IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Peran Penyuluh KB Dalam Mensukseskan Program Keluarga Berencana Di Desa Kolam Kiri Dalam Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala
Masalah kependudukan yang dihadapi oleh beberapa negara yang sedang
berkembang termasuk Indonesia. Secara garis besar, masalah pokok dibidang
kependudukan yang dihadapi Indonesia antara lain jumlah penduduk yang besar
dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi. Salah satu solusi untuk
mengatasi ini adalah dengan melaksanakan program KB yang merupakan program
pemerintah dalam rangka mengendalikan pertumbuhan dan angka kelahiran
penduduk, hal ini dilakukan untuk kesejahteraan keluarga Indonesia, yang sangat
bermanfaat untuk peningkatan kualitas di generasi Negara Indonesia mendatang.
Keluarga berencana merupakan persoalan yang sudah diperbincangkan dalam
Islam.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Penyuluh KB dalam
mensukseskan program keluarga berencana di Desa Kolam Kiri Dalam Kecamatan
Barambai, Kabupaten Barito Kuala.
Metode penelitian ini adalah penelitian lapangan dan menggunakan
pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode observasi,
dokumentasi dan wawancara terhadap 1 penyuluh KB, 2 Kader dan 4 warga desa
yang mengikuti program KB, yang dianalisis melalui metode reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian Program Penyuluh KB di Desa Kolam Kiri Dalam untuk
mensukseskan sosialisasi KB, program media komunikasi melalui kunjungan ke
rumah warga, program berkumpul bersama dengan masyarakat dan program khusus
yaitu program bangga kencana. Keberhasilan penyuluh KB di desa Kolam Kiri
Dalam sangat dirasakan peneliti dilihat dari bagaimana pengetahuan Kader KB dan
Masyarakat yang mengikuti program KB. Peran yang dilakukan oleh Penyuluh KB
dalam penelitian ini yaitu pengelola pelaksana program KB, penggerak partisipasi
masyarakat, dan pemberdaya keluarga dan masyaraka
Strategi Komunikasi Mandala (Manasik Dua Langsung) dalam Bimbingan Manasik Haji Untuk Meningkatkan Pemahaman Calon Jamaah di Unit Pelaksana Teknis Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin
Bimbingan manasik haji adalah tahap penting dalam mempersiapkan calon
jamaah untuk melaksanakan ibadah haji dengan benar sesuai tuntunan agama. Di
Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, salah satu program yang diadakan adalah
strategi program Mandala (Manasik Dua Langsung) yang mengacu pada
pelaksanaan manasik haji dua langsung (online dan offline). Pendekatan ini
mengkombinasikan kegiatan pembelajaran tatap muka dengan media digital,
memungkinkan calon jamaah untuk mendapatkan pemahaman secara lebih
fleksibel dan menyeluruh.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan bentuk komunikasi
yang digunakan dalam bimbingan calon jamaah haji di Asrama Haji Embarkasi
Banjarmasin. Penelitian ini mengangkat subjek program Mandala (Manasik Dua
Langsung) di UPT Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin. Pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilanjutkan
dengan analisis deskriptif untuk memperoleh gambaran yang komprehensif
mengenai penerapan strategi komunikasi Mandala.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi Mandala
(Manasik Dua Langsung) melibatkan strategi ceramah, tanya jawab, diskusi, dan
praktik langsung yang dilaksanakan secara terpadu melalui kombinasi kegiatan
online dan offline. Pendekatan ini memadukan komunikasi yang jelas, sistematis,
dan terstruktur dengan penggunaan media visual, audio, serta praktik langsung,
yang terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman calon jamaah.
Selain itu, bentuk komunikasi Mandala mencakup komunikasi kelompok
sebagai bentuk utama, dilengkapi dengan komunikasi individu untuk perhatian
khusus, serta komunikasi massa untuk penyampaian informasi secara luas.
