Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Analisis Mutu Pelayanan Prolanis dan Kepuasan Peserta Klub Menggunakan Metode Importance Performance Analysis
Every year, the working area of Gunung Toar Community Health Center views an increase in the number of patients suffering from diabetes mellitus and hypertension. However not everyone with hypertension and diabetes mellitus received prolanis, and neither the Gunung Toar Community Health Center nor BPJS Health have evaluated the quality of prolanis services. The research's objective was to use the Importance Performance Analysis (IPA) method to assess participant satisfaction and the quality of services provided by the chronic disease management program. It is a mixed-methods research design. The study was carried out in May and June of 2022 in the working area of the Gunung Toar Community Health Center in Kuantan Singingi Regency. There were 533 individuals in the population. Importance Performance Analysis was used for both quantitative analysis, with a sample of 100 respondents, and qualitative analysis, with five informants conducted through in-depth interviews. Based on the study's findings, it was discovered that participant satisfaction was 96.51% overall, officer reliability was 92.68%, responsiveness was 97.45%, physical evidence was 99.50%, assurance was 98.18%, and empathy was 96.02%. More personnel in charge of prolanis in each club, a stronger prolanis team, increased cross-sectoral support, better management of accountability document archiving, and regular, quarterly, and annual evaluations of prolanis operations are still required.Jumlah penderita hipertensi dan diabetes mellitus meningkat setiap tahunnya di wilayah kerja Puskemas Gunung Toar. Namun belum semua penderita hipertensi dan diabetes mellitus mengikuti prolanis, serta belum pernah dilakukan evaluasi tentang mutu pelayanan prolanis oleh Puskesmas Gunung Toar maupun BPJS Kesehatan. Tujuan penelitian untuk menganalisis mutu pelayanan program pengelolaan penyakit kronis, dan kepuasan peserta menggunakan metode Importance Performance Analysis. Jenis penelitian adalah mixed methods. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi pada bulan Mei-Juni 2022. Jumlah populasi 533 orang. Analisis kuantitatif dengan sampel 100 responden menggunakan metode Importance Performance Analysis dan analisis kualitatif dengan 5 informan melalui wawancara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kehandalan petugas sebesar 92,68%, ketanggapan 97,45%, bukti fisik 99,50%, jaminan 98,18%, empati 96,02% dan kepuasan peserta prolanis secara keseluruhan yaitu 96,51%. Masih diperlukan penambahan penanggung jawab prolanis di masing-masing klub, memperkuat tim prolanis, memperkuat dukungan lintas sektoral, meningkatkan pengelolaan pengarsipan dokumen pertanggungjawaban, dan perlu evaluasi kegiatan prolanis setiap bulan, triwulan, dan tahunan
Hubungan Self Efficacy dengan Self Care Management Hipertensi pada Lansia di UPT PSTW Jember
Introduction: The increase in the number of cases of hypertension in the elderly is caused by the inability of the elderly to carry out self-care management of hypertension properly. This is influenced by the self-efficacy of the elderly to carry out self-care properly so that it can reduce the occurrence of complications of hypertension. Objective: to determine the relationship between self-efficacy and self-care management of hypertension in the elderly. Methods: This study used a correlational analytic design with a cross-sectional approach. Overall, the sample used was 35 hypertensive elderly at UPT PSTW Jember through a consecutive sampling technique. Data were analyzed using the Spearman-Rho test. Results: the study shows that the self-efficacy of the elderly has a mean value of 25 which can be interpreted as being in the moderate category. The majority of the elderly have hypertension self-care management in the moderate category (74%), good category (23%), and low category (3%). This study shows that there is a significant relationship between self-efficacy and self-care management of hypertension with a value of p = 0.001 <0.005 and a correlation coefficient with a positive value of 0.549. Conclusion: there is a significant relationship between self-efficacy and self-care management of hypertension in the elderly at UPT PSTW Jember, where the higher the self-efficacy of the elderly, the higher the self-care management of hypertension in the elderly. In this case, it is very important to increase the self-efficacy of the elderly at UPT PSTW Jember so that they have better self-care management.Pendahuluan: Peningkatan jumah kasus hipertensi pada lansia