PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
Not a member yet
    146 research outputs found

    SURAT KETERANGAN PENDAMPING IJAZAH BAGI MAHASISWA LULUSAN PENDIDIKAN FISIKA DAN TANTANGAN MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

    Full text link
    Berita terbaru yang cukup mengejutkan pada bulan Mei 2015 bahwa perawat-perawat Indonesia yang bekerja di Timur Tengah terancam dipulangkan (Sindo, 15 Mei 2015). Sebenarnya rencana pemulangan perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri sudah diketahui oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristek-Dikti Illah Sailah pada awal tahun 2015. Konsekuensinya, Direktur Belmawa harus memberi penjelasan kepada penyalur tenaga kerja, majikan dan pemerintah Kuwait perihal keabsahan ijazah pendidikan para perawat di Indonesia, akreditasi prodi, dan sertifikasi lulusan. Selain itu Kemenristek-Dikti melakukan kegiatan dengan meningkatkan intensitas sosialisasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sampai dengan penyusunan learning outcome ke Universitas/Prodi di Indonesia.KKNI menjadi salah satu alat untuk menyejajarkan kompetensi lulusan perguruan tinggi di Indonesia dengan kompetensi lulusan dari negara lain misalnya Philipina (Philippine Qualification Framework / PQR) bahkan dengan standar Asean (Asean Qualification Reference Framework-AQRF). Kualifikasi adalah kelayakan seorang lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi-kompetensi minimal yang distandarkan. Sedangkan sertifikasi adalah kewenangan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. KKNI bukan sebuah sertifikasi tetapi kelayakan pada level tertentu yang diperoleh melalui: pendidikan, pengalaman pribadi, peningkatan profesionalitas, atau melalui peningkatan karir di dunia kerja.Dibukanya ekonomi bebas masyarakat Asean (ASEAN Economic Community/AEC), memberikan peluang kepada lulusan Pendidikan Fisika untuk bersaing dengan lulusan dari negara lain. Agar pengguna lulusan dapat mengetahui kompetensi calon tenaga kerja yang akan direkrutnya, maka diperlukan surat keterangan yang menunjukkan kompetensi ini dalam bentuk narasi pada surat keterangan pendamping ijazah (SKPI)

    Penggunaan Alat Peraga Sederhana Berbasis Teknologi Daur Ulang untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Vektor dalam Kelas Remedial SMKN 1 Wonoasri Tahun Pelajaran 2014/2015

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep fisika pada materi vektor dengan menggunakan Alat Peraga Sederhana Berbasis Teknologi Daur Ulang. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas X MM 2 SMKN 1 Wonoasri dengan 16 siswa. Data diperoleh dengan metode tes. Hasil penelitian ini menunjukkan melalui pemanfaatan alat peraga dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa. Hal ini ditandai dengan meningkatnya hasil tes yang dilakukan pada siswa setelah penggunaan alat peraga. Berdasarkan hasil observasi hasil tes sebelum penggunaan alat peraga memiliki nilai rata-rata 19,06. Setelah penggunaan alat peraga diperoleh nilai rata-rata 92,31. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan Alat Peraga Sederhana Berbasis Teknologi Daur Ulang dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa pada materi vektor di SMKN 1 Wonoasri tahun pelajaran 2014/2015 dengan nilai gain rata-rata 0,91.Kata kunci : Alat Peraga, Daur Ulang, Pemahaman Konsep, Vekto

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FLASH CARD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan: (1) model pembelajaran GI dengan menggunakan media flashcard mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. (2) model pembelajaran GI dengan menggunakan media flashcard mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa..Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan model Kurt Lewin dan model kolaboratif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus diawali tahap persiapan kemudian dilanjutkan tahap pelaksanaan siklus yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2012/2013 sebanyak 27 siswa dengan penelitian pada materi pemuaian. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara, tes kemampuan kognitif, dan kajian dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) penerapan model pembelajaran GI dengan menggunakan media flashcard dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dari tiga aspek aktivitas belajar yang menjadi fokus penelitian diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Visual Activities dapat mencapai 82 %, (b) Oral Activities dapat mencapai 48 %, (c) Writing Activities dapat mencapai 68 %. (2) model pembelajaran GI dengan menggunakan media flashcard dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya persentase ketercapaian ketuntasan belajar siswa yaitu 29,62% pada pra siklus, menjadi 48,14% di siklus I, dan 92,59% di siklus II. Hasil ini telah memenuhi batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) SMP Negeri16 Surakarta yaitu 75.Kata Kunci: Group Investigation, flash card, aktivitas, kognitif, PTK, pemuaian, fisik

    Eksperimen Blended Learning Tipe Kelas Murni dan Aplikasi Praktis Sub Tema Biomassa Energi Terbarukan Ditinjau dari Minat Siswa Kelas VIII SMP N 7 Surakarta

