IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
    25640 research outputs found

    Efektivitas Perda Kabupaten Banjar Nomor 13 Tahun 2001 Tentang Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kecamatan Kertak Hanyar

    Get PDF
    Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Di Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar telah lama menjadi fenomena sosial ekonomi yang penting bagi masyarakat, karena mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan. Namun demikian, aktivitas PKL yang memanfaatkan trotoar, bahu jalan, dan fasilitas umum sering menimbulkan permasalahan seperti kemacetan, gangguan terhadap fungsi ruang publik, penurunan estetika lingkungan, serta ketidaktertiban. Pemerintah Kabupaten Banjar sebenarnya telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2001 tentang Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima sebagai dasar hukum penataan dan pengawasan PKL. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan Perda tersebut serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat keberhasilannya. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan DPRD Kabupaten Banjar, Satuan Polisi Pamong Praja, pedagang kaki lima, dan pembeli, serta melalui observasi lapangan dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 13 Tahun 2001 tidak efektif dalam mengatur dan membina PKL di Kecamatan Kertak Hanyar. Hal ini tampak dari masih banyaknya PKL yang berjualan di area terlarang, rendahnya kepatuhan pedagang terhadap ketentuan yang berlaku, serta lemahnya pengawasan dan konsistensi penindakan oleh pemerintah daerah. Selain itu, ditemukan sejumlah faktor penghambat seperti kurangnya sosialisasi peraturan, keterbatasan sarana dan lokasi relokasi yang layak, pertimbangan ekonomi pedagang, serta keberadaan pungutan liar yang memengaruhi pola aktivitas PKL. Dengan demikian, diperlukan evaluasi dan pembaruan terhadap Perda serta peningkatan koordinasi antarinstansi, pembinaan berkelanjutan, dan penyediaan fasilitas usaha yang representatif agar penataan PKL dapat berjalan lebih efektif

    Sinergitas Satuan Polisi Pamong Praja dan Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Barito Kuala dalam Penertiban Alat Peraga Kampanye pada Pemilihan Legislatif 2024

    Get PDF
    Penelitian ini menganalisis sinergitas antara Satuan Polisi Pamong Praja dan Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Barito Kuala dalam menangani permasalahan alat peraga kampanye yang tidak dibersihkan secara maksimal setelah masa kampanye berakhir pada Pemilu Legislatif 2024. Fokus utama penelitian ini bukan pada zona pemasangan, melainkan pada lemahnya kepatuhan peserta pemilu dalam membongkar alat peraga kampanye secara mandiri, sehingga menyisakan sampah visual yang mengganggu estetika dan ketertiban umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergitas antara Satpol PP dan Bawaslu Kabupaten Barito Kuala telah diwujudkan melalui koordinasi rutin, pembentukan tim terpadu, dan pembagian tugas yang jelas, di mana Bawaslu memberikan rekomendasi data pelanggaran dan Satpol PP melakukan eksekusi penertiban. Kendala yang ditemukan meliputi luasnya wilayah geografis Kabupaten Barito Kuala, keterbatasan armada transportasi untuk mengangkutalat peraga kampanye yang ditertibkan, serta kurangnya kesadaran peserta pemilu dalam mematuhi aturan lokasi pemasanga

    Konstruksi Makna Kata Aqil Sebagai Syarat Wali Nikah (Telaah Kitab al-Fatwâ Wa Mâ Lâ Yanbagî Li al-Muta’allimi Jahluhû)

    Get PDF
    Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 20 ayat 1 berbunyi “Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim, aqil dan baligh”. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria yang harus dipenuhi agar seseorang bisa dikategorikan aqil atau berakal. Zulfa Mustofa dalam kitabnya yang berjudul al-Fatwâ Wa Mâ Lâ Yanbagî Li al Muta’allimi Jahluhû memaparkan kriteria aqil sehingga ia bisa mengemban beban hukum, termasuk di dalamnya menjadi wali nikah. Penelitian ini bertujuan mengungkap konstruksi makna aqil yang dimuat oleh kitab tersebut, dan hasilnya diharapkan bisa menjadi acuan dalam menentukan kriteria wali nikah secara lebih jelas dan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Jenis penelitian adalah penelitian pustaka atau yang nama lainnya penelitian normatif, dengan pendekatan analisis konten. Penulis berusaha menganalisis dan mencermati redaksi kitab yang diteliti agar melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berguna menjawab rumusan masalah berdasarkan teori-teori yang tersebar dalam berbagai kitab fikih, termasuk di dalamnya peraturan perundang-undangan, kamus, dan lain sebagainya. Berdasarkan analisis penulis, hasil dari penelitian ini yaitu menurut Zulfa Mustofa, seseorang dikatakan berakal dan berhak menjadi subjek hukum yang menerima pembebanan hukum apabila memenuhi dua kriteria, yaitu idrak dan ikhtiar. Idrak berarti bahwa seseorang memiliki kemampuan kognitif yang baik dengan gambaran mampu menerima, memproses, menyampaikan, dan melaksanakan informasi. Adapun ikhtiar terwujud ketika seseorang mampu membedakan antara yang baik dan buruk, atau memilih sesuatu berdasarkan suatu alasan

