Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
    548 research outputs found

    Evaluasi Efek Relationship Marketing Pada Pelayanan Skin Care di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta

    Get PDF
    Skin care is a service which is taken into account by PKU Muhammadiyah Yogyakarta hospital as a way to cope with the competition among the hospitals. PKU Muhammadiyah Yogyakarta skin care was established in July, 2010. In a year, visit amount had fluctuated. One fluctuated impact is negative evaluation of market because hospital can not control skin care service. marketing evaluation a principles on relationship marketing. Handled fluctuated way of marketing evaluation principled on relationship marketing. To evaluate of relationship marketing on skin care service in PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital.  This research used a mixed method with design sequential explanatory. The subject quantitative is 112 respondents and subject qualitative is 7 respondents selected from subject quantitative. The data was taken from questionnaires and in-depth interviews. The data analysis is double linear regression. Communication have association on trust, commitment and relationship satisfaction.Relationship duration have association on commitment and relationship satisfaction. Interaction frequency have no association on trust. Commitment and relationship satisfaction have association on word of mouth. Factors affecting no customer commitment is customer must wait whereas did appoitment, beautician can not answer the question of customers, no drugs in pharmacy and no resulting skin care in PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital. Commitment and relationship satisfaction have association on word of mouth. Communication and relationship duration can increase of commitment and relationship satisfactionLayanan perawatan kulit merupakan layanan yang digunakan RS PKU Muhammadiyah untuk menyikapi persaingan antar rumah sakit. Dalam setahun, jumlah kunjungan mengalami fluktuatif. Salah satu dampak fluktuatif adalah penilaian negatif dari pasar karena rumah sakit yang tidak dapat mengendalikan pelayanan perawatan kulit. Sehingga salah satu cara untuk mengatasi keadaan yang fluktuatif adalah evaluasi pemasaran dengan berprinsip pada relationship marketing. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi relationship marketing pada pelayanan perawatan kulit di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian ini mixed methods dengan desain sekuensial explanatori. Subjek penelitian kuantitatif 112 responden dan subjek penelitian kualitatif 7 responden yang dipilih dari subjek penelitian kuantitatif. Pengambilan data dengan kuesioner dan wawancara mendalam. Data dianalisis dengan regresi linier berganda. Komunikasi memiliki asosiasi terhadap kepercayaan, komitmen dan kepuasan hubungan. Untuk durasi hubungan memiliki asosiasi terhadap komitmen dan kepuasan hubungan. Sedangkan frekuensi interkasi memiliki asosiasi terhadap kepercayaan. Dan untuk informasi dari mulut ke mulut memiliki asosiasi terhadap komitmen dan kepuasan hubungan. Faktor yang mempengaruhi adanya keraguan pelanggan untuk memanfaatkan layanan perawatan kulit adalah pelanggan harus menunggu padahal sudah melakukan sistem perjanjian, beautician tidak dapat menjawab pertanyaan pelanggan, tidak tersedianya obat perawatan kulit di apotek, belum adanya hasil dari perawatan kulit di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. untuk suksesnya relationship marketing pada pelayanan perawatan kulit di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, selain komunikasi, durasi hubungan, frekuensi interaksi, kepercayaan, komitmen, kepuasan hubungan dan informasi dari mulut ke mulut perlu meningkatkan keahlian penyedia, manfaat hubungan, kesamaan, persepsi harga, kemampuan menghargai pelanggan dan kualitas pelayanan

    Hubungan Sumber Air Minum, Jamban Keluarga dan Saluran Pembuangan Air Limbah dengan Kejadian Diare di Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan

