IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
    25640 research outputs found

    Peran Single Parent dalam Membimbing Anak-anaknya Menghafal Al-Qur’an (Studi Kasus pada Ibu Norhidayati di Sungai Lulut)

    Get PDF
    Hj Norhidayati adalah seorang single parent yang mempunyai delapan anak, dalam keluarga ini, menghafal Al-Qur’an menjadi kegiatan rutin yang terjadi setiap harinya. Semenjak kehilangan suami tercinta Ustadzah Norhidayati melanjutkan rutinitas menghafalkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya. Walaupun seorang single parent beliau mampu mendidik anak-anaknya dalam menghafal Al-Qur’an dengan segala kesulitan yang dihadapi seperti kesulitan ekonomi. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan guna mencari tau bagaimana cara beliau dalam menghafalkan Al Qur’an kepada delapan anak-anaknya dalam kondisi sebagai single parent. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) sebagai langkah dalam melaksanakan penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara serta dokumentasi. Kemudian, data dianalisis menggunakan langkah seperti pemeriksaan, pengklasifikasian, pengujian data atau pengecekan ulang data yang dikumpulkan. Hasilnya menunjukkan bahwa 1) proses pemberian dukungan dan motivasi Ustadzah Hj. Norhidayati menerapkan pendekatan religius dengan melibatkan Allah Swt sebagai tujuan dalam menghafal Al-Qur’an serta pemberian hadiah dalam bentuk barang yang menjadi kebutuhan anak-anak; 2) proses bimbingan, beliau menerapkan metode yang fleksibel dan kontekstual sesuai usia dan kemampuan anak, yakni sima’i untuk anak usia dini dan bi an-nadzar untuk anak yang lebih besar; 3) beliau mempraktikkan suri teladan dengan berbagai cara yaitu, keteladanan perilaku, keteladanan keyakinan dalam beragama, keteladanan dalam sikap, keteladanan intelektual dan keteladanan emosional. 4) Ustadzah Hj. Norhidayati menjalankan prosese pengawasan dan evaluasi hafalan secara nonformal namun konsisten, melalui muraja’ah harian dan pendekatan persuasif berbasis kasih sayang

    Pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (Kur) Perbankan Syariah Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Di Kota Palangka Raya

    Get PDF
    Perkembangan ekonomi kreatif merupakan fokus utama dalam strategi pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan , dengan potensi signifikan di Kota Palangka Raya yang berbasis pada kekuatan dan kekayaan budaya lokal Dayak. Meskipun demikian, pelaku usaha di sektor ini masih menghadapi kendala fundamental dalam mengakses pembiayaan formal dari lembaga keuangan. Walaupun pemerintah telah menyediakan landasan hukum melalui UU No. 24 Tahun 2019 dan PP No. 24 Tahun 2022 untuk memfasilitasi pembiayaan berbasis kekayaan intelektual , tantangan dalam implementasinya menyebabkan skema ini belum optimal. Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan program Pemerintah yang iperuntukkan untuk pelaku usaha UMKM yang memerlukan modal. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk mengkaji implementasi dan problematika pembiayaan KUR syariah di Kota Palangka Raya , dengan tujuan memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan keuangan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitiannya adalah di Bank Mu'amalat dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan fokus pada pembiayaan perbankan syariah bagi pelaku ekonomi kreatif dan penyelesaian gagal bayar KUR. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan pegawai bank, dan data sekunder berupa dokumen seperti KUHPerdata dan fatwa fatwa DSN. Teknik pengumpulan data utamanya adalah wawancara dan dokumentasi, meskipun data nasabah bersifat rahasia dan hanya dapat diperoleh secara lisan melalui wawancara. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui beberapa tahapan, yaitu editing, classifying, verifying, analizing, dan concluding untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif tidak mengatur pembiayaan secara spesifik untuk sektor tersebut , pemerintah menyediakan alternatif melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan persyaratan ringan dan bunga terjangkau. Pembiayaan KUR ini menggunakan akad seperti murabahah, ijarah, dan musyaraqah mutanaqisah. Namun, pembiayaan KUR syariah bagi pelaku ekonomi kreatif di Palangka Raya menghadapi masalah kompleks antara batasan regulasi dan mekanisme penyelesaian Non-Performing Financing (NPF) yang terbatas. Larangan agunan tambahan untuk KUR di bawah Rp 100 juta menimbulkan risiko signifikan bagi bank syariah. Meskipun ada lembaga penjamin kredit, permasalahan tidak terselesaikan sepenuhnya karena penjamin hanya menanggung sebagian kerugian, sementara bank masih menanggung sisanya. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah mengkaji ulang Pasal 14 ayat (3) Permenko Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2023 untuk mengatasi masalah ini, sambil tetap memfasilitasi pembiayaan yang mudah bagi pelaku ekonomi kreati

