Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Permasalahan Anak Pendek (Stunting) dan Intervensi untuk Mencegah Terjadinya Stunting (Suatu Kajian Kepustakaan)
Stunting is the nutritional problems in the world, especially occurred indeveloping and poor countries. Stuntingcan increase the risk of morbidity and mortality, and suboptimal brain development so that delayed motor development and mental retardation. Stuntingis a form ofgrowth failuredue tothe accumulation of nutrientin sufficiency from the beginning of pregnancy until 24 months old. This situation is exacerbated by inadequate catchup growth. In Indonesia, based of Basic Health Research,there was an increase o f36.8% stunted children in 2010 to37.2% in 2013. Over the past 20 years,handling the problem of stunting is very slow. Globally, the percentage of children who were stunteddec lined by only 0.6 percent per year since 1990. WHO proposed a global target reduction in the incidence of stunting in children under five years old by 40% in 2025, but it was predictedonly1536 countries that meetthose targets. The purpose of this article was examined the incidence of stunting reduction and interventions of the policy. Focus on movement to improve nutrition to target the first 1,000 days of life, in the global order it was called Scaling Up Nutrition (SUN) and in Indonesia called the National Movement for Nutrition Improvementin 1000 First Day of Life. The intervention consisted of specific interventions (short-term) and sensitive intervention (long-term).Masalah anak pendek (stunting) merupakan salah satu permasalahan gizi yang dihadapi di dunia, khususnya di negara-negara miskin dan berkembang. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai. Di Indonesia, berdasarkan Riskesdas 2013 terjadi peningkatan anak stunting dari 36,8% pada tahun 2010 menjadi 37,2% pada tahun 2013. Selama 20 tahun terakhir, penanganan masalah stunting sangat lambat. Secara global, persentase anak-anak yang terhambat pertumbuhannya menurun hanya 0,6 persen per tahun sejak tahun 1990. WHO mengusulkan target global penurunan kejadian stunting pada anak dibawah usia lima tahun sebesar 40 % pada tahun 2025, namun diprediksikan hanya 15-36 negara yang memenuhi target tersebut. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji kebijakan penanggulangan kejadian stunting dan intervensi yang dilakukan dari kebijakan tersebut. Fokus Gerakan perbaikan gizi ditujukan kepada kelompok 1000 hari pertama kehidupan, pada tatanan global disebut Scaling Up Nutrition (SUN) dan di Indonesia disebut dengan Gerakan Nasional Sadar Gizi dalam Rangka Percepatan Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Intervensi yang dilakukan terdiri dari intervensi spesifik (jangka pendek) dan intervensi sensitif (jangka panjang)
Efektivitas Pijat dalam Mengurangi Nyeri pada Kala I Persalinan
Massage is a technique that can relieve pain by blocking the pain signals, increasing blood circulation and oxygenation to the entire tissue. Pregnant women who receive 20 minutes massage during maternity process will be free from pain. The purpose of this study is to determine the effectiveness of massage in order to reduce pain at the stage of delivery process for pregnant women This research is a quasi-experiment approach using pre-post test research design. The research location was at BPS Ernita Pekanbaru and conducted in April-June 2014. The number of sample in this study was 30 people with purposive sampling technique. This study is applied primary data which were analyzed by Paired Sample T-Test (Dependent T-Test) with the degree of α = 0.05. The result showed that the average pain scale without receiving a massage was 8.67 and decreasing after pregnant women receive a massage to 5.33. Furthermore, average pain scale without pain killer was 9.47 and after drug administration was 3.07. In other words, massage and medication was effective methods in order to reduce pain with p value : 0.001 To conclude, a massage is quite effective method in reducing pain for pregnant women during her first phase of maternity.Pijat merupakan salah satu cara mengurangi rasa nyeri karena proses pemijatan dapat menghambat sinyal nyeri, Ibu bersalin yang mendapat pijatan selama 20 menit selama proses persalinan akan lebih terbebas dari rasa sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pijat dalam mengurangi nyeri persalinan pada ibu bersalin. Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan rancangan penelitian prepost test. Lokasi penelitian adalah bidan praktik mandiri (BPS) ernita Pekanbaru yang dilakukan pada bulan AprilJuni 2014. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 30 orang dengan teknik pengambilan sampel adalah Purposive Sampling. Data dalam penelitian ini merupakan data primer yang dianalisis menggunakan uji Paired Sample T-Test (dependent T-Test) dengan derajat α =0,05. Hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata skala nyeri persalinan sebelum pijat adalah 8,67, sesudah pijat adalah 5,33. Sedangkan untuk metode sebelum pemberian obat anti nyeri adalah 9,47 dan sesudah pemberian obat adalah 3,07. Pemberian pijat dan obat efektif dalam mengurangi nyeri dengan p value : 0,001. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah metode pijat efektif dalam mengurangi nyeri persalinan pada ibu bersalin fase aktif kala I di BPS Ernita Pekanbar
