Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
    548 research outputs found

    Foot Massage Menurunkan Nyeri Post Operasi Sectio Caesarea Pada Post Partum

    No full text
    ABSTRACT Sectio Caesarea is an alternative action in the delivery process to save the mother and fetus. Mothers with section Caesarea surgery are performed surgically on the abdominal wall and uterine wall. The most frequent impact felt by the postpartum with postoperative cesarean section is pain. The pain will affect disturbed bounding attachments, limited mobilization, Activity Daily Living (ADL) will be disrupted and will affect the Early Breastfeeding Initiation (IMD). The care provided is limited to pharmacological therapy compared to non-pharmacology. Foot massage is one of the non-pharmacological therapies that can help close the gates in the posterior horns of the spinal cord and block parts of pain from the central nervous system. The purpose of this study was to determine the effect of foot massage on pain scales on postoperative Caesarea client in AMC Hospital. This research is pre-experimental research with one group pre-test and post-test design approach. The number of samples used amounted to 27 people using purposive sampling techniques. The instrument used was the Numeric Rating Scale (NRS) and foot massage work procedures. Respondents performed foot massage for 20 minutes for 2 days. Data were analyzed using a Wilcoxon test. The results showed that more than half of the clients post section Caesarea was on the pain scale 6 before foot massage and almost half had a pain scale 3 after foot massage and the p-value = 0.000 was obtained, so it was concluded there was an influence of foot massage on the pain scale on the client postoperative cesarean section. It is hoped that the hospital can  make foot massage an alternative non-pharmacological management for pain management   Keywords: Foot Massage; Post Partum; Pain; Caesarean SectioABSTRAK Sectio caesarea merupakan tindakan alternatif dalam proses persalinan untuk menyelamatkan ibu dan janin. Ibu Bersalin dengan operasi sectio caesarea dilakukan pembedahan pada dinding abdomen dan dinding rahim. Dampak yang paling sering muncul dirasakan oleh postpartum dengan post operasi sectio caesarea adalah  nyeri. Nyeri akan berdampak pada bounding attachment terganggu, mobilisasi terbatas, Activity Daily Living (ADL) terganggu serta berpengaruh  terhadap Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Asuhan yang diberikan terbatas pada terapi farmakologi dibandingkan  non farmakologi. Foot massage adalah salah satu terapi non farmakologi yang dapat membantu menutup gerbang di posterior horns dari sumsum tulang belakang dan memblokir bagian dari nyeri ke sistem saraf pusat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh foot massage terhadap skala nyeri pada klien post operasi sectio caesarea di RS AMC. Penelitian ini merupakan penelitian pre eksperimen dengan pendekatan one group pre test post test design. Jumlah sampel yang digunakan berjumlah 27 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS) dan prosedur kerja foot massage. Responden dilakukan foot massage selama 20 menit selama 2 hari. Data di analisis dengan menggunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah klien post operasi sectio caesarea berada di skala nyeri 6 sebelum dilakukan foot massage dan hampir setengah memiliki skala nyeri 3 sesudah dilakukan foot massage dan didapatkan nilai p value = 0.000, sehingga disimpulkan ada pengaruh foot massage terhadap skala nyeri pada klien post operasi sectio caesarea. Diharapkan rumah sakit dapat menjadikan foot massage sebagai salah satu alternatif manajemen non farmakologi dalam penanganan nyeri.   Kata kunci: Foot Massage; Post Partum; Nyeri; Sectio Caesarea     &nbsp

    Dampak Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Terhadap Gangguan Kesehatan Masyarakat

