JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
Epistemologi Ta’wil al-Qur’an: Sistem Interpretasi al-Qur’an Menurut Ibn Qutaybah
Artikel ini mendiskusikan ta’wil sebagai sistem interpretasi. Ia berusaha untuk memformulasikan ta’wil secara epistemologis sebagai sistem yang berbeda. Ta’wil di sini dideduksi dari pemikiran Ibn Qutaybah di dalam karyanya Ta’wil Mushkil al-Qur’an dan Ta’wil Mukhtalif al-Hadith. Pemikirannya tentang interpretasi akan dikaji dengan menggunakan teori hermeneutika dan epistemologi. Artikel ini bertujuan untuk memformulasikan pemikiran Ibn Qutaybah dalam skema sistematis sehingga metode ta’wil al-Qur’an yang akadamik dapat disimpulkan darinya
Legitimasi Hadis Pelarangan Penggunaan Alkohol dalam Pengobatan
Tulisan ini membuktikan kebenaran hadis pelarangan penggunaan alkohol dalam pengobatan. Alkohol tidak memberikan kemanfaatan, justru dapat menimbulkan bahaya. Tulisan dilakukan secara eksperimental dengan menganalisis kadar etanol secara kuantitatif. Hasilnya dibahas secara normatif melalui pendekatan prespektif ulama terkait kehalalan atau keharamannya dan prespektif farmasis terkait manfaat serta bahayanya. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah dua obat liquid berlabel halal yaitu, obat herbal x dan non herbal y. Kesimpulan tulisan ini bahwa obat liquid non herbal y pada sampel (n=16) teridentifikasi alkohol (etanol) dengan kadar ±2% dan obat liquid herbal x pada sampel (n=16) tidak mengandung alkohol. Oleh karena itu, obat liquid non herbal y diharamkan dan ‘illat daruratnya hilang dengan adanya obat liquid herbal x yang terbukti halal sebagai alternatif
Hadis Nabi, Salafisme dan Global Terrorism
Artikel ini berkesimpulan bahwa ada hubungan genealogis yang kuat antara hadis, ideologi salafisme dan terorisme global. Salafisme menempatkan hadis sebagai worldview dan menekankan pemaknaan tekstual terhadap hadis Nabi saw. Ketika bertemu kepentingan politik, ideologi ini melahirkan aksi-aksi kekerasan global yang terbingkai dalam diskursus global terrorism. Pandangan ini dikemukakan sejumlah sarjana seperti Anne Speckhard dan Khapta Akhmedova, Mumtaz Ahmad, dan Yoginder Sikand. Dalam melakukan kajian ini, penulis menggunakan pendekatan sejarah intelektual (intellectual history) dengan menganalisis sejarah ide salafisme, perumusan pandangan dunia berbasis hadis (hadith worldview) dan metode pemahaman tekstualis
Peta Perkembangan Literatur Hadith di Pesantren Kabupaten Banyumas
Pesantren sebagai lembaga pendidikan lokal yang lahir dari budaya Indonesia telah memberikan kontribusi bagi perkembangan lulusannya dalam bidang keilmuan dan kepemimpinan. Tradisi keilmuan Pesantren yang tercakup dalam literaturnya telah mampu membentuk suatu sistem pemikiran dengan cirinya yang khas. Akan tetapi, kajian terhadap hadith dan perkembangan literaturnya masih jarang dilakukan. Sementara, perhatian terhadap hadith di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan di abad keduapuluh setelah munculnya gerakan pembaharuan sebagai akibat dari modernisme. Ini ditandai dengan penggunaan literatur hadith sebagai kurikulum di masjid-masjid, sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren. Pada masa ini, pesantren menghadapi realitas sosial yang selalu berubah sesuai dengan perubahan zaman. Sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memiliki posisi yang strategis untuk merespon perubahan ini dengan mengembangkan kurikulum dan literatur hadith Artikel ini mengkaji perkembangan kajian h}adi@th di Pesantren Banyumas. Kebanyakan pesantren masih belum menggunakan literatur h}adi@th dengan ide-ide baru atau menggunakan metodologi yang berorientasi kekayaan literatur. Literatur yang digunakan kebanyakan pesantren adalah buku-buku yang ditulis para ulama klasik yang biasa disebut dengan buku kuning, walaupun sebagian pesantren dengan tipe modern dan terpadu telah menambahkan literatur dan kurikulum kontemporer
Konsep Kesatuan Tema al-Qur’an Menurut Sayyid Qutb
This article is to prove that the more comprehensive the interpretation of the Qur’an is the more objective his/her interpretation is. This article demonstrates that Sayyid Qutb is one of the mufassirs who interprets the Qur’an comprehensively. The concept offered by Qutb is the thematic unity of the Qur’an. Qutb’s interpretation is based on the thematic unity in the Qur’an as a whole and in its each Sura. This article agrees with Muhammad ‘Abd Allah Diraz, A.H. Mathias Zahniser who argue for the harmony, coherence and thematic unity of the Qur’an. However, it argues against ‘Izzuddin ibn ‘Abd al-Salam, Subhi al-Salih, and Salwa M.S. El-Awa who doubt and deny the harmony, coherence and thematic unity of the Qur’an.
