IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Konsep Fana Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dalam Perspektif Psikologi Integral Ken Wilber
Konsep fana merupakan salah satu inti ajaran tasawuf
yang menggambarkan proses transendensi ego menuju penyatuan eksistensial
dengan Tuhan. Dalam khazanah Islam Nusantara, gagasan ini memperoleh bentuk
yang khas melalui karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr
al-Nafis. Kitab tersebut menjelaskan tiga tingkatan fana: fana af‘al, fana sifat, dan
fana dzat, yang secara sistematis menguraikan perjalanan ruhani seorang salik dari
kesadaran perbuatan hingga peniadaan total diri di hadapan Allah. Namun, kajian
akademik terhadap fana selama ini masih dominan dalam ranah teologi, filsafat,
dan filologi sufistik. Sementara itu, perspektif psikologi modern, khususnya
psikologi integral, belum banyak digunakan untuk membaca ulang konsep ini.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan
antara tradisi sufistik dan teori kesadaran kontemporer.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsep fana menurut Syekh
Muhammad Nafis al-Banjari serta mengintegrasikannya dengan kerangka psikologi
integral Ken Wilber. Secara khusus, penelitian ini hendak mengidentifikasi korelasi
antara tingkatan fana dengan spektrum kesadaran transpersonal, serta menempatkan
ajaran al-Durr al-Nafis dalam dialog lintas-disiplin yang lebih luas.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka
dengan model hermeneutika integral. Teks klasik al-Durr al-Nafis dianalisis
melalui kerangka AQAL (All Quadrants, All Levels, All Lines, All States, All
Types) Ken Wilber, sehingga pembacaan tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga
intersubjektif, kultural, dan multidimensi. Analisis dilakukan dengan memetakan
ajaran fana dalam tiga tahapannya ke dalam level-level kesadaran Wilber, mulai
dari vision-logic hingga nondual.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepadanan antara tiga tingkatan fana
dengan tahapan kesadaran transpersonal. Fana af‘al dapat dipadankan dengan
kesadaran vision-logic yang melampaui ego rasional; fana sifat paralel dengan
tahap subtle yang menyingkap realitas batiniah dan simbolik; sedangkan fana dzat
berhubungan dengan kesadaran nondual, yakni kondisi kesatuan mutlak tanpa
dualitas subjek-objek. Integrasi ini menegaskan bahwa pengalaman mistik Islam
memiliki relevansi teoretis dengan perkembangan kesadaran manusia dalam
perspektif psikologi modern.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Integrasi antara konsep fana dan
psikologi integral Wilber mengukuhkan bahwa pengalaman mistik dalam Islam
dapat dijelaskan secara rasional dan sistematik tanpa kehilangan kedalaman
spiritualnya. Tradisi sufistik yang terwujud dalam karya Syekh Muhammad Nafis
terbukti memiliki struktur psikospiritual yang tidak hanya relevan dalam konteks
religius tradisional, tetapi juga sejalan dengan perkembangan teori kesadaran
kontemporer
Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Menggunakan Analisis DuPont System (Studi pada PT Bank Muamalat Indonesia Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk)
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya perkembangan pesat perbankan syariah di Indonesia memunculkan persaingan yang ketat, terutama antara PT Bank Muamalat Indonesia Tbk sebagai pelopor bank syariah dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk sebagai entitas baru hasil merger. Evaluasi kinerja keuangan menjadi penting untuk menilai efektivitas strategi dan daya saing masing-masing bank.
Penelitian ini menggunakan Metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data yang dianalisis adalah laporan keuangan tahun 2021–2024 dari kedua bank. Analisis dilakukan menggunakan DuPont System, yang mencakup tiga indikator utama: Net Profit Margin (NPM), Total Asset Turnover (TATO), dan Return on Investment (ROI).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Syariah Indonesia memiliki kinerja keuangan yang lebih unggul dengan tren NPM dan ROI yang meningkat serta TATO yang stabil. Sebaliknya, Bank Muamalat menunjukkan kinerja yang fluktuatif dengan TATO stagnan dan ROI rendah. Temuan ini penting bagi pengambil keputusan dalam meningkatkan kinerja dan daya saing bank syariah
Studi Kafa‟ah terhadap Pernikahan Eksogami pada Generasi Z Keluarga Alawiyyin Perspektif Sosiologi Hukum
Ada pertentangan keras terhadap pernikahan eksogami di sebagian anggota
komunital Alawiyyin. Namun, faktanya tetap saja ada pernikahan eksogami ini,
termasuk di kalangan generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi
kafa‘ah terhadap pernikahan eksogami pada Generasi Z Keluarga Alawiyyin serta
melihat bagaimana sebenarnya pernikahan eksogami pada Generasi Z Keluarga
Alawiyyin dalam perspektif sosiologi hukum.
