SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1269 research outputs found
Sort by
Tranformasi Hujan Debit Daerah Aliran Sungai Ngotok dengan Pembagian Sub Catchment Area Menggunakan Model HEC HMS
ABSTRAK Alifudin. 2019. Tranformasi Hujan Debit Daerah Aliran Sungai Ngotok dengan Pembagian Sub Catchment Area Menggunakan Model HEC HMS. Program Studi S1 Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Eko Suwarno, M.Pd (II) Gilang Idfi, S.T., M.T. Kata Kunci: HEC HMS, Metode SCS, Sub Catchment Area Tranformasi hujan debit merupakan pemodelan banjir pada suatu daerah aliran sungai (DAS). Penelitian ini dilakukan pada DAS Ngotok yang secara adminitratif melewati kabupaten Jombang, kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto. Letak Secara geografis terletak pada 07̊ 26’ 39” sampai dengan 07̊ 32’ 19” Lintang Selatan serta 112̊ 15’ 47” sampai dengan 112̊ 25’ 38” Bujur Timur dengan luas wilayah sebesar ±722 km2. Hampir setiap tahun pada aliran DAS Ngotok sering terjadi banjir, dengan pemodelan banjir yang benar diharapkan perencanaan bangunan air dapat meminimalisir banjir. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui : (1) formasi sub DAS (2) tinggi hujan rata-tata daerah di masing-masing sub DAS (3) hasil pemodelan transformasi hujan debit DAS (4) keandalan model transformasi hujan debit melalui kalibrasi hasil pemodelan dengan data lapangan. Pemodelan banjir yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pembagian sub catchment area bedasarkan kondisi topografi DAS dengan menggunakan metode SCS (Soil Conservation Service) menggunakan software HEC HMS. Dengan pembagian DAS menjadi sub – sub DAS menjadikan hasil pemodelan mendekati kondisi dilapangan. Hasil pembagian sub catchment area DAS Ngotok mengahasilkan 5 sub DAS. Dari hasil perhitungan analisa curah hujan didapatkan curah hujan daerah untuk masing-masing sub DAS mengahasilkan untuk sub DAS 1 sebesar 68,4 mm, sub DAS 2 sebesar 65,8 mm, sub DAS 3 sebesar 65,05 mm, sub DAS 4 sebesar 70,05 mm, dan sub DAS 5 sebesar 68,4 mm. Dari hasil pemodelan didapatkan hidrograf dengan debit puncak kala ulang 2 tahun sebesar 246,9 m3/s , kala ulang 5 tahun sebesar 350,7 m3/s , kala ulang 10 tahun sebesar 410,2 m3/s, kala ulang 25 tahun sebesar 476,2 m3/s, kala ulang 50 tahun sebesar 523 m3/s, kala ulang 100 tahun sebesar 572,9 m3/s, dan kala ulang 200 tahun sebesar 616,7 m3/s. Hasil kalibrasi dari data AWLR Karobelah di sungai Gunting yang dimodelkan sebagai sub DAS 3 menghasilkan 2 debit puncak pada tahun 2012 dan 2016 memiliki debit puncak mendekati dengan hasil pemodelan kala ulang 5 tahun. Pada tahun 2015 debit puncak mendekati dengan hasil pemodelan 2 tahun. Sedangkan debit puncak pada tahun 2014 mendekati dengan hasil peodelan kala ulang 25 tahun. Kalibrasi menggunakan rumus Nash didapatkan nilai EI sebesar 0,89, yang berarti hasil pemodelan termasuk kategori tingkat akurasi tinggi
ANALISIS PERCEPATAN PROYEK DENGAN METODE CRITICAL PATH METHOD (CPM) PADA PEMBANGUNAN ASRAMA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Hayya, Afifa Aqiella Fadia. 