IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Tinjauan Maqāshid Syarī’ah Terhadap Wasiat Wājibah Bagi Anak Kandung Pernikahan Tidak Dicatat (Analisis SEMA Nomor 3 Tahun 2023)
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya SEMA Nomor 3 tahun 2023
yang menentukan anak kandung dari perkawinan tidak dicatat bisa mendapatkan
wasiat wajibah. Hal ini kurang bersesuaian dengan prinsip keadilan khususnya
hukum kewarisan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui telaah
filosofis dan sosiologis SEMA Nomor 3 Tahun 2023 terkait wasiat wājibah bagi
anak kandung dari pernikahan tidak dicatat
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dengan
pendekatan perundang-undangan (statute approach). Bahan hukum utama yang
digunakan adalah SEMA Nomor 3 Tahun 2023. Adapun analisa dilakukan dengan
teknik deskriptif dan statue approach.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surat Edaran Mahkamah Agung
(SEMA) Nomor 3 Tahun 2023 merupakan terobosan hukum progresif yang
memberikan perlindungan hak kepada anak kandung dari pernikahan tidak tercatat
melalui mekanisme wasiat wājibah, meskipun secara formil mereka tidak diakui
sebagai ahli waris dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan KUH Perdata.
Kebijakan ini mencerminkan respons yudisial terhadap kekosongan hukum serta
kebutuhan sosial akan keadilan substantif, sekaligus menegaskan fungsi hukum
sebagai instrumen pemulihan keadilan sosial. Dalam perspektif maqāṣid syarī‘ah,
kebijakan ini sejalan dengan tujuan utama syariat Islam seperti hifdz al-nafs dan
hifdz al-nasl, karena menjamin pengakuan dan kesejahteraan anak sebagai bentuk
perlindungan keturunan dan penguatan nilai-nilai keadilan dalam masyaraka
Perlawanan Kaum Kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad Saw. pada Periode Makkah: Analisis Historis Tafsiriyah dalam Perspektif Tafsir Ibnu Katsîr
Penelitian ini mengkaji bentuk dan penyebab perlawanan kaum kafir
Quraisy terhadap Nabi Muhammad Saw. sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al
Qur`ân al-‘Azhîm karya Ibnu Katsîr. Latar belakang penelitian ini bertumpu pada
kenyataan historis bahwa dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
tidak hanya menentang sistem keyakinan politeistik, tetapi juga mengguncang
struktur sosial, ekonomi, dan kekuasaan yang mapan dalam masyarakat Quraisy.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab perlawanan serta bentuk
bentuknya, kemudian menganalisisnya secara tematik berdasarkan tafsir klasik dan
teori sosial modern.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan
kepustakaan (library research) dan teknik analisis tafsir tematik (maudhûˈî). Data
primer diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur`an yang menjelaskan perlawanan kaum
Quraisy, dan dianalisis melalui penafsiran Ibnu Katsîr serta pendekatan teori
konflik sosial (Karl Marx dan Max Weber) dan teori ketahanan tradisi dan
fanatisme tradisi (Eric Hoffer dan Amanah Nurish).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab perlawanan Quraisy
terhadap Nabi Muhammad Saw. mencakup tiga dimensi utama: (1) ideologis dan
fanatisme kesukuan (Q.S. Luqmân/31: 21; al-Zukhruf/43: 22–23); (2) ketimpangan
sosial dan bias kelas (Q.S. al-Zukhruf/43: 31; Shad/38: 4–8; al-An‘âm/6: 52; al
Isrâ’/17: 90–93); serta (3) ancaman terhadap kepentingan ekonomi dan politik
Quraisy (Q.S. Quraisy/106: 1–4; Sabâ`/34: 34–35). Sementara itu, bentuk
perlawanan yang ditemukan antara lain: perlawanan verbal melalui tuduhan dan
pengingkaran (Q.S. al-Furqân/25: 4–5; al-Anbiyâ`/21: 5; al-Shâffât/37: 36),
ancaman fisik terhadap kaum muslimin (Q.S. al-Naḥl/16: 106), boikot sosial dan
ekonomi (Q.S. al-An‘âm/6: 52), serta konspirasi untuk membunuh Nabi
Muhammad Saw. (Q.S. al-Anfâl/8: 30).