    Analisis Praktik Donasi Kepada Penerjemah Ilegal dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Ekonomi Syariah

    Get PDF
    Penelitian ini menganalisis praktik donasi digital kepada penerjemah komik ilegal dari perspektif hukum positif Indonesia dan hukum ekonomi syariah. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi bagaimana praktik tersebut berhadapan dengan regulasi yang ada, serta mengevaluasi keabsahannya berdasarkan prinsip-prinsip muamalah dan dampaknya menurut maqashid syariah. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, yang berfokus pada analisis mendalam terhadap bahan hukum primer, seperti Undang-Undang Hak Cipta, Undang Undang ITE, dan Fatwa DSN-MUI, serta literatur hukum dan fikih yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik donasi digital kepada penerjemah ilegal melanggar hukum positif, karena secara substansial memenuhi unsur-unsur pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan Undang-Undang Pengumpulan Uang atau Barang serta Syarat Pengguna Webtoon. Dari perspektif hukum ekonomi syariah, akad donasi ini dinilai tidak sah karena tujuan utamanya adalah untuk mendukung perbuatan yang haram (pelanggaran hak cipta), serta mengandung unsur-unsur gharār, tadlīs, dan zulm. Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan. Pertama, praktik ini merusak ekosistem industri kreatif yang sah, merugikan pencipta dan penerbit, serta menghambat inovasi. Kedua, dari sisi syariah, praktik ini secara fundamental bertentangan dengan tujuan-tujuan syariah (maqāṣid syarī’ah), khususnya dalam hal melindungi harta (ḥifẓ al-māl), akal (ḥifẓ al-‘aql), dan agama (ḥifẓ al-dīn). Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan penegakan hukum, pengetatan kebijakan platform digital, dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mendorong budaya konsumsi konten yang legal dan bertanggung jawab

    Analisis Efektivitas Hukum Terhadap Fenomena Penundaan Pembagian Harta Warisan pada Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan

    Get PDF
    Masyarakat Banjar dikenal sebagai masyarakat yang religius dan memiliki adat badamai, namun demikian di tengah citra tersebut banyak terjadi kasus penundaan pembagian harta warisan yang menimbulkan konflik dan putusnya tali silaturahmi di antara ahli waris. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa mengapa penundaan pembagian harta warisan tersebut terjadi, dengan rumusan masalah: 1) Bagaimanakah penundaan terjadi pada kasus-kasus pembagian harta warisan pada masyarakat Banjar? 2) Bagaimana penjelasan Teori Efektivitas Hukum terhadap penundaan pembagian harta warisan pada masyarakat Banjar? 3) Bagaimanakah bentuk progresivitas hukum dalam rangka penyegeraan pembagian harta warisan sebagai solusi dari praktik penundaan pembagian harta warisan pada masyarakat Banjar? Penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan metode penelitian kualitatif, dan dengan pendekatan sosio-legal. Data diperoleh melalui wawancara, observasi partisipan dan studi dokumen. Sumber data primer adalah masyarakat Banjar yang melakukan penundaan pembagian harta warisan, pihak pengadilan agama, para hakim, pengacara, ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat umum. Sedangkan sumber data sekunder meliputi teks-teks agama, hukum waris Islam, hukum waris adat, undang-undang tentang peradilan agama dan hakim, undang-undang tentang advokat, Kompilasi Hukum Islam, Fatwa MUI dan penelitian-penelitian terdahulu tentang penerapan waris pada masyarakat Banjar. Hasil penelitian ini adalah: Pertama, penundaan pembagian harta warisan dilakukan dalam bentuk musyawarah dan non musyawarah. 1) Musyawarah; menghasilkan kesepakatan semua ahli waris, dan tidak mencapai kesepakatan di mana ada ahli waris yang ingin harta warisan dibagikan dan ada yang tidak. 2) Non musyawarah; harta warisan tidak dibagikan dan dikuasai oleh salah satu ahli waris. Kedua, dalam perspektif Teori Efektivitas Hukum dengan berbagai versinya, penundaan pembagian harta warisan pada masyarakat Banjar terjadi karena: 1) Keterbatasan kewenangan penegak hukum, di mana pihak pengadilan agama, hakim, advokat hanya memiliki kewenangan dalam bentuk memberi nasehat secara informal, ulama juga tidak banyak membahas materi waris dan waktu pembagian waris dalam aktifitas dakwahnya, sehingga pengetahuan masyarakat tentang waris hanya didapatkan secara turun temurun. 2) Kitab-kitab Fiqh dan Kompilasi Hukum Islam tidak eksplisit menyatakan waktu pembagian waris. Demikian juga fatwa MUI, justru memberikan kecenderungan kepada penundaan pembagian harta warisan. 3) Masyarakat Banjar mempercayai bahwa harta warisan adalah sumber konflik sehingga membicarakan adalah tidak etis. Namun kemudian terjadi penyimpangan, di mana menunda pembagian waris adalah untuk penguasaan harta warisan. Ketiga, berdasarkan analisis Teori Efektivitas Hukum, peneliti menggagas progresivitas hukum waris melalaui interpretasi hukum yang berdasarkan asas ijbāri, kaidah lughawiyah, mashlahah mursalah, syādd al-dzāri’ah serta kepercayaan dan nilai-nilai yang hidup pada masyarakat Banjar dengan: 1) Mengoptimalkan peran penegak hukum melalui penyuluhan dan sosialisasi, 2) Menghadirkan aturan hukum yang lebih tegas; Positivisasi waktu pembagian waris, 3) Harmonisasi hukum waris Islam dan nilai-nilai positif yang hidup di masyarakat, dengan menawarkan rentang waktu masa penyelesaian/pembagian waris tidak lebih dari 100 (seratus) hari setelah wafatnya pewaris. Penetapan waktu ini untuk mengakomodasi nilai kepantasan yang berlaku pada masyarakat Banjar sekaligus untuk memberikan kepastian hukum kepada semua ahli waris

    Al-Qur’an Sebagai Pelindungan Diri: Studi atas Tradisi Peletakan Buku Yasin di Dekat Bayi Baru Lahir di Desa Jelapat II Kecamatan Mekarsari

    Get PDF
    Perbincangan penelitian ini bertolak dari fenomena tradisi lokal masyarakat Desa Jelapat II, Kecamatan Mekarsari, yang meletakkan Buku Yasin di dekat bayi baru lahir sebagai bentuk perlindungan dari gangguan makhluk halus dan energi gaib. Praktik ini menunjukkan adanya interseksi antara keyakinan keagamaan Islam dan kepercayaan budaya lokal, di mana Al-Qur’an diposisikan bukan hanya sebagai kitab suci yang dibaca, tetapi juga sebagai simbol pelindung spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan tradisi peletakan Buku Yasin, mengungkap makna simbolik di baliknya, memahami persepsi masyarakat terhadap sakralitas Al-Qur’an, serta menganalisis fungsi sosial dan psikologis tradisi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dengan enam informan dari berbagai latar belakang sebagai sumber data utama. Analisis data dilakukan secara tematik dengan pendekatan teori sakralitas Mircea Eliade dan fungsionalisme Bronislaw Malinowski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini dilaksanakan dengan meletakkan Buku Yasin beserta benda-benda lain seperti cermin, jeruk nipis, dan bawang di dekat kepala bayi sejak kelahiran hingga usia 40 hari. Masyarakat memaknai Buku Yasin sebagai simbol kehadiran ayat-ayat Allah yang dipercaya dapat menghalau gangguan dari makhluk gaib. Sakralitas Buku Yasin dipahami secara reseptif, di mana keberadaan fisiknya diyakini cukup menghadirkan perlindungan tanpa harus dibaca. Fungsi sosial tradisi ini tampak dari keterlibatan lintas generasi yang memperkuat nilai-nilai yang dipegang bersama dan warisan budaya. Secara psikologis, tradisi ini menciptakan rasa aman bagi orang tua, khususnya ibu, dalam merawat bayi di masa awal kehidupannya yang dianggap rentan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi peletakan Buku Yasin merupakan wujud konkret dari Living Qur’an, di mana masyarakat secara aktif menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam bentuk simbolik, kultural, dan spiritual yang kontekstua

