Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
analisis Analisis Manajemen Pemeliharaan Alat Kesehatan Di Rumah Sakit X
The implementation of public health which carried out in hospitals is determined by the provision of health care facilies, especially medical devices. To maintenance the properimplementation it needs to be supported by the amount of human resources, costs, infrastructure, Standard Operating Procedures for maintenance of medical devices and using MFK 8 as a guide. The problem found in this study is in case of carrying out the maintenance of medical devices not using the hospital accreditation standard. The purpose of this study is to know the management of medical device in hospital X. This research was a qualitative method. This research was conducted in August-September 2018. The informant in this study were 6 people who were taken based on the principle of sufficiency. Data processing used Triangulation. Data analysis used content analysis. The results showed that the maintenance of medical devices had not optimally due to lack of human resources and also constrained bycosts so that it had an impact on the availability of infrastructure in the hospital and the incomplete Standard Opertiang Procedures for medical devices. There was no inventory list and risk identification. There was not found evidence of medical equipment regularly checking. Should be doing the test of the function of each medical devices when buy them. Already doing a preventive and calibration maintenance program. Do not have technicians (ATEM) to carry out maintenance of medical devices.
Keywords : ATEM, MFK 8, ResourcesPenyelenggaraan kesehatan kepada masyarakat yang dilaksanakan di rumah sakit sangat ditentukan oleh penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan terutama alat kesehatan. Agar pemeliharaan dapat terselenggara dengan baik maka perlu didukung oleh jumlah SDM, biaya, sarana prasarana, SPO pemeliharaan alat kesehatan dan menggunakan MFK 8 sebagai pedoman. Masalah yang ditemukan dalam penelitian ini adalah dalam melakukan pemeliharaan alat kesehatan belum menggunakan standar akreditasi rumah sakit. Tujuan penelitian ini yaitu diketahuinya manajemen pemeliharaan alat kesehatan di rumah sakit X. Penelitian ini merupakan metode kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2018. Informan dalam penelitian ini adalah 6 orang yang diambil berdasarkan prinsip kecukupan. Pengolahan data menggunakan Triangulasi. Analisis data dengan menggunakan analisa isi (Content analysis). Hasil penelitian menunjukkan pemeliharaan alat kesehatan belum berjalan dengan optimal, dikarenakan kurangnya sumber daya manusia dan juga terkendala dengan biaya sehingga berdampak kepada ketersediaan sarana prasarana di rumah sakit dan belum lengkapnya SPO untuk alat kesehatan. Belum adanya regulasi pengelolaan peralatan medis secara tertulis. Belum adanya daftar inventaris dan identifikasi resiko. Belum ditemukannya bukti peralatan medis diperiksa secara teratur. Sudah melakukan uji fungsi setiap alat kesehatan yang ingin dibeli. Sudah melakukan program pemeliharaan preventif dan kalibrasi. Belum mempunyai teknisi (ATEM) untuk melakukan pemeliharaan alat kesehatan
Status Imunisasi dan Keragaman Konsumsi Makanan Balita Terhadap Kejadian Stunting
Stunting begins when the fetus is still in the womb and will be seen when the baby is born. The prevalence of stunting will continue to increase until entering the age of 24-59 months. Some factors that influence the incident are immunization status and diversity of food consumption in infants. This study aims to analyze the relationship between immunization status and diversity of toddler food consumption against stunting. This type of research is observational analytic quantitative research with cross-sectional design. Subjects were mothers with children aged 24-59 months in the working area of ​​UPTD Puskesmas Sungai Apit, Siak, totaling 211 people using systematic random sampling. The results showed that there was a significant correlation between toddlers' immunization status and the incidence of stunting (p = 0.006; POR = 95%; CI = 1,357-4,958). Likewise with the diversity of toddler food consumption on the incidence of stunting (p = 0.002; POR = 95%; CI = 1,516-5,571) showed significant results. It was concluded that immunization status and diversity of food consumption contributed to the incidence of stunting in infants.
