IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Uncovering the influence of demographic factors on the emotional regulation of Alpha generation students in Islamic educational institutions in Indonesia: the role of parenting style as a mediator
Parents face increasing challenges in educating Generation Alpha, yet limited research addresses this issue in Indonesia’s Islamic school context. This study investigates the direct effects of parental demographic background—namely, child’s gender, number of children, parental age, and education—on students’ emotional regulation, and examines the mediating role of parenting style. Data from 201 parents of elementary and junior Islamic school students were analyzed using PLS-SEM. Results show that permissive parenting had a strong positive effect on emotion regulation, while authoritarian and authoritative styles had limited or negative impacts. Child gender was weakly and negatively associated with authoritative parenting. The number of children correlated negatively with emotional regulation but showed low influence on permissive parenting, similar to parental age. Parental education showed strong negative associations with both authoritarian and permissive styles and had the strongest negative effect on authoritarian parenting. In Islamic education contexts, higher-educated parents were less likely to adopt authoritarian styles. The mediating roles of permissive and authoritarian parenting between parental education and emotion regulation were minimal. These findings underscore the importance of culturally contextualized parenting strategies in Islamic schools and call for further research on their long-term and cross-cultural applicability
Tradisi Memajang Ayat Kursi di Dinding Rumah dalam Persepsi Masyarakat Kampung Ensebang Jaya, Serian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat Kampung
Ensebang Jaya, Serian terhadap tradisi memajang Ayat Kursi di dinding rumah.
Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu-Islam di
kawasan tersebut, namun makna dan persepsi di baliknya belum banyak dijelaskan
secara ilmiah. Dalam konteks budaya dan keagamaan, Ayat Kursi tidak hanya
dianggap sebagai ayat Al-Qur’an biasa, melainkan sebagai simbol religius yang
diyakini memiliki kekuatan spiritual, nilai perlindungan, dan keberkahan bagi
penghuni rumah. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi terhadap masyarakat setempat
yang mempraktikkan tradisi tersebut. Teori utama yang digunakan dalam penelitian
ini adalah teori persepsi, khususnya yang dikemukakan oleh Jalaluddin Rakhmat,
serta teori simbol budaya dari Clifford Geertz, yang keduanya menyoroti
pentingnya konstruksi makna berdasarkan pengalaman, latar belakang budaya, dan
konteks sosial individu atau kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
mayoritas masyarakat Kampung Ensebang Jaya memaknai Ayat Kursi sebagai
simbol ketauhidan, perlindungan dari gangguan makhluk halus, serta penanda
identitas religius dan budaya. Persepsi ini dibentuk oleh kombinasi antara ajaran
agama Islam, tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, serta pengalaman
spiritual pribadi. Selain itu, pemajangan Ayat Kursi juga menjadi bagian dari
ekspresi keislaman dalam ruang domestik yang memperkuat nilai-nilai religius
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
tradisi memajang Ayat Kursi di dinding rumah tidak hanya bermakna simbolik,
tetapi juga mencerminkan keterkaitan antara nilai-nilai keagamaan dan budaya
lokal yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa
persepsi keagamaan dapat hadir dalam bentuk simbol visual yang kuat, yang pada
akhirnya membentuk identitas spiritual dan budaya masyarakat secara
berkelanjuta
Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an dalam Praktik Tatamba Guru Syairozi di Martapura (Kajian Living Qur’an)
Penelitian ini membahas tentang penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an oleh
Guru Syairozi di Martapura yang berbentuk studi Living Qur’an, karena merupakan
sebuah praktik memfungsikan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata yang
berlandaskan dengan fadhilah-fadhilah bagi kepentingan umat sehari-hari.
Penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an oleh Guru Syairozi dalam praktik pengobatan ini
sangat perlu untuk dikaji, karena selain memberitahukan kepada para pembaca
secara khusus penelitian ini juga akan memberitahukan kepada seluruh umat Islam
bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang harus dipegang untuk dihayati, dipahami, dan
diamalkan sehingga akan muncul berbagai kesan yang luar biasa bagi diri kita,
sebagaimana yang dilakukan oleh Guru Syairozi dalam memfungsikan Al-Qur’an
untuk tatamba. Penelitian ini dikaji dalam bentuk deskriptif, yang terdiri dari dua
rumusan masalah, yaitu: Ayat-ayat yang digunakan Guru Syairozi dalam praktik
tatamba dan bagaimana ayat Al-Qur’an difungsikan dalam praktik tatamba dalam
pandangan Guru Syairozi
Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan (field research) yang
berbentuk kajian living Qur’an. Metode yang digunakan bertujuan untuk
mengungkap apa saja ayat-ayat yang digunakan, serta pemahaman ayat-ayat Al
Qur’an yang dugunakan oleh Guru Syairozi dalam praktik tatamba. Adapun teknik
yang digunakan oleh penulis dalam pengumpulan data adalah berupa observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Lalu, dianalisis menggunakan analisis deskriptif
kualitatif, yakni sebuah analisis yang dilakukan dengan mendiskripsikan situasi
tertentu yang bersifat formal secara terstruktur dan akurat. Hasil dari penelitian
mengenai Penggunaan Ayat-ayat Al-Qur’an dalam Praktik Tatamba Guru Syairozi
di Martapura (Kajian Living Qur’an) ini adalah terdiri dari enam macam surah
dengan alasan penggunaan yang berbentuk tabarruk, ijazah dari Guru, dan
pemahaman Guru Syairozi sendiri tentang ayat yang digunakan. Adapun cara
penggunaan ayat-ayat ini diawali dengan ber-tawasul terlebih dahulu pada setiap
memulai pengobatan dengan membaca surah Al-Fatihah. Kemudian, membaca
ayat-ayat sesuai dengan penyakit yang diobati dan ditutup dengan do’
Efektivitas Penggunaan eBook Perpustakaan sebagai Media Pembelajaran Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin
Kegiatan membaca merupakan aktivitas esensial dalam kehidupan
mahasiswa, terutama dalam mendukung perkembangan moral, kepribadian, dan
pencapaian akademik. Namun, perkembangan teknologi telah membawa perubahan
signifikan dalam media pembelajaran, termasuk pergeseran dari buku cetak ke
eBook. Sebagai mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin, penulis mengamati bahwa
sebagian mahasiswa masih menggunakan buku cetak, sementara yang lain mulai
beralih ke eBook sebagai sumber referensi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan
tentang efektivitas kedua media tersebut dalam mendukung proses pembelajaran.
Penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut guna memahami preferensi dan
efektivitas eBook perpustakaan sebagai media pembelajaran, sehingga dapat
memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan strategi pembelajaran di kampus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan eBook
perpustakaan sebagai media pembelajaran mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan sampel
sebanyak 95 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive
sampling, sedangkan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Data diolah melalui editing, coding, dan tabulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penggunaan eBook
perpustakaan berada pada kategori baik dengan skor rata-rata 3,17(79%). eBook
dinilai efektif dalam membantu mahasiswa memahami materi kuliah,
menyelesaikan tugas tepat waktu, menghemat biaya, dan memanfaatkan sumber
daya digital. Namun, masih terdapat beberapa kendala, seperti relevansi materi,
fleksibilitas akses, dan pemanfaatan sumber daya yang belum optimal. Meskipun
mayoritas responden memberikan tanggapan positif, diperlukan perbaikan kualitas
layanan eBook untuk meningkatkan kepuasan pengguna dan efektivitasnya sebagai
media pembelajaran
Pendapat Ulama Kota Banjarmasin terhadap Penggunaan Dana Non Halal Bank Syariah untuk Bantuan Sosial
Sistem keuangan syariah menegaskan pentingnya pengelolaan dana yang
berlandaskan prinsip-prinsip Islam, termasuk larangan mutlak terhadap riba,
ketidakjelasan transaksi (gharar), dan praktik spekulatif (maysir). Namun dalam
implementasinya, perbankan syariah kerap menghadapi persoalan terkait dana yang
bersumber dari aktivitas non-halal, seperti pendapatan bunga dari transaksi dengan
lembaga keuangan konvensional. Dana ini kemudian dialokasikan untuk program
tanggung jawab sosial (CSR), memunculkan dilema etis mengenai keabsahan dan
dampak spiritualnya. Peneliti pun tertarik untuk mengkaji perspektif ulama
Banjarmasin tentang pemanfaatan dana non-halal untuk kegiatan sosial serta landasan
syariah yang mendasari pandangan mereka.
Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan teknik
pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 5 tokoh ulama terkemuka
di Banjarmasin yang memiliki otoritas keagamaan dan keterlibatan aktif dalam
masyarakat. Analisis data dilakukan mengikuti kerangka analisis Miles dan Huberman
yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian
ini menunjukkan perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Sebagian besar informan (3 dari 5 ulama) membolehkan penggunaan dana non
halal untuk kepentingan sosial dengan beberapa ketentuan ketat, termasuk transparansi
pengelolaan dan alokasi eksklusif untuk kemaslahatan umum seperti pembangunan
infrastruktur sosial atau program pemberdayaan. Argumentasi mereka didasarkan pada
prinsip darurat (kebutuhan mendesak) dan fatwa DSN-MUI. Sementara itu, dua ulama
lainnya secara tegas menolak praktik ini karena dianggap mengandung unsur riba dan
bertentangan dengan prinsip kehati-hatian dalam Islam. Konsensus muncul dalam
penegasan bahwa dana tersebut sama sekali tidak boleh dimanfaatkan untuk
keuntungan pribadi atau operasional lembag
Respon Netizen +62 Terhadap Komentar Sarkasme pada Akun Instagram Capres 2024 Perspektif Deontologis Immanuel Kant
Instagram menjadi salah satu media menyuarakan opini masyarakat
terhadap capres 2024 melalui tanggapan dan kritik bernuansa sarkasme. Sarkasme
merupakan bentuk komunikasi yang dapat memberikan efek berbeda, tergantung
pada penggunaannya, jika digunakan secara bijak, sarkasme mampu
menyampaikan kritik secara efektif. Sebaliknya, tanpa konteks yang tepat
berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Penelitian ini berfokus pada respon netizen +62 terhadap komentar
sarkasme yang muncul di akun media sosial Instagram capres 2024, yakni akun
Instagram @aniesbaswedan, @prabowo dan @ganjar_pranowo analisis etika
deontologis Immanuel Kant. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
mendokumentasikan tangkapan layar atau screenshot respon-respon komentar
netizen +62.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon netizen +62 sangat beragam,
mulai dari saran yang bersifat membangun, dukungan terhadap komentar
sarkasme, kritik yang menolak isi komentar, hingga perdebatan antar pengguna.
Melalui pendekatan etika deontologis Immanuel Kant, respon-respon tersebut
dianalisis berdasarkan prinsip imperatif kategoris, yakni prinsip moral yang
mengharuskan tindakan dilakukan dengan kesadaran akan tanggung jawab moral,
tanpa mengharapkan pujian atau manfaat tertentu, mencerminkan moralitas
otonom sebagaimana diajarkan Kant. Sebagian besar respon komentar netizen
dinilai tidak memenuhi prinsip ini karena semata-mata untuk mendapatkan
pengakuan sosial yang memicu perdebatan, keinginan membalas atau mencari
pengaruh sesuai dengan imperatif hipotetis, yakni tindakan yang dilakukan demi
mencapai tujuan tertentu mencerminkan moralitas heteronom. Secara legalitas,
sejumlah respon komentar secara lahiriah tampak mematuhi hukum atau aturan,
namun belum tentu bermoral, karena bergantung pada motivasi atau niat di
baliknya.