Pendekatan ini memastikan interaksi aktif, penyampaian materi yang terstruktur,
dan praktik lapangan, sehingga meningkatkan kesiapan dan pemahaman jamaah
dalam melaksanakan ibadah haji. Strategi ini juga menekankan adaptasi
komunikasi sesuai kebutuhan individu jamaah, yang berkontribusi pada efektivitas
bimbinga
Implementasi Strategi Dakwah Ustadz Ilham Humaidi Dalam Pengembangan Dakwah di majelis As-Shoffa Banjarmasin
Dakwah merupakan upaya membimbing umat untuk memahami dan
mengamalkan ajaran Islam. Salah satu tokoh yang telah menciptakan strategi
dakwah inovatif adalah Ustadz H. Ilham Humaidi, pengasuh Majelis Taklim As�Shofa Banjarmasin. Majelis ini tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama,
tetapi juga berhasil mengubah perilaku masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini
bertujuan untuk memahami implementasi strategi dakwah Ustadz Ilham dalam
mengembangkan Majelis Taklim As-Shofa, khususnya dalam pendekatan kepada
masyarakat dan upaya meningkatkan kualitas keberagaman Islam.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
partisipan, mengandalkan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai teknik
pengumpulan data. Lokasi penelitian adalah Majelis As-Shofa di Pemurus Dalam,
Banjarmasin. Analisis data dilakukan dengan pendekatan model Miles dan
Huberman untuk memastikan validitas temuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dakwah Ustadz Ilham melibatkan
tiga pendekatan utama: strategi rasional yang menekankan logika dan bukti, strategi
sentimental dengan pendekatan empati dan narasi emosional, serta strategi indrawi
melalui penggunaan media dan pengalaman sensorik. Majelis As-Shofa juga
memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lebih banyak jamaah. Selain itu,
pendekatan personal dalam mendampingi masyarakat menjadi kunci keberhasilan
dakwah, di mana Majelis As-Shofa berhasil menciptakan dampak positif secara
sosial dan spiritual
Konsep Ulama Perspektif Al-Qur’an: Studi Komparatif Penafsiran Fakhruddin al-Razi dan Yunan Yusuf
Istilah ulama bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Islam, mengingat
peran penting yang mereka miliki dalam membimbing kehidupan beragama dan
sosial. Namun, pemahaman mengenai siapa yang dapat disebut sebagai ulama,
sering kali diartikan secara sempit oleh masyarakat. Padahal, jika merujuk pada Al�Qur’an maka akan ditemui bahwa ulama memiliki makna yang jauh lebih luas.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ulama dalam Al-Qur’an dengan
fokus pada penafsiran dua mufasir, yaitu Fakhruddin al-Razi dan Yunan Yusuf,
melalui pendekatan komparatif terhadap Q.S. Al-Syu’arâ`/26:197 dan Q.S.
Fâthir/35:27-29. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library
research) dengan teknik deskriptif komparatif untuk membandingkan penafsiran
kedua tokoh. Data primer diperoleh dari kitab Tafsir Mafâtih al-Ghaib karya
Fakhruddin al-Razi serta Tafsir Al-Qur’an Juz XIX dan Juz XXII karya Yunan
Yusuf. Teknik analisis data melibatkan identifikasi, deskripsi, dan perbandingan
penafsiran kedua tokoh terhadap ayat-ayat yang membahas konsep ulama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Fakhruddin al-Razi maupun
Yunan Yusuf sepakat bahwa ulama adalah individu yang memiliki pengetahuan
mendalam yang mengantarkan pada rasa takut (khasyyah) kepada Allah. Keduanya
sepakat bahwa ulama adalah figur yang memiliki integritas ilmu, amal, dan
ketakwaan yang harmonis kepada Allah Swt. Yunan Yusuf menafsirkan ulama
sebagai individu yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga dalam ilmu
umum seperti sains dan kedokteran, selama ilmu tersebut mendekatkan seseorang
kepada Allah. Sementara itu, Fakhruddin al-Razi memaknai ulama sebagai mereka
yang mendalami ilmu agama dan memahami kebesaran Allah sehingga melahirkan
ketakwaan. Perbedaan mendasar terletak pada pendekatan yang digunakan. Yunan
Yusuf menggunakan metode tahlili dengan pendekatan al-adabî al-ijtimâ’î,
sementara Fakhruddin al-Razi menggunakan metode tahlîlî dengan pendekatan
lughawî (kebahasaan
Analisis Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Produk Asuransi Syariah dalam Meningkatkan Keunggulan Kompetititf (Studi pada PT. Asuransi Jiwa Syariah Al Amin Banjarmasin)
Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah Al Amin berfokus pada mengembangkan
pelayanan dan produk-produk yang inovatif agar nasabah dan calon nasabah terus
bertahan menggunakan jasa atau tetap memutuskan menggunakan jasa asuransi
tersebut. Pengembangan pelayanan dalam hal ini dapat dilakukan melalui
pengembangan-pengembangan SDM yang ada dalam asuransi syariah. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM) dan pengembangan produk asuransi jiwa syariah dalam
meningkatkan keunggulan produk pada PT. Asuransi Jiwa Syariah Al Amin
Banjarmasin.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengambilan data primer pada
penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi,
dengan pihak manajemen perusahaan, agen asuransi. data diperoleh dan
dikumpulkan langsung dari informasi pimpinan cabang dan karyawan di PT
Asuransi Jiwa Syariah Al Amin Banjarmasin.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, hasil penelitian ini adalah:
Pertama Strategi yang dilakukan dalam pengembangan kompetensi Sumber Daya
Manusia mengenai produk inti perusahaan dalam hal ini karyawan diberikan
wawasan atau pengetahuan lebih mendalam mengenai produk inti yang dimiliki
perusahaan, baik dari mulai dari produk mapun akad terkait produk tersebut.
