Jurnal ProNers
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS PEMBERIAN JUS MENTIMUN UNTUK MENURUNKAN TEKANAN ARAH PADA PASIEN HIPERTENSI: LITERATURE REVIEW
Lataribelakang: Hipertensiimerupakan peningkatanitekanan darahidiatas 140/90immHg jika tidakditanggani dengan tepat dapat mengakibatkan kematian. Asupan nutrisi yang mengandung magnesiumdan kalium sangat dibutuhkan pada penderita hipertensi, dikarenakan dapatimenurunkan tekananidarahsecara signifikan. Salahisatu jenis nutrisi banyak mengandung magnesium dan kalium adalah jusmentimun. Tujuan: Menganalisis efektivitas pemberian jusimentimun untukimenurunkan tekananidarahpadaipasien hipertensi. Metode: Jenisipenelitian literatureireview menggunakan teknikianalisis datacontentianalyis, idatabase yang digunakan GoogleiScholar, iPubMED, neliti.com, Portal GarudaidanResearchiGate. Sedangkan untuk menganalisis hasil penelusuran menggunakanimetode prismai(PreferrediReporting ItemsiSystematic andiMeta-analyes) dengan tahapaniidentification, screening,elgibility dan included. Hasil: didapatkan 7 artikel menunjukan bahwa pemberian jus mentimun yang dibuatdari 200cc air dengan 100 gram mentimun atau setara dengan 1 gelas jus mentimun, kemudian diberikanselama seminggu sebanyakidua kaliidalam sehari yaituidi pagi danisore hari menunjukan bahwa terdapatpenurunan tekananidarah padaipenderita hipertensi. Hal ini dikarenakan kandunganimagnesium dankalium dalam mentimun. Kesimpulan: Pemberian jus mentimun sangat efektif untukimenurunkantekananiidarah pada penderitaibhipertensi. Selain murah dan terjangkau, mentimun juga sangat mudah kitajumpai. Dalam pemberian jus mentimun tidak menimbulkan efek sampin
Gambaran Penggunaan Media Sosial Pada Mahasiswa Keperawatan Di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Di Masa Pandemi
Latar Belakang: Selama masa pandemi perkuliahan mahasiswa dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan sistem pembelajaran online melalui gadget Hp maupun laptop. Sehingga mahasiswa cenderung dalam menggunakan media sosial untuk membantu menyelesaikan tugas perkuliahan. Penggunaan media sosial secara intens mengakibatkan adanya kecanduan sehingga seseorang cenderung untuk menunda waktu tidur. Tujuan: Mengetahui gambaran penggunaan media sosial pada mahasiswa keperawatan di fakultas kedokteran universitas tanjungpura di masa pandemi. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain analisis deskriptif melalui rancangan cross sectional.Teknik sampling yang digunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 69 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner media sosial. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan untan aktif dalam menggunakan media sosial sebanyak 54 orang sedangkan yang tidak aktif dalam menggunakan media sosial sebanyak 15 orang.Kesimpulan: Terdapat gambaran penggunaan media sosial pada mahasiswa keperawatan untan dengan persentase aktif media sosial (78,3%) dan tidak aktif penggunaan media sosial (21,7%). Kata Kunci: Media sosial, mahasiswa keperawatan
EFEKTIVITAS TERAPI RELAKSASI BENSON DAN AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP SKOR TANDA DAN GEJALA DEPRESI LANJUT USIA DI UPT PANTI SOSIAL REHABILITASI LANSIA
