IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Pengaruh Musik K-Pop Terhadap Hafalan Al-Qur’an Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin
Fenomena maraknya budaya K-Pop telah berpengaruh hingga pada tingkat
perguruan tinggi di Banjarmasin yang memiliki konsentrasi Agama Islam yang
cukup tinggi yaitu UIN Antasari Banjarmasin. Terdapat beberapa mahasiswa UIN
Antasari Banjarmasin yang menunjukkan jati dirinya sebagai penggemar dengan
menggunakan atribut atau barang yang berhubungan dengan idolanya, seperti
menggunakan tas, sepatu, dan barang-barang terkait K-Pop lainnya. Oleh sebab itu,
fenomena K-Pop ini menjadi menarik untuk diteliti. Khususnya dalam hafalan Al
Qur’an yang merupakan salah satu skill dasar bagi seluruh mahasiswa UIN.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hafalan Mahasiswa UIN
Antasari yang menjadi penggemar musik K-Pop dan mengetahui faktor yang
memengaruhi hafalan Mahasiswa UIN Antasari yang menjadi penggemar musik K
Pop. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis
penelitian lapangan (field research) dengan melakukan teknik pengumpulan data
berupa penyebaran kuisioner melalui tautan Google Form.
Dari hasil penelitian, ditemukan kuantitas hafalan Al-Qur’an mahasiswa Ilmu
Al-Qur'an dan Tafsir angkatan 2021 dengan kriteria aktif (terdaftar sebagai
mahasiswa aktif dengan membayar UKT) dan didapatkan 12 mahasiswa yang
memenuhi kriteria tersebut dengan rincian 6 laki-laki dan 6 perempuan. Hampir
seluruh responden termasuk ke dalam kategori baik sampai sangat baik dengan
menguasai lebih dari 50% hafalan di juz 30. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
mayoritas kuantitas hafalan Al-Qur’an mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
angkatan 2021 rata-rata sangat baik dan baik, meskipun terdapat satu responden
yang mengalami kesulitan dalam mempertahankan hafalan. Hasil tersebut
dipengaruhi oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri responden seperti rasa
malas dalam mengulang hafalan serta faktor eksternal seperti terlalu banyak
berinteraksi dengan K-Pop. Adapun kiat-kiat yang efektif untuk menjaga stabilitas
hafalan seperti murajaah dan mengatur jadwal dalam menghafal Al-Qur’an
Konsep Al-Fâ’izûn Dalam Al-Qur’an
Latar belakang penelitian ini muncul dari pentingnya nilai kemenangan
yang sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman. Orang yang menang di pikiran
orang banyak adalah ketika berhasil mengalahkan lawan baik itu dalam sebuah
pertandingan, perlombaan dan semacamnya atau saat mendapatkan keuntungan
yang besar dalam berbisnis, berdagang atau bahkan ketika berhasil memperoleh
jabatan atau gelar akademik yang tinggi. Al-Qur’an memandang kemenangan
bukan sekadar perolehan itu semata, namun memberikan pandangan yang jauh
lebih luas dari pencapaian-pencapaian di atas. Oleh sebab itu, peneliti menggali dan
mengkaji lebih dalam bagaimana orang yang menang menurut perspektif Al-Qur’an
beserta penafsiran-penafsiran yang mendukung penjelasan al-fâ’izûn.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ayat-ayat Al-Qur’an yang
mengandung lafaz al-fâ’izûn dan menganalisis karakteristik yang terdapat pada al-
fâ’izûn maupun derivasinya, sehingga dapat memunculkan pemahaman orang yang
menang menurut perspektif Al-Qur’an.
Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan
pendekatan deskriptif kualitatif dan tafsir tematik. Hal ini digunakan untuk
mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan al- fâ’izûn serta menganalisis
orang yang menang menurut Al-Qur’an.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa, al- fâ’izûn sesuai dengan
namanya memiliki arti orang-orang yang menang. Istilah al-fâ’izûn ini merujuk
pada beberapa ayat al-Qur’an, yaitu Q.S. At-Taubah ayat 20, Q.S. Al-Mu’minun
ayat 111, Q.S. An-Nur ayat 52 dan Q.S. Al-Hasyr ayat 20 yang memerintahkan
umat Islam agar memiliki karakteristik al-fâ’izûn yang dalam konteks Al-Qur’an
berarti mereka yang beriman, berhijrah menuju tempat yang baik, berjihad di jalan
Allah dan sabar menghadapi ujian-Nya. Berdasarkan penjelasan di atas, istilah ini
muncul dalam Al-Qur’an sebagai penanda bagi mereka yang mendapatkan
kenikmatan dunia dan kebahagian di akhirat. Temuan ini menegaskan bahwa orang
yang menang dalam Al-Qur’an tidak hanya berhasil dan sukses di dunia saja namun
mendapatkan kenikmatan abadi di akhirat kela
Gambaran Gejala Depresi pada Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Wanita Kawin Muda di Tanah Bumbu)
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kekerasan yang
terjadi di dalam rumah tangga, menggambarkan gejala depresi yang di alami oleh
Korban KDRT, dan cara korban menangani Gejala Depresi. Subjek dalam
penelitian ini adalah seorang istri dan ibu rumah tangga, berlokasi di kabupaten
Tanah Bumbu kecamatan Sungai Loban.
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field
research), dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian studi
kasus bersifat single case, yang dimana peneliti menggali suatu fenomena tertentu
yang dapat berupa individu, peran, organisasi, komunitas, kelompok bahkan
bangsa. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, skala, dan
dokumentasi. Perhitungan skala pada penelitian ini dengan skala Beck Depression
Inventory II (BDI) dan skala Woodworth Questionnaire (WWQ) digunakan untuk
menegaskan tingkat depresi pada seseorang.
Adapun hasil penelitian ini, yaitu: Gambaran bentuk kekerasan yang
dialami subjek, yaitu kekerasan fisik berupa pukulan (sudah sejak hubungan
pacaran), di dorong, dibenturkan ke pintu hingga memar di beberapa anggota
tubuh, tubuh di tarik-tarik kasar. Selain itu, kekerasan verbal juga sudah sering di
terima subjek sejak sebelum menikah, seperti sering dimarahi, dibentak, dihina
dengan kata-kata kasar “bodoh”, “murahan”, “mauan”. Sedangkan kekerasan
psikologis yang dilakukan suami subjek yaitu sering kali diperlakukan tidak adil
(lebih
mengutamakan keluarga/ibunya), merasa tidak dipedulikan dan
diperhatikan, mengabaikan tanggung jawab terhadap anaknya. Gejala depresi
yang dialami oleh subjek seperti gejala fisik, gejala psikis, dan gejala sosial.
Subjek NK mengalami sakit lambung, sering merasa kelelahan, sering sedih,
merasa kosong, bingung, putus asa, ketakutan yang berlebihan, tidak ada
berinteraksi dengan orang-orang di sekitar lingkungan, tidak ada semangat untuk
melakukan sesuatu, hanya berpikir untuk bisa tidur dalam waktu yang lama.
Membuat emosi dan perasaannya hancur, tidak stabil, dan putus asa, hingga
berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Kekerasan psikologis subjek merasa
diperlakukan tidak adil, tidak diperhatikan dan tidak bertanggung jawab.