Keywords: Food consumption, immunization status, stunting, toddlerKejadian stunting dimulai semenjak janin masih dalam kandungan dan akan terlihat pada saat bayi dilahirkan. Prevalensi stunting akan terus meningkat hingga memasuki usia 24-59 bulan. Beberapa faktor yang memengaruhi kejadian tersebut adalah status imunisasi dan keragaman konsumsi makanan pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status imunisasi dan keragaman konsumsi makanan balita terhadap kejadian stunting. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki balita berusia 24–59 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sungai Apit, Siak yang berjumlah 211 orang dengan menggunakan systematic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang siginifikn antara status imunisasi balita dengan kejadian stunting (p = 0.006; POR = 95%; CI = 1.357-4,958). Begitu juga dengan keragaman konsumsi makanan balita terhadap kejadian stunting (p = 0.002; POR = 95%; CI = 1.516-5.571) menunjukkan hasil yang signifikan. Disimpulkan bahwa status imunisasi dan keragaman konsumsi makanan memberikan kontribusi terhadap kejadian stunting pada balita.
Kata kunci : Balita, konsumsi makanan, stunting, status imunisas
Hubungan Faktor Penyebab Tingkat Kelelahan pada Pekerja Tambang Pengolahan Mineral Tembaga dan Emas
Fatigue has a significant impact on the economy of a region. This is because it leads to absenteeism, decreased productivity, health costs, and accidents. It is something complex primarily caused by 2 factors, including work and non-work fatigue. The purpose of this study therefore is to determine the factors associated with the fatigue level in copper and gold ore processing workers. It uses a cross-sectional design with the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire to measure the fatigue level and The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) of 260 respondents working in the copper and gold ore processing firm. The results showed that 1 worker (0.4%) experienced severe fatigue, and 12 workers (4.6%) moderate, 243 (93.5%) mild fatigue, while only 4 (1.5%) were not affected. Additionally, there is a significant relationship between fatigue levels with sleep quality. In conclusion, poor sleep has the potential to increase fatigue. Companies therefore need to provide training related to the management of fatigue and sleep quality for workers.Kelelahan memiliki dampak yang besar terhadap perekonomian akibat absenteisme, produktivitas yang menurun, biaya kesehatan, kecelakaan, dan biaya lain yang berhubungan dengan kelelahan. Kelelahan merupakan kejadian yang kompleks karena disebabkan oleh banyak faktor. Faktor kelelahan dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu faktor kelelahan terkait pekerjaan dan faktor kelelahan tidak terkait pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kelelahan pada pekerja tambang pengolahan mineral tembaga dan emas. Faktor yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan dan faktor tidak terkait pekerjaan yang berhubungan dengan tingkat kelelahan. Desain studi cross-sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) untuk mengukur tingkat kelelahan dan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) pada 260 responden yang bekerja di divisi A. Hasil penelitian diketahui sebanyak satu pekerja (0,4%) mengalami kelelahan berat, 12 pekerja (4,6%) mengalami kelelahan menengah, 243 pekerja (93,5%) mengalami kelelahan ringan dan empat pekerja (1,5%) tidak mengalami kelelahan, selain itu terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kelelahan dengan kualitas tidur. Kesimpulannya, secara umum kelelahan dapat meningkat dengan memburuknya kualitas tidur pada pekerja. Saran bagi perusahaan yaitu memberikan training terkait manajemen kelelahan dan kebersihan tidur pada pekerja
DETERMINANTS OF DISEASE EVENTS IN WASTE TRANSPORT OFFICERS IN THE ENVIRONMENT AND FORESTRY OF KENDARI CITY
Background: Worm infections occurs in people who pay little attention to personal hygiene behavior, home sanitation and lack of knowledge about worms infection diseases.
Objective: This study aims to determine the related factors associated with worms infections incidences in garbage collector of the Environtmental and Forestry Department, Kendari.
