah yang lebih maju, setelah tim peneliti dari Lembaga Penelitian Perikanan Laut (LPPL) berhasil membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii di Kepulauan Samaringga pada tahun 1997 (Fauziah, 2009; Hamja, 2009). Sejak itu, kegiatan budidaya rumput laut oleh masyarakat pesisir Sulawesi Tengah berkembang dari tahun ke tahun sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dan nilai ekonomi rumput laut itu sendiri, yang saat ini sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah telah mengenal rumput laut dan telah menjadikan sebagai sumber pendapatan utama. Selain Eucheuma cottonii , berkembang pula budidaya rumput laut jenis Gracilaria sp, terutama di daerah Kabupaten Morowali. Rumput laut Eucheuma cottonii di budidayakan di laut dan merupakan penghasil karaginan, sedangkan Gracilaria sp di budidayakan di Tambak dan merupakan penghasil agar-agar. Pada tahun 2005, produksi rumput laut Eucheuma cottonii dan  Gracilaria sp di Sulawesi Tengah mencapai 244.133 ton basah. Dengan produksi tersebut, Sulawesi Tengah menempati  urutan  ketiga  penghasil  rumput laut terbesar di Indonesia, setelah Sulawesi  Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Produksi tersebut sesungguhnya masih sangat rendah, jika dibandingkan dengan  luas  areal  tersedia  sebesar 106.00

    STUDI KELAYAKAN KUALITAS BATAKO HASIL PRODUKSI INDUSTRI KECIL DI KOTA PALU

    Full text link
    Salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan memanfaatkan keterampilan yang dimiliki, salah satunya adalah pembuatan batako. Batako tersebut secara kasat mata menunjukkan kualitas yang cukup baik dengan permukaan yang mulus akan tetapi sebenarnya belum memenuhi standar batako yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan kualitas batako hasil produksi industri kecil di Kota Palu, untuk mengoptimalkan campuran batako dan untuk mengetahui nilai kuat tekan batako pada umur 28 hari. Dalam melaksanakan penelitian ini rancangan komposisi campuran batako dibuat berdasarkan campuran batako pada industri kecil di Kota Palu juga dengan metode mix design sebagai dasar untuk menentukan variasi campuran batako dengan cara coba – coba. Hasil Penelitian pada industri kecil diperoleh nilai kuat tekan terbesar yaitu pada komposisi campuran 1:16 sebesar 5,259 MPa dan menghasilkan 91 buah dibandingkan dengan hasil penelitian di laboratorium untuk campuran 1:16 dengan proporsi agregat kasar 40% dari keseluruhan agregat diperoleh nilai kuat tekan sebesar 7,778 MPa dan menghasilkan 91 buah. Dengan demikian bahwa disamping jumlah semen, banyaknya agregat kasar dalam campuran batako sangat mempengaruhi nilai kuat tekannya.

    KONSEP PENANGANAN ALUR DI BELOKAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN SUNGAI DI SULAWESI TENGAH

    Full text link
    Provinsi Sulawesi Tengah memiliki 6 buah Satuan Wilayah Sungai (SWS) diantaranya SWS Buol-Lambunu, SWS Parigi-Poso, SWS Bongka-Malik, SWS Lombok-Mentawa, SWS Laa-Tambalako dan SWS Palu-Lariang, dan terdiri dari sekitar 157 buah sungai dan tidak termasuk sungai-sungai kecil yang berfungsi sebagai anak-anak sungai. Terdapat beberapa sungai besar dengan debit relatif konstan sepanjang tahun seperti Sungai Poso (Luas DAS ± 1101.87 km2 dan panjang sungai ± 68.70 km ), Sungai Bongka (Luas DAS ± 3085 km2 dan panjang sungai ± 122 km), Sungai Laa (Luas DAS ± 2875.60 km2 dan panjang sungai ± 96.30 km), Sungai Tambalako (Luas DAS ± 1045.60 km2 dan panjang sungai ± 83.70 km), Sungai Gumbasa (Luas DAS ± 1276.65 km2 dan panjang sungai ± 61.50 km) dan Sungai Palu (Luas DAS ± 3043 km2 dan panjang sungai ± 90 km). Secara umum, konfigurasi memanjang sungai-sungai tersebut memiliki profil berbelok-belok (bermeander) akibat proses morfodinamik sungai yang terjadi secara terus menerus, yang ditandai dengan belokan-belokan ringan dengan sudut belokan besar sampai belokan-belokan berat dengan sudut belokan kecil. Pada dasarnya belokan sungai memiliki arti penting terhadap fenomena hidraulis aliran di sungai. Konsep eko-hidraulik memandang belokan sungai sebagai  wahana retensi untuk mereduksi akumulasi aliran banjir di hilir. Namun sebaliknya belokan sungai juga justru menjadi faktor penyebab terjadinya luapan banjir dan terjadinya gerusan lokal di sisi luar belokan. Kedua potensi tersebut harus dikelola secara bijak sehingga permasalahan yang timbul bisa direduksi dan manfaat/potensi yang dimilki dapat dioptimalkan. Oleh karena itu perlu dikemukakan konsep-konsep pengelolaan dan penanganan sehingga belokan sungai memiliki potensi yang baik dalam pengelolaan sungai dan pengendalian banjir

