Jurnal ProNers
Not a member yet
328 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI KEMATIAN NEONATAL DI KOTA PONTIANAK
Latar Belakang : Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat. Proporsi terbesar dari angka kematian bayi terjadi pada masa neonatal. Sustainable Develompment Goals (SGDs) menargetkan Angka Kematian Neonatal (AKN) pada tahun 2030 sebesar 12 per 1000 kelahiran hidup. AKN di Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan sebesar 16 per 1000 kelahiran hidup. Kota Pontianak merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki kasus kematian neonatal cukup tinggi.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang memengaruhi kematian neonatal di Kota Pontianak.Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan studi kasus kontrol. Teknik pengambilan sampel pada kelompok kasus menggunakan total sampling dan pada kelompok kontrol menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel 23 kasus dan 23 kontrol. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang memengaruhi kematian neonatal berdasarkan analisis bivariat adalah komplikasi kehamilan (p = 0,004 dan OR = 14,14), berat badan lahir rendah (p = 0,001 dan OR = 20,17), kelahiran prematur (p = 0,005 dan OR = 7,27) dan ketiadaan inisiasi menyusu dini (p = 0,001 dan OR = 8,91). Pada analisis multivariat variabel yang paling dominan adalah berat badan lahir rendah (p = 0,007 dan OR = 22) dan komplikasi kehamilan (p = 0,018 dan OR = 15,75). Kesimpulan : Faktor-faktor risiko yang memengaruhi kematian neonatal di Kota Pontianak pada tahun 2015 adalah komplikasi kehamilan dan berat badan lahir rendah. Kata kunci : kematian neonatal, faktor risiko, studi kasus kontrol
Pengaruh Pemberian Jus Wortel (Daucus carota L.) Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Pal Tiga Kecamatan Pontianak Kota
Latar Belakang: Hipertensi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia, sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan diberbagai tingkat fasilitas kesehatan. Salah satu penatalaksanaan nonfarmologis hipertensi yaitu terapi diit dengan mengkonsumsi jus wortel. Wortel mengandung kalium yang bersifat sebagai diuretik yang kuat dan sebagai vasodilatasi pada pembuluh darah sehingga membantu menjaga keseimbangan tekanan darah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus wortel terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Pal Tiga Kecamatan Pontianak Kota.Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu dengan rancangan non equivalent control group. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Pal Tiga pada Mei 2017. Sampel ditetapkan menggunakan teknik nonprobability sampling dengan purpossive sampling. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon pada tiap kelompok dan uji t tidak berpasangan untuk sistolik dan uji Mann Whitney untuk diastolik antara dua kelompok.Hasil: Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p sistolik dan diastolik kelompok kontrol 0,009 (p0,05). Sedangkan nilai p sistolik dan diastolik kelompok intervensi 0,000 (p<0,05) dan 0,000 (p<0,05), yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil uji t tidak berpasangan didapatkan nilai p sistolik 0,003 (<0,05) dan uji Mann Whitney didapatkan nilai p diastolik 0,000 (p<0,05).Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian jus wortel terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Pal Tiga Kecamatan Pontianak Kota dan terdapat perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik antara kedua kelompok. Kata Kunci : Hipertensi, Tekanan Darah, Jus WortelReferensi : 46 (2005-2016
PENGARUH TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAMPUNG DALAM KECAMATAN PONTIANAK TIMUR
Latar Belakang :Hipertensi terjadi peningkatan setiap tahunnya disertai dengan komplikasi pada sistem kardiovaskular seperti stroke dan gagal jantung. Perlu penanganan hipertensi yang komprehensif yaitu dengan cara merubah gaya hidup, pengobatan maupun teknik mengurangi stres. Salah satunyadengan terapi pijat refleksi kaki. Terapi pijat refleksi kaki dipercaya dapat menurunkan tekanan darah. Tujuan : Mengetahui pengaruh terapi pijat refleksi kaki terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kampung Dalam Kecamatan Pontianak Timur. Metode : Menggunakan rancangan quasy eksperiment dengan pre test and post test without control group. Pengambilan sampel menggunakan puposive sampling dengan jumlah 15 responden. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah diberikan terapi. Analisa penelitian menggunakan uji T berpasangan dengan nilai P 65 tahun sebanyak 33,3%, jenis kelamin perempuan sebanyak 80%, pendidikan terbanyak yaitu SMA dengan 53,3% dan status pekerjaan ibu rumah tangga 66,7%. Nilai mean tekanan darah sistol sebelum 147,07 dan setelah intevensi 136,00. Nilai mean tekanan darah diastol sebelum88,67 dan setelah intervensi 84,27. Hasil uji T berpasangan didapatkan nilai P=0,000.Kesimpulan : Terdapat pengaruh terapi pijat refleksi kaki terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kampung Dalam Kecamatan Pontianak Timur. Kata Kunci : tekanan darah, terapi pijat refleksi kaki Referensi : 37 (2006-2017
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG DISMENORE DENGAN PERILAKU PENANGANAN DISMENORE PADA REMAJA PUTRI SMP NEGERI 14 PONTIANAK
Latar Belakang: Dismenore mengakibatkan menurunnya kinerja dan berkurangnya aktifitas sehari-hari. Hal ini berdampak pada seringnya remaja putri SMP Negeri 14 tidak masuk sekolah ataupun tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik pada saat dismenore. Perilaku penanganan dismenore menurut terjadinya dismenore diperkirakan dengan pengetahuan tentang dismenore yang baik akan mempengaruhi perilaku penanganan dismenore. Penanganan yang dilakukan remaja putri SMP Negeri 14 dalam mengatasi dismenore yaitu istirahat, mengolesi bagian yang nyeri dengan lotion penghangat, dan mengkonsumsi obat analgesik. Pentingnya dilakukan penelitian ini agar remaja putri dapat mengetahui penanganan dismenore terkait pengetahuan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang dismenore dengan perilaku penanganan dismenore pada Remaja Putri SMP Negeri 14 Pontianak. Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional pada sampel sebanyak 90 responden menggunakan probability sampling dengan simple random sampling pada remaja putri SMP Negeri 14 Pontianak. Analisa menggunakan uji chi-square dengan nilai p=>0,05. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang dismenore dan perilaku penanganan dismenore. Hasil: Hasil tingkat pengetahuan terbanyak adalah responden yang memilki kategori kurang (43,3%) dan perilaku penanganan terbanyak adalah responden yang berperilaku baik (67,8%). Uji statistik dengan uji chisquare didapatkan bahwa nilai p=0,309. Kesimpulan: Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan tentang dismenore dengan perilaku penanganan dismenore pada remaja putri SMP Negeri 14 Pontianak
HUBUNGAN ANTARA STATUS MEROKOK DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA PRIA DI UPTD PUSKESMAS KECAMATAN PONTIANAK KOTA
Latar belakang: Nikotin merupakan kandungan rokok yang dapat mengubah regulasi sistem saraf pusat perokok melalui pelepasan berbagai kimia otak yang menekan nafsu makan dan meningkatkan metabolisme, sehingga dapat mempengaruhi status gizi seorang perokok.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara status merokok dengan indeks massa tubuh pada pria di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Kota.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional epidemiologis dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 65 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pendataan menggunakan kuesioner serta pengukuran tinggi dan berat badan yang kemudian dikonversikan ke indeks massa tubuh. Teknik analisa yang dilakukan secara bivariat menggunakan dua jenis uji analitis yaitu uji chi square untuk menganalisis hubungan antara status merokok dengan indeks massa tubuh dan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menganalisis hubungan antara derajat perokok dengan indeks massa tubuh.Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan nilai p = 0,00067 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara status merokok dengan indeks massa tubuh. Sedangkan pada hasil analisa Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai p=0,812 yang berarti tidak ada hubungan antara derajat perokok dengan indeks massa tubuh.Kesimpulan: Ada hubungan antara status merokok dengan indeks massa tubuh pada pria di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Kota. Namun, tidak terdapat hubungan antara derajat perokok dengan indeks massa tubuh pria di UPTDPuskesmas Kecamatan Pontianak Kota. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan untuk lebih memperhatikan status gizi pada perokok demi menunjang kesehatan. Kata Kunci: Merokok, status gizi, indeks massa tubu
PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP SKOR DEPRESI PADA PECANDU NARKOBA REHABILITASI DI WISMA SIRIH RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SUNGAI BANGKONG DAN REHABILITASI BERBASIS MASYARAKAT BUMI KHATULISTIWA KALIMANTAN BARAT
Latar Belakang : Depresi merupakan gangguan mental yang bisa dialami oleh siapapun, termasuk pecandu narkoba. Pengaruh zat-zat seperti obat narkoba mempengaruhi kerja pada neurotransmitter yakni dopamin dan serotonin. Penggunaan obat secara berlebihan dapat memblok reseptor Dopamin dan merusak produksi serotonin, penurunan dopamin menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk merasa senang, sedangkan penurunan serotonin dapat mempengaruhi perilaku seseorang menjadi pendiam, curiga, putus asa, kesepian, dan depresi. Salah satu upaya yang dilakukan untuk membuat kondisi rileks dan dapat mengatasi depresi adalah dengan terapi musik. Hal ini menjadi ketertarikan peneliti karena terapi musik belum pernah diberikan kepada pecandu narkoba rehabilitasi di Wisma Sirih maupun di Rehabilitasi Berbasis MasyarakatTujuan : Mengetahui pengaruh terapi musik terhadap skor depresi pada pecandu narkoba di Wisma Sirih Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong dan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Bumi Khatulistiwa Kalimantan BaratMetode : Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan pre eksperiment dalam kategori satu kelompok (one group pretest- posttest design) pada 17 Pecandu narkoba yang mengalami depresi. Menggunakan instrumen musik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu musik klasikHasil : Setelah diberikan terapi musik pada pecandu narkoba menunjukan adanya penurunan skor Beck Depression Inventori. Nilai median turun dari 17,00 saat prestest menjadi 7,00 saat posttest. Uji wilcoxon memberikan nilai signifikan p 0,001Kesimpulan : Adanya pengaruh terapi musik terhadap skor depresi pada pecandu narkoba di Wisma Sirih Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong dan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Bumi Khatulistiwa Kalimantan Barat. Sehingga direkomendasikan menggunakan terapi musik sebagai terapi komplementer dalam mengurangi depres
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI TINGKAT DEPRESI PADA LANJUT USIA DI PANTI GRAHA WERDHA MARIE YOSEPH PONTIANAK
Latar Belakang : Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kalimantan Barat sampai pada tahun 2015 jumlah total penduduk yaitu 5.323.985 jiwa, sedangkan untuk jumlah penduduk lansia di Kalimantan Barat berjumlah 388.506 jiwa. Pada umumnya lanjut usia yang berada di panti dengan berbagai alasan akan merasa kesepian bila tidak ada kegiatan yang terorganisasi dan jarang dikunjungi oleh keluarga menjadi salah satu faktor pencetus terjadinya depresi pada lansia.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi tingkat depresi pada lanjut usia di panti graha werdha Marie Yoseph PontianakMetode : Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Jumlah sampel sebanyak 32 responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariatHasil : Analisa univariat menunjukkan 62,5% responden mengalami depresi ringan dan 37,5% reponden mengalami depresi sedang. Analisa bivariat menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat depresi yaitu jenis kelamin (p=0,021), riwayat penyakit (p=0,018), dan dukungan keluarga (p=0,021). Analisa multivariat menggunakan uji regresi logistik menunjukkan faktor dominan yang memengaruhi tingkat depresi adalah dukungan keluarga dengan nilai p = 0,000Kesimpulan : Faktor yang memengaruhi tingkat depresi pada lanjut usia di panti graha werdha Marie Yoseph Pontianak adalah dukungan keluarga. Kata Kunci : Faktor depresi, lanjut usia
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP IBU MENGENAI SUNAT PEREMPUAN DI WILAYAH KERJA POSYANDU TERATAI PUTIH