    Ekuitas Merek BAZNAS Provinsi Kalimantan Selatan dalam Menarik Minat Masyarakat untuk Berzakat

    Get PDF
    Pengelolaan zakat dengan perantara lembaga resmi masih menghadapi tantangan rendahnya partisipasi masyarakat dalam menyalurkan zakat secara terorganisir. Fenomena ini juga dialami oleh BAZNAS Provinsi Kalimantan Selatan, meskipun memiliki legitimasi hukum sebagai lembaga negara dan beroperasi di wilayah dengan karakter masyarakat religius. Salah satu faktor penting yang memengaruhi minat masyarakat berzakat adalah persepsi, kepercayaan, dan citra lembaga, yang dibentuk dengan perantara proses ekuitas merek. Penelitian yang dikaji ditujukan untuk untuk menganalisis ekuitas merek BAZNAS Provinsi Kalimantan Selatan dalam menarik minat masyarakat untuk berzakat serta mengidentifikasi penerimaan dan respon publik terhadap strategi branding yang dijalankan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data dihimpun dengan perantara wawancara mendalam dengan pimpinan dan staf BAZNAS, muzakki, dan tokoh agama, observasi lapangan, serta dokumentasi berupa laporan tahunan dan aktivitas media sosial. Analisis data dilakukan dengan perantara tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekuitas merek BAZNAS Provinsi Kalimantan Selatan dilaksanakan dengan perantara penguatan identitas lembaga, komunikasi publik berbasis nilai religius dan sosial, serta pemanfaatan media offline dan online (digital). Strategi tersebut berpartisipasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, membentuk asosiasi positif terhadap citra lembaga, dan memperkuat persepsi kualitas layanan. Peningkatan jumlah muzakki dan keterlibatan publik di media sosial menjadi indikasi meningkatnya penerimaan masyarakat. Namun demikian, masih ditemukan tantangan berupa keraguan sebagian masyarakat terhadap transparansi dan konsistensi komunikasi lembaga. Secara keseluruhan, ekuitas merek BAZNAS Provinsi Kalimantan Selatan berperan dalam menarik minat masyarakat untuk berzakat, meskipun memerlukan penguatan strategi agar dampaknya lebih optimal dan berkelanjuta

    Pendapat Ulama NU dan Muhammadiyah di Kota Banjarmasin Terhadap ASI yang Dibubukan

    Get PDF
    Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi yang lengkap serta berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Seiring dengan perkembangan teknologi, muncul fenomena baru berupa ASI yang dibubukkan melalui proses tertentu, seperti freeze drying, yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan dan memudahkan distribusi ASI. ASI juga memegang posisi penting dalam Islam, tidak hanya sebagai sumber nutrisi utama bagi bayi, tetapi juga sebagai dasar penentuan konsekuensi hukum tertentu, khususnya dalam hukum pemberian ASI (radā‘ah). Permasalahan muncul ketika ASI yang dapat dialih bentukan menjadi bentuk bubuk sehingga menimbulkan persoalan hukum mengenai keabsahan pemberian ASI dan dampaknya terhadap hubungan mahram. Praktik ini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama NU dan ulama Muhammadiyah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapat ulama NU dan Muhammadiyah di Kota Banjarmasin terkait keabsahan ASI yang dibubukkan tersebut. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris, dan berdekatan deskriptif-analilis. Data diperoleh dari wawancara langsung dengan enam informan yang terdiri tiga ulama NU dan tiga ulama Muhammadiyah di Kota Banjarmasin Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ulama NU membolehkan ASI yang dibubukkan selama tidak mengubah substansinya dan tetap mendapatkan nutrisi pada anaknya, dan menekankan bahwa ASI tetap berpengaruh terhadap hukum persususan selama zat ASI masih ada dan masuk ke dalam perut bayi , meskipun tercampur dengan bahan lain. Sebaliknya ulama Muhammadiyah tidak membolehkan ASI yang dibubukkan karena mengkhawatirkan nasab dan kemahrama

    The Instructional Design of English Teaching Media for Children

    Get PDF

    Strategi Dakwah Terhadap Anak di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Al-Ikhlas Kota Banjarmasin

