IDR UIN Antasari Banjarmasin
Not a member yet
25640 research outputs found
Sort by
Perspektif Pegawai Negerii Sipil Terhadap Penyaluran Pembiayaan Dana Pensiun di Perbankan Syariah (Studi Kasus di SDN Sidorejo 2)
Penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil pengamatan yang penulis lakukan terhadap
Penyaluran Pembiayaan Dana oleh Perbankan Syariah pada Guru SDN Sidorejo 2. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana perspektif Guru
PNS SDN Sidorejo 2 mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi serta pandangan
ekonomi Islam terhadap proses penyaluran dana pensiun di perbankan syariah.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan
deskritif kualitatif. Informan yang penulis wawancarai adalah para guru PNS SDN Sidorejo
2. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis hingga nantinya ditarik kesimpulan.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan. Pertama, Faktor yang mendorong proses
penyaluran dana pensiun seperti saat ini Perbankan sebagai jembatan untuk
mempermudah peserta pensiun dalam menyampaikan aspirasinya, sedangkan faktor
penghambat untuk menyalurkan dana pensiun seperti jarak tempat tinggal para nasabah
yang jauh dari kantor pusat, sehingga berakibat pada pengunaan jasa bank lain yang bukan
bank syariah. Kedua, ditinjau dari perpektif Ekonomi Islam penulis menyimpulkan bahwa
proses penyalurannya masih selaras dengan prinsip-prinsip syariah, yaitu dengan tetap
menjamin keamanan dan keberlanjutan dana serta memberi manfaat finansial pada
penerimanya serta akad yang ditetapkan oleh perbankan tidak memaksakan kehendak
nasaba
Kepercayaan Masyarakat Terhadap Tradisi Sepuluh Ribu Apam di Desa Setarap Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu
Tradisi Sepuluh Ribu Apam merupakan suatu tradisi budaya masyarakat
pesisir di Desa Setarap, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan
Selatan, yang masih diwariskan secara turun-temurun dari zaman dahulu hingga
sekarang. Tradisi ini identik dengan pembuatan dan pembagian wadai apam dalam
jumlah besar sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan. Namun,
keterkaitan tradisi ini dengan unsur sesaji, ritual, dan keyakinan lokal kerap
menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat modern. Oleh karena itu,
penting untuk memahami makna yang sesungguhnya dari tradisi ini. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan serta kepercayaan masyarakat terhadap
Tradisi Sepuluh Ribu Apam dengan menggunakan pendekatan Antropologi dan
teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski. Metode penelitian yang digunakan
adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi.
Jenis penelitian ini berbentuk penelitian lapangan (field research).
menggunakan metode kualitatif kemudian disajikan secara deskriptif. Data yang
diperoleh yaitu dari lapangan yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi serta data yang diperoleh darıi literatur. Kemudian data yang sudah
diperoleh dianalisis menggunakan Antropologi dan teori fungsionalisme Bronislaw
Malmowskı Teknik analisis data yang digunakan adalah koleksi data, reduksi data,
sajian data, dan penarikan simpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tradisi Sepuluh Ribu Apam ini
merupakan sebuah tradisi yang memiliki makna yang sangat mendalam terhadap
kehidupan sosial, religius, dan kultural masyarakat pesisir. Dari segi pelaksanaan
Tradisi Sepuluh Ribu Apam berlangsung secara sistematis dan terstruktur, dimulai
dari tahapan persiapan dan melibatkan masyarakat secara gotong royong,
pelaksanaan ritual doa bersama di tepi pantai, hingga acara puncak yang disertai
hiburan dan pembagian apam kepada seluruh peserta.Tradisi ini bukan hanya
sebuah bentuk ritual tahunan, tetapi juga menjadi simbol kolektif dari ekspresi
spiritual, identitas budaya, dan mekanisme integratif komunitas dalam menghadapi
dinamika zaman. Berdasarkan pendekatan fungsionalisme Malinowski, tradisi ini
memiliki peran yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan sosial masyarakat.