Method: This research used analytic observational with cross sectional study design. Determination of the sample in this study used the total sampling approach. The sample in this study is 45 garbage collector. Data collection by used questionnaires and microscopic examinationt identifyti the presence of worm infections in garbage collectors. From the sample examination, we have known that 6 out of 45 respondent were infected by worms. The statistical test used was chi square at an alpha error level of 0.05.
Results: The worms infected the respondent are the Ascaris lumbricoides and the Trichuris trichiura species from the STH group.The result shows that there is correlation between personal protective device usage with the occurrence of worms infection (Ï = 0,012), there is correlation between hand washing habit with the occurrence of worms infection (Ï = 0,023), there is correlation between the bowel habits with the occurrence of worms infection (Ï = 0,023).
Conclussion: From this study, it can be concluded that there is a correlation between behavioral and home environment sanitation knowledge with the occurrence of worms infection incidences in garbage collectors of the Environmental and Forestry DepartmentLatar Belakang. Infeksi cacing terjadi pada orang yang kurang memperhatikan perilaku kebersihan diri, sanitasi lingkungan rumah dan kurangnya pengetahuan tentang kecacingan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada petugas pengangkut sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Kendari
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan Total sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 45 petugas pengangkut sampah. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan mikroskopis terhadap adanya infeksi cacing dari petugas pengangkut sampah. pada pemeriksaan sampel menunjukkan bahwa terdapat 6 responden dari 45 responden yang terinfeksi cacing. Uji statistic yang digunakan adalah chi square pada derajat kesalahan alfa 0,05.
Hasil. Cacing yang menginfeksi petugas pengangkut sampah adalah jenis cacing STH yaitu Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan adalah penggunaan alat pelindung diri (Ï = 0,012), kebiasaan cuci tangan (Ï = 0,023), dan kebiasaan buang air besar (Ï = 0,023).
Kesimpulan. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara perilaku dengan kejadian kecacingan pada petugas pengangkut sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Kendari
The Hubungan Lingkar Pinggang Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Tegal Gundil Kota Bogor: Relationship Of Waist Circumference And Hypercholesterolemia Incidence In Patient With Hypertension in Tegal Gundil Public Health Center at Bogor City
Hypertension and hypercholesterolemia are the causes of coronary heart disease (CHD) so that the presence of hypercholesterolemia in patients with hypertension will increase the risk of CHD. Central obesity describes the accumulation of fat in the stomach which can lead to abnormalities in the amount of lipids in the blood, when it occurs in patients with hypertension can lead to progression of the occurrence of high blood cholesterol and the risk of causing atherosclerosis and heart disease. The purpose of this study was to determine the relationship of waist circumference and other factors with the incidence of hypercholesterolemia in patients with hypertension. This research is a quantitative study through secondary data with Cross Sectional design. According to the results of multivariate tests with multiple logistic regression, there was a relationship between waist circumference, gender and age after being controlled by physical activity variables. Gender as a risk factor most associated with the incidence of hypercholesterolemia with a risk 8.5 times higher in women than men, then carried out waist circumference stratification test by sex in hypertensive patients with cases of central obesity found a significant relationship that women with central obesity have a risk of experiencing hypercholesterolemia as much as 5.5 times compared to central obesity in men with a value of p <0.05. There is a waist circumference relationship with the incidence of hypercholesterolemia in women who are central obesity more at risk of developing hypercholesterolemia than central obesity in men.