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pengaruh model blended learning tipe aplikasi praktis dan tipe kelas murni terhadap kemampuan kognitif siswa; 2) mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pengaruh minat belajar kategori tinggi, sedang, dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa; dan 3) mengetahui ada atau tidaknya interaksi pengaruh penerapan model pembelajaran dengan minat belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa.Populasi dalam penelitian ini adalahsiswa kelas VIII di SMP N 7 Surakarta. Sampel yang terpilih adalah kelas VIII D dan VIII E dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2x3. Pengumpulan data dilaksanakandengan teknik angket untuk data minat belajar siswa dan teknik tes untuk data kemampuan kognitif siswa. Data tersebut kemudian dianalisis dengan Anava dua jalan. Kemudian dilanjutkan dengan analisis menggunakan Scheffe sebagai uji lanjut pasca Anava.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) terdapat perbedaan yang signifikan antara model blended learning tipe aplikasi praktis dan tipe kelas murni terhadap kemampuan kognitif siswa (Fa = 4,33 > F0,05;1;54= 4,02); 2) terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar kategori tinggi, sedang, dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa (Fb = 4,42> F0,05;2;54=3,17); dan 3) tidak terdapat interaksi pengaruh penerapan model pembelajaran dengan minat belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa (Fab = 0,16> F0,05;2;54=3,17).Kata Kunci : blended learning tipe aplikasi praktis, blended learning tipe kelas murni, minat belajar, kemampuan kogniti

    Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Snowball Throwing untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif dan Aktivitas Belajar Siswa Pada Materi Fluida Tak Bergerak Kelas X MIA 1 Di SMAN 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2014/2015

    Full text link
    Penelitian penerapan model pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing bertujuan untuk: (1) meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas X MIA 1 di SMAN 1 Sukoharjo pada materi Fluida Tak Bergerak tahun pelajaran 2014/2015, (2) meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X MIA 1 di SMAN 1 Sukoharjo pada materi Fluida Tak Bergerak tahun pelajaran 2014/2015.Metode yang digunakan pada penelitian yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan model Kurt Lewin dan model Kolaboratif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus diawali tahap persiapan kemudian dilanjutkan tahap pelaksanaan siklus yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIA 1 di SMAN 1 sebanyak 40 siswa dengan penelitian dikhususkan  pada materi pokok Fluida Tak Bergerak. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara dengan guru, ulangan harian, angket dan kajian dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif didukung data kuantitatif.Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing  dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi Fluida Tak Bergerak kelas X MIA 1 di SMAN 1 Sukoharjo. Ketuntasan belajar meningkat, pada siklus I sebesar 57,50% dan siklus II sebesar 82,50%. Rata-rata hasil belajar siswa juga meningkat, pada siklus I sebesar 68,75 dan pada siklus II sebesar 78,63. (2) Penerapan model pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing  dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi Fluida Tak Bergerak kelas X MIA 1 di SMAN 1 Sukoharjo. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan aktivitas belajar pada pra siklus, siklus I dan siklus II. Dari indikator aktivitas yang ditentukan diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Siswa memperhatikan penjelasan guru/teman diperoleh hasil pra siklus 67,50 %, siklus I 74,49 %, siklus II 96,65 %, (b) Siswa  membaca buku Fisika/LKS diperoleh hasil pra siklus 50 %, siklus I 62,92 %, siklus II 92,92 %, (c) Siswa bertanya kepada guru jika ada hal yang kurang jelas diperoleh hasil pra siklus 10 %, siklus I 33,75 %, siklus II 38,33 %, (d) Siswa  berpartisipasi menjawab pertanyaan yang diberikan oleh siswa dari kelompok lain dalam model Kooperatif Snowball Throwing  diperoleh hasil  pra siklus 0 %, siklus I 86,25 %, siklus II 93,75 %, (e) Siswa berani memberikan tanggapan/sanggahan atas pendapat teman diperoleh hasil pra siklus 37,50 %, siklus I 44,17 %, siklus II 52,67 %, (f) Siswa memberikan pendapat/saran untuk memecahkan masalah dalam diskusi kelompok diperoleh hasil pra siklus 0%, siklus I 64,58 %, siklus II 83,75 %, (g) siswa menulis hasil pemecahan masalah dalam diskusi diperoleh hasil pra siklus 0%, siklus I 65 %, siklus II 92,67 %, (h) siswa mencatat materi yang disampaikan oleh guru diperoleh hasil pra siklus 62,50 %, siklus I 85 %, siklus II 96,25 %, dan (i) siswa berpartisipasi merumuskan pertanyaan yang relevan dengan tema dalam model Kooperatif Snowball Throwing  diperoleh hasil pra siklus 0%, siklus I 65,42 %, siklus II 94,17 %

    UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN MINAT BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODUL BERBASIS SCIENTIFIC APPROACH KELAS VII C SMP NEGERI 4 SURAKARTA

    Full text link
    The objectives of this research are: (1) to improve the students’ cognitif competence of 7th grade students of SMPN 4 Surakarta in the second semester, 2014/2015 academic year particulary in temperature, heat and heat transfer material by using scientific approach-based modul, and (2) to improve the learning interest.This Classroom Action Research (CAR) adopts Kurt Lewin model. It was conducted collaboratively between the researcher and the teacher within two cycles. Each cycle began with preparation stage then followed by implementation of using the modul within the cycle stage which covers planning, action, observing, and reflection stage. The subject of the research was 33 students at the 7th grade in SMPN 4 Surakarta in the 2014/2015 academic year. The research was particularly conducted to teach temperature, heat and heat transfer material. The data were collected through observation, interview with teacher and students, post test, questionnaire, and document analysis. The data were validated through triangulation technique. The data analysis employed used qualitative and quantitative technique.The finding of this research shows that: (1) The students’ cognitive competence improved as much as 2,73% surpassing the expected target. The number of students who met the passing grade was 72,73%, with the passing score of 86. (2) the students’s learning interest also improved as much as 2,5% surpassing the expected target. The aspects of learning interest that became the focus of this research improved such as: (1) the willingness which improved to 82,89%, (2) the attention which improved to 76,08%, (3) and the participation which improved to 78,57%.Kata kunci : cocnitive competence, learninginterest, instructional modul, scientific approac

    HARVESTING ENERGY PANAS MATAHARI MENGGUNAKAN THERMOELECTRIC DAN PHOTOVOLTAIC

    Full text link
    Paper ini bertujuan untuk: (1) Membuat prototipe Harvesting Energy panas matahari menggunakan Thermoelectric dan Photovoltaic; dan (2) Mengetahui pengaruh variasi suhu dan intesitas cahaya terhadap arus dan tegangan yang dihasilkan dari Thermoelectric dan Photovoltaic. Makalah ini disusun berdasarkan kajian literatur seperti buku, jurnal, internet, dan literatur lainnya yang membahas tentang pemanfaatan modul Thermoelectric dan Photovoltaic sebagai alat konversi energi panas dan cahaya Matahari menjadi energi listrik. Metode penelitian dalam Eksperimen Fisika II ini adalah metode eksperimen sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis kuantitatif dan grafik. Hasil analisis data dibandingkan dengan teori yang sudah ada. Percobaan ini dilakukan dengan cara merangkai seri 4 buah modul Thermoelectric kemudian memberikan perbedaan suhu pada kedua permukaan modul Thermoelectric yakni pada sisi panas diberikan suhu lebih tinggi dan pada sisi dingin diberikan suhu yang lebih rendah. Lalu dari keluaran modul dihitung nilai tegangan dan arus yang dihasilkan. Kemudian untuk modul Photovoltaic yang diberi pancaran cahaya Matahari yang diubah menjadi arus dan tegangan listrik yang masing-masing keluaran dari modul diperkuat oleh rangkaian Blocking Oscilator. Dengan diperolehnya data tegangan, arus, dapat digunakan untuk mencari berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengisi baterai 2,4 V dengan kapasitas 2000 mAh. Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan waktu pengamatan yang berbeda diperoleh bahwa tegangan maksimal yang mampu dihasilkan oleh sistem adalah V = 3,115 volt, dan arus I = 47,07 mA, sehingga waktu yang dibutuhkan baterai agar terisi secara penuh dapat dihitung dengan persamaan Kapasitas Baterai (mAh) = Kapasitas Charger (mA) x Waktu Pengisian (h), dari perhitungan diperoleh lama waktu pengisian baterai adalah t = 42,49 jam.Kata kunci : Harvesting Energy, Thermoelectric, Photovoltaic, waktu pengisisan batera

    Model Learning Cycle 7E Dalam Pembelajaran IPA Terpadu

    Full text link
    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat model learning cycle 7E. Model learning cycle 7E merupakan model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme yang terdiri dari tujuh fase berupa Elicit, Engage, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate, dan Extend yang terorganisasi dan berpusat pada siswa sehingga siswa secara aktif menemukan konsep sendiri. Pada fase Elicit, guru berusaha mendatangkan pengetahuan awal siswa, pada fase Engage, guru mengajak dan menarik perhatian siswa. Siswa diberikan pengalaman langsung untuk berkeksplorasi pada fase Explore dan menjelaskan apa yang ia dapatkan dari hasil ekslporasi pada fase Explain. Selanjutnya pada fase Elaborate siswa menerapkan simbol, definisi, konsep, dan keterampilan pada permasalahan. Pada fase Evaluate, guru menilai siswa, dan kemudian pada fase Extend siswa memperluas pengetahuannya dengan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari ataupun mencari hubungan antara konsep yang mereka pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari. Model ini dapat menumbuhkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran secara aktif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pendahulu, dengan model learning cycle 7E dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan berpikir kritis. Model ini cocok apabila diterapkan dalam pembelajaran IPA karena hakikat IPA yang meliputi empat unsur (sikap, proses, produk, dan aplikasi) dapat muncul dalam fase learning cycle 7E.Kata kunci : learning cycle 7E, IPA Terpad

