JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES
Not a member yet
    193 research outputs found

    Al-Wala’ wal Bara’: Loyalty, Identity, and the Prophet’s Message through the Lens of Hadith Criticism

    Full text link
    This research analyzes the hadith narrated by Imam Abu Daud, number 4681, concerning the concept of al-Wala\u27 wal-Bara\u27, a crucial pillar in understanding Muslim social relations and creed, as it is often misinterpreted leading to exclusive or even extremist attitudes towards non-Muslims. Employing a descriptive qualitative method and library research, the analysis involves an external approach (hadith takhrij, jarh wa ta\u27dil, i\u27tibar sanad, and matan criticism) and an internal approach (textual understanding from hadith commentaries and contextual understanding based on contemporary thought, especially Sheikh Yusuf al-Qaradawi\u27s approach). The findings indicate that the hadith is graded hasan in both its chain of narration (sanad) and text (matan). Substantively, it teaches that love and hate for the sake of Allah signify perfect faith. This study concludes that al-Wala\u27 wal-Bara\u27 must be understood in a balanced way to avoid misuse to justify intolerance. The research also highlights the clear distinction between loyalty (al-wala\u27), a matter of creed, and tolerance, a social principle. Loyalty to Allah and His religion does not negate fair and good treatment of non-Muslims, provided they are not hostile to Islam. The implication is the importance of a moderate approach in understanding hadiths related to interfaith relations so that Islamic values of rahmatan lil \u27alamin (mercy to all worlds) can be realized in social practice.

    Revisiting the Sectarian Milieu: Pre-Islamic Arab Cultural Agency in the Dialectical Formation of the Qur’an

    Full text link
    The examination of the Qur\u27ān\u27s origins and its relationship with pre-Islamic Arab culture remains a contentious issue, complicated by narratives rooted in Islamophobia and the politicization of identity. This study seeks to reassess John Wansbrough\u27s theory of the “sectarian milieu” by incorporating neglected aspects of pre-Islamic Arab culture, examining the influence of local factors in the Islamization process, and deconstructing the binary of “external influence versus internal authenticity.” Using a qualitative interdisciplinary methodology, the study integrates analysis of Quranic texts, Jahiliyyah poetry, archaeological inscriptions, and cultural anthropology. The findings show that the Qur\u27ān emerged as a result of a dynamic synthesis between pre-Islamic Arabic heritage (including oral traditions, ḥaram rituals, and tribal values) and external Judeo-Christian influences. This conclusion challenges Wansbrough\u27s theory, which isolates the Arab context, while revealing a theologically revised continuum of cultural heritage. The recommendations of this study underscore the need for a comprehensive approach in early Islamic studies that incorporates archaeological, philological, and socio-historical evidence to avoid polarizing narratives manipulated in identity-political discourse

    Scholars and Hadith Interpretation on the Phenomenon of Spirits in Indonesia

    Full text link
    The phenomenon of spirits is often discussed in society, especially in Indonesia, which is rich in local culture and beliefs. As part of Islamic teachings, this phenomenon also receives attention from the perspective of hadith and the views of scholars. This paper aims to examine how the scholars\u27 views and interpretations of the hadith related to the phenomena of wandering spirits, as well as its relevance to local beliefs. Using a qualitative approach, the article analyzes the views of scholars who refer to hadith texts both in support of and in response to skepticism about the existence of spirits that roam after death. It also explores the influence of local culture on the interpretation of these traditions and how Indonesian scholars harmonize Islamic teachings with the spiritual practices of the people. The results of the study show that although the traditions related to wandering spirits have a variety of interpretations, scholars tend to prioritize the principles of Islamic teachings that emphasize the importance of the afterlife and reject beliefs that are not based on sound Islamic law. The findings provide further insight into the relationship between religious teachings and local culture, as well as the contribution of ulema in safeguarding the faith of the people through proper understanding of the traditions

    Interpretasi Makna Kata Sulthan Dalam Q.S Ar-Rahman 33: Analisis Pendekatan Ma`na Cum Maghza Oleh Prof. Dr. Phill. Sahiron Syamsuddin, MA