    Get PDF
    Diarrhea is a bowel movement (defecation) by the number of stools more than usually (normal 100-200 ml per hour stool), with fecal liquid or semi-liquid (semi-solid), can also be accompanied by increased defecation. Based on data from the District Health Center Drain Base diarrheal disease is a disease with the highest order of 3 to Pangkalan Kuras people suffered in 2012 to 1645 events. This study aims to determine the relationship of drinking water treatment, the condition of latrines, and SaluranPembuangan Wastewater (SPAL) and the incidence of diarrhea in the community naturally Drain Base in 2013.This study is analitik kuantitatif with cross sectional design of the study, carried out at the Puskesmas Pangkalan Kuras with respondent households totaling 182 people. Data collection is by interview and observation with questionnaires, sampling techniques in this study is random sampling with sampling sytematic method. The results showed that the close relationship between the treatment of river water into drinking water (OR = 2.426), treatment of well water into drinking water (OR = 3.205), with the condition of the family latrine (OR = 3.755), and the condition of SPAL (OR = 3.588) and the incidence of diarrhea in Pangkalan Kuras. This result was obtained through chi-square analysis with 95% confidence levelPenyakit Diare adalah buang air besar (Defekasi) dengan jumlah lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja), dengan tinja yang berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai defekasi yang meningkat. Berdasarkan data Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kuras tahun 2012, penyakit diare merupakan penyakit dengan urutan tertinggi  ketiga dengan 1645 kejadian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengelolaan sumber air minum, kondisi jamban, dan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dengan kejadian diare yang di alami masyarakat Pangkalan Kuras tahun 2013.  Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik dengan desain cross secsional, dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kuras dengan responden kepala keluarga yang berjumlah 182 orang. Pengumpulan data  dengan wawancara dan observasi dengan kuesioner, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling dengan metode systematic sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan yang erat antara pengelolaan air sungai menjadi air minum dengan (OR = 2,426), pengelolaan air sumur menjadi air minum dengan (OR = 3,205), kondisi jamban keluarga  (OR = 3,755), dan kondisi SPAL (OR = 3,588) penyebab kejadian diare di Pangkalan Kuras. Hasil ini di peroleh melalui analisis chi square dengan tingkat kepercayaan 95

    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kanker Serviks di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2008-2010

    Get PDF
    Cervical cancer is a primary malignant tumor derived from epithelial cells of cervical squamous or cervix. The most common cause of cervical cancer is infection with HPV (Human Papilloma Virus), several factors are thought to increase the incidence of cervical cancer is sosiodemografis factors which include age, socioeconomic status, and sexual activity of factors that include age at first intercourse, partner change sex -replace, parity, lack of genital hygiene, smoking, history of venereal disease, chronic trauma to the cervix, as well as the use of hormonal contraceptives. The purpose of this study are known risk factors associated with cervical cancer incidence in Arifin Achmad Riau Province Year 2008-2010. This type of study is a case-control (case control study). The case of women with cervical cancer who were treated at the Arifin Achmad Riau Province, and control of cervical cancer Women are not treated at the Arifin Achmad Riau Province. The results of this study showed women with heavy work more at risk for developing cervical cancer 9 times compared with women who have jobs lightweight (OR 9,184), low-educated women four times more likely to suffer from cervical cancer compared with women who are highly educated (OR 3,698), female age at first intercourse less than 20 years 3 times higher risk of cervical cancer compared to women with age at first sexual intercourse (OR 2,792)and women above 20 years who had parity> 3 children dibandingakn 7 times greater risk to women with a parity <3 children (OR 3,396). As Conclusions,  occupation, education, age of first sexual intercourse and parity have based on the results of multivariate analysis of independent variables that have a causal relationship with the incidence of cervical cancer is work, education, age at first sexual intercourse and parity. Independent variables that have no causal relationship with the incidence of cervical cancer is are sexual partners. And independent of confounding variables by are kejadaian incidence of cervical cancer is the use of hormonal contraception, sexually transmitted diseases and age. Advice intended for Riau provincial health office of Riau Province, Arifin Achmad Riau provinceGeneral Hospital, society community and further research. Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel skuamosa serviks atau leher rahim. Penyebab tersering kanker  serviks adalah infeksi virus HPV(Human Papiloma Virus), beberapa faktor yang diduga meningkatkan kejadian kanker serviks yaitu faktor sosiodemografis yang meliputi usia, status sosial ekonomi, dan faktor aktifitas seksual yang meliputi usia pertama kali melakukan hubungan seks, pasangan seks yang berganti-ganti, paritas, kurang menjaga kebersihan genital, merokok, riwayat penyakit kelamin, trauma kronis pada serviks, serta penggunaan kontrasepsi hormonal. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau Tahun 2008-2010. Jenis penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol (case control study). Kasus yaitu wanita penderita kanker serviks yang dirawat di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau, dan kontrol yaitu Wanita bukan penderita kanker serviks yang dirawat di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau. Hasil penelitian ini menunjukkan wanita dengan pekerjaan berat lebih beresiko menderita kanker serviks 9 kali dibandingkan dengan wanita yang memiliki pekerjaan ringan (OR 9,184), wanita yang berpendidikan rendah 4 kali lebih berisiko menderita kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan tinggi (OR 3,698),  wanita yang usia pertama kali berhubungan seksual kurang dari 20 tahun lebih berisiko 3 kali menderita kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang usia pertama kali berhubungan seksual diatas 20 tahun (OR 2,792), dan wanita yang memiliki paritas > 3 anak lebih berisiko 7 kali dibandingakn dengan wanita yang memiliki paritas < anak 3(OR 3,396). Kesimpulan berdasarkan hasil analisis multivariat variabel independen yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian kanker serviks adalah pekerjaan, pendidikan, usia pertama kali berhubungan seksual dan paritas. Variabel independen yang tidak memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian kanker serviks adalah ganti pasangan. Dan variabel independen yang confounding dengan kejadaian kanker serviks adalah penggunaan kontrasepsi hormonal, penyakit menular seksual dan usia. Saran ditujukan bagi Dinas kesehatan propinsi riau, RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, masyarakat dan peneliti selanjutny