Malinowski menekankan konsep fungsi dalam melihat kebudayaan sebagai
pemenuhan kebutuhan yakni secara biologis, instrumental dan integral. Fungsi biologis yang tercapai dalam tradisi ini adalah untuk kelimpahan hasil laut dengan
memohon agar mendapat keselamatan, perlindungan terutama saat melaut,
kelimpahan hasil laut dan sebagai wahana sosial yang menghubungkan antar
individu dalam masyarakat. Fungsi instrumental dalam tradisi ini seperti adanya
masyarakat Desa Setarap yang bertanggung jawab dalam pembuatan wadai apam,
ketua adat berperan dalam memimpin doa, aspek organisasi sosial dari masyarakat
Desa Setarap yang bertugas mengatur jalannya pelaksanaan tradisi, keterlibatan
dukungan dana pemerintah Desa Setarap serta partisipasi aktif aparatur
pemerintahan dinas pariwisata. Fungsi integral menunjukkan adanya ketenangan
batin dan keharmonisan dengan dunia gaib, memberikan rasa aman kolektif,
menghindarkan kecemasan sosial, dan sebagai pemersatu dengan nilai-nilai
silaturahmi, gotong royong dalam partisipasi aktif seluruh warga Desa Setarap
Sikap Dan Perilaku Keagamaan Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Antasari Banjarmasin Angkatan 2021-2022
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pandangan sebagian masyarakat yang
menganggap bahwa mahasiswa jurusan Studi Agama-Agama rentan terhadap
krisis keimanan akibat mempelajari berbagai agama. Stereotip ini memunculkan
pertanyaan mengenai bagaimana sikap dan perilaku keagamaan para mahasiswa
jurusan tersebut, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhinya. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan sikap dan perilaku keagamaan mahasiswa Studi
Agama-Agama UIN Antasari Banjarmasin angkatan 2021–2022, serta
menganalisis faktor-faktor yang membentuknya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan
data dilakukan melalui angket (kuesioner) yang dibagikan secara online melalui
googleform. Teknik analisis data menggunakan uji validitas dan reliabilitas
instrumen, uji asumsi klasik, serta analisis regresi linear berganda dengan bantuan
perangkat lunak SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Studi Agama-Agama
tetap menunjukkan sikap dan perilaku keagamaan yang baik, meskipun mereka
mempelajari banyak agama. Mereka menunjukkan tingkat religiusitas yang tinggi
dalam dimensi ideologis, ritualistik, konsekuensial, intelektual, dan eksperiensial
sebagaimana teori religiusitas Glock dan Stark. Faktor-faktor yang paling
dominan memengaruhi sikap dan perilaku keagamaan mahasiswa adalah
lingkungan keluarga, pendidikan agama, pengalaman pribadi, serta media massa.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa mempelajari berbagai agama justru
memperkuat pemahaman, toleransi, dan penghayatan terhadap agama sendiri
secara reflektif dan dewas
Telaah Kritis Terhadap Pemikiran Irshad Manji tentang Perkawinan Sejenis
Kajian mengenai perkawinan sejenis kian relevan dalam merespons
dinamika pemikiran kontemporer, terutama ketika tokoh seperti Irshad Manji
mengemukakan pandangan yang mendukung legalitas hubungan tersebut. Manji
menafsirkan kisah kaum Nabi Lut dalam Al-Qur’an tidak sebagai kecaman
terhadap orientasi seksual, melainkan sebagai kritik terhadap penyimpangan moral
dan penyalahgunaan kekuasaan. Pandangan tersebut bahkan memperoleh dukungan
dari sebagian kalangan yang meyakininya sebagai kebenaran.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan pemikiran Irshad Manji
tentang perkawinan sejenis; (2) Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi
konstruksi pemikirannya; dan (3) Mengkaji pemikiran tersebut melalui perspektif
epistemologi hukum Islam dan maqâṣid al-syarî‘ah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif
analitis. Sumber data utama meliputi dua buku karya Irshad Manji, yaitu Allah,
Liberty, and Love: The Courage to Reconcile Faith and Freedom serta The Trouble
With Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith, disertai Al-Qur’an,
hadis, dan pandangan para ulama yang relevan. Teori yang digunakan mencakup
teori negara hukum (grand theory), teori hukum keluarga Islam (middle theory),
dan epistemologi hukum Islam serta maqâṣid al-syarî‘ah (applied theory).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Irshad Manji didasarkan
pada prinsip kebebasan individu, reinterpretasi teks keagamaan, serta semangat
pluralisme dan inklusivitas. Meskipun pandangannya memperoleh dukungan dari
beberapa kalangan, namun jika ditinjau dari epistemologi hukum Islam dan
maqâṣid al-syarî‘ah, pandangannya dinilai bertentangan dengan prinsip dasar
hukum Islam, terutama dalam aspek perlindungan terhadap nasab, agama, dan
moralitas. Dengan demikian, telaah kritis terhadap pemikiran Manji menjadi
penting untuk menjaga integritas hukum keluarga Islam di tengah tantangan wacana
globa
Pengaruh Kepercayaan Rekomendasi, dan Pengalaman Terhadap Keputusan Mahasiswa Menggunakan Jasa Titip Untuk Pembayaran Uang Kuliah Tunggal
Penelitian ini mengkaji sejauh mana variabel kepercayaan, rekomendasi,
dan pengalaman memengaruhi keputusan mahasiswa dalam menggunakan layanan
jasa titip Uang Kuliah Tunggal (UKT). Menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode survei, sampel terdiri atas 97 mahasiswa aktif yang pernah
memanfaatkan jasa titip UKT.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ketiga variabel
kepercayaan, rekomendasi, dan pengalaman berpengaruh signifikan terhadap
keputusan mahasiswa (F hitung = 758,755; p = 0,000) dengan koefisien determinasi
R² = 0,961, yang berarti 96,1 % variasi keputusan dapat dijelaskan oleh ketiganya.
