IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
    25640 research outputs found

    Poligami Masyarakat Banjar (Kajian Sosiologi Antropologi Hukum di Kalimantan Selatan)

    Get PDF
    Masyarakat Banjar dikenal religius, memiliki perilaku keagamaan yang berdasarkan nilai keislaman, termasuk dalam poligami. Namun realitasnya, poligami yang dilakukan banyak bersifat problematik, seperti poligami tidak tercatat, dilakukan tanpa didasarkan kepada kemampuan ekonomi, bahkan terjadi tindak kekerasan, baik secara verbal, fisik, juga psikologis. Penelitian disertasi ini memiliki dua tujuan: pertama, untuk mengetahui bagaimana perilaku poligami yang dijalankan oleh masyarakat Banjar dan kedua, untuk mengetahui bagaimanakah poligami tersebut dalam perspektif sosiologi dan antropologi hukum. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan socio-legal studies yang bersifat interdisipliner, dengan lokasi penelitian berada di Kalimantan Selatan meliputi wilayah yang didiami oleh komunitas etnis Banjar asli beserta sub etniknya. Data yang digali dalam penelitian ini berupa informasi verbal, dan data perilaku poligami yang diperoleh dengan teknik wawancara dan dokumen. Data yang diperoleh dideskripsikan dan dianalisis dengan menggunakan teknik thematic analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan, masyarakat Banjar dikategorikan sebagai polygamous-friendly society, yaitu masyarakat yang ramah terhadap poligami, bukan polygamous society, yaitu masyarakat yang gemar dan suka berpoligami, karena pameo yang ada merupakan bentuk otokritik terhadap dampak yang muncul dari realitas tersebut. Harus diakui, praktik poligami di masyarakat Banjar lebih banyak didasarkan kepada aturan fikih yang justru banyak melahirkan problem hukum. Alasan berpoligami didasarkan atas mengutamakan hukum agama, keberanian berpoligami, meminta dijadikan istri muda, dan berpoligami dengan menggunakan amalan. Dalam perspektif sosiologi, perilaku poligami tersebut merupakan sebuah realitas yang terbentuk melalui proses eksternalisasi dan terkonstruksi dalam waktu yang lama, kemudian menjadi sebuah realitas objektif yang diinternalisasikan secara turun temurun. Realitas tersebut bersifat non elitis. Perpaduan antara interpretasi agama, sosial, dan budaya yang membentuk realitas tersebut, menyebabkan upaya penegakkan keadilan menjadi sulit. Perlu dilakukan sebuah rekonstruksi realitas dengan reinternalisasi poligami yang sesuai dengan tujuan hukumnya. Dalam perspektif antropologi, perilaku poligami mencerminkan adanya dialektika antara hukum Islam dan budaya lokal, sehingga melahirkan apa yang disebut dengan fikih Banjar. Paling tidak dapat dilihat dari perilaku masyarakat yang menggunakan amalan tertentu, seperti ungkapan ada amalannya, ilmu ka kiri, ataupun ilmu ka kanan. Perilaku tersebut juga merupakan gambaran kuatnya hegemoni patriakhi dalam budaya hukum yang didukung oleh sarana agama, ekonomi dan status sosial. Banyaknya kasus poligami yang tidak tercatat, menunjukkan bahwa budaya hukum yang positif dalam berpoligami masih rendah, sehingga keberadaan regulasi tidak berjalan secara efektif. Berdasarkan hasil penelitian, rekomendasi yang dapat tawarkan adalah: pertama, pemahaman terhadap kasus poligami dalam masyarakat perlu dilakukan secara integratif yang menyatukan argumen-argumen tekstual keagamaan, hukum adat dan hukum negara. Kedua, perlu dipikirkan suatu rekayasa sosial yang bertujuan mewujudkan suatu lingkungan sosial yang restriktif terhadap poligami. Program-program sosial yang termasuk dalam agenda ini antara lain penguatan kesadaran hukum di kalangan masyarakat umum, pelembagaan konsultasi dan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak, dan inisiasi dialog keagamaan yang melibatkan para ulama setempa

    Pengaruh Empowering Leadership Terhadap Work Productivity Karyawan PT Panen Embun Kemakmuran Nusa Indah Bati-Bati Tanah Laut

