IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin dalam Kurikulum Merdeka pada MTsN 1 Banjar dan MTsN 2 Banjar Kabupaten Banjar
Kurikulum merupakan acuan yang dijadikan sebagai penentu arah kegiatan
pembelajaran. Paradigma bergantinya kurikulum dalam jangka waktu yang singkat
membuat pola pembelajaran dan pola pikir berubah secara perlahan dan betahap.
Kemendikbudristek telah mengeluarkan kebijakan pelaksanaan Kurikulum
Merdeka dalam pembelajaran, kurikulum ini mengacu kepada bakat dan juga minat
peserta didik. Proses pembelajaran berupaya untuk bermuara pada pembentukan
profil pelajar pancasila. KSKK Kementerian Agama RI berupaya mengembangkan
Kurikulum Merdeka dengan Projek Penguatan Profill Pelajar Pancasilan dan Profil
Pelajar Rahmatan lil Alamin atau P5PPRA. Implementasi Kurikulum Merdeka dan
kegiatan pembelajaran P5PPRA belum sepenuhnya mampu terserap oleh beberapa
elemen, diantaranya guru sebagai pelaku utama dalam menyampaikan isi dan
makna dari Kurikulum Merdeka itu sendiri.
Penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi pengimplementasian P5PPRA
dalam Kurikulum Merdeka di MTsN 1 Banjar dan MTsN 2 Banjar, berupa
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Fokus penelitian ini adalah pelaksanaan
P5PPRA dan faktor- faktor yang mempengaruhi terlaksananya P5PPRA ini.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus
multitempat. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian
data, dan menarik kesimpulan atau verifikasi. Lokasi penelitian ini berada di dua
tempat yaitu MTsN 1 Banjar dan MTsN 2 Banjar. Subjek penelitian ini terdiri atas
kepala madrasah, guru mata pelajaran yang terlibat langsung dengan P5PPRA, dan
peserta didik kelas VII.
Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa dalam perencanaan P5PPRA di
MTsN 1 Banjar dan MTsN 2 Banjar sudah melakukan beberapa tahapan, yaitu
pembentukan tim fasilitator, menilai kesiapan satuan pendidikan, memilih tema,
dimensi, dan jadwal projek, serta membuat modul projek, namun, belum ada bentuk
strategi pelaporan projek yang matang. Begitu pula dalam hal pelaksanaan P5PPRA
dalam Kurikulum Merdeka di MTsN 1 Banjar dan MTsN 2 Banjar sudah
melaksanakan beberapa tahapan antara lain pengenalan, konstektualisasi, aksi, dan
refleksi atau tindak lanjut dengan baik. Evaluasi P5PPRA MTsN 1 Banjar dan
MTsN 2 Banjar dilaksanakan sesuai pada penilaian yang dipakai oleh guru
fasilitator yakni penilaian unjuk kerja, penilaian hasil produk dan penilaian
kemampuan dan sikap baik melalui tertulis maupun pengamatan
Pergeseran Nilai Moral dalam Komunikasi Remaja Desa Sukadana: Analisis Filsafat Moral Alasdair MacIntyre
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan
terhadap pola komunikasi remaja, termasuk di Desa Sukadana. Interaksi yang
sebelumnya berorientasi pada nilai-nilai tradisional seperti kesopanan,
penghormatan terhadap orang tua, dan solidaritas sosial, kini bergeser menuju pola
komunikasi yang lebih ekspresif, cepat, dan dipengaruhi oleh budaya digital serta
komunitas game online. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena
pergeseran nilai moral dalam komunikasi remaja Desa Sukadana melalui perspektif
filsafat moral Alasdair MacIntyre, khususnya konsep virtue ethics, praktik sosial,
dan narasi kehidupan.
Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap remaja, orang tua,
guru, serta tokoh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
semakin intensnya interaksi remaja di ruang digital terutama melalui game online
telah memunculkan perubahan gaya bahasa, menurunnya sensitivitas terhadap
norma kesopanan, serta melemahnya orientasi moral terhadap kebajikan sosial.