Pendekatan hubungan dengan karyawan dan relasi. Pengembanggan produk yang
dimiliki yaitu dengan cara modifikasi produk serta inovasi produk yang
dikembangkan dari produk yang telah dimiliki perusahaan melalui riset dan
pengembangan yang dilakukan oleh perusahaan sendiri
Strategi Ustad Dalam Mencegah Perilaku Bullying di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Lok Baintan
Penelitian ini di latarbelakangi oleh banyaknya santri yang masih melakukan bullying di
pondok pesantren Nurul Hidayah Lok Baintan, khususnya di lingkungan asrama putera, para santri
masih banyak yang tidak mengerti betapa bahayanya tindakan perilaku bullying. Oleh karenanya,
penelitian ini bertujuan untuk memberitahu dan mendeskripsikan bagaimana bentuk-bentuk
bullying di Asrama Putera Pondok Pesantren Nurul Hidayah, juga faktor apa saja yang membuat
tindakan bullying itu terjadi, serta strategi apa yang pembina asrama dan ustad-ustad pondok
pesantren terapkan untuk mencegah perilaku bullying.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apa saja bentuk-bentuk perilaku bullying yang
ada di lingkungan asrama putera pondok pesantren Nurul Hidayah Lok Baintan, kemudian apa
saja faktor yang membuat terjadinya perilaku bullying di asrama putera pondok pesantren Nurul
Hidayah Lok Baintan, serta bagaimana strategi ustad dalam menangani atau mencegah perilaku
bullying yang ada diasrama putera pondok pesantren Nurul Hidayah Lok Baintan. Jenis penelitian
ini adalah penelitian lapangan Field Research dengan pendekatan kualitatif deskriftif. Peneliti
melakukan observasi dan dokumentasi untuk mendapatkan data mengenai bentuk-bentuk perilaku
bullying, faktor penyebab tindakan bullying serta strategi ustad dalam mencegah perilaku bullying.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada pimpinan umum pondok pesantren Nurul Hidayah,
pembina asrama putera, santri asrama putera, dan juga masyarakat sekitar asrama putera pondok
pesantren Nurul Hidayah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak tindakan perilaku bullying di pondok
pesantren Nurul Hidayah Lok Baintan. Sehingga perlu adanya tindakan lebih lanjut dari para
ustadz khususnya pembina asrama putera itu sendiri, agar perilaku bullying bisa terkendali. Dari
hasil wawancara, terdapat 5 perilaku bullying yang ada di asrama putera pondok pondok pesantren
Nurul Hidayah yaitu, bullying verbal, bullying non verbal, bullying fisik, bullying tidak langsung,
dan juga pemerasan hak milik. Kemudian faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku bullying
ada 4 yaitu, faktor persaingaan, kurangnya pengawasan dari orangtua dan juga pembina asrama,
kurangnya pemahaman santri terhadap dampak buruk perilaku bullying dan juga karena faktor
budaya di lingkungan asrama tersebut. Setelah itu strategi yang digunakan pembina asrama
maupun ustad pengajar di Pondok Pesantren berupa memberi nasehat secara terus menerus,
mengawasi dan memantau di setiap keadaan, diberi sanksi atau pelajaran, bekerjasama dengan
orangtua santri, dan juga memberikan wawasan keagamaan agar dikemudian hari dia berfikir dulu
sebelum bertinda
Pendapat Hakim Pengadilan Agama Palangkaraya tentang Batasan Hak Ex Officio Hakim dalam Perkara Cerai Talak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pendapat hakim tentang batasan
hak ex offficio hakim dalam memutus suatu perkara terutama perkara cerai talak.
