Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Telur Parasit Nematoda Usus pada Pemukiman Kurang Sehat di Kota Pekanbaru
Kondisi lingkungan perumahan yang kurang mendukung seperti drainase dengan kondisi kurang memenuhi syarat serta masyarakat kurang menyadari adanya hubungan antara kekumuhan tempat tinggal dan epidemi penyakit, akan menimbulkan salah satu dampak pada masyarakat yaitu penyakit infeksi parasit nematoda usus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi drainase, jenis parasit nematoda usus, kepadatan dan frekuensi kehadiran telur parasit nematoda usus pada pemukiman kurang sehat di Kota Pekanbaru. Sampel diambil dengan teknik Purposif Sampling. Dipilih tiga level pemukiman yang termasuk kriteria pemukiman kurang sehat. Dari ketiga daerah pemukiman di atas dipilih lingkungan kelompok rumah yang punya drainase permanen, semi permanen dan drainase konvensional. Masing-masing kelompok drainase diambil 20 rumah yang dijadikan sebagai sampel. Untuk membandingkan perbedaan kepadatan telur dari jenis-jenis nematoda parasit usus manusia yang ditemukan pada tanah antar lokasi pemukiman dilakukan dengan uji Kruskall-Wallis. Ditemukan telur dari dari 2 jenis parasit nematoda usus di tanah lingkungan pemukiman kurang sehat yaitu A. lumbricoides, T. trichiura pada semua lokasi drainase. Berdasarkan analisis statistik Kruskall Wallis ternyata kepadatan telur A.lumbricoides antar lokasi berbeda nyata, sedangkan kepadatan telur T. trichiura antar lokasi tidak berbeda nyata. Frekuensi kehadiran telur A. lumbricoides lebih tinggi dibandingkan dengan telur T. trichiura. Frekuensi kehadiran dari telur tersebut berturut-turut adalah 66,67 % dan 53,33
Pengaruh Fundamental Safe Work Practice Terhadap Pencegahan Kecelakaan Kerja Bagian Workover di PT. ACS Duri
PT. Asrindo Citraseni Satria (ACS) adalah perusahaan yang bergerak dibidang minyak dan gas bumi dan merupakan sub kontraktor PT.CPI. PT. ACS telah menerapkan FSWP yang mempunyai tujuan yakni untuk mengidentifikasi, menilai, mengurangi, mengendalikan atau menghilangkan resiko-resiko yang terkait dengan pekerjaan, akan tetapi sampai sekarang masih ada kecelakaan kerja yang terjadi walaupun dalam jumlah kecil. Penulis ingin mengetahui tentang pengaruh penerapan Fundamental Safe Work Practice (FSWP) terhadap pencegahaan kecelakaan kerja dibagian Workover PT. ACS Duri. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik kuantitatif, dengan desain Cross Sectional yang dilakukan mulai bulan Mei sampai dengan Juni Tahun 2012 dengan besar sampel 122 dari 360 orang yang berkerja di bagian Workover. Sampel diambil dengan menggunakan sistem Accidental Sampling, dan data diolah dengan menggunakan program komputer dengan menganalisa variabel independen berupa penerapan FSWP serta variabel dependen yaitu kecelakaan kerja dan diuji menggunakan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan FSWP dapat mencegah kecelakaan kerja yang meliputi SOP dengan nilai P = 0,01 lebih kecil dari nilai α =0,05 berarti ada hubungan bermakna antara penerapan SOP dengan kecelakaan kerja, PTW dengan nilai P = 0,02 lebih kecil dari nilai α =0,05 berarti ada hubungan bermakna antara penerapan PTW dengan kecelakaan kerja, serta LOTO dengan nilai P = 0,01 lebih kecil dari nilai α =0,05 berarti ada hubungan bermakna antara penerapan LOTO dengan kecelakaan kerja. Disimpulkan bahwa, penerapan FSWP dapat mengurangi/menurunkan angka kecelakaan kerja di bagian Workover, dan diharapkan bagi pihak manajemen HES untuk meningkatkan pengetahuan karyawan tentang aspek-aspek FSWP (SWA, Hazard Analysis, SOP, Access Control, PPE, MSDS, Housekeeping, PTW & Other Safe Work Practices).PT. Asrindo Citraseni Satria (ACS) is a company engaged in oil and gas and is a sub contractor PT.CPI. PT. ACS has implemented FSWP whose objective which is to identify, assess, reduce, control or eliminate the risks associated with the work, but until now there is still a work accident that occurred even in small quantities. The author would like to know about the effect of application of the section Fundamental Safe Work Practice (FSWP) can prevent the accident in workover PT. ACS Duri. This research uses quantitative analytical survey, with the