    Manajemen Boarding School (Studi Multisitus di SMA Islam Insan Madani dan SMA Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin)

    Get PDF
    Boarding school merupakan sekolah berasrama yang dikelola untuk menerapkan sistem pendidikan terstruktur dan optimal dengan tujuan memaksimalkan pembelajaran siswa di sekolah dan asrama. Boarding school menekankan pada aspek pendidikan karakter, pengamalan praktek ibadah, penguatan keterampilan dan bahasa. Untuk dapat mengelola boarding school dengan baik, diperlukan kemampuan manajemen yang baik pula dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Penenlitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan boarding school di SMA Islam Insan Madani dan SMA Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin. Pengelolaan boarding school mencakup proses perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan dan pengawasan. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah dan pengelola asrama di SMA Islam Insan Madani dan SMA Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin. Adapun objek penelitian adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam mengelola program boarding school di SMA Islam Insan Madani dan SMA Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukan: (1) Perencanaan manajemen boarding school di SMA Islam Insan Madani dan SMA Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin menentukan beberapa tahap, dimulai dari menetapkan target dan tujuan sesuai dengan visi misi sekolah; sumber daya yaitu berupa penentuan SDM tenaga pendidik dan kependidikan yang berkompeten dalam bidangnya; dan menetapkan standar dibidang keagamaan, sosial, nilai-nilai karakter, bahasa, dan program tahfiz al-qur’an, (2) Pengorganisasian meliputi pembagian kelompok kerja, penugasan dan tanggung jawab, (3) Pelaksanaan melakukan program kegiatan sehari-hari menggunakan metode pembiasaan, nasehat, pembinaan disiplin, pengawasan yang bertujuan untuk mengembangkan berbagai potensi sesuai dengan visi misi bagi peserta didik, (4) Dalam pengawasan, meliputi pengawasan secara langsung dengan melihat langsung proses kegiatan pelaksanaan para siswa diasrama, dan pengawasan melalui laporan meliputi laporan dari pengasuh asrama atau musyrif/ah dalam agenda rapat rutin setiap pekan, bulanan, dan evaluasi tahuna

    Nilai-Nilai Pluralisme Positif Pada Pembelajaran Pai Di Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Kota Banjarmasin

    Get PDF
    Pembelajaran PAI pada lembaga Muhammadiyah memiliki kelebihan pada, mengintegrasikan pembelajaran agama Islam, sejarah dan nilai-nilai Muhammadiyah, serta Bahasa Arab. Salah satu studi kasus awal yang penulis lakukan adalah di SMK Muhammadiyah 4 Al-Amin. Pembelajaran PAI belum menerapkan konsep pluralisme positif, sehingga tidak jarang pembelajaran ini membuat celah pemisah paham agama Islam. Padahal jika mengaitkan PAI dengan pluralisme positif dapat memperkuat pemahaman siswa tentang bagaimana ajaran Islam mendukung keragaman dan inklusivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis implementasi nilai-nilai pluralisme positif pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di lembaga pendidikan Muhammadiyah Kota Banjarmasin, khususnya di SMK Muhammadiyah 1 dan SMK Muhammadiyah 4 Banjarmasin. Fokus penelitian meliputi identifikasi aspek nilai-nilai pluralisme positif dalam pembelajaran PAI serta implementasinya dalam praktik pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru PAI, dan siswa, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan integrasi nilai nilai pluralisme dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai pluralisme positif belum terumuskan secara eksplisit dalam kurikulum Muhammadiyah, praktik pembelajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah telah mencerminkan nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai pluralisme positif yang ditemukan antara lain sikap positif terhadap keyakinan, toleransi terhadap perbedaan, penerimaan terhadap keragaman, dan pemberian ruang bagi siswa untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya. Implementasi nilai-nilai tersebut tercermin dalam tiga ciri pendidikan Muhammadiyah, yaitu Education for All (pendidikan untuk semua kalangan), Non-Discriminative (tidak diskriminatif), dan Non Confessional (tidak memaksakan doktrin). Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dalam memperkaya kajian integrasi pluralisme dalam pendidikan Islam, serta secara praktis memberikan panduan bagi lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk mengembangkan pembelajaran PAI yang inklusif, moderat, dan humani