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perlawanan Quraisy bukanlah
penolakan spiritual semata, tetapi juga merupakan bentuk pertahanan terhadap
gangguan sosial-politik dan ideologis. Kajian ini memperkuat relevansi tafsir klasik
dalam membaca konteks konflik dakwah dan membuka refleksi atas tantangan
dakwah Islam di era moder
Analisis Yuridis Terhadap Izin Poligami Dan Implikasinya Dalam Putusan Pembatalan Poligami Tanpa Izin Pengadilan Agama
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketentuan Pasal 4-5 Undang
Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan bahwa poligami di Indonesia
harus melalui izin Pengadilan Agama. Kemudian dalam beberapa putusan
Pengadilan Agama terjadi pembatalan poligami yang dilakukan tanpa izin
Pengadilan Agama dengan berlandaskan pada Pasal 71 huruf a Kompilasi Hukum
Islam. Hal ini menjadi menarik karena dalam Islam tidak ada alasan pembatalan
perkawinan atau fasakh karena poligami tanpa izin. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui ketentuan izin poligami dalam perundang-undangan di
Indonesia dan implikasi ketentuan izin poligami dalam putusan pembatalan
poligami tanpa izin Pengadilan Agama.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan
pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case
approach). Bahan hukum utama dalam penelitian ini meliputi Putusan Nomor
165/Pdt.G/2021/PA.Bjb, Putusan Nomor 371/Pdt.G/2022/PA.Tgr dan Putusan
Nomor 5684/Pdt.G/2024/PA.Sby. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif
terhadap bahan hukum yang sudah didapat untuk menemukan tinjauan hukum
Islam terhadap pengaturan izin poligami dan putusan pembatalan poligami tanpa
izin Pengadilan Agama.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa izin poligami tidak menjadi
syarat seseorang sebelum berpoligami dalam Islam, namun adanya izin
Pengadilan Agama sebelum berpoligami merupakan hal yang harus dilakukan
suami agar perkawinan poligaminya tercatat dan mendapatkan legalitas hukum.
ketentuan izin poligami merupakan upaya pemerintah yang bertujuan untuk
memberikan perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi istri-istri dan anak
anak dari perkawinan poligami. Pada tiga putusan yang penulis cantumkan terjadi
pembatalan poligami yang tidak melalui izin Pengadilan Agama, yaitu dengan
cara melakukan kebohongan identitas untuk tetap dicatatkan di KUA. Dengan
adanya Pasal 71 huruf a Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa
poligami dapat dibatalkan jika tidak ada izin Pengadilan Agama merupakan suatu
upaya yang mengandung nilai kemaslahatan untuk melindungi pihak yang
menjadi dirugikan dalam kasus poligami tanpa izin, yaitu istri sebelumny
Perkembangan Bahasa pada Anak Speech Delay dengan Adiksi Gadget di RSD Idaman Kota Banjarbaru
Perkembangan bahasa anak dapat terganggu akibat penggunaan gadget
yang berlebihan, terutama pada anak dengan speech delay yang mengalami adiksi
gadget. Kebiasaan menggunakan gadget tanpa pengawasan mengakibatkan anak
lebih memilih hiburan digital daripada berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan bahasa pada anak
dengan speech delay dan adiksi gadget serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
memengaruhinya.
Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Subjek penelitian adalah orang tua dari dua anak berusia tiga dan lima tahun yang
mengalami speech delay berdasarkan diagnosis dokter anak di RSD Idaman Kota
Banjarbaru, serta memiliki kecenderungan adiksi gadget berdasarkan skrining
menggunakan Smartphone Addiction Scale dari Bian dan Leung. Dari 17 orang tua
yang disaring, dipilih dua subjek dengan skor adiksi tertinggi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek fonologi, anak subjek RT
hanya mampu menirukan nada lagu tanpa kata yang jelas, sedangkan anak subjek
R mampu menirukan kata-kata dari gadget tanpa intonasi. Dalam aspek morfologi,
kedua anak belum dapat menambahkan imbuhan pada kata. Pada aspek semantik,
kosakata yang digunakan masih terbatas pada kata tunggal. Aspek sintaksis juga
belum berkembang, terlihat dari ketidakmampuan kedua anak untuk merangkai
kalimat lengkap. Meski demikian, kedua anak mampu memahami instruksi
nonverbal. Pada aspek pragmatik, anak-anak belum mampu memulai percakapan,
sehingga mengalami kesulitan bersosialisasi dan cenderung menghindari kontak
mata. Faktor yang memengaruhi perkembangan bahasa meliputi kondisi kognitif
yang belum optimal, perbedaan jenis kelamin, pola asuh yang tidak konsisten, dan
rendahnya kualitas komunikasi dalam keluarga, sehingga membatasi interaksi anak
dengan lingkungan sekitar
Konsep Kebahagiaan (Studi Komparatif Pemikiran Al-Ghazali dan Lucius Annaeus Seneca)
Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia pada dasarnya
memiliki satu tujuan universal, yakni mencapai kebahagiaan. Namun,
dalam realitasnya, tidak sedikit individu yang mengalami kegagalan dalam
upaya pencapaian tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan definisi
yang tunggal maupun metode yang absolut dalam meraih kebahagiaan,
mengingat konsep ini bersifat relatif dan multidimensional. Dalam konteks
inilah, Al-Ghazali dan Lucius Annaeus Seneca menghadirkan kontribusi
penting melalui pemikiran filosofis mereka, dengan menawarkan definisi
serta jalan menuju kebahagiaan sebagaimana dijelaskan dalam karya
karya ilmiah mereka masing-masing. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk
menjelaskan konsep kebahagiaan menurut al-Ghazali dan Lucius
Annaeus Seneca, (2) mengeksplorasi pandangan kedua tokoh tersebut
mengenai makna kebahagiaan, serta analisis terhadap titik-titik kesamaan
dan perbedaan di antara pemikiran mereka.