design of Cross Sectional conducted from May to June 2012 with a large sample of 122 of the 360 people who work in the workover. Samples were taken by using a system Accidental Sampling, and the data processed using a computer program to analyze the independent variables in the form of application as well as the dependent variable is FSWP occupational accidents and tested using Chi-square. The results showed that, the application of FSWP can prevent accidents which includes Standard Operating Procedure (SOP) with the value of P = 0.01 is smaller than the value of α = 0.05 that means there are a significant correlation between the application of SOP with workplace accidents, PTW with a value of P = 0.02 is more smaller than the value of α = 0.05 means that there are significant correlation between the application of Permit To Work (PTW) accidents, and tagged with a value of P = 0.01 is smaller than the value of α= 0.05 means there is a significant correlation between the application of Log Out/Tag Out (LOTO) by accident. It was concluded that, the application of FSWP can reduce / reduce the number of occupational accidents in the workover, and is expected for the management of HES to improving the knowledge for employee about the aspects of FSWP (SWA, Hazard Analysis, SOP, Access Control, PPE, MSDS, Housekeeping, PTW & Other Safe Work Practices)
Faktor Ibu yang Mempengaruhi Partus Abnormal di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Abnormal Pertus indicate the presence of complicating factors or complications of childbirth. Data at Arifin Achmad 2981 the number of labor cases, where the number of deliveries by vacuum extraction of as many as 96 cases (9.17%), SC as many as 407 cases (8.8%) and breech position 82 cases (12.97%), keeping the case the highest order. This study aims to know the factors associated with abnormal parturition the condition of pregnancy, birth spacing before, the levels of Hb, Conditions Membranes, Blood Pressure, Housing, How to come to the hospital, Age, Parity, Employment, Education. Method : this was an observational research using case control study. The number of samples are 245 cases and using 245 cases as controls.. Data analyzing was performed using univariate, bivariate and multivariate logistic regression method by program conputer. The results of this study is, the condition of pregnancy (95% CI: 1.66 to 4.60), Hb levels (95% CI: 4.26 to 21.59) , Blood Pressure (95% CI: 0.09 to 0.31), residence (95% CI: 11.18 to 3.17), How Come RS (, 95% CI: 1.78 to 4.6), age (95% Cl: 1.2 to 3.32), Employment (95% CI: 1.88 to 4.78), education (95% CI: 1.07 to 2.68). The conclusion of this study that the dominant variables associated with abnormal parturition is Hemoglobin Levels (Hb). Advice for mothers who have no desire to get pregnant again, it is advisable to use a high effectiveness of contraception (intrauterine device steady).Partus Abnormal menunjukkan adanya faktor penyulit atau komplikasi persalinan. Data di RSUD Arifin Achmad jumlah persalinan 2981 kasus, dimana jumlah persalinan dengan vakum ekstrasi sebanyak 96 kasus (9,17%), SC sebanyak 407 kasus (8,8%) dan letak sungsang 82 kasus (12,97%), kasus partus abnormal menepati urutan terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya hubungan faktor-faktor dari Kondisi kehamilan, Jarak kelahiran sebelumnya, Kadar Hb, Kondisi Ketuban, Tekanan Darah, Tempat tinggal, Cara Datang ke RS, Umur, Paritas , Pekerjaan dan Pendidikan dengan partus Abnormal. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional. Jenis desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus kontrol (Case Control). Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Besarnya sampel penelitian ditentukan dengan memperhatikan Odds Ratio (OR) hasil beberapa penelitian terdahulu tentang beberapa faktor yang mempengaruhi persalinan abnormal. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat dengan metode regresi logistic dengan program komputerisasi. Hasil penelitian ini adalah, Kondisi Kehamilan (OR : 2,77 ; 95% Cl : 1,66 – 4,60), Kadar Hb (OR : 9,59 ; 95% Cl : 4,26 – 21,59), Tekanan Darah (95% Cl : 0,09 – 0,31), Tempat Tinggal ( 95% Cl : 3,1711,18), Cara Datang ke RS (95% Cl : 1,78 – 4,6), Umur (95% Cl : 1,2 – 3,32), Pekerjaan (95% Cl : 1,88 – 4,78), Pendidikan (95% Cl : 1,07 – 2,68). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa variabel dominan yang berhubungan dengan partus abnormal adalah Kadar Hemoglobin (Hb) dan tidak ada data yang coufonding. Saran bagi perempuan yang sudah tidak menginginkan hamil lagi, disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang efektifitasnya tinggi (alat kontrasepsi mantap)
