PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
Not a member yet
146 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI INDUKSI MAGNET MELALUI EKSPERIMEN SEDERHANA UNTUK MEMUDAHKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG TERJADINYA MEDAN PUTAR PADA MESIN LISTRIK 2 PHASA DI SEKOLAH KEJURUAN
Telah dilakukan eksperimen untuk menentukan hubungan antarabeda fase (cos q) dan kecepatan putar (w) dari rangkaian listrik tertutup AC untuk menjelaskan kepada siswa tentang terjadinya medan putar pada mesin listrik 2 phasa. Penentuan beda fase dilakukan dengan memvariasi nilai kapasitas kapasitor (C) dalam rangkaian serta mengamati kecepatan putar jarum kompas yang diletakkan di antara dua pasang kumparan yang saling berhadapan. Beda fasediamati dengan menghubungkan rangkaian dengan layar CRO (Osiloskop) sedangkan periode putar dapat diamati dengan meletakkan sensor LDR yang disinari dengan sinar LASER dan dihubungkan dengan komputer melalui interface labpro dan software program logger pro 3.8.3. Dari eksperimen dan data eksperimen, maka disimpulkan, pertama dengan panduan prosedur eksperimen, siswa dengan mudah dapat memahami rangkaian sederhana tentang terjadinya medan putar pada listrik AC. Kedua dengan merubah nilai C pada rangkaian siswa dapat mengamati adanya perubahan kecepatan putar jarum kompas. Dan ketiga pada data eksperimen nilai C = 1 mF starting jarum kompas sulit dilakukan karena sudutfase (q) mulai mengalami penurunan dimulai sudut88,95°dengan kecepatan putar jarum kompas 6718,53 rad/s. Hal inidisebabkan sudut tersebut menurun mendekati fase yang sama antara lilitan utama (Lu) dan lilitan bantu( Lb). Sedangkan pada C = 100 mF starting jarum kompas mulai mudah dilakukan karena dengan sudut fase (q) sebesar 36,99°kecepatan putar jarum kompas sebesar 10236,73 rad/s. Karena pada nilai kapasitor C = 100 mF sudut fase mulai mengalami naik sampai sudut 90°. Kata kunci :Induksi Magnet, Medan Putar, Listrik Dua Phasa
REFLEKSI UJI KOMPETENSI GURU IPA TAHUN 2012
Tahun 2012 Kementerian Pendidikan melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG). Hasil UKG cukup mengecewakan, disamping masalah teknis pelaksanaan ujian online, juga kompetensi professional peserta UKG hanya 44,55. Dilakukan penelitian untuk menganalisis rendahnya hasil UKG tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan metode diskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Kota Madiun. Diperoleh hasil penelitian sbb: meskipun guru IPA sejak awal memposisikan sebagai guru fisika atau biologi namun tidak ada perbedaan yang signifikan kompetensi professional guru IPA dalam menganalisis fakta-fakta fisika; kemampuan berfikir guru IPA cenderung tekstual; lingkungan dan Lab belum digunakan secara maksimal sebagai sumber belajar IPA; kemampuan berfikir tingkat tinggi masih lemah.Kata kunci: Uji Kompetensi Guru, Guru IPA, Profesionalita
PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA MATA PELAJARAN FISIKA DI SEKOLAH RSBI
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh: (1) Kompetensi pedagogik guru terhadap kemampuan kognitif siswa pada mata pelajaran Fisika kelas X RSBI di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012; (2) Fasilitas belajar terhadap kemampuan kognitif siswa pada mata pelajaran Fisika kelas X RSBI di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012; (3) Kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar secara bersama- sama terhadap kemampuan kognitif siswa pada mata pelajaran Fisika kelas X RSBI di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan mengumpulkan data-data kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012 sejumlah 317 siswa dengan sampel 85 siswa. Pengambilan sampel dengan teknik proportionate stratified random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, tes, wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis datanya adalah teknik analisis regresi linier ganda.