Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
    548 research outputs found

    Strategi Epidemiologi Dalam Pelayanan Kesehatan Primer

    Get PDF
    oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/2Di Indonesia masalah kesehatan termasuk penyakit menular dan penyakit tak menular masih cukup tinggi, yang perlu diatasi dengan pelayanan kesehatan primer yang bermutu, efektif dan efisien. Strategi epidemiologi merupakan lintasan untuk mencapai 3 tujuan epidemiologi.  Tujuan makalah ini untuk menunjukkan inovasi bagaimana strategi epidemiologi dapat bermanfaat dalam pelayanan kesehatan primer.  Metode: digunakan non-systematic review dan content analysis kepustakaan tentang upaya kesehatan, MDGs (Millineum Development Goals), epidemiologi, pengambilan keputusan berdasar bukti, desentralisasi pelayanan kesehatan, pendidikan tinggi kesehatan masyarakat dan pembiayaan kesehatan. Hasil: Inovasi adalah aplikasi dari ide dan gagasan yang dihasilkan oleh kreativitas yang merupakan suatu proses mental dan proses berpikir. Suatu inovasi menghasilkan jasa-jasa atau cara kerja yang lebih efektif dan efisien. Pengambilan Keputusan Berdasar Bukti (PKBB) merupakan suatu ide, hasil kreativitas dari para ahli berbagai ilmu antara lain Epidemiologi, dengan mana dilakukan analisa data dan informasi. Kegiatan seperti ini tidak sempurna dan sulit dilaksanakan bila hanya dilakukan di tingkat pusat dan tingkat provinsi; karena itu di tingkat kabupaten/kota perlu ada inovasi dengan membentuk Tim Epidemiologi Manajemen Kabupaten (TEMK) dalam rangka meningkatkan mutu manajemen dan mengintensifkan pelayanan kesehatan primer. Namun inovasi ini mengalami hambatan sehubungan dengan kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan primer, pendidikan tinggi kesehatan masyarakat, desentralisasi pelayanan kesehatan dan pembiayaan pelayanan kesehatan. Kesimpulan: Perlu dibuat rencana strategis pelayanan kesehatan primer bukan hanya MDGs tetapi secara menyeluruh, evaluasi pendidikan tinggi kesehatan masyarakat, meninjau kembali undang-undang dan peraturan dalam rangka desentralisasi, sedangkan pemerintah eksekutif dan legislatif memberikan perhatian dan komitmen terhadap perkembangan praktek kesehatan masyarakat

    Masalah Kesehatan Dalam Siklus Kehidupan: Masalah Kesehatan Dalam Siklus Kehidupan

