Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
    548 research outputs found

    Determinan Kematian Neonatal di Rumah Sakit Ibu dan Anak Aceh

    Get PDF
    Neonatal mortality is an important issue to receive attention because neonatal death not only affects infant mortality rates but also has an impact on society. This research wants to examine the determinants of neonatal death in the Mother and Child Hospital (RSIA) Aceh. This type of research is analytic with a case-control design. The case population in this study were all babies who were born and died at the age of 0-28 days, both those born at the Aceh Mother and Child Hospital (RSIA) and those referred to the Aceh Mother and Child Hospital (RSIA) from January to October 2022. totaling 108 people. The sample in this study was 216 babies consisting of 108 case babies and 108 control babies. Data analysis used a logistic regression test. The results showed that the factors that had a significant value (P value <0.05) with neonatal mortality were low birth weight (OR= 5.5; 95% CI 2.35 – 12.23), premature (OR= 0.36; 95% CI 0.13 – 0.96), jaundice (OR= 0.20; 95% CI 0.09 – 0.43), and sepsis (OR= 9; 95% CI 4.41 – 20.89), age mother > 35 years (OR 0.43; 95% CI 0.19 – 0.94), neonatal referral (OR= 0.01; 95% CI 0.00 – 0.17) and long-distance ANC (OR= 6 .6; 95% CI 2.82 – 15.63), length of stay in the emergency room ≥ 30 minutes (OR= 0.15; 95% CI 0.73 – 0.31), length of stay 1-5 days (OR= 4.3; 95% CI 2.17 – 8.78). This study concludes that sepsis is the most associated factor with neonatal mortality in RSIA. It is recommended that related parties to improve the quality of ANC services according to standards and improve the quality of PONEK (Comprehensive Emergency Neonatal Midwifery Services).Kematian neonatal merupakan masalah yang penting untuk mendapat perhatian karena selain mempengaruhi angka kematian bayi tetapi juga memberikan pengaruh bagi masyarakat. Penelitian ini ingin mengkaji tentang determinan kematian neonatal di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain case control.  Populasi adalah semua bayi yang lahir dan meninggal pada usia 0-28 hari baik yang lahir di Rumah Sakit ibu dan Anak (RSIA) Aceh maupun yang dirujuk ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh periode januari sampai Oktober tahun 2022 berjumlah 108 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah 216 bayi yang terdiri dari 108 bayi  kasus dan 108 bayi  sebagai kontrol. Analisis data menggunakan uji logistic regresi. Hasil penelitian diketahui faktor yang memiliki nilai signifikan (P value < 0,05) dengan kematian nonatal adalah BBLR (OR= 5,5; 95%CI 2,35 – 12, 23), prematur (OR= 0,36; 95%CI 0,13 – 0,96), ikterus (OR= 0,20; 95%CI 0,09 – 0,43), dan sepsis  (OR= 9; 95% CI 4,41 – 20,89), umur ibu > 35 tahun (OR 0,43; 95%CI 0,19 – 0,94), rujukan neonatal (OR= 0,01; 95% CI 0,00 – 0, 17) dan jarak Antenatal Care (ANC) jauh (OR= 6,6; 95%CI 2,82 – 15,63), lama di IGD ≥ 30 menit (OR= 0,15; 95%CI 0,73 – 0,31), lama di rawat 1-5 hari (OR=4,3; 95%CI 2,17 – 8, 78). Kesimpulan dari penelitian ini sepsis adalah faktor paling berhubungan dengan kematian neonatal di RSIA. Disarankan kepada pihak terkait agar meningkatkan mutu pelayanan ANC sesuai standar, meningkatkan kualitas PONEK (Pelayanan Kebidanan Neonatal Emergensi Komprehensif)

    Analisis Determinan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Rawat Inap Ulang di RSJD Provinsi Lampung

