JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
Kontribusi Arent Jan Wensinck dalam Ilmu Takhrīj Hadis
This study discusses the contribution of Arent Jan Wensinck in the science of takhrīj Hadith. Using the literature study method, this paper Arent Jan Wensinck contribution was in the science of takhrīj Hadith. Through searching the data contained in books, journals related to the topic, this study finds that Arent’s concept about the index of Hadith helps reviewer and users to find the intended hadith easier and faster
Mal Verses in Al Maraghi\u27s Exegesis; Study of People Indonesian’s Reality
Social changes faced by Muslims in the modern era have caused a number of serious problems relating to Islamic law. Islam aims to maintain basic human needs, namely: religion, body and soul, reason, honor (ancestry), and property. Among these five things, property is often a real problem inherent in human life. In Islam property is regulated through muamalah law and prohibits actions that can cause harm, such as theft, robbery, corruption, manipulation, smuggling, exploration of natural resources in an all-inclusive manner, including wasteful attitudes and consumerism. So that property has an important connection in social life. This is where al-Maraghi exegesis will explain the mal verses in the context of Indonesian society
OTENTISITAS DAN VALIDITAS HADITS NABI SERTA CONTOH-CONTOH HADITSNYA DAN PROBLEMATIKANYA
Hadist sebegai sumber hukum islam kedua setelah al-Qur’an mempunyai peran penting dalam proses istinbath hukum dalam Islam. Peran hadits sebagai bayan bagi al-Qur’an tidak dapat diragukan terdapat kebenarannya karena ia pula datang dari Rasulullah Saw. sebagai utusan Allah Swt. untuk menjelaskan apa saja yang diperintah oleh-Nya melalui perantara malaikat Jibril As dan tentunya bersifat mutlak. Seiring perkembangan dan perjalanan waktu, hadits menjadi pusat kajian bagi para pemerhati dibidang tersebut untuk mengkaji kaji lebih mendalam guna mengungkapkan keunikan Hadits Nabawi sebagai sumber hukum bertujuan untuk menambah khazanah keilmuwan dan paling penting memberi bekas pada praktek sehari-hari. Namun tidak saja pemikir dan sarjana Muslim yang menitik beratkan perhatiannya di bidang kajian Hadits dan Ulumul Hadits, para ilmuwan Barat juga menjadikan Hadits sebagai objek penelitian dalam rangka menguji keotentikan dan validitas Hadist sebagai sumber hukum yang dirujuk oleh umat Islam. Artikel sederhana ini akan mencoba mengulas bagaimana Otentisitas dan Validitas Hadits Nabi dari berbagai pandangan dan penulis coba analisis keilmuwan yang ada
Mendudukkan Posisi Ijtihad Nabi Muhammad dalam Teks Ajaran Islam
Tulisan ini membahas ijtihad Rasulullah Saw. dalam kaitannya dengan ajaran Islam. Dengan pendekatan deskriptif-analitik, studi kepustakaan ini mengkaji berbagai keadaan Muhammad sebagai manusia biasa dan sebagai Nabi dan Rasul dalam menjalankan misinya sehari-hari. Studi ini menemukan bahwa kehidupan nyata dengan segala kompleksitasnya termasuk situasi yang menuntut jawaban yang segera menempatkan Muhammad melakukan ijtihad. Posisinya sebagai Nabi dan Rasul membuat ijtihadnya secara alamiah dianggap lebih penting dari ijtihad Muslim pada umumnya. Oleh karenanya, ijtihadnya menempati posisi tersendiri dalam ajaran Islam
Sociological Orientation of Islamic Education Perspective of the Quran
Islamic education as part of the national education system has a purpose want to achieve. In the process, Islamic education is inseparable from the problems faced. In the current postmodern era, Islamic education should be used as a forum the seedbed of tolerance to maintain harmony and peace. The Quran and Hadith as the main source of Islamic education must be reinterpreted and integrated with other approaches. One approach that can be integrated is with internalize socio-cultural values in learning. This approach offers a synthesis to deal with the seeds of intolerance that have begun to grow deep this nation\u27s young generation. It is hoped that internalization of these values will be created social harmony that can be used as provisions by young Muslims in life sociable
Perkembangan Kajian Hadis Ulama Banjar: Analisis Genealogi Intelektual dan Pengaruhnya Terhadap Corak Kajian Hadis