    Get PDF
    The presence of a garbage disposal in a region will certainly cause problems for the surrounding population, especially those settling with a distance of < 1 km. Based on government regulation No 18 year 2012 that the distance of settlement should be more than 1 km. If landfills are not managed properly, will certainly cause pollution of water quality, air pollution, soil pollution from piles of garbage piled up. This literature study aims to determine the health impact of communities living around landfill waste and risk factors that can increase health disorders of the community. The method used in this study is literature review. The collection of literature is conducted through http://garuda.ristekdikti.go.id and Google Scholar databases published in the period from 2015 to 2019. Health complaints found in the community around the TPA are skin diseases, diarrhea, respiratory disorders, chest pains, sore eyes, dry throat, hot throat, dizziness, coughs, worms and shortness of breath. There are factors that also cause public health disorders around TPA are environmental factors such as poor air quality that is affected by water pollution, air pollution, soil pollution that can cause disease arise due to the buildup and accumulation of garbage that causes the breeding of bacteria, vector diseases and viruses.   Keywords: Landfill, Health ProblemsKehadiran suatu tempat pembuangan akhir sampah (TPA) dalam suatu wilayah tentu akan menimbulkan masalah bagi penduduk sekitar, terutama yang menetap dengan jarak < 1 km. berdasarkan peraturan pemerintah No 18 tahun 2012 bahwa jarak pemukiman harus lebih dari 1 km. apabila tempat pembuangan akhir sampah tidak dikelola dengan baik, tentu akan menyebabkan pencemaran kualitas air, pencemaran udara, pencemaran tanah dari tumpukan sampah yang ditimbun. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui dampak kesehatan pada masyarakat yang tinggal disekitar tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan faktor resiko yang dapat meningkatkan gangguan kesehata masyarakat. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah literature review. Pengumpulan literatur dilakukan melalui database http://garuda.ristekdikti.go.id dan Google Scholar yang diterbitkan dalam kurun waktu tahun 2015 sampai dengan 2019. Ditemukan keluhan gangguan Kesehatan pada masyarakat sekitar TPA yaitu penyakit kulit, diare, gangguan pernapasan, nyeri dada, mata pedih, tenggorokan kering, tenggorokan panas, kepala pusing, batuk-batuk, cacingan dan sesak napas. Terdapat faktor yang juga menyebabkan gangguan Kesehatan masyarakat disekitar TPA adalah faktor lingkungan seperti buruknya kualitas udara yang dipengaruhi oleh pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah yang dapat menyebabkan penyakit muncul akibat adanya penumpukan dan penimbunan sampah yang menyebabkan perkembangbiakan bakteri, vector penyakit dan virus.   Kata Kunci: TPA Sampah , Gangguan Kesehata

    ANALISIS STAKEHOLDER DALAM PROGRAM GIZI PADA BALITA DI PUSKESMAS KAMPAR: Stakeholders Analysis in the Nutrition Program for Toddlers in Kampar Health Center

    No full text
    ABSTRACT The role of stakeholders in reducing the number of malnutrition is very influential in efforts to prevent the occurrence of nutritional problems in toddlers. Riau Province ranks 20th with the percentage of malnutrition as much as 4.20% and the percentage of malnutrition as much as 14%. Data from the Kampar District Health Office in 2018 found that Kampar Health Center occupies the highest number for malnutrition in children under five with a percentage of 1.6% or as many as 33 people. This study aims to obtain in-depth information about the role of stakeholders in the Nutrition Program for Toddlers in the Kampar Health Center in 2019. This study is qualitative in nature with the Rapid Assessment Procedure research design, namely in-depth direct interviews of the study sample. The number of samples in this study amounted to 10 people, of which 5 people as the main informant and 5 people as supporting informants. The results of the study found that stakeholders have exercised their power in accordance with their main duties, functions and roles, only that the workload has not been evenly distributed and there is still a lack of cooperation with development business partners. Conclusion power has been going well according to the main tasks, functions and roles, interests or interests in establishing cooperation with business development partners is not optimal, the position in setting the target to be achieved has gone well. It is recommended that the puskesmas be able to analyze the workload of employees, be able to do an analysis of the needs of Human Resources (HR) and establish cooperation with development business partners   Key word            : Stakeholders, Nutrition for Toddlers Program, Health Center  ABSTRAK Stakeholder sangat berpengaruh dalam upaya pencegahan terjadinya masalah gizi pada balita. Provinsi Riau menempati posisi ke 20 dengan persentase gizi buruk sebanyak 4,20% dan persentase gizi kurang sebanyak 14%. Data dinas kesehatan kabupaten kampar tahun 2018  didapatkan Puskesmas Kampar menempati angka tertinggi untuk masalah  gizi kurang pada balita dengan persentase 1,6% atau sebanyak 33 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang Stakeholder dalam Program Gizi pada Balita di Puskesmas Kampar Tahun 2019. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan desain penelitian Rapid Assesment Prosedur yaitu wawancara langsung secara mendalam terhadap sampel penelitian. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 orang, dimana 5 orang sebagai informan utama dan 5 orang sebagai informan pendukung. Hasil penelitian diperoleh bahwa stakeholder telah menjalankan kekuasaannya sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan perannya, hanya saja pembagian beban kerjanya yang belum merata serta masih kurangnya kerjasama dengan mitra usaha pembangunan. Kesimpulan penelitian ini adalah stakeholder telah menjalankan kekuasaan dengan baik namun kerjasama dengan mitra usaha pembangunan masih belum optimal serta kurangnya tenaga ahli gizi, minat atau kepentingan stakeholder adalah memprioritaskan program gizi balita tanpa ada kepentingan yang lain, seluruh stakeholder mempunyai posisi sebagai pendukung program, serta stakeholder juga sudah menjalankan pekerjaan sesuai dengan tugas pokok, fungsi, dan perannya. Disarankan kepada pihak puskesmas agar dapat menganalisis beban kerja pegawai, dapat melakukan analisis kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) dan menjalin kerjasama dengan mitra usaha pembangunan.   Kata Kunci                  : Stakeholder, Program Gizi Pada Balita, Puskesma