ABSTRAKLatar Belakang: Lanjut usia adalah individu yang berusia sama dengan atau lebih dari 60 tahun. Depresi pada lansia disebabkan oleh perubahan fisik, biologis, psikologis dan sosial. Depresi pada lansia masih belum mendapatkan penanganan yang optimal. Penanganan dengan non-farmakologi untuk mengatasi depresi pada lansia diantaranya adalah dengan relaksasi Benson dan aromaterapi lavender. Tujuan: Mengetahui perbedaan efektivitas terapi relaksasi Benson dan aromaterapi lavender terhadap perubahan skor tanda dan gejala depresi pada lanjut usia. Metode: Penelitian kuantitatif quasi experiment pretest and post test nonequivalent control group pada 32 responden. 16 responden terapi relaksasi Benson dan 16 responden aromaterapi lavender. Data skor depresi menggunakan kuesioner (GDS-15). Analisa data menggunakan paired samples test dan independent samples test. Hasil: Paired samples test pada pre dan post test skor GDS-15 pada kedua kelompok terapi didapatkan nilai p=0,003 (p<0,005). Pada independent samples test didapatkan hasil terdapat perbedaan bermakna skor GDS-15 post test terapi relaksasi Benson dan aromaterapi lavender dengan nilai p=0,001 (p<0,005). Kesimpulan: Terapi relaksasi Benson lebih efektif terhadap perubahan skor tanda dan gejala depresi lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi LansiaKata Kunci: Lansia, Depresi, Relaksasi Benson, Aromaterapi Lavende
PERBANDINGAN KEMANDIRIAN ANTARA PASIEN STROKE HEMORAGIK DAN NON HEMORAGIK: STUDI LITERATUR
Latar Belakang: Stroke menimbulkan ketidakmampuan dan kelemahan yang berakibat pada penurunan kemampuan fungsional yang membuat pasien bergantung pada orang. Kemandirian aktivitas hidup sehari-hari pasien pasca stroke sangat penting karena dapat membuat pasien merasa berguna dan bersemangat yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup pada penderita stroke. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kemandirian aktivitas hidup sehari-hari bagi pasien pasca stroke. Metode: Jenis penelitian ini narrative review, artikel diperoleh dari mesin pencari Google Scholar dan pangkalan data (database) Pubmed, NEJM, JAMA, Sciencedirect, Scopus Proquest, Directory of Open Access Journals (DOAJ) dan Portal Garuda. Teknik analisis data menggunakan content analsis. Dari hasil literature review ditemukan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa rata-rata pasien pasca stroke mandiri dalam aktivitas hidup sehari-hari seperti makan, berpakaian, mandi, eliminasi, mobilitas, dan hygiene. Beberapa aktivitas pasien pasca stroke membutuhkan bantuan dan dukungan keluarga seperti melakukan aktivitas berpakaian, eliminasi, hygiene, pengetahuan dalambelajar melakukan segala kegiatan kemandirian. Kesimpulan: perbedaan kemandirian pada pasien stroke hemoragik dan non hemoragik yaitu pada aktivitas mandi, makan dan mobilitas. Sedangkan persamaan pasien stroke hemoragik dan non hemoragik yaitu sama – sama memerlukan bantuan dalam melakukan aktivitas berpakaian, eliminasi dan hygiene
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI BEBAN KERJA PERAWAT DALAM MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP: LITERATURE REVIEW
Latar Belakang: Beban kerja perawat merupakan banyaknya pekerjaan yang harus dilaksanakan melebihi batas kemampuan perawat. Beban kerja yang dirasakan perawat timbul karena adanya faktor yang memengaruhinya, faktor tersebut dapat muncul dari dalam tubuh pekerja yang disebut dengan faktor internal dan dapat muncul dari luar tubuh pekerja yang disebut dengan faktor eksternal. Metode: Jenis penelitian literature review. Artikel diperoleh dari database dan mesin pencari yaitu Google Scholar, PubMed, ResearchGate dan Neliti. Dengan rentang tahun publikasi 2015-2021. Hasil: Faktor-faktor yang yang memengaruhi beban kerja perawat seperti faktor internal yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan kondisi kesehatan dan faktor eksternal yang terdiri dari beban kerja fisik, mental dan sosial, yang temasuk beban kerja fisik seperti ketidakseimbangan antara jumlah tenaga perawat dengan jumlah pasien dan tambahan tugas, beban kerja mental seperti perbedaan kegiatan pada tiap shift, bersifat sosial berupa adanya masalah dengan rekan kerja satu ruangan dengan adanya perubahan jadwal dinas. Kesimpulan: Dalam literature review ini terdapat dua jenis faktor yang dapat memengaruhi beban kerja perawat diantaranya faktor internal yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan sedangkan faktor selanjutnya yaitu faktor eksternal yang bersifat fisik, mental dan sosial