Boleh Belajar dari Luar Negeri, Namun Perlu Berusaha Sebagai Pencipta untuk Mengatasi Masalah Bangsa
 
Hubungan Beberapa Faktor dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Karyawan Kantor
The office is the neighborhood where work and must be fulfilled the provisions in the workplace ( health, safety and welfare ). Although the office in general is considered safe, but in it still contain health danger that can lead to serious injury. One form of a nuisance that can arise due to a work environment especially in a work environment office is pain the lower back. Population in this research are employees stikes hang tuah pekanbaru who works as a staff of academic.While a sample in this research is the whole population of which satisfies the criteria as a sample in research. The aim of this research to analyze the relationship of Ergonomic Desk Chair and Posture With Low Back Pain on Office Employees. The research method is Analytic Cross Sectional Study with sampling method and 63 employes as sample. Independent variable of this research is body mass index, age, posture, ergonomic desk chair, working time and working olg. Analysis is doing by univariat, bivariate and multivariate. The result obtained is 3 variables that relationship With Low Back Pain on Office Employees that is, body mass index, age, posture. From multivariate analysis acquired that bad posture the most dominant variable that relationship with Low Back Pain, 40 time having low back pain more than worker that good posture (CI 95% : OR = 40).Kantor merupakan lingkungan tempat kerja dan harus memenuhi ketentuan dalam Workplace (Health, Safety and Welfare). Walaupun kantor secara umum dipandang aman, namun di dalamnya tetap memuat bahaya kesehatan yang dapat menyebabkan cedera serius. Salah satu bentuk gangguan yang dapat timbul akibat lingkungan kerja khususnya di lingkungan kerja perkantoran adalah nyeri punggung bawah. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan STIKes Hang Tuah Pekanbaru yang bekerja sebagai staf bagian akademik. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yang memenuhi kriteria sebagai sampel dalam penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara ergonomi kursi dan meja serta sikap duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah pada karyawan kantor. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak 63 karyawan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Indek Masa Tubuh (IMT), Umur, sikap duduk, ergonomi kursi dan meja, waktu kerja dan lama kerja. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukan ada tiga variabel yang memiliki hubungan dengan kejadian nyeri punggung bawah yaitu Indek Masa Tubuh (IMT), Umur, Sikap duduk. Analisis multivariat menunjukan bahwa sikap duduk yang tidak baik memiliki hubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah 40 kali lebih berpotensi dibandingkan dengan karyawan dengan sikap duduk yang benar (CI 95% : OR = 40)
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi Pada Lansia di Atas Umur 65 Tahun
Aging process was an natural process which occured any changes at all body system of elderly, included cardiovascular system in which followed by main deseases were hypertension. The aim of this research was determined the factors related with hypertension on the elderly over 65 years. The data was collected on 87 elderly over 65 years old with hypertension whithin total sampling and also Fisher test as alternative test in factor heredity and obesity. The result showed there were relationship between heredity and hypertension with p value ≤ 0,05. There was no relationship between gender, obesity, smoking, stress, sport and hypertension with p value > 0,05. Recomended to elderly over 65 years old with hypertension to did routine blood pressure control and health officer should to promote health education about prevention of hypertension in elderlyProses menua merupakan proses yang alamiah dimana terjadi berbagai perubahan pada seluruh sistem tubuh lansia, termasuk sistem kardiovaskuler yang biasanya diikuti oleh penyakit utama yakni hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia diatas Umur 65 tahun. Pengambilan data dilakukan pada 87 orang responden yang merupakan lansia di atas umur 65 tahun secara total sampling, dengan alternatif uji Fisher pada faktor keturunan dan obesitas. Hasil uji menunjukkan adanya hubungan antara faktor keturunan dengan hipertensi Pvalue ≤ 0,05, tidak ada hubungan antara faktor jenis kelamin, obesitas, kebiasaan merokok, stres, olahraga dengan Pvalue > 0,05. Disarankan kepada lansia diatas 65 tahun yang menderita hipertensi untuk melakukan pengontrolan tekanan darah secara rutin dan disarankan kepada petugas kesehatan untuk melakukan promosi kesehatan atau pencegahan hipertensi terkait lansia
