Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Perbedaan Efektivitas Penggunaan Jenis Media Edukasi Tentang Anemia Terhadap Pengetahuan, Sikap, Efikasi Diri Remaja Putri Desa Sirnagalih
Efforts to prevent anemia in adolescent girls are very important to prevent the risk of abortion, low birth weight infant, the uterus cannot contract properly, bleeding after delivery which results in death. Furthermore, one of the efforts to prevent anemia in the field of health promotion is by using learning media as a form of educational activity regards to anemia. The aim of this study is that to determine the differences in the effectiveness of the use of educational media about anemia on the knowledge, attitudes, and self-efficacy of adolescent girls in Sirnagalih village. Moreover, this type of this study was quantitative with a quasi-experimental design – non-equivalent control design. The numbers of samples in this study were 60 people obtained by purposive sampling technique. The instruments used were pretest and posttest questionnaires. Meanwhile, the analysis used in this study was the Wilcoxon and Mann Whitney test. The results of the study after health education are conducted show that there is a difference in the level of knowledge, attitudes and self-efficacy of adolescents girls about anemia (p<0.005). The conclusion of the study shows that video media is more effective to be used as an educational medium about anemia for adolescents girls since based on statistical tests, the average value of video media is higher than the average value of poster media.Upaya pencegahan anemia pada remaja putri menjadi sangat penting untuk mencegah resiko abortus, melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik, perdarahan setelah persalinan yang berakibat dengan kematian. Salah satu upaya pencegahan anemia dalam bidang promosi kesehatan yaitu dengan menggunakan media pembelajaran sebagai bentuk kegiatan edukasi tentang anemia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efektivitas penggunaan jenis media edukasi tentang anemia terhadap pengetahuan, sikap, efikasi diri remaja putri desa Sirnagalih. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan desain quasi eksperimen – non equivalent control desain. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pretest dan posttest. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil penelitian setelah dilakukan edukasi kesehatan terdapat adanya perbedaan tingkat pengetahuan, sikap dan efikasi diri remaja tentang anemia (p<0.005). Simpulan penelitian menunjukkan media video lebih efektif untuk digunakan sebagai media edukasi tentang anemia kepada remaja putri karena berdasarkan uji statistik didapatkan nilai rata-rata media video lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata media poster
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Masyarakat dalam Penggunaan Obat Golongan Antibiotik
One of the diseases that is a problem in developing countries is an infectious disease. Along with this, the use of antibiotics cannot be avoided as drugs that are important in the treatment of infections caused by bacteria. On the other hand, the use of antibiotics without a doctor's prescription can lead to antibiotic resistance. Therefore, we need an education and optimization of the community's ability with regard to drug use techniques. The purpose of this study was to analyze the level of public knowledge of using antibiotic class drugs in North Poleang District, Southeast Sulawesi Province. Thus, people need to understand that in health services, antibiotics must be used appropriately and rationally, in order to achieve an effective treatment effect. The research was conducted in North Poleang Subdistrict for two months, from January 2021 to February 2021. This was a quasi experimental study with a one group pre-test or post test study design. The results showed that there was no significant relationship between age and public knowledge in the use of antibiotic class drugs in Poleang Utara District, Bombana Regency the p-value 1,000, there was a significant relationship between the level of education and public knowledge on the use of antibiotic class drugs in Poleang Utara District, Bombana Regency, the p-value = 0,000. There is no a significant relationship between work and public knowledge in the use of antibiotic class drugs in Poleang Utara District, Bombana Regency, the p-value = 0,218, there is a significant effect between counseling on public knowledge in the use of antibiotic class drugs in Poleang Utara District, Bombana Regency, the p-value = 0,000.Salah satu penyakit yang menjadi masalah di negara berkembang adalah penyakit infeksi. Seiring dengan hal tersebut penggunaan antibiotik tidak dapat dihindarkan sebagai obat yang penting dalam pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Disisi lain penggunaaan antibiotik yang tanpa disertai dengan resep dokter dapat memicu terjadinya resistensi antibiotik. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu edukasi dan optimalisasi kemampuan masyarakat berkaitan dengan teknik penggunaan obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan tingkat pengetahuan masyarakat dalam penggunaan obat golongan antibiotik di Kecamatan Poleang Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan demikian, masyarakat perlu memahami bahwa dalam pelayanan kesehatan, antibiotik harus digunakan secara tepat dan rasional, agar mencapai efek pengobatan yang efektif. Penelitian dilakukan di Kecamatan Poleang Utara selama dua bulan, yakni mulai bulan Januari 2021 sampai Februari 2021. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan desain studi one group pre-test/post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia terhadap pengetahuan masyarakat dalam penggunaan obat golongan antibiotik di Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana p-value = 1,000, ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pengetahuan masyarakat dalam penggunaan obat golongan antibiotik di Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana p-value = 0,000, tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan terhadap pengetahuan masyarakat dalam penggunaan obat golongan antibiotik di Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana p-value = 0,218, ada pengaruh yang signifikan antara penyuluhan terhadap pengetahuan masyarakat dalam penggunaan obat golongan antibiotik di Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana p-value = 0,00
Efektivitas Acceptance and Commitment Therapy Terhadap Resiliensi Korban Bencana Alam yang Mengalami Kecacatan Fisik
Being physically disabled due to a natural disaster is a traumatic experience in a person's life that can make a person feel slumped and helpless in his life. It takes a psychotherapeutic intervention such as Acceptance and Commitment Therapy (ACT) to foster resilience of victims of natural disasters who have physical disabilities in order to be able to bounce back, be productive, and be able to play their role again in society. The purpose of this study was to analyze the effect of ACT therapy on increasing the resilience of victims of natural disasters in Sigi who experienced physical disabilities. The research method used is quasy experiment with a one group pre-post test approach. The number of samples in this study was 22 respondents collected using purposive sampling techniques. This research was conducted in August-September 2022 in Sigi Regency, Central Sulawesi Province. The statistical test used is the Wilcoxon test. The results of this study showed that there was an effect of ACT therapy on increasing respondents' resilience (p=0000). In addition, this study showed that after being given ACT therapy, most respondents' resilience was in the high category (59%). This study indicates that a person who experiences a traumatic event such as a physical disability due to a natural disaster will face a difficult time in life, psychological vulnerability and the ability to cultivate low resilience. Therefore, it is important for health providers to pay attention to psychological aspects, as well as provide psychotherapeutic interventions such as ACT to victims of natural disasters, especially those who experience physical disabilities in the rehabilitative phase so that they can accept themselves, be committed, productive, and return to play their role in societyMenjadi cacat fisik akibat bencana alam merupakan pengalaman traumatis dalam hidup seseorang yang dapat membuat seseorang merasa terpuruk dan tidak berdaya dalam hidupnya. Dibutuhkan sebuah intervensi psikoterapi seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk menumbuhkan resiliensi korban bencana alam yang mengalami kecacatan fisik agar dapat bangkit kembali, produktif, dan mampu memainkan kembali perannya di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi ACT terhadap peningkatan resiliensi korban bencana alam di Sigi yang mengalami kecacatan fisik. Metode penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan pendekatan one group pre-post-test. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 22 responden yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Agustus-September 2022 di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terapi ACT terhadap peningkatkan resiliensi responden (p=0000). Selain itu, penelitian ini menunjukkan setelah diberikan terapi ACT, sebagian besar resiliensi responden berada pada kategori tinggi (59%). Penelitian ini mengindikasikan bahwa seseorang yang mengalami kejadian traumatis seperti cacat fisik akibat bencana alam akan menghadapi masa sulit dalam hidup, kerentanan psikologis dan kemampuan menumbuhkan resiliensi yang rendah. Oleh sebab itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk memberikan intervensi ACT kepada korban bencana alam terutama mereka yang mengalami kecacatan fisik, sebagai bentuk upaya pemulihan, penguatan dan rehabilitasi psikologi agar mereka dapat menerima dirinya, berkomitmen, produktif, dan kembali memainkan perannya di masyarakat
Analisis Manajemen Pemeliharaan Sarana dan Prasarana di Rumah Sakit Umum Daerah Rokan Hulu