    Get PDF
    LKSA Al-Ikhlas Kota Banjarmasin didirikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anak yatim piatu melalui kegiatan pendidikan, pembinaan, pengarahan, serta pemberian perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Dalam proses pengajaran, pembinaan, dan penyampaian dakwah, dibutuhkan strategi dakwah agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan efektif. Strategi dakwah tersebut dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan ibadah, seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi dakwah terhadap anak di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Al-Ikhlas Kota Banjarmasin dalam upaya pembinaan keagamaan dan pembentukan karakter anak asuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif-kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Sementara teknik analisisnya, penulis menggunakan teknik yang uraikan oleh Miles dan Huberman yaitu, Reduksi data, Display Data dan Penarikan Kesimpulan. Subjek penelitian meliputi pengasuh dan anak-anak LKSA Al-Ikhlas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dakwah yang diterapkan mengacu pada konsep Al-Bayanuni yang meliputi pendekatan sentimental (athify) melalui keteladanan dan kasih sayang, rasional (‘aqly) melalui penjelasan dan diskusi sederhana, serta indrawi (hissiy) melalui praktik langsung ibadah dan penggunaan media pembelajaran. Strategi tersebut berdampak pada peningkatan kedisiplinan ibadah, perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, serta meningkatnya pemahaman keagamaan anak. Namun, pelaksanaan dakwah masih menghadapi beberapa kendala seperti perbedaan latar belakang anak, keterbatasan fasilitas, fluktuasi motivasi belajar, dan pengaruh lingkungan luar. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan evaluasi dakwah yang lebih terstruktur agar pembinaan keagamaan anak di LKSA dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjuta

    Kepercayaan Masyarakat Banjar terhadap Kain Pamintan sebagai Media Pengobatan di Kampung Biru Kota Banjarmasin

    Get PDF
    Pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari kebudayaan masyarakat Banjar yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan hingga saat ini. Salah satu bentuk pengobatan tradisional tersebut adalah penggunaan kain pamintan sebagai media penyembuhan. Kain pamintan dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang berkaitan dengan sistem kepercayaan lokal masyarakat Banjar. Di Kampung Biru, Kota Banjarmasin, kain pamintan tidak hanya dipahami sebagai benda tekstil, tetapi juga sebagai media pengobatan yang bersifat sakral. Kepercayaan ini menunjukkan adanya hubungan erat antara budaya, agama, dan praktik kesehatan tradisional. Permasalahan penelitian ini berfokus pada bagaimana masyarakat Banjar memaknai dan mempertahankan penggunaan kain pamintan di tengah perkembangan pengobatan modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan kain pamintan beserta ritual penggunaannya, serta memahami kepercayaan masyarakat Banjar terhadap kain pamintan sebagai media pengobatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan antropologi budaya. Penelitian dilakukan di Kampung Biru, Kelurahan Melayu, Kota Banjarmasin. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pengrajin kain pamintan dan masyarakat yang menggunakan kain tersebut sebagai media pengobatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan fenomena penelitian secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain pamintan dipandang sebagai benda sakral yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Banjar. Proses pembuatan kain pamintan dilakukan melalui tahapan khusus yang disertai ritual dan doa tertentu. Penggunaan kain pamintan sebagai media pengobatan diyakini mampu menyembuhkan penyakit fisik maupun nonfisik. Kepercayaan ini didasarkan pada keyakinan adanya kekuatan gaib yang melekat pada kain pamintan. Selain berfungsi sebagai media penyembuhan, kain pamintan juga berperan dalam menjaga identitas budaya masyarakat Banjar. Dengan demikian, kepercayaan terhadap kain pamintan masih hidup dan dijalankan dalam kehidupan masyarakat Kampung Biru

    Teaching English for Sustainable Development

    Get PDF

    Pemetaan Potensi Subsektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (PKP) Serta Kaitannya Dengan Kinerja Ekonomi di Kalimantan Tengah

    Get PDF
    Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (PKP) merupakan salah satu sektor yang menyumbangkan kontribusi cukup besar dalam PDRB Kalimantan Tengah. Namun demikian, pola realisasi investasi di Kalimantan Tengah belum sepenuhnya mencerminkan optimalisasi subsektor PKP. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi subsektor PKP serta menganalisis kaitannya dengan kinerja ekonomi di Provinsi Kalimantan Tengah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis Dynamic Location Quotient (DLQ), Shift Share, dan Model Rasio Pertumbuhan (MRP) untuk mengidentifikasi subsektor basis, serta Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengukur tingkat efisiensi kinerja ekonomi 14 kabupaten/kota periode 2020–2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsektor basis PKP di Kalimantan Tengah adalah tanaman perkebunan, peternakan serta perikanan, sedangkan tanaman pangan dan kehutanan tergolong tidak kompetitif. Dari sisi efisiensi, 10 kabupaten/kota telah mencapai efisiensi optimal, sementara 4 kabupaten yakni Gunung Mas, Pulang Pisau, Barito Utara, dan Barito Timur belum efisien dalam mengonversi investasi dan belanja daerah menjadi PDRB sektor PKP. Analisis keterkaitan mengungkap bahwa wilayah dengan struktur ekonomi yang selaras dengan subsektor basis cenderung lebih efisien, sedangkan ketidakselarasan alokasi sumber daya menyebabkan inefisiensi, misalnya pada kasus misalokasi investasi di sektor non-basis. Penelitian ini merekomendasikan perlunya realokasi investasi yang lebih terarah pada subsektor unggulan serta peningkatan kapasitas kelembagaan dan teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Kalimantan Tengah

    25,587

    full texts

    25,640

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IDR UIN Antasari Banjarmasin
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