    Full text link
    Al-Qur\u27an dengan segala kata dan ayatnya selalu memunculkan makna ganda. Pendekatan yang digunakan adalah mufassir atau pembaca, menurut sudut pandang tersebut. Salah satu kata yang sering digunakan adalah "sulthan", karena memiliki berbagai makna yang dipengaruhi oleh sintaksis kalimat sebelum dan sesudahnya serta konteks yang bertentangan dengannya. Oleh karena itu, penelitian ini menyoroti kata sulthan dari ayat Q.S. Ar-Rahman (55): 33. Salah satu teori yang digunakan adalah teori ma\u27na cum maghza, yang dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin saat hermeneutika di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan bantuan deskripsi-analisis dan sumber primer, kata sulthan diturunkan dari berbagai kit tafsir dan Al-Qur\u27an itu sendiri. Selanjutnya, sumber kedua terdiri dari berbagai jenis tulisan yang terkait dengan topik penelitian, seperti jurnal, buku, dan bahan lainnya. Sebagai hasil pertama dari penelitian ini, pernyataan ini dianggap sebagai pernyataan dasar tentang astronomi untuk menjelaskan jagat raya karena menjelaskan cara mengingat masa lalu. Selain itu, ayat 33 dari Surah Ar-Rahman menggambarkan kebaikan dan belas kasih Allah terhadap manusia dan jin. Ketiga, dalam Al-Qur\u27an, dalam Surah Ar-Rahman ayat 33, sebagai manifestasi keagungan Alla

    Hadis New Media: Vis a Vis Abdul Somad dan Khalid Basalamah Tentang Isbāl

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konteks, metode interpretasi dan pemahaman Khalid Basalamah dan Abdul Somad tentang hadis isbāl di YouTube. Hasilnya, pertama, perbedaan pemahaman keduanya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, sosio-budaya, mazhab yang dianut. Basalamah, lulusan Universitas Islam Madinah dan bermazhab Hanbali, mengedepankan pemahaman literal terhadap teks-teks agama dan sangat menghormati sunnah Nabi SAW. Sebaliknya, Somad, yang belajar di Al-Azhar dengan mazhab al-Syāfi’ī, memiliki pendekatan lebih moderat dan inklusif, dipengaruhi oleh interaksinya dengan masyarakat pluralis di Mesir dan Maroko. Kedua, metode interpretasi mereka juga berbeda. Basalamah cenderung tekstualis, memahami hadis secara lafziyah tanpa mempertimbangkan konteks sosial. Sementara Somad menganalisis asbāb al-wurud untuk menerapkan pemahaman kontekstualis, yang mencakup pendapat ulama terdahulu sebagai pertimbangan. Ketiga, pemahaman tentang hadis isbāl. Basalamah melarang isbāl secara mutlak, baik yang didasari oleh rasa sombong (khuyalā’) maupun tidak. sedangkan Somad berpendapat bahwa, jika tidak ada niat sombong saat pakaian melewati mata kaki, maka itu hanya mubah

    Urgensi Pendidikan Spiritual dalam Hadist (Kajian Hadist Tematik)

    No full text
    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat modern menghadapi krisis moral yang semakin kompleks, seperti individualisme, materialisme, dan degradasi spiritual. Pendidikan spiritual Islam menjadi solusi untuk mengatasi tantangan ini melalui pengembangan hati dan karakter berbasis nilai-nilai Qur’ani dan hadis. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan untuk menganalisis peran pendidikan spiritual Islam dalam membentuk generasi berakhlak mulia dan tangguh menghadapi tekanan zaman modern. Dua hadis utama dianalisis: pertama, pentingnya memahami ilmu agama sebagai tanda kebaikan, dan kedua, menjaga hati sebagai pusat amal. Hadis-hadis ini relevan untuk menjawab masalah sosial masa kini, seperti meningkatnya tingkat stres, rendahnya empati, dan ketidakpedulian sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan spiritual dapat menjadi landasan pembentukan karakter, memberikan keseimbangan emosional, dan menciptakan masyarakat yang harmonis. Dengan mengintegrasikan ajaran agama dalam pendidikan modern, Indonesia dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia

    Silogisme Hipotetis Dalam Al-Quran (Analisis dan Implementasi Penafsiran Imam Al-Gazālī dalam Kitab Al-Qisṭās al-Mustaqīm Fī Taqwīm Ahl al-Ta’līm)