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Ada pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap kemampuan kognitif siswa pada mata pelajaran Fisika kelas X RSBI di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012, hal ini ditunjukan dengan thitung> ttabel atau 3,375 > 1,984; (2) Ada pengaruh fasilitas belajar kelas RSBI terhadap kemampuan kognitif siswa pada mata pelajaran Fisika kelas X RSBI di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012, hal ini ditunjukan dengan nilai thitung> ttabel atau 2,290 > 1,984; (3) Ada pengaruh kompetensi pedagogik guru dan fasilitas belajar secara bersama- sama terhadap kemampuan kognitif siswa mata pelajaran Fisika kelas X RSBI di SMA N 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012, hal ini ditunjukan dengan harga Fhitung> Ftabel atau 27,491 >3,09. Dalam penelitian ini dilaporkan juga bahwa persamaan regresi linier Y = 22,232+ 0,341 X1 + 0,472 X2. Hal ini berarti bahwa rata-rata kemampuan kognitif siswa mata pelajaran Fisika (Y) meningkat atau menurun sebesar 0,341 untuk setiap peningkatan atau penurunan satu unit kompetensi pedagogik guru (X1) dan meningkat atau menurun sebesar 0,472 untuk setiap peningkatan atau penurunan satu unit fasilitas belajar (X2).Kata Kunci : Kompetensi Pedagogik, Fasilitas Belajar, Kognitif, Fisika, SB
STUDI EKSPLORASI KECOCOKAN PEMBELAJARAN FISIKA BERKARAKTER BERBASIS POTENSI PENCIPTAAN DAN FILOSOFI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF PENDEKATAN ILMIAH
Jika ditinjau penciptaan manusia yang secara basyar dan insan sudah dirancang oleh Sang Pencipta manusia menjadi sedemikian rupa sehingga mampu belajar untuk tidak sekedar pandai tetapi lebih utama menjadi mulia atau berkarakter.Homo concord setara makhluk adaptif dan transformatif , sebagai akibat dari sifat homo faber dan homo mensura. Sehingga manusia mampu belajar (homo educancum) sebagai modal untuk bertahan hidup bahkan merubah lingkungan sosialnya agar menjadi aman dan nyaman sesuai kehendakNyaSelain dari faktor kecerdasan, prestasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh lingkungan siswa baik di sekolah, di rumah, maupun di luar rumah. Lingkungan yang kurang mendukung serta kurangnya perhatian orangtua siswa dalam mendukung anak-anaknya mengenyam dunia pendidikan dapat menyebabkan perkembangan kognitif, afektif, psikomotorik dan kepribadian anak atau siswa kurang optimal.Struktur pembelajaran ilmiah menurut Prof Walter Klinger Phd (1997): Motivasi, penjabaran masalah,penyusunan Opini, perencanaan, percobaan, kesimpulan, abstraksi dan konsolidasi. Hal ini merupakan bagian dari sifat manusia sebagai insan yaitu memiliki Kemampuan untuk mendengar, melihat dan merasa. (76:2, 7:179, 46:26), Kemampuan untuk berbicara.(55:4), Kemampuan mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (96:4-5), Kemampuan berteknologi kekuatan (55:33), Kemampuan untuk berbuat baik atau menjadi bermoral (31:14) Kata Kunci : Karakter, homo faber, homo mensura, homo concord
PENINGKATAN PRESTASI PEMBELAJARAN ALAT OPTIK DENGAN METODE GI PADA SISWA KELAS 8C SEMESTER GENAP SMP N 4 SURAKARTA TAHUN 2011/2012
Penguasaan Kompetensi Dasar Alat Optik dalam mata pelajaran Fisika pada siswa kelas 8 SMP N 4 Surakarta semester genaptahun pelajaran 2010/2011 belum optimal.Tujuan penelitian: meningkatkan prestasi pembelajaran Kompetensi Dasar Alat Optik pada siswa Kelas 8 C Semester genap SMP Negeri 4 Surakarta Tahun 2012. Prosentase diperoleh dari kondisi awal 14 % tuntas KKM sedangkan setelah dilakukan penelitian maka diperoleh pada siklus II terdapat kenaikan 72,7% tuntas. Penulis menggunakan metode GI (Group Investigation ) dalam pembelajaran Kompetensi Dasar Alat Optik pada Siswa Kelas 8C SMP N 4 Surakarta Tahun 2011/2012 dapat lebih aktif dan kreatif dalam suatu kelompok diskusi dapat meningkatkan prestasi secara optimal.Kata kunci : 1.Prestasi ,2. Alat Optik .3,G
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN FISIKA YANGMENARIKDAN MENANTANG DI SEKOLAH AKSELERASI
Kurikulum Pembelajaran Fisika di sekolah akselerasi ditengarai sama dengan kurikulum sekolah regular hanya dilakukan penambahan jumlah jam pelajaran khususnya pelajaran MIPA, sehingga satu satuan jenjang pendidikan yang seharusnya tiga tahun dapat ditempuh hanya dua tahun. Ini mengakibatkan siswa akselerasi sangat disibukkan dengan tugas-tugas dari semua mata pelajaran.Penyelenggaraan Sekolah Akselerasi sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik siswa, guru, kurikulum dan sistem pembelajaran fisika yang disajikan. Sekolah Akselerasi perlu mengembangakan model pembelajaran dan media pembelajaran fisika yang sesuai dengan kebutuhan. Di Sekolah Akselerasi perlu dikembangkan model pembelajaran fisika yang menarik dan menantang bagi siswa maupun bagi guru sebagai pasilitatornya. Hal ini dimaksudkan agar para siswa selalu bergairah dalam melakukan pembelajaran Fisika baik di sekolah maupun di rumah. Kajian ini dilakuakan secara deskriptif kualitatif, dan dilakukan atau berlaku bagi SMA yang menyelenggarakan akselerasi. Keluaran yang dihasilkan dapat berupa model dan media pembelajaran fisika yang sesuai dengan siswa akselerasi