    Analisis faktor-faktor determinan Individu terhadap Tuberculosis Multidrug Resistant (TB MDR) di Provinsi Sumatera Selatan

    No full text
    Background: "Multidrug resistant tuberculosis (MDR TB) is one type of tuberculosis resistance against at least two first line tuberculosis antibiotic drugs, namely INH and Rifampicin with or not resistant to other tuberculosis antibiotic drugs". MDR TB is a health problem for the world community, including in Indonesia which causes many deaths. This study was conducted to look for the causal factors for the incidence of MDR TB.Met The design of this study used case control with mixed methods. Data collection is done by interviewing using questionnaires, directed discussions, in-depth interviews and observations. Data measurement in this study used bivariate logistic regression.Conclusion: Determinants of the incidence of MDR TB are education, history of TB disease, results of failed TB treatment, history of dropping out of treatment, TB patients with diabetes mellitus and TB patients who have difficult access to health facilities     Latar belakang: “Tuberculosis Multidrug resistant (TB MDR) adalah salah satu jenis resistensi tuberkulosis terhadap minimal dua obat antibiotik tuberkulosis garis pertama, yaitu INH dan Rifampicin  dengan atau tidak resisten terhadap obat antibiotik  tuberkulosis yang lainâ€. Penyakit TB MDR merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia, termasuk di Indonesia yang banyak menyebabkan kematian.  Kajian ini  dilakukan untuk mencari faktor-faktor penyebab  terhadap kejadian TB MDR. Metode: Desain penelitian ini menggunakan kasus kontrol dengan mixed methods. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner, diskusi terarah, wawancara mendalam dan observasi.  Pengukuran data pada kajian ini  menggunakan regresi logistik bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan  bahwa faktor-faktor determinan terhadap kejadian TB MDR adalah  pendidikan dasar (OR:13), pendidikan menengah  (OR:2,16), riwayat sakit TB (OR:8,0), hasil pengobatan TB gagal (OR:3,5), riwayat putus berobat TB (OR:5,2). Penderita TB dengan diabetes mellitus  berisiko (OR:3,0), tidak patuh makan obat OR:17), akses sulit ke fasyankes (OR: 2). Kesimpulan: Faktor-faktor determinan terhadap kejadian TB MDR adalah  pendidikan, riwayat sakit TB, hasil pengobatan TB gagal, riwayat putus berobat, penderita TB dengan diabetes mellitus  serta penderita TB yang mempunyai akses sulit ke fasyankes.