Bahasa yang bernada keras dan istilah-istilah khas game seperti noob, anjir, bot,
dan LOL mulai menggantikan bahasa santun yang sebelumnya menjadi ciri
interaksi remaja di lingkungan desa.
Analisis menggunakan teori Alasdair MacIntyre menunjukkan bahwa
pergeseran tersebut merupakan tanda melemahnya keterikatan remaja pada tradisi
moral komunitas. Tradisi yang selama ini menjadi wadah pembentukan kebajikan
dan tujuan hidup bersama tidak lagi menjadi acuan utama dalam praktik komunikasi
remaja. Ketika remaja lebih banyak membangun identitas dan interaksi melalui
ruang digital yang bersifat instan, kompetitif, dan individualistik, terjadilah
dislokasi moral yang memutus kontinuitas antara nilai tradisi dan identitas moral
mereka. Penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi tradisi moral dan
penguatan praktik kebajikan sebagai upaya membangun kembali karakter
komunikasi remaja di era digita
Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Komunikasi Internal, dan Lingkungan Organisasi Terhadap Kualitas Kerja Asatidz dan Asatidzah di Pondok Pesantren Se Kabupaten Tapin
Kualitas kerja asatidz dan asatidzah memiliki peran strategis dalam
menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren.
Namun, dalam realitasnya, kualitas kerja tenaga pendidik di berbagai pondok
pesantren menunjukkan variasi yang cukup signifikan, baik dari aspek
profesionalitas, komitmen kerja, maupun keterlibatan emosional dalam
menjalankan tugas. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh gaya
kepemimpinan pimpinan pesantren, efektivitas komunikasi internal, serta kondisi
lingkungan organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh gaya kepemimpinan, komunikasi internal, dan lingkungan organisasi
terhadap kualitas kerja asatidz dan asatidzah, baik secara parsial maupun simultan,
di Pondok Pesantren se-Kabupaten Tapin.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei.
Lokasi penelitian meliputi Pondok Pesantren Assunniyyah Tambarangan, Pondok
Pesantren Izzul Hasan, dan Pondok Pesantren Tahfizh Yanbu‟ul Qur‟an 4.
Populasi penelitian berjumlah 76 responden, dan karena jumlah populasi relatif
kecil, seluruh populasi dijadikan sampel (sampel jenuh). Teknik pengumpulan
data menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Analisis data dilakukan melalui
uji instrumen penelitian, uji prasyarat analisis, serta analisis regresi linear
berganda dengan bantuan program IBM SPSS versi 25.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan, komunikasi
internal, dan lingkungan organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap
kualitas kerja asatidz dan asatidzah, baik secara parsial maupun secara simultan,
di Pondok Pesantren se-Kabupaten Tapin. Temuan ini menegaskan bahwa
peningkatan kualitas kerja tenaga pendidik pesantren memerlukan kepemimpinan
yang efektif, komunikasi internal yang baik, serta lingkungan organisasi yang
kondusif
Desain Pembelajaran Keagamaan Islam Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Karang Intan Kabupaten Banjar
Meskipun pembinaan telah dilakukan di lapas, namun 42,2% narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Karang Intan Kabupaten Banjar
kembali melakukan hal yang sama setelah mereka bebas.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran
keagamaan Islam di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Karang Intan
Kabupaten Banjar, mengembangkan desain pembelajaran keagamaan Islam yang
dapat meningkatkan kesadaran warga binaan pemasyarakat (WBP) untuk
meninggalkan narkoba, dan mendeskripsikan efektivitas desain pembelajaran
keagamaan Islam di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Karang Intan
Kabupaten Banjar dalam meningkatkan kesadaran WBP untuk meninggalkan
narkoba.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D)
dengan prosedur ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). Produk
awal yang telah dikembangkan diuji kelayakannya melalui penilaian ahli (expert),
lalu datanya dianalisis menggunakan CVR (Content Validity Ratio). Analisis
efektivitas desain dilakukan dengan uji statistik nonparametrik dengan uji Mann
Whitney U Test melalui program SPSS release 25.0 for Windows.
