IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Tinjauan Fikih Muamalah terhadap Mahalabiu dalam Jual Beli di Kota Banjarmasin
Jual beli merupakan transaksi yang tidak bisa dipisahkan dalam interkasi sosial manusia.
Sejak dahulu hingga sekarang jual beli terus mengalami inovasi dari semua aspek baik
wujud, bentuk, ukuran dan jenis transaksi, serta strategi perdagangan. Salah satu keunikan
yang lahir dari tradisi lisan orang banjar adalah penerapan mahalabiu dalam jual beli di
Kota Banjarmasin. Penelitian ini difokuskan pada 1). Bagaimana penerapan mahalabiu
dalam jual beli barang di Pasar Kota Banjarmasin? 2). Bagaimana status mahalabiu dalam
fikih muamalah, serta dampaknya dalam Islam terhadap barang yang di perjual belikan di
Pasar Kota Banjarmasin? Data penelitian dihimpuan dengan kegiatan observasi,
wawancara, dan Dokumentasi, serta telaah kepustakaan. Adapun jenis penelitian yang
digunakan peneliti dalam penelitian adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan
konseptual. Yakni suatu penelitian yang dilakukan dikarenakan belum ada status hukum
atas permasalahan yang di kaji peneliti. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
bagaimana status mahalabiu jika diterapkan dalam jual beli yang dilakukan di Kota
Banjarmasin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan mahalabiu dalam jual
beli di Kota Banjarmasin di tinjau dalam hukum Islam. Maka ditemukan bahwa dalam
penerapan mahalabiu yang bersifat ambiguitas leksikal adalah boleh (mubah) dan
mahalabiu yang mengandung unsur penipuan dan gharar adalah tidak boleh (haram
Pemaknaan Ayat-Ayat dalam Film Perjalanan Pembuktian Cinta (Analisis Semiotika Ferdinand de Saussure)
Film religi kini menjadi medium populer dalam menyampaikan ajaran
Islam, termasuk melalui penyisipan ayat-ayat Al-Qur'an. Film Perjalanan
Pembuktian Cinta menyajikan ayat suci tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi
sebagai bagian integral dari alur cerita yang mendalam. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui bentuk penyajian ayat Al-Qur’an dalam film, menganalisis
maknanya melalui teori semiotika Ferdinand de Saussure, serta menilai kesesuaian
pesan film dengan makna ayat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif
dengan pendekatan semiotika.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat dalam film tidak hanya disajikan
secara verbal dan visual, tetapi juga secara simbolik, afektif, dan fungsional.
Penyajian ayat tidak terbatas pada kutipan teks, melainkan menyatu dengan
dinamika tokoh, suasana emosional, dan perkembangan cerita. Hal ini menjadikan
ayat-ayat tersebut hidup dalam konteks naratif dan memberikan kedalaman spiritual
yang relevan dengan pengalaman karakter. Analisis semiotika menunjukkan bahwa
makna ayat dibangun melalui hubungan antara penanda visual, verbal, dan gestural
dengan petanda konseptual yang terkandung dalam ayat. Q.S. Al-Humazah:1
direpresentasikan sebagai kritik terhadap perilaku mencela dan merasa paling benar
dalam menyampaikan dakwah; Q.S. Hūd:28 ditampilkan sebagai refleksi atas
pentingnya menghargai kebebasan kehendak dalam pengambilan keputusan; Q.S.
Al-An‘ām:162 digunakan untuk menekankan kesadaran spiritual tentang
pentingnya
keikhlasan
dalam beribadah; sedangkan Q.S. Al-Ḥajj:46
divisualisasikan melalui simbol tokoh tunanetra yang merepresentasikan kejernihan
hati di tengah krisis batin.
Adapun kesesuaian pesan film dengan makna ayat menunjukkan adanya
harmoni yang kuat. Setiap ayat tidak hanya ditempatkan secara tepat dalam konteks
cerita, tetapi juga dimaknai secara mendalam dan relevan dengan konflik tokoh.
Film tidak menjadikan ayat sebagai hiasan, melainkan sebagai sumber makna yang
menuntun perubahan karakter, menyelesaikan konflik, dan menyampaikan pesan
Al-Qur’an secara hidup dan bertanggung jawa
Gugatan Rekonvensi Uang Jujuran (Analisis Putusan Nomor 593/Pdt.G/2018/PA.Mtp dan Nomor 292/Pdt.G/2020/PA.Plh
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya gugatan rekonvensi terkait
pengembalian uang jujuran dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama
Martapura dan Pengadilan Agama Pelaihari. Uang jujuran merupakan tradisi yang
berkembang di masyarakat, namun belum memiliki pengaturan yang tegas dalam
hukum positif Indonesia, khususnya dalam hukum perkawinan.
Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis pertimbangan hakim
dalam memutus perkara rekonvensi uang jujuran, serta menganalisa dasar hukum
yang digunakan dalam putusan majelis hakim. Penelitian ini menggunakan metode
yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan kasus (case
approach), serta dianalisis secara kualitatif. Adapun objek kajian dalam penelitian
ini adalah Putusan Nomor 593/Pdt.G/2018/PA.Mtp dan Putusan Nomor
292/Pdt.G/2020/PA.Plh, yang masing-masing memuat gugatan rekonvensi
mengenai pengembalian uang jujuran pasca perceraian qabla al-dukhûl.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pertimbangan hukum
hakim dalam kedua putusan tersebut. Pada putusan pertama, hakim mengabulkan
sebagian gugatan rekonvensi dengan pertimbangan bahwa uang jujuran dapat
dikembalikan karena perkawinan belum terjadi hubungan suami istri secara penuh
karena istri menolaknya dengan sengaja dianggap ingkar janji (wanprestasi) dan
majelis hakim mengqiyaskan jujuran sebagaimana pengembalian setengah mahar
jika qabla al-dukhûl. Sedangkan pada putusan kedua, hakim menolak gugatan
rekonvensi karena uang jujuran dianggap sebagai bentuk pemberian sukarela yang
tidak dapat ditarik Kembali dan adanya i’tikad baik istri mau tidur sekamar tidak
ditemukan adanya unsur ingkar janji (wanprestasi). Bahwa pengembalian uang
jujuran dalam perkara perceraian masih bersifat kasuistik dan bergantung pada
penilaian hakim terhadap itikad baik dan fakta-fakta di persidangan. Maka
solusinya perlu adanya pengaturan hukum yang lebih jelas terkait status uang
jujuran agar tercipta kepastian hukum dan keadilan bagi para piha
Peran UPTD PPA Kota Banjarmasin dalam Penyelesaian Konflik Keluarga
Konflik dalam keluarga merupakan permasalahan sosial yang berdampak
langsung terhadap perempuan dan anak sebagai kelompok rentan, sehingga
memerlukan intervensi lembaga yang memiliki pendekatan holistik dan
manusiawi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Unit Pelaksana
Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota
Banjarmasin dalam penyelesaian konflik keluarga melalui pendekatan non litigasi.
Serta kendala dan strategi yang dihadapi.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan
kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Informan terdiri dari Kepala UPTD PPA, tenaga ahli hukum, dan
klien UPTD PPA. Data yang telah diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif,
dengan cara mereduksi data, penyajian data, dan menyimpulkan data yang
diperoleh dari pernyataan informan, observasi serta temuan lapangan. Analisis ini
dilakukan dengan mencocokkan antara temuan empiris, dokumen hukum, dan
kerangka teori dengan pendekatan antropologi Hukum dan psikologi Hukum.yang
digunakan, untuk menggambarkan secara mendalam peran UPTD PPA dalam
penyelesaian konflik keluarga serta tantangan yang dihadapinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa UPTD PPA Kota Banjarmasin
memiliki peran strategis dalam memberikan perlindungan dan solusi alternatif
dalam penyelesaian konflik keluarga. Meskipun demikian, implementasi layanan
masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia,
minimnya dukungan anggaran, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap
layanan yang tersedia. Diperlukan strategi optimalisasi berupa penguatan
kapasitas SDM, intensifikasi sosialisasi, dan peningkatan kerja sama dengan pihak
eksternal seperti lembaga keagamaan dan aparat penegak hukum. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan kebijakan
perlindungan keluarga berbasis nilai hukum, kemanusiaan, dan kearifan lokal
Analisis Pertimbangan Hakim Pada Penetapan Hadhānah Kepada Ayah Perspektif Maqāshid al-syarī‘ah
Hadhānah dalam hukum Islam dan hukum positif di Indonesia secara umum lebih
mengutamakan ibu dalam pengasuhan anak. Namun, dalam praktik peradilan di
Pengadilan Agama, terdapat putusan-putusan yang menetapkan hak Hadhānah
kepada ayah, terutama dalam kasus perceraian. Fenomena ini menunjukkan adanya
dinamika dalam penegakan hukum yang tidak hanya berlandaskan pada teks
normatif fikih klasik atau hukum tertulis, tetapi juga mempertimbangkan konteks
sosial dan prinsip maqāshid al-syarī‘ah , khususnya untuk menjamin kepentingan
terbaik bagi anak.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bertujuan untuk
menganalisis pertimbangan hakim dalam penetapan Hadhānah kepada ayah dari
perspektif maqāshid al-syarī‘ah .
Pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan perundang-undangan (statute
approach) dan pendekatan kasus (case approach). Data sekunder diperoleh dari
bahan hukum primer seperti putusan pengadilan, serta peraturan perundang
undangan terkait. Sumber data sekunder lainnya meliputi literatur fikih, buku-buku
hukum, artikel ilmiah, dan wawancara dengan hakim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan-putusan hakim yang memberikan hak
hadhānah kepada ayah tidak serta-merta bertentangan dengan fikih klasik atau
Kompilasi Hukum Islam, melainkan merupakan bentuk ijtihad dalam menegakkan
prinsip maqāshid al-syarī‘ah secara kontekstual. Hakim menimbang aspek-aspek
maqashid seperti hifz al-nafs (menjaga keselamatan jiwa anak), hifz al-‘aql
(menjaga akal dan pendidikan), hifz al-dīn (pembinaan spiritual), hifz al-nasl
(kelangsungan garis keturunan dan kehidupan sosial yang sehat), serta hifz al-māl
(kemampuan ekonomi pengasuh). Pertimbangan ini terlihat dalam keputusan yang
merujuk pada kondisi psikologis anak, stabilitas ekonomi ayah, atau perilaku ibu
yang dinilai membahayakan dan dengan menggunakan prinsip kepentingan terbaik
bagi anak dalam setiap putusan. Oleh karena itu, penerapan maqāshid al-syarī‘ah
dalam putusan hadhānah merupakan pendekatan yang relevan dan penting untuk
memastikan perlindungan maksimal terhadap hak dan masa depan anak.
Implementasinya sebagai acuan hakim untuk memberikan putusan yang adil dan
maslaha
أثر البيئة المدرسية ودافعية التعلم على نتائج تعلم اللغة العربية لطلبة مدرسة مفتاح العلوم الثانوية الاسلامية تناه لاوت = Pengaruh Lingkungan Sekolah dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Miftahul Ulum Tanah Laut
Realitas pendidikan menunjukkan bahwa siswa madrasah aliyah (setingkat
SMA) masih menghadapi kesulitan dalam mencapai hasil yang memuaskan dalam
mata pelajaran Bahasa Arab. Rendahnya capaian ini kemungkinan besar
disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah lemahnya lingkungan sekolah
dan kurangnya motivasi belajar dari para siswa. Berdasarkan permasalahan
tersebut, peneliti merasa penting untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi
hasil belajar, khususnya dari sisi lingkungan sekolah dan motivasi belajar.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh lingkungan sekolah
terhadap hasil belajar Bahasa Arab; (2) mengetahui pengaruh motivasi belajar
terhadap hasil belajar Bahasa Arab; dan (3) menganalisis pengaruh gabungan antara
lingkungan sekolah dan motivasi belajar terhadap hasil belajar Bahasa Arab siswa
di Madrasah Aliyah Miftahul Ulum Tanah Laut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode
korelasional. Sampel terdiri dari 60 siswa kelas X hingga XII yang dipilih
menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui angket
terstandar untuk mengukur lingkungan sekolah dan motivasi belajar, serta
dokumentasi nilai hasil ujian sebagai indikator hasil belajar. Data dianalisis
menggunakan korelasi parsial dan regresi linier berganda melalui bantuan software
SPSS versi 25.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dan motivasi belajar
secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar
Bahasa Arab, dengan nilai Fhitung sebesar 3,349 yang lebih besar dari Ftabel
sebesar 3,204. Ini menunjukkan bahwa kedua variabel bebas secara bersama-sama
memengaruhi variabel terikat secara signifikan. Namun secara parsial, pengaruh
lingkungan sekolah bersifat positif tetapi tidak signifikan, sedangkan motivasi
belajar memberikan pengaruh positif yang signifikan secara parsial. Nilai Adjusted
R Square sebesar 0,105 menunjukkan bahwa 10,5% variasi dalam hasil belajar
Bahasa Arab dipengaruhi oleh kedua variabel tersebut, sedangkan 89,5% sisanya
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian in
Pembacaan Ayat-ayat Al-Qur‟an Sebagai Media Penyembuhan Pada Tradisi Ruqyah Di Desa Martadah Kab. Tanah Laut (Studi Living Al-Qur‟an)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik pembacaan ayat-ayat Al
Qur‟an sebagai media penyembuhan dalam tradisi ruqyah yang berkembang di
Desa Martadah, Kabupaten Tanah Laut, dengan menggunakan pendekatan studi
living Al-Qur‟an. Tradisi ruqyah sebagai bentuk pengobatan alternatif yang
berbasis spiritual menunjukkan bahwa Al-Qur‟an tidak hanya dibaca sebagai teks
keagamaan, tetapi juga hidup dalam praktik sosial masyarakat.