    Get PDF
    Work Productivity (Produktivitas Kerja) mengacu pada rasio antara kualitas dan kuantitas output yang dihasilkan oleh seorang tenaga kerja dalam kurun waktu tertentu, dengan tujuan menghasilkan kinerja yang efektif dan efisien melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Jika output yang dihasilkan rendah, maka tingkat produktivitas pun menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat Work Productivity (Produktivitas Kerja) dan Empowering Leadership (Kepemimpinan yang Memberdayakan) serta menganalisis apakah terdapat pengaruh antara empowering leadership terhadap work productivity karyawan di perusahaan tersebut. Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis non-eksperimen, pendekatan kuantitatif serta teknik korelasional dengan tujuan untuk menguji pengaruh antara empowering leadership dan work productivity. Penelitian ini menggunakan dua skala yang memenuhi validitas dan reliabilitas dengan indeks reliabilitas pada empowering leadership sebesar 0,845 dan pada work productivity sebesar 0,874. Populasi berjumlah 150 orang dan sampel berjumlah 109 orang dengan menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukkan Tingkat produktivitas kerja karyawan PT Panen Embun Kemakmuran Nusa Indah Bati-Bati Tanah Laut, paling banyak (68.8%), dalam kategori "Sedang", (18.3%) kategori "Tinggi” dan (12.8%) kategori "Rendah". Pada Tingkat empowering leadership karyawan PT Panen Embun Kemakmuran Nusa Indah Bati-Bati Tanah Laut, paling banyak (50,5%) berada dalam kategori "Sedang", (15,6%) kategori "Tinggi", dan (39,9%) kategori "Rendah". Uji regresi non-linear mengungkapkan bahwa nilai koefisien B sebesar 5.540, mengindikasikan arah pengaruh positif antara kedua variabel. Ini berarti peningkatan kepemimpinan memberdayakan berkorelasi dengan peningkatan Work Productivity, dan sebaliknya. Secara kuadratik, ditemukan bahwa meskipun terdapat potensi penurunan awal produktivitas kinerja sebagai dampak kepemimpinan memberdayakan, karyawan cenderung akan beradaptasi dan berinisiatif untuk meningkatkan produktivitas secara mandiri jika kondisi tersebut berlanjut. Faktor-faktor lain di luar lingkup penelitian ini juga berkontribusi terhadap produktivitas kerj

    Engage, Read, Reflect: Deep Learning through Active Extensive Reading Strategies

    Get PDF

    Rekrutmen Terbuka Keanggotaan Partai Politik Islam di Indonesia dalam Perspektif Siyasah Islam

