IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Persepsi Hukum Petani Di Desa Puntik Luar Kecamatan Mandastana Terhadap Sistem Resi Gudang
Sistem Resi Gudang merupakan instrumen hukum dan ekonomi yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui penyimpanan
komoditas dan pemanfaatannya sebagai jaminan pembiayaan. Namun, dalam
praktiknya, pemanfaatan Sistem Resi Gudang oleh petani masih tergolong rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi hukum petani di Desa Puntik
Luar Kecamatan Mandastana terhadap Sistem Resi Gudang dalam perspektif
Hukum Ekonomi Syariah serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
keputusan petani untuk menggunakan atau tidak menggunakan sistem tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan
pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan petani dan
didukung oleh studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, literatur
hukum, serta konsep Hukum Ekonomi Syariah. Data yang diperoleh dianalisis
secara deskriptif kualitatif dengan mengaitkan temuan lapangan dan teori persepsi
hukum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi hukum petani terhadap
SRG cenderung negatif. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman petani
mengenai mekanisme dan dasar hukum SRG, adanya kekhawatiran terhadap
potensi unsur riba, serta rendahnya tingkat kepercayaan terhadap lembaga
pengelola dan lembaga pembiayaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
petani untuk tidak menggunakan SRG meliputi keterbatasan pengetahuan hukum,
pengalaman dan kebiasaan bertani yang telah berlangsung lama, serta pertimbangan
nilai-nilai keagamaan. Dalam perspektif Hukum Ekonomi Syariah, SRG pada
dasarnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah, namun belum diterima secara
optimal oleh petani karena lemahnya pemahaman dan sosialisas
Transmisi Sanad dan Otoritas Qirâ’ah warsy di Tanah Banjar: Telaah Atas Kitab Fatḥ Al-Ghabsy Ta‘Līq Naẓm Riwayah Warsh Karya KH. Nasrun Thohir
Tradisi Qirâ’ah warsy merupakan salah satu kekayaan bacaan al-Qur’an
yang jarang dikenal luas di Indonesia. Di Tanah Banjar, transmisi bacaan ini tetap
hidup berkat peran sentral KH. Nasrun Thahir, seorang ulama karismatik yang
mewarisi dan mengajarkan bacaan tersebut secara konsisten di lingkungan
pesantren. Keberadaan Sanad yang bersambung hingga Imam Warsy menjadi
fondasi penting dalam menjaga autentisitas bacaan ini. Hal ini menunjukkan
bahwa Qirâ’ah warsy bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga warisan
keilmuan yang patut dilestarikan.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses transmisi
Sanad Qirâ’ah warsy berlangsung di Tanah Banjar, serta bagaimana Otoritas
keilmuan KH. Nasrun Thahir dibangun dan diakui dalam konteks tersebut.
Penelitian ini ingin menjawab bagaimana metode pengajaran Qirâ’ah warsy
dijalankan dan apa makna Sanad dalam mempertahankan kemurnian bacaan al
Qur’an.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik
observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Ditemukan bahwa
proses transmisi dilakukan melalui metode talaqqi dan musyāfahah, dengan
seleksi ketat terhadap murid yang berhak menerima Sanad. KH. Nasrun Thahir
tidak hanya dikenal melalui jalur keilmuannya, tetapi juga melalui karyanya, Fath
al-Ghabsy, yang memperkuat posisi keilmuannya dalam Qirâ’ah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sanad bukan sekadar jalur
transmisi ilmu, tetapi juga simbol otoritas spiritual dan sosial. KH. Nasrun Thohir
berhasil mentransmisikan ilmu Qirâ’ah Warsy secara berkesinambungan melalui
pesantren. Hingga kini, sanad beliau masih diteruskan oleh para muridnya,
menunjukkan keberlangsungan tradisi ini. Studi ini juga menegaskan pentingnya
dokumentasi tradisi lokal sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara serta
membuka ruang kajian Qirâ’ah di luar riwayat Hafsh yang dominan
Kedudukan dan peran “PUSPAGA” dalam Proses Penetapan Dispensasi Kawin oleh Hakim di Pengadilan Agama Banjarmasin
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan dan implikasi surat
hasil pemeriksaan psikologis konseling perkawinan yang diterbitkan oleh Pusat
Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dalam proses penetapan dispensasi kawin
oleh hakim di Pengadilan Agama Banjarmasin. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh
