Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Provinsi Riau
Incomplete abortion is termination of pregnancy in which the products of conception are not entirely expelled or removed from uterus, before 20 weeks in pregnancy. Approximately 90% of deaths due to abortion complications This casecontrol study was designed to determine association factors with incidence of incomplete abortion at Arifin Achmad General Hospital 2010-2012. the event spending most of the products of conception in pregnancy before 20 weeks, there was still some left in the uterus. Approximately 90% of deaths due to abortion complications. The purpose of research is knowing the factors associated with the incidence of incomplete abortion at the Arifin Achmad Hospital in Riau Province Year 2010-2012. Type of case-control study design. Cases were pregnant women who had incomplete abortion and normal controls were pregnant women who did not experience an incomplete abortion were ≤ 20 weeks in hospitals Arifin Achmad Pekanbaru 2010-2012. The results were significantly associated variables, namely: 1) mothers with low education 1,469 times more at risk of experiencing an incomplete abortion than women who have a higher education (95% CI: OR = 1.067 to 2.024), 2) maternal pregnancy spacing <2 years 2,084 times the risk of having incomplete abortion compared, mothers who have gestational distance ≥ 2 years (CI 95%: OR = 1.507 to 2.881), 3) mothers who work 4,184 times more at risk of experiencing an incomplete abortion than women who did not work (95% CI: OR = 2.657 to 6.588); variable is inversely related to hemoglobin and parity, and the confounding variable is the age of the parity. As Cconclusion, education, spacing of pregnancy and occupation have causal relationship with the incidence of incomplete abortion.that the independent variables that have a causal relationship with the incidence of incomplete abortion is variable, distance education and employment pregnancy. Confounding variable is the variable age-related incidence of parity on the incidence of incomplete abortion. This study suggests to improve knowledge about complication abortion and plan pregnancy. Advice for pregnant women to know the danger signs of TM I and set the distance kehamialan to avoid incomplete abortion; to the next researcher to observe Hb and maternal parity before through books KIA, and maternal age> 35 years in an effort so that no pregnant at parity > 3Abortus Inkomplit adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Sekitar 90% dari kematian karena komplikasi abortus. Tujuan penelitian adalah diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Tahun 2010-2012. Jenis desain penelitian kasus kontrol. Kasus adalah ibu hamil yang mengalami abortus inkomplit dan kontrol adalah ibu hamil normal yang tidak mengalami abortus inkomplit yang ≤ 20 minggu di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2010-2012. Hasil penelitian variabel yang berhubungan signifikan yaitu: 1) ibu yang memiliki pendidikan rendah lebih berisiko 1,469 kali mengalami abortus inkomplit dibandingkan ibu yang memiliki pendidikan tinggi (CI 95% : OR = 1,067-2,024), 2) ibu yang jarak kehamilan < 2 tahun lebih berisiko 2,084 kali mengalami abortus inkomplit dibandingkan, ibu yang memiliki jarak kehamilan ≥ 2 tahun (CI 95%: OR = 1,507-2,881), 3) ibu yang bekerja lebih berisiko 4,184 kali mengalami abortus inkomplit dibandingkan ibu yang tidak bekerja (CI 95% : OR = 2,657 – 6,588); variabel yang berhubungan terbalik adalah Hb dan paritas; dan variabel yang confounding adalah umur terhadap paritas. Kesimpulan yaitu variabel independen yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian abortus inkomplit adalah variabel pendidikan, jarak kehamilan dan pekerjaan. Variabel confounding adalah variable umur yang berhubungan dengan kejadian paritas terhadap kejadian abortus inkomplit. Saran bagi ibu hamil agar mengetahui tanda-tanda bahaya TM I dan mengatur jarak kehamialan agar tidak terjadi abortus inkomplit; kepada peneliti selanjutnya agar memperhatikan Hb dan paritas ibu sebelumnya melalui buku KIA; dan usia ibu yang > 35 tahun di upayakan agar tidak hamil pada paritas >
Perbedaan Perilaku Masyarakat dalam Pelaksanaan Nagari Siaga di Nagari Padang Laweh dan Nagari Kubang Putiah Kabupaten Agam