Kontribusi penelitian ini ialah memperluas kajian filsafat moral melalui
analisis kritis terhadap perilaku komunikasi digital, sehingga memperkaya
literatur akademik. Penelitian ini bertujuan mendorong kesadaran publik untuk
berkomunikasi secara bijak di ruang digital. Berbeda dengan kajian sebelumnya
yang menyoroti publik figur atau praktik keagamaan, namun memiliki kesamaan
dalam menekankan kewajiban moral. Penelitian selanjutnya disarankan
menggunakan pendekatan etika lain seperti utilitarianisme atau pragmatisme, serta
mengeksplorasi platform lain seperti TikTok atau Twitte
الطباق والقيم التربوية في بلوغ المرام لابن حجر العسقلاني (دراسة تحليلية بديعية) = "Thibaq dan Nilai-Nilai Pendidikan dalam Kitab Bulūgh al-Marām” karya Ibnu Hajar al-Asqalani (Kajian Analisis Badi’)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis salah satu unsur balaghah, yaitu
tibaq (antitesis), di akhir pembahasan kitab hadits Bulugh al-Maram karya Ibnu
Hajar al-Asqalani, serta mengungkap nilai-nilai tarbiyah (pendidikan) yang
terkandung di dalamnya. Thibaq merupakan bagian dari muhassinat ma’nawiyyah
(penghias makna) dalam ilmu balaghah yang ditandai dengan penggabungan dua
kata yang mengandung makna berlawanan dalam satu kalimat, yang bertujuan
untuk memperkuat pesan dan memperindah makna.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kepustakaan, melalui telaah terhadap sumber-sumber primer dan sekunder yang
berkaitan dengan ilmu balaghah, hadits Nabi, dan pendidikan Islam. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dalam kitab Bulugh al-Maram terdapat berbagai
contoh penggunaan thibaq, yang perannya tidak hanya sebatas memperindah
susunan bahasa, tetapi juga mengandung makna yang lebih dalam. Penelitian ini
mencatat sebanyak 58 kemunculan thibaq, terdiri dari 49 thibaq ijabi dan 9 thibaq
salbi, dengan rincian sebagai berikut: 26 thibaq antara dua isim, 29 thibaq antara
dua fi’il, dan 3 thibaq dalam bentuk campuran. Tetapi juga mengandung nilai-nilai
pendidikan seperti tarbiyah ruhiyyah, tarbiyah aqliyyah, tarbiyah jismiyyah, dan
tarbiyah khuluqiyyah. Nilai-nilai ini tercermin melalui pengajaran Nabi
Muhammad SAW dalam hadits-hadits tersebut, yang menunjukkan pentingnya
akhlak, ketenangan batin, berpikir rasional, serta menjaga fisik dan jiwa dalam
kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, analisis tibaq di akhir pembahasan kitab hadits Bulugh
al-Maram tidak hanya memperkaya khazanah ilmu balaghah, tetapi juga
memberikan kontribusi dalam memahami aspek pendidikan dalam Islam secara
mendalam
Preferensi Masyarakat Terhadap Wali Nikah di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Tanah Laut (Kajian Sosiologi Hukum dan Psikologi Hukum Keluarga)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena dominannya praktik taukil
wali dalam pernikahan di Kecamatan Batu Ampar, di mana wali nasab yang hadir
dalam akad nikah memilih untuk mewakilkan pelaksanaan ijab kabul kepada
penghulu KUA atau tokoh agama. Meskipun wali berada dalam keadaan sehat dan
mampu, pelimpahan wewenang ini telah menjadi praktik sosial yang diterima luas
di tengah masyarakat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran praktik taukil
wali, menganalisis alasan masyarakat melakukan pelimpahan hak perwalian, serta
menjelaskan implikasi hukumnya dalam perspektif sosiologi hukum dan psikologi
hukum keluarga. Penelitian ini merupakan studi hukum empiris dengan pendekatan
kualitatif melalui wawancara terhadap 10 wali nikah dan Kepala KUA Batu Ampar.
Teknik analisis yang digunakan bersifat deskriptif dengan penekanan pada
konstruksi sosial, psikologis, dan keagamaan yang mempengaruhi praktik tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memilih untuk
mewakilkan peran wali karena empat alasan utama: keterbatasan pemahaman fikih
munakahat, tradisi lokal yang mengakar, keyakinan akan keberkahan tokoh agama,
serta pertimbangan praktis agar prosesi berlangsung lancar dan legal secara
administratif. Secara sosiologis, praktik ini mencerminkan adaptasi norma agama
terhadap struktur sosial. Sementara secara psikologis, taukil wali menjadi solusi
bagi wali yang merasa gugup, kurang percaya diri, atau belum siap secara mental
menjalankan perannya secara langsung
Pengaruh Kecerdasan Emosional Kepala Sekolah Terhadap Prestasi Kerja Guru pada SMP Negeri se-Kecamatan Mandasatana
Penelitian ini didasari oleh pentingnya peran kepala sekolah sebagai
pemimpin pendidikan yang harus memiliki kecerdasan emosional yang baik agar
dapat mengelola emosi diri dan emosi orang lain dengan tepat. Hal ini diharapkan
dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif sehingga dapat meningkatkan
prestasi kerja guru. Masalah yang diteliti adalah sejauh mana kecerdasan emosional
kepala sekolah berpengaruh terhadap prestasi kerja guru pada SMP Negeri se
Kecamatan Mandastana.
