Jurnal ProNers
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
FAKTOR PENGHAMBAT PROSES PROLIFERASI LUKA DIABETIC FOOT ULCER PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI KLINIK KITAMURA PONTIANAK
Di Indonesia, khususnya di Pontianak jumlah penderita diabetes mellitus tipe II masih sangattinggi. Di Klinik Kitamura terhitung pada tahun 2012 sebanyak 470 penderita di sertai komplikasi lukadiabetic foot ulcer. Penelitian di luar negeri menjelaskan bahwa menurunnya kadar kalium, infeksibakteri, dan jumlah eksudat yang berlebihan menjadi penyebab sulitnya luka melewati fase pemulihan(proliferase). Tujuan penelitian ini mengetahui fakor apa saja yang dapat menghambat proses proliferasiluka diabetic foot ulcer pada pasien diabetes mellitus tipe II di Klinik Kitamura Pontianak. Penelitian inimerupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan studi kohort prospektif. Subjek penelitian adalahpasien yang menjalani perawatan luka di Klinik Kitamura sebanyak 20 subjek. Sampel ditentukanmenggunakan metode purposive sampling. Analisa data menggunakan distribusi dan regresi linier. Hasiltabulasi menunjukkan sebanyak 56 % luka subjek pada grade III, 44 % pada grade IV. Dasar luka yangbergranulasi 50 % dan yang memiliki slough sebanyak 50 %. Dari faktor kadar kalium, kurang dari 3,5mEq sebanyak 19 % , 3,5 sampai 5,0 mEq sebanyak 75 %, lebih dari 5,0 mEq sebanyak 6 %. Persentasieksudat ringan sebanyak 38 %, sedang sebanyak 62 %. Identifikasi bakteri ditemukan sebanyak 4 %positif pseudomonas aeruginosa dan 96 % positif staphylococcus aureus. Sementara hasil statistikbanyak menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara variabel independent dan dependent.Sebagian besar luka yang ditemukan berada pada grade III dengan kondisi dasar luka yang bergranulasidan memiliki slough. Berdasarkan uji statistik, hubungan antara kadar kalium dengan proses proliferasiluka diabetic foot ulcer sangat jauh dari nilai signifikan. Sementara cairan luka (eksudat) dan infeksibakteri mendekati hasil yang signifikan terhadap proses proliferasi
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN ISPA PADA BAYI DI PUSKESMAS KECAMATAN SEGEDONG.
Abstrak:Infeksi saluran pernafasan akut ( ISPA ) merupakan salah satu penyebab kesakitan utama pada balita dinegara berkembang. Di Kalimantan Barat tahun 2012 tercatat 1.148 bayi menderita ISPA dan 22 bayi yangmenderita pnemonia berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibudengan perilaku pencegahan ISPA pada bayi di Puskesmas Kecamatan Segedong. Jenis penelitian iniadalah deskriptif korelasi dengan rancangan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu ibu yangmemiliki bayi 1 bulan hingga 2 tahun yang datang ke Puskesmas Kecamatan Segedong, yaitu sebanyak 95orang. Sampel 76 orang diambil dengan teknik non probability sampling dengan rancangan samplingaksidental. Data primer diperoleh dari hasil pengisian kuesioner yang disebar ke reponden. Analisa data dilakukan dengan perangkat lunak atau software analysis. Hasil penelitian menunjukan dari 76 responden, 45orang (59,21%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 19 orang (25%) memiliki tingkat pengetahuan cukupdan 12 orang (15,79%) memiliki tingkat pengetahuan kurang. Perilaku ibu, 64 orang (84,21%) melakukanpencegahan dan 12 orang ( 15,79%) tidak melakukan pencegahan. Hasil uji statistik Chi Squaremenunjukan ada hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan ISPA pada bayi diPuskesmas Kecamatan Segedong dengan (p value = 0,00). Jadi dapat disimpulkan ada hubungan tingkatpengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan ISPA pada bayi di Puskesmas Kecamatan Segedong.Sehingga perluk dilakukan tindakan pencegahan ISPA pada balita dengan cara meningkatkan pengetahuanibu dan menjaga kondisi lingkungan balita baik lingkungan di dalam rumah maupun di luar rumah.Kata Kunci : ISPA, Pengetahuan, Perilak