The number of Nagari Siaga in West Sumatera Province at the end of the year 2008 is 2.125. However this number has not been reached the target yet that are 3.317 Nagari Siaga. The implementation of Nagari Siaga requires a full support of the community as the major driver that is initiated by the understanding and positive attitude towards health itself. The aim of this research is knowing about the difference of community behaviour in implementating Nagari Siaga between Nagari Padang Laweh and Nagari Kubang Putiah in Agam District. This study used cross sectional study design, with a total sample of 84 head families in both villages. Dependent variable in this study is Nagari Siaga and independent variable are knowledge, attitude and practice. Bivariate analysis was done by Chi Square (X2) with α = 0,05. The analysis shows significant relationship between the variables of knowledge and practice on implementation of Nagari Siaga with p value of 0,00. There are differences in knowledge and attitudes between the two villages. Knowledge and community practices in Nagari Kubang Putiah were better than Nagari Padang Laweh. Attitude variables can not be tested because the attitude in both villages is completely (100%) positive. It needs sosialization to the community about the importance of health and Nagari Siaga program in Nagari Padang Laweh, so that the program can be run optimally as well as Nagari Kubang Putiah. For Nagari Kubang Putiah, Nagari Siaga program should be developed continiously. Cross-sector participation should be increased to the success of Nagari Siaga programJumlah Nagari Siaga di Propinsi Sumatera Barat pada akhir tahun 2008 adalah 2.152. Akan tetapi angka ini masih belum mencapai target yaitu 3.317 Nagari Siaga. Terlaksananya Nagari Siaga memerlukan dukungan penuh dari masyarakat sebagai penggerak Nagari Siaga yang dimulai dari pemahaman dan sikap positif akan kesehatan itu sendiri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan perilaku masyarakat dalam pelaksanaan Nagari Siaga di Nagari Padang Laweh dan Nagari Kubang Putiah Kabupaten Agam. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional Study, dengan jumlah sampel 84 kepala keluarga pada kedua nagari. Variabel dependen pada penelitian ini adalah Nagari Siaga dan variabel independen adalah pengetahuan, sikap dan tindakan. Analisa bivariat dilakukan dengan uji Chi Square (X2) dengan α = 0,05. Hasil analisa menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan dan tindakan terhadap pelaksanaan Nagari Siaga dengan nilai p value 0,00. Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap antara kedua nagari dimana pengetahuan dan tindakan masyarakat di Nagari Kubang Putiah lebih baik daripada Nagari Padang Laweh. Variabel sikap tidak dapat diujikan karena sikap pada kedua nagari seluruhnya (100%) positif. Perlu sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesehatan dan program Nagari Siaga di Nagari Padang Laweh agar program Nagari Siaga dapat berjalan optimal seperti Nagari Kubang Putiah. Bagi Nagari Kubang Putiah perlu dikembangkan program Nagari Siaga secara terus menerus. Partisipasi lintas sektoral perlu ditingkatkan untuk keberhasilan program Nagari Siag
Efisiensi Pendayagunaan Tempat Tidur dengan Metode Grafik BarberJohnson di Rs Lancang Kuning
Pendayagunaan tempat tidur di rumah sakit seharusnya efisien dari aspek ekonomi maupun aspek medis. Untuk menyatukan dua aspek tersebut maka diperlukan suatu parameter yang tepat, yaitu; BOR, AvLOS, TOI, dan BTO. Menyajikan keempat parameter tersebut dapat digunakan suatu metode yaitu grafik barber-johnson, dimana kita dapat melihat tingkat efisiensi pendayagunaan tempat tidur di rumah sakit dengan jelas dan keempat parameter dipertemukan dalam satu titik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat efisiensi pendayagunaan tempat tidur di RS Lancang Kuning Pekanbaru tahun 2011. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah formulir (RP 1 dan RL 1) periode tahun 2011, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik total sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi, analisis data dilakukan secara univariat. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pendayagunaan tempat tidur di RS Lancang Kuning Pekanbaru tahun 2011 dengan metode grafik BJ titik keempat parameter tidak bertemu pada satu titik melainkan terpisah 2 bagian, angka (AvLOS 8 hari dan TOI 11 hari) sedangkan (BOR 50% dan BTO 15 kali). Hal ini kemungkinan disebabkan adanya kasalahan dalam sensus harian pasien rawat inap yang menjadi sumber data primer. Temuan ini diperkuat dengan tidak berjalannya sensus harian pasien rawat inap di RS Lancang Kuning Pekanbaru dengan baik. Selain itu, bila dilihat dari masing-masing titik parameter dalam grafik BJ berada di luar daerah efisien yang berarti menunjukan sistem yang berjalan kurang baik. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pendayagunaan tempat tidur di RS Lancang Kuning Pekanbaru pada tahun 2011 masih kurang efisien. Disarankan agar pihak manajemen mengevaluasi akan kurangnya permintaan tempat tidur dan unit rekam medis agar menjalankan kegiatan sensus harian pasien rawat inap sesuai dengan ketentua