    No full text
    Jurnal Kesehatan Komunitas Volume 3 Nomor 4 tahun 2017 kali ini membahas tentang permasalahan kesehatan yang melibatkan semua siklus kehidupan (life cycle). Kehidupan manusia selalu mengikuti suatu siklus yang berjalan seiring waktu. Dalam menjalani siklusnya, manusia melewati semua masa mulai dari kandungan, bayi, balita, remaja, dewasa, hingga menjadi tua atau lanjut usia. Selama menjalani hidupnya, manusia akan mengalami perubahan dalam hidupnya termasuk masalah kesehatan yang mungkin akan dihadapi manusia sepanjang hidupnya. Kita misalkan masalah yang dihadapi bayi dalam salah satu artikel di jurnal ini dimana tidak tercapainya ASI eksklusif karena pemberian makanan tambahan (PMT) terlalu dini kepada bayi 0-6 bulan. Adapun faktor yang berhubungan dengan PMT ini karena rendahnya pendidikan dan pengetahuan ibu tentang PMT. Tidak hanya masalah PMT yang terlalu dini, anak balita juga menghadapi banyak masalah diantaranya gizi buruk pada balita yang juga dibahas dalam edisi kali ini. Program penanggulangan gizi buruk sudah berjalan tetapi hasilnya belum dapat mengatasi kejadian gizi buruk. Salah satu penyebab kejadian gizi buruk diantaranya tidak hanya masalah SDM, masalah dana juga masih menjadi persoalan, ditambah lagi kurangnya koordinasi antara tenaga kesehatan (bidan), kader kesehatan, dan masyarakat. Masalah gizi buruk salah satunya juga karena kurangnya pemanfaatan posyandu oleh masyarakat sehingga sebagian anak kurang terpantau pertumbuhannya. Adapun faktor penyebab orang tua tidak mau membawa anaknya ke posyandu menurut salah satu artikel yang dimuat kali ini diantaranya adalah rendahnya pendidikan, orang tua yang bekerja, peran kader yang kurang, dan pengetahuan yang kurang yang berdampak kepada rendahnya pemanfaatan pelayanan posyandu oleh masyarakat. Anak usia sekolah juga rentan terhadap persoalan kesehatan, salah satunya adalah masih rendahnya perilaku cuci tangan pada anak-anak menurut satu artikel edisi ini. Walaupun sudah disediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk cuci tangan tapi pemanfaatannya masih rendah. Ternyata dengan melakukan diskusi kelompok dengan anak-anak akan lebih meningkatkan pengetahuannya tentang cuci tangan pakai sabun dibandingkan dengan memberikan ceramah tentang cuci tangan pakai sabun. Usia kerja juga mengalami masalah kesehatan seperti pada nelayan di Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan yang mengalami Pterigium. Kejadian Pterigium yaitu suatu keadaan yang merupakan fenomena iritatif akibat sinar UV, pengeringan, dan lingkungan dengan banyak angin. Hasil penelitian tahun 2016 dalam jurnal ini telah ditemukan sekitar 77,8% kejadian Pterigium pada nelayan. Faktor penyebab Pterigium diantaranya pengetahuan nelayan yang kurang dan perilaku nelayan dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang masih belum lengkap, tidak adanya peran tenaga kesehatan, serta masa kerja nelayan yang lebih dari 5 jam sehari. Memasuki siklus terakhir kehidupan yaitu masa lanjut usia, juga dihadapkan pada penyakit degeneratif yang semakin meningkat. Salah satunya hipertensi yang diderita lanjut usia. Cara mengatasinya menurut salah satu penelitian dalam artikel ini adalah dengan melakukan perendaman kaki pada penderita hipertensi. Hasil penelitian membuktikan bahwa perendaman kaki pada penderita hipertensi dapat menurunkan tekanan darah pada lanjut usia. Sehingga cara perendamkan kaki merupakan bentuk terapi komplementer yang mudah dan murah dilakukan secara mandiri dalam menurunkan hipertensi. Untuk menghindari masalah-masalah kesehatan yang mungkin akan dilalui selama siklus kehidupan, maka mulai dari kandungan, masa bayi, masa balita, anak, dan masa remaja asupan gizi dan pola hidup sehat harus diperhatikan, sehingga saat dewasa dan masa lanjut usia nanti hidup menjadi sehat dan berkualitas. Upaya meningkatkan siklus hidup berkualitas merupakan peran semua pihak yaitu, individu, keluarga, dan pemerintah dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu

    HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA DAN PERILAKU NELAYAN TERHADAP KEJADIAN PTERIGIUM DI DESA KEMANG KECAMATAN PANGKALAN KURAS KABUPATEN PELALAWAN