    DAERAH PENANGKAPAN DAN STATUS ALAT TANGKAP IKAN RONO(Xenopoecilus Oophorus) DI DANAU POSO

    Full text link
    Keberadaan spesies ikan Rono (Xenopoecilus oophorus)di danau Poso diidentifikasi pertama kali pada tahun1988 oleh Kottelat. Ikan Rono (Xenopoecilus oophorus) merupakan ikan endemik berukuran kecil  yang memiliki warna hitam kehijau-hijauan.  Berdasarkan data “Red List of Treatened Animal 2009 of IUCN” (www.iucnredlist.org) diketahui populasi jenis ikan Rono (Xenopoecilus oophorus) ini sedang teracam punah jika tidak dikelola secara benar.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi ilmiah tentang jenis dan penggunaan alat tangkap serta kondisi daerah penangkapan ikan Rono (Xenopoecilus oophorus) di danau Poso. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – Sepetember 2009 di Danau Poso Sulawesi Tengah. Untuk mencapai tujuan penelitian  maka dilakukan  beberapa kegiatan yaitu : Inventarisasi dan dokumentasi  jenis alat penangkapan dan alat bantu penangkapan. Pengamatan kondisi ekologis di stasiun, melakukan wawancara  dengan nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan Rono (Xenopoecilus oophorus), identifikasi daerah penangkapan dengan menggunakan GPS Garminetrex. Kemudian dipetakan diatas peta dasar skala 1: 25.000. Berdasarkan hasilpenelitian diketahui bahwa Alat Tangkap yang digunakan dalam penangkapan ikan Rono  (Xenopoecilus oophorus) ialah  Jaring yang dimodifikasi dari waring  berwarna hitam dengan ukurang mata jaring  ± 3mm x 3mm. Alat bantu penangkapan yang digunakan dalam penangkapan ikan Rono (Xenopoecilus oophorus) terdiri atas: 1). Lampu petromaks; 2). Perahu dayung tradisional dan perahu motor (Katinting) ; 3). Seser dari bahan yang sama dengan jaring, dibuat berbentuk lingkaran dengan pegangan dan bingkai dari besi dengan diameter ± 50 cm. Status alat tangkap ini tidak ramah lingkungan karena selektivitas  alat tangkap dan alat bantu penangkapan sangat rendah sehingga mengancam keberadaan populasi ikan Rono (Xenopoecilus oophorus) yang merupakan ikan endemik di Danau Poso.  Selanjutnya diketahui pula bahwa terdapat tiga daerah penangkapan ikan Rono (Xenopoecilus oophorus) di danau Poso yaitu: 1). Bagian Utara Danau Poso, masyarakat setempat menamakan daerah-daerah perairan ini adalah: Tando Dilana, Watu Mpangasa, Tamuu, Tando Lala,  Tando Duwangko; 2). Bagian Barat Danau Poso yaitu di daerah perairan Tando Dumalanga bagian Selatan dan perairan Tando Dumalanga bagian Utara; 3). Bagian Timur Danau Poso yaitu di daerah perairan bagianUtara desa Tolambo