2019. Analisis Percepatan Proyek dengan Metode Critical Path Method Pada Proyek Pembangunan Asrama Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Eko Suwarno., M.Pd. (II) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T.Kata Kunci : Keterlambatan Proyek, Critical Path Method, Percepatan WaktuPada proyek pembangunan gedung Asrama Universitas Negeri Malang, terdapat permasalahan yang mengakibatkan keterlambatan pelaksanaan pada proyek tersebut. Pembangunan Asrama Universitas Negeri Malang yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2018 dan berakhir 29 November 2018, mengalami keterlambatan selama 2 bulan. Keterlambatan pekerjaan yang terjadi pada pembangunan gedung asrama tersebut antara lain yaitu: pekerjaaan persiapan, pekerjaan tanah & urugan, pekerjaan pondasi, pekerjaan pile cap, pekerjaan upper struktur lantai 1, 2, 3, dan 4, dan pekerjaan elektrikal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan percepatan pada proyek pembangunan Asrama Universitas Negeri Malang yang mengalami keterlambatan dalam pelaksanaannya. Percepatan pada proyek pembangunan ini dapat menggunakan alternatif penambahan jam kerja (lembur) guna mempercepat durasi penyelesaian proyek. Durasi normal untuk penyelesaian proyek ini adalah 360 hari tetapi mengalami keterlambatan menjadi 420 hari.Analisis percepatan proyek merupakan unsur yang penting dilakukan di dunia proyek kontruksi. Mengingat sering terjadinya keterlambatan dalam pengerjaan proyek maka diperlukan adanya analisis-analisis yang menyangkut keterlambatan proyek dan dampaknya. Dalam hal ini, digunakan metode CPM (Critical Path Method) sebagai metode untuk menganalisis keterlambatan dan percepatan proyek.Hasil perhitungan menggunakan critical path method dengan alternatif penambahan jam kerja (lembur) menunjukkan bahwa dengan metode critical path method dapat mengurangi durasi selama 52 hari sehingga waktu penyelesaian proyek hanya 368 hari. Total cost pada durasi normal sebesar Rp. 30.550.103.000 Sementara ini pada alternatif penambahan jam kerja (lembur) terdapat penambahan biaya sehingga cost setelah percepatan menjadi sebesar Rp. 30.670.577.000 Sehingga pada penelitian ini diperoleh bahwa penyelesaian proyek dan mengurangi resiko keterlambatan yang semakin panjang
Eksperimen Penggunaan Tulangan Serat Kenaf untuk Keperluan Penulangan Balok
RINGKASANIskandar, Kharisma Kevin. 2019. Eksperimen Penggunaan Tulangan Serat Kenafuntuk Keperluan Penulangan Balok. Skripsi, Program Studi S1 TeknikSipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)Drs. Adjib Karjanto, S. T., M. T. (II) Drs. Wahyo Hendarto Yoh, M.T.Kata Kunci : Tulangan Serat Kenaf, Balok Beton, Kuat Tekan, Kuat Tarik, KuatLenturKenaikan kebutuhan bijih besi sebagai bahan baku untuk industri besi bajadan besi telah mengakibatkan peningkatan kegiatan penambangan bijih besi. Haltersebut dapat memungkinkan pada silang waktu tertentu menghasilkan kelangkaandan diperlukan alternatif dalam mengantisipasi sebuah kelangkaan bahan. Kenafmerupakan salah satu sumber serat yang cukup potensial untuk dikembangkankarena sifat kenaf yang kuat terhadap gaya tarik menjadi perhatian tersendirididunia konstruksi. Tingginya nilai tarik membuat serat ini berpotensi sebagaibahan alternatif pengganti tulangan baja. Penggunaan tulangan dari bahan selainbaja bukan merupakan hal yang baru, salah satu penelitian tulangan dengan bahandari alam adalah menggunakan bambu. Maka tidak menutup kemungkinan bahanalam lain dapat dipergunakan sebagai penulangan. Penggunaan tulangan serat kenafdifokuskan pada struktur balok, karena balok merupakan bagian yang menahangaya tarik dan lendutan yang tinggi.Tujuan penelitan ini adalah (1) mengetahui kuat lentur balok yang dihasilkandengan menggunakan tulangan dari serat kenaf setelah dilakukan pengujianterhadap beban P. (2) mengetahui