    Get PDF
    The burden of disease in Indonesia from mental disorders is 13.4%. People with re-hospitalized mental disorders become a burden on the family, and the determinants of this behavior include age, gender, education, and work and family knowledge. The study aimed to analyze the determinants of rehospitalization at the Regional Psychiatric Hospital Lampung Province. Methods; This type of quantitative research with cross-sectional design. The family population of ODGJ. The research sample comprised 404 people who completed interviews with 5 informants. Data analysis used univariate, bivariate (chi-square) multivariate analysis (multiple logistic regression). Result; there was no relationship between age (p= 0.459), gender (p= 0.251), and occupation (p=0.191) with rehospitalization. Meanwhile, the education variable (p=0.018; OR=2.060) and family knowledge (p=0.000; OR=3.107) showed a significant relationship with rehospitalization. The results of multivariate analysis showed that the most dominant determinant of rehospitalization was family knowledge (p=0.000; OR=3.04) after controlling for education variables. Conclusions and Suggestions: Age, gender, and occupation are not determinants of rehospitalization while education and knowledge of the family are determinants of rehospitalization in the Lampung Provincial Hospital. This study suggests education about the benefits of re-hospitalization: Provide clear and comprehensive information to patients and their families about the benefits of re-hospitalization.Beban penyakit di Indonesia akibat gangguan jiwa adalah 13,4%. Penderita gangguan jiwa yang dirawat inap kembali menjadi beban bagi keluarga dan faktor penentu perilaku tersebut antara lain usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan serta pengetahuan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis determinan rawat inap ulang di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung. Metode; Jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah keluarga ODGJ. Sampel penelitian sebanyak 404 orang yang dilengkapi dengan wawancara dengan 5 informan. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat (chi square) dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil; tidak ada hubungan antara usia (p= 0,459), jenis kelamin (p= 0,251) dan pekerjaan (p=0,191) dengan rawat inap ulang. Sementara itu, variabel pendidikan (p=0,018; OR=2,060) dan pengetahuan keluarga (p=0,000; OR=3,107) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan rehospitalisasi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor penentu yang paling dominan terhadap rawat inap ulang adalah pengetahuan keluarga (p=0,000; OR=3,04) setelah dikontrol dengan variabel pendidikan. Kesimpulan dan Saran: Usia, jenis kelamin, dan pekerjaan bukan merupakan faktor determinan terjadinya rehospitalisasi sedangkan pendidikan dan pengetahuan keluarga merupakan faktor determinan terjadinya rehospitalisasi di Rumah Sakit Provinsi Lampung. Penelitian ini menyarankan adanya edukasi tentang manfaat rawat inap ulang: Memberikan informasi yang jelas dan lengkap kepada pasien dan keluarga pasien tentang manfaat rawat inap ulang

    Langkah - Langkah Progresif dalam Intervensi Reduksi Stigma HIV di Komunitas Tenaga Kesehatan: Scoping Review

    Get PDF
    Stigma plays a significant role in creating disparities in health services experienced by PLWHA, thus becoming a barrier for them to access prevention, care, and treatment services. Therefore, the role of health workers is crucial. This study aims to review and critically evaluate the type and scope of interventions that have been conducted to reduce HIV/AIDS-related stigma among health workers. This study is a scoping review using PRISMA guidelines. Journal and article searches were conducted through electronic databases, including ScienceDirect, Cochrane Library, Embase, Garuda Portal, PubMed, Scopus, and Sage Journals. Fourteen articles were discussed in this review. Interventions that successfully reduced stigma were those provided with individual emphasis by disseminating information, interacting, and training. In addition, structural approaches such as developing and disseminating policies in hospitals, providing material to facilitate the practice of universal precautions, and adding curriculum in health schools). The results obtained from the intervention significantly reduced stigma among health workers with a combined approach, which showed higher effectiveness than the single approach. Interventions to reduce stigma need to be sufficiently carried out with an individual-based approach, but interventions with a structural approach must also be considered. Suggest further research by analyzing or exploring potential synergies between these two approaches.Stigma berperan signifikan dalam menciptakan kesenjangan dalam layanan kesehatan yang dialami oleh ODHA, sehingga menjadi faktor penghambat bagi mereka untuk mengakses layanan pencegahan, perawatan, dan pengobatan. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan sangat krusial dalam konteks ini. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan mengevaluasi secara kritis jenis serta ruang lingkup intervensi yang telah dilakukan untuk mereduksi stigma terkait HIV/AIDS di kalangan tenaga Kesehatan. Penelitian ini merupakan scoping review terhadap artikel dengan pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui database elektronik, termasuk ScienceDirect, Perpustakaan Cochrane, Embase, Portal Garuda, PubMed, Scopus, dan Sage Journals.Terdapat 14 artikel dibahas dalam tinjauan ini. Intervensi yang berhasil menurunkan stigma yaitu dengan pendekatan individu melalui penyebaran informasi, interaksi dan pelatihan. Selain itu, terdapat pendekatan struktural melalui pengembangan dan penyebarluasan kebijakan di RS, penyediaan marerial untuk memfasilitasi praktek kewaspadaan universal, penambahan kurikulum di sekolah kesehatan. Hasil intervensi memberikan dampak yang signifikan dalam mereduksi stigma di kalangan tenaga kesehatan dengan pendekatan kombinasi menunjukkan keefektifan yang lebih tinggi dibanding pendekatan tunggal. Intervensi yang dilakukan untuk mereduksi stigma tidak cukup dilakukan dengan pendekatan berbasis individu, tetapi juga harus mempertimbangkan intervensi dengan pendekatan struktural. Saran untuk penelitian lebih lanjut dengan menganalisis atau menggali potensi sinergi antara kedua pendekatan ini

