Jurnal ProNers
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN IBU MELAKSANAKAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS
Imunisasi merupakan proses seseorang dibuat kebal atau resisten terhadap penyakit menular. Secara menyeluruh, Universal Child Immunization (UCI) menyatakan bahwa Indonesia menempati prevalensi tertinggi keempat di dunia. Namun, secara khusus di Indonesia, Sambas sendiri menduduki UCI tingkat desa terendah ketiga. Yaitu Desa Harapan pada Puskesmas Pemangkat. Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan untuk membuat program pemberian imunisasi. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada anak agar tercapainya tujuan Millenium Development Goal (MDGs) kemudian berkelanjutan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pemangkat Kabupaten Sambas. Penelian ini merupakan salah satu penelitian kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang terdapat pada penelitian ini berjumlah 70 orang yang diambil dengan teknik Stratified Random Sampling dan dilanjutkan dengan Simple Random Sampling. Untuk mendapatkan data dukungan keluarga, diperoleh dari kuesioner dan untuk kepatuhan ibu dilihat dari buku KMS (Kartu Menuju Sehat) responden. Analisis pada penelitian ini menggunakan uji statistik chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang tidak mendukung berjumlah 35 orang (50.0%) dan responden tidak patuh 18 orang (25.7%). Berdasarkan hasil uji statistik chi-square antara hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu dalam melaksanakan imunisasi dasar lengkap diperoleh p value sebesar 0.274 (p>0.05). Berdasarkan pada data yang diperoleh diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada penelitian ini dinyatakan tidak terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu dalam melaksanakan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pemangkat Kabupaten Sambas
GAMBARAN POLA MAKAN DALAM KEJADIAN GASTRITIS PADA REMAJA DI SMP NEGERI 1 SEKAYAM KABUPATEN SANGGAU
Latar Belakang: Gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak sehat sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Pola makan terdiri dari jenis makanan, frekuensi makan, jadwal makan dan porsi makan. Dengan menerapkan pola makan yang baik, penderita gastritis dapat menjalani aktivitas dengan baik dan tidak memperparah gastritis yang dideritanya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan remaja dalam kejadian gastritis di SMP Negeri 1 Sekayam Kabupaten Sanggau. Metodologi Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling, sampel berjumlah 60 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan gastritis terjadi pada usia 14-15 tahun dengan frekuensi 39 orang (65%) berusia 14 tahun dan 21 orang (35%) berusia 15 tahun. Frekuensi jenis kelamin 22 orang (36,7%) laki-laki dan 38 orang (68,3%) perempuan. Pola makan menunjukkan 57 responden (95%) kurang baik dan 3 responden (5%) memiliki pola makan yang baik dengan sub kategori jenis makanan 56 orang (93,3%) jenis makanan kurang baik, dan 4 orang (6,7%) jenis makanan baik, frekuensi makan 59 orang (98,3%) kurang baik dan 1 orang (1,7%) frekuensi makan baik, jadwal makan 54 orang (90%) tidak teratur dan 6 orang (10%) jadwal makan yang teratur, dan porsi makan 31 orang (51,7%) baik dan 29 orang (48,3%) kurang baik. Kesimpulan: Gambaran pola makan dalam kejadian gastritis pada remaja di SMP Negeri 1 Sekayam kurang baik. Pihak puskesmas harus bekerja sama dengan pihak sekolah dalam pemberian pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pola makan yang baik bagi remaja yang terkena gastritis di SMP Negeri 1 Sekayam
Membandingkan Efektifitas Terapi Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Dewasa Madya Penderita Hipertensi Derajat 1 dan Derajat 2 di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Gang Sehat Kota Pontianak