komposisi optimal yang diperlukan dalampembuatan tulangan dari serat kenaf untuk menahan lentur pada balok berdasarkanjumlah lilitan. (3) mengetahui perbedaan kuat tarik tulangan baja dengan tulanganserat kenaf. (4) perbedaan kuat lentur balok antara tulangan baja dengan tulangankenaf. (5) mengetahui perbandingan kuat lentur tulangan serat kenaf terhadaptulangan baja pada masing-masing lilitan.Penelitian ini dilakukan dengan metodeexperimental laboratories dengan benda uji berupa silinder beton berukuran 150 x300 mm sejumlah 8 buah dan balok beton ukuran 100 x 150 mm sebanyak 16 buah.Jumlah serat kenaf yang digunakan dibedakan berdasarkan jumlah lilitan yaitu 1lilitan, 2 lilitan, dan 3 lilitan yang mana setiap lilitan terdiri dari 10 gr serat kenaf.Dari penelitian ini didapatkan (1) terjadi peningkatan signifikan kuat lenturbalok seiring dengan bertambahnya jumlah lililitan dengan nilai rata-rata, 3,89MPa, 4,17 MPa, dan 5,96 MPa. (2) komposisi yang optimal dalam menahan gayagaya yang terjadi adalah tulangan serat kenaf 3 lilitan dengan berat serat 30 gram(3) Terdapat perbedaan kuat tarik pada tulangan baja dan tulangan dari serat kenafdengan signifikasi 95% pada α=5% (4) Ada perbedaan kuat lentur balok dengantulangan dari serat kenaf dan tulangan baja polos ϕ8 mm dengan signifikasi 95%pada α=5% (5) Perbandingan kuat lentur balok tulangan baja ϕ8mm:tulangan kenaf1 lilitan adalah 1:4,8. Kuat lentur balok tulangan baja ϕ8mm:tulangan kanaf 2 lilitanadalah 1:4,4. Dan kuat lentur balok tulangan baja ϕ8mm:tulangan kenaf 3 lilitanadalah 1:3,1
ANALISA DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN PONDASI TIANG BOR MENGGUNAKAN NILAI STANDARD PENETRATION TEST (SPT) DAN PILE DRIVING ANALYZER (PDA) TEST PADA PROYEK GEDUNG FIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAKFuaida, Mu’fia. 2019. Analisa Daya Dukung dan Penurunan Pondasi Tiang Bor menggunakan Nilai Standard Penetration Test (SPT) dan Pile Driving Analyzer (PDA) Test Pada Proyek Gedung FIK Universitas Negeri Malang. Skripsi. Program Studi S1 Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T., (II) Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T.Kata kunci : Daya dukung tiang bor, Penurunan tiang bor, SPT, PDA TestBeban bangunan disalurkan ke tanah melalui pondasi. Dalam perencanaan pondasi, ada kriteria yang harus dipenuhi yakni daya dukung dan penurunan. Daya dukung dan penurunan dapat dihitung berdasarkan beberapa metode antara lain berdasarkan hasil uji laboratorium, Cone Penetration Test (CPT) atau sondir, dan Standard Penetration Test (SPT). Selain itu, dalam pelaksanaan dilapangan besarnya daya dukung dan penurunan pondasi dapat diperoleh berdasarkan PDA Test dan Static Load Test (STL). Melalui penelitian ini ingin diketahui perbandingan besarnya daya dukung aksial dan penurunan pondasi tiang bor berdasarkan nilai Standard Penetration Test (SPT) dengan hasil Pile Driving Analyzer (PDA) Test.Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif analitis. Analisa dilakukan pada 2 pondasi tiang bor yakni P3-17 dan P3-103 di proyek Gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang. Metode analisa daya dukung dan penurunan yang digunakan berdasarkan SPT dengan metode Meyerhof dan Coyle and Castello, dan berdasarkan PDA Test yang dianalisis menggunakan CAPWAY.Besarnya daya dukung berdasarkan SPT cenderung lebih besar dibandingkan dengan PDA Test. Adapun besarnya daya dukung berdasarkan SPT yang menggunakan