    Get PDF
    Dalam lanskap politik demokrasi elektoral seperti saat ini, realitas lapangan telah mendorong Partai-partai Islam mengambil pendekatan pragmatisme politik, yaitu pendekatan yang mengutamakan efektivitas dan pencapaian tujuan elektoral daripada kekakuan ideologis. Pragmatisme menuntut Partai Islam untuk lebih inklusif guna mencapai tujuan politik, meski harus menyesuaikan atau menafsirkan ulang doktrin ideologis Partai. Melalui penelitian mixed method diketahui bahwa inklusivitas Partai Islam dalam menerima keanggotaan nonmuslim memunculkan sejumlah problematika, baik poblem filosofis, yuridis, maupun sosiologis, dan bagaimana rekonstruksi konstitusional ketentuan keanggotaan pada Partai-partai Islam tersebut. Problem filosofis dalam sistem rekrutmen Partai-partai Islam mencerminkan konflik antara ideal normatif Islam dan kalkulasi politik demokratis, dikarenakan Partai Islam merupakan entitas politik yang mengusung nilai-nilai syariat, sementara negara menganut sistem hukum nasional yang bersifat pluralis dan sekuler dalam pengaturannya. Partai Islam juga menghadapi problem sosiologis dikarenakan adanya beberapa jabatan struktur Partai yang hanya bisa dijabat oleh anggota yang beragama Islam. Hal ini memiliki potensi besar untuk terjadinya gesekan sosial dalam internal partai. Sebagian Ahli menghendaki agar Partai Islam melakukan rekonstruksi asas dan sistem keanggotaan Partai. Asas Islam tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan simbolik tetapi sebagai komitmen terhadap nilai-nilai etis dan transformatif yang bersifat universal. Sebagian ahli yang lain menghendaki agar Partai Islam tetap mempertahankan ideologi Islamnya, dan menerapkan ideologi tersebut secara konsekuen. Karena yang bermasalah bukan pada asas, tetapi penerapan dan kualitas SDM pelaksana Partai. Setidaknya ada 2 (dua) alternatif penyesuaian pada konstitusi Partai-partai Islam. Pertama, rekonstruksi sistem rekrutmen keanggotaan, dapat berupa: 1) Penegasan bahwa sistem keanggotaan Partai Islam hanya dari kalangan umat Islam, yang berarti menjadikan Partai-partai Islam tersebut sebagai partai tertutup (eksklusif); 2) Mencantumkan secara tegas dan jelas dalam AD/ART Partai bahwa sistem keanggotaan Partai Islam adalah bersifat terbuka untuk seluruh warga negara Indonesia; 3) Mempertahankan rumusan ketentuan rekrutmen sebagaimana yang sudah ditetapkan dalam AD/ART Partai Islam. Secara implisit, sistem rekrutmen Parta-partai Islam tersebut sudah bersifat terbuka, sama sebagaimana ketentuan sistem rekrutmen yang berlaku pada partai nasionalis sekuler seperti PDIP dan Partai Golkar. Kedua, rekonstruksi asas Islam Partai, dapat berupa: 1) Penghapusan asas Islam. Hal ini dikarenakan sikap pragmatisme Partai-partai Islam yang dianggap tidak berbeda dengan partai nasionalis sekuler. 2) Rekonstruksi asas Islam yang kontekstual. Selama ini formulasi asas Islam dianggap kaku dan eksklusif, sehingga Partai-partai Islam perlu merekonstruksi konstitusinya agar asas Islam tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan simbolik, tetapi sebagai komitmen terhadap nilai-nilai etis dan transformatif yang bersifat universal. Ini merupakan jalan tengah Partai Islam dalam sistem politik demokrasi tanpa kehilangan jati diri ke-Islamannya. Ketiga, peneguhan asas Islam Partai, karena yang dipandang sebagai problematikanya adalah pada kualitas sumber daya dan personalia partai, sehingga yang perlu dibenahi adalah sumber daya dan personalia partai, bukan pada asas partai

    Pengaruh Promosi, Kualitas Pelayanan, dan Produk Tabungan Terhadap Minat Menabung di Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Muara Teweh

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi PT. Bank Syariah Indoensia, tbk (BSI) adalah lembaga keuangan syariah yang resmi beroperasi. BSI mengalami perkembangan dan menciptakan nilai keunggulan. Dengan demikian, BSI harus segera menjadi salah satu alat yang paling efektif untuk mendorong ekonomi nasional sekaligus berkelas dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi, kualitas pelayanan, dan produk tabungan terhadap minat menabung di Bank Syariah Indoensia (BSI) Kantor Cabang Muara Teweh. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah dari sampel diambil sebanyak 400 responden dan menggunkan rumus solvin, data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan SPSS Versi 29.0.1.0 (171). Hasil akhir penelirian ini menjelaskan bahwa promosi, kualitas pelayanan dan produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat menabung, baik secara simultan dan parsial. Diketahui pengaruh promosi, kualitas pelayanan dan produk terhadap minat menabung adalah sebesar 73,6%

    Analisis Pertimbangan Hakim Dalam Menetapkan Itsbat Nikah Bagi Pasangan di Bawah Umur Di Pengadilan Agama Kalimantan Selatan

    Get PDF
    Tingginya angka pernikahan di bawah umur di Kalimantan Selatan menjadi permasalahan krusial dalam sistem hukum perkawinan. Praktik nikah sirri yang tidak dicatat secara resmi menimbulkan kesulitan administratif dan perlindungan hukum, terutama bagi anak dan perempuan. Perbedaan putusan pengadilan agama dalam mengabulkan atau menolak permohonan itsbat nikah pasangan di bawah umur mencerminkan ketidakharmonisan dalam penerapan hukum, serta menunjukkan adanya celah interpretatif dalam penggunaan Kompilasi Hukum Islam dan ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasionalitas progresif pertimbangan hakim dalam perkara itsbat nikah pasangan di bawah umur serta menilai kesesuaiannya dengan prinsip mashlahah al-mursalah. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus dan pendekatan analitis. Sumber data berasal dari salinan penetapan Pengadilan Agama di Kalimantan Selatan yang diklasifikasikan berdasarkan kecenderungan penetapan Hakim. Analisis dilakukan berdasarkan teori hukum progresif dan teori mashlahah mursalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa rasionalitas progresif dalam pertimbangan hakim tercermin pada keberanian menafsirkan hukum secara kontekstual untuk mewujudkan keadilan dan kemanfaatan bagi manusia. Selain itu, pertimbangan hakim sejalan dengan prinsip maslahah al mursalah di mana hakim yang mengabulkan menekankan kemaslahatan individu sedangkan hakim yang menolak mengutamakan kemaslahatan sosia