Tesis ini berjenis empiris dengan key informan sebanyak 10 orang.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi hukum. Bahan hukum
yang digunakan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,
Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan Kitab al-Qawanin al-Syar‟iyyah li Ahl al
Majalis al-Hukumiyyah wa al-Ifta‟iyyah karya Sayyid Utsman Betawi. Adapun
wawancara dilakukan dengan 10 informaan dari keluarga syarifah berumur antara
22 s.d. 28 tahun yang tinggal di Martapura dan Banjarmasin.
Pernikahan eksogami Keluarga Alawiyyin dapat dianalisis dari tiga sistem
hukum. Dalam hukum Islam, jumhur Hanafi, Syafi‘i, dan Hambali memandang
kafa‘ah nasab sebagai syarat luzum (kepatutan) dan bukannya syarat sah sehingga
pernikahan eksogami tetap sah namun dapat difasakh. Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan KHI hanya mengakui kafa‘ah agama dan
mengesahkan pernikahan eksogami tanpa mempertimbangkan nasab. Dalam
hukum adat keluarga Alawiyyin, sebagian ulama Alawiyyin mewajibkan kafa‘ah
nasab dan mengharamkan pernikahan eksogami antara syarifah dengan non
sayyid, namun larangan ini sejatinya bukan hukum syariat yang sifatnya mutlak
melainkan merupakan produk ijtihad yang didasarkan pada qiyas, adat („urf), serta
upaya menjaga nasab (hifz al-nasab) dalam maqashid syariah. Dalam hal ini,
larangan pernikahan eksogami lebih bersifat adat dengan konsekuensi sosial bagi
pelanggarnya. Pernikahan eksogami generasi Z keluarga Alawiyyin dalam
perspektif sosiologi hukum menunjukkan bahwa penerapan hukum bisa bervariasi
di kelompok masyarakat yang berbeda. Bertolak dari teori solidaritas sosial Emile
Durkheim, pada masyarakat mekanik seperti di Martapura, pernikahan eksogami
Generasi Z Keluarga Alawiyyin akan menimbulkan hukuman represif seperti
penolakan, tekanan psikologis, hingga marginalisasi dari keluarga besar.
Sebaliknya, pada masyarakat organik seperti di Banjarmasin, pernikahan
eksogami generasi Z Keluarga Alawiyyin tidak lagi menimbulkan konsekuensi
sosial yang signifika
Peran Guru Mata Pelajaran Rumpun PAI dalam Pembentukan Perilaku Altruistik di MTsN 1, MTsN 6, dan MTsN 12 Hulu Sungai Tengah
Rendahnya perilaku sosial di kalangan peserta didik menjadi persoalan yang
semakin nyata di tengah kehidupan sekolah yang cenderung individualistik. Selain itu,
minimnya peran guru dalam menanamkan nilai sosial serta kurangnya pemahaman peserta
didik terhadap makna perilaku altruistik menjadikan pembentukan karakter ini belum
optimal. Perilaku altruistik sebagai bentuk kepedulian dan kepekaan sosial seharusnya
sudah dapat ditumbuhkan melalui tindakan sederhana yang dimulai dari lingkungan
sekolah. Pada persoalan ini, peran guru rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi
sangat penting dalam upaya pembentukan perilaku altruistik ke dalam kehidupan peserta
didik secara lebih menyeluruh.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan
(field research) yang dilakukan di MTsN 1, MTsN 6, dan MTsN 12 Hulu Sungai Tengah.
Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap guru
rumpun PAI dan peserta didik. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui tahap
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji dan mendeskripsikan secara mendalam tentang peran guru rumpun PAI dalam
membentuk perilaku altruistik peserta didik di lingkungan sekolah serta perilaku altruistik
yang muncul pada diri peserta didik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI memiliki peran strategis dalam
membentuk perilaku altruistik peserta didik. Peran ini dijalankan dalam beberapa dimensi,
yakni sebagai pendidik yang menyampaikan nilai sosial dan keislaman, fasilitator yang
menyediakan ruang pembelajaran bernilai sosial, motivator yang membangkitkan
semangat untuk peduli, teladan dalam perilaku sehari-hari, serta evaluator yang memantau
perkembangan perilaku peserta didik. Bentuk konkret peran tersebut tampak dalam
kegiatan seperti diskusi nilai sosial, penceritaan kisah tokoh teladan, penguatan nilai
dengan Al-Qur’an dan Hadis, serta keterlibatan langsung guru dalam aksi sosial.