    KERAPATAN, KEANEKARAGAMAN DAN POLA PENYEBARAN GASTROPODA AIR TAWAR DI PERAIRAN DANAU POSO

    Full text link
    Gastropoda merupakan salah satu Kelas dari Fillum Mollusca, dan merupakan salah satu jenis komunitas fauna bentik  yang hidup didasar perairan. Komunitas fauna bentik ini banyak ditemukan di perairan danau Poso, namun hingga saat ini   data  tentang bioekologinya masih sangat kurang sehingga perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Danau Poso Sulawesi Tengah pada bulan Oktober - Desember 2009. Stasiun pengamatan ditentukan berdasarkan  model area sampling yaitu suatu tehnik penentuan areal sampling dengan mempertimbangkan wakil-wakil dari daerah feografis. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui spesies, kerapatan, pola penyebaran dan keanekaragaman  Gastropoda di danau poso, menggunakan  Metode pendekatan menurut Cox (1967) untuk mengetahui kerapatan; Ludwing and Reynolds (1988) untuk mengetahui indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H’); Krebs (1989) untuk mengetahui Indeks keseragaman (E) dan Indeks Sebaran Morishita (Iδ); Odum  (1971) untuk mengetahui Indeks  Dominasi (C). Berdasarkan hasil penelitian diketahui delapan jenis gastropoda yang ditemukan di danau Poso yaitu: Tylomelania toradjarum, Tylomelania patriarchalis, Tylomeliana neritiformis, Tylomeliana kuli, Tylomeliana palicolarum, Tylomeliana bakara,  Tylomeliana sp1, Tylomeliana sp2. Hasil penelitian menunjukkan  Kerapatan gastropoda paling tinggi ditemukan di stasiun I, yaitu di bagian Utara danau Poso dengan 119,25 ind/m².  Stasiun II dan stasiun IV memiliki nilai Indeks Keanekaragaman spesies yang masuk dalam kategori sedang, sedang dua stasiun lainnya masuk dalam kategori rendah. Penyebaran jenis individu gastropoda di danau Poso memiliki dua pola  yaitu bersifat seragam dan mengelompok

    LAMA PENYIMPANAN DAN INVIGORASI TERHADAP VIGOR BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevigoran bibit kakao pada berbagai lama penyimpanan dan invigorasi benih. Penelitian ini disusun berdasarkan pola faktorial menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dengan 2 faktor.  Faktor pertama adalah lama penyimpanan benih yang terdiri dari lima taraf yaitu: 1) control , 2) lama simpan 2 minggu, 3) lama simpan 4 minggu,  4) lama simpan 6 minggu, 5) lama simpan 8 minggu. Faktor kedua adalah cara invigorasi benih dengan menggunakan ZPT yang terdiri dari empat macam yaitu: 1) tanpa ZPT, 2) 0,01 m mol GA3, 3) 0,01 m mol GA3 + 0,1 m mol NAA, 4) air kelapa.  Data yang diperoleh dianalisis ragam, data yang memiliki koefisien keragaman lebih dari 20% ditransformasikan ke √ x + 0,5  Sedangkan perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf  0,05.  Hasil penelitian memperlihatkan bahwa : Semakin lama benih disimpan menyebabkan vigor bibit juga semakin menurun.  Invigorasi dengan GA3 + NAA memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase  bibit vigor, tinggi bibit, jumlah daun dan indeks vigor hipotetik. Air kelapa dapat menjadi alternative cara invigorasi benih kakao yang telah mengalami kemunduran

    MENUJU KEBIJAKAN PENGELOLAAN TELUK PALU YANG HARMONIS

    Full text link
    Tulisan ini mencoba menggagas kebijakan pengelolaan teluk palu yang harmonis, di tengah tingginya potensi sumber daya alam di teluk Palu tentu saja banyak pihak kepentingan yang akan mengambil keuntungan di dalamnya. Nelayan tradisional yang secara turun temurun mengadu dan menyandarkan kehidupannya di teluk Palu, pengusaha, dan pemerintah adalah tiga aktor penting dalam pemanfaatan dan pengelolaan teluk Palu. Namun pada kenyataannya terjadi GAB antara harapan dalam pengelolaan dan kenyataan sesungguhnya di teluk Palu. Kerusakan ekologi dan daya dukung teluk palu akibat eksploitasi yang berlebihan, sampah dan limbah yang tidak terkontrol, berbanding lurus dengan merosotnya daya dukung dan penghasilan nelayan tradisional teluk Palu. Dalam pembangunan yang harmonis tentunya tidaklah mempertentangkan 3 aktor utama dalam pemanfaatan teluk Palu, tetapi bagaimana mensinergikan ke tiga aktor tersebut kedalam kue pembangunan yang merata demi terwujutnya cita-cita pengelolaan teluk Palu yang harmonis

    61

    full texts

    67

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MEDIA LITBANG SULTENG
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