    Analisa Pengaruh Kepadatan, Kesesakkan dan Sosial Ekonomi Terhadap Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well-Being) Ibu Rumah Tangga

    Get PDF
    The level of psychological well-being is a form of mental health through the achievement of the individual's relationship with the surrounding environment, consisting of social interactions, personal relationships, and life satisfaction. The purpose of this study was to analyze the effect of density, tightness, and socioeconomic status on the psychological well-being of housewives (IRT). The research method is correlated with a cross-sectional design and sampling technique using simple random sampling totaling 171 IRT. The place of research is in one of the coastal areas of Pekanbaru City, Riau. The questionnaire used is divided into 4, namely density, tightness, socio-economic, and Ryff's Psychological Well-Being Scale (RPWB). The results of the study found that there were problems of density (62.6%), social congestion (5.3%), and space congestion (6.4%) as well as low economic problems (58.5%). The results of this study indicate that there is no relationship between density (p = 0.158) of crowding (p = 0.693) and socioeconomic (p = 0.777), with the level of psychological well-being (p > 0.05). The researcher suggests that further studies are needed on the factors that influence people living in densely populated areas based on the values ​​and culture they hold.Tingkat kesejahteraan psikologis (psychological well-being) merupakan suatu bentuk kesehatan mental melalui pencapaian antara hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya, terdiri atas interaksi sosial, hubungan personal, dan kepuasan hidup. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis pengaruh kepadatan, kesesakkan dan sosial ekonomi terhadap kesejahteraan psikologis (Psychological well-being) pada ibu rumah tangga (IRT). Metode penelitian yaitu korelasi dengan desain cross sectional dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yang berjumlah 171 IRT. Tempat penelitian adalah pada salah satu wilayah pesisir Kota Pekanbaru, Riau. Kuesioner yang digunakan terbagi atas 4 yaitu kepadatan, kesesakkan, sosial ekonomi, dan Ryff’s Psychological Well-Being Scale (RPWB). Hasil penelitian didapatkan adanya masalah kepadatan (62,6%), kesesakan sosial (5,3%), dan kesesakan ruang (6,4%) serta masalah ekonomi rendah (58,5%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan kepadatan (p = 0,158) kesesakkan (p = 0,693) dan sosial ekonomi (p = 0,777), dengan tingkat kesejahteraan psikologis (psychological well-being) (p > 0,05). Peneliti menyarankan perlu dilakukan studi lanjutan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat tinggal di wilayah padat penduduk berdasarkan nilai dan budaya yang dianut

    Analisis Inovasi dan Teknologi dalam Layanan Rawat Jalan Rumah Sakit Mata pada Masa Pandemi COVID-19