Persepsi Masyarakat Kenagarian Sumani Tentang Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi
Sumani district had the worst impact by earthquake in West Sumatra in 2007. According to a geologists, Sumani is Sumateran faults area which passes along by the mountain of Bukit Barisan start from the Gulf Semangko up to Banda Aceh. The purpose of this study was to illustrate perception of the society of Sumani district about disaster preparedness, because the myths and misperceptions related to natural disasters often give unfavorable impact in disaster management. This is a descriptive research. The population are amount 1376. Sample are 100 people who has experienced in earthquake situation in 2007 and 2009. Technique sampling by using proportionale random sampling from 12 area in Sumani district. The results of the study, 65% of peoples still have the conventional paradigm about the disaster, 80% of peoples believe that they can participate in disaster risk reduction, 68% of peoples thought they need international medical assistance, 43% of peoples believe they are able to take responsibility for their own survival after the earthquake. Disaster education should be done by continually, so the peoples alert to the threat and they has ability to prevent, anticipate, dodge and re-bounce after disasterKenagarian Sumani Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok mengalami kondisi terparah akibat gempa Sumbar pada tahun 2007. Menurut ahli geologi, Kenagarian Sumani merupakan area patahan (sesar) Sumatera, yang melintas sepanjang jalur pegunungan (Bukit Barisan) mulai dari Teluk Semangko sampai ke Banda Aceh. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat Kenagarian Sumani terhadap kesiapsiagaan bencana, karena mitos dan mispersepsi terkait kejadian bencana alam seringkali memberikan dampak yang kurang baik dalam penanggulangan bencana. Jenis penelitian adalah deskriptif. Populasi berjumlah 1376 KK, sampel 100 orang dengan kriteria pernah merasakan situasi gempa tahun 2007 dan 2009. Teknik pengambilan sampel proporsional random sampling dari 12 jorong yang ada di kenagarian. Hasil penelitian, 65% masyarakat mempunyai paradigma konvensional terhadap bencana, 80% berpendapat masyarakat bisa melakukan usaha pengurangan risiko dampak bencana, 68% berpendapat masih butuh bantuan medis internasional, 43% persen yakin mampu mengambil tanggung jawab atas kelangsungan hidup pasca gempa. Pendidikan tentang bencana harus terus menerus dilakukan agar masyarakat siap siaga terhadap ancaman dan memiliki kemampuan untuk mencegah, mengantisipasi, menghindar dan bangkit kembali setelah kejadian bencana.  
Analisis Pelaksanaan Manajemen Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
Teens encounter natural changes which often cause unexpected serious impacts, such as the increasing rate of abortion cases, unwanted pregnancies, and sexually transmitted diseases. Cited from WHO, developed countries are more likely to have the highest rate of teen’s sexuality. Pekanbaru is a city with the highest rate of teen’s sexuality in Riau. In the context of overcoming the problems on teenagers and eliminating HIV/AIDS cases as the focus of MDG’s 2015, the Health Department is in charge of implementing Health Service on Teens Care (abbreviated in Indonesian, PKPR). This is a qualitative research conducted from June 29 to July 17, 2012. In-depth Interview on eight persons was conducted, and ten teens suspected in teen’s sexuality participated in Focus Group Discussion (FGD). Based on the input component result, there is no particular government regulation on teen’s problems. There are already responsible persons for the health workers and for each activity, and the guidebook from the Ministry of Health of Indonesia. On the other hand, particularly allocated budget for PKPR is not yet specified. Since it is still merged with the one allocated for other programs, there are limited activities are possibly conducted, and limited counseling patterns. Then, the process component result shows that advocacy is already performed. There are socialization, training, and counseling for teenagers, and also screening program for school students. Monitoring and evaluation format are arranged even though the data entry process is not in line with the specified format. Based on output component result, the implementation of PKPR accomplished only 0.32% from 80% targeted. In accordance with this research, Pekanbaru Health Department is considered requiring special division on teens care in order to design implementation SOPs based on the existing problems at Health CentersPerubahan alami remaja berdampak meningkatnya kasus seperti aborsi, kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual. Berdasarkan hasil penelitian WHO tentang kesehatan remaja ternyata dinegara maju banyak remaja yang terlibat aktif secara seksual, salah satunya adalah kota Pekanbaru tertinggi di Riau, Guna mencegah berkembangnya masalah remaja