Pengaruh Perilaku Masyarakat dan Kondisi Lingkungan Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue
Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa jumlah kasus DBD meningkat dua kali lipat dibandingkan Tahun 2010. Tiga kasus DBD tertinggi di Kota Pekanbaru, salah satunya berada pada kecamatan Tampan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh perilaku masyarakat dan kondisi lingkungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. Metode penelitian dengan desain Kasus Kontrol yang dilaksanakan pada bulan September-Desember 2011 di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Pekanbaru. Jumlah sampel 224 terdiri dari 56 kasus dan 168 kontrol. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data untuk bivariat dengan uji Chi-Square dan multivariat dengan uji Regresi Logistik Ganda. Hasil penelitian menunjukkan untuk faktor Perilaku Masyarakat yang dominan berhubungan dengan kejadian DBD adalah variabel Kebiasaan menggantung pakaian, OR= 6,29 (95% CI: 3,09-12,81) dan faktor Kondisi lingkungan yang dominan berhubungan dengan kejadian DBD adalah variabel Keberadaan jentik pada tempat penampungan air, OR=6,35 (CI95%=2,66-15,12). Diharapkan pihak Puskesmas lebih mengintensifkan kegiatan pemeriksaan jentik berkala, masyarakat untuk lebih memperhatikan kegiatan 3M plus dan pelaksanaan PSN–DBD secara mandiri dan teratur serta memperhatikan perilaku menggantung pakaian
Peningkatan Pencapaian Nilai Akreditasi Pelayanan Rekam Medis Rumah Sakit Lancang Kuning Pekanbaru Tahun 201
Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan, rumah sakit wajib melakukan akreditasi secara berkala minimal tiga tahun sekali. Standar pelayanan rumah sakit memenuhi lima kegiatan pelayanan pokok, yakni administrasi dan manajemen, pelayanan medik, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, pelayanan rekam medis dan setiap rumah sakit mempunyai kewajiban untuk menyelenggarakan rekam medis. Data awal penilaian parameter menunjukkan bahwa nilai kelulusan akreditasi pelayanan rekam medis masih kurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cara peningkatan nilai paramater pelayanan rekam medis Rumah Sakit Lancang Kuning Pekanbaru minimal sesuai standar nasional. Jenis penelitian ini kualitatif non standar dengan metode pengumpulan data secara observasi dan wawancara mendalam dengan empat orang informan. Pengolahan data dilakukan dengan teknik triangulasi dan menggunakan analisis kualitatif. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengukuran pelayanan rekam medis yang dilakukan sesuai standar satu sampai tujuh hanya 25,45%. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2008 bahwa nilainya masih dibawah 75% sehingga dinilai belum memenuhi standar akreditasi, oleh karena itu diperlukan pedoman yang sesuai dengan standar pelayanan rekam medis satu sampai tujuh untuk meningkatkan hasil penilaian pelayanan rekam medis. Di Rumah Sakit Lancang Kuning Pekanbaru setelah dilakukan implementasi pelayanan rekam medis hanya ada enam standar yang bisa diterapkan tapi masih belum mencapai nilai lulus akreditasi pelayanan rekam medis. Disebabkan karena tenaga unit kerja rekam medis tidak memenuhi kualifikasi jabatan, ruangan tidak sesuai dengan standar rekam medis yang disebabkan keterbatasan dana dari rumah sakit. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk melengkapi standar pelayanan rekam medis sesuai standar akreditasi agar hasil penilaiannya mencapai nilai maksimal oleh karena itu rumah sakit perlu membuat program dan kegiatan, mentaati Undang-Undang Republik Indonesia rumah sakit, dan melakukan akreditasi secara berkala minimal tiga tahun sekali jika tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar maka izin rumah sakit dapat dicabut.In an effort to improve the quality of care, the hospital must conduct periodic accreditation at least every three years. Standard hospital services meet five basic service activities, namely administration and management, medical services, emergency services, nursing services, medical record services and each hospital has a duty to carry medical records. Preliminary data indicate that the assessment parameter passing grade accreditation service medical records are lacking. The purpose of this study to find out how to increase the value of the parameter Hospital medical service record Lancang Kuning Pekanbaru minimum national standards. This type of research is non standard qualitative data collection methods of observation and in-depth interviews with