PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
Not a member yet
146 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN ALAT PRAKTIKUM SAINS (FISIKA) UNTUK ANAK PENYANDANG KETUNAAN SERTA APLIKASINYA PADA PENDIDIKAN INKLUSIF
Dalam mengembangkan alat-alat praktikum yang dirancang khusus untuk kelas inklusif maka perlu diperhatikan karakteristik terpenting dari sekolah inklusi sebagai satu komunitas yang kohesif (menyatu dengan siswa noremal lainnya), menerima dan responsive terhadap kebutuhan individual siswa. Permasalahan yang seringkali muncul dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus adalah pada saat mereka harus praktikum. Kondisi ini juga sangat terasa pada saat pembelajaran Fisika yang karakteristik ilmunya memang berlandaskan pada kemampuan eksperimen.Pengalaman belajar yang realistik (seperti praktikum yang melibatkan kegiatan eksperimen dan demonstrasi) sangat diperlukan dalam pembelajaran Fisika. Padahal keterbatasan fisik karena tuna netra dan tuna rungu sangat menggangu bagi siswa penyandang tuna netra dan tuna rungu baik disekolah umum (pendidikan inklusif) maupun di sekolah khusus penyandang cacat. Namun kesiapan sistem pembelajaran yang dapat diakomodasi oleh penyandang cacat ternyata belum memadai. Hal ini terutama ketika siswa penyandang cacat akan mengikuti pengelaman belajar yang bersifat realistik, eksperimen Fisika misalnya. Belum ada model eksperimen Fisika yang dirancang khusus untuk melayani kebutuhan belajar anak penyandang tuna netra dan tuna rungu. Berdasarkan kenyataan itulah telah dikembangkan alat praktikum sains yang bersifat manual menggunakan indra peraba dan Voice Equipment (MFE) yang berbasis perubahan tegangan (potensial listrik) menjadi suara yang digunakan dalam praktikumfisika untuk anak penyandang tuna netra dan tuna rungu.
Kata kunci : Alat praktikum sains (fisika), kelas inklusif, penyandang ketunaan
ANALISIS MISKONSEPSI TERMODINAMIKA PADA BUKU AJAR FISIKA SMA
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Prosentase miskonsepsi, 2) Indikasi keterangan lain yang berpotensi menimbulkan miskonsepsi, dan 3) Prosentase kelengkapan konsep, pada konsep Termodinamika beberapa buku ajar SMA. Buku ajar SMA yang diteliti ada tiga buah. Buku yang pertama adalah buku berjudul Terpadu: Fisika untuk SMA/ MA Kelas XI Semester 2 karangan Bob Foster yang diterbitkan oleh penerbit Erlangga pada tahun 2012. Buku kedua adalah buku berjudul Fisika untuk SMA Kelas XI karangan Marthen Kanginan yang diterbitkan oleh penerbit Erlangga pada tahun 2007. Buku ketiga adalah buku berjudul Fisika untuk SMA dan MA Kelas XI karangan Sri Handayani dan Ari Damari yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2009.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Obyek penelitian, adalah konsep termodinamika dalam ketiga buku. Penelitian dilakukan dengan cara menguji konsep yang ada dalam buku halaman per halaman kemudian membandingkannya dengan buku Fisika Universitas dan wawancara tim ahli. Data yang telah dikumpulkan kemudian disajikan dalam tabel. Teknik pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa: 1) Prosentase miskonsepsi konsep termodinamika dalam buku ajar sesuai silabus pada buku pertama adalah 8,33%, buku kedua 21,43%, dan buku ketiga adalah 0%. Prosentase miskonsepsi konsep termodinamika dalam buku ajar secara keseluruhan pada buku pertama adalah 10,53%, buku kedua adalah 20%, dan buku ketiga adalah 6,25%. 2) Indikasi lain yang berpotensi menimbulkan miskonsepsi, dalam buku ajar pertama terdapat 17 buah yang terdiri dari: 3 konsep tidak lengkap, 7 penulisan notasi perlu perbaikan, 1 penulisan langkah perhitungan perlu perbaikan, 2 penulisan hasil perhitungan perlu perbaikan, dan 4 gambar perlu perbaikan. Dalam buku ajar kedua terdapat 7 indikasi lain yang dapat menimbulkan miskonsepsi yang terdiri dari: 1 konsep tidak lengkap, 3 penulisan notasi perlu perbaikan, 2 penulisan hasil perhitungan perlu perbaikan, dan 1 gambar perlu perbaikan. Dan dalam buku ajar ketiga terdapat 10 indikasi lain yang dapat menimbulkan miskonsepsi yang terdiri dari: 1 konsep tidak lengkap, 2 penulisan notasi perlu perbaikan, 2 keterangan perlu perbaikan, 1 penulisan hasil perhitungan perlu perbaikan, dan 4 gambar perlu perbaikan. 3) Prosentase kelengkapan buku ajar dalam konsep termodinamika sesuai silabus pada buku pertama adalah 85,71%, buku kedua 100%, dan buku ketiga 50%.