    No full text
    Pterygium is a thickening of the conjunctiva or the white part of the eye on the side of the medial or lateral, usually in older people, but can also be found in young adults, and increasingly extends towards the cornea. Ultraviolet light is one factor that can increase the incidence of pterygium. This situation is an irritating phenomenon caused by ultraviolet light, drying and the environment with a lot of wind. Data from Kemang Postu found that 30 (80%) incidence of pterygium. The purpose of this research that determines the behavior of fishermen on the incidence pteirigum. This research is a quantitative research with cross sectional analytic design. This research was conducted in Desa Kemang District of Pangkalan Kuras Pelalawan June-July 2016, with a sampling technique in the study of saturated sampling. Data were collected using a questionnaire and profile data from Kemang Village office. Data analysis for bivariate with chi-square test on the degree of α = 0.05. The results showed that there is a relationship between knowledge p-value = 0.001 <0.05 POR = 18,083 (3.281-99.67), personal protective equipment fisherman p-value = 0.001 <0.05, POR = 14,000 (2.69-72.97) the role of power health with the results of p-value = 0.008 <0.05, POR 10,667 (1.92-59.20) and the period of 0,017 fishermen p-value <0.05, POR 7750 (1.53-39.12) with pterygium disease. Health workers should pay more attention to the fishing community in order to prevent and menangguangi incidence of pterygium.Pterigium merupakan penebalan konjungtiva atau bagian putih mata pada sisi medial dan atau lateral, biasanya pada orang tua, tetapi bisa juga ditemukan pada dewasa muda, dan semakin lama semakin meluas kearah kornea.  Sinar ultraviolet merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kejadian pterigium. Keadaan ini merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak. Data dari Postu Kemang didapatkan bahwa ada 30 (80%) kejadian pterigium. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perilaku nelayan terhadap kejadian pteirigum. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan pada bulan Juni-Juli 2016, dengan teknik sampling dalam penelitian yaitu Sampling Jenuh. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner dan data profil dari kantor Desa Kemang. Analisis data untuk bivariat dengan uji chi-square pada derajat α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa ada hubungan antara pengetahuan p-value=0,001 < 0,05 POR=18.083 (3.281-99.67), alat pelindung diri nelayan p-value=0,001 < 0,05, POR=14.000 (2.69-72.97) peran tenaga kesehatan dengan hasil p-value=0,008 < 0,05, POR 10.667 (1.92-59.20) dan  masa kerja nelayan p-value 0,017 < 0,05, POR 7.750 (1.53-39.12) dengan penyakit pterigium. Bagi tenaga kesehatan sebaiknya lebih memperhatikan masyarakat nelayan agar dapat mencegah dan menangguangi kejadian pterigium

    Faktor – Faktor yang Berhubungan demgan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Bayi Usia (0-6) Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Garuda Kelurahan Tangkerang Tengah Kota Pekanbaru

    Get PDF
    Supplementary Feeding (PMT) in infants is the provision of food or beverages containing nutrients to infants or children aged 6-24 months to meet the nutritional needs after exclusive breastfeeding. Achievement rates of exclusive breastfeeding in Riau Province in 2011 was 45.9%, in 2012 increased to 46.2%. Exclusive breastfeeding PHC coverage in 2012 amounted to 60.4%, in 2013 decreased to 32.5%. The aim of research to determine the factors Associated with supplementary feeding (PMT) in infants aged (0-6) months in Puskesmas Garuda Village Middle Tangkerang Pekanbaru.This study is a quantitative analytical observational design (cross-sectional). With the dependent variable supplemetary feeding (PMT) and independent variables (education, employment, knowledge, and resources). The population in this study are all mothers who had infants aged (0-6) months, as many as 388 people with a partial sample of mother who had infants age (0-6) months as many as 128. The sampling technique is quota sampling. Data types consist of primay data and secondary data. Collecting primary data obtained directly from observations in the field through interviews with a quetionnaire measuring tool. The analysis which is used is the analysis of univariate, bivariate with Chi-square and multivariate. The results showed there is a relationship between education and the Feeding (P value 0.032, POR 95% CI = 2.338 1.137 to 4.808), knowledge (P value 0.002, POR value = 3.844 95% CI 1.710 to 8.639. )Is expected to relevant agencies to improve communication program, information, and education (KIE). establish cooperation across programs and sectors, more active in providing information to mothers with infants aged (0-6) months to education dan knowledge of the low one through the extension of the supplementary feeding (PMT). Keyword         :   supplementary feeding, education , knowledge,Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada bayi adalah pemberian makanan atau minuman yang mengandung zat gizi pada bayi atau anak usia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi setelah pemberian ASI Eksklusif. Pencapaian angka pemberian ASI eksklusif di Provinsi Riau Tahun 2011 adalah 45,9%, tahun 2012 meningkat menjadi 46,2%. Cakupan ASI Eksklusif Puskesmas tahun 2012 sebesar 60,4%, tahun 2013 menurun menjadi 32,5%. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan tambahan (PMT) pada bayi usia (0-6) bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Garuda Kelurahan Tangkerang Tengah Kota Pekanbaru. Penelitian ini bersifat analitik kuantitatif observasional dengan desain (cross sectional) dengan variable dependen pemberian makanan tambahan (PMT) dan variabel independen (pendidikan, pekerjaan, pengetahua, dan sumber informasi). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang memiliki bayi usia (0-6) bulan sebanyak 388 orang dengan sampel sebagian ibu-ibu yang memiliki bayi usia (0-6) bulan sebanyak 128. Teknik pengambilan sampel adalah quota sampling. Jenis data terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh langsung dari pengamatan di lapangan melalui wawancara dengan alat pengukuran kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dengan uji Chi-square dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pendidikan dengan Pemberian Makanan Tambahan dengan (P value 0,032, POR 95% CI = 2,338 1,137-4,808), pengetahuan dengan (P value 0,002, nilai POR 95% CI = 3,844 1,710-8,639) Disarankan ke instansi terkait untuk meningkatkan program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), menjalin kerja sama lintas program dan lintas sektor, lebih aktif memberikan informasi kepada ibu yang memiliki bayi usia (0-6) bulan dengan pendidikan dan pengetahuan yang masih rendah salah satunya melalui penyuluhan tentang pemberian makanan tambahan (PMT).   Kata Kunci     : pemberian makanan tambahan (PMT), pendidikan,   pengetahuan &nbsp