four informants. Data processing is done by using the technique of triangulation and qualitative analysis. The result showed that the measurement of medical record services performed according to the standard one to seven is only 25.45%. According to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia Year 2008 that the value is still below 75%, so the lack of adherence to accreditation standards, therefore, necessary guidelines in accordance with the standard of care medical record up to seven to improve the assessment of medical record services. Lancang Kuning Hospital Pekanbaru after the implementation of the service records of only six standards that could be applied but still not achieve a passing grade of accreditation of medical record services. Caused by power unit medical record does not meet the qualifications of office, the room is not in accordance with the standards of the medical records due to lack of funding from the hospital. Suggested to the hospital for a complete medical record service standards accreditation standards in order to achieve maximum value assessment result therefore hospitals need to create programs and activities, obey the Law of the Republic of Indonesia hospital, and perform periodic accreditation minimum three years if no longer meets the requirements and standards of the hospital license can be revoked
Faktor Ibu yang Mempengaruhi Persalinan Prematur di RSUD Arifin Achmad Pekanbar
Preterm labor or parturition Prematurus is labor that occurs at age less than 37 weeks of pregnancy is calculated from the first day of last period. Data in hospitals Arifin Achmad Pekanbaru data obtained in 2010 obtained data on the number of labor as much as 2400 cases, with 190 cases of preterm labor (7.91%), in 2011 the number of births as 2287 cases with 279 cases of preterm labor (12%) and in the period January-April 2012 Number 780 cases of preterm labor (11.5%). The purpose of research is knowing the relationship of the complications of pregnancy, a history of preterm labor, anemia, age and parity with preterm labor. Type of research is a case-control study. The population in this study were all mothers giving birth at hospitals Arifin achmad Pekanbaru. Size of the sample consisted of 245 cases and 245 controls. Data analysis was performed by univariate, bivariate and multivariate Logistic Regression method Ganda. The results is a complication of pregnancy (95% CI: 4.09 to 9.21), age (95% CI: 1.58 to 3.69), and parity (95% CI: 1.05 to 2.36) associated with preterm labor. The conclusion that the dominant variables associated with the incidence of preterm birth is a complication of pregnancy and no variable counfounding. Advice to pregnant women who experience pregnancy complications during their pregnancy on a regular basis at least four times during pregnancy and high parity mothers are advised to use contraception; To health professionals to classify the status of patients at risk to facilitate the provision of IEC.Persalinan prematur atau Partus Prematurus adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Data di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru didapatkan data pada tahun 2010 didapatkan data jumlah persalinan sebanyak 2400 kasus, dengan persalinan prematur 190 kasus (7,91%), tahun 2011 jumlah persalinan sebanyak 2287 kasus dengan persalinan prematur 279 kasus (12%) dan pada periode Januari-April 2012 jumlah persalinan prematur 780 kasus (11,5%). Tujuan penelitian adalah diketahuinya hubungan dari komplikasi kehamilan, riwayat persalinan prematur, anemia, umur dan paritas dengan persalinan prematur. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di RSUD Arifin achmad Pekanbaru. Besarnya sampel terdiri dari 245 kasus dan 245 kontrol. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat dengan metode Regresi Logistic Ganda. Hasil penelitian adalah komplikasi kehamilan (95% CI: 4,09-9,21), umur (CI 95%: 1,58-3,69), dan paritas (95% CI: 1,05-2,36) berhubungan dengan persalinan prematur. Kesimpulan yaitu variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian persalinan prematur adalah komplikasi kehamilan dan tidak ada variabel counfounding. Saran kepada ibu hamil yang mengalami komplikasi kehamilan untuk memeriksakan kehamilan secara teratur minimal 4 kali selama kehamilan; pada ibu paritas tinggi disarankan menggunakan kontrasepsi mantap; dan Kepada tenaga kesehatan dapat mengelompokkan status pasien yang berisiko untuk mempermudah pemberian KI
Faktor-faktor yang berhubungan dengan Usia Menarche Siswi SMP PGRI Pekanbaru