adanya kebijakan administratif yang mewajibkan pemohon dispensasi kawin untuk
melampirkan surat hasil konseling sebelum perkara diregister di pengadilan
sebagai bagian dari implementasi Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun
2019.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris dengan pendekatan
kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan tiga konselor PUSPAGA
Bauntung Batuah Kota Banjarmasin dan tiga hakim Pengadilan Agama
Banjarmasin, serta didukung oleh studi dokumentasi dan analisis terhadap
peraturan perundang-undangan yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa surat hasil pemeriksaan psikologis
konseling dari PUSPAGA berkedudukan sebagai dokumen administratif yang
melengkapi persyaratan permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama
Banjarmasin. Namun demikian, surat tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat
terhadap hakim dalam menetapkan perkara, karena hakim tetap menjalankan
kewenangannya secara independen dengan mempertimbangkan fakta-fakta yang
terungkap di persidangan serta kepentingan terbaik bagi anak. Adapun peran surat
tersebut adalah memberikan informasi awal mengenai kesiapan psikologis dan
mental calon mempelai sehingga membantu hakim dalam memperoleh gambaran
mengenai kesiapan mereka dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Dalam
perspektif hukum Islam, keberadaan konseling tersebut dapat dipahami sebagai
upaya memastikan kemampuan (al-ba’ah) calon mempelai untuk menikah serta
sejalan dengan tujuan maqaṣid al-syarī‘ah dalam menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan
keturunan (ḥifẓ al-nasl). Oleh karena itu, keberadaan pemeriksaan psikologis dan
konseling perkawinan oleh PUSPAGA dapat dipahami sebagai bentuk maṣlaḥah
mursalah yang bertujuan mencegah kemudaratan serta mewujudkan kemaslahatan
bagi calon mempelai yang masih di bawah umur. Dengan demikian, surat hasil
pemeriksaan psikologis konseling tersebut berfungsi sebagai bahan pertimbangan
yang bersifat informatif dan suportif tanpa mengurangi independensi hakim dalam
menetapkan perkara dispensasi kawin
فعالية استخدام طريقة الغناء بوسيلة الصور لإتقان المفردات في تعليم مهارة القراءة لطلبة الصف الثامن في المدرسة المتوسطة الإسلامية الحكومية 1 بنجر = Efektivitas Penggunaan Metode Bernyanyi dan Media Gambar untuk Meningkatkan Mufradat dalam Pembelajaran Maharah Qiraah Pada Siswa Kelas VIII MTsN 1 Banjar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media
gambar dan metode bernyanyi dalam meningkatkan penguasaan mufradat pada
pembelajaran qirā’ah siswa kelas VIII MTsN 1 Banjar. Penelitian menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experimental design)
tipe Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri dari 32 siswa
kelas eksperimen dan 32 siswa kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes
pilihan ganda pada pretest dan posttest. Hasil analisis deskriptif menunjukkan
adanya peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen dari 60,94 menjadi 83,13
setelah diberi perlakuan menggunakan media gambar dan bernyanyi. Sementara itu,
kelas kontrol meningkat dari 68,75 menjadi 76,56. Hasil uji Mann–Whitney
menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,176 (> 0,05), sehingga tidak terdapat
perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelas eksperimen dan kontrol.
Namun demikian, peningkatan rata-rata yang lebih tinggi pada kelas eksperimen
menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dan metode bernyanyi lebih efektif
secara praktis dalam membantu siswa menguasai mufradat. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa media gambar dan metode bernyanyi memiliki kontribusi
positif dalam meningkatkan kemampuan mufradat siswa, meskipun pengaruhnya
belum signifikan secara statisti
Upaya Guru Membentuk Karakter Siswa Berbasis Ajaran Islam dalam Interaksi Sosial di MA SMIP 1946 Banjarmasin
Pembentukan karakter berbasis ajaran Islam merupakan aspek penting
dalam pendidikan, terutama untuk menghadapi tantangan moral dan sosial yang
berkembang dikalangan peserta didik. Nilai-nilai Islami diperlukan untuk
membimbing peserta didik agar mampu berinteraksi secara santun, bertanggung
jawab, dan berakhlak mulia. Guru Akidah Akhlak memegang peran penting sebagai
pendidik, pembimbing, dan teladan dalam membentuk karakter peserta didik
melalui penguatan nilai-nilai keIslaman.