    Kinerja Keperawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru

    Get PDF
    The assessment of performance is the process of judging the result of the work of personnel in a performance appraisal organization through an instrument. Give help in based on capability of being obtained through education, the motivation, work experience, and compensation also closely related to the performance of a person. The purpose of the research is to know the factors that associated  the performance of nursing in hospital Bhayangkara Pekanbaru. Type of this research is quantitative analytic with Cross Sectional Study design. Population and sample is 58 people. The collection of data with conducted the questionaire, Analysis of data was performed using univariate and bivariate with statistical test Chi-Square. Result of the research the motivation  OR = 18,333, the work experience  OR = 9,896, the compensation performance of nursing staff OR = 13,33. Suggested to management Bhayangkara hoprital Pekanbaru can become the facilitator in improving the human resources ti get education and knowledge are higher, motivate exertion nursing, simulation training and that deatls with nursing, and noticed compensation. Penilaian kinerja adalah proses menilai hasil karya personel dalam suatu organisasi melalui instrumen penilaian kinerja. Dalam memberikan pertolongan didasarkan pada kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan, motivasi, pengalaman kerja, dan kompensasi juga berkaitan erat dengan kinerja seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan Kinerja keperawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan menggunakan desain Cross Sectional Study. Populasi dan sampel yaitu berjumlah 58 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian terdapat hubungan antara motivasi OR = 18,333, pengalaman kerja OR = 9,896, kompensasi dengan kinerja tenaga keperawatan OR = 13,333. Disarankan kepada manajemen RS Bhayangkara Pekanbaru dapat menjadi fasilitator dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang lebih tinggi, memotivasi tenaga keperawatan, simulasi yang berhubungan dengan keperawatan, dan memperhatikan kompensasi

    Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Trimester I dengan Kejadian Abortus di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