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI PELAKSANAAN METODE PRECEPTORSHIP PADA PEMBELAJARAN PRAKTIK KLINIK MAHASISWA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT : LITERATURE REVIEW
Latar belakang : Metode preceptorship merupakan sebuah metode pembelajaran dengan sistem bantuan preceptor (perawat) kepada preceptee (mahasiswa keperawatan) saat melakukan asuhan keperawatan pada saat praktik klinik. Tujuan : Mengetahui faktor – faktor yang memengaruhi pelaksanaan metode preceptorship pada pembelajaran praktik klinik mahasiswa keperawatan di rumah sakit. Metode : Jenis penelitian literature review. Artikel diperoleh dari database dan search engine yaitu Google Scholar, PubMed, dan Science Direct. Dengan rentang tahun publikasi 2014-2021. Hasil : Dari hasil literature review ditemukan delapan artikel yang telah sesuai dengan kriteria. Ditemukan faktor – faktor yang memengaruhi pelaksanaan metode preceptorship dari faktor pendukung yaitu persiapan yang dilakukan oleh preceptor dan kolaborasi antara pembimbing akademik dari institusi pendidikan dengan pembimbing klinik. Dan faktor penghambat yang berasal dari preceptor yaitu tanggung jawab preceptor, motivasi, dan komitmen preceptor; dan faktor penghambat yang berasal dari preceptee yaitu keengganan mahasiswa untuk belajar seperti kurangnya motivasi dan kurang disiplin saat praktik klinik. Kesimpulan : Dalam literature review ini terdapat berbagai faktor yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam pelaksanaan metode preceptorship pada pembelajaran praktik klinik mahasiswa keperawatan di rumah sakit agar dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan untuk pengembangan dalam pelaksanaannya
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PENDERITA HIPERTENSI: LITERATURE REVIEW
Latar Belakang: Kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi sangatlah penting karena dengan minum obat antihipertensi tekanan darah dapat dikontrol dan dalam waktu jangka panjang resiko terjadinya kerusakan organ-organ dapat dikurangi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat antihipertensi baik faktor yang mendukung maupun faktor yang menghambat kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi. Metode: Jenis penelitian ini adalah literature review dimana metode pencarian artikel menggunakan SPIDER. Artikel diperoleh dari pangkalan data ProQuest, Pubmed, ScienceDirect, Sage, Research Gate, EBSCO, Garuda dan Neliti dengan mesin pencarian Google Scholar dari tahun 2015-2021. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa konten. Hasil: Hasil literature review didapatkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi yaitu usia, hidup sendiri, komorbiditas, pendidikan, pengetahuan, kepribadian, motivasi, persepsi, sikap, tindakan, stigma, dukungan keluarga, hubungan pasien dan tenaga kesehatan, peran tenaga kesehatan, komunikasi dokter, biaya pengobatan, pemahaman terkait resep, durasi meminum obat, ketersedian obat, jumlah jenis obat yang dikonsumsi dan penggunaan obat analgesik sendiri. Kesimpulan: Komorbiditas, sikap dan dukungan keluarga merupakan faktor yang paling banyak muncul dalam memengaruhi kepatuhan minum obat antihipertensi. Kata Kunci : Kepatuhan, Minum Obat Antihipertensi, Penderita Hipertens
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT STRES PASIEN DI RUANG RAWAT INAP: LITERATURE REVIEW