Kekerasan tersebut memberikan dampak secara fisik dan psikologis terhadap
subjek
Mimpi Menurut Erich Fromm (Analisis Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre)
Fenomena mimpi telah lama menjadi objek perdebatan di berbagai bidang
keilmuan, baik dalam psikologi, agama, maupun filsafat. Dalam konteks filsafat,
mimpi tidak hanya dipahami sebagai aktivitas alam bawah sadar, tetapi juga sebagai
cerminan dari keberadaan dan makna eksistensial manusia. Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh kurangnya kajian filosofis yang mengkaji mimpi sebagai
ekspresi eksistensi manusia secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini
berusaha untuk mengeksplorasi pemikiran Erich Fromm tentang mimpi sebagai
bentuk komunikasi simbolik yang memiliki makna psikologis dan kemanusiaan
yang dalam, serta menganalisisnya melalui perspektif filsafat eksistensialisme Jean
Paul Sartre yang menekankan pada kebebasan,kesadaran manusia, dan makna
dalam eksistensi manusia. Rumusan masalah penelitian ini, yaitu: 1) Bagaimana
konsep mimpi menurut Erich Fromm. 2) Bagaimana analisis filsafat
eksistensialisme Jean Paul Sartre terhadap pandangan Erich Fromm tentang kaitan
mimpi dan eksistensi manusia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
pustaka (library research), serta menggunakan analisis hermeneutika filosofis
sebagai pisau bedah untuk memahami teks dan pemikiran tokoh. Data primer
diambil dari Buku “Bahasa yang Terlupakan: Pengantar Tafsir Mimpi, Dongeng,
dan Mitos” karya Erich Fromm dan buku “Psikologi Imajinasi” karya Jean Paul
Sartre, data sekunder berasal dari buku, jurnal, skripsi, artikel, dan literatur lainnya
yang relevan. Data diolah menggunakan teknik content analysis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Erich Fromm memandang mimpi
sebagai bahasa simbolik yang mampu mengungkapkan kondisi psikologis manusia
secara jujur, serta memberikan wawasan terhadap kepribadian individu (si
pemimpi). Semntara itu, berdasarkan analisis filsafat eksistensialisme Jean Paul
Sartre terhadap pandangan Erich Fromm tersebut, menemukan bahwa mimpi
sebagai bagian dari kesadaran imajinatif pasif, yang di mana kebebasan manusia
dalam mimpi tidak sepenuhnya hadir karena tidak adanya kesadaran reflektif.
Karena itu, Sartre memandang bahwa manusia tidak dapat mengontrol atau
mengarahkan isi mimpinya seperti halnya dalam keadaan sadar, sehingga
kebebasan manusia dalam mimpi bersifat terbatas. Namun demikian, dari
pertemuan dua pemikiran tokoh ini, dapat dipahami bahwa mimpi tetap memiliki
nilai eksistensial manusi
Dinamika Psikologis Homoseksual Pasien Dengan Fatherless
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya kasus
fatherless yang diduga memiliki keterkaitan dengan pembentukan identitas seksual
serta perkembangan psikologis. Lebih parah lagi homoseksual dan kasus HIV.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah dinamika psikologis
homoseksual pasien dengan fatherless dan bagaimanakah fatherless dapat
menimbulkan terjadinya homoseksual.
Jenis dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan
pendekatan studi kasus (case study). Subjek penelitian ini adalah pasien
homoseksual dengan kondisi fatherless pada poliklinik VCT RSUD Ratu Zalecha
Martapura. Sedangkan objek penelitiannya adalah dinamika psikologis.