disebabkan karena lansia tidak mampu dalam melakukan self-care management hipertensi dengan baik. Hal ini dipengaruhi oleh self-efficacy yang dimiliki lansia untuk melakukan perawatan diri dengan baik, sehingga dapat menurunkan terjadinya komplikasi hipertensi. Tujuan: mengetahui hubungan self-efficacy dengan self-care management hipertensi pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Secara keseluruhan, sampel yang digunakan sebanyak 35 lansia hipertensi di UPT PSTW Jember melalui teknik consecitive sampling. Data dianalisis menggunakan uji spearman-rho. Hasil: penelitian menunjukkan self-efficacy lansia memiliki nilai tengah 25 yang dapat diinterpretasikan dalam kategori sedang. Mayoritas lansia memiliki self-care management hipertensi dalam kategori sedang (74%), kategori baik (23%), dan kategori rendah (3%). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yng signifikan anatara self-efficacy dengan self-care management hipertensi dengan nilai p=0,001<0,005 dan koefisien korelasi dengan nilai positif yaitu 0,549. Simpulan: adanya hubungan signifikan antara self efficacy dengan self care management hipertensi pada lansia di UPT PSTW Jember, dimana semakin tinggi self efficacy lansia maka akan semakin tinggi self care management hipertensi pada lansia. Dalam hal ini sangat penting untuk meningkatkan self-efficacy lansia di UPT PSTW Jember agar memiliki self-care management yang lebih baik
Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan
Workload arises from the interaction between task demands, the work environment, skills, behavior, and workers' perceptions. It is one of the factors that can lead to fatigue. Nurse work fatigue is a symptom characterized by a decrease in work efficiency, and skills, and an increase in boredom among nurses. This research aims to determine the relationship between workload and work fatigue among nurses working in the Inpatient Unit of Malahayati Islamic Hospital in Medan. The method was a quantitative study using an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study involved 71 respondents, who were all nurses working in the inpatient unit at Malahayati Islamic Hospital. The sampling method used was total sampling. The instruments included a workload questionnaire developed by Nursalam, consisting of 13 questions, and a work fatigue questionnaire, which measured feelings of work fatigue with 17 questions. The two variables were analyzed using the Chi-Square test. Results: The study found that 47 respondents (66%) had a heavy workload. Most respondents experienced high levels of work fatigue, with 41 people (58%) falling into the "tired" category. The results indicate a significant relationship between workload and work fatigue among nurses (p-value = 0.017). A high workload leads to increased work fatigue, which can result in suboptimal patient care and compromise patient safety. These findings can serve as a benchmark and provide a basis for developing educational materials on workload and work fatigue, along with other factors that may influence nurses' workload.Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara tuntutan tugas, lingkungan kerja, keterampilan, perilaku dan persepsi dari pekerja. Beban kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mengakibatkan kelelahan. Kelelahan kerja perawat merupakan gejala yang berhubungan dengan penurunan efesiensi kerja, keterampilan, serta kebosanan pada perawat. Tujuan: penelitian Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat pelaksana di Instalasi Rawat Inap rumah sakit islam malahayati medan. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan 71 Responden, Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat di instalasi rawat inap rumah sakit islam malahayati medan. Cara pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen yang dipergunakan adalah kuesioner beban kerja dari nursalam dengan 13 pertanyaan dan kuesioner kelelahan kerja dari alat ukur perasaan kelelahan kerja denagan 17 pertanyaan. Kedua variable tersebut dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil: beban kerja yang berat yaitu sebanyak 47 orang (66%). Sebagian besar responden mengalami kelelahan kerja tinggi dengan kategori lelah yaitu sebanyak 41 orang (58%). Pembahasan: Dari hasil penelitian yang didapatkan adanya hubungan secara signifikan beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat (p-value=0,017). Beban kerja perawat yang tinggi akan menyebabkan kelelahan kerja perawat. Kelelahan kerja akan berdampak pada pelayanan kepada pasien tidak optimal sehingga berisiko terhadap keselamatan pasien. Hasil penelitian dapat menjadi tolak ukur serta pertimbangan untuk dikembangkannya materi pembelajaran tentang beban kerja terhadap kelelahan kerja beserta faktor-faktor lainnya yang akan memengaruhi beban kerja perawat