Keseluruhan peran ini menunjukkan bahwa pembentukan perilaku altruistik tidak hanya
dilakukan secara teoritis, tetapi juga terintegrasi dalam praktik pembelajaran dan
pembiasaan. Guru menjadi agen utama dalam menumbuhkan karakter empati, peduli, dan
suka menolong yang dapat diamalkan peserta didik dalam kehidupan nyata
Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah, Teman Sebaya, Dan Religious Culture Terhadap Pencegahan Perilaku Bullying Santri Pondok Pesantren Di Kabupaten Banjar
Perilaku bullying bisa terjadi kapan pun dan dimana pun, tidak
menutup kemungkinan terjadi di dunia pendidikan termasuk di sebuah lembaga
yang dipimpin oleh kepala sekolah, teman sebaya yang berada di sekitarnya dan
memiliki budaya keagamaan yang kuat yaitu pondok pesantren. Penelitian ini
dilatarbelakangi adanya perilaku bullying santri yang terjadi di tiga pondok
pesantren yang ada di Kabupaten Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah, teman
sebaya dan religious culture terhadap pencegahan perilaku bullying santri pondok
pesantren baik secara parsial maupun simultan.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei.
Sampel penelitian berjumlah 269 santri dari tiga pondok pesantren, dipilih melalui
teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang
telah diuji validitas dan reliabilitas, lalu dianalisis dengan regresi linear berganda
menggunakan SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, kepemimpinan
transformasional kepala sekolah berpengaruh signifikan terhadap pencegahan
perilaku bullying santri dengan nilai signifikansi 0,036<0,05. Religious culture
juga berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,000<0,05. Sementara itu,
Teman Sebaya tidak berpengaruh signifikan terhadap pencegahan perilaku
bullying dengan nilai signifikansi 0,087>0,05. Kemudian setelah dilakukan Uji F
untuk menguji ketiga variabel independen terhadap variabel dependen dapat di
ambil kesimpulan bahwa ketiga variabel indipenden tersebut berpengaruh
signifikan terhadap pencegahan perilaku bullying santri pondok pesantren karena
nilai signifikansi variabel independen 0,000 yang berarti lebih kecil dari nilai
signifikan yang ditentukan yaitu 0,001. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R²)
sebesar 0,180 menunjukkan bahwa 18 % variabel kepemimpinan transformasional
kepala sekolah, Teman Sebaya, dan budaya keagamaan bersama-sama
memberikan kontribusi sedang terhadap pencegahan perilaku bullying santri
pondok pesantren dan 82 % dapat dijelaskan oleh faktor lain yang
mempengaruhiny
Deskripsi Diri Narapidana Gay di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin
Individu dengan orientasi seksual minoritas seperti narapidana gay kerap
mengalami tekanan psikologis ganda akibat stigma sosial, penolakan identitas, serta
lingkungan lembaga pemasyarakatan yang cenderung maskulin dan represif. Kondisi
tersebut berpotensi membentuk citra diri negatif, penolakan terhadap diri, serta konflik
internal yang memengaruhi cara individu memaknai keberadaannya. Penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan deskripsi diri narapidana gay di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin, dengan fokus pada aspek citra diri, ideal self,
dan self-worth, serta faktor-faktor yang memengaruhi pembentukannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain
studi kasus tunggal. Subjek penelitian adalah seorang narapidana laki-laki dengan
orientasi homoseksual yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan
Kelas IIA Banjarmasin. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis
tematik. Pendekatan ini dipilih untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif
subjek dalam menggambarkan dirinya, serta dinamika psikologis yang menyertainya di
tengah tekanan sosial dan lingkungan yang terbatas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek memiliki deskripsi diri yang
dinamis, dengan citra diri awal yang negatif karena perasaan bersalah, penolakan, dan
ketidakpercayaan diri. Namun, melalui proses refleksi diri dan dukungan pengobatan,
subjek mulai membentuk citra diri yang lebih positif dan ideal, yakni sebagai pribadi
yang sehat, bertanggung jawab, dan diterima secara sosial. Nilai diri (self-worth) subjek
pun mulai tumbuh, ditandai dengan upaya merawat diri dan berpikir lebih optimis
terhadap masa depan. Faktor-faktor pembentuk deskripsi diri subjek meliputi
pengalaman masa kecil yang kurang afeksi, keterpaparan pornografi homoseksual sejak
dini, pengalaman seksual awal dengan sesama jenis, serta pengaruh lingkungan sosial
dan kebutuhan akan penerimaan
تطوير المواد التعليمية لمهارة الكلام من خلال كتاب دروس اللغة العربيّة لطلاب الصفّ الأوّل للمرحلة المتوسطة بمعهد دار الهجرة مرتافورا = Development of Speaking Skill Teaching Materials Through the Durus Al-Lughah Al-Arabiyyah Textbook for First-Grade Students of the Intermediate Level at Darul Hijrah Martapura Islamic Boarding School, South Kalimantan
This research addresses the development of speaking skill teaching materials through the
Durus Al-Lughah Al-Arabiyyah textbook for first-grade students at Darul Hijrah Martapura Islamic
Boarding School in South Kalimantan. The current Durus Al-Lughah textbook used is unsuitable
for developing speaking skills, as its content focuses more on writing and reading skills. This
prompts the teacher to teach using a traditional method of reading and translation, and the speaking
practice activities in it are very few, which leads to weak opportunities for students to practice the
language orally. The aim of this research is to determine how to develop these teaching materials,
measure their validity, and determine their effectiveness in improving students' speaking skills
through the Durus Al-Lughah Al-Arabiyyah textbook. The researcher uses the Research and
Development (R&D) methodology following a modified Borg & Gall model. Data was collected
through interviews, document studies, questionnaires, and pre-test and post-test, and analyzed
using both qualitative and quantitative methods with the application of the t-test for measuring
effectiveness.