    WORKING WOMEN BEHAVIOR ON CERVICAL CANCER AS PARTICIPANTS OF NATIONAL HEALTH INSURANCE

    Get PDF
    Reproductive health maintenance too early detection as possible arises diseases. Working women as civil servants have received as participants of national health insurance improving the quality of healthy, especially low awareness of cervical cancer inspection caused many factors. Cervical cancer is cancer that has a precancerous stage it can be detected by the Pap smear method.    The objective of this research to identify factors related to the early detection behavior of cervical cancer with pap smear methods on working women as participants of national health insurance at Serang City.  The research method used is quantitative descriptive with correlation analysis. The sample population of 158 working women’s by random sampling. The instrument used questionnaires consisting of 31 questions. The statistical test used is the chi-square test. The data were analyzed by univariate, bivariates, and multivariate analysis.  There were 6 factors working woman related to early detection of cervical cancer inspection behaviour are: knowledge (p= 0.046), self-motivation (p= 0.004), age (p= 0.007), length of marriage (p= 0,000), number of children (p= 0.017), and education (p= 0,000). Knowledge, self-motivation, ages, length of the marriage, number of children and education are factors that can influence early detection of cervical cancer inspection the working women as participants of national health insurance.Pemeliharaan kesehatan reproduksi deteksi dini untuk menghindari timbul penyakit. Perempuan yang bekerja sebagai pegawai negeri telah menerima sebagai peserta asuransi kesehatan nasional yang meningkatkan kualitas kesehatan, terutama kesadaran yang rendah akan pemeriksaan kanker serviks yang disebabkan banyak faktor. Kanker serviks adalah kanker yang memiliki stadium prekanker yang dapat dideteksi dengan metode Pap smear. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker serviks dengan metode pap smear pada wanita yang bekerja sebagai peserta asuransi kesehatan nasional di Kota Serang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan analisis korelasi. Populasi sampel dari 158 wanita yang bekerja secara acak. Instrumen yang digunakan kuesioner yang terdiri dari 31 pertanyaan. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Ada 6 faktor wanita yang bekerja terkait dengan deteksi dini perilaku inspeksi kanker serviks adalah: pengetahuan (p = 0,046), motivasi diri (p = 0,004), usia (p = 0,007), lama menikah (p = 0,000), jumlah anak (p = 0,017), dan pendidikan (p = 0,000). Pengetahuan, motivasi diri, usia, lama pernikahan, jumlah anak dan pendidikan adalah faktor yang dapat memengaruhi deteksi dini inspeksi kanker serviks pada wanita yang bekerja sebagai peserta asuransi kesehatan nasional

    Kadar Hemoglobin, Depresi, dan Nyeri Memperberat Kelelahan pada Anak yang Menjalani Kemoterapi

    Get PDF
    Chemotherapy is a cancer treatment that is most widely used in children and can lead to fatigue. The prolonged and improperly treated fatigue can lead to decreased quality of  life of  the children. The objective of this study is to analyze factors associated with fatigue in children undergoing chemotherapy. The study design is cross-sectional. The sample in this study are 101 children aged 8-18 years who were undergoing chemotherapy in three public hospital in Jakarta. Sampling techniques were used consecutive sampling. The study shown  significant relationships among levels of hemoglobin (p= 0,021), pain (p= < 0,001), sleep quality (p=0,046), and depression (p= <0,001) with fatigue in children undergoing chemotherapy. The multivariate analysis shows that there are three factors that most contribute to fatigue that are hemoglobin levels, pain, and depression. Nurse need to conduct an assessment of the factors that most contribute to fatigue so that it can perform appropriate nursing interventions to reduce fatigue in children   Keywords: Chemotherapy, Children, Fatigue,Kemoterapi merupakan terapi kanker yang paling banyak digunakan pada anak. Kelelahan yang berkepanjangan dan tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup anak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan pada anak yang menjalani kemoterapi. Desain penelitian adalah cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah anak berusia 8-18 tahun yang menjalani kemoterapi berjumlah 101 orang di tiga rumah sakit pemerintah di Jakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin (p= 0,021), nyeri (p= < 0,001), kualitas tidur (p= 0,046), dan depresi (p= < 0,001) dengan kelelahan pada anak yang menjalani kemoterapi. Hasil analisis multivariat menunjukkan terdapat tiga faktor yang paling berkontribusi terhadap kelelahan, yaitu kadar hemoglobin, nyeri, dan depresi. Perawat perlu melakukan pengkajian terhadap faktor yang paling berkontribusi terhadap kelelahan sehingga dapat melakukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengurangi kelelahan pada anak. Kata Kunci : Anak, Kelelahan, Kemoterapi