Latar Belakang: Dewasa madya mengalami berbagai masalah pada sistem kardiovaskuler, diantaranya adalah terjadi peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah yang tidak ditangani akan menyebabkan komplikasi seperti stroke dan gagal jantung. Relaksasi nafas dalam merupakan salah satu terapi nonfarmakologi yang bisa menurunkan tekanan darah. Mekanisme relaksasi nafas dalam pada sistem pernafasan berupa suatu keadaan inspirasi dan ekspirasi pernafasan dengan frekuensi pernafasn 6-10 kali permenit sehingga terjadi peningkatan pereganggan kardiopulmonari. Akibatnya terjadi penurunan curah jantung, kontraksi otot serat-serat jantung dan volume darah membuat tekanan darah menjadi menurun.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tekanan darah pada dewasa madya penderita hipertensi derajat 1 dan derajat 2Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Pre Eksperiment, tipe pretest dan posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah dewasa madya penderita hipertensi derajat 1 dan derajat 2 di wilayah kerja UPK Puskesmas Gang sehat Kota Pontianak. Teknik purposive sampling. Analisa data dengan menggunakan uji t-berpasangan (t-test paired) dan wilcoxon test.Hasil: Hasil uji wilcoxon didapatkan bahwa nilai p sistolik yaitu 0,001 (<0.05) dan hasil uji Wilcoxon pada tekanan darah diastolik didapatkan bahwa nilai p sistolik yaitu 0,003 (<0,05) hipertensi derajat 1. Hasil uji t berpasangan didapatkan nilai p sistolik yaitu 0,001 (<0,05) dan hasil uji wilcoxon pada tekanan darah diastolik didapatkan nilai p yaitu 0,008 (<0,05) hipertensi derajat 2 sehingga H0 ditolak.Kesimpulan: Ada pengaruh terapi relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tekanan darah pada dewasa madya penderita hipertensi derajat 1 dan derajat 2 di wilayah kerja UPK Puskesmas Gang Sehat Kota Pontianak. Terapi relakasasi nafas dalam lebih efektif dilakukan pada penderita hipertensi derajat 1. Oleh karena itu dianjurkan pada dewasa madya dengan hipertensi derajat 1 dan derajat 2 dapat menggunakan terapi relakasasi nafas dalam untuk mengatasi hipertensi yang dialami, sebagai bentuk terapi yang murah dan mudah dilakukan secara mandiri.Kata kunci: Dewasa Madya, Hipertensi, Terapi Relaksasi Nafas Dala
EFEKTIFITAS TERAPI SEFT (SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE) TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS MEROKOK DI KLINIK BERHENTI MEROKOK UPTD PUSKESMAS KECAMATAN PONTIANAK KOTA
Background :In 2010, Indonesian were the 3rd countries with the higgest smokersapproximately about 82 milion smokers. Public opinion survey on local regulationsabout the smoking area in 2009 showed 194 respondents (46,2%) consumed in onedays are 32 cigerarres. Psychological intervention like psychotherapy againstsmoking behavior were improved, one of them was the SEFT therapy (SpiritualEmotional Freedom Technique) by using the three problems of physical andpsychological problems one of them was the smoking behavior.Objective : The purpose of this study were to analyze the effectiveness of the SEFTtherapy of reduced the smoking intensity in Klinik Berhenti Merokok UPTDpuskesmas kecamatan Pontianak Kota.Methods : This study was a quantitative with quasi-experimental design with preand post test control group design. Sampling technique was consecutive samplingwith 38 samples devided into 19 interventiond and 19 controls.Results : Based on this study, smoking intensity before and after have a SEFTtherapy obtained the p value = 0,002 (p<0,05), which mean the SEFT therapyeffective for reduced the smoking intensity. The results of the analysis a mediandifference before and after have a SEFT therapy in intervention and control groupsobtained the p value = 0,000 (p<0,05), which mean a significant difference betweenintervention and control group.Conclusion : The SEFT therapy was effective for reduced the intensity of smoking.The SEFT therapy can be used as an alternative for reduced the intensity ofsmoking.Keyword : SEFT Therapy, Smoking IntensityReference : 48 (2003-2016
PENGARUH TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) FASE SET-UP DAN FASE TUNE-IN TERHADAP KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KLINIK KITAMURA PONTIANAK
Latar Belakang: Stres merupakan salah satu penyebab naiknya kadar gula darah. Terapi SEFT termasuk teknik relaksasi, yang merupakan salah satu bentuk mind-body therapy dari terapi komplementer dan alternatif dalam keperawatan. Terapi SEFT dapat digunakan dalam membantu individu bebas dari tekanan emosional (stres). Terapi SEFT ini menggabungkan spiritual (melalui doa keikhlasan dan kepasrahan) dan energy psychology untuk mengatasi masalah hiperglikemia dengan menekan pengeluaran hormon-hormon peningkat gula darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan kadar gula darah sewaktu pada penderita diabetes mellitus. Metode: Desain yang digunakan adalah desain kuasi eksperimen dengan pendekatan the one group pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini menggunakan consecutive sampling. Jumlah responden 20 orang. Uji statistik yang digunakan paired-sample t test. Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan ada pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan kadar gula darah (p<0,05). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini, ada pengaruh terapi SEFT Fase Set-Up dan Fase Tune-In terhadap penurunan kadar gula darah sewaktu pada penderita diabetes mellitus. Sehingga terapi SEFT ini dapat diaplikasikan sebagai intervensi mandiri keperawatan dalam menangani masalah diabetes mellitus dengan menurunkan tingkat stres