metode Meyerhof, pada tiang P3-103 sebesar 871,88 ton dan tiang P3-17 sebesar 932,76 ton. Besarnya daya dukung ultimit berdasarkan SPT yang menggunakan metode Coyle and Castello, pada tiang P3-103 sebesar 1132,41 ton dan tiang P3-17 sebesar 1265,04 ton. Sedangkan, besarnya daya dukung ultimit berdasarkan PDA Test, pada tiang P3-103 sebesar 556,3 ton dan tiang P3-17 sebesar 694,2 ton.Besarnya penurunan pondasi tiang bor berdasarkan SPT cenderung lebih kecil dibandingkan dengan PDA Test. Adapun besarnya penurunan berdasarkan SPT dengan menggunakan metode Meyerhof, pada tiang P3-103 sebesar 0,33 mm dan tiang P3-17 sebesar 0,42 mm. Besarnya penurunan berdasarkan SPT dengan menggunakan metode Coyle and Castello, pada tiang P3-103 sebesar 0,69 mm dan tiang P3-17 sebesar 0,96 mm. Sedangkan, besarnya penurunan berdasarkan PDA Test, pada tiang P3-103 sebesar 0,94 mm dan tiang P3-17 sebesar 1,27 mm
Perbandingan Filler Antara Zeolite, Kapur dan Fly Ash untuk Campuran Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC).
RINGKASANRomadhoni, Vicki Wahyu. 2018. Perbandingan Filler Antara Zeolite, Kapur dan Fly Ash untuk Campuran Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC). Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Bambang Supriyanto, S.T., M.T. (II) Pranoto, S.T., M. T.Kata Kunci: filler, zeolite, kapur padam, lapisan AC-BC, parameter marshall.Kendaraan berat adalah salah satu prasarana transportasi yang merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan masyarakat. Dengan melihat peningkatan mobilitas penduduk yang menggunakan kendaraan berat mengakibatkan aspal sering rusak, maka dibutuhkan bahan pengaspalan yang harus kuat dalam hal ini ialah AC-BC (Asphalt Concrete-Binder Course). Dalam penggunaannya AC-BC menggunakan filler PC (Portland Cement). Tetapi, industri PC dapat berpotensi sebagai pencemar lingkungan. Maka, diperlukan filler alternative yang harganya murah dan ramah lingkungan yaitu zeolite, fly ash dan kapur padam.Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui parameter marshall antara zeolite, kapur padam dan fly ash sebagai filler pada campuran AC-BC, (2) Mengetahui nilai terbaik IKS (Indeks Kekuatan Sisa) pada masing-masing filler.Rancangan pada penelitian dilakukan dengan pengujian bahan yang meliputi pengujian aspal, agregat kasar, agregat halus serta perngujian filler. Kemudian dilakukan pembuatan benda uji untuk menentukan nilai KAO (Kadar Aspal Optimum) dengan variasi kadar aspal 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, 6,5% berjumlah 45 benda uji dengan hasil pembuatan benda uji tersebut akan ditarik kesimpulan angka KAO dan yang terakhir adalah pembuatan benda uji bertujuan mengetahui hasil IKS dari angka KAO yang didapat dengan berjumlah 18 benda uji.Hasil penelitian diperoleh nilai KAO sebesar 6,0% untuk campuran fly Ash, 4,75% untuk campuran kapur padam dan 6,4% untuk campuran zeolite. Nilai IKS untuk semua filler memenuhi persyaratan yang berarti menunjukan bahwa semua bahan melebihi nilai minimum yang diisyaratkan terhadap syarat IKS. Nilai IKS tertinggi adalah zeolite dengan angka 98,6%
Analisi Kelongsoran Lereng dan Evaluasi Dinding Penahan Tahah KM 8 Jalan Raya Sumber Brantas Batu Menggunakan Software Plaxis