    Get PDF
    Abortionis the result of conceptions pending prematurely. Abortion can be caused bylack of knowledge oftheir mother. The most frequent causes of maternal mortality are hemorrhage. As has been previously known that bleeding is a complication of abortion. There are many women's health issues, especially onthe background pregnancy problems or complications of pregnancy and thecauseof maternal mortality, one of whichisabortion. Data from Riau province Arifin Achmad abortion case in 2011 reached 94 pregnant women, abortion case in 2012 decreased to 90 cases. Then in the year 2013 as many as109 people. The purpose of this study was to determine the relationship of knowledge of pregnant women with a first trimester abortion at Arifin Achmad Pekanbaru 2015. This research methodusing aquantitative analytical research type and cross sectional Desaign. This research was conducted at Arifin Achmad Riau province on April 4 to May 4 2015. The population in this study were all first trimester pregnant women who cometo Arifin Achmad and obtaineda sample of 34 respondents, the sampling technique that is by accidental sampling. Retrieving data using primary data using questionnaires, data processing is computerized and data analysis done by univariate and bivariate. The results obtained by the majority of respondents have less knowledge as much as 28 people (82.4%) and experienced abortion as many as 21 people (61.8%). While the results of the chi square test results obtained significant correlation between knowledge with abortion with p = 0.007 <0.05. Expected to health workers cannot give information about the factors associated with the incidence of abortion to pregnant women who visit each other to hospitals, so that the mother can knowandbe able totake reasonable precautions against abortion. Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum waktunya. Abortus dapat disebabkan karena pengetahuan ibu yang kurang. Penyebab AKI yang paling sering adalah perdarahan. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa perdarahan merupakan komplikasi dari terjadinya abortus. Ada banyak masalah kesehatan wanita khususnya pada kehamilan yang melatarbelakangi masalah atau komplikasi kehamilan serta menimbulkan kematian ibu, salah satunya adalah kejadian abortus. Data dari RSUD Arifin Achmad provinsi Riau kasus abortus tahun 2011 mencapai 94 orang ibu hamil, tahun 2012 kasus abortus menurun menjadi 90 kasus. Kemudian pada tahun 2013 sebanyak 109 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil trimester Idengan kejadian abortus di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2015. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dan desain cross sectional. Penelitian ini diadakan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau pada 4 April hingga 4 Mei tahun 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester I yang datang ke RSUD Arifin Achmad dan sampel diperoleh sebanyak 34 responden, dengan tekhnik sampling yaitu secara accidental sampling. Pengambilan data menggunakan data primer dengan menggunakan kuesioner, pengolahan data dilakukan dengan cara univariat dan bivariat. Hasil penelitian diperoleh mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 28 orang (82,4%) dan mengalami kejadian abortus sebanyak 21 orang (61,8%). Sedangkan hasil uji chi square diperoleh hasil terdapat hubungan yang siginifikan antara pengetahuan dengan kejadian abortus dengan nilai p= 0,007 < 0,05. Diharapkan kepada tenaga kesehatan dapat meberikan informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus kepada ibu hamil yang berkunjungan ke RSUD, agar ibu dapat mengetahuinya dan dapat melakukan pencegahan terhadap kejadian abortu