Keywords: Hypercholesterolemia, waist circumference, hypertensive patientsHipertensi dan hiperkolesterol merupakan penyebab terjadinya penyakit jantung koroner (PJK) sehingga adanya hiperkolesterol pada penderita hipertensi akan meningkatkan risiko terjadinya PJK. Obesitas sentral menggambarkan penumpukan lemak di perut yang dapat mengakibatkan adanya keabnormalan jumlah lipid dalam darah, ketika terjadi pada penderita hipertensi dapat menimbulkan progresifitas terjadinya kolesterol darah tinggi dan berisiko menyebabkan aterosklerosis dan penyakit jantung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dan faktor lainnya dengan kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi. Penelitian ini adalah studi kuantitaf melalui data sekunder dengan desain Cross Sectional. Menurut hasil uji multivariat dengan regresi logistik ganda menunjukan terdapat hubungan antara lingkar pinggang, jenis kelamin dan umur setelah dikontrol oleh variabel aktifitas fisik. Jenis kelamin sebagai faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia dengan risiko 8,5 kali lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki, kemudian dilakukan uji stratifikasi lingkar pinggang menurut jenis kelamin pada penderita hipertensi dengan kasus obesitas sentral didapatkan hubungan yang signifikan bahwa penderita obesitas sentral perempuan memiliki risiko mengalami hiperkolesterolemia sebanyak 5,5 kali dibandingkan obesitas sentral pada laki-laki dengan nilai p <0,05. Terdapat hubungan lingkar pinggang dengan kejadian hiperkolesterolemia pada wanita yang obesitas sental lebih berisiko mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan laki-laki yang obesitas sentral.
Kata kunci:
Hiperkolesterolemia, lingkar pinggang, penderita hipertens
Analysis of Medical Service Performances For BPJS's Patients And Non-BPJS's Patients At Surgery Room In District General Hospital : Analisis Kinerja Pelayanan Medis Pada Pasien BPJS Dan Non BPJS Di Ruang Operasi RSUD X
Background: According to Law No. 36 of 2009 on Health, that the government is responsible for the implementation of public health services through Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). The implementation of these policy lead highly medics’ turn over and declining medics’ performance at the surgery room, such as: postponed the surgery, reschedule the surgery, low patient’s informed concern, and medics’ disappointed for the amount of incentive. Methods: This researches use cross sectional design, conduct a preliminary research study to the 10 respondents, distributed the draft questionnaire to the 15 respondents for the first test of validity and reliability the questionnaire’s questions, distribute final questionnaire to respondents in the surgery room totaling 25 medics’ respondents, and then processing & analyzing data using multiple linear regression model. To strengthen that quantitative research method, this research also does qualitative method analyzing by interviewing 5 expertises as informant Results: The results of research, shows that there are six factors that should affect to the services performance for BPJS and Non BPJS patients, that are: age of medics, length of employment, motivation, competence, incentives, and time of incentive payments. Based on modeling factors (based on classic model) describes that all of those factors are simultaneously affecting to the service performance for both of BPJS and Non BPJS patients in significantly. Conclusion: The difference in the performance of doctors between BPJS and Non BPJS patients that occur is certainly not in accordance with the mandate of the Act No. 36 of 2009 concerning Health, where the principle of patient care must be based on equality and justice. In this context, hospital management needs to manage wiser and wiser regarding the services of medical personnel in this hospitalLatar belakang: Menurut Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dikatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Oleh karena itu pada tahun 2014, RSUD X memberlakukan penerimaan pasien BPJS sebagai bentuk realisasi dari program pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat tersebut. Namun setelah diterapkannya kebijakan tersebut, terjadi turn over dokter yang relatif tinggi dan kinerja dokter yang menurun di ruang operasi RSUD X, seperti : keterlambatan jam mulai operasi, penundaan jadwal operasi, informed concern rendah, dan keluhan dokter atas nilai insentif. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, melakukan studi pendahuluan pada 10 orang responden, membagikan draft kuesioner untuk menguji validitas dan reliabilitas pertanyaan kuesioner kepada 15 orang responden, membagikan kuesioner final kepada seluruh dokter di ruang operasi yang berjumlah 25 orang dokter sebagai responden penelitian, dan mengolah serta menganalisa data menggunakan model regresi linier berganda. Hasil: Adapun hasil penelitian, yang dilakukan selama bulan Juni 2016, menunjukkan bahwa terdapat 6 faktor yang seharusnya berpengaruh terhadap kinerja dokter baik untuk pasien BPJS maupun Non BPJS, yaitu umur dokter, lama kerja, motivasi, kompetensi, insentif, dan waktu pembayaran insentif. Hasil dari uji pemodelan faktor-faktor tersebut berdasarkan asumsi klasik memperlihatkan bahwa faktor-faktor tersebut secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja dokter baik pada pasien BPJS maupun Non BPJS. Namun uji faktor secara parsial, memperlihatkan bahwa hanya faktor umur, lama kerja, motivasi, insentif dan waktu pembayaran insentif yang berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja dokter pada pasien BPJS, sedangkan pada pasien Non BPJS, hanya faktor motivasi, insentif dan waktu pembayaran insentif yang berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja dokter. Adapun hasil uji beda memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja dokter antara pasien BPJS dan Non BPJS. Kesimpulan: Perbedaan kinerja dokter antara pasien BPJS dan Non BPJS yang terjadi ini tentunya tidak sesuai dengan amanah peraturan pada Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mana prinsip pelayanan pasien harus berasaskan kesamaan dan keadilan. Dalam konteks ini, manajemen RS perlu mengelola secara lebih arif dan bijaksana terkait pelayanan tenaga medis di RS ini
INDIKATOR KUALITAS PELAYANAN HOME CARE PADA PASIEN STROKE: SEBUAH REVIEW: Indikator kualitas pelayanan home care
Background: One method to identify the level of performance is using quality of care indicators. Even though many quality indicators of health care have been announced, those which specify in home care services are limited in that none of them describe the stroke patients’ condition. The purposes of this study are to determine through systematic literature review what methods can be used to assess the quality of home care that patients received and to identify what components can be used as a determinant of the quality of home care services.
Method: Google Scholar, EBSCO, ProQuest and PubMed database websites were searched for articles and information.
Results: The method that was used is a qualitative study using a literature review with quantitative analysis of a previously accepted research instrument with a questionnaire that has been widely available and considered reliable. The researchers identified thematic differentiation in grouping the quality indicators used by those articles, however most of them are classified as outcome indicators, one as process indicator, and none as structure or input indicator. Overall quality indicators in home care that are used by the three articles are based on the Home Care Quality Indicators Instrument (HCQIs).
Conclusions: Several studies discussed home care quality indicators but no articles specifically analyze home care provision for stroke patients. Further research is needed to clarify the components indicators for stroke patients and more importantly, these indicators should be valid, and reliable.Latar belakang: salah satu upaya untuk mengidentifikasi tingkat performance adalah dengan menggunakan indikator kualitas layanan. Meskipun banyak indikator kualitas layanan kesehatan yang terpublikasi, namun indikator yang mengkhususkan pada pelayanan di rumah masih sangat terbatas, dan belum ada yang menampilkan tentang kondisi layanan pasien stroke di rumah. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk mengkaji kualitas home care serta mengindentifikasi komponen-komponen yang dapat digunakan untuk menilai kualitas layanan home care melalui studi review literatur.
Metode: penelusuran artikel melalui database website Google Scholar, EBSCO, ProQuest dan PubMed
Hasil: metode untuk mengkaji kualitas layanan home care dengan studi kualitatif menggunakan review literatur dengan analisis kuantitatif, menggunakan instrumen kuesioner yang telah tersedia secara luas dan reliabel. Peneliti mengidentifikasi tema-tema yang berbeda dalam pengelompokan indikator kualitas , namun sebagian besar artikel mengklasifikasikan sebagai indikator outcome, hanya satu indikator sebagai indikator proses, dan tidak ada indikator yang masuk dalam indikator struktur atau input. Keseluruhan indikator kualitas home care yang digunakan oleh ketiga artikel merujuk kepada the Home Care Quality Indicators Instrument (HCQIs).