    HUBUNGAN KOMPOSISI TUBUH DENGAN NILAI VOLUME OKSIGEN MAKSIMAL (VO2MAKS) PADA ATLET PRIA KELOMPOK USIA REMAJA DAN DEWASA AWAL (10-30 TAHUN): SYSTEMATIC REVIEW

    No full text
    Latar belakang: Secara fisiologis, atlet pria memiliki lemak tubuh lebih sedikit dan massa otot lebih tinggi daripada wanita. Kondisi tersebut mempermudah atlet pria mengatur konsumsi oksigen (O2) ke otot, sehingga performa maksimal dapat dicapai saat berolahraga. Kebugaran fisik atlet terkait dengan kemampuan puncak kinerja (hit peak performance). Rata-rata kemampuan puncak kinerja berada diusia < 30 tahun. Kebugaran fisik atlet dapat tergambar dari nilai vo2maks. Tujuan dari systematic review ini adalah untuk melihat hubungan antara komposisi tubuh dengan nilai vo2maks pada atlet pria kelompok usia remaja dan dewasa awal (10-30 tahun). Metode: Metode yang digunakan adalah systematic review menggunakan jurnal dari penulusuran database di ProQuest, Wiley Online Library, dan ScienceDirect. Terdapat lima artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang selanjutnya akan ditinjau kembali di artikel ini. Hasil: Komposisi tubuh yang diamati meliputi IMT, BM, LBM, BF, dan FM. Hasil didapatkan IMT berhubungan signifikan negatif dengan nilai vo2maks (r -0,42), (r -0,39), (r -0,36). BM berhubungan signifikan negatif dengan nilai vo2maks (r -0,39). LBM berhubungan signifikan positif dengan vo2maks (r  0,51), (r 0,38), dan (r 0,38). %BF berhubungan signifikan negatif  dengan vo2maks  (OR -0,804) dan (r -0,40). FM berhubungan signifikan negatif dengan nilai vo2maks (r -0,36) dan (r -0,36). Kesimpulan: Mengetahui komposisi tubuh atlet seperti IMT, LBM, BM, BF, dan FM dapat membantu menyusun program latihan yang sesuai dengan target atlet yang dibina. Target pencapaian berat badan dapat lebih efisien diatur bila sudah mengetahui bagian komposisi tubuh mana yang lebih memengaruhi berat badan atlet. Kata kunci: Vo2maks, Komposisi Tubuh, Atlet Pri