RINGKASANRahmadani, Ferdyan Khalif . 2018. Analisis Kelongsoran Lereng dan Evaluasi Dinding Penahan Tanah KM 8 JL Raya Sumber Brantas Kota Batu Menggunakan Software Plaxis. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T., (II) Gilang Idfi, S.T., M.T.Kata Kunci: Kelongsoran Lereng, Dinding Penahan Tanah, Sumber Brantas, Plaxis, Safety Factor, DeformasiLereng berpotensi menimbulkan resiko kelongsoran terutama di musim hujan. Pada setiap musim hujan, banyak ditemui lereng-lereng yang mengalami kelongsoran, salah satunya di daerah Sumber Brantas, Kota Batu. Data BPBD Kota Batu menunjukan daerah Sumber Brantas merupakan daerah yang termasuk rawan longsor dan ditunjukan dengan terjadinya kelongsoran pada KM 8 Jl Raya Sumber Brantas, Kota Batu meskipun telah terpasang dinding penahan tanah. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui penyebab terjadinya kelongsoran dan dapat memberikan rekomendasi dinding penahan tanah pada area longosran.Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Mengetahui nilai hasil analisis kelongsoran dengan menggunakan Plaxis dan (2) Rekomendasi perkuatan dinding penahan tanah pada area longsoranPenelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif eksperimental. Subyek penelitian berasal dari Lereng KM 8 Jl Sumber Brantas yang telah mengalami kelongsoran. Parameter tanah yang digunakan adalah berat jenis tanah (ɣ), kohesi (c), dan sudut geser (Ø). Hasil analisis menggunakan software plaxis menunjukan, nilai deformasi leremg pada kondisi jenuh air sebesar 58,2 cm. Kondisi lereng jenuh air tidak memenuhi batas ijin deformasi karena deformasi > dari 40 cm. Sedangkan hasil analisis safety factor menunjukan, kondisi jenuh air sebesar 1,00. Hasil menunjukan kondisi jenuh air tidak memenuhi batas aman karena nilai safety factor < 1,5. Untuk menanggulangi kelongsoran, dilakukan rekomendasi dengan penambahan dinding penahan tipe gravitasi setebal 75 cm untuk meningkatkan kekuatan lereng. Hasil analisis pada software Plaxis menunjukan, Nilai deformasi dinding penahan tanah sebesar 20 cm, memenuhi batas aman deformasi < 40 cm. Nilai safety factor pada kondisi jenuh air sebesar 1,61 memenuhi batas aman nilai safety factor > 1,5
Pengekangan (Confinement) Baja Spiral Dengan Variasi Jumlah Tulangan Utama Terhadap Kuat Tekan Silinder
ABSTRAKLailatul Qadarisna, Vicky. 2019. Pengekangan (Confinement) Baja Spiral Dengan Variasi Jumlah Tulangan Utama Terhadap Kuat Tekan Silinder. Skripsi, Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nindyawati, S.T., M.T., (II) Mohammad Sulton, S.T., M.T.Kata Kunci: Beton Normal, Jumlah Tulangan Utama, Pengekangan Baja Spiral, Kuat TekanBangunan rentan terhadap gempa bumi, hal ini dikarenakan Indonesia berada diantara beberapa pertemuan lempeng tektonik aktif didunia. Keberadaan antar lempeng tersebut membuktikan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap gempa. Gaya yang diberikan oleh gempa bumi dapat menyebabkan kegagalan struktur, keruntuhan dan retakan. Salah satu struktur yang sering mengalami kegagalan adalah kolom. Untuk mencegah keruntuhan yang terjadi pada selimut beton dan mencegah terjadinya tekuk lokal pada tulangan longitudinal diperlukan tulangan sengkang dan tulangan utama untuk meningkatkan kuat tekan dan memperlambat keruntuhan yang terjadi pada kolom beton bertulang. Penelitian tentang variasi jumlah tulangan utama dan jarak sengkang pada beton normal harus dilakukan untuk mengetahui kuat tekan yang dihasilkan. Benda uji berupa silinder beton ukuran 150 mm x 30 mm, kuat tekan rencana beton 20 Mpa sesuai Dinas Pekerjaan Umum tahun 2007 kategori beton mutu sedang atau normal. Tulangan longitudinal yang