Some recent research suggests the likelihood of an accelerated teenage girls experience menarche, which means the faster entering the reproductive period. The purpose of this study to determine the factors associated with age of menarche girls, including maternal age of menarche, nutritional status and socioeconomic status. This study uses quantitative analytical methods, with cross sectional design, are carried out from March-April 2012 in Junior High School PGRI Pekanbaru. Sampling technique is done by simple random sampling simple random The subject of this study was grade VII and VIII SMP PGRI Pekanbaru numbered 62 people. Measuring instrument used was quesionnaire. Data for bivariate analysis with ChiSquare test. The results obtained most of the girls experienced menarche at normal age of female students by 43 people (69.4%), women who experienced menarche at normal age of mothers was 49 students (79.0%), with significantly by 0.015 (p value <0, 05) with OR = 5,52. Normal nutritional status of as many as 48 students (77.4%), with significantly by 0.022 (p value <0.05) with OR=4,48 and high socioeconomic status of 40 female students (64.5%), amounting to 0.004 exhibited significantly (p value <0, 05 )with OR = 5,65. It is expected to work with officers Care Health Services Youth (PKPR) from the local health center to provide counseling on reproductive health, especially adolescents aged 12-18 years of menarcheBeberapa penelitian terakhir menunjukkan kecendrungan semakin cepatnya remaja putri mengalami menarche yang berarti semakin cepat memasuki masa reproduksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menarche siswi, antara lain usia menarche ibu, status gizi dan status sosial ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif, dengan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Maret – April 2012 di SMP PGRI Pekanbaru. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan acak sederhana simple random sampling. Subjek penelitian ini adalah siswi kelas VII dan VIII SMP PGRI Pekanbaru berjumlah 62 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan dalam bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar siswi mengalami menarche pada usia normal sebanyak 43 orang siswi (69,4%), ibu yang mengalami menarche pada usia normal sebanyak 49 ibu siswi (79,0%), dengan signifikan sebesar 0,015 (p value <0,05) dengan OR= 5,52. Status gizi normal sebanyak 48 siswi (77,4%), dengan signifikan sebesar 0,022 (p value <0,05) dengan OR 4,48 dan status sosial ekonomi tinggi sebanyak 40 siswi (64,5%), dengan signfikan sebesar 0,004 (p value <0,05) dengan OR=5,65. Diharapkan adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan petugas Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja usia 12-18 tahun terutama tentang menarch
Perilaku Seks Pranikah pada Mahasiswa STIKes Hang Tuah Pekanbaru
Based on the resulth of research about premarital sex in 2009 In pekanbaru city by PKBI found that 38,78% of males had ever done extramarital relations and female 16,98%. The study used qualitative method. Subject research was students of STIKes HangTuah collage. To obtain data was by observing and interviewing lecturer in faculties, parents, and owner of hotels. The study found that sex behavior was divided into a no-risk (just talking and holding hands) and risk (from kissing to doing intercourse). From the survey, there were 7 risky informants and 9 not risky. Almost half of informant (7 of 9) behaved sexual. Some of them had ever done matrimony. There were tendencies of relationship in knowledge, attitude, perception, peers and parents roles friendship. STIKes HangTuah and health service suggest that sex education can be one of subject for students.Hasil penelitian PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) – Riau tahun 2009 bahwa 38,75 % pria sudah melakukan hubungan seks pranikah sedangkan wanita 16,98 %. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitian adalah mahasiswa STIKes Hang Tuah Pekanbaru, informan kunci merupakan dosen bagian kemahasiswaan, orang tua, ibu kos dan teman dekat. Dari penelitian ini diperoleh bahwa Perilaku seksual dibagi kedalam yang tidak berisiko (mulai dari ngobrol dan pegangan tangan saja), dan yang berisiko (dari ciuman sampai dengan berhubungan intim). Dari hasil penelitian diketahui 7 informan yang berisiko dan 9 lainnya tidak berisiko. Hampir separuh (7 dari 16) informan berperilaku seksual yang berisiko dan beberapa diantaranya pernah melakukan hubungan seksual pra nikah. Ada kecenderungan hubungan antara pengetahuan, sikap, persepsi, teman sebaya dan peran keluarga dalam mengawasi pergaulan anaknya terhadap perilaku seks berisiko. Saran bagi STIKes Hang Tuah dan Dinas Kesehatan agar dapat memasukan pendidikan seks kedalam kurikulu