    Kejadian Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbar

    Get PDF
    Helminthiasis  remains a health problem. This disease mostly suffered by  children. Mild  helminthiasis cause no symptoms, but in severe conditions can cause intestinal problems such as diarrhea and abdominal pain,  malaise, decreasing cognitive and physical development,  and anemia.The purpose of this study was to determine the proportion of helminthiasis and factors associated with helminthiasis i.e the habit of hand washing, nail hygiene, availability of latrines, type of floor of the house, the availability of clean water in the house, the availability of trash, a habit of playing in land, the habit of using footwear, availability of Waste Water Disposal Facility, mother's occupation, father's occupation, sex and drinking-worming in elementery school students. This study was observasional analytic study with  crossectional approach. The population were 2610 students of state elementary school in Kecamatan Rumbai Pesisir. As  many as 240 students obtained a sample by using systematic random sampling The date was analaized with Multiple linear regression. The results showed the proportion of helminthiasis incidence was 16.3%,which ascariasis incidence 12.9%, trichuriasis  2.5% and hookworm infection 0.8%. The Variables  that significantly related to the incidence of helminthiasis were  taking   anthelmintics  (POR: 11.143; 95% CI: 4.179 to 31.886) , handwashing  (POR: 5.366; 95% CI: 2.186 to 13.172), the availability of SPAL (POR: 2.615; 95% CI: 1.195 to 6.787) and nail hygiene (POR: 2.378; 95% CI: 1.300 -7.227).Penyakit kecacingan masih menjadi masalah kesehatan. Penyakit  ini terutama diderita oleh anak-anak. Pada kondisi kecacingan  ringan tidak menimbulkan gejala, pada kondisi berat  dapat menimbulkan manifestasi usus, malaise, gangguan  perkembangan kognitif, terganggunya perkembangan fisik dan anemia.   Penelitian ini bertujuan untuk mengethui proporsi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan Soil Transmitted Helminth (STH) yaitu kebiasaan mencuci tangan, kebersihan kuku, ketersediaan jamban, jenis lantai rumah, ketersediaan air bersih di rumah,ketersediaan tempat sampah, kebiasaan bermain di tanah,kebiasaan menggunakan alas kaki, ketersediaan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL), pekerjaan ibu, pekerjaan ayah, jenis kelamin dan minum obat cacing. Penelitian ini bersifat kuatitatif analitik observasional dengan studi penampang analitik. Populasi  adalah seluruh siswa SD Negeri Kecamatan Rumbai Pesesir sebanyak 2610 orang dan sampel  240 orang. Sampling yang digunakan adalah systematic random sampling. Analisis data menggunakan uni regresi linier ganda. Hasil penelitian diperoleh proporsi kecacingan 16,3%,   jenis Ascaris lumbricoides 13,0%, Trichuiris trichiura  2,5% dan cacing Tambang  0,8%.Variabel yang berhubungan dengan kecacingan: minum obat cacing (POR:11,143; 95%CI: 4,179-31,886), kebiasaan mencuci tangan (POR:5,366; 95%CI: 2,186-13,172), ketersediaan SPAL (POR:2,615; 95%CI: 1,195-6,787), kebersihan kuku (POR: 2,378; 95%CI : 1,300-7,227)

    Pelaksanaan Pemberian Informasi dan Kelengkapan Informed Consent di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang (RSUD Bangkinang)

    Get PDF
    Informed consent is an agreement given by the patient or his who is entitled to medical doctors to perform a the act of medical towards patients after obtain information complete and that this belief that about the act. This study attempts to of the provision of information and completeness informed consent in the district general hospital bangkinang (RSUD Bangkinang) .The kind of research this is qualitative approach quantitative method. Technique data collection observation and guidelines. Technique data analysis was conducted using technique quantitative and qualitative analysis. The results of the study that a groove for granting information is in line with the theory that is . Completeness for charging identity patients to address patients 14 ( 14.6 % ) unfilled complete. It also applies to completeness charging identity responsible for patients to address 25 ( 26.0 % ) filled complete. Completeness for charging autentikasi a patient to kind of action medical 39 ( 40.6 % ) filled complete, and also for charging the medical term 45 ( 46.9 % ) filled complete, so are the name and signature witness i from the patients 52 ( 54.2 % ) filled complete. This conclusion that is a groove for granting information already exists , started from inpatient rooms doctor give information to with a patient prior to the act of medical. In completeness identity included in a category not good , and comprehensiveness of autentikasi included in a category less baik.dengan advice expected to director of the hospital to heed completeness informed consent in contents of by doctors and nurses that to fill with complete Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau walinya yang berhak kepada dokter untuk melakukan suatu tindakan medis terhadap pasien sesudah memperoleh informasi lengkap dan yang dipahaminya mengenai tindakan itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemberian informasi dan kelengkapan informed consent di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang (RSUD Bangkinang). Jenis penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data observasi dan pedoman wawancara. Teknik analisa data dilakukan dengan menggunakan tehnik analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian bahwa pelaksanaan pemberian informasi sudah sesuai dengan standar yang ada. Kelengkapan formulir informed consent menurut rentang nilai kualitas pengisian data oleh arikunto (1992) termasuk kedalam kategori tidak baik hal ini terlihat pada pengisian identitas pasien untuk alamat pasien 14 (14.6%) terisi lengkap dan kelengkapan pengisian identitas penanggung jawab pasien untuk alamat 25 (26.0%) diisi lengkap. kelengkapan untuk pengisian autentikasi pasien untuk jenis tindakan medik 39 (40.6%) diisi lengkap, dan juga untuk pengisian istilah medis 45 (46.9%) diisi lengkap, Begitu juga dengan nama dan tanda tangan saksi I yaitu dari pihak pasien 52 (54.2%) diisi lengkap. Kesimpulan yaitu pelaksanaan pemberian informasi sudah ada, dimulai dari ruang rawat inap dokter memberikan informasi sampai dengan pasien sebelum melakukan tindakan medik. pada kelengkapan identitas termasuk dalam kategori tidak baik, dan kelengkapan autentikasi termasuk dalam kategori kurang baik.dengan saran diharapkan kepada direktur rumah sakit untuk memperhatikan kelengkapan informed consent yang di isi oleh dokter maupun perawat agar terisi dengan lengka