digunakan diameter 8 mm dan tulangan sengkang 6 mm. Benda uji terdiri dari 20 silinder beton masing-masing 5 beton dengan 4, 6, 8 variasi jumlah tulangan utama dengan jarak sengkang spiral 5 cm dan tanpa pengekangan. Beton diuji pada umur 28 hari menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM) dengan kapasitas 1000 kN. Hasil penelitian ini, yaitu: (1) kuat tekan beton tanpa sengkang sebesar 71,328 MPa, benda uji telah memenuhi syarat beton normal; (2) Kuat Tekan pada 4 jumlah tulangan utama dengan jarak sengkang 5 cm menghasilkan kuat tekan rata-rata sebesar 34,065 MPa, pada 6 jumlah tulangan utama dengan jarak sengkang 5 cm menghasilkan kuat tekan rata-rata sebesar 34,775 MPa, dan kuat tekan pada 8 jumlah tulangan utama dengan jarak sengkang 5 cm menghasilkan kuat tekan rata-rata sebesar 38,769 MPa; (3) Variasi dengan 8 jumlah tulangan utama menghasilkan kuat tekan yang paling maksimal yaitu dengan kuat rata-rata sebesar 38,769 MPa atau naik sebesar 76,383% dibandingkan dengan variasi 4 jumlah tulangan utama, variasi 6 jumlah tulangan utama, beton tanpa tulangan utama dan tanpa sengkang. ABSTRACTLailatul Qadarisna, Vicky. 2019. Spiral Confinement to the Compressive Strength of concrete cylinder with variations of transverse reinforcement. Undergraduated-thesis, Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Preceptor: (I) Dr. Nindyawati, S.T., M.T., (II) Mohammad Sulton, S.T., M.T.Keywords: Normal Concrete, Variations of Transverse Reinforcement, Spiral Confinement, Compressive Strength.Buildings are susceptible to earthquakes, this is because Indonesia is among several on tectonic active plates in the world. The existence between these plates proves that Indonesia is a region that is very vulnerable to earthquakes. The earthquake can make structural failure, collapse and cracks. column is the one of structure that often fails. To prevent collapse that occurs in concrete blankets and prevent local buckling from longitudinal reinforcement, the main reinforcement is needed to increase compressive strength and slow down the collapse that occurs in to reinforced concrete columns. Variations of the main reinforcement and the spiral confinement can be determine the compressive strength. The dimension of cylinder are 150 mm x 30 mm, 20 Mpa is the compressive strength of concrete plan in accordance with the Public Works Agency in 2007 category of medium or normal quality concrete. Diameter of the longitudinal reinforcement is 8 mm and diameter of spiral confinement is 6 mm. The object consists of 20 concrete cylinders each of five concrete which are; 4, 6, 8 variations of main reinforcements with a 5 cm spiral confinement. All of the concrete specimens are experimentally tested under Universal Testing Machine (UTM) at the age of 28 days with 1000 kN capacity.The result of this research are: (1) Compressive strength of concrete without main reinforcement and without spiral confinement are 71,328 Mpa; the test specimen has fulfilled the requirements of normal concrete; (2) Compressive strength with 4 variations of main reinforcement and the spacing of spiral confinement 5 cm are 34,065 MPa, Compressive strength with 6 variations of main reinforcement and the spacing of spiral confinement 5 cm are 34,775 MPa, and 8 variations of main reinforcement and the spacing of spiral confinement 5 cm are 38,769 MPa;(3) The maximum compressive strength are 8 variations of main reinforcement 38,769 MPa the increase of compressive strength reaches 76,383% compared with 4, 6 variations of main reinforcement, and concrete without main reinforcement and without spiral confinement