EFEKTIVITAS MENYENDAWAKAN BAYI SETELAH MENYUSUI UNTUK MENCEGAH REFLUKS GASTROESOFAGUS PADA BAYI DI RUANG PERINATOLOGI RSUD RUBINI MEMPAWAH
Refluks Gastroesofagus (RGE) adalah aliran balik isi lambung ke dalam esofagus akibat relaksasi atau inkompetensi sfingter esofagus bagian bawah. Refluks Gastroesofagus (RGE) yaitu suatu keadaan yang sering dijumpai pada bayi beberapa bulan pertama kehidupan dan sembuh pada usia1 2 tahun pada paling sedikit 80 % penderita. Refluks gastroesofagus (RGE) yang berlangsung lama, baik durasi maupun frekuensi dapat menyebabkan berbagai derajat kerusakan mukosaesofagus, gangguan pencernaan bahkan apnea.
Tujuan penelitian ini adalah peneliti ingin menilai efektivitas menyendawakan bayi setelah menyusui dengan membandingkan metode over yourshoulder dan metode sitting on your lap terhadap pencegahan refluks gastroesofagus pada bayi diruang perinatologi RSUD Rubini Mempawah. Penelitian dilakukan mulai tanggal 6 Mei dan 30Mei 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan quasy eksperiment dengan menggunakan 20 sampel yang dibagi menjadi dua kelompok.
Analisa data yang digunakan adalah analisa data binomial. Dari hasil analisa data binomial didapatkan hasil bahwa responden yang menggunakan metode over your shoulder tidak ada yang mengalami refluks gastroesofagus sedangkan pada responden yang menggunakan metode sitting on yourlap terdapat 2 responden atau 20 % dari total responden yang diteliti dengan metode tersebut yang mengalami refluks gastroesofagus. Jadi metode yang lebih efektif dalam mencegah refluksgastroesofagus adalah metode over your shoulder.
Kata Kunci: Refluks gastroesofagus,menyendawakan bay
EVALUASI PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) LOKAL TERHADAP PERBAIKAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN SAIGON DAN PARIT MAYOR KECAMATAN PONTIANAK TIMUR TAHUN 2012
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Kekurangan gizi pada bayi dan anak dapat menimbulkangangguan pertumbuhan dan perkembangan, yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Untukmengurangi dan mencegah kasus gizi buruk dan gizi kurang, pemerintah telah merencanakan program yang melibatkanaspek sosial budaya dan aspek pemberdayaan masyarakat sebagai dasar dalam menyusun program pemberian MP-ASIyang berbasis lokal. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yakni dengan deskriptif eksplorasi yangbertujuan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan status gizi balita dari sebelum dilaksanakannya program pemberianMP-ASI lokal hingga terlaksananya program pemberian MP-ASI lokal dan untuk mengetahui gambaran pelaksanaanprogram menggunakan kuisioner untuk mendapatkan data dari sampel penelitian. Hasil analisis univariat menunjukkanbahwa sebagian besar masyarakat mendapatkan manfaat dari program ini dan terdapat beberapa kendala yang dihadapi,seperti rumah jauh, sibuk bekerja, dan enggan mengambil makanan, akan tetapi sebagian dari masyarakat tidak adakendala yang dihadapi dalam pemberian MP-ASI. Program ini mendapatkan dukungan dari ibu dalam keberlanjutan dimasa yang akan datang dan kader sangat membantu dalam pelaksanaan program ini. Sedangkan berdasarkan hasilanalisis menggunakan uji paired t test menunjukkan bahwa adanya perbedaan status gizi balita antara pre dan postdiberikannya program MP-ASI lokal. Didapatkan nilai p value sebesar 0,000 (p < 0,05) yang berarti ada perbedaanstatus gizi balita setelah diberikannya program MP-ASI lokal. Hal ini menunjukkan bahwa program MP-ASI lokal inidapat membantu dalam peningkatan status gizi balita. Hasil penelitian ini mengidentifikasi perlunya keberlanjutanprogram MP-ASI dalam meningkatkan gizi masyarakat khusunya bagi balita yang gizi kurang