Jenis penelitian dalam studi ini adalah penelitian kepustakaan
(library research), sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam
studi ini adalah pendekatan kualitatif dengan data-data yang dianalisis
diperoleh dari sumber-sumber primer, yaitu karya al-Ghazali berjudul
Kimiya’us Sa‘adah dan karya Lucius Annaeus Seneca berjudul a Happy
Life.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baik al-Ghazali maupun
Seneca memandang kebahagiaan sebagai kondisi batiniah yang
mendalam yakni ketenangan ruhani menurut al-Ghazali, dan
ketenteraman jiwa menurut Seneca. Keduanya sepakat bahwa
kebahagiaan sejati tidak terletak pada kenikmatan fisik atau materi,
melainkan pada keadaan jiwa yang stabil dan bebas dari kegelisahan.
Konsep kebahagiaan yang ditawarkan oleh kedua tokoh ini juga relevan
dalam konteks modern, terutama dalam membantu individu menghadapi
stres dan tekanan hidup. Al-Ghazali dan Seneca memiliki sejumlah
kesamaan dalam merumuskan konsep kebahagiaan. Keduanya
menekankan pentingnya menjaga keseimbangan emosi, menerima
keadaan dengan lapang dada, serta menjalani hidup berdasarkan prinsip
prinsip moral yang luhur. Namun demikian, terdapat perbedaan mendasar dalam pendekatan keduanya. Al-Ghazali lebih menekankan aspek
spiritualitasdanketakwaankepadaTuhansebagai jalanutamamenuju
kebahagiaan, sedangkanSeneca, kepasrahan diri terhadap ketentuan
alam dan hidup dengan menjalankan nilai-nilaik kebajikan dan
kebijaksanaa
Analisis Pengambilan Keputusan Bekerja Di Perusahaan Non Asuransi Syariah Oleh Alumni Jurusan Asuransi Syariah UIN Antasari Banjarmasin
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi alumni Program Studi Asuransi Syariah UIN Antasari Banjarmasin
dalam memilih untuk tidak bekerja di perusahaan asuransi, baik syariah maupun
konvensional.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik
pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap empat alumni yang tidak
bekerja di sektor asuransi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan utama alumni tidak berkarier di
industri asuransi adalah ketidakcocokan dengan sistem kerja berbasis target, tekanan
tinggi, dan tuntutan kemampuan komunikasi serta pemasaran. Selain itu, keterbatasan
pemahaman praktik asuransi selama masa kuliah juga menurunkan kepercayaan diri
alumni untuk memasuki dunia kerja tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi
keputusan tersebut diklasifikasikan menjadi faktor internal seperti kepribadian,
motivasi, kepercayaan diri, dan kesiapan pribadi, serta faktor eksternal seperti
pandangan masyarakat terhadap industri asuransi, tekanan sosial dari keluarga, dan
keterbatasan akses terhadap jaringan kerja.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidaksesuaian antara karakteristik
individu dengan tuntutan pekerjaan di industri asuransi menjadi pendorong utama
alumni memilih jalur karier lain. Peneliti merekomendasikan peningkatan integrasi
teori dan praktik dalam kurikulum serta penguatan soft skills mahasiswa agar lebih siap
menghadapi dunia kerj
Multigroup analysis of Islamic Higher Education and General Higher Education in Indonesia: the influence of family socioeconomic background, possibility of success, and self-efficacy on student academic performance with resilience as a mediator
Universities aim to enhance students’ acquisition of useful knowledge and skills, crucial for their future success. This correlational study investigates the relationships between family socioeconomic status, perceived probability of success, self-efficacy, and academic performance among Indonesian students in Islamic Higher Education (IHE) and General Higher Education (GHE). It further explores the mediating role of resilience in these relationships. Using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) and Multigroup Analysis (MGA), data from 424 students (311
from IHE and 113 from GHE) were analyzed. Findings reveal that parental education and family economic status do not significantly predict resilience or academic performance in either group. However, self-efficacy significantly predicts resilience in both groups. Additionally, perceived probability of success positively predicts academic performance in both educational settings. Resilience significantly mediates and enhances academic performance, particularly among GHE students. The study emphasizes the importance of psychological factors like self-efficacy and resilience in supporting students’ academic outcomes. Practical implications include developing specific programs or workshops to enhance university students’ self-efficacy and resilience, such as stress management training, goal-setting sessions, and peer mentoring activities. Future studies should incorporate broader psychological and social variables across diverse student populations