    Get PDF
    ABSTRACT The pandemic has had an impact on efforts to provide services at eye hospitals. The implications are related to services with the role of outpatient service preparedness and technological innovation. Objective: By Knowing the various management of outpatient services in eye hospitals during the COVID-19 pandemic, it is hoped that it can help increase patient safety rates and reduce the occurrence of errors in handling COVID-19. Method: The method used in the research is a literature review. Article searches use keywords, namely "eye hospital" and "outpatient" and "innovation" or "service" and "COVID-19". This reference is based on two database sources, namely Google Scholar and Science Direct in the last 5-year publication period (2019-2023). Selection of literature sources is carried out based on inclusion and exclusion criteria, source credibility, and relevance to the topic being discussed. Using this method, 173 selected literatures were selected resulting in 5 selected literatures. Results: From the selected literature, several innovations and technologies were found that can be used for services in eye hospitals during the pandemic, starting from the use of patient self-registration platforms, long-distance treatment, examinations with a combination of video and face-to-face consultations, telehealth and ride-hailing services -hailing, as well as teleophthalmology services with video consultation during the pandemic. The application of innovation and technology has proven to be effective and has had a positive impact on services at eye hospitals. Conclusion: Adjusting conditions and using technology to provide services to patients in eye hospitals during the pandemic can be done by using self-registration platforms, telemedicine, combined video and face-to-face consultation examinations, telemedicine-based services, and teleophthalmology video consultation services.Pandemi memberikan dampak dalam upaya penyelenggaraan pelayanan di rumah sakit mata. Implikasinya adalah terkait dengan pelayanan dengan peran kesiapsiagaan layanan rawat jalan dan inovasi teknologi.  Tujuan: Dengan mengetahui berbagai pengelolaan layanan rawat jalan di rumah sakit mata pada masa pandemi COVID-19, diharapkan dapat membantu meningkatkan angka keselamatan pasien dan mengurangi terjadinya kesalahan penanganan COVID 19.  Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian adalah literature review. Penelusuran artikel menggunakan keywords yaitu "eye hospital" and "outpatient" and "innovation" or "service" and "COVID-19". Referensi tersebut bedasarkan dua sumber data base yaitu Google Schoolar dan Science Direct dalam periode publikasi 5 tahun terakhir (2019-2023). Seleksi sumber literature dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kredibilitas sumber, serta relevansi dengan topik yang dibahas.  Dengan metode tersebut, 173 literature terpilih diseleksi sehingga menjadi 5 literature yang dipilih. Hasil: Dari literature yang dipilih, ditemukan beberapa inovasi dan teknologi yang dapat digunakan terhadap pelayanan di rumah sakit mata pada masa pandemi mulai dari penggunaan mesin anjungan pendaftaran mandiri pasien, pengobatan jarak jauh, pemeriksaan dengan kombinasi konsultasi video dan tatap muka, pelayanan telehealth dan ride-hailing, serta pelayanan teleoftalmogi dengan konsultasi video pada masa pandemi. Penerapan inovasi dan teknologi tersebut terbukti efektif dan memberikan dampak positif pada pelayanan di rumah sakit mata.  Simpulan: Penyesuaian kondisi dan penggunaan teknologi guna pelayanan pada pasien di rumah sakit mata pada masa pandemi dapat dilakukan dengan penggunaan anjungan pendaftaran mandiri, pengobatan jarak jauh, pemeriksaan kombinasi konsultasi video dan tatap muka, pelayanan berbasis telemedicine, serta pelayanan konsultasi video teleoftalmogi

    Perbedaan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu dalam Praktik Pemberian MP ASI menggunakan Video Edukasi

    Get PDF
    Introduction: Malnutrition in early life can impact later life. In Indonesia, the determinant cause of malnutrition is inadequate complementary feeding. Lack of knowledge, misguided beliefs, and food taboos are also factors that determine complementary feeding. For this reason, the community needs to be given education about nutrition and health behavior through appropriate IEC. Objectives of the study: To determine the difference in knowledge, attitude, and behavior of mothers in the practice of breastfeeding using Educational Video. Methods: This study is a pre-experimental study with one group pretest and post-test. The study was conducted from January to December 2023 in Pekanbaru City. Results/findings: The results of the Wilcoxon test showed that there was a significant difference between the knowledge variables before and after the provision of educational videos with a value of p = 0.000 (p <0.05) and there was a significant difference between the attitude variables before and after the provision of educational videos with a value of p = 0.000 (p <0.05). but there was no significant difference between the behavior variables before and after the provision of educational videos with a value of p = 0.209 (p>0.05). Conclusion: Education with video media in mothers who have children aged 6-24 months can improve knowledge and attitudes, but there is no difference in maternal behavior in providing complementary food.Pendahuluan: Masalah gizi (malnutrisi) pada usia awal kehidupan dapat berdampak hingga usia selanjutnya. Di Indonesia penyebab determinan terjadinya masalah gizi adalah pemberian makanan pendamping ASI yang tidak memadai. Kurangnya pengetahuan, kepercayaaan yang keliru dan adanya tabu makanan juga menjadi faktor penentu pemberian MP ASI. Untuk itu masyarakat perlu diberikan pendidikan tentang gizi dan perilaku kesehatan melalui KIE yang tepat. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam praktik pemberian MP ASI menggunakan Video Edukasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-experimental with one group pretest and post test. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari s/d Desember 2023 di Kota Pekanbaru.  Hasil/temuan : Hasil uji wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara variabel pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya pemberian video edukasi dengan nilai p = 0.000 (p<0.05) dan terdapat perbedaan yang bermakna antara variabel sikap sebelum dan sesudah dilakukannya pemberian video edukasi dengan nilai p = 0.000 (p<0.05) tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara variabel perilaku sebelum dan sesudah dilakukannya pemberian video edukasi dengan nilai p = 0.209 (p>0.05). Simpulan : Edukasi dengan media video pada ibu yang mempunyai anak usia 6-24 bulan dapat  meningkatkan pengetahuan dan sikap, tetapi tidak terdapat perbedaan dalam perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI

    Analisis Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Remaja Putri: Literatur Review

    Get PDF
    Anemia is an indicator of malnutrition that can affect a country's economic development. anemia is a global health problem in the world. The prevalence of anemia in 2019 globally is 29.9%, Southeast Asia is 41.9% and in Indonesia (ages 15-49 years) is 30.6%. There is an increase in the prevalence of anemia in adolescents; from 22.7% (Riskesdas 2013) increased to 32% in the 2018 Riskesdas survey. The purpose of this study was to determine various risk factors for anemia in young women in several countries. Research method with literature review, secondary data sources (google scholar, pubmed, Sciencedirect. Results: from the review of articles in this study, the prevalence of anemia ranged from 20% to 47.7%. Research in Utar Paradesh India was 20%, in Ethiopia was 29.4% and the highest in Pakistan (2019) of 47.9% consisting of mild anemia 47.7%, moderate anemia 51.7% and severe anemia 5.7%. In Jordan the prevalence of anemia is 4.9% in men, 19 .3% in non-pregnant women, and 27.4% in pregnant women. Conclusion: in this literature study it was found that the factors affecting anemia in female adolescents were higher in the late adolescent phase, those who lived in rural areas, parents' education, socioeconomic level low number of family members, menstrual disorders and low intake of nutrients (micronutrients).For this reason, increasing education-based health education in schools is effective in increasing knowledge, attitudes and behavior in preventing anemia yes ng can make a real contribution in overcoming priority public health problems.Anemia merupakan indikator kesehatan gizi buruk yang dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi suatu negara, sehingga anemia dikatakan masalah kesehatan global dunia. Prevalensi anemia tahun 2019 secara global 29.9%, Asia tenggara 41,9% dan di Indonesia (Usia 15-49 tahun) sebesar 30.6%. Adanya peningkatan prevalensi anemia remaja; dari 22.7% (Riskesdas 2013) meningkat menjadi 32% pada survei Riskesdas 2018. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berbagai faktor risiko anemia pada remaja putri di beberapa negara. Metode penelitian dengan literatur riview, sumber data sekunder (google scholar,pubmed, Sciencedirect. Hasil: dari review artikel dalam penelitian ini didapatkan prevalensi anemia berkisar 20 % hingga 47.7%  Penelitian di Utar Paradesh India sebesar 20%, di Ethiopia sebesar 29.4% dan yang paling tinggi di Pakistan (2019) sebesar 47.9% yang terdiri dari anemia ringan 47.7%, anemia sedang 51.7% dan anemia berat 5.7%. Di Jordan prevalensi anemia 4,9% pada laki-laki, 19,3% pada wanita tidak hamil, dan 27,4% pada wanita hamil. Kesimpulan: pada penelitian literatur ini didapatkan bahwa faktor yang mempengaruhi anemia remaja putri lebih tinggi pada fase remaja akhir, mereka yang tinggal dipedesaan, pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi rendah, jumlah anggota keluarga, gangguan menstruasi serta asupan rendah akan zat gizi (mikronutrien).Untuk itu peningkatan edukasi kesehatan berbasis pendidikan di sekolah efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam mencegah anemia yang dapat berkontribusi nyata dalam mengatasi prioritas masalah kesehatan masyarakat