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia Anak Balita di RSUD Bangkinang Kabupaten Kampar

    Get PDF
    Pneumonia is an acute infection that attacks the lung tissue (alveoli) of caused by bacteria, viruses or fungi. The number of cases  of pneumonia in children under five Bangkinang hospitalare 133 in 2012 and which is the three highest ranks of the top ten most diseases. This study aims to determine the factors associated with the incidence of pneumonia in children under five in Bangkinang Child Care Hospital. The type of design used is Case Control Study. Prepalation is children of under five asinpatient clime. Sampling 0.was done by taking all the case all cases of pneumonia in the year 2009-2012 and sample control of is taken by systematic random sampling from of those without pneumonia. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression. The results showed that there is a relationship between the occurrence of pneumonia and is mother's education (95% CI: OR = 1.981 to 6.198), gender (95% CI: OR = 1.633 to 3.989), maternal employment (95% CI: OR = 1.335 to 3.231), exclusive breastfeeding (CI 95%: OR = 1.146 to 2.770) and immunization status (CI 95%: OR = 1.02 to 2.54). Health authorities are expected to work closely with the hospitals Bangkinang in coordination with public health education unit of the hospital (PKM-RS) to conduct outreach and health promotion regarding pneumonia especially to the less educated mothers, working mothers with children under five men.Pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan paru-paru (alveoli) yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Kasus pneumonia anak balita di RSUD Bangkinang ruang perawatan anak meningkat menjadi 133 kasus tahun 2012 dan menduduki urutan ke tiga tertinggi dari sepuluh penyakit terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak balita di Ruang Perawatan Anak RSUD Bangkinang. Metode penelitian menggunakan jenis desain Case Control Study. Pneumonia untuk populasi anak balita yang rawat inap di RSUD Bangkinang. Pengambilan sampel kasus dilakukan dengan mengambil seluruh kasus yang ada pada tahun 2009-2012 dan untuk sampel kontrol diambil secara systematic random sampling dari balita yang tidak menderita pneumonia. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang paling dominan antara pendidikan ibu (C.I 95%:OR=1,981-6,198), jenis kelamin (C.I 95%:OR=1,633-3,989), pekerjaan ibu (C.I 95%:OR=1,335-3,231), pemberian ASI eksklusif (C.I 95%:OR=1,146-2,770) dan status imunisasi (C.I 95%:OR=1,02-2,54) dengan kejadian pneumonia anak balita. Diharapkan Dinas kesehatan bekerja sama dengan pihak RSUD Bangkinang yang berkoordinasi dengan unit penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit (PKM-RS) melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan mengenai penyakit pneumonia khususnya kepada ibu yang berpendidikan rendah, ibu yang bekerja terutama yang mempunyai anak balita laki-lak