Analisis Perbandingan Kuat Lentur Antara Balok Berlubang Beton Komposit Canai Dingin Profil Box Tipe Double Chanel Dedngan Balok Bertulang Konvensional
Baja canai dingin adalah jenis baja yang terbuat dari campuran logam yang terdiri dari besi (FE) dan karbon (C). Baja dibentuk dengan memproses kembali komposisi atom dan molukulnya sehingga menjadi baja ringan dan lebih fleksibel. Baja ringan memiliki tegangan tarik tinggi (G550). Baja memiliki kuat tarik sebesar 550 MPa. Balok bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum yang diisyaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua bahan tersebut bekerja sama dalam memikul gaya. Balok bertulang memiliki kekuatan, salah satunya kuat lentur. Kuat lentur disebut juga modulus hancur beton (modulus of rupture) menunjukan kuat tarik maksimum beton pada kondisi lentur.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kuat lentur antara balok bertulang baja tulangan dengan balok bertulang canai dingin. Penelitian ini menggunakan variasi pemakaian tulangan tarik beon yaitu menggunakan baja tulangan dengan baja canai dingin. Spesimen balok bertulang dicetak dengan ukuran balok 180x130x1000 mm. Mutu beton dari balok beton bertulang adalah 14 MPa. Pembuatan sebanyak 3 buah selinder beton untuk uji kuat tekan beton dan 4 buah balok beton bertulang, 2 buah balok bertulang canai dingin dan 2 buah balok bertulang baja tulangan. Balok diuji dengan metode four-point bending test yaitu dengan dua titik pembebanan. penempatan beban sesuai dengan SNI 4431-2011. Peletakan tumpuan balok adalah tumpuan sendi-rol.Hasil Pengujian adalah Nilai rata-rata kuat lentur balok bertulang konvensional sebesar 60,255 kN. Nilai rata-rata kuat lentur balok bertulang canai dingin (cold formed) sebesar 48,87 kN. Perbandingan kuat lentur berdasarkan nilai rata-rata pengujian adalah 1:1,3 . Perbandingan ini menunjukan kuat lentur balok bertulang konvensional lebih tinggi 1,3 kali balok bertulang bertulang canai dingin (cold formed). Nilai rata-rata lendutan maksimal canai dingin adalah 6,36 mm dengan beban 48,8 kN dan nilai rata-rata lendutan maksimal pada balok tulangan konvensional adalah 4,69 mm dengan beban sebesar 60,25 k
AnalisisPenggunaan Waffle System sebagai PenggantiSistemPelatdanBalokpadaGedungPerpustakaanUniversitas Pembangunan Nasional Surabaya
Sistem struktur suatu gedung adalah sistem yang dibentuk oleh komponen struktur gedung berupa balok, kolom, pelat dan dinding geser yang disusun sedemikian rupa sehingga masing – masing sistem mempunyai peran yang berbeda – beda dalam menahan beban gravitasi. Sistem pelat terdiri dari beberapa macam yaitu sistem pelat konvensional, sistem flat slab, sistem flat plate dan sistem waffle slab. Masing – masing sistem pelat memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara sistem konvensional dan sistem waffle slab dengan bentang (16 x 14) m. Perbandingan tersebut berupa nilai lendutan, model keruntuhan dan besaran volume beton/besi tulangan.Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode ekperimen, dengan batasan analisa menggunakan SNI 1727:2013 tentang Penentuan Beban Minimum untuk Perencanaan Bangunan dan SNI 2847:2013 tentang Penentuan Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung.Hasil penelitian menunjukan perbandingan nilai – nilai sebagai berikut:(1) lendutan pada sistem konvensional 27.56% lebih besar dari lendutan pada sistem waffle slab, (2) Momenretak yang terjadi pada sistem konvensional 54,11 % lebih besar dari momen retak yang terjadi pada sistem waffle slab. (3) volume beton pada sistem waffle slab 20.89% lebih boros dari sistem konvensional dan volume tul baja pada sistem waffle slab 55.91% lebih boros dari sistem konvensional