Pengajian Makrifat di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan
Makrifat puncak keilmuan kelezatan tingkat tinggi bagi orang yang
mendapatkannya di dalam ilmu tasawuf salah satu ajaran yang eksis di tengah
masyarakat dari dulu hingga sekarang bahkan terus turun temurun selalu di kaji
orang dengan penyampayan yang mudah paham sesuai ajaran Al-Ghazali atau
ajaran Ibn Arabi yang begitu kontroversi dikalangan masyarakat dari dulu sampai
sekarang, sebagaimana yang di sampaikan oleh para pendakwah, jika ajara itu
lemah dalam syariat maka tidak menutup kemungkinan akan peroleh pemahamanpemahaman yang keliru bahkan bisa tersesat. Sehingga dari jajaran pemerintah
Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan selalu mengawasi dan mengeluwarkan SK
kepada guru yang bersangkutan mengajarkan ilmu makrifat kepada masyarakat
awam dikira ditimbang menyimpang dari ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah. ilmu
tasawuf ini diajarkan di Majelis taklim Masjid maupun di rumah-rumah tuan guru
sampai kepelosok desa, dampak setelah mengkaji ilmu ini bermacam macam,
diantaranya hati semakin tenang dekat kepada sang pencipta merasa selalu
diawasi oleh Allah SWT, sehingga tidak mudah untuk berbuat yang tidak baik
kepada makhluk.
Dan jika Allah memberi kepada hamba yang dipilihnya bisa memperoleh
kasyaf, melalui riyadoh atau amal yang dia istiqamahkan dan ilmu laduni, serta
mendapat ilham dari Tuhan yang maha kuasa juga memperoleh keramat, dan saat
meninggal juga memperoleh keramat. Maka dari penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai ilmu makrifat dan penerapannya, dalam
kehidupan sehari hari menurut guru-guru tasawuf di Kota Banjarmasin
Kalimantan Selatan. Pada penelitian ini adalah penelitian lapangan, dalam rangka pengumpulan data dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumenter. Sedangkan data sekunder diperoleh
melalui penelusuran karya-karya ilmiah berupa disertasi, tesis, skripsi dan bukubuku yang relevan dengan tema kajian penulis, juga diperoleh melalui media
sosial seperti youtube setelah data terkumpul, maka akan dianalisis perbandingan
tetap dengan mengkategori, dan sintesisasi data dangan langkah terakhir membuat
hipotesis kerja. Hasil dari menunjukkan bahwa kajian makrifat banyak pendapat
dan perbedaan ajarannya seperti Wahdatul Wujud susah dipaham oleh pikiran tapi
tidak pula salah kembali kepada orang yang menafsirkan ajaran itu sehingga tidak
terjadi kegaduhan di orang banyak, jalan yang selamat Wahdatus Syuhud karna
jalan ini tidak menimbulkan kegaduhan, tidak bertentangan dengan syariat Islam
Model Integrasi Interkoneksi Kurikulum pada SMA Tahfizul Qur’an Annjah Puteri, SMA Darul Hijrah Putri dan MA Darul Hijrah Putra di Martapura
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak untuk menjembatani
dikotomi antara kurikulum pesantren dan kurikulum nasional di lembaga pendidikan
Islam. Selama ini, pemisahan keduanya sering menimbulkan kesenjangan antara
kompetensi keagamaan dan akademik siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis model dan implementasi integrasi-interkoneksi kurikulum
pondok pesantren terhadap kurikulum nasional di SMA Tahfizul Qur’an Annajah
Putri, SMA Darul Hijrah Putri, dan MA Darul Hijrah Putra Cindai Alus Martapura.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi tidak terstruktur,
wawancara mendalam (in-depth interview), dan dokumentasi. Subjek penelitian
terdiri dari 27 informan yang meliputi kepala sekolah, wakil kepala bidang
kurikulum, guru, staf tata usaha, serta siswa. Analisis data menggunakan teknik
reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang divalidasi dengan
triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model integrasi-interkoneksi kurikulum
di tiga lembaga tersebut dilakukan dengan menggabungkan kurikulum nasional (K13
dan Merdeka) dengan kurikulum pesantren (TMI dan tahfizul Qur’an). Integrasi
diwujudkan melalui perencanaan kurikulum bersama, penyusunan RPP terpadu, dan
pengaturan jadwal yang seimbang antara mata pelajaran umum dan agama.