Secara parsial, kepercayaan (t = 2,075; p = 0,041), rekomendasi (t = 6,000; p =
0,000), dan pengalaman (t = 2,358; p = 0,020)
masing-masing memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
keputusan mahasiswa. Temuan ini menegaskan bahwa membangun kredibilitas,
memicu word-of-mouth positif, dan menyajikan pengalaman layanan yang
memuaskan adalah kunci agar mahasiswa makin yakin dan loyal menggunakan jasa
titip UKT
Gambaran Kecemasan Remaja yang Tinggal di Daerah Kawasan Kumuh Kelurahan Kelayan Tengah Kota Banjarmasin
Tempat tinggal atau pemukiman adalah sebuah kebutuhan bagi setiap
mahkluk hidup khususnya manusia khususnya remaja, setiap remaja pastinya perlu
memiliki tempat tinggal yang layak untuk beraktivitas maupun untuk istirahat, akan
tetapi terkadang disuatu pemukiman terdapat masalah yang berdampak bagi
penduduknya terlebih khusus terhadap remaja yang akan tinggal dan berkembang
di tempat remaja dibesarkan, masalah yang di khawatirkan akan menyebabkan
terjadinya persoalan sosial seperti kepadatan penduduk yang mengakibatkan
kesesakan sehingga menimbulkan rasa khawatir akan lingkungan sosial seperti
sering terjadinya kemacetan, perampokan, atau keributan-keributan lain yang
menimbulkan kecemasan di dalam diri. Setiap manusia selalu berusaha dalam
memenuhi kebutuhan mereka seperti tempat tinggal yang layak dan kehidupan
yang baik
Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu
menjelaskan permasalahan yang sifatnya khusus dalam menentukan fakta atau
peristiwa, penelitian ini menggunakan tiga remaja sebagai subjek, yang
diwawancarai secara mendalam, dengan teknik semi terstruktur, Observasi, dan
dokumentasi dalam pengumpulan data. Teknik analisi data pada penelitian ini
dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan
verifikasi atau penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini diperoleh yakni: 1) Pada aspek perilaku para subjek
mengatasi kecemasan dengan mengalihkan perhatian, seperti bermain handphone
atau berdiam diri, mendengarkan musik, duduk santai, dan merokok, serta
menghindari keramaian, terutama jika ada kegiatan minum-minuman keras atau
lingkungan yang kotor mengurangi kecemasan dengan menghindari kepadatan lalu
lintas di daerah tempat tinggalnya. 2) Subjek menggambarkan kecemasannya
dengan perasaan bingung dan merasa tidak ada yang bisa dilakukan. 3) Subjek
menyebutkan bahwa emosinya lebih stabil dan subjek merasa tidak mudah
terganggu, namun kecemasannya akan muncul terkait dengan potensi perkelahian,
pencurian, dan tindak kriminal di lingkungan padat penduduk
Implikasi Wakaf Diri terhadap Keluarga dalam Perspektif Psikologi Keluarga dan Maqashid Syariah: Studi Kasus di Kabupaten Banjar
Penelitian ini membahas mengenai implikasi praktik wakaf diri terhadap keluarga
dalam perspektif psikologi keluarga dan maqashid syariah. Fokus penelitian pada para
wakif yang telah berkeluarga dan mewakafkan dirinya di lingkungan pondok pesantren di
Kabupaten Banjar. Penelitian ini berangkat dari latar belakang fenomena wakaf diri di
lingkungan pondok pesantren yang meskipun bernilai ibadah, praktik ini menimbulkan
dinamika tersendiri dalam kehidupan keluarga para wakif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana wakaf diri yang dilakukan oleh
para wakif di lingkungan pondok pesantren memengaruhi faktor penyebab wakaf diri,
dinamika psikologi keluarga mereka dalam konsep tujuan perkawinan yakni sakinah,
mawaddah, warahmah, termasuk dalam konteks nilai-nilai maqashid syariah (menjaga
agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta).