Faktor Risiko Kejadian Pre-Eklampsia di RSUD Arifin Achmad
Indonesia's maternal mortality rate is still high. Causes of maternal mortality in Indonesia namely hemorrhage (6070%), eclampsia (10-20%), obstructed labor (5%) and infections (8%). Pre-eclampsia is the onset of eclampsia. Preeclampsia is a disease with signs of hypertension, edema, and proteinuria caused by pregnancy pre-eclampsia can occur due to multiple risk factors such as primigravida, large fetus, pregnancy with a single fetus. This study aimed to determine the factors associated with the incidence of pre-eclampsia at Arifin Achmad Hospital Riau Province Year 2010-2011. Case study research design is control. Cases in this study all women who developed pre-eclampsia in the year 2010-2011. Controls in this study all women who did not develop pre-eclampsia in the year 2010-2011. The result showed that mothers with a history of pre-eclampsia 5 times (95% CI 2.3-10.8) greater risk of pre-eclampsia causes, working mothers 3.5 times (95% CI 2.4-5.2) greater risk of pre-eclampsia causes, maternal age <20 or> 35 years 3.2 times (95% CI 2.2-4.8) greater risk of pre-eclampsia has occurred, Mrs. primigravida 3.2 times (95% CI 2.1-4.7) greater risk of pre-eclampsia leads to mother junior secondary education 2.3 times (95% CI 1.6-3.3) greater risk of pre-eclampsia causes compared with high school education or more. The conclusion that the independent variables that have a causal relationship with the incidence of pre-eclampsia is a history of pre-eclampsia, occupation, age, gravida status and education. Suggestions intended for health professionals to perform a comprehensive examination, the assessment and physical examination, and for the mother to be able to conduct an intensive examination of the ANC, as well as increasing the frequency of examinations during pregnancyAngka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi. Penyebab kematian ibu di Indonesia yaitu perdarahan (60-70 %), eklampsia (10-20 %), persalinan macet (5 %) dan infeksi (8 %). Pre-eklampsia merupakan awal terjadinya eklampsia. Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan pre-eklampsia bisa terjadi karena beberapa faktor resiko antara lain primigravida, janin besar, kehamilan dengan janin lebih satu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pre-eklampsia di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Tahun 2010-2011. Disain penelitian adalah Studi Kasus Kontrol. Kasus pada penelitian ini seluruh wanita yang mengalami pre-eklampsia pada tahun 2010-2011. Kontrol pada penelitian ini seluruh wanita yang tidak mengalami preeklampsia pada tahun 2010-2011. Hasil penelitian didapatkan bahwa ibu yang memiliki riwayat pre-eklampsia 5 kali (CI 95% 2.3-10.8) lebih beresiko menyebabkan terjadinya pre-eklampsia, ibu yang bekerja 3.5 kali (CI 95% 2.4-5.2) lebih beresiko menyebabkan terjadinya pre-eklampsia, ibu yang berumur <20 atau > 35 tahun 3,2 kali (CI 95% 2.2-4.8) lebih beresiko menyebabkan terjadi pre-eklampsia, Ibu primigravida 3.2 kali (CI 95% 2.1-4.7) lebih beresiko menyebabkan terjadinya preeklampsia, ibu dengan pendidikan SLTP 2,3 kali (CI 95% 1.6-3.3) lebih beresiko menyebabkan terjadinya pre-eklampsia dibandingkan dengan pendidikan SLTA keatas. Kesimpulan yaitu variabel independen yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian pre-eklampsia adalah riwayat pre-eklampsia, pekerjaan, umur, status gravida dan pendidikan. Saran ditujukan bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan secara komprehensif, dalam melakukan pengkajian serta pemeriksaan fisik, dan bagi ibu untuk dapat melakukan pemeriksaan ANC secara intensif, serta meningkatkan frekuensi pemeriksaan selama kehamilan
Proses Perencanaan Tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