Kata kunci : miskonsepsi, termodinamika, buku ajar fisika SM
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES SUMATIF FISIKA MENGGUNAKAN METODE SELF DAN FEEDBACK REVISION
Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efektifitas dua metode revisi untuk mengembangkan instrumen tes sumatif Fisika yang sesuai dengan karakteristik tes Fisika yang baik dan baku.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik tes dan non tes. Sumber data berupa pola respon siswa pada tes. Analisis data pada kelompok kecil dilakukan secara kualitatif yang meliputi materi, konstruksi dan bahasa serta kuantitatif dengan menggunakan program MicroCat ITEMAN versi 3.00 untuk mengetahui taraf kesukaran, daya beda dan efektifitas pengecoh. Pengembangan tes dilakukan menggunakan tahapan: analisis kebutuhan, penyusunan spesifikasi tes, penulisan soal tes, penelaahan tes secara kualitatif, revisi I, uji kelompok kecil, analisis butir soal secara kuantitatif, revisi II dan uji kelompok besar. Pada tahapan revisi II digunakan dua metode revisi, yaitu self revision dan feedback revision.
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari kedua metode revisi tersebut efektifitas metode feedback revision lebih tinggi daripada self revision. Hasil reliabilitas dari 20 butir soal revisi isi kedua metode sama-sama tergolong tinggi, yaitu 0,668 untuk metode feedback revision dan 0,633 untuk metode self revision. Untuk taraf kesukaran soal dari 20 butir soal yaitu dengan metode dengan metode feedback revision terdapat 2 butir soal tergolong mudah, 12 butir soal tergolong sedang dan 6 soal tergolong sukar. Sedangkan pada metode self revision terdapat 13 butir soal tergolong sedang dan 7 butir soal tergolong sukar. Disamping itu, taraf kesukaran untuk 6 butir soal yang direvisi dengan kedua metode tersebut diperoleh hasil metode feedback revision lebih unggul dibandingkan dengan metode self revision. Pada metode feedback revision diperoleh 5 soal kategori sedang dan 1 soal kategori sukar. Sedangkan pada metode self revision diperoleh hasil 4 soal kategori sedang dan 2 soal kategori sukar. Sedangkan daya beda untuk 6 butir soal yang direvisi dengan kedua metode tersebut diperoleh hasil lebih unggul dengan menggunakan metode feedback revision dibandingkan dengan menggunakan metode self revision. Hasil daya beda dari 20 soal revisi isi untuk kedua metode tersebut yaitu dengan metode self revision terdapat 1 soal kategori sangat baik, 10 soal kategori baik dan 9 soal kategori cukup. Dengan metode feedback revision terdapat 10 soal kategori baik, 9 soal kategori cukup dan 1 soal kategori jelek.
Kata kunci : pengembangan, tes sumatif, self revision, feedback revision
EVALUASI GURU DALAM PEMBELAJARAN SAINS PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kesiapan guru sains SMP di Kabupaten Pati dalam pembelajaran sains pada implementasi Kurikulum 2013 melalui penelitian evaluasi menggunakan pendekatan kuantitatif dengan didukung pendekatan kualitatif. Guru yang terpilih ada 12 dari enam SMP Negeri wilayah Kabupaten Pati yang ditunjuk sebagai pilot project meliputi SMP 3 Pati, SMP 1 Juwana, SMP 1 Batangan, SMP 2 Kayen, SMP 2 Pucakwangi dan SMP 1 Gabus. Pengumpulan data dilaksanakan melalui angket, wawancara, dan dokumentasi yang berasal dari RPP. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif kuantitatif dengan model Rasch dan kualitatif dengan model interaktif dari Miles-Huberment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru IPA SMP di Kabupaten Pati masih kurang dalam melaksanakan pembelajaran sains sebagai implementasi Kurikulum 2013 dari domain pemahaman, motivasi, upaya, kemampuan yang disebabkan beberapa hambatan.