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian gabungan hukum normatif dan empiris
dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan
model interaktif Miles dan Huberman. Data didapat melalui observasi dan wawancara
langsung terhadap para wakif dan keluarganya serta studi kepustakaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik wakaf diri didorong oleh lima
faktor utama, yaitu permintaan langsung dari pimpinan pesantren, keikhlasan dan
panggilan hati, latar belakang sebagai alumni atau anak pendiri pesantren, dukungan
pesantren meskipun terbatas secara finansial, serta kebutuhan operasional pesantren.
Praktik wakaf diri memiliki potensi mewujudkan nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah
dalam keluarga, terutama apabila didukung oleh keikhlasan, komunikasi yang terbuka, dan
sikap saling memahami antaranggota keluarga. Dalam perspektif maqashid syariah, wakaf
diri telah berhasil memenuhi tujuan menjaga agama (hifzh al-dîn) dan akal (hifzh al-‘aql)
melalui kegiatan dakwah dan pendidikan Islam. Namun, pemenuhan tujuan menjaga jiwa
(hifzh al-nafs), keturunan (hifzh al-nasl), dan harta (hifzh al-mâl) belum optimal. Hal ini
disebabkan adanya risiko terabaikannya perlindungan terhadap jiwa, keturunan, dan harta
apabila tidak didukung oleh sistem pengelolaan yang baik dan kebijakan yang memadai
Pembelajaran Qirā’āt Sab’ah Pada Lembaga Pendidikan Al-Qur’an Di Kota Banjarmasin
Al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab, sedangkan bangsa Arab sendiri ternyata
memiliki keberagaman lahjah atau logat dialek yang menyesuaikan dengan qabilah
kesukuannya masing-masing, atas permintaan Nabi Muhammad Saw. akhirnya Al
Qur’an yang diturunkan kepada bangsa Arab mengikuti dan menyesuaikan dialek
kesukuan bangsa Arab. Berangkat dari perbedaan dialek qabilah atau suku bangsa
Arab inilah yang akhirnya melahirkan sebuah diskursus cabang keilmuan dalam
membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang disebut dengan ilmu Qirā’āt. Perbedaan ini
dinisbahkan setiap bacaannya kepada seorang imam atau pakar Qirā’āt yang disebut
qari’, perbedaan di sini tentunya tetap disandarkan pada geniologi atau sanad yang
mutawatir dan dianggap serta diyakini sampai kepada Rasulullah.
Penelitian ini berupaya untuk menggali data tentang (1) Perencanaan
pembelajaran Qirā’āt Sab’ah yang mencakup: Tujuan, model, metode, bahan ajar, dan
media. (2) Pelaksanaan pembelajaran Qirā’āt Sab’ah yang meliputi: Kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup. (3) Evaluasi pembelajaran. Penelitian ini
termasuk ke dalam penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif.
Lokasi penelitian ini bertempat di Madrasah Diniyah Takmiliyah Bumi Graha Lestari
Banjarmasin dan Ma’had Tahfizhul Qur’an Ummul Qura Banjarmasin. Subjek
penelitian terdiri dari mudir pimpinan lembaga, pengajar Qirā’āt Sab’ah dan peserta
didik. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa keduanya menggunakan teori rumus
dan kaidah dari kitab Hirz al-Amani Waa Wajhu at-Tahani al-Amani Waa Wajhu at
Tahani, metode pembelajaran dangan menggunakan metode talaqqi praktik membaca
Qirā’āt, adapun evaluasi berbentuk formati
Evaluasi Diagnostik Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Bagi Lansia Berbasis Teori Geragogi Di Kalimantan Selatan
Pembelajaran membaca al-Qur’an merupakan sebuah proses yang sangat
penting untuk memaksimalkan fungsinya sebagai petunjuk bagi umatnya dalam
kehidupan. Menurut beberapa penelitian ditemukan bahwa pembelajaran al
Qur’an bagi lansia dalam penerapannya masih belum menyesuaikan dengan
kebutuhan dan karakteristik lansia.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mendeskripsikan pembelajaran
membaca al-Qur’an bagi lansia di Madrasah Darul Fatihin Martapura, Rumah
Tahfidz al-Qur’an asy-Syamil Banjarbaru, Majlis Taklim al-Qur’an Jalan
Berangas Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala. (2) Untuk menemukan
penyebab utama kesulitan dalam pembelajaran membaca al-Qur’an untuk lansia
di Madrasah Darul Fatihin Martapura, Rumah Tahfidz al-Qur’an asy-Syamil
Banjarbaru, Majlis Taklim al-Qur’an Jalan Berangas Kecamatan Alalak
Kabupaten Barito Kuala. (3) Untuk menawarkan solusi mengatasi kesulitan
pembelajaran membaca al-Qur’an untuk lansia di Madrasah Darul Fatihin
Martapura, Rumah Tahfidz al-Qur’an asy-Syamil Banjarbaru, Majlis Taklim al
Qur’an Jalan Berangas Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala menurut
perspektif Teori Geragogi.