Kesejarahan al-Qur’an dan Hermeneutika
The Qur\u27an is not sufficient to be read in a single glass. Its significance continues to be present in a tumult of life. The Qur\u27an is also a book that concerns with human affairs and the environment. Because of its importance of the position, the Qur’an needs to be understood with intelligent and open perspectives. The more intelligent and open in reading the Qur\u27an, the meaning of the Qur’an will be more intelligent and open. Conversely, the more narrow and closedin reading the Qur\u27an, the meaning will be more narrow and closed. Therefore the readers of the Qur’an are encouraged to continue improving their capacity to understand the Qur\u27an very well. To master not only the basic sciences, but also other sciences related to the growth of human civilization. That is why a new method to read the Qur’an, such as hermeneutics and the historicity of the Qur’an, may, within certain limits, embrace the presence of al-Qur\u27an in life
Perkembangan Saintifik Ilmu Qawa’id al-Tafsir
This research compares and discusses the sciences of the Qur’an (‘ulum al-Qur’an) and the sciences of interpretational guidelines (Qawa‘id al-Tafsir), as have been shown in the popular books used in Indonesia – works of al-Zarkashi, al-Suyuti, al-Zarqani and Salih – with that of Khalid ibn ‘Uthman al-Sabt. The later has proposed 280 guidelines and 100 subguidelines, which are relevant as the basis for interpreting the Qur’an. The writer, however, argues that more guidelines are still needed
Historisitas Hadis Menurut M. Mustafa Azami
The historicity of hadith is still debated in modern hadith studies. The discussion of the historicity of hadith will demonstrate how far the authenticity of hadith can be upheld academically. Azami has responded to the views which question the historicity of hadith. He criticizes not only the Orientalists but also Muslims such as al-Asqalani and al-Baghdadi. Therefore, this paper will analyze the historicity of hadith according to Azami.
Pertalian Angka dan Makna dalam Al-Qur’an Mempertemukan Relasi Antarayat dalam Kajian al-I‘jaz al-‘Adadi dan Kajian Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an
This paper looks into intra-Qur’anic connections derived from serious efforts either to reveal what-so-called the mathematic miracle of the Qur’an or to interprete the Qur’an with the Qur’an. In doing so, it seeks to explore the compatibility of the two as well as the possibility to make both approaches to the Qur’an mutually inclusive. In this regard, this article deals particularly with some examples of connection among Qur’anic verses pursued through various attempts to find the alleged numerical code in the Qur’an, and compares them to what selected tafsirs have disclosed.
Bias Filsafat Barat dalam Tafsir Modern Muhammad ‘Abduh
Contrary to the views of some scholars which state that Muhammad ‘Abduh’s rational interpretation of the Qur’an was influenced by Mu‘tazilah, this article reveals that some interpretations which have emerged in the 19th century, especially related to al-Kauniyah verses, have been influenced by the Positivism paradigm. In order to prove that, the writer discusses ‘Abduh’s Tafsir al-Qur’an al-Karim Juz’ ‘Amma and shows how his interpretation was based on the philosophy of Positivism