Di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman terjadi kecenderungan penurunan capaian indikator program kesehatan dalam dua tahun terakhir. Salah satunya disebabkan oleh kurang sempurnanya perencanaan program dan kegiatan yang direncanakan setiap tahunnya. Ini bisa saja terjadi karena dalam proses penyusunan perencanaan tersebut tidak mengikuti alur perencanaan, konsultasi, bimbingan teknis maupun koordinasi. Tujuan penelitian diketahuinya proses penyusunan perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dengan 17 orang informan. Hasil penelitian menyatakan alur perencanaan belum sesuai dengan langkah perencaaan terpadu, konsultasi belum maksimal, bimbingan teknis langsung ke Bappeda dan koordinasi juga masih belum optimal. Agar perencanaan berkualitas, maka perlu pedoman dalam penyusunan perencanaan, konsultasi perlu dimonitoring pimpinan, bimbingan teknis disosialisasikan dan rapat koordinasi tiap akhir tahun dengan lintas sektor.Dinas Kesehatan Padang Pariaman occured trends decreasing indicators achievement of health programs in the last two years. This is one of them caused by defective planning programs and activities that are planned each year. This caused by the planning was not following the path planning, consulting, technical guidance and coordination. The purpose of this research will know the annual planning process in Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman. The research method uses a qualitative approach with using the technique of personal interviews with 17 informants. The results explain the chronology of the path planning has not followed the steps according to the rules, monitoring of supervisors on the implementation of consultation is still lacking, the technical guidance of accomplished and implementation coordination is still less than optimal. In order for planning has quality, it is necessary to gives guidance of planning, monitoring on the implementation of consultation, socialization of the technical guidance and the meet of coordinating every end of the year with correlated sector
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswi dengan Tindakan Perawatan Organ Reproduksi di Akademi Kebidanan Internasional Pekanbaru
Perawatan organ reproduksi wanita diperlukan untuk menghindari beberapa permasalahan organ reproduksi seperti iritasi, infeksi, alergi dan karsinoma. Survei awal yang dilakukan peneliti dari pada 20 orang mahasiswi menunjukkan pengetahuan mereka cukup baik, tetapi masih ada 25% mahasiswi yang tidak melakukan perawatan organ reproduksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap mahasiswi dengan tindakan perawatan organ reproduksi di Akademi Kebidanan Internasional Pekanbaru. Jenis penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah seluruh mahasiswi tingkat I di Akademi Kebidanan Internasional Pekanbaru. Seluruh populasi dijadikan sebagai sampel dengan besar sampel adalah 100 orang mahasiswi. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi mempunyai pengetahuan baik sebanyak 86 orang (86%) dan mempunyai sikap positif sebanyak 59 orang (59%), serta sebagian responden melakukan tindakan perawatan organ reproduksi sebanyak 52 orang (52%). Hasil uji chi-square pengetahuan dan sikap dengan tindakan perawatan organ reproduksi dengan p value yang sama yaitu p = 0,006. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tindakan perawatan organ reproduksi dengan OR 8,33 (95% CI : 1,75-39,54) dan ada hubungan signifikan antara sikap dengan tindakan perawatan organ reproduksi dengan OR = 3,49 (95% CI : 1,51-8,06). Saran penelitian ini diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian pada remaja awal dengan jenis penelitian dan variabel yang berbeda
Prevalensi Anemia, Status Gizi dan Kebiasaan Makan Pagi pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru
Anemia pada anak sekolah dasar masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 prevalensi anemia pada anak usia 5-11 tahun sebesar 24%. Sementara itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing Mercy Corps. (2005) melaporkan bahwa prevalensi anemia pada anak sekolah dasar di Riau sebesar 55,6%. Survei tersebut juga melaporkan bahwa 35% anak sekolah dasar di Riau mengalami status gizi pendek. Kebiasaan makan pagi merupakan faktor determinan anemia dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi anemia, status gizi dan kebiasaan makan pagi pada anak sekolah dasar di Kota Pekanbaru. Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan crossectional. Subjek penelitian adalah anak sekolah dasar usia 10-12 tahun di Kota Pekanbaru sebanyak 95 anak. Pemilihan sekolah dasar berdasarkan teknik multi stage cluster sampling, dan subjek penelitian dari sekolah dasar dipilih berdasarkan kriteria usia 10-12 tahun. Variabel penelitian adalah status anemia, status gizi berdasarkan antropometri dengan indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dan kebiasaan makan pagi. Data status anemia diukur melalui pemeriksaan dengan metode STAT SITE MHgb, status gizi diukur dengan timbangan digital dan microtoice, kebiasaan makan pagi diperoleh melalui kuesioner. Data dianalisis secara univariat dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Prevalensi anemia pada anak sekolah dasar di Kecamatan Bukit Raya adalah 34,2%. Prevalensi status gizi kurang sebesar 15,2%, kurus 0,8% dan pendek 19,7%. Kebiasaan makan pagi jarang sebanyak 41,7%. Prevalensi anemia pada anak sekolah dasar di Kecamatan Bukit Raya termasuk tingkat sedang. Prevalensi status gizi kurang pada anak sekolah dasar termasuk rendah. Masih banyak ditemukan anak sekolah dasar yang jarang makan pag
Pengaruh Terapi Musik Klasik terhadap Respon Fisiologis pada Pasien yang Mengalami Kecemasan Praoperatif Ortopedi
Persiapan mental pasien sebelum dilakukan operasi sangat diperlukan. Apabila pasien mengalami kecemasan berat dan panik rencana operasi akan tertunda, hal tersebut memungkinkan resiko infeksi akan lebih besar. Dari berbagai penelitian menunjukan bahwa musik memiliki pengaruh yang kuat terhadap kesehatan, terutama dalam menenangkan pikiran, menurunkan ketegangan fisik dan menciptakan keadaan rileks, apabila pasien dalam keadaan rileks diharapkan dapat mempengaruhi respon fisiologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik terhadap respon fisiologis pada pasien yang mengalami kecemasan praoperatif ortopedi. Desain penelitian adalah pra-eksperiment dengan jumlah sampel 30 orang menggunakan purposive sampling. Terapi musik diberikan selama ±30 menit. Analisis yang digunakan adalah Paired Sample T Test dan Wilcoxon. Didapatkan mean tekanan darah sistol sebelum terapi adalah 120,2 mmHg, setelah terapi 119,6 mmHg, p value= 0,227. Mean tekanan darah diastol sebelum terapi adalah 74,1 mmHg, setelah terapi adalah 73,2 mmHg, p value= 0,133. Mean frekuensi denyut jantung sebelum terapi adalah 81,8 x/menit, setelah terapi adalah 79 x/menit, p value= 0,005. Median frekuensi pernafasan sebelum terapi adalah 23 x/menit, setelah dilakukan terapi adalah 21 x/menit, nilai p value = 0,001. Hal ini menunjukkan terapi musik klasik memiliki pengaruh terhadap frekuensi denyut jantung dan frekuensi pernafasan pada pasien yang mengalami kecemasan praoperatif ortopedi. Peneliti menyarankan pemberian terapi musik klasik dengan frekuensi 2 sampai 3 kali sehari sebelum pasien menjalani operasi agar mendapatkan efek relaksasi yang optimal.Preparation of patients mental before to surgery is needed. If patients experience severe anxiety and panic operating plan will be delayed, it will allow a greater risk of infection. From various research show that music has a strong influence on health, especially in calming the mind, reduce physical tension and create a relaxed state, if the patient in a relaxed state is expected to affect physiological responses. The purpose of this study was to determine the effect of classical music therapy on physiological responses in patients who underwent orthopedic praoperatif anxiety. The study design is pre-experiment with a sample of 30 people using purposive sampling. Music therapy is given for ± 30 minutes. The analysis used were Paired Sample T Test and Wilcoxon. Obtained mean systolic blood pressure was 120.2 mmHg before therapy, after therapy 119.6 mmHg, p value = 0.227. Mean diastolic blood pressure before treatment was 74.1 mmHg, 73.2 mmHg after therapy is, p value = 0.133. Mean heart rate before treatment was 81.8 x / min, after therapy was 79 x / minute, p value = 0.005. Median respiratory frequency before treatment was 23 x / minute, after the therapy is 21 x / minute, p value = 0.001. This shows the classical music therapy has an influence on heart rate and respiratory frequency in patients who underwent orthopedic praoperatif anxiety. Researchers recommend the use of classical music therapy with a frequency of 2 to 3 times a day before patients undergo surgery in order to obtain an optimal relaxation effects