Pengaruh Senam Otak Terhadap Perubahan Daya Ingat (Fungsi Kognitif)Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Mulia Dharma Kubu Raya
Latar belakang : Pertambahan penduduk lansia di Kalimantan Barat, menurut Badan PusatStatistika (BPS) Provinsi Kalimantan barat, pada tahun 2015, mengalami peningkatan yaitu 325,506 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk lansia ini menimbulkan berbagai masalah sosial,ekonomi dan kesehatan. Beberapa masalah kesehatan yang sering terjadi pada usia lanjut antaralain gangguan fungsi kognitif dan keseimbangan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan,didapatkan bahwa Panti Sosial Tresna Werdha Mulia Dharma merupakan panti sosial yangmemiliki jumlah lansia terbanyak di Kubu Raya. Lansia yang mengalami penurunan fungsikognitif, diperlukan suatu cara guna mencegah penurunan fungsi kognitif tersebut, satudiantaranya dengan menggunakan terapi senam otak.Tujuan : Mengetahui pengaruh senam otak terhadap perubahan daya ingat (fungsi kognitif) padalansia di Panti Sosial Tresna Werdha Mulia Dharma Kubu Raya.Metodelogi : Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan quasy experiment dengan timeseries design. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.Sampelpenelitian berjumlah 26 responden. Penilaian skor fungsi kognitif menggunakan kuesionerMontreal Cognitife Assesment Versi Indonesia (Mo-CA-Ina) untuk membandingkan skor fungsikognitif sebelum dan sesudah dilakukan senam otak. Analisis Data diambil menggunakan ujiRepeated ANOVA.Hasil : Rerata skor fungsi kognitif sebelum dan sesudah dilakukan senam otak adalah 15,038(pretest), 19,92 (Posttest 1), 21,73 (Posttest 2), 24,12 (Posttest 3), 26,04 (Posttest 4). Terdapatpeningkatan bermakna skor fungsi kognitif antara sebelum dan sesudah senam otak (p<0,05).Kesimpulan : Senam otak dapat meningkatakan daya ingat (fungsi kognitif) pada lansia di PantiSosial Tresna Werdha Mulia Dharma Kubu Raya.Kata Kunci : Lansia, fungsi kognitif, senam otak
Hubungan Sikap dan Perilaku Pasien Diabetes Melitus Dengan Kejadian Luka Diabetik Diruang Rawat Jalan Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak Tahun 2016
Latar Belakang:Luka kaki diabetik akan mengakibatkan terjadinya resiko amputasi sertadapat mengancam jiwa. Perialku negatif akan memperparah terjadinya komplikasi. Sikapnegatif terhadap perawatan penyakit diabetes terutama dalam mengontrol gula darah, beratbadan, dan kepatuhan minum obat dapat meningkatkan prevalensi kejadian luka kakidiabetik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap dan perilaku pasiendiabetes melitus dengan kejadian luka diabetik di ruang rawat jalan Penyakit Dalam RumahSakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie kota Pontianak.Metodologi Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional.Sampel berjumlah 131 responden. Analisa bivariate menggunakan uji Chi Square denganp<0,05.Hasil: Hasil analisa bivariat pada variabel sikap p=0,497 dan variabel perilaku p=0,620 yangartinya tidak ada hubungan sikap dan perilaku pasien diabetes melitus dengan kejadian lukadiabetikKesimpulan: Tidak ada hubungan sikap dan perilaku pasien diabetes melitus dengankejadian luka diabetik di ruang rawat jalan Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum DaerahSultan Syarif Mohamad Alkadrie kota Pontianak. Namun sikap dan perilaku pasien diabetesmelitus dalam manajemen diabetes tetap harus diperhatikan. Banyak faktor penyebab dariluka diabetik seperti neuropatik sensori, depresi, neurpati otonom, neuropati motorik,vaskulopati, imunopati, dan neuroartiropati. Kata Kunci : Sikap, Perilaku, Luka DiabetikDaftar Pustaka : 53 (2002 – 2015
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA KASUS DEMAM TIFOID ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM BETHESDA SERUKAM BENGKAYANG PERIODE JANUARI 2013-DESEMBER 2015