    Perilaku Seksual Remaja SMA Negeri Se-Kota Pekanbaru Tahun 2012

    Get PDF
    Adolescent sexual behaviors are all types of behavior motivated by sexual desire to the opposite sex as well as to same sex. Types of adolescent sexual behavior is ranging from less to the most intimate level (sexual intercourse). 15-24 years old adolescent who had experienced sexual intercourse by 66.55% globally, 2.2% in Malaysia, 45% in Riau province and 44.23% in Pekanbaru. The study was conducted to determine the factors associated with sexual behavior of SMA adolescent in Pekanbaru in 2012. This study was a quantitative research by cross sectional design. The samples are 1000 SMA adolescents of Pekanbaru. The sampling procedure was by systematic random sampling, data collection was using questionnaires and data analysis was carried out by univariate, bivariate with chi-square test and multivariate logistic regression to test double. The results shows the proportion of adolescents who engaged in risky sexual behavior by 280 peoples (28%). Variables related to sexual behavior of adolescents were parental supervision (OR: 115, 95% CI: 13.24 to 999, 72), myths about sex (OR: 12, 95% CI :2,61-57, 32), lifestyle (OR: 8, 95% CI: 1.35 to 47.46) and gender (OR: 0.2, 95% CI : 0.06 to 0.61), variable not associated with adolescent sexual behavior was recidency during school year and other variables counfounding with the dependent variable and independent. It is expected a cooperation between health institution and Department of Education in terms of providing good education to parents, teachers and adolescents themselves about the risks of sexual behavior, sexually transmitted diseases, myths about sex and so onPerilaku seksual remaja merupakan segala bentuk tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk perilaku seksual remaja dimulai dari tingkat yang kurang intim sampai dengan yang paling intim (melakukan hubungan seksual). Remaja usia 15-24 tahun yang melakukan hubungan seksual sebanyak 66,55% secara global, 2,2% di Malaysia, 45% di Provinsi Riau dan 44,23% di Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja SMA Negeri Se-Kota Pekanbaru tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional study. Sampel adalah 1000 orang remaja SMA Negeri Se-Kota Pekanbaru. Prosedur pengambilan sampel dengan cara systematic random sampling, pengambilan data menggunakan kuesioner dan analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan uji regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi remaja yang melakukan perilaku seksual berisiko sebanyak 280 orang (28%). Variabel yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja adalah pengawasan orang tua (OR:115; 95%CI: 13,24-999, 72), mitos tentang seks (OR:12; 95%CI:2,61-57,32), gaya hidup (OR: 8; 95%CI: 1,35-47,46) dan jenis kelamin (OR: 0,2; 95%CI: 0,06-0,61), variabel yang tidak berhubungan dengan perilaku seksual remaja adalah tempat tinggal selama bersekolah dan variabel yang lainnya merupakan counfounding dengan variabel dependen maupun independen. Sebaiknya diharapkan ada kerja sama institusi kesehatan dengan Dinas Pendidikan dalam hal memberikan penyuluhan baik itu kepada orang tua, guru dan remaja itu sendiri mengenai bahaya perilaku seksual, penyakit menular seksual, mitos tentang seks dan sebagainya

    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Perdarahan Pasca Persalinan di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau Tahun 2009-2010