APLIKASI LOGIKA FUZZY MAMDANI UNTUK PREDIKSI KUAT GESER BALOK BETON BERTULANG
ABSTRAKThahrina, Nurul. 2019. Aplikasi Logika Fuzzy Mamdani Untuk Prediksi Kuat Geser Balok Beton Bertulang. Skripsi, Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Bambang Djatmiko, S.T., M.T., (II) Drs. N. Bambang Revantoro, S.T., M.T.Kata Kunci: Logika Fuzzy Mamdani, Kuat Geser Balok Beton Bertulang, Prediksi, MATLAB R2015aSalah satu dari penyebab kegagalan konstruksi adalah ketidakmampuan struktur dalam menahan beban gaya geser yang memiliki sifat keruntuhan yang tiba-tiba, sehingga diperlukan perhitungan perencanaan kuat geser balok yang akurat. Untuk mempermudah perhitungan kuat geser balok yang masih menggunakan metode konvensional digunakan metode prediksi. Metode prediksi yang ada sampai sekarang ini masih memiliki berbagai kekurangan, sehingga digunakan metode baru yaitu logika fuzzy Mamdani untuk memprediksi kuat geser balok beton bertulang menggunakan metode logika fuzzy Mamdani dengan sistem kerja Multiple Input Single Output (MISO). Metode logika fuzzy Mamdani bertujuan untuk mempermudah dalam memperoleh nilai kuat geser balok beton bertulang tanpa harus melakukan pengujian di laboratorium.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan variabel multiple input dan single output aplikasi logika Fuzzy Mamdani, menyusun himpunan Fuzzy Mamdani, menyusun perhitungan cara manual Fuzzy Mamdani, menyusun perhitungan cara komputasi Fuzzy Mamdani, mengetahui tingkat validasi, dan mengetahui hasil simulasi dari prediksi kuat geser balok beton bertulang dengan software fuzzy MATLAb R2015a. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental aplikatif sehingga dapat dipraktekan (aplikatif) menggunakan bantuan software MATLAB R2015a. Data yang digunakan sebanyak 40 yang berupa data sekunder yang diperoleh dari penelitian-penelitian terdahulu, dari 40 data tersebut dikelompokkan menjadi 2 yaitu kelompok data aplikatif yang digunakan untuk menyusun semesta pembicaraan dan data empiris yang di gunakan untuk uji validitas. Tahapan yang perlu dilakukan adalah pengumpulan data, penyusunan himpunan fuzzy, dan dilanjutkan dengan membuat aturan fuzzy. Selanjutnya, dilakukan perhitungan dengan cara manual dan komputasi. Hasil tersebut di uji validasi dengan cara membandingkan output cara manual dengan komputasi, uji linearitas dan uji beda. Setelah diketahui tingkat validasinya, selanjutnya dilakukan 5 simulasi sehingga menghasilkan output.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa output cara manual sama dengan output cara komputasi yaitu 240 kN. Pada uji linieritas diperoleh nilai R2= 0,9524 serta persamaan y = 0,2869x + 147,71 dan uji beda menghasilkan nilai Sig. (2-tailed) = 0,318 > 0,05. Berdasarkan 3 cara tersebut prediksi kuat geser balok beton bertulang dengan menggunakan logika fuzzy Mamdani dikatakan tidak valid dan belum layak digunakan. Selanjutnya dilakukan 5 simulasi yang masing-masing diperoleh output sebesar 228 kN, 221 kN, 211 kN, 204 kN, dan 196 kN