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yangdisebabkan oleh Salmonella thypi yang ditandai oleh demam berkepanjangan sehinggatatalaksana utamanya adalah antibiotik. Pemberian antibiotik harus serasional mungkindengan memperhatikan efektifitas antibiotik, keamanan, kesesuaian serta efektifitas terapi.Pemberian antibiotik yang tidak rasional pada demam tifoid akan menyebabkan multidrugsresistence Salmonella typhi (MDRST). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuitingkat kerasionalan penggunaan antibiotik dalam terapi demam tifoid pada anak yangdirawat inap di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam Bengkayang. Penelitian inimerupakan penelitian observasional dengan rancangan Cross-Sectional yang bersifatdeskriptif. Sampel diambil dengan metode sampling purposive berjumlah 34 rekam medis.Data yang didapat kemudian dinilai rasionalitasnya menggunakan metode Gyssen. Hasilpenelitian antibiotik yang banyak digunakan dokter untuk terapi demam tifoid adalahseftriakson (58.8%%). Kategori rasionalitas antibiotik untuk demam tifoid adalah kategori IIa (41,1%) dan kategori I (58,8%)
PENGARUH AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP SKALA NYERI HAID SISWI KELAS X SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA
Latar Belakang : Remaja mengalami perubahan pada sistem reproduksi yang ditandai dengan menstruasi. Menstruasi yang dialami oleh remaja sering kali disertai dengan keluhan yaitu dismenore. Dismenore dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sehingga membutuhkan penanganan untuk mengurangi nyeri haid. Salah satu cara penanganan yang dapat dilakukan yaitu dengan aromaterapi lavender. Aromaterapi lavender merupakan penanganan yang menggunakan minyak essensial lavender yang didalamnya terdapat kandungan linalool dan linalyl asetat yang bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid. Tujuan : Mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap skala nyeri haid siswi kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperiment dengan one group pretest posttest design. Penelitian dilakukan kepada 16 responden yang mengalami dismenore dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisa menggunakan uji t berpasangan, dengan nilai p<0,05. Hasil : Hasil sebelum dilakukan aromaterapi lavender didapatkan skala nyeri terbanyak pada responden yaitu skala nyeri sedang 68,8%. Setelah dilakukan aromaterapi lavender didapatkan skala nyeri terbanyak pada responden yaitu skala nyeri ringan 75%. Pada uji t-tes paired didapatkan hasil bahwa nilai p=0,000. Kesimpulan: Terdapat pengaruh aromaterapi lavender terhadap penurunan skala nyeri haid siswi kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya Kata Kunci : Remaja, Dismenore, Aromaterapi Lavende
Hubungan Pemberian air susu ibu (ASI) dengan Kejadian Diare Pada Bayi 0-6 Bulan Di Puskesmas Kampung Dalam Pontianak Timur
Latar Belakang : Diare merupakan penyakit yang sering dialami bayi usia dibawah 2 tahun yang dapat menyebabkan kematian karena mengalami dehidrasi. Diare dapat terjadi karena pemberian makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan karena pencernaan bayi belum dapat bekerja dengan baik. Pemberian ASI eksklusif sangat baik untuk bayi karena ASI mengandung banyak zat antibodi yang dapat melindungi bayi dari diare. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pemberian ASI dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan di Puskesmas Kampung Dalam Pontianak Timur. Metodologi Penelitian : Desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 57 responden dengan teknik non probability sampling dan metode consecutive sampling. Analisa data menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Subjek penelitian berjumlah 57 bayi yang terdiri dari 28 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif terdapat 5 (18%) bayi mengalami diare dan 23 (82%) bayi tidak mengalami diare, sedangkan 29 bayi yang diberikan ASI parsial sebanyak 20 (69%) mengalami diare dan 9 (31%) bayi tidak mengalami diare. Analisa dari Chi-Square menghasilkan p = 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Ada hubungan pemberian ASI dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan. Pada bayi yang diberikan ASI parsial kejadian diare lebih banyak dibandingkan bayi yang diberikan ASI eksklusif. Kata Kunci : Pemberian ASI, Kejadian Diare Referensi : 39 (2005-2015