    Get PDF
    Data from Health office of Riau Province Riau Provincial Health Office and the showed 34.13 % incidence of maternal mortality caused by bleeding maternity in 2009 had considerable proporsi (34.13%). The incidence of bleeding was the highestr among than most proporsi proporsi other causes of maternal mortality. From this data there is an increase in 69 cases of postpartum hemorrhage. This study aims to prove investigate the factors associated with the incidence of postpartum hemorrhage. This research method with a quantitative analytical study design was case control study conducted in May-June 2012 at the Arifin Achmad Hospital in Riau Province. Number of 446 samples consisting consist of 223 cases and 223 controls. Measuring instruments used is a checklist list. For bivariate data analysis analyzed using with Chi-square test and multivariate logistic regression Test Doubles. Results of this study showed women with age <20 and> 35 years 12 times more at risk than women with age 20-35 years with a value of 12 336 OR (95% CI 7094-21452), followed by maternal parity> 3 riskier 4 times than in women with parity 1-3 with 3,833 times the value of OR (95% CI 2.13-6.89), women with hemoglobin levels <11gr/100dl 2 times more at risk than women with Hb values 11gr/100dldengan OR 2,027 times (CI 95% 1144-3987), whose mother did not visit antenatal K4 2 times more at risk than women who did not visit dengaZZn with grades K4 OR 2.090 (95% CI 1002-4359), mothers with less than secondary education down 2 times more risky than the mothers who have a high school education up to 2,027 times the value of OR (95% CI 1144-3987), working mother with 2 times the risk of having a mother who does not work with nillai 1,966 times (95% CI 1136-3402) and the factor of labor history konfonding is variable in this study. This study suggest, mother with risk factors with Expected to pregnant women with risk factors who experienced postpartum hemorrhage in order have to increase their knowledge by information from healthcare, in a way that made listening extension health workers, newspaper and television about the importance of antenatal care to prevent postpartum hemorrhageData dari Dinas Kesehatan Propinsi Riau khususnya kejadian kematian ibu dan bersalin yang disebabkan oleh perdarahan tahun 2009 memiliki proporsi cukup besar (34.13%). Kejadian perdarahan ini merupakan proporsi yang paling tinggi dibandingkan proporsi penyebab kematian maternal lainnya. Dari data ini terdapat peningkatan 69 kasus perdarahan pasca persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian perdarahan pasca persalinan. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik dengan disain penelitian Studi Kasus Kontrol yang dilaksanakan pada bulan Mei-Juni tahun 2012 di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau. Jumlah sampel 446 terdiri dari 223 kasus dan 223 kontrol. Data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medis RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Analisis data untuk bivariat dengan Uji Chi-square dan multivariat dengan Uji Regresi Logistik Ganda. Hasil penelitian menunjukkan ibu dengan umur <20 dan >35 tahun 12 kali lebih berisiko mengalami perdarahan pasca persalinan daripada ibu dengan umur 20-35 tahun dengan nilai OR 12.336 (CI 95% 7.094-21.452),selanjutnya diikuti dengan paritas ibu yang > 3 kali lebih berisiko mengalami perdarahan pasca persalinan dari pada ibu dengan paritas 1-3 dengan nilai OR 3.833 kali (CI 95% 2.13-6.89), ibu dengan kadar hemoglobin <11gr/100dl 2 kali lebih berisiko mengalami perdarahan pasca persalinan dari pada ibu dengan kadar Hb 11gr/100 dl dengan nilai OR 2.027 kali (CI 95% 1.144-3.987), ibu yang tidak melakukan kunjungan antenatal K4 2 kali lebih berisiko mengalami perdarahan pasca persalinan dari pada ibu yang tidak melakukan kunjungan K4 dengan nilai OR 2.090 (CI 95% 1.002- 4.359) , ibu dengan pendidikan SLTP kebawah 2 kali lebih berisiko mengalami perdarahan pasca persalinan dari pada ibu yang memiliki pendidikan SLTA keatas dengan nilai OR 2.027 kali (CI 95% 1.144-3.987), ibu dengan yang bekerja memiliki resiko 2 kali mengalami perdarahan pasca persalinan dari pada ibu yang tidak bekerja dengan nillai 1.966 kali (CI 95% 1.136-3.402) dan faktor riwayat persalinan merupakan variabel konfonding pada penelitian ini. Diharapkan kepada ibu hamil dengan faktor risiko yang mengalami kejadian perdarahan pasca persalinan agar meningkatkan pengetahuan dengan cara mendengarkan penyuluhan yang dilakukan petugas kesehatan, koran dan televisi tentang pentingnya antenatal care untuk mencegah terjadinya perdarahan pasca persalina

    Faktor Risiko Kejadian HIV pada Komunitas LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki) Mitra Yayasan Lantera Minangkabau Sumatera Barat