Dalam perkara cerai talak suami memiliki kewajiban untuk membayar nafkah
iddah dan mut’ah kepada istrinya. di dalam pasal 178 Ayat (3) HIR dan 189 ayat
(3) RBg telah mengatur bahwa seorang hakim tidak boleh menjatuhkan putusan
atas hal-hal yang tidak diminta atau mengabulkan lebih daripada apa yang
dituntut(asas ultra petitum partium). Hakim yang mengabulkan melebihi posita
maupun petitum gugatan, dianggap telah melampaui batas wewenang (ultra vires)
yaitu bertindak melampaui kewenangannya. Namun dalam praktiknya hakim
memungkinkan untuk melakukan penyimpangan terhadap asas ultra petitum
partium dengan catatan hal tersebut dilakukan berdasarkan keadilan material yang
apabila dalam petitum terdapat ex aequo et bono (Putusan yang seadil-adilnya).
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris
dengan pendekatan sosiologis hukum. Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara. Data yang digali mengenai bagaimana pendapat hakim
pengadilan agama Palangkaraya tentang batasan hak ex officio hakim dalam
perkara cerai talak. Sumber data yaitu informan dengan 4 orang Hakim
Pengadilan Agama Palangkaraya. Teknik pengumpulan data melalui editing dan
deskripsi. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif.
Pendapat hakim Pengadilan Agama Palangkaraya tentang batasan hak ex
officio 2 hakim berpendapat dalam hal penentuan nafkah bagi istri hakim setuju
tidak selalu menerapkan hak ex officio nya, apabila ada kesepakatan bersama
dalam mediasi, dan juga karena dalam Undang-Undang pasal 41 c Undang
Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan “pengadilan dapat mewajibkan kepada
bekas suami untuk memberi biaya penghidupan dan atau menentukan suatu
kewajiban bagi bekas istrinya.” Yaitu berupa nafkah iddah dan nafkah mut’ah.
Alasannya agar tidak melanggar pasal 178 HIR Ayat (3) HIR dan 189 ayat (3)
RBg atau melanggar ultra petita dan agar tidak ada pihak yang keberatan dengan
apa yang di putus oleh hakim. Selain itu 2 Hakim lainnya berpendapat sesuai
SEMA No. 3 tahun 2018 mengenai batasan pada jumlah besarnya nominal nafkah
yang tidak ada kesepakatan dan perintah majelis hakim kepada Pemohon agar
pembayaran atau pemenuhan hak istri terkait nafkah iddah, mut’ah, nafkah
madhiyah serta nafkah anak di mana harus dibayarkan oleh suami secara tunai
seketika pada saat Pemohon mengucapkan ikrar talak di depan sidang pengadilan
agama Palangkaraya. Alasannya agar terlindungi hak-hak istri dan anak pasca
perceraian
Metode Penanaman Nilai-Nilai Religius pada Keluarga Trasnmigran di Kabupaten Tanah Laut
Metode penanaman nilai-nilai religius yang ada pada keluarga sangatlah
penting dalam rangka mendidik anak. Orangtua memiliki peran yang sangat penting
dalam menanamkan dan mengajarkan anak mengenai nilai-nilai religius yang mana
harus dimiliki oleh anak. Keluarga transmigran adalah salah satu jenis keluarga
yang memiliki berbagai karakteristik khas di daerah yang menjadi tujuan migrasi
mereka, yang mencakup budaya, kebiasaan, dan kondisi sosial-ekonomi yang
berbeda dibandingkan dengan masyarakat setempat.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk nilai-nilai religius yang
diterapkan dalam keluarga transmigran di Kabupaten Tanah Laut dan metode yang
digunakan dalam proses penanaman nilai-nilai religius di Kabupaten Tanah Laut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis
studi kasus. Lokasi penelitian ini berada di Kabupaten Tanah Laut di tiga desa dari
kecamatan yang berbeda. Desa-desa tersebut adalah (1) Desa Bumi Jaya,
Kecamatan Pelaihari, (2) Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin, (3) Desa Gunung
Melati, Kecamatan Batu Ampar. Subjek penelitian ini adalah tiga Keluarga
Transmigran dari masing-masing Desa. Objek penelitian ini adalah Bentuk dan
Metode penanaman nilai-nilai religius dalam keluarga transmigran di Kabupaten
Tanah Laut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara,
observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Bentuk nilai-nilai religius dalam
keluarga transmigran di Tanah Laut terdiri dari tiga aspek utama: Aqidah, Ibadah,
dan Akhlak. Aqidah berfokus pada pentingnya menyembah Allah SWT, Malaikat,
Nabi, Rasul, Qada’, dan Qadar. Ibadah melibatkan ritual harian, sementara akhlak
melibatkan hari suci, rumah yang baik, dan penghormatan terhadap lingkungan. (2)
Metode yang digunakan dalam penanaman nilai-nilai religius dalam keluarga
transmigran dibagi menjadi dua, yaitu Metode Penanaman Nilai-Nilai Agama
dalam Keluarga Transmigran, dan Dukungan serta Hambatan dalam pelaksanaan
metode penanaman nilai. Metode penanaman nilai-nilai agama dalam keluarga