Hasil temuan dari penelitian ini adalah: Pertama, pembelajaran keagamaan
Islam yang dilakukan di Lapas Karang Intan bersifat sukarela, akibatnya kurang
dari 10% WBP yang mengikutinya. Kegiatannya adalah salat berjamaah, salat
Jumat dan hari raya, pengajaran IQRA, ceramah agama, pembacaan Maulid
Habsyi, juga pembacaan Burdah. Kedua, diperoleh produk akhir desain
pembelajaran keagamaan Islam: a) Secara ide desain pembelajaran dikembangkan
fokus kepada: 1) mengurangi persepsi negatif yang ditemukan pada WBP; 2)
meningkatkan persepsi positif; dan 3) menumbuhkan dan mengokohkan niat
untuk berubah. Proses pengembangan desain diawali dengan penelitian
pendahuluan, kemudian membuat desain, mengembangkan desain, implementasi
dan evaluasi. Desain yang dibuat memuat: tujuan, materi, metode, sumber dan
media, serta evaluasi. Kelayakan desain awal dilakukan lewat penilaian para ahli,
kemudian secara statistik dihitung CVR, hasilnya secara statistik desain yang
dibuat adalah penting dan relevan. Ketiga, desain ini efektif untuk meningkatkan
kesadaran WBP untuk meninggalkan narkoba. Dari Uji-U antara data sebelum
pembelajaran dan sesudahnya, diperoleh nilai p-value < 0.05 yang berarti terdapat
perbedaan signifikan antara sebelum pembelajaran dengan sesudah pembelajara
Pendapat Ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Terhadap Tradisi Bausung pada Upacara Perkawinan di Banjarmasin
Tradisi Bausung merupakan adat perkawinan masyarakat Banjar yang masih dilestarikan hingga kini. Tradisi ini melibatkan pengangkatan mempelai pria dan wanita oleh dua laki-laki terlatih yang kemudian melakukan tarian dan gerakan silat menuju tempat pemandian pengantin. Meskipun dianggap sebagai simbol penghormatan dan kebahagiaan, keberadaan tradisi ini menimbulkan perdebatan terkait kesesuaiannya dengan syariat Islam. Indonesia sebagai negara yang menghormati adat dan agama, menuntut kajian lebih mendalam mengenai pandangan ulama terhadap tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan membandingkan pandangan serta argumentasi hukum ulama dari dua organisasi Islam besar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dalam konteks pelaksanaan tradisi Bausung di Banjarmasin, sehingga memberikan gambaran komprehensif tentang hubungan antara adat dan syariat Islam.
Penelitian ini menggunakan metode lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pandangan ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Kota Banjarmasin terkait pelaksanaan tradisi Bausung. Subjek penelitian terdiri dari 3 ulama Muhammadiyah dan 3 ulama NU yang dipilih sebagai informan utama. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang terkait dengan tradisi Bausung. Selanjutnya, data dianalisis secara kualitatif untuk mendeskripsikan pandangan serta argumentasi hukum kedua kelompok ulama tersebut secara sistematis dan komprehensif.
Berdasarkan hasil analisis terhadap pandangan ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mengenai tradisi Bausung, dapat disimpulkan bahwa ulama Muhammadiyah cenderung menolak tradisi tersebut karena potensi pelanggaran syariat, terutama terkait ikhtilat dan keyakinan tanpa dalil. Mereka menilai tradisi ini perlu ditinggalkan apabila mengandung unsur bid’ah atau praktik yang bertentangan dengan akidah Islam. Sebaliknya, ulama Nahdlatul Ulama lebih menerima pelaksanaan Bausung dengan syarat disesuaikan dengan prinsip syariat, seperti pengusungan oleh keluarga mahram dan pemisahan gender, karena dianggap bagian dari ‘urf yang mubah selama tidak melanggar hukum Islam. Dari sisi argumentasi hukum, Muhammadiyah berlandaskan pada dalil tegas terkait larangan ikhtilat dan prinsip tauhid, menggunakan kaidah fiqh “al-‘adatu muhakkamah” dan ayat Al-Maidah 49. Sementara NU menggunakan pendekatan ushul fiqh yang lebih fleksibel dengan mengakomodasi ‘urf shahih serta kaidah perubahan hukum berdasarkan waktu dan tempat, merujuk pada ayat Al-Baqarah 170 dan Al-Araf 199. NU memandang tradisi ini dapat diterima jika tetap menjaga prinsip syariat dan menghindari praktik bertentangan Isla
Pengaruh Pembelajaran Praktikum pada Laboratorium Bank terhadap Peningkatan Pemahaman Mahasiswa dalam Transaksi Syariah
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pembelajaran praktikum
laboratorium terhadap peningkatan pemahaman transaksi syariah mahasiswa
Perbankan Syariah UIN Antasari Banjarmasin. Latar belakangnya adalah urgensi
pengalaman praktik langsung dalam membangun kompetensi mahasiswa, di mana
laboratorium berfungsi sebagai sarana simulasi operasional perbankan syariah.