Pengalaman Anggota Keluarga Mendampingi Lansia Penderita Covid-19 Saat Isolasi di RSU Sembiring Deli Tua
Elderly individuals are the most vulnerable group affected by Covid-19. Anxiety among the elderly regarding Covid-19 is an important mental health factor that needs to be addressed. There are obstacles to meeting the basic needs of the elderly, so they require family assistance. The experience of families in caring for elderly individuals exposed to Covid-19 is very useful for obtaining information related to their care. The purpose of this study is to gain in-depth information about the experiences of family members when accompanying elderly individuals exposed to Covid-19 during isolation in hospitals. This research is qualitative, with a phenomenological approach. Participants consisted of 11 family members selected through purposive sampling, and in-depth interviews were conducted for data collection using five open-ended questions recorded via audio. Data analysis employed content analysis. The findings revealed seven themes: 1) Knowledge of caregivers about the purpose of assisting elderly Covid-19 patients during hospital isolation, 2) Family feelings when their parent is diagnosed with Covid-19, 3) The condition of the elderly after being diagnosed with Covid-19, 4) Activities of caregivers while accompanying elderly Covid-19 patients, 5) Moments when nurses motivate elderly patients with Covid-19, 6) Challenges faced by caregivers during the isolation of the elderly in hospitals, 7) Expectations for caregivers to assist elderly Covid-19 patients during hospital isolation. It is crucial to explore the experiences of families in supporting elderly Covid-19 patients during hospital isolation to provide psychological comfort, which can accelerate their recovery. The presence of family support for elderly Covid-19 patients not only alleviates anxiety and fear but also fosters hope and motivation when they learn of their positive Covid-19 status, especially if they have underlying health conditions. Positive and impactful activities by family members during isolation include continuous communication with the elderly, providing motivation for their recovery, monitoring their nutritional intake, praying, watching shows together, and communicating through phone calls or video calls with other family members at home.Lansia merupakan kelompok yang paling rentan terkena penyakit Covid-19. Kecemasan pada lansia dengan Covid-19 merupakan faktor kesehatan mental yang penting untuk diatasi. Terdapat kendala dalam pemenuhan kebutuhan dasar lansia sehingga lansia memerlukan bantuan keluarga. Pengalaman keluarga dalam mendampingi lansia terpapar Covid-19 sangat berguna untuk memperoleh informasi terkait perawatan. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang pengalaman anggota keluarga ketika mendampingi lansia terpapar Covid-19 selama isolasi di rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan fenomenologis. Partisipan terdiri dari 11 anggota keluarga dengan cara purposive sampling, dilakukan wawancara mendalam untuk data yang terdiri dari 5 pernyataan terbuka dengan menggunakan rekaman suara. Analisis data menggunakan analisis isi. Temuan hasil penelitian ini adalah terdapat 7 tema: 1) Pengetahuan pendamping mengenai tujuan pendampingan lansia penderita Covid-19 selama isolasi di RS, 2) Perasaan kekeluargaan saat orang tuanya dinyatakan Covid-19, 3) Kondisi lansia setelahnya dinyatakan Covid-19, 4) Aktivitas pendamping saat mendampingi lansia yang mengidap Covid-19, 5) Saat perawat memberikan motivasi kepada lansia yang mengidap Covid-19, 6) Kendala Pendamping Saat Mendampingi Isolasi Lansia di Rumah Sakit, 7) Harapan terhadap Pendamping Agar Mendampingi Lansia penderita Covid-19 Selama Isolasi di Rumah Sakit. Pentingnya menggali pengalaman keluarga dalam mendampingi lansia penderita Covid-19 selama isolasi di rumah sakit untuk memberikan rasa tenang khususnya psikologi sehingga mempercepat kesembuhan lansia. Dengan hadirnya pendampingan dari pihak keluarga lansia penderita Covid-19 selain memiliki rasa tenang dan hilangnya rasa ketakutan semakin menurun, timbulnya harapan atau semangat kembali, ketika diketahui terkena postif Covid-19 dan jika disertai adanya penyakit penyerta. Kegiatan dari anggota keluarga dalam mendampingi selama isolasi yang sangat positif dan berdampak yaitu berkomunikasi terus menerus dengan lansia, memberikan motivasi kepada lansia agar semangat dalam masa pemulihan, memperhatikan asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi lansia, berdoa, menonton dan bahkan berkomunikasi melalui telepon atau video call dengan anggota keluarga di rumah lainnya