    Pendidikan Vokasi dalam Membentuk Kemandirian Santri (Studi Etnografi pada Pondok Pesantren di Kota Balikpapan

    Get PDF
    Pengangguraan di Indonesia masih tinggi, masih diangka tujuh juta jiwa tiga tahun terakhir, berdasarkan data BPS dari tahun 2023-2025 jumlah pengangguran masih tergolong tinggi dari total Angkatan kerja 2023 146,62 juta jiwa, bekerja. 138,63 juta jiwa pengangguran 7,99 juta tahun 2024 angkatan 149,38 jiwa, bekerja 142,18 juta jiwa pengangguran 7,20 juta jiwa. Tahun 2025 angkatan kerja 153,05, bekerja 145,77 pengangguran 7,28. juta jiwa. Angka pengangguran Kota Balikpapan juga masih banyak Data BPS tahun 2023 pengangguran 20.915 dari angkatan kerja 343.384 demikian juga tahun 2024 tingkat pengangguran 22.823 dari 366791 angkatan kerja. Pendidikan vokasi membekali lulusan dengan keahlian tertentu agar memiliki kemampuan kerja. Pondok Pesantren memiliki peran mempersiapkan santri dengan keahlian keagamaan seperti: keahlian bahasa, penceramah, penulisan khat dan keahlian lain seperti : pertanian, perika nan, dan bisnis. Tujuan penelitian ini mendesksripsikan penyelenggaraan pendidikan vokasi dalam membentuk kemandirian santri di Pesantren. Langkah Pengumpulan data : focus group discussion dengan tim pakar dari akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Politeknik Banjarmasin, pengasuh Pondok Pesantren Annajah, Pesantren Sullamussaniyah dan praktisi, kedua, pengamatan sekaligus partisipan tentang proses pendidikan vokasi, wawancara dengan pihak-pihak yang menjadi sumber data, memeriksa dokumen dan dokumentasi kegiatan. Teknik analisis data secara triangulasi sumber, mencocokkan data-data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumen dan dokumentasi. Temuan penelitian, penyelenggaraan pendidikan vokasi di Pondok Pesantren diselenggarakan di sekolah MTS, M.A, dan kegiatan ekstrakurikuler atau pendidikan non formal, jenis pendidikan vokasi di Pesantren diantaranya bahasa pidato, kaligrafi, budidaya madu, pembuat roti, pertanian, peternakan dan bisnis. Pola pengajaran pendidikan vokasi yang menarik dalam penelitian ini yaitu pengajaran pembuatan roti dan budidaya madu, di unit usaha pesantren ini santri belajar membuat produk roti dan madu hasil pembelajaran santri diproduksi dalam kemasan dan dipasarkan ke masyarakat dan memiliki pelanggan sudah memiliki ijin kelayakan dari KEMENKES dan sertifikat halal dari MUI Kota Balikpapan. Empowerment santri dalam pendidikan vokasi membentuk santri menjadi guru bahasa Arab, penceramah, Dosen, imam masjid, pengusaha madu, usaha air minum pengusaha lombok, apoteker perawat dan guru