transmigran yang ditemukan adalah bahwa keluarga transmigran dalam
menanamkan nilai-nilai agama menggunakan metode nasihat, metode cerita atau
narasi, metode teladan, dan metode pembiasaan. Sementara itu, dukungan dan
hambatan dalam penerapan nilai-nilai agama memiliki aspek dukungan dan
hambatan yang berbeda di setiap keluarga. Dukungan untuk pelaksanaan metode
ini mencakup kerja sama orang tua dan lingkungan. Di sisi lain, hambatan
hambatannya meliputi lingkungan, faktor ekonomi, pendidikan orang tua, dan
kesibukan orang tua
Peran Evaluasi dalam Mengukur Keberhasilan Pendidikan Berbasis Akhlak: Menyongsong Generasi Emas 2045
Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter dan kecerdasan
seseorang. Pendidikan bukan hanya sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga upaya membentuk
individu yang memiliki akhlak mulia. Dalam dunia Islam, pendidikan merupakan perjalanan
seumur hidup dari ayunan hingga liang lahat. Untuk menilai apakah kemajuan suatu program sesuai
dengan harapan, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan sistematis.Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang diturunkan di muka bumi yaitu untuk mengangkat harkat dan martabat manusia
melalui ajaran-ajarannya yang sempurna dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Salah satu
bidang kehidupan yang terkait dengan kemuliaan manusia adalah pendidikan.
Pendidikan akhlak merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi penerus yang
berkualitas. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan
bahwa tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
individu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki ilmu pengetahuan.2 Berinvestasi
dalam pembangunan akhlak bangsa merupakan langkah penting dalam proses peningkatan kualitas
hidup masyarakat Indonesia. Sebagai bagian dari upaya mewujudkan Generasi Emas 2045, sinergi
antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan. Generasi
Emas 2045 adalah visi besar bagi Indonesia untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul
dalam berbagai aspek, termasuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan akhlak mulia. Untuk
mewujudkan visi ini, sistem pendidikan harus mampu menyeimbangkan aspek akademik dengan
pembentukan karakter yang kuat. Namun, dalam praktiknya, pendidikan di Indonesia masih lebih
berorientasi pada keterampilan teknis (hard skills) yang mengembangkan kecerdasan intelektual
(IQ), sementara pengembangan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) masih
belum optimal.3 Akibatnya, dalam perjalanan Indonesia menuju Generasi Emas 2045 banyak
diwarnai fenomena kemerosotan moral yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di
kalangan generasi muda
Pembelajaran Berdiferensiasi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMPN Kecamatan Banjarmasin Timur
Kurikulum Merdeka membawa perubahan signifikan dalam pendidikan dengan
pendekatan yang lebih fleksibel dan berfokus pada kebutuhan individual siswa. Salah
satu pendekatan yang ditekankan adalah pembelajaran berdiferensiasi, yang
memungkinkan guru untuk untuk menyesuaikan dengan karakteristik siswa. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan kebijakan, mengidentifikasi persepsi dan
tantangan guru, dan mengeksplorasi strategi pembelajaran dalam berdiferensiasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat lapangan dengan
pendekatan kualitatif deskriptif, dilaksanakan di SMPN 7, SMPN 14, SMPN 23
Banjarmasin. Subjek penelitian meliputi ketua MGMP PAI SMP, guru PAI-BP, siswa
siswi dan kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi, kemudian dianalisis secara reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kebijakan kegiatan MGMP yang
dilaksanakan setiap satu tahun sekali berupa penjelasan konsep pembelajaran salah
satunya berdiferensiasi yaitu menyusun asesmen diagnostik, merancang modul ajar,
strategi mengajar, berbagi informasi, berbagi wawasan kepada guru PAI di sekolahnya
masing-masing dan biaya yang di tanggung jawab oleh MGMP PAI sendiri. Persepsi
guru PAI-BP dalam pembelajaran berdiferensiasi mampu memahami bagaimana cara
asesmen peserta didik, membuat modul ajar dan pelaksanaannya. Kemudian tantangan
utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu, fasilitas, dan beban administratif.
Strategi yang diterapkan menunjukkan variasi yang disesuaikan dengan kebutuhan
siswa dan materi ajar. Dalam pelaksanaannya ada menggunakan strategi yaitu
diferensiasi proses, konten dan produk. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi
diharapkan dapat menyesuiakan dengan kebutuhan siswa untuk meningkatkan hasil
belajar secara optimal