Hubungan Beban Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Petugas Pengangkut Sampah di Kecamatan Medan Selayang
Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan tulang, sendi, otot, tendon, ligamen, dan saraf, mulai dari keluhan yang ringan sampai dengan keluhan yang berat. MSDs secara umum terjadi akibat berbagai faktor seperti aktivitas fisik yang berlebihan, gerakan yang berulang-ulang, postur tubuh yang tidak tepat, ketidakseimbangan antara aktivitas fisik dan istirahat, serta kondisi ergonomi yang kurang baik. Beban kerja yang dialami oleh pekerja haruslah sesuai dan seimbang dengan kemampuan fisik, kemampuan kognitif, dan keterbatasan yang dimilikinya. Beban kerja sangat mempengaruhi produktivitas dan efisiensi kerja, serta merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan keluhan musculoskeletal disorder pada petugas pemulung di Kecamatan Medan Selayang. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak 45 petugas pemulung di Kecamatan Medan Selayang. Instrumen penelitian menggunakan metode Cardiovascular Load (CVL) untuk mengukur beban kerja, sedangkan keluhan musculoskeletal disorder dinilai dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 (60,0%) petugas pemulung mengalami kelelahan dan memerlukan perbaikan kerja segera akibat keluhan MSD. Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan keluhan musculoskeletal disorder dengan nilai p sebesar 0,001 pada petugas pemulung di Kecamatan Medan Selayang.Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau gangguan pada sistem musculoskeletal adalah masalah kesehatan yang berhubungan dengan tulang, sendi, otot, tendon, ligamen dan saraf yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang ringan hingga keluhan yang sangat berat. MSDs pada umumnya terjadi akibat berbagai faktor seperti aktivitas fisik yang berlebih, gerakan berulang, postur yang salah, keseimbangan antara aktivitas fisik dan istirahat serta faktor ergonomi yang buruk. Beban kerja yang diterima pekerja harus sesuai dan seimbang dengan kemampuan fisik, kemampuan kognitif dan keterbatasan pekerja yang menerima beban tersebut. Beban kerja merupakan beban yang dialami oleh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaan yang dilakukannya. Beban kerja sangat berpengaruh terhadap produktifitas dan efisiensi tenaga kerja, beban kerja juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keselamatan dan kesehatan para pekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan keluhan gangguan muskuloskeletal pada petugas pengangkut sampah di Kecamatan Medan Selayang. Penelitian ini menggunakan desain studi crossectional dengan sampel 45 orang petugas pengangkut sampah di Kecamatan Medan Selayang. Instrumen penelitian ini menggunakan metode Cardiovaskular Load (CVL) untuk mengukur beban kerja, sedangkan pada keluhan gangguan muskuloskeletal menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebanyak 27 (60,0%) petugas pengangkut sampah yang terjadi kelelahan dan diperlukan adanya perbaikan kerja dalam waktu singkat dengan keluhan MSDs. Terdapat hubungan yang signifikan dengan p-value 0,001 antara beban kerja dengan keluhan gangguan muskuloskeletal pada petugas pengangkut sampah di Kecamatan Medan Selayang
Faktor Determinan Kasus TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Pamarican Kabupaten Ciamis
In 2021, the Pamarican Health Center had the second-highest cases of pulmonary TB in the Ciamis Regency. This study aimed to analyze the determinant factors of the incidence of pulmonary TB in the working area of the Pamarican Health Center. This study used a case-control design. The case population was all patients at the Pamarican Health Center from 2021 to July 2022 who had confirmed smear pulmonary TB (+) and residing in the working area of the Pamarican Health Center, namely 34 people. Meanwhile, the control group consisted of all patients at the Pamarican Health Center from 2021 to July 2022 who tested negative for pulmonary TB, namely 416 people. Selection of case samples using total sampling, while control samples using purposive sampling. The comparison of cases and controls is 1: 2 so the sample size of cases and controls was 34: 68. Data was collected through interviews using a questionnaire, observation using observation sheets, and direct measurements using a roll meter. Data analysis used univariate analysis, the bivariate analysis used chi-square and Fisher's exact tests, and multivariate analysis used multiple logistic regression. The results of the bivariate analysis showed that 2 variables were proven to have a significant relationship with the incidence of pulmonary TB, namely marital status (p = 0.038; OR = 2.774, 95% CI: 1.038-7.414), comorbid diseases (p = 0.006; OR = 6.667; 95% CI: 1.640 – 27.107). Based on the results of multivariate analysis, it was known that there was one variable that was most related to the incidence of pulmonary TB, namely the comorbid disease variable, with an OR of 5.302 (95% CI: 1.215 – 23.146). Based on the research results, it was suggested to the American Health Center to continue to monitor and control comorbid diseases, namely DM, which is a risk factor for TB transmissionPada tahun 2021, Puskesmas Pamarican memiliki kasus TB paru tertinggi kedua di Kabupaten Ciamis. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor determinan kasus TB paru di wilayah kerja Puskesmas Pamarican. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi kasus adalah semua pasien di Puskesmas Pamarican tahun 2021 hingga Juli tahun 2022 yang terkonfirmasi TB paru BTA (+) dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Pamarican yaitu 34 orang. Sedangkan kelompok kontrol adalah semua pasien di Puskesmas Pamarican tahun 2021 hingga Juli tahun 2022 yang dinyatakan negatif TB paru yaitu 416 orang. Sampel kasus ditentukan dengan teknik total sampling. Sedangkan, sampel kontrol ditentukan dengan teknik purposive sampling. 1 kasus berbanding dengan 2 kontrol sehingga besar sampel kasus sebanyak 34 orang dan sampel kontrol sebanyak 68 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, observasi menggunakan lembar observasi serta pengukuran langsung menggunakan rollmeter. Data dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji chi square dan fisher exact, serta multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan 2 variabel yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian TB paru yaitu status perkawinan (p = 0,038; OR = 2,774, 95% CI: 1,038-7,414), penyakit komorbid (p = 0,006; OR = 6,667; 95% CI: 1,640 – 27,107). Analisis multivariat menunjukkan hasil yaitu penyakit komorbid menjadi variabel yang paling berhubungan dengan TB paru, dimana OR sebesar 5,302 (95% CI: 1,215 – 23,146). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada Dinas Kesehatan/Puskesmas Pamarican untuk terus melakukan pemantauan dan pengendalian penyakit komorbid yaitu DM yang menjadi faktor risiko penularan TB
Determinan Kelelahan Kerja pada Perawat Ruang Rawat Inap di Rumah Sakit X Pekanbaru
Nurses are at high risk on fatigue during working. This fatigue effect can be a danger to patient safety and affect the quality of hospital service. A short survey showed some nurses complained of fatigue symptoms such as decreased concentration, yawning, headache, and fatigue throughout the body. This study aims to analyze the work fatigue of nurses in X Hospital Pekanbaru by analyzing the relationship between working period, lighting, nutritional status, and work shifts as well as the dominant factors that affect work fatigue. This study was quantitative analytic with a cross-sectional design. The sample of this study was 60 people (total sampling). Data analysis using chi-square and logistic regression. The results of this study found that affecting the work fatigue of nurses in X Hospital Pekanbaru was lighting and nutritional status. The dominant factor that influences the work fatigue of nurses is lighting. The hospital is recommended to improve the quality of lighting in the workplace, especially inpatient rooms, with efforts to provide adequate lighting by PERMENKES standard No. 7 in 2019 which is equal to 250 lux.Perawat memiliki resiko kelelahan kerja cukup tinggi. Efek kelelahan ini sangat membahayakan kesehatan pasien dan mempengaruhi kualitas pelayanan di rumah sakit. Gejala kelelahan yang sering dikeluhkan perawat seperti penurunan konsentrasi, sering menguap, dan lelah seluruh badan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kelelahan kerja perawat di RS X Pekanbaru dengan menganalisis hubungan masa kerja, penerangan, status gizi dan shift kerja serta faktor dominan yang mempengaruhi kelelahan kerja. Jenis penelitian ini kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini 60 orang (total sampling). Analisis data menggunakan chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa variabel yang mempengaruhi kelelahan kerja perawat RS X Pekanbaru adalah penerangan dan status gizi perawat. Faktor dominan yang mempengaruhi kelelahan kerja perawat adalah penerangan. Kepada pihak Rumah Sakit untuk meningkatkan kualitas pencahayaan di tempat kerja khususnya ruang rawat inap dengan diupayakan memberikan penerangan yang memadai sesuai dengan standar PERMENKES No. 7 Tahun 2019 yaitu sebesar 250 lux.