    Get PDF
    HIV (Human Immunodeficiency Virus) is the virus that causes AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome), which attacks the human immune system and weakens the body's ability to fight  against any disease. Man Sex with Men (MSM) is a heterosexual (attracted to women), but also attracted to men. One thousand sixty one of MSM were infected with HIV in by the year 2011 as many as 1.061 cases and are expected to increase significantly by 2025. In Lantera Minangkabau Foundation of West Sumatra in 2011, of the 621 MSM, 24  who nurtured found as many as 24 MSM are HIV infected with HIV. This study aims to determine the risk factors for HIV incidence in MSM communities, partners of Lantera Minangkabau Foundation of West Sumatera using analytical kuantitatif methods by  with using case control study. The research sample  respondents wereas 24 cases and 24 controls. Data were analyzed by univariate and bivariate with using chi square test and odds ratio. The results showed that the risk factors for HIV incidence in MSM community is sexual behavior (p = 0.009, OR 5.898 and 95% CI 1.609-20.479), while the factor of injecting drug use is not a risk factor for HIV incidence in MSM communities (p = 1.000, OR 1.571 and 95% CI 0.238-10.365). It is hoped  suggest that the Foundation enhance communication, information, education (IEC) to the MSM community that nurtured and discovery of HIV cases, especially in key  risk populationsHIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan segala penyakit. Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) adalah lelaki heteroseks (tertarik pada perempuan), tetapi juga tertarik kepada lelaki. LSL yang terinfeksi HIV hingga tahun 2011 sebanyak 1.061 kasus dan diperkirakan akan terjadi peningkatan yang signifikan hingga tahun 2025. Di Yayasan Lantera Minangkabau Sumatera Barat tahun 2011, dari 621 LSL yang dibina ditemukan sebanyak 24 orang terinfeksi HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian HIV pada komunitas LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki) Mitra Yayasan Lantera Minangkabau Sumatera Barat dengan menggunakan metode survei analitik dan case control. Sampel penelitian adalah 24 kasus dan 24 kontrol. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko kejadian HIV pada komunitas LSL adalah perilaku seksual (p=0.009, OR 5.898 dan CI 95% 1.609-20.479), sementara faktor penggunaan narkoba suntik bukan faktor risiko kejadian HIV pada komunitas LSL (p=1.000, OR 1.571 dan CI 95% 0.238-10.365). Diharapkan agar pihak Yayasan meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada komunitas LSL yang dibina serta penemuan kasus HIV terutama pada populasi kunci

    Karakteristik Wanita dengan Keluhan Masa Menopause di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari

    Get PDF
    Menopause is the last phase of a woman's menstrual bleeding which stopped altogether. At the age of 50 years, menopausal women that happens a decrease or loss of estrogen hormones that cause women experience a complaints or disorders that often interferes with daily activities can even lower your quality of life. This research was conducted to find out the characteristics of women who experience menopausal complaints in Puskesmas Rejosari. This research is quantitative analytic with cross sectional design. The population in this study are all women aged 45-59 years who visited clinics in Rejosari totalling 100 people. The Data used is primary data. The analysis used to determine the presence of bivariat analysis relationship characteristics of women with menopausal complaints. Result of research got woman age and menstrual condition relate to sigh a period of menopause while parity, intrauterine device, Make an index to A period of Body, education, work, nuptials status, and earnings not relate to sigh a period to menopause. Expected to health centers to provide counseling Rejosari about good nutrition before menopause and preparation for menopause gymnastics through the implementation of the elderly on a regular basis. Menopause merupakan fase terakhir dimana perdarahan haid seorang wanita berhenti sama sekali. Pada usia 50 tahun, perempuan memasuki masa menopause sehingga terjadi penurunan atau hilangnya hormon estrogen yang menyebabkan perempuan mengalami keluhan atau gangguan yang seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan dapat menurunkan kualitas hidupnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik wanita yang mengalami keluhan masa menopause di  Puskesmas Rejosari. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita usia 45-59 tahun yang berkunjung di puskesmas Rejosari yang berjumlah 100 orang. Data yang digunakan merupakan data primer. Analisis yang digunakan analisis bivariat untuk mengetahui  adanya hubungan karakteristik wanita dengan keluhan masa menopause. Hasil penelitian didapatkan umur wanita dan kondisi haid berhubungan dengan keluhan masa menopause sedangkan paritas, alat kontrasepsi, Indeks Masa Tubuh, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, dan pendapatan tidak berhubungan dengan keluhan masa menopause. Diharapkan kepada Puskesmas Rejosari untuk dapat memberikan penyuluhan tentang gizi yang baik menjelang menopause dan persiapan menghadapi menopause melalui pelaksanaan senam lansia secara ruti

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Rambah Hilir I Kabupaten Rokan Hulu Tahun 201