cara langsu i
i se i
tahu i
nge i
k me i
ntu i
an u i
ju i
rtu i
litian ini be i
ne i
Pe i
k karakte i
ntu i
mbe i
dalam me i
ru i
paya gu i
u i
ng bagaimana dan
apa saja karakte i
r-karakte i
r be i
rbasis ajaran Islam yang dite i
rapkan di MA SMIP 1946
Banjarmasin. Se i
lain itu i
, pe i
ne i
litian ini ju i
ga be i
rtu i
ju i
an u i
ntu i
k me i
nge i
tahu i
i bagaimana
rbasis ajaran Islam se i
rta me i
nge i
tahu i
i apa
saja faktor pe i
nghambat dan pe i
ndu i
ku i
ng dalam me i
mbe i
ntu i
k karakte i
r be i
rbasis ajaran
Islam di MA SMIP 1946 Banjarmasin.
r be i
Penelitian ini berfokus pada pembentukan karakter peserta didik yang
diterapkan oleh guru Akidah Akhlak di MA SMIP 1946 Banjarmasin. Serta
dampaknya terhadap interaksi sosial peserta didik. Metode yang digunakan adalah
pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi. subjek penelitian terdiri dari guru dan peserta didik
di MA SMIP 1946 Banjarmasin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan karakter berbasis ajaran
Islam berjalan dengan baik. Guru menerapkan beberapa nilai karakter Islami, yaitu
akhlakul karimah, disiplin, kebersihan dan kerapian, ketaatan beribadah, serta adab
dalam berinteraksi. Upaya pembentukan karakter dilakukan melalui tiga tahapan
utama, yaitu moral knowing, moral loving, dan moral doing. Faktor pendukung dan
penghambat berasal dari pola asuh orang tua, lingkungan sosial, hubungan teman
sebaya, keteladanan guru serta program sekolah. Keteladanan guru dan pembiasaan
yang konsisten berperan penting dalam membentuk karakter Islami peserta didik.
Sehingga mereka mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam interaksi sosial
disekolah maupun lingkungan masyaraka
Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai Toleransi di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas keberagaman peserta didik di
SMKN 1 Banjarbaru yang mencakup perbedaan agama, suku, budaya, serta kondisi
fisik dan mental, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Keberagaman
tersebut menuntut adanya upaya yang terarah dalam menanamkan nilai toleransi
agar tercipta lingkungan sekolah yang harmonis, inklusif, dan saling menghargai.
Dalam konteks ini, guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dalam
membimbing dan membentuk sikap toleran peserta didik melalui berbagai strategi
pendidikan yang diterapkan di lingkungan sekolah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi yang diterapkan
oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam menanamkan nilai toleransi di SMKN 1
Banjarbaru, serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam
pelaksanaan strategi tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan
pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi tahap reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian ini adalah 1 orang
guru Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Banjarbaru dan 1 orang peserta didik,
dengan 2 informan pendukung yaitu Guru BK Koordinator Pendidikan Inklusi dan
Guru Pendidikan Agama Kristen. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber
dan triangulasi teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru PAI dilakukan melalui
keteladanan, pembiasaan sikap toleran dalam proses pembelajaran, penciptaan
budaya sekolah yang inklusif, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan
sehari-hari siswa. Faktor pendukung dalam penanaman nilai toleransi meliputi
dukungan kebijakan sekolah, kerja sama antar guru, lingkungan sekolah yang
multikultural, serta sikap terbuka sebagian besar siswa. Adapun faktor
penghambatnya antara lain perbedaan latar belakang siswa, keterbatasan waktu
pembelajaran, serta masih adanya pemahaman keagamaan yang belum sepenuhnya
inklusif. Dengan demikian, peran guru PAI menjadi kunci dalam membentuk sikap
toleran siswa di lingkungan sekolah yang beraga
Pelaksanaan Konseling Individual dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Broken Home di SMA Negeri 13 Banjarmasin
Kesulitan belajar adalah kondisi yang dialami oleh peserta didik dalam
menjalani proses belajar dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana
mestinya yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam memperoleh hasil
belajar sehingga prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah
ditetapkan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan pelaksanaan
konseling individual dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Broken Home dan
mendeskripsikan faktor pendukung pelaksanaan konseling individual dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa Broken Home di SMA 13 Banjarmasin.