EFEKTIFITAS TEMULAWAK DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI UPT PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA MULIA DHARMA KABUPATEN KUBU RAYA
AbstractJavanese Ginger is one Indonesian herbs that easily can be found and also widely used as a tradisionalmedicine. Efficacy of javanese ginger can help inhibit blood clotting, which can lower cholesterol levels canaffect blood pressure and javanese ginger also has the effect of one pharmacologically active substancegermakron which has anti-inflammatory effects and inhibiting edema (swelling). This study aimed todetermine the effect of javanese ginger in decreased the blood pressure. After doing some research with thestudy design of pre-experimental one group pre test-post test in the absence of control groups with 12respondents were involved. They were 65-75 years old, there are differences in the number of malerespondents and female , which consisted of 7 men and 5 women, and 10 respondents who did not smoke.The result showed that the mean systolic blood pressure before intervention was 159,17 mmHg and the meansystolic blood presure after the intervention was 147,50 mmHg with an average difference 11,667 mmHg andp value 0,02. It can be concluded that there is a change in the value of systole before and after administrationof javanese ginger. To the average value of diastole before intervention was 95,83 mmHg and 88,33 mmHgafter intervention by the difference in average blood pressure of 7,500 mmHg and p value of 0,032. It can beseen that there is a change in diastolic values before and after administration of javanese ginger. So, javaneseginger is effective in lowering blood pressure and javanese ginger can be one alternative for lowering bloodpressure.Keyword : Javanese Ginger, Blood Pressure, Hipertenc
GAMBARAN TINGKAT KEPATUHAN PERAWAT AKAN CUCI TANGAN DALAM TERAPI OKSIGEN DAN TINGKAT KEJADIAN PNEUMONIA PERIODE TAHUN 2012 DAN TAHUN 2013 DI RSUD dr. RUBINI MEMPAWAH
Mencuci tangan merupakan teknik yang sangat mendasar dalam mencegah dan mengendalikan infeksi. Salahsatu infeksi nosokomial yaitu HAP (Hospital Acquired Pneumonia), yang mana HAP merupakan infeksirespiratori akut yang mempengaruhi paru, ini bisa terjadi 24 jam setelah dirawat di rumah sakit. Perilaku cucitangan perawat saat ini ada beberapa perawat yang enggan melakukan cuci tangan. Oleh karena itu, tujuanpeneliti untuk mengidentifikasi gambaran tingkat kepatuhan perawat akan cuci tangan dalam terapi oksigendan tingkat kejadian pneumonia di RSUD dr.Rubini Mempawah. Didapatkan angka kejadian pneumonia diRSUD dr.Rubini Mempawah pada tahun 2012 sebanyak 52 orang, dan pada tahun 2013 pada bulan junisebanyak 30 orang yang terpasang terapi oksigen, 9 diantaranya terjadi HAP. Jenis penelitian ini adalahkuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik Purposive sampling digunakan untuk mengumpulkansampel, dengan sampel 83 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisa data dilakukansecara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwatingkat kepatuhan perawat yang berada diruang rawat inap dalam kategori cukup patuh (53,0%). Dalamtingkat pendidikan didapatkan hasil p value 0.16 (p > 0.05) Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidakterdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan perawat dalam mencuci tangan. Sedangkanhubungan umur terhadap kepatuhan perawat dalam cuci tangan mendapatkan hasil p value 0.41 (p > 0.05)yang artinya tidak terdapat hubungan antara umur dengan tingkat kepatuhan perawat dalam mencuci tangan.Peneliti mengharapkan semua perawat dapat melakukan prosedur mencuci tangan sesuai dengan standarsebelum dan sesudah melakukan tindakan medis
TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TENTANG TEKNIK MENCUCI TANGAN YANG BENAR TERHADAP KEJADIAN DIARE DI SDN 01 PONTIANAK UTARA
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak angka kejadian diare pada tahun 2012 di Siantan Hilir Pontianak Utara yaitu 1593 jiwa. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Teknik Mencuci Tangan Yang Benar Dengan Kejadian Diare di SDN 01 Pontianak Utara pada bulan Mei 2013. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua siswa-siswi kelas 4 dan 5 di SDN 01 Pontianak Utara. Sampel dalam penelitian ini sebesar 74 responden diambil secara probability sampling . Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, analisa data dilakukan menggunakan uji rank of spearman dengan tingkat kemaknaan <0,1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (39,2%) responden memiliki pengetahuan kurang tentang teknik mencuci tangan yang benar dan yang mengalami kejadian diare tinggi yaitu (51,4%) responden . Hasil uji statistik menunjukkan nilai rho spearman yaitu -310** dengan pvalue = 0,007 , artinya ada hubungan yang signifikan (bermakna) dengan korelasi yang lemah dan negatif maksudnya hubungan yang berlawanan arah antara tingkat pengetahuan siswa tentang teknik mencuci tangan yang benar dengan kejadian diare di SDN 01 pontianak utara. Simpulan penelitian ini adalah semakin kurang tingkat pengetahuan siswa tentang teknik mencuci tangan yang benar maka kejadian diare semakin tinggi. Untuk itu diharapkan siswa-siswi untuk menerapkan perilaku hidup sehat dengan selalu disiplin melakukan praktek mencuci tangan yang benar guna meghindari terjadinya resiko diare
EFEKTIFITAS TEMULAWAK DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI UPT PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA MULIA DHARMA KABUPATEN KUBU RAYA
Temulawak merupakan salah satu jenis temu-temuan yang berasal dari Indonesia yang paling banyakdigunakan sebagai bahan baku untuk obat tradisional. Khasiat temulawak dapat membantu menghambatpenggumpalan darah, dapat menurunkan kadar kolesterol yang dapat berpengaruh tehadap tekanan darah dantemulawak juga memiliki efek farmakologi zat aktif salah satunya germakron yang memiliki efek anti inflamasidan penghambat edema (pembengkakan). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh temulawak dalam menurunan tekanan darah. Setelah melakukan penelitian dengan desainpenelitian pre-ekspremental one group pre test -post test tanpa adanya kelompok kontrol dengan jumlahresponden 12 didapatkan rentang usia responden adalah 65-75 tahun, terdapat perbedaan jumlah respondenlaki-laki dan perempuan, yaitu terdiri dari 7 laki-laki dan 5 perempuan, dan 10 responden yang tidakmerokok. Hasil rata-rata tekanan darah sistolik responden sebelum intervensi adalah 159,17 mmHg dan rataratasistolik setelah intervensi adalah 149,50 mmHg dengan perbedaan rata-rata 11,667 mmHg dan nilai pvalue 0,02 maka dapat disimpulkan bahwa ada perubahan nilai sistol sebelum dan setelah pemberiantemulawak. Untuk rata-rata nilai diastole sebelum intervensi adalah 95,83 mmHg dan setelah intervensi88,33 mmHg dengan perbedaan rata-rata tekanan darah 7,500 mmHg dan nilai p value sebesar 0,032 makadapat disimpulkan bahwa ada perubahan nilai diastole sebelum dan setelah pemberian temulawak. Jaditemulawak efektif untuk menurunkan tekanan darah dan temulawak dapat dijadikan salah satu alternatifuntuk menurunkan tekanan darah