    Tradisi Bapingit Pengantin Laki-Laki Pasca Akad Nikah Pada Masyarakat Banjar Di Martapura

    Get PDF
    Penelitian ini membahas tradisi bapingit pasca akad nikah yang masih dilaksanakan dalam masyarakat Banjar, khususnya di Martapura, Kalimantan Selatan. Bapingit pasca akad nikah merupakan tradisi yang melarang mempelai laki-laki untuk langsung membawa istrinya ke rumah setelah akad nikah dan resepsi, dan mengharuskan pengantin laki-laki tinggal sementara di rumah keluarga mempelai perempuan setelah resepsi selama beberapa hari hingga prosesi acara meanjur (pengantaran pengantin) dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk pelaksanaannya dari tradisi bapingit pasca akad nikah yang dianggap masyarakat banjar sebagai sebuah keharusan, yang kedua untuk menganalisa bagaimana tradisi tersebut dapat membentuk harmonisasi antara hukum adat banjar dengan hukum Islam yang ketiga bagaimana hukum Islam memandang tradisi ini. Metode penelitian menggunakan pendekatan sosiologi hukum. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada 5 tokoh masyarakat yang mengerti tentang tradisi bapingit pasca akad nikah ini dan 11 orang informan yang melaksanakan tradisi bapingit pasca akad nikah di martapura. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang pertama mempelai laki-laki pulang kerumahnya setelah selesai akad nikah (jika akad nikah dilaksanakan terpisah dengan resepsi) dan setelah resepsi mempelai laki-laki diharuskan untuk tinggal di rumah mempelai perempuan dan melarang membawa istri kerumah mempelai laki-laki sampai diantarkan oleh keluarga mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki sebagai simbol serah terima. Kemudian yang kedua tradisi bapingit pasca akad nikah mempunyai keselarasan dengan hukum Islam yaitu memuat nilai silaturahmi, penghormatan terhadap orang tua, dan adaptasi kepada keluarga mempelai perempuan. Dan yang ketiga Dari perspektif Hukum Islam khususnya melihat dari kacamata Urf dan maslahah tradisi ini tidak bertentangan dengan Islam dan bahkan mendukung tujuan-tujuan syariat serta nilai budaya lokal yang positif

    Fenomena ‘Bahaupan’ Pada Masyarakat Banjar Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah

    Get PDF
    Perekonomian di bumi sekarang memiliki berbagai macam kompleksitas permasalahan, diantaranya tentang riba, kapitalisme yang berdampak pada kesenjangan sosial, kredit macet, pembatalan kontrak, sumber daya manusia yang belum kompeten, hingga ketaatan syariah dalam beberapa lembaga, akan tetapi pada masyarakat suku Banjar ada transaksi Bahaupan yang merupakan transaksi klasik namun masih berjalan dengan baik, untuk itu penulis merasa perlu untuk mengkaji praktik Bahaupan secara sosio-antropologis terhadap pelestariannya, unsur filosofis pada Bahaupan dan bagaimana Bahaupan yang dapat berposisi sebagai alternatif ketiga di antara sistem ekonomi Islam klasik dengan sistem ekonomi sekuler. Penelitian ini bersifat yuridis empiris dengan jenis penelitian Field research yang menggunakan pendekatan sosio-antropologi, psikologi, filosofis (fenomenologi) dan Ilmu Syariah (Hukum Ekonomi Syariah) kepada masyarakat Banjar pelaku Bahaupan dan beberapa sampel masyarakat umum yang memahami dan terkait dalam pembahasan penelitian ini. Secara mendalam penelitian ini fokus pada Bahaupan pada bidang perekonomian. Dimana dalam praktik akadnya ada yang tertulis dan juga ada yang tidak tertulis. Berdasarkan psikologinya orang Banjar yang telah menjadi kebiasaan dalam berkegiatan transaksi ekonomi itu menjunjung tinggi persaudaraan, kepercayaan, dan nilai-nilai kearifan lokalnya yang kental dengan religiusitasnya seperti ta’awun, keimanan, ketuhanan, mengikuti akhlak Rasulullah Muhammad Saw dalam berdagang, serta berorientasi pada falah. Kesimpulannya Bahaupan adalah kata endogen yang memiliki makna usaha bersama yang kepemilikan akan hasilnya nanti dibagi dan dinikmati secara basamaan (bersama) dengan penerapan nilai-nilai budaya dan religiusitas dalam jiwa dan perilaku masyarakat Banjar. Dengan jalur pendidikan (formal-informal), promosi budaya (media sosial-pariwisata festival-acara budaya-produk budaya), pelibatan masyarakat (komunitas budaya-peran tokoh masyarakat-musyawarah-partisipasi aktif), dan adaptasi budaya (sesuai perkembangan zaman inovasi) dalam upaya pelestarian Bahaupan tentu akan lebih maksimal. Bahaupan merupakan sistem ekonomi lokal yang berdiri sendiri (alternatif ketiga), akan tetapi masih memiliki sebagian serapan unsur syirkah (Islam klasik) dan mampu beradaptasi di tengah tekhnis perekonomian modern (kapitalisme