Efektivitas Kepemimpinan dan Komunikasi Tim Keselamatan Pasien di RSI Ibnu Sina Pekanbaru Riau
Patient safety is a priority in hospitals services. Implementation of patient safety are expected to minimize the risk of adverse event. Committee of Patient Safety in Hospitals invite all stakeholders to be more attention on patient safety issues. However, in the process, teamwork seems not effective. Leadership is one of the characteristics that an teamwork should have. Various patient safety studies have been done and the result is communication also affects the efficiency of teamwork. This study was aimed to evaluate leadership and communication effectiveness of patient safety teamwork in Ibnu Sina Islamic Hospital, Pekanbaru, Riau. This study used a mixed method exploratory sequential design. In-depth interview and observation were used to explore perception and behavior that describe leadership and communication effectiveness on patient safety teamwork. A Survey using questionnaires were used to categorize perception of both aspects into YAKKUM competency level. Data were analyzed qualitatively using open code 3.6 and quantitatively through frequency distribution. All member of patient safety team participated in the study. The results of study, Of the 42 cases reported incidents, there were 45.22% medication error cases, in which 2.38% result in death and 50% were not analyzed. There were no reports of internal and external work done by team. The effectiveness of leadership and communication still at level 2nd and 3rd. The Conclusion of the research was leadership and communication effectiveness on this team is not optimal and predominantly used passive leadership. Round of Patient Safety (RPS), The SBAR Tools, reward and punishment are recommended in this study. Keselamatan pasien merupakan prioritas dalam aspek pelayanan di rumah sakit. Upaya penyelenggaraannya diharapkan meminimalkan risiko Kejadian Tidak Diinginkan (KTD). Komite Keselamatan Pasien di Rumah Sakit (KKP-RS) adalah wadah yang berinisitif mengajak semua stakeholder untuk memperhatikan keselamatan pasien. Karakteristik efektivitas kinerja tim harus memiliki prinsip leadership. Berbagai penelitian tentang patient safety teamwork ini terus dilakukan dan hasilnya komunikasi juga merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi efektivitas kinerja teamwork. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan dan komunikasi kinerja tim KP-RS di RSI Ibnu Sina Pekanbaru, Riau. Jenis penelitian ini observasional, deskriptif menggunakan mixed methods dengan rancangan sequensial eksploratory. Wawancara mendalam dan observasi digunakan untuk mengeksplorasi persepsi dan perilaku yang menggambarkan efektivitas kepemimpinan dan komunikasi pada tim KP-RS. Kemudian dilakukan survei pada 20 informan untuk mengelompokkan persepsi efektivitas kedua aspek tersebut kedalam level kompetensi YAKKUM. Pengolahan data kualitatif menggunakan open code 3.6 dan data kuantitatif dengan distribusi frekuensi. Subjek penelitian adalah keseluruhan anggota tim. Hasil Penelitian menunjukan dari 42 kasus laporan insiden, terjadi 45.22% medication error, 2.38% mengakibatkan kematian dan 50% kasus tidak dilakukan analisis. Tidak ada laporan internal dan eksternal yang dilakukan oleh tim KP-RS. Evaluasi efektivitas kepemimpinan dan komunikasi masih berada pada level 2 dan 3. Kesimpulan dari penelitian adalah bahwa evaluasi efektivitas kepemimpinan dan komunikasi pada tim ini belum optimal. Fungsi, perilaku dan gaya kepemimpinan di tim KP-RS adalah passive leadership. Ronde Keselamatan Pasien (RKP), The SBAR Tools, reward and punistment adalah program yang direkomendasikan pada penelitian ini. 