Kata kunci : Evaluasi, Guru, Pembelajaran Sains, Kurikulum 201
KINEMATIKA KRISTALISASI PADA KACA 60TeO2-30ZnO-10Na2O
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kinematika kaca TZN. Dalam penelitian ini dilakukan fabrikasi kaca tellurite dengan komposisi 60TeO2-30ZnO-10Na2O. Penelitian ini diarahkan untuk mempelajari kinetika kristalisasi kaca, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu dan laju pengkristalan untuk mendapatkan luas bagian kaca yang dikristalkan terhadap sifat thermal yang berkaitan dengan kinetika kristalisasi kaca. Dengan metode non-isotermal menggunakan Differential scanning Calorimetry (DSC) dan isothermal pada suhu 410 oC, 420 oC, 430 oC, 440 oC dan 450 oC diperoleh fraksional dari luas kristalisasi bagian kaca dengan luas seluruhnya. Kesimpulan bahwa untuk membuat kristalisasi kaca tellurite dapat diperoleh dengan variasi suhu dan dengan waktu.
Kata kunci : fabrikasi, tellurite, kristal
IMPLIKASI KKNI PADA KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN SAINS
Pemerintah telah mempersiapkan peraturan perundangan yang mengatur masalah ketenagakerjaan untuk mendapatkan pengakuan kesetaraan oleh masarakat global. Institusi perguruan tinggi adalah lembaga yang bertanggung jawab menyiapkan tenaga kerja melalui pendidikan formal dalam jenjang vokasi, sarjana, pascasarjana serta profesi. Oleh karena itu perguruan tinggi juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut di atas di antaranya melalui penyesuaian kurikulum dan proses pembelajarannya agar lulusan yang dihasilkan mendapat pengakuan kesetraan tersebut. Melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) lembaga pendidikan formal khususnya perguruan tinggi harus menyesuaikan diri.
Kata kunci: Kurikulum, KKNI, capaian pembelajaran
Penerapan Multi Board Optika Geometri Melalui Model Quantum Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Dan Aktivitas Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Jatipuro Pada Materi Cahaya Tahun Ajaran 2013/2014
Cara mengajar guru SMP Negeri 1 Jatipuro yang kurang inovatif, tidak pernah menggunakan media pembelajaran, dan penggunaan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah atau ekspositori menyebabkan siswa sering merasa bosan dengan proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan kemampuan kognitif dan aktivitas belajar siswa kelas VIII B masih rendah. Dalam penelitian ini digunakan multi board dan model pembelajaran Quantum Learning, sehingga proses pembelajaran akan lebih menyenagkan dan siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) kemampuan kognitif siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Jatipuro semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 pada materi pokok Cahaya menggunakan alat peraga multi board Optika Geometri melalui model pembelajaran Quantum Learning, (2) aktivitas belajar siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Jatipuro semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 pada materi pokok Cahaya menggunakan alat peraga multi board Optika Geometri melalui model pembelajaran Quantum Learning. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan model Kurt Lewin dan model Kolaboratif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus diawali tahap persiapan kemudian dilanjutkan tahap pelaksanaan siklus yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Jatipuro Tahun Ajaran 2013/2014 sebanyak 32 siswa dengan penelitian dikhususkan pada materi pokok Cahaya. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara dengan guru, ulangan harian, angket dan kajian dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif didukung data kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan multi board Optika Geometri melalui model pembelajaran Quantum Learning dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi Cahaya kelas VIII B SMP Negeri 1 Jatipuro Tahun Ajaran 2013/2014. Ketuntasan belajar siswa dapat mencapai 43,75 % pada siklus I 87,5 % dari KKM sebesar 75. (2) Penerapan multi board Optika Geometri melalui model pembelajaran Quantum Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi Cahaya kelas VIII B SMP Negeri 1 Jatipuro Tahun Ajaran 2013/2014. Dari empat aspek aktivitas belajar yang ditentukan diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Visual Activities dapat mencapai 98,38 %, (b) Oral Activities dapat mencapai 46 %, (c) Listening activities dapat mencapai 98,35 %, (d) Writing Activities dapat mencapai 76,97 %.