Timur Tengah menjadi destinasi keilmuan bagi para Ulama Nusantara sejak abad ke-16. Jaringan ulama Timur Tengah mempunyai andil besar dalam mengembangkan aneka ragam tradisi intelektual keislaman di Nusantara. Begitu juga yang terjadi di masyarakat Banjar. Dalam proses transmisi keilmuan, ulama Banjar banyak sekali terpengaruhi oleh pemikiran-pemikiran keislaman yang berasal dari sana, termasuk dalam pemikiran kalam, fikih, tasawuf, dan kajian hadis. Dalam artikel ini akan membuktikan sejauh mana pengaruh ulama Timur Tengah terhadap pengembangan tradisi intelektual ulama Banjar dalam kajian hadis. Metode penelitian dalam artikel ini adalah dengan cara membaca sumber-sumber primer, berupa naskah-naskah hadis karya ulama Banjar, kemudian silsilah sanad dan ijazah hadis mereka yang terhubung dengan ulama hadis di Timur Tengah. Pembacaan terhadap sanad dan ijazah tersebut akan membuktikan bahwa keilmuan hadis mereka terhubung kepada para ulama hadis yang otoritatif. Ulama Banjar yang masuk sebagai objek penelitian disini adalah ulama yang berasal dari suku Banjar, mempunyai naskah di bidang hadis, atau kajian hadis yang berbahasa Arab atau bahasa Arab Melayu. Dari standarisasi yang digunakan tersebut, ditemukan tujuh ulama yang masuk sebagai objek penelitian, Muhammad Arsyad al-Banjari@, Muhammad Kasyful Anwar, Muhammad Anang Sya‘rani@ Arif, Abdul Wahid, Muhammad Syukeri Unus, Fahmi Zamzam, dan Muhammad Nurdin Marbu
Ahmad Sanusi’s Rauḍah al-‘Irfān fī Ma’rifah al-Qur’ān
This study discusses Ahmad Sanusi’s Rauḍah al-‘Irfān fī Ma’rifah al-Qur’ān, By using a descriptive analytical method, this study finds that Sanusi uses simple language to explain the message of Quran, so that the local community could easily understand the Quran, he is also one of the figures who has moderate thinking, and on the other hand he maintained the understanding of Shafi’i scholars in his book
Ilmu Sharḥ al-Ḥadīth: Istilah dan Konsep
This study aims to discuss the terms and methods in Sharḥ al-Ḥadīth. Literature study by referring books and relevant sources related to the theme used in this study. This research finds that the science of Sharḥ al-Ḥadīth has quite varied terms such as fiqh al-Ḥadīth, tafsīr al-Ḥadīth, garīb al-Ḥadīth, mukhtalif (ikhtilāf/mushkil) al-Hadis, ḥashiyah and ta\u27līq, which is each term has its own distinctions. In addition, the methods in the sharh Hadis is also various, such as taḥlīlī (analytical), ijmālī (global), muqāran (comparison/comparison), and mawdhū\u27ī (thematic)
Eksoterisme Tafsir Ishari: Telaah Epistemologi Tafsir Al-Jilani
Artikel ini menyimpulkan bahwa penafsiran sufistik al-Jilani selaras dengan prinsip tekstualitas penafsiran. Dalam proses penafsiran ishari, dialektika antara unsur tekstualitas dan spiritualitas menjadikan teks memiliki makna literal-objektif’ sekaligus signifikansi moral-spiritual. Penelitian ini menunjukan bahwa interpretasi al-Jilani bersifat literal, karena mengimani makna tekstual, sekaligus bersifat spiritual, dalam arti bahwa pemaknaan juga menjangkau singkapan spiritual. Dalam melakukan kajian ini, penulis menggunakan metode interpretatif, dengan pendekatan hermeneutika dan psikologi sufistik
Paradigma Sintesis Tafsir Teks Al-Qur’an Menimbang Hermeneutika Pemaknaan Teks Jorge J.E Gracia Sebagai Teori Penafsiran Tekstual al-Qur’an
Artikel ini membahas konsep hermeneutika pemaknaan teks Jorge J.E Gracia sebagai teori penafsiran tekstual al-Qur’an, dengan tiga poin pokok bahasan: (i) narasi tekstualitas al-Qur’an sebagai obyek penafsiran (ii) hermeneutika teks Jorge J.E Gracia dan (iii) paradigma tafsir tekstual terhadap al-Qur’an. Pola kajian artikel ini diarahkan pada analisis interpretatif-strukturasi, dengan melakukan analisis isi (content analysis) pada karya utama tokoh. Artikel ini menemukan bahwa: (1) Konsep teks al-Qur’an atau al-Naṣṣ adalah kesadaran utama, sebab al-Qur’an adalah sesuatu terbaca/tersentuh (al-Maktūb), ia memiliki entitas hurf, al-Qur’an, al-kitab, ayat, kalimat dan al-risalah. (2) Nalar hermeneutis pemaknaan teks ala Gracia mengurai kesalahpahaman (misunderstanding) teks, dengan metode the development of textual interpretation, untuk menjembatani kesejarahan teks dengan keadaan audiens. (3) Paradigma tafsir tekstual dengan konsep “al-nash” bekerja dengan menekankan pada adanya pemahaman yang baik atas teks, audiens, konteks, karena teks al-Qur’an itu tidak sebatas tertulis dalam sebuah bentuk (form), ia begitu kompleks, ia sebuah konstruksi (construction), kombinasi (combination) dan korelasi (correlation)