dan HIV/AIDS sekaligus target MDG’s 2015, maka dinas kesehatan merealisasikan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran PKPR di dinas kesehatan kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dilakukan 29 Juni – 17 Juli 2012. Informan delapan orang indepth interview dan sepuluh remaja yang melakukan kenakalan dengan focuss group discussion (FGD). Hasil penelitian : Input belum ada peraturan daerah tentang remaja, ada penanggung jawab kegiatan, dibentuk tim pelaksana, buku pedoman sudah ada dari Kemenkes RI, anggaran PKPR belum ada, anggaran masih bergabung dengan program lain sehingga kegiatan terbatas, metode penyuluhan belum bervariasi Process, advokasi sudah dilakukan, berupa sosialisasi, pelatihan , penyuluhan, dan screening pada anak sekolah dan remaja, format monitoring dan evaluasi ada tetapi pengisian tidak sempurna. Output pelaksanaan PKPR belum optimal, yaitu 0.32% dari 80% target pelayanan. Saran kepada dinas kesehatan Kota Pekanbaru perlu dibentuk tim khusus PKPR sehingga bisa membuat SOP dan membuat rencana berdasarkan masalah data dari Puskesmas dan masyaraka
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Perubahan Fisiologis dan Psikologis Fase Premenopouse terhadap Tingkat Kecemasan pada Pralansia
Knowledge was the resulted of human sensing that strongly influenced by the intensity of attention and object perception. Anxiety was a felt of fear that was not clear and not supported by the situation. This study aims to determine the relationship betwen level of knowledge about physiological and psychological changes in premenopausal phase and level of anxiety in pre-old woman. This research was quantitative design with cross-sectional. Total sample in this study are 90 premenopausal women who experience pre-old women at Working Area of Health Public Center in Pekanbaru, used purposive sampling technique. Data was analyzed with univariate and bivariate frequency distributions with chi-square test. The results showed an relationship between the level of knowledge about the physiological and psychological changes in premenopausal phase and the level of anxiety in pre-old women with p value = 0.000 (p <0.1). This study recommended that additional studies by increasing the number of samples so that the whole population can be represented.Pengetahuan merupakan hasil dari penginderaan manusia yang sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Kecemasan merupakan perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang perubahan fisiologis dan psikologis fase premenopouse terhadap tingkat kecemasan pada pralansia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain “cross sectionalâ€. Sampel dalam penelitian ini bejumlah 90 orang wanita pralansia yang mengalami premenopouse di Wilayah Kerja Puskesmas Lima Puluh Pekanbaru, diambil menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perubahan fisiologis dan psikologis fase premenopouse terhadap tingkat kecemasan pada pralansia dengan p value= 0,000 (p<0,1). Penelitian ini menyarankan agar dilakukan penelitian dengan variabel lain seperti dukungan keluarga, ekonomi dan pendidika
Hubungan Karakteristik dalam Keluarga dengan Pengetahuan dan Sikap Siswi SMA Uswatun Hasanah Tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) di Jakarta Timur
It is assumed that many young girls have risky sexual behavior because they have a lack of knowledge and negative attitude on sexual education; it means that the young girls have a lack of knowledge and negative attitude concerning sexual transmitted infection. The objective of this study is to examine several factors associated with knowledge and attitude of pupils of Uswatun Hasanah High School concerning sexual transmitted infection (STI). The method of study uses descriptive cross sectional study, the population and sample of this study is 60 pupils of Uswathun Hasanah High School in 2011. The dependent variables are knowledge and attitude about STI; each of them is associated with 8 independent variables. Collection of primary data was conducted through structural interview by using close ended question. Analysis of data is conducted for one variable and two variables by using x square test. The results of study shows that 1) The pupils of Uswatun Hasanah High School having low knowledge and negative attitude on STI was 41.7% and 36.7%; 2) Age of 15-16 years old, mother without occupation, family income < Rp. 1,300,000, and the number of family members > 3 persons were higher risk to have low knowledge on STI; 3) Father’s education of elementary school, family income < 1,300,000 and family member > 3 persons were higher risk to have negative attitude on STI; and 4) Low knowledge on STI is higher risk to have negative attitude on STI. Recommendation are to conduct further study using representative sample, to calculate sample size for analytic cross sectional study design, to conduct analysis of multi variables, and to detect the effectiveness of sexual education on the risk of sexual behavior. Suggestions are to conduct sexual