Penelitian
ini
berbentuk
lapangan
(field
research).
Bersifat
deskriftifkualitatif dengan menggunakan pendekatan antropologi. Metode
pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Martadah
mempraktikkan ruqyah dengan membaca ayat-ayat tertentu dari Al-Qur‟an
diantara lain surah: al-Fatihah. Al-Baqarah 1-5, al-Baqarah 102, al-Baqarah 255,
al-Mulk 14, al-Muawwidzataîn dan yang lain-lainnya yang diyakini memiliki
kekuatan penyembuhan, baik terhadap gangguan fisik maupun non fisik seperti
sihir, kerasukan. Para praktisi ruqyah di desa ini memiliki pemahaman bahwa
ayat-ayat Al-Qur‟an merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus
media penyembuhan yang efektif jika dilakukan dengan niat yang benar dan
sesuai syariat. Penelitian ini memfokuskan terhadap bacaannya bukan tulisan,
menegaskan bahwa pembacaan ayat-ayat Al-Qur‟an dalam konteks ruqyah
merupakan bentuk konkret dari living Al-Qur‟an, dimana teks suci hadir dan
hidup dalam keseharian umat islam, serta menjadi solusi dalam menghadapi
berbagai persoalan hidu
Pengawasan Pemerintah Terhadap Pengelolaan Zakat Infak dan Sedekah Oleh Organisasi Pengelola Zakat di Kalimantan Selatan (Analisis Implementasi dan Transformasi)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya penemuan kasus
penyelewengan beberapa lembaga filantropi antara tahun 2020 hingga tahun 2022.
Belum ada penelitian sebelumnya tentang implementasi pelaksanaan pengawasan
pengelolaan zakat dan memberikan solusi sistem pengawasan yang baik.
Penelitian ini bertujuan antara lain 1. Menemukan problem-problem dalam
implementasi pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah yang dalam hal ini
dilaksanakan oleh kementrian agama Kalimantan Selatan (Kalsel); 2. Memahami
secara terukur efektifitas pengawasan; 3. Menemukan transformasi model
pengawasan serta tata kelola organisasi yang baik bagi organisasi pengelola zakat
(OPZ).
Penelitian ini merupakan penelitian empiris kualitatif dengan melakukan
observasi dan wawancara kepada kementrian agama, BAZNAS Provinsi, Rumah
Zakat, Lazismu dan LAZ Dhuafa Tersenyum yang berada di wilayah Kalsel. Hasil
wawancara kemudian akan dianalisa menggunakan teknik analisa multikasus.
Empat teori utama digunakan sebagai pisau analisis: prinsip Good Governance,
teori efektivitas hukum, evaluasi kebijakan publik, dan prinsip pengawasan efektif.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Pengawasan zakat di
Kalimantan Selatan masih terkendala koordinasi antarlembaga, kepatuhan LAZ
yang tidak seragam, serta lemahnya sosialisasi dan pembinaan. Pengawasan yang
ada masih bersifat administratif dan belum menyentuh aspek strategis, sementara
peran pemerintah daerah dalam fasilitasi dan kolaborasi juga masih minim; 2.