Pengumpulan data melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Secara
keseluruhan, Intake Interview terdiri dari 38 pertanyaan dengan verbatim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, ketiadaan figur ayah
(fatherless) menunjukan kompleksitas dinamika psikologis pasien yang terbentuk
dari pola asuh, pengalaman masa kecil, kenyataan yang dihadapi, kejadian trauma,
konflik-konflik, gejala klinis dan penyimpangan seksual. Pada aspek kognitif
pasien menunjukan distorsi identitas diri dan disorientasi seksual dengan berusaha
memenuhi kebutuhan figur ayah melalui orang lain. Pada aspek afektif menunjukan
adanya kekosongan emosional, kurang dicintai sejak kecil, perasaan tidak
terlindungi, hampa, marah, iri, dan membutuhkan afeksi laki-laki dengan merasa
nyaman saat terjalin kedekatan. Pada aspek konatif aktivitas homoseksual sebagai
bentuk pemenuhan kebutuhan psikologis meskipun ada motivasi untuk sembuh
dengan menjalani pengobatan. Kedua, fatherless dapat membentuk homoseksual
disebabkan terjadinya kehilangan model maskulinitas sebagai panutan sehingga
mencari figur pengganti pada orang lain dalam hal ini sosok laki-laki yang lebih
tua. Keadaan ini juga sebagai bentuk reaksi atas kebutuhan afeksi yang tidak
terpenuhi yang muncul dengan sikap ketertarikan sesama jenis. Disisi lain konflik
batin dan pertahanan diri diwujudkan dengan kesulitan menerima penampilan fisik
dan berusaha untuk sembuh dari penyakit medis kronis HI
Etika Pembebasan dalam Islam Menurut Tariq Ramadan perspektif Ali Shariati
Adanya problem etika dalam masyarakat Muslim kontemporer yang di warnai
keterbatasan pemikiran, ketidakadilan sosial, serta marginalisasi kelompok tertentu,
menunjukkan bahwa umat Islam masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan
nilai-nilai dasar ajaran Islam. Situasi ini menegaskan perlu adanya etika
pembebasan yang tidak hanya berisi nilai-nilai moral, tetapi juga mengarahkan pada
penerapan langsung dalam menghadapi ketidakadilan tersebut. Tariq Ramadan
menawarkan konsep etika pembebasan yang menekankan pentingnya tauhid
sebagai pembebasan, keadilan sosial, pendidikan kritis, politisasi agama,
perjuangan dan pengorbanan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
perspektif Ali Shariati sebagai pisau analisis untuk melihat konsep etika
pembebasan Tariq Ramadan.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan
kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari karya-karya Tariq
Ramadan, sedangkan data sekunder berasal dari buku-buku, jurnal dan artikel
ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-analitis,
yaitu menguraikan gagasan-gagasan pokok kedua tokoh kemudia dianalisis secara
kritis untuk menemukan titik temu serta relevansinya dalam konteks sosial
keagamaan kontemporer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika pembebasan menurut Tariq
Ramadan bertujuan membebaskan umat Islam dari penindasan, keterbelakangan,
dan ketidakadilan melalui penguatan nilai tauhid, keadilan sosial, perjuangan dan
pengorbanan, serta penolakan terhadap politisasi agama. Pendidikan berperan
sebagai sarana utama dalam membangun kesadaran kritis dan tanggung jawab
sosial umat. Adapun hasil analisis dari pemikiran Ali Shariati menegaskan bahwa
prinsip-prinsip tersebut memiliki kesinambungan dengan pemikirannya, terutama
dalam memahami tauhid sebagai landasan pembebasan, keadilan sosial, perjuangan
dan pengorbanan, depolitisasi agama dan pendidikan sebagai media transformasi
sosial. Dengan demikian, terdapat kesalarasan antara pemikiran Ali Shariati dan
Tariq Ramadan dalam merumuskan etika pembebasan dalam Islam yang relevan
bagi kondisi masyarakat Muslim kontempore
Optimalisasi Pendaftaran Haji Melalui Aplikasi Haji Pintar di Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin (Studi Kasus Pendaftaran Haji Tahun 2025)
Penelitian ini dilatarbelakangi dari kondisi masih rendahnya penggunaan
aplikasi haji pintar oleh calon jemaah haji di kota Banjarmasin. Padahal, aplikasi
tersebut dibuat untuk mempermudah proses pendaftaran serta meningkatkan
kualitas layanan haji agar lebih tepat, cepat, dan transparan. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui sejauh mana aplikasi haji pintar mampu
mengoptimalkan proses pendaftaran haji secara online melalui dua indikator utama,
yaitu efektivitas dan efisiensi.
Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui
observasi, wawancara, dan dokumenter.Teknis analisis data dilakukan melalui
tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini
menggunakan metode triangulasi yang meliputi triangulasi teknik, sumber, dan
waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi sumber dilakukan dengan
membandingkan data dari beberapa narasumber, seperti pegawai penyelenggara
haji dan calon jemaah haji, sedangkan triangulasi waktu dilakukan dengan
pengumpulan data pada waktu yang berbeda untuk memastikan konsistensi
informasi.
Hasil dari penelitian ini penggunaan aplikasi haji pintar di Kantor
Kementerian Agama Kota Banjarmasin masih belum optimal. Hasil dari optimal ini
dilihat dari segi efektivitas, aplikasi haji pintar dinilai sudah cukup baik dalam
memberikan kemudahan bagi calon jemaah yang memahami teknologi. Aplikasi ini
membantu mempercepat proses pendaftaran, meminimalkan kesalahan data, dan
memberikan informasi yang lebih transparan. Namun, pemahaman masyarakat
terhadap aplikasi ini masih terbatas, terutama bagi pengguna lanjut usia, sehingga
sosialisasi dan pendampingan masih perlu ditingkatkan. Dari sisi efisiensi, aplikasi
ini mampu mempercepat waktu respons, memberikan informasi yang akurat dan
memudahkan akses layanan tanpa harus datang langsung ke kantor. Meski
demikian, masih ditemukan kendala teknis seperti kesalahan input data dan
keterbatasan fitur koreksi mandiri
Perlindungan Hukum Bagi Instruktur Mengemudi Terhadap Kerusakan Mobil di Banjarmasin
Masih ditemukan praktik pembebanan ganti rugi secara sepihak kepada
instruktur mengemudi, tanpa adanya perjanjian kerja yang jelas dan tanpa
mempertimbangkan prinsip-prinsip keadilan dalam hukum positif maupun hukum
Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk hubungan kerja
antara lembaga kursus mengemudi dan instruktur di Banjarmasin serta bagaimana
perlindungan hukum bagi instruktur terhadap kerusakan mobil dalam perspektif
Hukum Ekonomi Syariah
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis
empiris. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan instruktur mengemudi
dan pihak pengelola lembaga kursus di Banjarmasin, sedangkan data sekunder
diperoleh dari literatur, peraturan perundang-undangan, dan fatwa terkait. Analisis
data dilakukan secara deskriptif-analitis untuk mengungkap pola hubungan kerja,
bentuk akad yang digunakan, serta mekanisme tanggung jawab atas kerusakan
mobil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk hubungan kerja antara
lembaga kursus dan instruktur pada umumnya tidak diformalkan dalam akad
tertulis, sehingga perlindungan hukum bagi instruktur menjadi lemah. Dalam
beberapa kasus, kerusakan mobil langsung dibebankan kepada instruktur meskipun
tidak terdapat bukti kelalaian. Dari perspektif hukum positif, perlindungan
seharusnya diberikan melalui ketentuan KUH Perdata, UU Ketenagakerjaan, dan
regulasi sektor informal yang mengharuskan pemberi kerja menyediakan alat kerja
yang layak dan memberikan perlindungan keselamatan kerja. Sementara itu, dalam
perspektif hukum ekonomi syariah melalui teori ijarah, tanggung jawab kerusakan
kendaraan berada pada pemilik barang selama kerusakan tidak disebabkan oleh
kesengajaan atau kelalaian (ta’addi) dari instruktur. Dengan demikian, praktik
pembebanan kerusakan secara sepihak tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan
perlindungan hukum dalam syaria
Pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa Tentang Daya Antiseptik Daun Beluntas (Pluchea indica L.) Pada Praktikum Mikrobiologi
Daun beluntas (Pluchea indica L.) merupakan tanaman yang dikenal
mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan polifenol yang berpotensi
sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya
antiseptik daun beluntas pada pertumbuhan bakteri Staphylococcus aereus,