    فعالية وسيلة جنيالي في نتائج تعلم المفردات لدى طلبة الصف السابع بمدرسة الرحمة المتوسطة الإسلامية في سونجاي تبوك بمنطقة بنجار = Efektivitas Media Genialy untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kosakata Kelas VII MTs Ar Rahman Sungai Tabuk

    Get PDF
    Penelitian ini berjudul “efektivitas Media Genially untuk Meningkatkan hasil Belajar Kosakata Siswa Kelas VII MTs Ar-Rahmah Sungai Tabuk Kabupaten Banjar”. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa terhadap pelajaran bahasa Arab, khususnya dalam penguasaan kosakata, yang berdampak pada kesulitan memahami dan menggunakan bahasa Arab secara aktif. Media interaktif seperti Genially dipandang mampu membantu meningkatkan hasil belajar siswa melalui penyajian materi yang lebih menarik dan variatif.penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dengan desain one grop pretest-posttest. subjek penelitian 25 siswa. teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran tes dan di analisis menggunakan rumus uji Wilcoxon dengan nilai asymp sig : 0,001<0,05, dapat disimpulkan bahwa hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima karena terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kosakata siswa setelah penerapan media genially. temuan ini mengindikasi bahwa penerapan media genially efektif dalam meningkatkan hasil belajar kosakata sisw

    Efektivitas Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Anak Terlantar di Kota Banjarmasin

    Get PDF
    Penelitian ini berjudul Efektivitas Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 6 Tahun 2017 tentang Perlindungan Anak Terlantar di Kota Banjarmasin. Lahirnya peraturan daerah ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya jumlah anak terlantar di Kota Banjarmasin yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari putus sekolah, bekerja di jalan, hingga lemahnya peran keluarga dan pengawasan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Perda No. 6 Tahun 2017 dalam melindungi anak terlantar serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosiologi hukum. Data diperoleh melalui wawancara dengan instansi terkait, yaitu JDIH Pemkot Banjarmasin, Satpol PP, Dinas Sosial, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), ditambah wawancara dengan 25 anak terlantar di Kota Banjarmasin. Data kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan landasan teori negara hukum, teori kedudukan dan fungsi perda, teori efektivitas hukum, serta teori perlindungan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif Perda No. 6 Tahun 2017 sah dan memiliki legitimasi formal, namun pada tataran substantif dan sosiologis belum berjalan efektif. Perda ini lebih cenderung berfungsi sebagai instrumen administratif penertiban daripada instrumen nyata perlindungan anak. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya anak yang memilih hidup di jalan karena faktor ekonomi, lemahnya peran keluarga, terbatasnya fasilitas rehabilitasi, serta minimnya pembinaan berkelanjutan. Faktor-faktor utama yang menghambat efektivitas perda meliputi: (1) substansi hukum yang lemah karena tidak adanya sanksi tegas, (2) struktur kelembagaan yang parsial, (3) keterbatasan sarana dan prasarana, (4) budaya hukum masyarakat yang permisif terhadap anak jalanan, serta (5) koordinasi antarinstansi yang lemah

    25,587

    full texts

    25,640

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IDR UIN Antasari Banjarmasin
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