Tingkat Kepuasan terhadap Konseling Apoteker tentang Penyakit Degeneratif di Lapangan Sempur, Kota Bogor
The number of individuals experiencing degenerative diseases is increasing from year to year, making it a burden on the government. Currently, counseling by pharmacists is very rarely carried out so the role of pharmacists is not optimal for prevention and early identification of degenerative diseases. This research aims to determine the level of community satisfaction with pharmacist counseling in Sempur Field, Bogor. Research method using cross-sectional. The sample amounted to 100 respondents, taken using an accidental sampling technique. Data was collected through a questionnaire from September to November 2023. Counseling satisfaction is measured using a Likert scale, namely sequentially from the first question item to the ninth. Analyzed descriptively observationally in the form of frequencies and percentages. The results of this research obtained the characteristics of respondents, age, gender, education, occupation, and ethnicity, aged 17 - 25 and 45 - 55 years 38%, 49%, 74% women, 51% high school were housewives and Sundanese of respondents' knowledge degenerative disease were 57% poor, and 43% good and the results obtained from the level of satisfaction with counseling carried out by pharmacists showed that the level of patient satisfaction reached 88.75%, falling into the high satisfaction category. Aspects assessed include the way the pharmacist discusses and conveys information, the pharmacist's questions regarding the history of degenerative diseases, confidentiality, the respondent's knowledge, Response from the pharmacist, the language used, duration of counseling time, the way the pharmacist interacts, and the information conveyed by the pharmacist.
Jumlah individu yang mengalami penyakit degeneratif setiap tahunnya semakin meningkat, sehingga menjadi beban pemerintah. Saat ini, konseling oleh apoteker sangat jarang dilakukan sehingga peran apoteker belum optimal untuk preventif dan identifikasi dini penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan adalah mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terhadap konseling yang diberikan oleh apoteker di Lapangan Sempur, Bogor. Metode penelitian ini diambil secara cross sectional. Sampel diambil sebanyak 100 responden, menggunakan teknik accidental sampling. Data diambil dari kuesiner terstruktur dari bulan September-November 2023. Kepuasan konseling di ukur dengan skala likert yaitu berturut-turut dari item pertanyaan pertama sampai ke sembilan. Data dianalisis secara deskriptif observasional dalam bentuk nilai frekuensi dan nilai persentase. Hasil penelitian ini diperoleh karakteristik responden usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan suku. Usia 17 – 25 dan 45 – 55 tahun yaitu 38 % ,49%,74% wanita,51% SLTA merupakan IRT dan suku sunda. Dari segi pengetahuan responden terkait penyakit degeneratif adalah 57% kurang, dan 43 % baik, kemudian diperoleh hasil tingkat kepuasan konseling yang dilakukan apoteker menunjukkan tingkat kepuasan pasien mencapai 88,75%, masuk dalam kategori kepuasan tinggi. Aspek yang dinilai meliputi cara diskusi dan cara penyampaian informasi apoteker, pertanyaan apoteker terkait riwayat penyakit degeneratif, menjaga privasi , pengetahuan responden, respon apoteker, bahasa yang dipakai, waktu konseling, cara apoteker berinteraksi, dan informasi yang disampaikan oleh apoteker
Analisis Persepsi Masyarakat tentang Air Bersih dan Kualitas Air di Desa Ibul Besar III
Various human activities in the surrounding area cause surface and groundwater pollution. The people of Ibul Besar III village face difficulties in accessing proper sanitation facilities as they still use river water as their main source of clean water. The quality of the local river water appears to be murky and does not meet the BML, thus posing the risk of causing disease problems such as diarrhea, skin infections, etc. This research aims to analyze the quality of clean water and the community's perception of clean water in Ibul Besar III village. The research design uses a qualitative approach through in-depth interview methods. The informants are identified through purposive sampling, namely up to 8 people. The results show that people's perception is that they use river water as their main source of clean water because there are no other sources that can be used. The local people say that the river water is only suitable for bathing and washing. Some communities try to treat the water before using it by adding chlorine and sedimentation. Based on the results of water quality tests, temperature parameters, odour, TDS, e.coli and total coliform meet BML standards, while pH, color, and turbidity do not meet BML standards. It is necessary to provide facilities and infrastructure to support the availability and treatment efforts such as simple water filtration media from the village government to obtain clean water that meets the specified BML standards.Pencemaran air permukaan maupun air tanah di akibatkan oleh berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Masyarakat Desa Ibul Besar III mengalami kesulitan akses sanitasi layak karena masih menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih utama. Kondisi air sungai setempat dari segi kualitas tampak keruh dan tidak memenuhi Baku Mutu Lingkungan (BML), sehingga berisiko menimbulkan gangguan penyakit seperti diare, infeksi kulit, dsb. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi masyarakat tentang air bersih dan kualitas air bersih di Desa Ibul Besar III. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode wawancara mendalam. Penentuan informan dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu sebanyak 8 orang. Hasil menunjukkan bahwa persepsi masyarakat menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih utamanya karena tidak ada sumber lain yang dapat digunakan. Masyarakat setempat menyebutkan air sungai hanya layak digunakan untuk mandi dan mencuci. Upaya pengolahan air bersih yang dilakukan beberapa masyarakat sebelum menggunakan air sungai dengan menambahkan kaporit dan upaya pengendapan. Berdasarkan hasil uji kualitas air, parameter suhu, bau, TDS, e.coli dan total coliform memenuhi standar BML, sedangkan pH, warna, dan kekeruhan tidak memenuhi standar BML. Diperlukan penyediaan sarana dan prasarana penunjang ketersediaan dan upaya pengolahan seperti media filtrasi air sederhana dari pemerintah desa guna memperoleh air bersih memenuhi standar BML yang ditetapkan
Pencegahan Penyakit Perilaku Menyimpang Anak Usia Remaja dengan Penerapan Komunikasi dalam Keluarga
Background; Deviate behavior is very vulnerable and is often encountered among teenage children. Of course, this is the impact of the imperfect communication and socialization process between teenage children and their closest family environment such as parents. This can only be overcome if the family functions are running well. The purpose of writing this article is to survey several writings related to family communication on behavioral deviations in teenage children, Methodology: Conduct a review of 25 articles selected according to keywords, then the sample in this writing is 15 articles of which 10 are international articles and 5 national articles with quantitative and qualitative research types, Results: From the 15 articles read, the results that cause deviant behavior in children and adolescents are: 1. Lack of communication between teenage children with parents, where parents are the most important and highly expected people in the family to be able to direct and guide a child to face his or her life. 2. The school environment also supports character building, because ≥ 8 hours the child is at school with the teacher as a parent and a trusted person in the school environment. 3. The peer environment that has a great influence invites positive and negative directions. 4. The need for religious education and proper religious understanding to avoid this deviant behavior Conclusion: A holistic, religious, and collaborative approach between teenage children and parents can play a significant role in preventing and overcoming deviant behavior in teenage children.Latar belakang: Perilaku menyimpang sangat rentan dan sering sekali dijumpai pada kalangan anak dan remaja, tentunya ini dampak dari proses komunikasi dan sosialisasi yang tidak sempurna antara anak dan remaja dengan lingkungan keluarga terdekatnya seperti orang tua. Hal ini hanya dapat ditanggulangi apabila fungsi keluarga berjalan dengan baik. Tujuan penulisan artikel ini adalah mereveiw beberapa tulisan yang berhubungan dengan komunikasi keluarga terhadap penyimpangan perilaku pada anak dan remaja, Metodelogi: Melakukan review terhadap 25 artikel yang diseleksi sesuai kata kunci, dari 25 artikel, hanya 15 yang menjadi sampel, 10 artikel internasional dan 5 artikel nasional dengan jenis penelitian kuantitatif maupun kualitatif, Hasil: Dari 15 artikel yang dibaca dapat disimpulkan bahwa yang menyebabkan terjadinya perilaku yang menyimpang pada anak dan remaja adalah: 1. Kurangnya komunikasi anak dan remaja dengan orang tua, yang mana sejatinya orang tua adalah orang yang yang paling utama dan sangat diharapkan dalam keluarga untuk dapat mengarahkan dan membimbing seorang anak untuk menghadapi kehidupannya. 2. Lingkungan sekolah juga menunjang dalam pembetukan karakter, karena ≥ 8 jam anak berada disekolah bersama guru sebagai orang tua dan orang yang dipercaya di lingkungan sekolah. 3. Lingkungan teman sebaya yang berpengaruh besar mengajak kearah positif maupun negatif. 4. Perlunya pendidikan agama dan pemahaman agama yang tepat agar terhindar dari perilaku menyimpang ini. Kesimpulan: Pendekatan yang holistik, agama dan kolaboratif antara anak dan remaja dengan orang tua dapat memainkan peran yang signifikan dalam mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang pada anak dan remaja