Jenis dan Pendekatan penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan
penelitian lapangan (field research) yang dilakukan dalam pengumpulan data langsung
ke lokasi penelitian. Responden dan informan terdiri, 1 orang guru bimbingan dan
konseling dan 3 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi,
dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling individual dengan teknik
analisis transaksional yang diberikan oleh guru Bimbingan dan Konseling dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa broken home. Faktor pendukung pelaksanaan
konseling ini adalah adanya kerja sama antara guru BK dengan guru kelas, guru mata
pelajaran, dan orang tua, serta terciptanya suasana profesional. Adapun faktor
penghambatnya adalah siswa broken home cenderung sulit membuka diri, sehingga
guru BK perlu melakukan pendekatan yang lebih mendalam agar siswa bersedia
bercerita dalam proses konseling individual
تنفيذ تعليم مهارة القراءة باستخدام كتاب "القراءة الرشيدة" للصف السابع بمعهد الفلاح للبنات بنجر برو = Pelaksanaan Pembelajaran Maharah Qira;ah Dengan Menggunakan Kitab ةديشرلا ةءارقلا Untuk kelas 7 Di Pondok Pesantren Al-Falah Putri Banjarbaru
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan pembelajaran maharah qirā’ah
menggunakan kitab Al-Qirā’ah Ar-Rasyīdah pada siswi kelas VII Pondok Pesantren
Al-Falah Puteri Banjarbaru. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya maharah
qirā’ah dalam memahami teks bahasa Arab serta masih ditemukannya permasalahan
pembelajaran, seperti rendahnya kelancaran membaca dan kesulitan memahami
kosakata serta struktur kalimat pada sebagian siswi. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran maharah qirā’ah ditinjau dari tujuan
pembelajaran, materi, metode pembelajaran, dan sistem evaluasi. Metode yang
digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa
wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembelajaran maharah qirā’ah menggunakan kitab Al-Qirā’ah Ar-Rasyīdah
dilaksanakan secara terstruktur dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswi.
Guru menerapkan strategi pembelajaran seperti membaca bersama, perbaikan
pelafalan, penerjemahan menggunakan bahasa Arab Melayu, latihan perubahan
dhamir, serta peringkasan bacaan, disertai evaluasi bertahap melalui penilaian harian
dan ujian semester. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan kitab Al-Qirā’ah
Ar-Rasyīdah efektif dalam meningkatkan kelancaran membaca, ketepatan harakat, dan
pemahaman teks bahasa Arab di lingkungan pesantre
Exploring Phonemic Awareness Among College Students
Phonemic awareness plays a crucial role in oral language development
and constitutes a foundational skill for effective pronunciation and listening
instruction in English language teaching. This qualitative case study investigates
English phonemic awareness among Indonesian pre-service English teachers, with
particular focus on (1) how students demonstrate awareness of English phoneme
structures in pronunciation and listening contexts and (2) phoneme-related
difficulties they recognize in oral language experiences. The participants were six
English Education students at UIN Antasari Banjarmasin who were undertaking
their teaching practicum. Data were collected through semi-structured interviews
and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that participants
demonstrate phonemic awareness primarily at a conceptual and reflective level,
especially following formal instruction in phonetics and phonology. Students
showed the ability to recognize English phonemes as discrete sound units and to
articulate sound-based challenges affecting their pronunciation and listening
comprehension. However, this awareness was not consistently reflected in stable
phoneme production or accurate perception during spontaneous communication.
Several recurring phoneme-related difficulties were identified, including vowel
contrast confusion, consonant substitution, weak articulation, phoneme–grapheme
mismatch, and challenges in perceiving phoneme variation across English accents.
These difficulties were perceived by participants as directly influencing their oral
performance and comprehension. The study concludes that English Education
students possess developing but incomplete phonemic awareness, which functions
more as emerging metalinguistic knowledge than as an automated communicative
skill. The findings underscore the need for explicit and sustained phonemefocused
instruction
in
teacher
education
programs
to
strengthen
pronunciation
and
listening
competence
Strategies to Engage Young Learners’ Interest in Learning English: A Single Case Study
This study aims to describe the strategies used by teachers to engage young
learners’ interest in learning English at SDN 1 Sungai Tiung Banjarbaru. The
research employed a qualitative approach with a single case study design. The
participants of this study were an English teacher and students of the elementary
school. The data were collected through classroom observation, interviews, and
documentation. The data were analyzed by using data reduction, data display, and
conclusion drawing. The findings of this study revealed that the teacher applied
various strategies to increase students’ interest in learning English. These strategies
included the use of games, songs, chants, repetition, and interactive activities to
practice vocabulary, grammar, and speaking skills. The teacher also provided
positive reinforcement and constructive feedback to motivate students and to build
their confidence in using English. In addition, teaching aids and simple technology
were used to support the learning process and to create an enjoyable classroom
atmosphere. These strategies made students more active, enthusiastic, and confident
in participating in English learning activities