The procedure for developing the teaching materials involves several stages: needs analysis,
designing the teaching materials, validation by experts, first revision, product trial, input and
observations, second revision, and the developed teaching materials.
The developed teaching materials are valid (suitable) for use in teaching speaking skills, as
the average rating from the three content experts, the design expert, and the language expert
reached 87,5%, falling within the "Excellent" category.
The developed speaking skill teaching materials are effective in improving the performance
of first-grade students, with the disappearance of the "Weak" category and an increase in the
number of students in the "Very Good" category. The paired-samples t-test showed a statistically
significant difference (t=−10.995,p<0.001), with a confidence level exceeding 99,9%, confirming
the effectiveness of the developed materials in improving students' pronunciation, fluency, and
vocabulary expansion
Gambaran Kebermaknaan Kerja pada Karyawan di UMKM Babongko Mama Shomad
Kebermaknaan dalam perkerjaan sangat penting karena seorang yang
memiliki nilai psikologi miliki rasa bermakna kerja yang baik akan dapat
merasakan apa yang dirasakan oleh pemilik usaha karena saat seorang karaywan
memiliki nilai yang baik dari diri mereka pastilah bisa merasakan perasaan orang
lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuai Gambaran kebermaknaan kerja pada
karyawan di UMKM Babongko Mama Shomad. Untuk mengetahuai. Faktor-faktor
yang mendorong munculnya kebermaknaan kerja pada karyawan di UMKM
Babongko Mama Shomad
Metode penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitati dengan metode
deskriptif, Teknik pengembilan data menggunakan wawancara, observasi dan
dokumentasi. Repsonden 4 orang karyawan. Analisis data menggunakan analisis
kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gambaran kebermaknaan kerja pada
karyawan di UMKM Babongko Mama Shomad selama ini menurut mereka bahwa
seorang yang bekerja harusnya lebih baik dan memberikan kesenangan dari dari
mereka agar tidak ada sedih dan saling membantu satu sama lain sehingga semua
masalah dapat dipecahkan Bersama dengan baik. Faktor-faktor yang mendorong
munculnya kebermaknaan kerja pada karyawan di UMKM Babongko Mama
Shomad dilihat dari segi memandang pekerjaan mereka sebagai sarana untuk
mencapai tujuan. Mereka bekerja untuk menerima bayaran dan / atau manfaat untuk
mendukung hobi, keluarga, atau kehidupan mereka di luar pekerjaan; lebih suka
pekerjaan yang tidak mengganggu kehidupan pribadi mereka; dan tidak memiliki
hubungan yang kuat dengan tempat kerja atau tugas pekerjaan mereka. Bagi
mereka, pekerjaan berfungsi sebagai kebutuhan dasar dalam kehidupan
Praktik Pendidikan Islam dalam Pembinaan Akhlak Peserta Didik Di SMAN 1 Rantau dan SMAN 1 Tapin Selatan
Topik tentang akhlak selalu menarik untuk dibahas. Sebab akhlak dapat
berfungsi sebagai sistem perilaku yang menciptakan keseimbangan dalam
kehidupan sehari-hari. fokus penelitian berdasarkan dari latar belakang masalah
yang telah diuraikan. Praktik pendidikan Islam dalam pembinaan akhlak peserta
didik di SMAN 1 Rantau dan SMAN 1 Tapin Selatan, terdiri dari sub fokus
penelitian sebagai berikut; tujuan, Pendekatan, Metode dan Teknik, dan hambatan
serta solusinya.