Implementasi di SMA Annajah Putri lebih menekankan pada penguatan tahfiz, di
SMA Darul Hijrah Putri pada keseimbangan akademik dan spiritual, sementara di
MA Darul Hijrah Putra pada integrasi berbasis kelembagaan dan manajemen
pembelajaran. Model integrasi yang diterapkan mencerminkan kombinasi pendekatan
connected, sequenced, shared, dan integrated menurut Fogarty, serta sejalan dengan
paradigma interkonektif Amin Abdullah yang menolak dikotomi ilmu.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi-interkoneksi
kurikulum di ketiga sekolah mampu mencetak lulusan yang memiliki kompetensi
akademik, kedalaman spiritual, dan akhlak mulia. Model yang dikembangkan sejalan
dengan teori integrasi Robin Fogarty dan epistemologi interkoneksi M. Amin
Abdullah, sehingga dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kurikulum pesantren
dan sekolah umum di Indonesi
Praktik Tasawuf pada Pondok Modern di Kalimantan Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik tasawuf pada pondok
pesantren modern di Kalimantan Selatan serta mengidentifikasi corak tasawuf yang
dianut berdasarkan klasifikasi tasawuf menurut Buya Hamka dalam buku
perkembangan dan pemurnian tasawuf, yang meliputi tasawuf zuhud, tasawuf
falsafi, tasawuf tarekat, tasawuf sinkretis, dan tasawuf murni. Latar belakang
penelitian ini didasarkan pada kecenderungan pemahaman bahwa pondok pesantren
modern identik dengan pendidikan rasional dan cenderung mengabaikan dimensi
spiritual sufistik, terkhusus di wilayah Kalimantan Selatan. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode lapangan. Data dikumpulkan
melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi pada beberapa pondok
pesantren modern di Kalimantan Selatan. Analisis dilakukan secara deskriptif
kualitatif untuk mengungkap bentuk, corak, dan nilai-nilai tasawuf yang
diinternalisasikan dalam kehidupan santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tasawuf memiliki peran yang sangat sentral dan strategis dalam membentuk
karakter dan spiritualitas santri. Internalisasi nilai-nilai tasawuf tidak hanya
dilakukan melalui pendidikan formal seperti pengajian kitab akhlak atau tauhid,
tetapi juga melalui kegiatan nonformal dan kultural, termasuk kegiatan kokurikuler,
ekstrakurikuler, serta hidden curriculum. Nilai-nilai ini terwujud secara konkret
dalam sistem panca jiwa pondok modern yang meliputi keikhlasan, kesederhanaan,
kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Kedisiplinan dan kehidupan
berasrama menjadi instrumen penting dalam penanaman nilai-nilai tersebut. Dari
hasil analisis berdasarkan pendekatan Buya Hamka, praktik tasawuf di pondok
pondok modern tersebut lebih condong kepada tasawuf murni, yaitu tasawuf yang
rasional, kontekstual, dan progresif. Tasawuf ini tidak terjebak pada aspek mistik
semata, melainkan menyatu dengan kehidupan sosial dan tetap berpijak pada al
Qur’an dan Hadis. Penelitian ini mengisi celah kajian tasawuf yang selama ini lebih
banyak memfokuskan perhatian pada pesantren salafiyah, serta menegaskan bahwa
pondok modern juga memiliki kontribusi penting dalam membumikan tasawuf
secara aplikatif dalam pendidikan Islam kontempore