Efektivitas pengawasan pemerintah terhadap ZIS di Kalimantan Selatan belum
optimal karena masih bersifat administratif dan belum menyentuh kualitas tata
kelola. Hambatan utama mencakup lemahnya koordinasi, kurangnya edukasi,
infrastruktur terbatas, dan rendahnya kepatuhan hukum. Diperlukan transformasi
menuju pengawasan kolaboratif, digital, dan independen untuk peningkatan
efektivitas; 3. Transformasi pengawasan zakat menuntut pergeseran dari
pendekatan administratif ke model kolaboratif dan berbasis nilai. Diusulkan
pembentukan Otoritas Pengawas Filantropi (OPF) sebagai badan independen
nasional untuk menetapkan standar dan mengawasi lembaga zakat secara
profesional. Peran Kemenag difokuskan pada regulasi, sementara pemerintah
daerah diperkuat sebagai fasilitator. Model ini bertujuan menciptakan sistem
pengawasan yang akuntabel, efisien, dan adaptif
Bentuk Bumi dalam Perspektif Mufassir (Studi Tafsir Tematik)
Penelitian ini berjudul "Bentuk Bumi dalam Perspektif Mufassir (Studi
Tafsir Tematik)" yang bertujuan untuk mengkaji bagaimana para mufassir
memahami dan menafsirkan bentuk bumi sebagaimana termuat dalam ayat-ayat
al-Qur‟an. Melalui pendekatan tafsir tematik (maudhu„i), penelitian ini
menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan penciptaan dan bentuk bumi,
kemudian dianalisis berdasarkan penafsiran mufassir klasik dan kontemporer,
seperti al-Ṭabarī, al-Rāzī, al-Qurṭubī, Ibn „Āsyūr.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mufassir memiliki pandangan
yang beragam terkait bentuk bumi. Mufassir klasik cenderung memahami bentuk
bumi secara tekstual dan simbolik, seperti digambarkan sebagai “hamparan”
(bisāṭan), “tempat berdiam” (firāshan), dan “dihamparkan” (dahāhā), yang sering
kali dimaknai secara fungsional, bukan geometri fisik. Sementara mufassir
kontemporer mulai mengaitkan ayat-ayat tersebut dengan penemuan ilmiah
modern, seperti bentuk bumi yang bulat dan berotasi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa al-Qur‟an tidak secara eksplisit
menyebut bentuk geometris bumi, namun memberikan isyarat yang dapat
dipahami sesuai konteks zaman. Dengan demikian, pendekatan tafsir tematik
vi
membantu memahami pesan-pesan al-Qur‟an secara utuh dan relevan, sekaligus
menunjukkan keluwesan teks suci dalam merespons perkembangan ilmu
pengetahua
Paradigma Pendidikan Era Society 5.0
Kehadiran teknologi informasi di era 4.0 telah memberikan manfaat
yang sangat signifikan bagi keberlangsungan kehdupan manusia, namun disisi lain tidak sedikit membawa dampak negatif dan mengkhawatirkan bagi eksistensi kemanusiaan. Guna mengkonter berbagai
dampak negatif tersebut, Jepang sangat konsenr dengan ancaman itu,
sehingga mereka mempolopori pentingnya membangun masyarakat
yang mengembalikan peran manusia dalam pengembangan dan pemanfatan teknologi, yang disebutnya dengan Society 5.0.
Buku yang diberi judul "Paradigma Pendidikan Era Society 5.0" ini
merupakan salah satu karya yang pembahasan secara komprehensif
dan tuntas transformasi pendidikan pada era baru society 5.0 terse
but, sebuah sebuah masa yang ditandai oleh perpaduan teknologi
canggih dan nilai-nilai humanistik.
Buku ini secara detail menjelaskan peran teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan Realitas Virtual (VR)
dalam menciptakan pembelajaran adaptif dan personalisasi sebagai
sebuah keniscayaan dalam pendidikan 5.0. Pembahasan juga mencakup inovasi kurikulum, seperti Project-Based Learning dan integrasi
STEM, yang berfokus pada keterampilan abad ke-21. Selain itu, Buku
ini juga membahas peran baru guru dan dosen sebagai fasilitator dan
coach, serta bagaimana institusi pendidikan harus bertransformasi
menjadi Sekolah/Madrasah/Mahad 5.0 yang inovatif dan adaptif.
Bagian akhir buku ini memaparkan strategi implementasi, termasuk
studi kasus dari berbagai negara yang sukses melakukan transfor
masi. Diakhiri dengan prediksi Paradigma Pendidikan Society 6.0
yang berfokus pada keseimbangan antara teknologi dan spiritualitas,
buku ini menawarkan harapan dan panduan untuk menciptakan pendidikan yang cerdas, humanis, dan berkelanjutan