    Evaluasi Program Pembelajaran Tahfidz di Paud IT Nor Ahmadi kabupaten Banjar

    Get PDF
    Pendidikan Al-Qur’an pada anak usia dini menjadi kebutuhan yang semakin mendesak di tengah tantangan zaman modern. Orang tua dan masyarakat menginginkan lembaga pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai Qur’ani sejak dini secara sistematis dan menyenangkan. PAUD IT Nor Ahmadi sebagai lembaga pendidikan Islam terpadu merespons kebutuhan tersebut dengan menghadirkan program pembelajaran tahfidz Al-Qur’an yang terstruktur dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program tahfidz tersebut menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil evaluasi aspek konteks menunjukkan bahwa program ini lahir dari kebutuhan masyarakat yang religius dan harapan tinggi orang tua untuk membentuk anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki dasar spiritual dan akhlak yang kuat. Program tahfidz dijadikan sebagai inti pembelajaran harian dengan tujuan yang jelas dan metode menyenangkan yang relevan dengan dunia anak usia dini. Pada aspek input, lembaga memiliki kesiapan yang baik dalam hal sumber daya manusia, sarana prasarana, pengelolaan dana, serta kurikulum dan bahan ajar. Guru menunjukkan semangat dan progres positif, fasilitas pembelajaran cukup memadai, dan kurikulum dirancang adaptif serta terintegrasi. Namun, tantangan seperti keterbatasan digitalisasi, ketimpangan insentif guru, dan belum adanya standar evaluasi nasional masih perlu dibenahi. Dari sisi proses, pelaksanaan program berlangsung secara sistematis dan partisipatif, dengan metode variatif seperti talaqqi, tikrar, permainan, dan media visual-audio. Keterlibatan orang tua menjadi kekuatan penting dalam menunjang hafalan anak. Proses evaluasi dilakukan secara menyeluruh, namun masih ada kendala seperti keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan anak, dan pelaporan yang belum terdigitalisasi. Pada aspek hasil, program menunjukkan pencapaian signifikan dalam hafalan, tahsin, sikap religius anak, serta kepuasan orang tua. Anak-anak mengalami perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang baik. Meskipun belum semua anak mencapai target hafalan secara penuh, program ini telah memberikan dampak positif dalam membentuk karakter Qur’ani sejak usia dini

    Minimalisme dalam Mencapai Hidup Bahagia Menurut Fumio Sasaki dan Relevansinya dengan Kehidupan Modern

    Get PDF
    Minimalisme didefinisikan sebagai gaya hidup yang secara sadar berfokus pada pengurangan kepemilikan materi hingga hal-hal yang benar-benar esensial. Penelitian ini mengkaji filsafat Minimalisme sebagai solusi esensial terhadap tiga permasalahan utama dalam kehidupan modern: Materialisme, Hedonisme, dan Konsumerisme. Tiga pilar budaya ini secara kolektif mendorong individu untuk menghubungkan kebahagiaan dengan akumulasi materi yang berlebihan, yang pada akhirnya menciptakan siklus ketidakpuasan, beban hidup (hedonic treadmill), dan kekosongan batin. Gaya hidup minimalis, yang dipopulerkan oleh tokoh Jepang Fumio Sasaki, muncul sebagai filosofi yang menantang pandangan tersebut, menawarkan jalan baru untuk mencapai kebahagiaan sejati melalui pengurangan barang hingga tingkat minimum. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui konsep Minimalisme dalam mencapai Hidup Bahagia menurut Fumio Sasaki, dan (2) Mengetahui relevansi pemikiran Minimalisme Fumio Sasaki dengan kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Data primer diperoleh dari buku Fumio Sasaki, Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism, dan dianalisis menggunakan metode deskriptif dan taksonomi untuk mengkaji domain pemikirannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Minimalisme menurut Fumio Sasaki adalah sebuah tindakan mengurangi barang hingga semininal mungkin dan secara filosofis menolak dominasi materi untuk mencapai kebahagiaan intrinsik. Minimalisme Fumio Sasaki memiliki relevansi esensial sebagai antitesis terhadap tiga tantangan utama yang dihadapi kehidupan modern: Materialisme, Hedonisme, dan Konsumerisme. Relevansi ini dibangun di atas prinsip-prinsip yang dikemukakan Sasaki, yaitu fokus mental, penegasan otonomi diri, rasa syukur, dan keseimbangan batin. Hasilnya menunjukkan bahwa 1) minimalisme menggeser nilai diri dari kepemilikan menjadi eksistensi (Melawan Materialisme). Prinsip prinsip ini berfungsi untuk 2) memutus siklus ketidakpuasan abadi (Hedonic Treadmill) dan meningkatkan kualitas pengalaman (Mengatasi Hedonisme), serta 3) mengurangi beban kognitif akibat kepemilikan berlebihan, sehingga mengembalikan kontrol diri dan mengubah uang menjadi aset non-material (Menghentikan Konsumerisme)

    25,587

    full texts

    25,640

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IDR UIN Antasari Banjarmasin
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