Latar Belakang: Komunikasi dalam keperawatan adalah dasar dan kunci dari seorang perawat dalam menjalankan tugas-tugasnya. Perawat dituntut dapat berkomunikasi dengan baik kepada pasien, satu diantara hambatan komunikasi adalah rasa emosional. Pasien yang di rawat di rawat inap memiliki kesehatan yang abnormal baik fisik maupun psikisnya. Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana komunikasi teraupetik perawat, untuk mengetahui bagaimana tingkat stress pasien di ruang rawat inap, untuk mengidentifikasi bagaimana hubungan komunikasi teraupetik perawat dengan tingkat stress pasien di ruang rawat inap. Metode: Penelitian ini menggunakan database dengan penelusuran elektronik pada Google Scholar, Pudmed, Sciencedirect, Portal Garuda yang dipublikasi pada tahun 2015-2021 (menggunakan Analisa SPIDER). Dalam artikel yang di gunakan untuk review. Hasil: Komunikasi teraupetik perawat di pengaruhi oleh motivasi dan persepsi, komunikasi teraupetik perawatb aik, penerapan komunikasi teraupetik perawat yang baik meningkatkan hubungan saling percaya antara perawat dan klien sehingga kecemasan menurun dan tidak sampai kepada level stress. Kesimpulan: Komunikasi teraupetik perawat sangat penting untuk diterapkan secara baik untuk membina hubungan saling percaya bagi klien sehingga menekan cemas dan stress
HUBUNGAN SELF MANAGEMENT DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II : LITERATURE REVIEW
Latar belakang : DM (Diabetes Mellitus) adalah penyakit diakibatkan oleh kadar glukosa darah yang meningkat disebabkan penurunan sekresi insulin. DM tipe II memiliki tingkat komplikasi yang sangat beragam. Self management dikenal sebagai perawatan diri pasien dalam upaya mengontrol ketidakstabilan kadar gula darah. Self management dapat menentukan keberhasilan menunjukkan nilai normal. Tujuan : untuk menganalisis self management dengan kadar gula darah pasien DM tipe II. Metode : metode yang digunakan literature review, menggunakan databased akademik Google Scholar, PubMed, ResearchGate.net dan ScienceDirect. Hasil : terdapat 10 artikel terkait self management dengan kadar gula darah pasien DM tipe II. Self management baik dapat memicu tingkat kenormalan pada kadar gula darah. Self management memiliki beberapa aspek seperti aspek pola makan, aspek aktivitas fisik, aspek kepatuhan berobat, dan aspek kontrol gula darah yang memiliki pengaruh pada tingkat kenormalan kadar gula darah. Self management memiliki peran penting sehingga kadar gula darah pada pasien tetap didalam rentang angka normal. Kesimpulan : Terdapat hubungan self management terhadap kadar gula darah pada pasien DM tipe II
HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GANG SEHAT PONTIANAK SELATAN
Diabetes mellitus is a hyperglycemia disease due to cell insensitivity to insulin, which can increase glucose levels in the blood and an increase in the hormone adrenaline which converts glycogen reserves into glucose, causing a person to stay awake at night, thus disrupting sleep quality. Method : This study used quantitative research with cross sectional design. The sampling technique used was purposive sampling method with a sample of 80 outpatients. The research was conducted by filling out the Perceived Stress Scale & Pittsburgh Sleep Quality Index questionnaire. Research data using the Chi-square statistical test. Results : In this study patients diabetes mellitus of the were aged 56-65 years (50%), gender of female was 47 people (58.7%), last education was 22 people (27.5%), IRT employment status was 39 people (48.7%), experienced stress levels, and disturbed sleep quality. Bivariate analysis with Chi-square test obtained a value p = 0.025 ( p <0.05 ). Conclusion : There is correlation of stress levels to sleep quality in diabetes mellitus patients in the working area of Gang Sehat community health center subdistrict South Pontianak. Keywords: diabetes mellitus, stress level, sleep qualit