    THE DESCRIPTION OF AVAILABILITY OF CLEAN WATER IN JORONG PALUPUAH PASIA LAWEH, WEST SUMATRA

    No full text
    Era SDGs (sustainable development goals) is a continuation MDGs (MillenniumDevelopment Goals) have a common goal that is universal to maintain the balance of the three dimensions of sustainable development, one of its objectives is to ensure the availability of clean water and sustainable sanitation for everyone. The importance of the availability of clean water for people's lives can have an important influence on public health, so that the water used for daily needs must meet quality standards for environmental health quality and water health requirements. Based on information from Wali Nagari Palupuah, said that the source of water used by residents for their daily needs is physically colored, there are deposits in water reservoirs, and have never been tested for safety. This study aims to determine the description of the availability of clean water in Jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh, Agam. This research is an observational survey research with research design cross sectional. The population in this study were all households in Jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh Agam, West Sumatra. The sample of 74 KK was determined by proportionate stratified random sampling technique and data analysis was carried out by univariate. The results showed that the characteristics of respondents in jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh Agam, West Sumatra the majority aged 25-45 years with the last level of education was graduated from high school. Based on the survey results, the average number of family members in Jorong Palupuah numbered 3 people (32.4%), and the majority of respondents worked as IRT with an average family income level of Rp. 1,500,000. There are five main sources of raw water that are used as a source of clean water by the jorong community and most of the water sources used come from springs (71.8%). In addition, there are still some people who complain that water supply is not smooth (35.1%). And there are still 41.9% who say it is not easy to get clean water. The quality of clean water supplied in Jorong Palupuah is included in the good category. However, most people do not use PDAM and the water sources used are not very supportive for consumptionEra SDGs (sustainable development goals) merupakan kelanjutan program MDGs (Millenium Development Goals) memiliki tujuan bersama yang universal untuk memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan yang berkelanjutan, salah satu tujuannya adalah menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang. Pentingnya ketersediaan air bersih bagi kehidupan masyarakat dapat memberikan pengaruh penting terhadap kesehatan masyarakat,sehingga air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari kualitasnya harus memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan air. Berdasarkan informasi wali jorong palupuah mengatakan bahwa sumber air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari secara fisik berwarna, terdapat endapan pada penampungan air, dan belum pernah diuji keamananya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ketersediaanair bersih di Jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh KabupatenAgam.Penelitian ini merupakan penelitian observasional survey dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua rumah tangga yang berada di Jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sampel penelitian berjumlah 74 KK ditentukan dengan teknik proportionate stratified random sampling dan analisis data dilakukan dengan univariate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden di jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh Kabupaten Agam, Sumatera Barat mayoritas berusia 25-45 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir adalah tamat SMA. Berdasarkan hasil survey rata-rata jumlah anggota keluarga di jorong Palupuah berjumlah 3 orang (32,4%), dan mayoritas responden bekerja sebagai IRT dengan tingkat penghasilan keluarga rata-rata Rp.1.500.000.Terdapat lima sumber air baku utama yang dijadikan sebagai sumber air bersih oleh masyarakat jorong dan sebagian besar sumber air yang digunakan berasal dari sumber mata air (71.8%). Selain itu, masih ada sebagian masyarakat yang mengeluhkan penyaluran air yang tidak lancar (35,1%). Serta masih ada 41.9% yang mengatakan tidak mudah mendapatkan air bersih. Kualitas air bersih yang disalurkan di Jorong Palupuah termasuk dalam kategori baik. Namun, sebagian besar masyarakat tidak menggunakan PDAM dan sumber air yang digunakan sangat tidak menunjang untuk dikonsumsi

    Hubungan Keterpaparan Media Massa dan Peran Orangtua Terhadap Perilaku Seksual Pada Remaja di SMP APekanbaru Tahun 2017

    Get PDF
    Demographic Survey of Health Indonesia (SDKI) 2012 increase on teenagers aged 15-19 years, where young men (4.5%) and female teenagers (0.7%) they have had premarital sex. The results of research the Ministry of Communication and Informatics of the year 2014, at the age of 10-19 years with the population reach to 43.5 million obtained that consist of 52% find pornography content through advertising/ site that is not suspicious and consists of 14% access pornographic sites voluntarily. Based on the initial survey in SMP A Pekanbaru against ten people students through of 7 from 10 that found they already courtship, the most of them holding hands and embrace the type of opponents. The purpose of this research is to know the relationship between establishment of mass media and the role of parents for sexual behavior in adolescents in SMP A Pekanbaru 2017. The type of research that is analytically quantitatively with cross sectional design. Sampling techniques namely stratified random sampling that consist of 158 respondents. Based on the results of chi square test obtained there is any the relationship between establishment of the mass media and sexual behavior with  p value 0,000 < 0.05 and they were not the existence of the courtship between the role of parents and sexual behavior with p value 0,759 > 0.05. The results of the study showed the majority of respondents were establishment to the mass media that consist of (82,3%) and the majority of the parents role that consist of (91.1%) and the majority of respondents at risk from sexual behavior that consist of (27.8%). The school should work together with health agencies in provide information about reproductive health and work together with the BKKBN in create a program of the Center of Information and Counselling Adolescents (PIK-R).Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 mengalami peningkatan pada remaja berusia 15-19 tahun, dimana remaja laki-laki (4,5%) dan remaja perempuan (0,7%) pernah melakukan seks pranikah. Hasil penelitian Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2014, pada usia 10-19 tahun dengan populasi 43,5 juta didapatkan hasil 52% menemukan konten pornografi melalui iklan/ situs yang tidak mencurigakan dan 14% mengakses situs porno secara sukarela. Berdasarkan survei awal di SMP A Pekanbaru terhadap 10 orang pelajar didapatkan hasil 7 dari 10 mereka sudah berpacaran, sering berpegangan tangan dan berpelukan dengan lawan jenis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan keterpaparan media massa dan peran orangtua terhadap perilaku seksual pada remaja di SMP A Pekanbaru tahun 2017. Jenis penelitian yaitu analitik kuantitatif, dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel yaitu stratified random sampling sebanyak 158 responden. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil adanya hubungan antara keterpaparan media massa dan perilaku seksual dengan  p value 0,000 < 0,05 dan tidak adanya hubungan antara peran orangtua dan perilaku seksual dengan p value 0,759 > 0,05. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden terpapar media massa (82,3%) dan mayoritas orangtua berperan (91,1%) serta sebagian besar responden beresiko terhadap perilaku seksual (27,8%). Sebaiknya pihak sekolah bekerjasama dengan instansi kesehatan untuk memberikan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi dan bekerjasama dengan BKKBN untuk membuat suatu program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R)