mendeskripsikan validitas dan kepraktisan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM)
tentang daya antiseptik daun beluntas.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan menggunakan
desain Educational Design Research (EDR) yang dibatasi sampai tahap
development or prototyping phase dengan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian
ini dihasilkan produk berupa LKM yang dikembangkan berdasarkan hasil
eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima
perlakuan konsentrasi ekstrak (0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%). LKM kemudian
di uji validitas dan kepraktisannya dengan menggunakan model evaluasi formatif
Tessmer (1993). Data dianalisis menggunakan statistik inferensial melalui uji
ANOVA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas memiliki
aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, meskipun tidak
menunjukkan perbedaan signifikan pada tiap konsentrasi. Faktor yang
mempengaruhi di antaranya jenis pelarut yang digunakan serta dugaan dari
penurunan kadar senyawa aktif akibat suhu pada proses pengeringan. Hasil
validasi LKM oleh ahli materi memperoleh nilai 86,05% dan ahli media
memperoleh 86,25% sehingga didapatkan nilai rata-rata 86,15% dengan kategori
sangat valid, dapat digunakan tanpa revisi. Hasil dari uji kepraktisan memperoleh
nilai 86,98% dengan kategori sangat praktis, dapat digunakan tanpa revisi.
Dengan demikian, LKM yang dikembangkan dinyatakan valid dan praktis untuk
digunakan sebagai bahan ajar pendukung praktikum Mikrobiologi
Pendekatan Restorative Justice Penyelesaian Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Polresta Banjarmasin
Penelitian ini membahas penerapan pendekatan restorative justice dalam
penyelesaian tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Polresta
Banjarmasin. Permasalahan KDRT merupakan isu yang kompleks dan seringkali
tidak dapat diselesaikan secara efektif melalui pendekatan hukum pidana
konvensional, mengingat adanya hubungan personal dan legal antara pelaku dan
korban. Restorative justice menjadi alternatif penyelesaian yang lebih
menekankan pada pemulihan hak-hak korban, serta pemulihan hubungan antara
pelaku dan korban, dibandingkan dengan sekadar pemberian sanksi pidana.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pendekatan restorative
justice dalam penyelesaian tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga
(KDRT) di Polresta Banjarmasin. Restorative justice merupakan metode
penyelesaian perkara pidana yang menekankan pada pemulihan hubungan antara
pelaku, korban, keluarga, dan masyarakat melalui musyawarah serta mediasi
guna mencapai perdamaian dan keadilan yang substantif. Studi ini juga
mengintegrasikan teori adat Badamai sebagai kearifan lokal masyarakat Banjar
yang sejalan dengan prinsip restorative justice dalam menjaga harmoni sosial.
Penelitian membatasi penerapan restorative justice pada tindak pidana ringan
sesuai peraturan yang berlaku, yaitu kasus dengan ancaman hukuman maksimal
5 tahun dan kerugian materil tidak lebih dari Rp2,5 juta. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pendekatan restorative justice, dalam kerangka hukum
nasional dan nilai-nilai adat Badamai, efektif digunakan sebagai alternatif
penyelesaian perkara KDRT di Polresta Banjarmasin dengan berbagai tantangan
dan peluang dalam implementasinya. Pendekatan ini tidak hanya mendorong
tanggung jawab pelaku tetapi juga memulihkan hak dan kondisi korban serta
menjaga keutuhan sosial di masyarakat.
Penerapan restorative justice diharapkan dapat mengatasi berbagai
kendala seperti kurangnya pemenuhan hak korban dan dampak psikologis yang
berkepanjangan. Mekanisme yang diterapkan di Polresta Banjarmasin meliputi
antara pelaku dan korban, pembuatan surat pernyataan tidak mengulangi
perbuatan, serta penghentian proses penyidikan apabila tercapai perdamaian yang
disaksikan oleh keluarga dan tokoh masyaraka