    Evaluasi Penerapan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpus) dengan Model Human, Organization, Technology (Hot) – Net Benefit (Fit) di Puskesmas Tambun Bekasi Tahun 2022

    No full text
    The Health Center Information System (SIMPUS) is a system for recording and reporting health activities at the Health Center which is currently being carried out mostly electronically (e-Puskesmas). BPJS as the organizer of national health insurance has prepared an information system, namely P-Care for recording JKN patients at the Puskesmas so that the two systems are integrated. HOT-Fit is a framework that can be used to evaluate information systems. This model positions the important components in information systems, such as people, organizations, and technology, as well as the relevant relationships between these components. This study aims to evaluate the application of e-Puskesmas and P-Care information systems with the Human Organization Technology (HOT)-Fit model at the Tambun Bekasi Health Center. This research is a descriptive study using a qualitative approach with in-depth interviews, observation, and documentation studies. The results of the study show that from the aspect of the human component training is still needed to improve the knowledge and skills of officers, the organizational aspect has built an appropriate organizational structure and the working officers are by their competencies and the necessary facilities and infrastructure are complete. In terms of technology, it is known that system quality, information quality, and service quality have been well achieved. The information system that has been running well in the Puskesmas studied is an example of good recording and reporting management so that it can be used as a benchmark for other Puskesmas. A well-managed information system can assist the decision-making process for Puskesmas management to achieve its main goals.Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) adalah sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan  kesehatan di Puskesmas yang saat ini telah banyak dilakukan secara elektronik (e-Puskesmas). BPJS sebagai penyelenggara jaminan kesehatan nasional telah menyiapkan sistem informasi yang dinamakan P-Care untuk pencatatan pasien JKN yang berkunjung ke Puskesmas sehingga kedua sistem tersebut telah terintegrasi. HOT-Fit adalah salah satu kerangka kerja yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem informasi. Model ini memposisikan komponen-komponen penting dalam sistem informasi, seperti manusia, organisasi, dan teknologi serta hubungan yang relevan antara komponen-komponen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan system informasi e-Puskesmas dan P-Care dengan model Human Organization Technology (HOT)-Fit di Puskesmas Tambun Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi.  Hasil penelitian menunjukkan dari aspek komponen manusia (Human) masih diperlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas, namun petugas cukup puas menggunakan kedua system tersebut. Dari aspek organisasi (Organization) telah terbangun struktur organisasi yang sesuai dan petugas yang bekerja telah sesuai dengan kompetensinya serta sarana dan prasarana yang diperlukan telah lengkap. Dari aspek teknologi (Technology) diketahui bahwa kualitas system, kualitas informasi dan kualitas layanan telah tercapai dengan baik. Sistem informasi yang telah berjalan dengan baik di Puskesmas yang diteliti merupakan contoh manajemen pencatatan dan pelaporan yang baik sehingga dapat digunakan sebagai benchmark untuk Puskesmas lainnya. Sistem informasi yang dikelola dengan baik dapat membantu proses pengambilan keputusan bagi manajemen Puskesmas untuk mencapai tujuan utamanya. Kata Kunci : Puskesmas, HIS, HOT-FIT, P-Car