Jenis penelitian lapangan, dengan pendekatan kualitatif deskriptif analitik,
subjek dalam penelitian ini yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang
kesiswaan, guru PAI, wali kelas, guru BK dan peserta didik di SMAN 1 Rantau dan
SMAN 1 Tapin Selatan. Objek dalam penelitian ini yaitu tujuan, pendekatan,
metode dan Teknik, dan hambatan serta solusinya. Teknik pengumpulan data
adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta pengolahan data
menggunakan koleksi data, editing, klasifikasi dan interpretsi data dilanjutkan
analisis reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik pendidikan Islam dalam
pembinaan akhlak peserta didik di SMAN 1 Rantau dan SMAN 1 Tapin Selatan,
dapat dilihat dari sub fokus berikut; (1) (SMAN 1 Rantau), tujuan; mengembangkan
karakter peserta didik yang berakhlak mulia dan meningkatkan kedisiplinan serta
tanggung jawab. (SMAN 1 Tapin Selatan) adalah meningkatkan keimanan dan
ketakwaan kepada Allah SWT serta menumbuhkan kesadaran keislaman dalam
perilaku sehari-hari; (2) (SMAN 1 Rantau) pendekatan emosional, integrasi,
persuasif dan religius. (SMAN 1 Tapin Selatan) pendekatan integrasi, religius dan
dialogis; (3) (SMAN 1 Rantau) metode dan Teknik, yakni metode keteladanan
dengan teknik behavior modelling dan role taking, pembiasaan dengan teknik
habbit formation dan classroom routines, hukuman dan hadiah dengan teknik
positive reinforcement dan token economy serta kisah dengan teknik emotional
appeal. (SMAN 1 Tapin Selatan) metode keteladanan dengan teknik behavior
modelling dan role taking, pembiasaan dengan teknik habbit formation dan
classroom routines, hukuman dan hadiah dengan teknik positive reinforcement dan
token economy serta mentoring dengan teknik home visit; (4) Hambatan yang terjadi
di SMAN 1 Rantau yaitu pengaruh negatif lingkungan pergaulan, dampak negatif
media sosial, keluarga broken home dan orang tua sibuk bekerja, serta minimnya
kesadaran disiplin dan tanggung jawab. Solusinya yaitu menjalin kedekatan
emosional guru dan peserta didik, memperkuat pembiasaan dan kegiatan positif
lainnya di sekolah, mengarahkan penggunaan teknologi akhlak serta melibatkan
orang tua. Di SMAN 1 Tapin Selatan, hambatannya yaitu lemahnya motivasi
internal siswa, pergaulan teman sebaya, keterbatasan pengawasan pendidik, latar
belakang keluarga yang tidak harmonis dan kurangnya perhatian di rumah, serta
lemahnya sinergi sekolah dan orang tua. Solusinya yaitu pembiasaan dan
penanaman nilai secara berulang, pengawasan serta mengupayakan komunikasi
yang lebih aktif dengan orang tu
Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Praktik Jual Beli Pakaian Bekas di Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Putri
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena jual beli pakaian bekas yang
di temukan di pondok modern An-Najah, pakaian bekas yang ditemukan
ataupun diambil oleh pengurus rayon yang kemudian dikumpulkan lalu
dijadikan barang yang akan dilelang kepada santriwati. Hal ini masih belum
jelas hukum dalam praktiknya apakah sesuai dengan hukum yang
diperbolehkan dalam agama atau tidak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Jual beli pakaian bekas di
Pondok Modern An-Najah. 2) Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah terhadap
praktik jual beli pakaian bekas di Pondok Modern An-Najah.
Jenis penelitian ini adalah penelitian yuridis empiris dengan pendekatan
perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan kualitatif. Lokasi
penelitian terletak di Banjarmasin. teknik pengumpulan data menggunakan
wawancara dan dokumentasi. Analisa data melalui redukasi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan: pertama, praktik jual beli pakaian
bekas di Pondok Modern An-Najah dilakukan oleh bagian kebersihan rayon dan
bagian kebersihan OSPM atas pakaian yang tidak pada tempat dan waktunya,
yang kemudian dikumpulkan oleh pengurus, diumumkan dan kembalikan
dengan tebusan dan jika tidak diambil akan dilelang . Kedua, Di Pondok An
Najah Cindai Alus, transaksi jual beli Pakaian Bekas diperbolehkan sesuai
dengan Hukum Ekonomi Syaria