    Faktor Ibu yang Berhubungan dengan Kejadian Persalinan Lama di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

    Get PDF
    Obstructed labour is one cause of the death  mother and fetus. On the mother, it can cause an infection, exhaustion, dehydration and post partum hemorrhage. On the fetus, it can cause an infection, injured and asphyxia. Obstructed labour is influenced by maternal factors, fetal factors, and factors of the birth canal. The purpose of research was to determine the maternal factors associated with the incidence of obstructed labour. This research was conducted at RSUD Arifin Achmad in 2013. This research is a quantitative research with case control study design. The samples used in this study were 24 mothers who experience as obstructed labour and 24 mother with normal birth as control. The sampling procedure for this case done by total population and sampling as control using Systematic Random Sampling technique. Collecting data methods using a checklist sheet with the dependent variable of obstructed labour, as known as: prolonged labour which last > 18 hours starting from the signs of labour that are listed in the diagnosis of file / status of the mother, the independent variables include age, parity and his. Data analysis was performed using univariate and bivariate with chi–square test. The result showed that there is a relationship between age with the incidence of obstructed labour (OR : 4,000; 95% CI : 1,583–46,277),  relationship between parity with the incidence of obstructed labour (OR : 3,400; 95% CI : 1,027–11,257) and relationship between his with the incidence of obstructed labour (OR : 9,308; 95% CI : 1,778–48,723). We recommend that RSUD Arifin Achmad as the leading healthcare facilities in public health services is expected to improve health services, especially with the immediate response of labour with complications that require immediate action in order to reduce Maternal Mortality Rate and Infant Mortality Rate. Persalinan lama merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan janin. Pada ibu dapat menyebabkan terjadinya infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi, dan perdarahan post partum. Pada janin dapat menyebabkan terjadinya infeksi, cedera dan asfiksia. Persalinan lama dipengaruhi oleh faktor ibu, faktor janin, dan faktor jalan lahir. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor ibu yang berhubungan dengan kejadian persalinan lama.  Penelitian dilakukan di RSUD Arifin Achmad pada tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case control. Jumlah sampel sebanyak 24 orang ibu yang mengalami persalinan lama sebagai kasus dan 24 orang ibu yang bersalin normal sebagai kontrol. Prosedur pengambilan sampel untuk kasus dengan cara total populasi dan pengambilan sampel untuk kontrol menggunakan teknik Systematic Random Sampling. Pengambilan data menggunakan lembar ceklis dengan variabel dependen persalinan lama, yaitu : persalinan memanjang yang berlangsung >18 jam dimulai dari tanda–tanda persalinan yang tercantum dalam diagnosa pada file/status ibu, variabel independen meliputi : usia, paritas dan his. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi–square. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan usia dengan kejadian persalinan lama (OR : 4,000; 95% CI : 1,583–46,277), terdapat hubungan paritas dengan kejadian persalinan lama (OR : 3,400; 95% CI : 1,027–11,257) dan terdapat hubungan his dengan kejadian persalinan lama (OR : 9,308; 95% CI : 1,778–48,723). Sebaiknya RSUD Arifin Achmad sebagai fasilitas kesehatan terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dengan memberikan penanganan segera persalinan dengan komplikasi yang memerlukan tindakan segera sehingga dapat mengurangi Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Putus Berobat Pada Penderita TB Paru BTA Positif (+ ) di Wilayah Kerja Puskesmas Harapan Raya