Tujuan pada penelitian ini diantaranya: (1) Mengetahui kecerdasan
emosional kepala sekolah pada SMP Negeri se-Kecamatan Mandastana, (2)
Mengetahui prestasi kerja guru di SMP Negeri se-Kecamatan Mandastana, dan (3)
Mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh kecerdasan emosional kepala sekolah
terhadap prestasi kerja guru pada SMP Negeri se-Kecamatan Mandastana
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kuantitatif dengan pendekatan survey. Instrumen penelitian berupa angket yang
dibagikan kepada 34 responden yang merupakan guru dari SMP Negeri di se
Kecamatan Mandastana dengan menggunakan teknik penarikan
sampel
Convenience Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner
berbentuk skala likert dengan Variabel kecerdasan emosional diukur melalui
empat indikator: Kesadaran Diri, Pengelolaan Diri, Kesadaran Sosial, dan
Pengelolaan Relasi. Uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, dan
linearitas dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh memenuhi
persyaratan analisis statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan
signifikan antara kecerdasan emosional kepala sekolah terhadap prestasi kerja guru
pada SMP Negeri se-Kecamatan Mandastana. Hal ini menunjukkan bahwa kepala
sekolah yang mampu mengelola emosinya dengan baik dapat memberikan dampak
positif terhadap kinerja guru. Oleh karena itu, disarankan agar kepala sekolah terus
mengembangkan kecerdasan emosionalnya melalui pelatihan dan pembinaan yang
releva
Peran Guru Aqidah Akhlak dalam Membentuk Karaktek Religius Peserta Didik Kelas VII di MTs Nurul Iman Rantau Pulut Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pendidikan karakter religius bagi
peserta didik dalam menghadapi tantangan moral di era globalisasi. Salah satu
pihak yang berperan penting dalam pembentukan karakter religius tersebut adalah
guru Aqidah Akhlak. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1)
Bagaimana Peran Guru Aqidah Akhlak dalam Membentuk Karakter Religius
Peserta Didik Kelas VII di MTs Nurul Islam Rantau Pulut Kabupaten Seruyan
Kalimantan Tengah?, dan (2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam
pembentukan karakter religius peserta didik oleh guru Aqidah Akhlak?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Peran Guru Aqidah
Akhlak dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Kelas VII di MTs Nurul
Iman Rantau Pulut Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah seperti Shalat dzuhur
berjama’ah, Shalat dhuha, mengaji, menghafal surah pendek dan pidato 3 bahasa,
serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses
tersebut.
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research) dengan jenis
pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah Guru Aqidah Akhlak
dan objek penelitian adalah Pendidikan Karakter Religius Peserta Didik Kelas VII
di MTs Nurul Iman Rantau Pulut, selanjutnya Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif Miles dan Huberman yang
meliputi tiga tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
atau verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Aqidah Akhlak memiliki peran
yang sangat penting dalam membentuk karakter religius peserta didik melalui
pendekatan pembiasaan kegiatan keagamaan seperti Shalat berjamaah, mengaji,
hafalan surah pendek, dan pidato tiga bahasa. Selain itu, guru juga berperan sebagai
teladan, motivator, fasilitator, dan evaluator dalam proses pembentukan karakter.
Adapun faktor pendukung pembentukan karakter religius meliputi lingkungan
sekolah yang religius, dukungan dari guru, dan kegiatan rutin keagamaan.
Sementara faktor penghambat antara lain kurangnya kesadaran peserta didik, peran
orang tua yang belum optimal, serta tantangan kedisiplinan peserta didi