education to the pupils of, and to conduct communication, information and education to the parents of Uswatun Hasanah High School in East JakartaBanyak terjadinya perilaku seks berisiko pada remaja puteri diduga karena pengetahuan yang rendah dan sikap negatif terhadap pendidikan seks yang menyangkut penyakit infeksi manular seksual (IMS); itu berarti bahwa para remaja puteri mempunyai pengetahuan yang rendah dan sikap negatif tentang IMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan dan sikap siswi SMA Uswatun Hasanah tentang IMS. Metode penelitian menggunakan jenis desain descriptive cross sectional study, populasi adalah siswi SMA Uswatun Hasanah Jakarta Timur tahun 2011 berjumlah 60 orang, sekaligus sebagai sampel dari penelitian ini. Variabel dependen dari penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap tentang IMS, yang masing-masig dihubungkan dengan 8 variabel independen. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dengan pertanyaan tertutup. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan menggunakan test kemaknaan X square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) siswi SMA Uswatun Hasanah yang berpengetahuan rendah dan bersikap negatif terhadap tentang IMS adalah 41,7% dan 36,7%; 2) umur siswi 15-16 tahun, ibu tidak bekerja, penghasilan orang tua < Rp 1,300,000 dan jumlah anggota keluarga > 3 orang lebih berisiko mempunyai pengetahuan rendah tentang IMS; 3) Pendidikan bapak SD/SMP, ibu tak bekerja, uang saku harian siswi < Rp. 20,000, penghasilan orang tua < Rp. 1, 300,000 dan jumlah anggota keluarga > 3 orang lebih berisiko mempunyai sikap negatif tentang IMS; 4) pengetahuan siswi yang rendah tentang IMS berisiko terhadap sikap siswi yang rendah tentang IMS. Direkomendasikan untuk penelitian lebih lanjut menggunakan sampel yang representatif, menghitung besar sampel sesuai dengan jenis disain analytic cross sectional dan melakukan analisis multivariat dan mengetahui efektifitas pendidikan seks dengan perilaku seks berisiko. Disarankan untuk melakukan pendidikan seks kepada siswi SMA Uswatun Hasanah, dan melakukan KIE kepada ibu dan bapak supaya siswi mereka berpengetahuan tinggi dan sikap positif di SMA Uswatun Hasanah Jakarta Timur
Pengaruh Penyakit Penyerta Kehamilan dan Kehamilan Ganda dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Of data obtained from the Medical Records General Hospital Arifin Achmad Riau from 2011 to 2013 for that is LBW in 2011 registered 46 cases (1.62%) of 2833 deliveries, 179 cases registered in 2012 (5.44%) of the 3290 labor and in 2013 registered 130 cases (4.56%) of 2848 births and LBW are still included in 3 of the 15 diseases causing neonatal mortality. Purpose of research is known factors related to LBW in General Hospital Arifin Achmad Riau Year 2011- 2013. Design of research is case-control study. The case is infat born to LBW in General Hospital Arifin Achmad Riau in 2011-2013 equal 355 respondent and control is infants born to normal birth weight in General Hospital Arifin Achmad Riau in 2011-2013 equal 355 respondent. The results of research maternal to Accompanying Disease Pregnancy is more risk of giving birth to LBW 10 times (95% CI 6.2 -16.6) and maternal to more risk of having a multiple pregnancy to LBW 15 times (95% CI 4,8- 45.1). Conclusion that is the independent variables have causal relations with incidence of LBW is Age, Accompanying Disease Pregnancy, Preeclampsia/eclampsia, Multiple pregnancy, PROM, Hydramnion, Plasenta Previa. Advice is intended for health professionals that is active in counseling, the General Hospital Arifin Achmad Riau need liveliness LBW preventionData yang diperoleh dari Rekam Medik RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dari tahun 2011 sampai 2013 untuk kejadian BBLR yaitu pada tahun 2011 tercatat 46 kasus (1,62%) dari 2833 persalinan, tahun 2012 tercatat 179 kasus (5,44%) dari 3290 persalinan dan tahun 2013 tercatat 130 kasus (4,56%) dari 2848 persalinan dan BBLR masih termasuk ke dalam 3 besar dari 15 penyakit penyebab kematian Neonatal. Tujuan penelitian adalah diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Tahun 2011- 2013. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus kontrol (case control study). Kasus yaitu bayi lahir dengan BBLR di RSUD Arifin Achmad Riau tahun 2011-2013 berjumlah 355 orang dan kontrol yaitu bayi lahir dengan berat lahir normal di RSUD Arifin Achmad Riau tahun 2011-2013 berjumlah 355 orang. Hasil penelitian ibu dengan penyakit penyerta kehamilan lebih berisiko melahirkan dengan BBLR 10 kali (CI 95% 6,2-16,6), ibu dengan kehamilan ganda lebih berisiko melahirkan dengan BBLR 15 kali (CI 95% 4,8-45,1). Kesimpulan yaitu variabel independen yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kejadian BBLR adalah umur, penyakit penyerta kehamilan, preeklampsia/eklampsia, kehamilan ganda, KPD, hidramnion dan plasenta previa. Saran ditujukan bagi tenaga kesehatan yaitu aktif dalam memberikan konseling, bagi RSUD Arifin Achmad Riau perlu keaktifan dalam upaya pencegahan BBL