Kesimpulan: beberapa studi menyebutkan tentang indikator kualitas layanan kesehatan, namun tidak ada yang secara spesifik membahas tentang layanan pada pasien stroke. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk benar-benar mengidentifikasi komponen indikator pada pasien stroke, dan penting pula untuk memastikan bahwa indikator tersebut valid dan reliabel
Pengaruh musik suara alam terhadap tekanan darah
Hypertension is also called the silent killer because it does not cause symptoms, but if left untreated will become a serious health problem. Hypertension can be caused by various factors. This study aims to identify risk factors of hypertension in Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru. The design used in this study is a simple descriptive. The samples are 180 people with purposive sampling technique. Measuring instrument used is kesioner. The analysis used univariate analysis to determine the frequency distribution factor of hypertension that can not be changed and hypertension factors that can be changed. The results of the study of factors that can not be changed hypertension showed an average 40-year-old hypertensive patients, mostly female (51.1%), have descended hypertension (97.8%), from the tribe of Minang (40.6%) , Factors that can be changed hypertension showed smoking patients (37.2%), stressed (65%), obesity (22.8%) and had a history of diabetes (52%). From the results of the study are expected for health workers and families pay more attention to risk factors of hypertension and maximize treatment in cases of hypertensionHipertensi disebut juga sebagai silent killer karena tidak menimbulkan gejala-gejala tetapi jika tidak diobati akan menjadi masalah kesehatan yang serius. Hipertensi dacfaaaapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif sederhana. Sampel penelitian adalah 180 orang dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kesioner. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor hipertensi yang tidak dapat diubah dan faktor hipertensi yang dapat diubah. Hasil penelitian faktor hipertensi yang tidak dapat diubah menunjukkan rata-rata pasien hipertensi berusia 40 tahun, sebagian besar berjenis kelamin perempuan (51,1%), memiliki keturunan hipertensi (97,8%), berasal dari suku minang (40,6%). Faktor hipertensi yang dapat diubah menunjukkan pasien merokok (37,2%), mengalami stres (65%), obesitas (22,8%) dan memiliki riwayat DM (52%). Dari hasil penelitian diharapkan kepada tenaga kesehatan dan keluarga lebih memperhatikan faktor-faktor resiko hipertensi dan memaksimalkan perawatan pada kasus hipertens
Rutinitas Kunjungan Lansia ke Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru Tahun 2017: Rutinitas Kunjungan Lansia ke Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru Tahun 2017
ABSTRACT
Posyandu elderly is integrated service kanggo general public wis agreed, sing dikendakan dening ngendi people they can get health services. In Indonesia based on Health Facilities Research (Rifaskes) in 2011 the national kanthi percentage of pus nenwsh health center posyandu elderly yaiku 78.8%. The number of posyandu elderly in the city of Pekanbaru yaiku 92 posyandu elder saka 20 puskesmas sing ana ing Pekanbaru city. The purpose of this research is to know the factors related to routine visit of elderly to posyandu elderly that is knowledge factor, attitude, family support, role of health worker, role of cadre, work, education and age. The type of research used is quantitative analytic observasional. The research design used was analytic cross sectional study. The population is all elderly in working area of health center of sekas kota Pekanbaru with sample of 210 people. The results showed that low knowledge had 4 times more risk to not regularly visit to posyandu elderly. The results showed that low knowledge had 4 times more risk to not regularly visit to posyandu elderly. The conclusion in this research is there is a causal relationship between knowledge with routine visit of elderly to posyandu elderly. It is recommended that the elderly improve the knowledge of posyandu elderly and the benefits of visiting elderly parachute services and suggested to Payung Sekaki Health Center Pekanbaru to provide counseling and socialization about posyandu elderly to elderly people.