    IMPLEMENTASI MODUL FISIKA SMA BERBASIS EMPAT PILAR PENDIDIKAN DENGAN APLIKASI SPREADSHEET PADA MATERI GERAK PROYEKTIL

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah mengimplementasikan modul Fisika SMA berbasis empat pilar pendidikan dengan aplikasi spreadsheet pada materi Gerak Proyektil yang memenuhi kriteria baik.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan didukung data kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang berdasarkan model pengembangan Borg dan Gall sampai tahap ke tujuh. Prosedur penelitian berupa (1) Penelitian dan pengumpulan informasi, (2) Tahap perencanaan, (3) Pengembangan draft produk, (4) Uji coba lapangan awal, (5) Revisi uji coba lapangan awal, (6) Uji coba lapangan utama, (7) Revisi uji coba lapangan utama. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara, angket, dan tes. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data telah divalidasi oleh dosen pembimbing. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil validator dan nilai tes tertulis. Validator terdiri atas dua dosen ahli dan 3 guru sebagai reviewer serta responden yang terdiri dari 36 siswa kelas XI. Tes tertulis dilakukan setelah pembelajaran menggunakan modul Fisika berbantuan Spreadsheet Excel pada materi Gerak Proyektil. Teknik analisis data kualitatif yang digunakan yakni model interaktif dari Miles dan Huberman, sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan penilaian penskoran standar yang dibagi menjadi lima kategori. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa modul Fisika berbasis empat pilar pendidikan dengan bantuan aplikasi spreadsheet yang telah diuji kelayakan oleh ahli dapat dimplementasikan pada pembelajaran Fisika SMA kelas XI dengan baik (berdasarkan hasil uji kelayakan melalui angket dan wawancara yang menunjukkan bahwa modul secara umum memiliki kriteria baik, serta hasil tes tertulis yang dilakukan setelah pembelajaran menggunakan modul Fisika berbantuan Spreadsheet Excel yang juga memperoleh kategori sangat baik). Modul Fisika berbasis empat pilar pendidikan ini terdiri atas 38 halaman yang berisi judul, kata pengantar, daftar isi, sajian isi modul, petunjuk penggunaan, peta komptensi, peta konsep, submateri gerak proyektil tanpa hambatan udara, submateri gerak proyektil yang memperhitungkan hambatan udara, rangkuman dan evaluas

    Eksperimen Blended Learning dan Learning Cycle 7E pada Sub Tema Pengelolaan Sampah Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMPN 6 Surakarta

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) ada atau tidaknya perbedaan pengaruh model blended learning dan learning cycle 7E terhadap kemampuan kognitif siswa pada sub tema Pengelolaan Sampah; 2) ada atau tidaknya perbedaan pengaruh motivasi belajar siswa kategori tinggi, sedang, dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa pada sub tema Pengelolaan Sampah; dan 3) ada atau tidaknya interaksi pengaruh antara penerapan model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa pada sub tema Pengelolaan Sampah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di SMP Negeri 6 Surakarta. Sampel yang terpilih adalah kelas VII A dan VII B dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2x3. Pengumpulan data dilaksanakan dengan teknik angket untuk data motivasi belajar siswa dan teknik tes untuk data kemampuan kognitif siswa. Analisis data menggunakan uji anava dua jalan dengan frekuensi sel tak sama, kemudian dilanjutkan dengan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’ dengan taraf signifikasi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara model blended learning dan learning cycle 7E terhadap kemampuan kognitif siswa (Fa=4,799 > F0,05;1;56= 4,016). Siswa yang dibelajarkan melalui model blended learning memiliki kemampuan kognitif lebih baik dibandingkan siswa yang dibelajarkan melalui model learning cycle 7E; 2) ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar siswa kategori tinggi, sedang, dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa (Fb=5,606>F0,05;2;56=3,166). Motivasi belajar siswa kategori tinggi memberikan pengaruh terhadap kemampuan kognitif hampir sama dengan motivasi belajar siswa ketegori sedang. Motivasi belajar siswa ketegori tinggi dan sedang memberikan pengaruh terhadap kemampuan kognitif lebih baik daripada motivasi belajar siswa kategori rendah; dan 3) tidak ada interaksi pengaruh antara penerapan model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa (Fab=0,456<F0,05;2;54=3,166).Kata Kunci : blended learning, learning cycle 7E, motivasi belajar, kemampuan kogniti

    146

    full texts

    146

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