Jurnal Bumi Indonesia
Not a member yet
    1194 research outputs found

    Studi Komparatif Ekonomi Wilayah di Kawasan Joglosemar (Jogjakarta, Solo, Semarang)

    Get PDF
    Kota Jogjakarta, Solo, dan Semarang termasuk dalam Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) Pusat Pertumbuhan Terpadu dalam Kawasan Strategis Ekonomi (KSE). Sebagai langkah awal maka diperlukan kajian perekonomian wilayah, untuk mengidentifikasi potensi ekonomi wilayah dan membandingkan perekonomian wilayah di Kota Jogjakarta, Solo, dan Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis Location Quotient (LQ), Tipologi Klassen, Shift-Share, dan Indeks Keseimbangan Pertumbuhan Antar Sektor (Balanced Growth Index). Hasil yang diperoleh adalah perekonomian di Kota Jogjakarta, Solo, dan Semarang tergolong maju karena memiliki basis di  sektor sekunder dan tersier dengan tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Kota Jogjakarta, Solo, dan Semarang secara umum memiliki nilai Indeks Keseimbangan Pertumbuhan Antar Sektor (Balanced Growth Index) dengan  selisih angka yang kecil. Kota yang memiliki pertumbuhan sektor seimbang secara berturut-turut adalah Kota Solo, Kota Jogjakarta, dan Kota Semarang. Sementara itu, Kota Jogjakarta, Solo, dan Semarang memiliki sektor yang berpotensi dan sektor yang terbelakang

    Tingkat Pelayanan Trans Jogja Sebagai Sarana Angkutan Umum di Daerah Istimewa Yogyakarta

    Get PDF
    Bus Trans Jogja merupakan angkutan umum andalan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mobilitas masyarakat di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Sejak beroperasi tahun 2008 hingga saat ini sudah terdapat 17 rute yang menjangkau berbagai titik-titik penting di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun pada kenyataannya, Bus Trans Jogja belum menjadi angkutan transportasi favorit masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial potensi bangkitan penumpang Bus Trans Jogja rute ramai (1A dan 3B), dan rute sepi (6B dan 10), mengetahui sebaran tarikan penumpang rute 1A, 3B, 6B, dan 10, dan mengetahui tingkat pelayanan Bus Trans Jogja bagi penumpang rute 1A, 3B, 6B, dan 10. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif dari tabel serta grafik dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada pengelola, observasi lapangan, dan pengisian kuesioner kepada 100 penumpang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penggunaan lahan permukiman dan jumlah penduduk Kecamatan Depok memiliki potensi bangkitan tertinggi, sedangkan Kecamatan Pakualaman memiliki potensi bangkitan terendah. Rute 1A melewati 33 titik tarikan, Rute 3B melewati 35 titik tarikan, Rute 6B melewati 9 titik tarikan, dan Rute 10 melewati 23 titik tarikan. Pelayanan Bus Trans Jogja berdasarkan 5 dimensi yang digunakan menunjukkan kriteria “Baik”

    Kajian Debit Limpasan Akibat Perubahan Penggunaan Lahan Di Sub Das Gatak, Kota Surakarta Dan Sekitarnya