    Peran Kader dalam Pemantauan Pertumbuhan Balita Bawah Garis Merah

    Get PDF
    Undernourished children can manifest in several degrees: under or severe. Cadres play a critical function in tracking children's development. This research aimed to gather comprehensive data regarding the function of cadres in monitoring undernourished children. The study was conducted at the Umban Sari Public Health Center, using a qualitative methodology. Seven informants were chosen by purposive sampling. An extensive interview guide, recorders, cameras, and field notes were used as research instruments to capture all of the data in the field. Through observations and interviews, data were gathered. Triangulation techniques were used to validate the data. The results showed that cadres have a considerable function as communicators between the community and health professionals; in addition to being active in the planning and implementation of activities on the day of Posyandu for integrated services; however other than the integrated services, there was still limited role: only to greet mothers on their way to Posyandu; visitation activities conducted by the health officers accompanied by cadres when the toddler was first detected undernutrition and toddlers did not attend two consecutive months; provided guidance to the public was still not maximized; and cadres were still less active in counseling. t is recommended that cadres hold frequent meetings and training sessions, delegate authority to them beyond the integrated services, develop dietary guidelines for families, and distribute children's health literature.Kekurangan gizi dapat terjadi pada balita baik dalam bentuk ringan maupun berat. Untuk itu diperlukan peran kader dalam pemantauan pertumbuhan balita. Tujuan penelitian ini dapat memperoleh informasi mendalam tentang peran kader dalam memantau pertumbuhan balita gizi kurang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif di Puskesmas Umban Sari Kota Pekanbaru, Riau pada tahun 2016. Informan terdiri dari 7 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri, panduan wawancara mendalam, alat perekam, kamera, dan catatan lapangan untuk mencatat semua temuan di lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Validitas data menggunakan teknik Triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader memiliki peran yang cukup sebagai penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan; aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan posyandu untuk kegiatan pada hari layanan terpadu tetapi di luar hari layanan terpadu masih terbatas untuk menyapa ibu balita saat dalam perjalanan; kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan disertai oleh kader ketika balita terdeteksi gizi kurang pertama kali dan balita tidak hadir 2 bulan berturut-turut; pembinaan kepada masyarakat masih belum dimaksimalkan; dan kader masih kurang aktif dalam konseling. Disarankan bahwa pertemuan dan pelatihan reguler untuk kader; memberikan tanggung jawab kepada kader di luar hari layanan terpadu; membuat pembinaan gizi untuk keluarga; dan menyediakan buku-buku tentang kesehatan anak

    Pemberian Terapi Akupresur sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Tidur dan Kadar Estrogen pada Wanita Menopause

    Get PDF
    The decrease in the hormone estrogen during menopause causes the quality of sleep to decrease. Sleep quality affects physical and psychological health which can reduce the quality of life of menopause. This study aims to prove that acupressure therapy can improve sleep quality and estrogen hormone levels in postmenopausal women. The design of this study is a Quasi experiment, which is by using existing groups. The number of samples was 40 respondents, selected using the Consecutive Sampling technique. The intervention group was given acupressure therapy on HT 7, PC 6, and GV 20 points 6 times for 2 weeks. Sleep quality was measured by the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire and estrogen levels were measured by the ELISA method. Data analysis using Paired Sample Test and independent T-Test. Data analysis showed a change in the mean score of sleep quality and estrogen levels in the intervention group after being given acupressure therapy intervention (p = 0.000) (effect size = 0.90). Hasil dari penelitian ini terdapat perbedaan rerata skor kualitas tidur dan skor kadar estrogen antara kelompok intervensi dan kontrol (p = 0,000) (effect size=1.17). The conclusion of this study is acupressure therapy at points HT 7, PC 6, and GV 20 can improve sleep quality and estrogen hormone in menopausal women. This study implies that acupressure therapy interventions can be applied as part of obstetric care in menopausal women.Penurunan hormon estrogen pada masa menopause menyebabkan kualitas tidur menurun. Kualitas tidur berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologi yang dapat menurunkan kualitas hidup menopause. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pemberian terapi akupresur dapat meningkatkan kualitas tidur dan hormon estrogen pada wanita menopause. Desain penelitian ini adalah Quasi experiment yaitu dengan menggunakan kelompok yang sudah ada. Jumlah sampel sebanyak 40 responden, dipilih menggunakan teknik Consecutive Sampling. Kelompok intervensi diberikan terapi akupresur titik HT 7, PC 6, dan GV 20 sebanyak 6 kali selama 2 minggu. Kualitas tidur diukur dengan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan kadar estrogen diukur dengan metode ELISA. Analisis data menggunakan Paired Sampel Test, Independent T-Test. Analisis data menunjukkan adanya perubahan rerata skor kualitas tidur dan kadar estrogen pada kelompok intervensi setelah diberikan intervensi terapi akupresur (p = 0,000 (effect size = 0.90). Hasil dari penelitian ini terdapat perbedaan rerata skor kualitas tidur dan skor kadar estrogen antara kelompok intervensi dan kontrol (p = 0,000) (effect size=1.17). Simpulan dari penelitian in adalah Terapi akupresur pada titik HT 7, PC 6 dan GV 20 dapat menigkatkan kualitas tidur dan hormon estrogen pada wanita menopause. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa intervensi terapi akupresur dapat diterapkan sebagai bagian dari asuhan kebidanan  pada wanita menopause

    444

    full texts

    548

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Komunitas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