    Get PDF
    National target for practice exclusive breastfeeding is 80 %.  Riau Provincial health Department in 2010 reported that the scope of exclusive breastfeeding at 25.40%. Report Rokan Hulu District Health Office, Rambah Hilir I  public health  center was one of four health centers that target attainment is still low at 26.5%. This study aims to determine the relationship of maternal knowledge, maternal employment, information from health and family support to exclusivfeeding. The results obtained frequency of exclusive breastfeeding in the Rambah Hilir I public health center 35.8%, p value of knowledge capital variable maternal work, information from health and family support are 0.001, 0.590, 0.006 and 0.029. In conclusion, the frequency of exclusive breastfeeding in the Work Area  Rambah Hilir I public health center at 35.8% in 2012, the variables associated with exclusive breastfeeding is the variable of maternal knowledge, information from health and family support, and variables that are not related to the variable job mother. Target nasional pemberian ASI eksklusif adalah 80 %. Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Riau, cakupan pemberian ASI Eksklusif untuk wilayah Riau tahun 2010 adalah 25,40%. Puskesmas Rambah Hilir I merupakan salah satu dari 4 puskesmas di Kabupaten Rokan Hulu dengan angka pencapaian yang rendah yaitu 26,% %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu, pekerjaan ibu, informasi dari tenaga kesehatan dan dukungan keluarga  dengan dengan pemberian ASI Eksklusif. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan jenis desain cross sectional, penelitian dilakukan selama 2 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rambah Hilir I Kabupaten Rokan Hulu, dengan jumlah sampel sebanyak 81 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data bivariat dengan uji Chi_Square. Hasil  penelitian menunjukkan pengetahuan ibu, informasi tenaga kesehatan, dan dukungan keluarga berhubungan dengan  pemberian ASI Eksklusif dengan p value masing-masing adalah  0,001, 0,006 dan 0,029. informasi dari tenaga kesehatan berhubungan dengan  pemberian ASI Eksklusif dengan p value 0,006  dan dukungan keluarga berhubungan dengan  pemberian ASI Eksklusif dengan p value  adalah 0,029. Pekerjaan ibu tidak berhubungan dengan  pemberian ASI Eksklusif dengan p value 0,590. Diharapkan bagi Puskesmas agar memberikan informasi tentang ASI Eksklusif mengacu pada sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui sehingga dapat meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarg

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti

    Get PDF
    Incidence og dengue in the region of the district health center island Selatpanjang Meranti as 129 cases. Of 2 and 6 rural villages, urban villages, especially the city Selatpanjang RW 09 and RW 10 and RW particular village east Selatpanjang 01 and RW 02 includes areas with the highest cases of health centers in the region of Selatpanjang. The purpose of the study to determine the factors associated with the incidence of dengue in Selatpanjang Meranti Islands. Quantitative research conducted with cross-sectional research design. The sample in the study of 167 respondents. The sampling technique using simple random sampling. Data collection using questionnaires and direct observation. Test statistics with chi square test at 95% confidence level. The results showed no relationship between respondents knowledge of dengue, the presence of aedes aegypti larvae in containers, the shelter is closed on the availability of water and frequency of draining water reservoirs daily use with the incidence of dengue in the district health center island Meranti Selatpanjang 2012. While the habit of hanging clothes no association with the incidence of dengue in the district health center island Selatpanjang Meranti of 2012. It is expected that further intensify the health center larva periodic inspection activities, as well as for the community to pay more attention to the activities and the implementation of PSN plus 3M-DBD independently and regularlyKejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 129 kasus. Dari 2 Kelurahan dan 6 Desa, Kelurahan Selatpanjang Kota khususnya RW 09 dan RW 10 serta Kelurahan Selatpanjang Timur khususnya RW 01 dan RW 02 termasuk daerah dengan kasus paling tinggi di wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DBD di Puskesmas Selatpanjang Kepulauan Meranti. Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian sebanyak 167 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi langsung. Uji statistik dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan responden tentang DBD OR (10,7), keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer OR (3,951), ketersediaan tutup pada kontainer OR (3,199) dan frekuensi pengurasan TPA keperluan sehari-hari OR (19,761) dengan kejadian DBD di Puskesmas Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2012. Sedangkan untuk kebiasaan menggantung pakaian tidak ada hubungan dengan kejadian DBD di Puskesmas Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2012. Diharapkan kepada masyarakat lebih memperhatikan kondisi lingkungan di dalam rumah serta melakukan gerakan 3M. Diharapkan pihak Puskesmas lebih mengintensifkan kegiatan pemeriksaan jentik berkala, serta bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kegiatan 3M plus dan pelaksanaan PSN–DBD secara mandiri dan teratur.&nbsp

    444

    full texts

    548

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Komunitas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