Pengaruh Kadar Hb dan Paritas dengan Kejadian Intra Uterine Fetal Death (IUFD) di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
IntraUterineFetalDeath(IUFD) is adead fetusin the wombweighing ≥500 gramsordeath ofthe fetus in thewombat 20 weeksormore. Data obtainedfrom theMedical RecordsGeneral HospitalArifinAchmadPekanbarufrom 2009 to2011 toincreasethe incidence ofIUFD. In 2009the proportion ofthe incidence ofIUFD3.6%of2929deliveries.In 2010the proportion ofIUFDincidenceincreased 4.2% from 2989deliveries. In 2011the proportionincreased 4.4% from 2856deliveries. The purposeof researchisknownrisk factorin theincidence ofIUFDGeneral Hospital Arifin Achmad Pekanbaru2010-2011.The designstudy is acase-control study(casecontrol study). The case ofthedead fetusin the wombwere born tomothersin General Hospital Arifin Achmad Pekanbaruin 2010-2011periodJanuary 2010-December 2011 andthe controlinfants born tomotherslivingin General Hospital Arifin Achmad Pekanbaru2010-2011periodJanuary 2010-December 2011 .The resultsof women havingHb<11 g% higher risk of havingIUFD3 times(95% CI1.9 to 4.9) than those whohave theHb level≥11 g%, mothers withparity0 and> 4 moreriskybearwithIUFD1.5 times(95% CI1 to 2.1) compared towomen whohadparity1-4. The conclusionthatthe independentvariablesthat havea causal relationshipwith the incidence ofIUFDishemoglobinandparity. Adviceisintended forhealth professionalsactive inproviding information, forGeneral Hospital Arifin Achmad Pekanbaruneed tobe active inimplementingAMP, andfor pregnant womenand families that participate inprenatal careandfamily planningIntra Uterine Fetal Death (IUFD) adalah janin mati dalam rahim dengan berat badan ≥ 500 gram atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Data yang diperoleh dari Rekam Medik RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dari tahun 2009 sampai 2011 untuk kejadian IUFD mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 proporsi kejadian IUFD 3,6 % dari 2929 persalinan. Pada tahun 2010 proporsi kejadian IUFD meningkat 4,2 % dari 2989 persalinan. Pada tahun 2011 proporsi meningkat 4,4 % dari 2856 persalinan. Tujuan penelitian adalah diketahuinya faktor resiko Kejadian IUFD di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2010-2011. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus kontrol (case control study). Kasus yaitu janin mati di dalam rahim yang dilahirkan oleh ibu di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2010-2011 periode Januari 2010-Desember 2011 dan kontrol yaitu bayi yang dilahirkan hidup oleh ibu di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2010-2011 periode Januari 2010-Desember 2011. Hasil penelitian ibu yang memiliki kadar Hb < 11 gr % lebih berisiko melahirkan IUFD 3 kali (CI 95% 1,9-4,9) dibandingkan ibu yang memilki kadar Hb ≥ 11 gr %, ibu yang memiliki paritas 0 dan > 4 lebih berisiko melahirkan dengan IUFD 1,5 kali (CI 95% 1-2,1) dibandingkan ibu yang memiliki paritas 1–4. Kesimpulan yaitu variabel independen yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian IUFD adalah kadar Hb dan paritas. Saran ditujukan bagi tenaga kesehatan yaitu aktif dalam memberikan penyuluhan, bagi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru perlu keaktifan dalam melaksanakan AMP, dan bagi ibu hamil dan keluarga yaitu ikut serta dalam pemeriksaan kehamilan dan program KB