    Hubungan Pengetahuan dan Pemakaian Alat Pelindung Diri dengan Kejadian Dermatitis Kontak pada Penyemprot Pestisida

    Get PDF
    Taylor et al., 2008 reported that 80% of occupational dermatoses were contact dermatitis. One of the chemicals that can cause skin disorders is pesticides that are often used in the community, especially oil palm plantation companies (PKS). The use of personal protective equipment (PPE) is one risk control for contact dermatitis in workers. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and behavior of PPE usage with contact dermatitis in oil palm pesticide workers. The research design used was cross-sectional using a total sampling technique that is all workers giving oil palm pesticides in one PKS company in a district of 37 people. The variables used were contact dermatitis obtained from workers' medical records, knowledge using questionnaire instruments, and PPE usage behavior through observation for 3 days with random time. The results showed that 62.2% of workers giving oil pesticides had contact dermatitis, there was a significant relationship between the knowledge of the use of PPE and contact dermatitis (p value = 0.001) and there was a significant relationship between the behavior of PPE use with contact dermatitis (p value = 0,000) giver of palm pesticides. To reduce the occurrence of contact dermatitis can be done by increasing the knowledge and behavior of using PPE. Keywords : Contact dermatitis, pesticide, personnel protective equipment, palm oilTaylor et al, 2008 melaporkan bahwa 80% penyakit kulit akibat kerja adalah dermatitis kontak. Bahan kimia yang dapat menyebabkan gangguan kulit salah satunya adalah pestisida yang sering digunakan di masyarakat, khususnya perusahaan perkebunan kelapa sawit (PKS). Penggunaan alat pelindung diri (APD) merupakan salah satu pengendalian risiko terjadinya dermatitis kontak pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku pemakaian APD dengan dermatitis kontak pada pekerja pemberi pestisida sawit. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang menggunakan teknik total sampling yaitu seluruh pekerja pemberi pestisida sawit di salah satu perusahaan PKS di suatu kecamatan yang berjumlah 37 orang. Variabel yang digunakan adalah dermatitis kontak yang didapatkan dari data rekam medis pekerja, pengetahuan menggunakan instrumen kuesioner, serta perilaku pemakaian APD melalui observasi selama 3 hari dengan waktu yang random. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62.2% pekerja pemberi pestisida sawit mengalami dermatitis kontak, terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan pemakaian APD dengan dermatitis kontak (p value = 0,001) dan ada hubungan bermakna antara perilaku pemakaian APD dengan dermatitis kontak (p value = 0,000) pada pekerja pemberi pestisida sawit. Untuk mengurangi terjadinya dermatitis kontak dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan perilaku pemakaian APD. Kata kunci : Dermatitis kontak, pestisida, alat pelindung diri, saw

    444

    full texts

    548

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Komunitas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