Kata Kunci: multi board, quantum learning, kognitif, aktivita
ADSORBSI ZAT PEWARNA TEKSTIL MALACHITE GREEN MENGGUNAKAN ADSORBEN KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao) TERAKTIVASI HNO3
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Bahwa limbah kulit kakao dapat digunakan sebagai adsorben zat warna tekstil Malachite green. (2) Sifat adsorpsi zat warna tekstil Malachite green oleh adsorben dari kulit kakao. (3) Waktu kontak optimum adsorben kulit kakao terhadap zat warnaMalachite green. (4) Massa optimum adsorben kulit kakao terhadap zat warna Malachite green.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Sampel yang digunakan adalah kulit kakao yang didapatkan dari desa Gondang, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Adsorben yang digunakan adalah kulit kakao dengan ukuran 100 mesh yang diaktivasi dengan larutan HNO3 0,6 M. Penentuan kondisi optimum dilakukan dengan variasi massa yang digunakan 0,05; 0,1; 0,15; 0,2; 0,25 dan 0,30 gram. Variasi waktu yang digunakan 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 menit, serta variasi konsentrasi yang digunakan 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 ppm. Volume larutan zat warna yang digunakan untuk masing-masing variasi adalah 25 ml. Teknik pengumpulan data menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Kulit kakao (Theobroma cacao) dapat digunakan sebagai adsorben zat warna tekstil Malachite green . (2) massa optimum yang dibutuhkan adsorben kulit kakao untuk menyerap zat warna tekstil Malachite green adalah 0,25 gram, (3) waktu kontak optimum yang dibutuhkan adsorben kulit kakao untuk menyerap zat warna tekstil Malachite green adalah 40 menit. (4) Adsorpsi zat warna tekstil Malachite green oleh adsorben kulit kakao adalah adsorpsi kimia.
Kata kunci: Adsorben, Kulit Kakao, Malachite gree
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES FORMATIF FISIKA BERBASIS E-LEARNING TENGAH SEMESTER GENAP UNTUK SMA KELAS XI DI KOTA SURAKARTA
Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan langkah-langkah pengembangan tes yang sesuai dengan karakteristik tes Fisika yang baik dan menghasilkan produk berupa tes formatif tengah semester genap melalui e-learning pada mata pelajaran Fisika SMA Kelas XI.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan non-tes. Sumber data didapat dari hasil tes siswa, angket, dan wawancara. Analisis data dilakukan secara kualitatif yang meliputi materi, konstruksi, dan bahasa, serta kuantitatif dengan menggunakan program MicroCat ITEMAN versi 3.00 untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda, dan efektivitas pengecoh.
Langkah-langkah yang digunakan untuk mengembangan instrumen tes formatif adalah analisis kebutuhan, menyusun spesifikasi tes, penulisan soal, analisis secara kualitatif, revisi tahap I, uji coba kelompok kecil, analisis butir soal uji coba kelompok kecil, revisi tahap II, uji coba kelompok besar berbasis e-learning, analisis butir soal uji coba kelompok besar, dan revisi tahap III..
Tes formatif Fisika berbasis e-learning tengah semester genap untuk SMA kelas XI yang dikembangkan ini sudah sesuai dengan karakteristik tes Fisika yang baik karena instrumen tes yang dikembangkan sudah memenuhi syarat menjadi instrumen yang baik yaitu mempunyai reliabilitas yang tinggi dan cukup tinggi, daya beda soal cukup, taraf kesukaran sedang, dan pengecoh berfungsi secara efektif. Produk pengembangan tes formatif ini menghasilkan soal yang memenuhi semua kriteria instrumen tes yang baik dengan rincian sebagai berikut: Untuk paket soal Dinamika Rotasi dihasilkan 20 soal yang memenuhi kriteria soal yang baik, untuk paket soal Kesetimbangan Benda Tegar dihasilkan 20 soal yang memenuhi kriteria soal yang baik, untuk paket soal Fluida Statis dihasilkan 22 soal yang memenuhi kriteria soal yang baik dan sudah mencakup semua indikator.
Kata kunci : pengembangan, tes formatif, tengah semester genap, Fisika SMA kelas XI, e-learning
IMPLEMENTASI BLENDED LEARNING PADA IPA TEMA PENGELOLAAN SAMPAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN AFEKTIF (SIKAP) SISWA KELAS VII-D SMPN 8 SURAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas VII-D SMPN 8 Surakarta melalui implementasi blended learning pada IPA tema Pengelolaan Sampah, (2) meningkatkan kemampuan afektif siswa kelas VII-D SMPN 8 Surakarta melalui implementasi blended learning pada IPA tema Pengelolaan Sampah. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan model Kurt Lewin dan model kolaboratif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus diawali dengan tahap persiapan dan dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan siklus yang terdiri perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-D SMPN 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 31 siswa.. Data diperoleh melalui kajian dokumen, penugasan, tes, observasi, angket, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini disimpulkan bahwa: (1) implementasi blended learning pada IPA tema Pengelolaan Sampah dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas VII-D SMPN 8 Surakarta yaitu sampai dengan siklus kedua diperoleh prosentase siswa yang tuntas sebesar 83,87%, (2) implementasi blended learning pada IPA tema Pengelolaan Sampah dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa kelas VII-D SMPN 8 Surakarta yaitu sampai dengan siklus kedua mengalami peningkatan pada masing-masing indikator sesuai target ketercapaian.
Kata kunci : Model Blended Learning, Pengelolaan Sampah, Kognitif, Afektif (Sikap