Latar Belakang : Persentase anak perempuan usia 0-11 tahun di Indonesia tahun 2013 yang pernah disunat sebesar 51,2 %, meski dinyatakan tidak memiliki manfaat kesehatan dan dapat membahayakan oleh World Health Organization. Penyebaran informasi mengenai sunat perempuan di Indonesia masih belum tersebar luas sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahuinya. Pengetahuan merupakan faktor penting dalam membentuk sikap seseorang dimana semakin kurang pengetahuan seseorang mengenai sunat perempuan dan dampak sunat perempuan maka dapat membentuk sikap yang kurang pula.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap ibu mengenai sunat perempuan di wilayah kerja Posyandu Teratai Putih.Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebesar 60 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli 2016 dengan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Fisher.Hasil : Hasil penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap ibu mengenai sunat perempuan (p>0.05).Kesimpulan : Kesimpulan penelitian ini, tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap ibu mengenai sunat perempuan di wilayah kerja Posyandu Teratai Putih.Saran : Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan dapat mengedukasi masyarakat terkait sunat perempuan
EFEKTIVITAS LATIHAN PEREGANGAN PERUT (ABDOMINAL STRETCHING EXERCISE) DALAM MENGURANGI DISMENORE PADA REMAJA PUTRI DI SMA PANCA BHAKTI PONTIANAK
Latar belakang : Dismenore adalah nyeri kejang otot (spasmodik) diperut bagian bawah akibat kontraksi otot rahim. Dismenore merupakan gejala nyeri terbanyak pada remaja putri saat menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas belajar dan sosial remaja putri. Cukup banyak metode yang digunakan untuk mengurangi nyeri saat menstruasi, salah satunya adalah latihan peregangan perut. Latihan peregangan perut dapat digunakan untuk mengurangi maupun mengatasi dismenore tanpa efek samping dalam penggunaan jangka panjang.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan peregangan perut dalam mengurangi dismenore.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain Quasi Eksperimental. Responden adalah siswi di SMA Panca Bhakti Pontianak yang berjumlah 32 orang, teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling dan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi karakteristik responden dan lembar skala nyeri Numerical rating Scale (NRS) pretest dan posttest.Hasil : Uji hipotesis data pada kelompok intervensi menggunakan uji Mann-Whitney diperoleh nilai p-value = 0,005 (p < 0,05). Nilai mean skala nyeri berkurang dari 2,19 ke 0,88.Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektivitas latihan peregangan perut dalam mengurangi dismenore pada remaja putri di SMA Panca Bhakti Pontianak, latihan peregangan perut terbukti efektif dalam mengurangi dismenore dan dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan non-farmakologis dalam mengurangi dismneore.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MENSTRUASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI KELAS V SD NEGERI 16 PONTIANAK
Latar Belakang : Pubertas pada anak perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi untuk pertama kalinya (Menarche). Peristiwa menarche yang tidak disertai dengan pemberian informasi atau pendidikan kesehatan tentang menstruasi atau menarche dengan benar dan tepat akan mengakibatkan munculnya gejala-gejala seperti ketidaksiapan, ketakuan, kecemasan, gangguan berupa pusing, mual, disminorhea, dan haid tidak teratur. Remaja putri yang mengalami kecemasan pada saat menarche, diperlukan suatu cara guna mencegah kecemasan tersebut, satu diantaranya dengan menberikan pendidikan kesehatan tentang menstruasi.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang menstruasi terhadap tingkat kecemasan menghadapi menarche pada siswi kelas V SD Negeri 16 Pontianak.Metodologi Penelitian : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, menggunakan desain quasy experiment pre and post test without control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 responden menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Hamilton anxiety Rating Scale (HARS). Analisa data diambil menggunakan uji Wilcoxon dengan nilai p<0,05.Hasil : Rata-rata skor kecemasan sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang menstruasi adalah 11,50 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang menstruasi adalah 5,50. terdapat penurunan bermakna skor kecemasan antara sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan tentang menstruasi dengan nilai p=0,002. Kesimpulan : Pendidikan kesehatan tentang menstruasi dapat menurunkan tingkat kecemasan pada siswi kelas V SD Negeri 16 Pontianak. Kata Kunci: Remaja, Kecemasan, Pendidikan Kesehatan, Referens