    Get PDF
    DAS Gatak merupakan sistem aliran sungai yang berada di daerah perkotaan Surakarta dan sekitarnya. Permasalahan banjir seringkali menjadi topik yang tidak pernah lepas dari daerah perkotaan, akibat dari perkembangan lahan terbangun oleh aktivitas manusia. Hal tersebut menyebabkan peningkatan nilai koefisien limpasan. Oleh sebab itu maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan lahan di DAS Gatak, mengkaji debit maksimum serta debit rencana pada tahun 2006 dan tahun 2017 di daerah kajian dengan berbagai kala ulang. Metode yang digunakan dalam penentuan koefisien limpasan menggunakan ketetapan Standar Nasional Indonesia 03-2415-1991 mengenai tata cara perhitungan debit banjir. Perubahan penggunaan lahan dapat diketahui dengan metode tumpang susun kedua peta pada tahun yang berbeda. Analisis frekuensi dengan kala ulang 2, 5, 10, 20 dan 50 tahun serta perhitungan intensitas hujan menggunakan rumus Mononobe. Debit limpasan dihitung menggunakan metode rasional. Kapasitas sungai dihitung menggunakan metode Slope-area untuk mengetahui debit banjir dapat ditampung atau tidak. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lahan sawah irigasi yang memiliki penurunan luas paling banyak yaitu sebesar 185,51 Ha sedangkan penggunaan lahan yang mengalami peningkatan luas lahan adalah permukiman yaitu sebesar 98,84 Ha. Kapasitas sungai DAS Gatak pada tahun 2006 hanya dapat menampung debit banjir pada kala ulang 2 tahun, sedangkan di kala ulang 5, 10, 20, dan 50 tahun kapasitas sungai tidak mampu lagi menampung debit banjir yang melewatinya. Di tahun 2017 kapasitas sungai sudah tidak dapat menampung debit limpasan disemua kala ulang tahun.

    Strategi Penghidupan Masyarakat Transmigrasi Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dan Non PIR di Kecamatan Hutaraja Tinggi, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara

    Get PDF
    Jumlah penduduk di Pulau Jawa yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau besar lain di Indonesia melatarbelakangi adanya program transmigrasi, salah satunya di Kabupaten Padang Lawas terdapat program transmigrasi yang bekerjasama dengan perusahaan (PIR) dan transmigrasi yang tidak bekerjasama dengan perusahaan (Non PIR). Perbedaan jenis transmigrasi tersebut sebagai obyek peneliti strategi penghidupan yang diterapkan dan kondisi kesejahteraan masyarakat transmigrasi.  Metode yang digunakan adalan anlisis kuantitatif dan kualitatif terhadap hasil wawancara mendalam dan observasi. Teknik sampling yang digunakan yaitu area sampling dan quota sampling. Metode identifikasi strategi penghidupan yang diterapkan oleh masyarakat transmigrasi yaitu menganut sustainable livelihood framework dengan klasifikasi strategi penghidupan menurut beberapa ahli. Hasil penelitian jenis strategi penghidupan yang diterapkan oleh masyarakat transmigrasi PIR yaitu ntensifikasi, diversifikasi, ekstensifikasi, mobilitas, subsisten, off farm dan kompensasi. Strategi penghidupan masyarakat transmigrasi Non PIR yaitu ekstensifikasi, intensifikasi, diversifikasi, mobilitas, dan investasi. Kondisi kesejahteraan masyarakat transmigrasi Non PIR  survival, konsolidasi, dan akumulasi lebih unggul dari masyarakat transmigrasi PIR berdasarkan 8 indikator  BPS

    Pola Pemanfaatan Sumberdaya Lahan untuk Aktivitas Pertanian di Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung

    Get PDF
    Pembangunan di bidang pertanian terkadang terlalu fokus terhadap suplai komoditas mengenai kebutuhan akan barang yang dihasilkan pada sektor pertanian. Pandangan mengenai lahan pertanian yang dipandang sebagai objek produksi seringkali mengesampingkan peran petani sebagai subjek produksi di sektor pertanian. Lahan, tenaga kerja dan pasar merupakan satu unsur kesatuan dalam proses pengelolaan sumberdaya lahan yang mana ketiga unsur tersebut berkaitan satu sama lain membentuk sebuah sistem yang dikenal sebagai sistem pertanian.  Karakteristik sumberdaya lahan yang terbentuk pada iklim monsun tropis, sebaran bentuklahan yang dipengaruhi bentanglahan vulkanik dan struktural serta sungai yang bersifat periodik dan episodik kemudian membentuk pola pemanfaatan lahan yang unik. Aktivitas pertanian yang terbentuk di Kecmatan Jumo tergolong beragam dan tidak terfokus pada satu komoditas saja. Padi, tembakau, cabai dan kopi adalah komoditas-komoditas pertanian utama yang terbentuk di Kecamatan Jumo. Perbedaan-perbedaan aktivitas pertanian ini dapat dijelaskan dengan adanya natural barrier berupa Kali Progo yang membatasi pola budidaya tanaman semusim di zona selatan sungai dan pola budidaya tanaman tahunan di zona utara sungai. Keragaman pola pemanfaatan sumberdaya lahan untuk aktivitas pertanian yang sedemikian rupa adanya kemudian menghasilkan nilai ekonomi yang berbeda-beda pula pada suatu pola yang terbentuk. Pola paling dominan berupa tanaman padi-tembakau misalnya mampu menghasilkan nilai ekonomi sebesar 141 juta rupiah dalam luasan lahan seluas 1 hektar dan membutuhkan input tenaga kerja sebesar 3.476 ja

    Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman

    Get PDF
    Kecamatan Berbah telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan melalui SK Bupati Sleman No. 215/Kep.KDH/A/2010. Penelitian mengkaji bagaimana kondisi kawasan minapolitan di Kecamatan Berbah serta faktor-faktor yang menentukan pengembangannya. Penelitian ini menggunakan data primer melalui survei, yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Pengambilan 51 sampel dilakukan secara acak pada kawasan minapolitan yang terbagi menjadi empat zonasi (A, B, C, dan D). Hasil penelitian menunjukkan Zona B sebagai kawasan dengan kondisi terbaik, disusul Zona C, Zona D dan terakhir oleh Zona A. Variabel utama penentu perkembangan minapolitan adalah sumber daya alam dan infrastruktur. Sistem produksi dan kelembagaan juga menjadi penentu, namun dengan preferensi petani ikan yang berbeda-beda pada tiap indikator dan zona. Berdasarkan penelitian, pengembangan kawasan minapolitan di Kecamatan Berbah perlu memerhatikan kebijakan mengenai pengembangan pengolahan ikan dan peranan desa dalam mendukung minapolita

    Sikap Masyarakat Terhadap Pertambangan Minyak Di Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro

    Get PDF
    p style="text-align: justify;">Pertambangan memiliki dampak yang kompleks terhadap kehidupan, seperti terhadap kegiatan sosial ekonomi maupun lingkungan, dalam menanggapi dampak yang kompleks tersebut masyarakat memiliki sikap yang beragam. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengidentifikasi Karakteristik sosial ekonomi masyarakat di sekitar lokasi pertambangan minyak tradisional 2) Mengidentifikasi pengetahuan masyarakat terkait dengan kegiatan pertambangan minyak tradisional 3) Mengetahui sikap masyarakat terhadap kegiatan pertambangan minyak.Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 60 responden dengan pembagian 30 responden di setiap desa. Desa yang terpilih yaitu Desa Wonocolo dan Desa Kedewan, Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, Analisis menggunakan tabulasi silang, menggunakan SPSS, Teknik Analisis menggunakan Deskriptif Kuantitatif. Masyarakat yang berada di sekitar pertambangan tradisional, Kecamatan Kedewan umumnya berumur 38 – 55 tahun.  Tingkat pengetahuan masyarakat di sekitar pertambangan minyak tradisional di Kecamatan Kedewan berkatagori sedang. Masyarakat di Kecamatan Kedewan sangat setuju dengan adanya keberadaan tambang, dan sangat tidak setuju apabila tambang tersebut ditutup. Dalam menanggapi dampak yang diakibatkan dari adanya kegiatan tambang, masyarakat tidak setuju dengan pernyataan bahwa kegiatan pertambangan dapat merusak lingkungan, dan sangat setuju dengan pernyataan bahwa kegiatan pertambangan dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat.

    Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Ekosistem Mangrove di Sekitar Muara Sungai Bogowonto

    Get PDF
    Di Pesisir Selatan Kulonprogo dapat ditemukan ekosistem mangrove yaitu di Muara Sungai Bogowonto. Di wilayah tersebut pernah dilakukan rehabilitasi mangrove, tetapi pada tahun 2007 terjadi alih fungsi lahan mangrove menjadi lahan tambak sehingga menyebabkan ekosistem mangrove menjadi berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan mangrove di sekitar Sungai Bogowonto yang telah ada dengan pengembangan lahan mangrove yang seharusnya dan mengetahui daerah yang potensial untuk pengembangan ekosistem mangrove di sekitar Muara Sungai Bogowonto. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode skoring dengan pembobotan pada setiap faktor pembatas yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mangrove. Parameter yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mangrove antara lain, salinitas air, salinitas tanah, tekstur tanah, pH, bentuklahan, dan penggunaan lahan. Hasil analisis kesesuaian lahan mangrove untuk pengembangan ekosistem mangrove di sekitar Muara Sungai Bogowonto terbagi menjadi tiga kelas yaitu cukup sesuai (S2) sebesar 16,85%, sesuai bersyarat (S3) sebesar 22,69%, dan tidak sesuai (N) sebesar 60,46%. Kelas  kesesuaian S2 terletak pada satuan lahan Beting Gisik-Semak Belukar (B.B) dan Beting Gisik-Lahan Kosong (B.L). Kelas kesesuaian sesuai bersyarat (S3) mendominasi kelas kesesuaian di wilayah penelitian. Penentuan kawasan potensial dengan mempertimbangkan faktor pembatas yang sedikit. Lokasi prioritas 1 untuk pengembangan tanaman mangrove di sekitar Muara Sungai Bogowonto terletak di sebelah Barat Daya Muara Sungai Bogowonto pada kelas kesesuaian S2

    Kebutuhan Hidup Lansia di Kelurahan Sorosutan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta

    Get PDF
    Kelurahan Sorosutan berdasarkan data dukcapil, merupakan kelurahan yang memiliki jumlah lansia terbanyak 7564 jiwa di tahun 2017. Penduduk lansia membutuhkan perhatian yang lebih salah satunya melalui program pemberdayaan penduduk lansia agar penduduk lansia memiliki kualitas hidup yang baik dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pemberdayaan penduduk lansia perlu dilakukan agar dapat meminimalisir peningkatan beban ketergantungan. Salah satu cara nya adalah dengan melakukan identifikasi kebutuhan lansia agar kebijakan yang dilakukan dapat merespon kebutuhan lansia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei dalam pengumpulan data dan menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan penduduk lansia di Kelurahan Sorosutan masih membutuhkan peningkatan pelayanan kesehatan, makanan pokok dan tambahan, dan kegiatan sosial seperti, rekreasi, arisan, pengajian, dll. Jika ditinjau dari karakteristik golongan umur, penduduk lansia yang semakin tua cenderung merasa sudah cukup dengan yang mereka miliki saat ini. Karakteristik jenis kelamin mempengaruhi kebutuhan ekonomi penduduk lansia dimana lansia laki-laki lebih membutuhkan pekerjaan sedangkan lansia perempuan lebih membutuhkan bantuan langsun

    Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh Untuk Mengkaji Hubungan Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Dengan Tingkat Kenyamanan Di Kota Yogyakarta

    Get PDF
    Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan. Tingkat kenyamanan salah satunya sangat dipengaruhi oleh suhu udara dan kelembapan yang ada disekitarnya. Tujuan dari penelitian ini ialah inventarisasi ketersediaan RTH, mengetahui tingkat kenyamanan hunian dan mengetahui hubungan diantara keduanya di Kota Yogyakarta. Metode yang digunakan ialah berdasar interpretasi citra satelit Sentinel 2A MSI, pengukuran lapangan untuk mengukur suhu udara dan kelembapan relatif (rH) serta analisis statistik. Hasil yang diperoleh ialah inventarisasi menunjukan luas RTH di Kota Yogyakarta seluas 618 hektar. Tingkat kenyamanan hunian di Kota Yogyakarta menggunakan metode THI(Tempreature Humidity Index) didominasi kedalam kategori sebagian tidak nyaman dengan rerata indeks sebesar 28,24. Ketersediaan RTH cenderung memengaruhi tingkat kenyamanan hunian karena mampu mengontrol suhu udara dan kelembapan relatif. Hal ini terlihat dari hasil uji statistik yang menghasilkan nilai determinasi sebesar 58,46%

    1,176

    full texts

    1,194

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Bumi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