Studi difokuskan pada pemahaman prinsip, prosedur, dan implementasi transaksi
syariah yang belum banyak dikaji spesifik dalam penelitian sebelumnya.
Metode yang digunakan adalah field research kuantitatif. Data dikumpulkan
melalui kuesioner dengan sampel 50 mahasiswa dari populasi 100
(teknik purposive sampling dan rumus Slovin). Analisis data menggunakan uji
regresi linear sederhana dan uji hipotesis (uji t).
Hasil penelitian membuktikan pengaruh signifikan pembelajaran praktikum
terhadap pemahaman transaksi syariah. Nilai t-hitung (3,576) > t-tabel (2,011)
dengan signifikansi 0,001 < 0,05. Koefisien regresi 0,288 menunjukkan bahwa
setiap peningkatan kualitas praktikum sebesar 1 satuan, pemahaman mahasiswa
meningkat 28,8%. Temuan ini menegaskan efektivitas laboratorium sebagai sarana
pendukung pembelajaran teoritis dalam konteks perbankan syaria
Pengembangan Model Pelatihan Pranikah Berbasis Kearifan Lokal Budaya Bugis Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan
Allah SWT menciptakan manusia berpasang dengan tujuan agar merasakan
ketentraman, kenyaman dan mendapatkan keturunan dengan ikatan pernikahan.
Pernikahan itu sendiri pada dasarnya dimaknai sebagai ikatan lahir batin antara pria
dan wanita membentuk keluarga Sakinah mawaadah wa rohmah. Pernikahan
harmonis merupakan tempat pertama melahirkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Keluarga hangat dan penuh cinta bukan berarti tanpa banyak halangan
dan rintangannya. Terkadang hambatan ini menjadikan rumah tangga semakin
kokoh akan tetapi adakalanya halangan rintangan sebagai awal datangnya badai
kehancuran hingga bahtera rumah tangga goyah tenggelam berakhir dengan
perceraian.
Meskipun banyak usaha dilakukan untuk menekan angka perceraian akan
tetapi tetap saja kasus perceraian tiap tahun meningkat. Selain itu, belum banyak
model atau pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam
berumah tangga yang dirancang secara khusus untuk tujuan ini. Dalam tradisi Bugis
Pagatan, pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua individu, tetapi menyatukan
dua keluarga besar. Oleh karena itu, perceraian bukan hanya urusan pribadi, tetapi
harga diri keluarga (siri’), kehormatan, dan stabilitas sosial. Nilai ini diyakini
menjadi fondasi menyelesaikan konflik rumah tangga sebelum memutuskan
perceraian. Dengan adanya model yang mengintegrasikan kearifan lokal ini,
diharapkan dapat tercipta pelatihan yang lebih bermakna, menarik, dan dapat
menghubungkan peserta pranikah dengan budaya mereka sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan sebuah
model pelatihan pranikah yang berbasis pada nilai-nilai budaya lokal masyarakat
Bugis Pagatan. Dalam konteks sosial budaya yang menjunjung tinggi prinsip siri’
(harga diri).