    Get PDF
    Dropped out of medical treatment is patients who are not medical treatment 2 consecutive months or more before the treatment done.The drop out rate treatment at puskesmas hope raya estimated to reach 40 %. This report is written in may till june 2015 . This study attempts to see if the age , sex , there is no visit pmo and the visit to the health service a factor , factors that deals in a medical treatment by those with pulmonary tuberculosis smear +. The kind of research is aimed to quantitative control observational with the design cases where taken by means of sample counting down the number of cases and control based on the data tb 01 in sample the total sample 120 consisting of 60 sample cases and 60 sample control exercised raya puskesmas hope in the work area .A measuring instrument used is the data on tb 01 .Of the data analysis to assay bivariat chi-square by test. The result of chisquare test done which is the relation of breaking up of medical treatment by age obtained pvalue 0,011 ( or = 3.500 ) , the relation of breaking up of medical treatment to the sex obtained pvalue 0,180 ( or = 1,807 ) , the relation of dropping out of treatment with no pmo obtained pvalue 0,004 ( or = 3,778 relationship and breaking up of medical treatment with a visit to health services obtained pvalue 0,001 ( or = 6,057 ). As the conclusion of this research can be said that between the ages , pmo and a visit to the whereabouts of health services is breaking up of medical treatment and risk factors chi-square test results of the sexes is not a factor of the risk of dropping out of medical treatment in people with pulmonary tuberculosis smear +. Advice for health workers to better emphasize health center for patients with pulmunory TB productive age in order to carry out the treatment to its conclusion, heving a PMO, give impetus that motivated treatment of the self. Putus berobat adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Angka putus berobat di Puskesmas Harapan Raya diperkirakan mencapai 40%. Akibat putus berobat adalah pasien bisa kebal terhadap obat (MDR=Multi Drugs Resisten). Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2015. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah umur, jenis kelamin, tidak ada PMO dan kunjungan keyankes merupakan faktor –faktor yang berhubungan dengan putus berobat pada penderita TB Paru BTA +. Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif observasional dengan desain kasus kontrol dimana sampel diambil dengan cara menghitung mundur jumlah kasus dan kontrol berdasarkan data TB 01 dengan jumlah sampel 120 sampel terdiri dari 60 sampel kasus dan 60 sampel kontrol yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya. Alat ukur yang digunakan adalah Data TB 01. Analisis data untuk uji bivariat dengan uji chisquare. Hasil penelitian yaitu ada hubungan antara putus berobat dengan umur diperoleh Pvalue 0,011 (OR= 3,500), tidak ada hubungan putus berobat dengan jenis kelamin diperoleh Pvalue 0,180 (OR= 1,807), ada hubungan putus berobat dengan tidak ada PMO diperoleh Pvalue 0,004 (OR= 3,778) dan ada hubungan putus berobat dengan kunjungan keyankes diperoleh Pvalue 0,001 (OR= 6,057). Sebagai kesimpulan dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa antara umur, ada tidaknya PMO dan kunjungan keyankes merupakan faktor resiko putus berobat dan dari hasil uji chi-square jenis kelamin merupakan bukan faktor resiko terjadinya putus berobat pada penderita TB Paru BTA +. Saran bagi petugas kesehatan Puskesmas agar lebih menekankan bagi penderita TB Paru yang berusia produktif agar melakukan pengobatan hingga tuntas, memiliki PMO, memberi dorongan agar pengobatannya termotivasi dari diri sendir

    444

    full texts

    548

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Komunitas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