ABSTRAK
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat lanjut usia yang sudah disepakati, yang digerakan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.Di Indonesia berdasarkan Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) tahun 2011 secara nasional persentase puskesmas yang memiliki posyandu lansia adalah 78,8%. Sedangkan jumlah posyandu lansia di kota Pekanbaru yaitu 92 posyandu lansia dari 20 puskesmas yang ada di kota Pekanbaru. Penelitianbertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rutinitas kunjungan lansia ke posyandu lansia yaitu faktor pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, peran tenaga kesehatan, peran kader, pekerjaan, pendidikan dan umur.Jenis penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif analitik observasional.Desain penelitian yang digunakan adalah analytic cross sectional study. Populasi adalah seluruh lansia yang ada di wilayah kerja puskesmas payung sekaki kota pekanbaru dengan jumlah sampel 210 orang. Analisis data dilakukan secara univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda.Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan rendah berpengaruh 4 kali lebih beresiko untuk tidak rutin melakukan kunjungan ke posyandu lansia.Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan sebab akibat antara pengetahuan dengan rutinitas kunjungan lansia ke posyandu lansia. Direkomendasikan supaya lansia lebih meningkatkan pengetahuan tentang posyandu lansia serta manfaat melakukan kunjungan keposyandu lansia dan disarankan kepada Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru untuk memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang posyandu lansia kepada masyarakat lanjut usia
Hubungan Kualitas Pelayanan kepada Pasien Terhadap Minat Kunjungan Ulang di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Tahun 2017: Hubungan Kualitas Pelayanan kepada Pasien Terhadap Minat Kunjungan Ulang di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Tahun 2017
Community users of health services increasingly demand quality services. The better quality of the services provided, the more will increase the patient's interest to re-visit. The number data of patient visits in the outpatient installation in 2017 tended to decrease compared to 2016. From the data of the decrease in the number of outpatient visits, obtained from 3 polyclinics have decrease of patient visit, that is: polyclinic of internal medicine, child polyclinic and obstetric polyclinic. Whereas RSUD Mandau Sub-District, continues to strive to provide a good service for the interest of patient visit increases.
The purpose of this research is to know the relation of patient service quality and re-visit of outpatient installation at Regional Hospital, Mandau Sub-District, Bengkalis Regency, based on reliability, responsiveness, assurance, empathy and direct evidence.
The study is quantitative observational analytic with cross-sectional design analytic study (cross-sectional). The number of samples in this study are patients from 3 polyclinics of Mandau District General Hospital of Bengkalis Regency (polyclinic of internal medicine, child polyclinic and obstetric polyclinic) conducted in December 2017. The sample was taken by using hypothesis test-two proportion formula with 82 patients.
The result of multivariate analysis shown that the most influence variable of re-visit interest is emphaty (OR: 31,063) and reliability and responsiveness as confounding variable. Therefore required to improve quality of service, mostly on making patients feel safe and comfortable during medical treatment, by giving reward for employee who give best services Masyarakat pengguna pelayanan kesehatan semakin menuntut pelayanan yang berkualitas. Semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan, akan semakin meningkatkan minat pasien untuk melakukan kunjungan ulang. Data jumlah kunjungan pasien di instalasi rawat jalan pada tahun 2017 cenderung menurun dibandingkan tahun 2016. Dari data penurunan jumlah kunjungan pasien rawat jalan tersebut, didapatkan data 3 poliklinik yang mengalami penurunan kunjungan pasien paling banyak, yaitu: poliklinik penyakit dalam, anak dan kebidanan. Padahal RSUD Kecamatan Mandau terus berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang baik agar minat kunjungan pasien bertambah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan kepada pasien terhadap minat kunjungan ulang di instalasi rawat jalan RSUD Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis berdasarkan keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti langsung.
Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan jenis desain studi penampang analitik (crosssectional). Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien yang berobat di 3 poliklinik Rumah Sakit Umum Daerah Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis (poliklinik penyakit dalam, poliklinik anak dan poliklinik kebidanan) yang dilakukan pada bulan Desember 2017. Sampel diambil dengan menggunakan rumus uji hipotesis dua proporsi dengan jumlah 82 pasien.
Dari hasil analisis multivariat ternyata variable yang paling besar pengaruhnya terhadap minat kunjungan ulang adalah empati (OR: 31,063), dan keandalan dan daya tanggap sebagai variabel confounding. Untuk itu perlu meningkatkan kualitas pelayanan terutama dalam membuat pasien agar merasa aman dan nyaman selama mendapatkan tindakan, dengan cara memberikan reward kepada petugas yang berempati terhadap pelayanan terbaik