Metode penelitian ini menggunakan metode research and development
dari Borg and Gall. Data yang diperoleh dari penelitian berupa data kualitatif uraian,
saran, kritikan, masukan dari validator dan praktisi, data kuantitatif berupa angka
numeral dan perhitungan statistik dari hasil konversi pernyataan dari skala
pengukuran dalam bentuk angket atau kuisioner.
Hasil penelitian ini adalah Model Pelatihan Pranikah Berbasis Budaya
Bugis Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu yang dapat meningkatkan pengetahuan
peserta pranikah tentang nilai-nilai budaya bugis Pagatan yang diyakini dapat
melanggengkan rumah tangga. Pelaksanaan Model Pelatihan dilaksanakan pada 3
KUA yaitu KUA Kecamatan Kusan Hilir Pagatan, KUA Batulicin dan KUA
Simpang Empat. Hasil efektivitas berdasarkan selisih nilai rata-rata antara uji coba
pendahuluan dengan uji coba utama. Selisih model tersebut bernilai positif yang
artinya terdapat peningkatan dari uji coba pendahuluan ke uji coba utama
Pengamalan Surah Al-Zumar ayat 67 75 sebagai Media Istigasah oleh Jemaah PCNU Palangka Raya (Studi Living Qur`an)
Al-Qur`an tidak hanya dipahami sebagai teks suci, tetapi juga dihidupi
dalam berbagai praktik keagamaan masyarakat. Salah satu bentuk penghayatan
tersebut tampak dalam pengamalan Surah al-Zumar ayat 67-75 yang dilakukan
secara rutin oleh jemaah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Palangka
Raya sebagai media ikhtiar istigasah. Praktik ini menarik untuk dikaji karena ayat
ayat tersebut secara tekstual tidak secara eksplisit berbicara tentang permohonan
hajat, namun diyakini memiliki keberkahan dan fadilat tertentu. Fenomena ini
menunjukkan adanya proses pemaknaan Al-Qur'an yang tidak berhenti pada teks,
tetapi berkembang dalam pengalaman dan tradisi religius masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengamalan Surah al
Zumar ayat 67-75 oleh jemaah PCNU Palangka Raya serta mengungkap
pemaknaan jemaah terhadap pengamalan tersebut sebagai media ikhtiar spiritual.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan
kualitatif deskriptif dalam kerangka kajian Living Qur'an. Pengumpulan data
dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi
di Pendopo Baitul Qur'an NU Palangka Raya. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim yang menekankan
pada tiga bentuk pemaknaan, yaitu makna objektif, ekspresif, dan dokumenter.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamalan Surah al-Zumar ayat 67
75 dilaksanakan dalam bentuk ritual keagamaan kolektif yang terstruktur dan
rutin, diawali dengan tawasul, wirid, dan istighatsah, kemudian ditutup dengan
pembacaan ayat-ayat tersebut. Jemaah memaknai pengamalan ini sebagai wasilah
untuk memohon kemudahan dan keberkahan, meskipun tanpa pemahaman tafsir
yang mendalam terhadap ayat-ayat yang dibaca. Berdasarkan analisis Mannheim,
pengamalan ini memiliki makna objektif sebagai ritual yang dilegitimasi secara
sosial, makna ekspresif berupa pengalaman spiritual dan ketenangan batin jemaah,
serta makna dokumenter yang tercermin dalam terbentuknya budaya religius,
solidaritas sosial, dan identitas keagamaan kolektif di lingkungan PCNU Palangka
Ray
Pengaruh Model Pembelajaran Artikulasi Terhadap Pemahaman Konsep dan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Kelas VIII di MTs Nurul Hidayah Tahun Ajaran 2024/2025
Adanya permasalahan yang dialami guru yaitu nilai ulangan harian siswa
dibawah KKM dan siswa kurang memperhatikan serta kesulitan dalam
menyampaikan ide atau memberikan jawaban secara tertulis dalam memecahkan
masalah matematika sehingga pemahaman konsep dan kemampuan komunikasi
tertulis siswa rendah. Penggunaan model pembelajaran artikulasi mengharuskan
siswa memahami konsep materi yang dipelajari serta siswa di harapkan mampu
mengeksplor pemahamannya dalam memecahkan masalah secara tertulis yang
disebut komunikasi matematis tertulis. Sehingga, diperlukan penelitian untuk
mengetahui pengaruh model pembelajaran artikulasi terhadap pemahaman konsep
dan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII di MTs Nurul Hidayah
tahun ajaran 2024/2025.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan, pendekatan kuantitatif,
metode eksperimen dengan desain Quasi Experimental Design. Populasi dalam
penelitian ini ialah siswa kelas VIII di MTs Nurul Hidayah tahun ajaran
2024/2025. Dengan sampel seluruh siswa kelas VIII di MTs Nurul Hidayah yang
berjumlah 24 orang, pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh.
Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Analisis data meliputi
statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji independent t-test
menggunakan SPSS 25.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemahaman konsep siswa kelas
VIII di MTs Nurul Hidayah setelah menggunakan model pembelajaran artikulasi
mendapatkan nilai rata-rata 82,18 dengan kategori baik sekali (2) Kemampuan
komunikasi matematis siswa kelas VIII di MTs Nurul Hidayah setelah
menggunakan model pembelajaran artikulasi mendapatkan nilai rata-rata 78,33
dengan kategori baik (3) Terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model
pembelajaran artikulasi terhadap pemahaman konsep siswa kelas VIII di MTs
Nurul Hidayah dilihat dari hasil uji independent t test dimana nilai Sig. (2-tailed)
0,001 < 0,05 (4) Terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan model
pembelajaran artikulasi terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa kelas
VIII di MTs Nurul Hidayah dengan nilai Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05
Penanaman Karakter Cinta Lingkungan pada Anak Usia Dini di PAUD Alam Banjarbaru
Menanamkan karakter cinta lingkungan sejak usia dini merupakan langkah
strategis yang fundamental dalam membentuk kesadaran dan kepedulian anak
terhadap kelestarian alam. Pada masa kanak-kanak sebuah fase kritis dalam
pembentukan nilai, sikap, dan kebiasaan pendidikan karakter cinta lingkungan
menjadi sangat penting untuk diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di
lembaga Paud. Tujuan penelitian ininuntuk mendeskripsikan penanaman karakter
cinta lingkungan pada anak usia dini di Paud Alam Banjarbaru dengan fokus pada
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta faktor pendukung dan faktor penghambat
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif bersifat
descriptif dengan metode studi lapangan. Subjek penelitian adalah Kepala sekolah,
wali kelas kelompok B dan anak kelompok b yang berjumlah 12 orang, sedangkan
objek penelitian adalah penanaman karakter cinta lingkungan pada anak usia dini
di Paud Alam Banjarbaru. Teknik pengumpulan data, reduksi data, penyajian data,
penarikan kesimpulan atau verifikasi. Serta keabsahan data menggunakan
triangulasi sumber, teknik dan waktu.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perencanaan dilakukan secara
sistematis dan kolaboratif melalui penyususnan standar operasional prosedur (SOP)
dan weekly plan. Pelaksanaan penanaman karakter cinta lingkungan pada anak usia
dini di Paud Alam Banjarbaru di lakukan melalui verbagai bentuk kegiatan seperti
pembiasaan harian, kegiatan tematik, bermain peran, eksplorasi lingkungan, hingga
kegiatan berkemah. Evaluasi dilakukan secara formatif dan autentik, melalui
observasi harian, dokumentasi dalam bentuk portofolio, serta refleksi kegiatan
bersama anak
Faktor pendukung dalam penanaman karakter cinta lingkungan pada anak
usia dini di Paud Alam Banjarbaru ini meliputi lingkungan sekolah yang alami dan
terbuka, peran aktif guru, serta adanya perencanaan yang terstruktur melalui SOP
dan weekly plan. Adapun faktor penghambatnya adalah kurang nya pemahaman
Sebagian orang tua mengenai pendidikan karaktercinta lingkungan, keterbatasan
sarana edukatif berbasis lingkungan, serta kondisi cuaca yang tidak menentu yang
kadang menghambat aktivitas diluar ruangan