    Full text link
    Para ulama memiliki banyak pandangan tentang penafsiran al-Qur’an. Salah satu contoh tafsir yang berbeda dan unik ialah penafsiran Imam al-Ghazālī dalam al-Qisṭās al-Mustaqīm. Jika ulama tafsir umumnya berpandangan bahwa qisṭās mustaqīm dan mīzān dalam al-Qur’an adalah timbangan jual beli, maka menurut al-Ghazālī timbangan yang dimaksud ialah timbangan ilmu pengetahuan, yaitu ilmu logika. Dalam kitab tersebut dia mencoba menganalisis dan mengeksplorasi logika dari al-Qur’an. Pandangan ini akan mengakhiri atau paling tidak mengurangi anggapan logika lekat dengan filsafat dan ilmu kalam yang dianggap sulit dan rumit bahkan haram. Oleh sebab itu, dalam artikel ini penulis mengkaji pemikiran al-Ghazālī terkait silogisme hipotetis dalam al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara dokumentasi dan dianalisis dengan analisis isi. Hasil analisisnya disajikan secara deskripstif-naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama silogisme juga ditemukan dalam al-Qur’an. Al-Ghazali membuktikan itu dalam kitabnya. Kedua, pola-pola penafsiran tersebut bisa diterapkan terhadap ayat dan hadis

    Hadith Representation in Film: A Hermeneutical Analysis of Ipar Is Death Based on Yusuf Qardhawi’s Approach

    Full text link
    This study analyses the film Ipar Adalah Maut in the context of the interpretation of the hadith that inspired the story, focusing on the descriptive method and the hermeneutical approach proposed by Yusuf Qardhawi. The purpose of this study is to explore the strengths and weaknesses of hadith representation in the film as well as its impact on audience understanding. The descriptive method was used to collect and analyse data from the film as well as scholars\u27 views on hadith interpretation. The results show that the film has the potential to convey a moral message, but also faces challenges in terms of accuracy and representation that may affect people\u27s understanding of Islamic teachings. Qardhawi\u27s hermeneutic approach emphasises the importance of understanding the social and cultural context in the interpretation of hadith, so as to bridge the gap between religious texts and current social realities. The conclusion of this study emphasises the importance of media as a tool of da\u27wah that can spread the teachings of Islam in a constructive and educational manne

    Analisis Sound Horeg di Jawa Timur: Perspektif Hadis dan Implikasi Medis terhadap Kebisingan dan Etika Sosial

    Full text link
    Sound horeg merupakan tradisi budaya di Jawa Timur yang kerap dimanfaatkan dalam berbagai perayaan hiburan. Namun, penggunaan yang melibatkan suara tinggi dan bass berlebihan dapat menyebabkan dampak medis dan sosial. Dari sudut pandang medis, eksposur terhadap suara dengan tingkat intensitas di atas 85 desibel dapat mengakibatkan masalah pendengaran, stres, hipertensi, serta gangguan tidur. Studi hadis menunjukkan bahwa perilaku yang mengganggu orang lain, campurnya pria dan wanita tanpa batas, berpakaian ketat, serta mengabaikan ibadah dilarang dalam Islam. Suara bising tidak diizinkan jika dilakukan di tempat umum dengan keadaan yang melanggar norma agama dan kesehatan. Sebaliknya, sound horeg diizinkan jika dilaksanakan di area terbuka dengan pemisahan jenis kelamin, berpakaian sopan, menghentikan sementara untuk beribadah, serta mengatur volume sesuai batas kesehatan. Pendekatan ini menggabungkan nilai-nilai agama dan kesehatan untuk mendukung tradisi yang aman serta bertanggung jawab

    Menafsirkan Ulang Ayat Poligami dan Otoritas Perempuan (Analisis Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed dan Ziauddin Sardar)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan ulang ayat poligami dalam Q.S. An-Nisa: 3 melalui pendekatan tafsir kontekstual perspektif Abdullah Saeed dan Ziauddin Sardar. Ayat poligami seringkali dipahami secara harfiah tanpa mempertimbangkan konteks historis dan sosial yang melatarbelakanginya, padahal ayat ini turun dalam konteks masyarakat Arab pra-Islam yang memiliki praktik poligami tanpa batas dan cenderung eksploitatif terhadap perempuan. Dalam konteks modern, pemahaman tentang poligami perlu ditinjau ulang agar relevan dengan prinsip keadilan, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis teks dan studi pustaka, berfokus pada karya-karya Abdullah Saeed dan Ziauddin Sardar serta literatur pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat poligami bukanlah anjuran mutlak, melainkan bentuk reformasi sosial yang membatasi praktik poligami dengan menekankan syarat keadilan. Pendekatan tafsir kontekstual menegaskan bahwa dalam konteks modern, monogami lebih sesuai dengan prinsip keadilan dan kesetaraan gender. Penelitian ini juga menekankan pentingnya melibatkan perspektif perempuan dalam penafsiran dan memberikan rekomendasi untuk penerapan poligami yang lebih adil dan manusiawi dalam masyarakat kontemporer

    179

    full texts

    193

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