Penelitian ini mengunakan jenis penelitian lapangan dengan pendekatan
kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan
dokumentasi serta FGD. Sumber data pada penelitian ini adalah guru dan santri lansia.
Selanjutnya permasalahan pembelajaran tersebut dicari solusinya menurut Teori Geragogi.
Teknik analisis data yang digunakan adalah Model Analisis data Miles dan
Huberman yang terdiri dari tiga tahapan yakni reduksi data, penyajian data dan
kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pembelajaran membaca al-Qur’an
bagi lansia pada tiga tempat di kalimantan Selatan belum mampu menyesuaikan
dengan karakteristik dan kebutuhan pembelajaran bagi lansia. Hal ini terlihat
pada jadwal pembelajaran, materi pembelajaran yang panjang serta tidak ada
pengelompokan pembelajaran sesuai dengan kemampuan. Kesulitan utama dalam
pembelajaran al-Qur’an bagi lansia adalah rendahnya semangat pembelajaran
lansia, perasaan gengsi, kondisi kesehatan yang menurun, serta sangat peka
dengan perasaan. Solusi menurut Teori Geragogi adalah : 1) Kategorisasi Tujuan
Pembelajaran al-Qur’an Bagi lansia, 2) Integrasi Materi Pembelajaran al-Qur’an
dengan Ibadah Harian, 3) Pengelompokan Pembelajaran sesuai dengan
Kemampua
Analisis Isi Buku Bahasa Arab tingkat Madrasah Aliyah berdasarkan Teori Beban Kognitif
Buku Ajar merupakan elemen penting dalam pengajaran bahasa Arab.
Kualitas buku ajar sangat ditentukan oleh efektivitas proses pendidikan, karena
buku ajar yang sesuai dengan kemampuan kognitif siswa akan memudahkan proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Penelitian ini didorong oleh
pentingnya menganalisis struktur materi dan menyajikannya dalam buku teks
berdasarkan teori beban kognitif. Tujuan penelitian ini: (1) mengetahui bentuk
bentuk beban intrinsic (2) mengetahui bentuk-bentuk beban extraneous (3)
mengetahui bentuk-bentuk beban Germane dalam isi buku Bahasa Arab tingkat
Madrasah Aliyah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif berdasarkan jenis studi pustaka. Adapun metode pengumpulan data
dengan mendokumentasikan dari sumber buku dan jurnal yang berkaitan dengan
teori beban kognitif. Metode analisis data yang digunakan adalah model Analisis
Konten Terarah.
Hasil penelitian ini: (1) Bentuk beban intrinsic dalam buku ini adalah dari
penyajian materi yang kompleks secara langsung tanpa fragmentasi bertahap, tidak
adanya pengenalan konsep atau pratinjau, dan tingginya tingkat interaksi unsur
unsur informasi dalam setiap keterampilan. Mahasiswa dituntut untuk mengolah
informasi semantik, struktural, dan tata bahasa secara bersamaan tanpa dukungan
pengantar (2) Bentuk-bentuk beban extraneous dalam buku ini terdiri dari aspek
visual dan struktur bahasa. Visual seringkali sangat kecil, tidak memiliki klarifikasi
atau arah langsung konten, dan glosarium ditempatkan di akhir buku ajar. Instruksi,
di sisi lain, disusun dalam kalimat panjang dan tidak langsung, di mana kata kerja
operasional tidak digunakan (3) Buku ajar ini berisi beban germane, terutama dalam
keterampilan produktif seperti menulis dan berbicara, serta dalam latihan yang
berkaitan dengan membaca dan tata bahasa. Latihan ini mengharuskan siswa untuk
meningkatkan perumusan kalimat, menyusun paragraf, menghasilkan ide secara
lisan, serta meningkatkan garis besar bahasa, dan memproses informasi secara
mendalam dan mendukung pembelajaran yang bermakna dan memungkinkan
informasi ditransfer ke memori jangka panjang. Namun, dalam keterampilan
mendengarkan, beban germane tidak mencapai tingkat yang diperlukan, karena
tidak adanya strategi untuk memproses makna