Hospital Infrastructure Maintenance Installation is a functional unit to carry out activities, so that the facilities that support health services in the hospital, namely facilities, infrastructure and equipment are always in a functioning state and fit for use. Management of facilities and infrastructure still lacks of manpower. The placement of human resources is not right, there is still a lack of training on personnel and the maximum budget is not yet available. The purpose of this study was to determine the system for maintaining the facilities and infrastructure in RSUD Rokan Hulu, Riau Province. This research is a descriptive analysis with qualitative methods. The number of informants in this study was 9 people consisting of 4 main informants and 5 supporting informants. The instrument used by conducting in-depth interviews, observation and document review. The results of this study indicate that the implementation of the hospital maintenance management system has not been carried out properly, due to limited technicians, lack of technical and managerial training, funds are still not maximally used, infrastructure facilities still do not meet the needs for space, function and area, SPO already exists but still incomplete. Inadequate planning, organization and supervision, especially the preventive maintenance system, are not yet running well. It is hoped that hospital management can improve the system for optimal maintenance of hospital infrastructure , it is necessary to carry out technical and managerial training, complete adequate preventive and corrective maintenance facilities, increase the allocation of maintenance funds, carry out routine and scheduled preventive maintenance and complete documents in the form of policies hospital maintenance guides and guidelinesInstalasi Pemeliharaan Sarana prasaranaRumah Sakit adalah suatu unit fungsional untuk melaksanakan kegiatan, agar fasilitas yang menunjang pelayanan kesehatan dirumah sakit yaitu sarana, prasarana dan peralatan selalu berada dalam keadaan berfungsi dan layak pakai. pengelolaan sarana dan prasarana masih kekurangan tenaga. Penempatan sumber daya manusia belum tepat, masih kurangnya pelatihan mengenai tenaga serta belum tersedianya anggaran biaya secara maksimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sistem penyelenggaraan pemeliharaan sarana dan prasarana di RSUD Rokan Hulu Provinsi Riau. Penelitian ini bersifat analisis deskriptif dengan metode kualitatif.Informan penelitian ini berjumlah 9orang yang terdiri dari4 orang informan utama dan 5 orang informan pendukung. Instrumen yang digunakan dengan cara melakukan wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan sistem penyelenggaraanpemeliharaan rumah sakit belum terlaksana dengan semestinya, disebabkan oleh terbatasnya tenaga teknisi, kurangnya pelatihan teknis dan manajerial, dana masih belum maksimal penggunaannya, sarana parasarana masih belum memenuhi kebutuhan ruang, fungsi dan luasan, SPO sudah ada namun masih belum lengkap, Perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan yang kurang terlaksana dengan baik terutama sistem pemeliharaan preventif belum berjalan dengan baik.Diharapkan manajemen rumah sakit agar dapat meningkatkan sistem penyelenggaraan pemeliharaan sarana prasarana rumah sakit secara optimal, perlu melakukan pelatihan teknis dan manajerial, melengkapi fasilitas pemeliharaan preventif dan korektif yang memadai, meningkatkan alokasi dana pemeliharaan,melaksanakan pemeliharaan preventif secara rutin dan terjadwal serta melengkapi dokumen berupa kebijakan, panduan dan pedoman pemeliharaan rumah saki
Determinan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (Kek) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Siak Hulu III Kabupaten Kampar
Chronic Energy Deficiency (CED) pregnant women is a situation where a pregnant woman experiences nutritional deficiencies (calories and protein) that have long or chronic competition. In 2018, national the prevalence of CED in pregnant women is 17,3%, and the Siak Health Center prevalence of CED deficiency in pregnant women was 21,4%. The purpose of this research was to determine the factors that influence the CED in pregnant women in the working area of the Siak Hulu III Health Center of Kampar district. The method of this research was a descriptive quantitative analytical study with a cross-sectional design. The sample was 70 respondents in the working area Puskesmas Siak Hulu III. The sampling technique was consecutive sampling with the dependent variable, namely pregnant women with CED if the upper circumference <23,5 cm, and the dependent variable was knowledge, infectious disease, family income, parity, and hyperemesis gravidarum. The data analysis was a bivariate analysis with the Chi-Square test. The instrument used questionnaires and data processing using computerized. The results showed a correlation between knowledge on pregnant women CED (p-value 0,158 OR = 2,602), the influence of infectious diseases on pregnant women CED (p-value 0,003 OR = 5,881), family income (p-value 0,025 OR = 0,231), parity) (p-value 0,025 OR = 4,333), and hyperemesis gravidarum (p-value 0,017 OR = 3,934). It can be concluded that there is an influence between infectious disease, family income, parity, hyperemesis gravidarum, and health workers, in particular, are expected to be able to provide information.  Secara nasional Prevalensi Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil sebesar 17,3%, dan di Puskesmas Siak Hulu III Prevalensi KEK pada ibu hamil sebesar 21,4% di tahun 2018. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Siak Hulu III Kabupaten Kampar Tahun 2019. Desain penelitian adalah cross sectional. Variabel penelitian ini ada dua yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Variable terikat adalah ibu hami KEK dengan sampel penelitian ini sebanyak 70 responden yang berada di wilayah kerja Puskesmas Siak Hulu III. Teknik pengambilan sampel ini adalah Consecutive sampling dengan variabel terikat yaitu Ibu hamil dengan KEK jika dengan LILA (Lingkar Lengan Atas) < 23,5 cm dan variabel bebas yaitu pengetahuan, penyakit infeksi, pendapatan keluarga, paritas dan hiperemesis gravidarum.  Analisis yang digunakan ialah analisis bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan pengetahuan dengan ibu hamil KEK (p value 0,158 OR = 2,602), terdapat hubungan antara penyakit infeksi (p value 0,003 nilai OR = 5,881), pendapatan keluarga (p value 0,025   OR = 0,231), paritas (p value 0,025 OR = 4,333), dan hyperemesis gravidarum (p value 0,017 OR = 3,934). Dapat di simpulkan bahwa ada hubungan antara penyakit infeksi, pendapatan keluarga, paritas, hyperemesis gravidarum dan diharapkan petugas kesehatan khususnya agar dapat memberikan informasi dan pendidikan kepada ibu tentang pentingnya menjaga pola makan pada saat hamil
Pengaruh Health Coaching terhadap Peningkatan Perilaku Pencegahan Tuberkulosis di Kabupaten Tegal
Tuberculosis is the deadliest infectious disease in the world. The most prevalence is in Asia and Africa. The study aimed to find out the effect of health coaching on tuberculosis prevention behaviors for patients diagnosed with the disease. The research used Quasy Experiment pre-posttest with control group on 68 respondents consisted of treatment and control group. It was started by having validity and reliability test of research questionnaires, providing health coaching as one of the health promotion strategies in nursing divided into 4 sessions, performing univariate test to describe the research variables and bivariate test; independent t-test and pair t-test. The results independent t test showed that mean of tuberculosis behavior of intervention group is higher more than 8,88 control group. The effect of health coaching was a significant difference in tuberculosis prevention behaviors with p value = 0,000.The coaching presented to patients with tuberculosis included physical prevention behaviors and improving body endurance by getting stress management. To sum up, health coaching can increase tuberculosis prevention behaviors significantly for patients with tuberculosis who are being treated.Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi nomor satu yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia. Prevalensi penyakit tuberkulosis terbanyak berada di wilayah Asia dan Afrika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari health coaching terhadap perilaku pencegahan tuberkulosis dari pasien yang terdiagnosa tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment pre-post test with control grup pada 68 responden yang terdiri dari kelompok perlakuan dan kontrol. Tahapan metode penelitian ini dimulai dari uji validitas dan realiabilitas kuesioner penelitian. Selanjutnya, kelompok intervensi akan diberikan health coaching sebagai salah satu strategi promosi kesehatan dalam keperawatan yang terbagi menjadi 4 sesi. Selanjutnya dilakukan uji univariat untuk mendeskripsikan variabel penelitian. Selain itu juga dilakukan uji bivariat yang terdiri dari independen t-test  dan pair t-test. Hasil independent t test menunjukkan rerata perilaku post intevention pencegahan tuberkulosis pada kelompok perlakuan lebih tinggi 8,88 dibandingkan dengan kelompok kontrol. Adanya pengaruh health coaching menunjukkan pengaruh yang bermakna untuk meningkatkan perilaku pencegahan tuberkulosis sesuai dari hasil pair t test dengan p value 0,000. Proses health coaching yang diberikan pada pasien tuberkulosis meliputi perilaku pencegahan secara fisik dan peningkatan daya tahan tubuh dengan menggunakan manajemen stress karena proses penerimaan pasien dalam menerima perubahan kondisi fisiknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa health coaching dapat meningkatkan perilaku pencegahan tuberkulosis secara bermakna pada pasien tuberkulosis yang sedang mengalami pengobatan
Demam Berdarah Dengue dan Hubungannya Dengan Faktor Cuaca di Kota Bandar Lampung Tahun 2009-2018
Background: DHF is the most serious vector-borne disease in Bandar Lampung. Dengue virus and its vector Aedes aegypti are sensitive to weather changes, especially rainfall, temperature, and humidity.
Objective: This study aims to determine the relationship between weather factors and dengue cases using 2009-2018.
Methods: The data were obtained from reports on the number of monthly cases of the Bandar Lampung City Health Office and daily climate reports from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency, converted into monthly averages. The SPSS 24.0 was used at all levels of analysis (CL = 95%), including Pearson Correlation, Spearman rank Correlation, and Multiple Linear Regression.
Results: We found the highest cases of DHF are in January, February, and March. Rainfall has a positive correlation with the number of dengue cases in 2011 (p-value = 0.012) and 2015 (p-value = 0.020). Each year, the rainy period precedes the start of the increase in dengue cases. Temperature has a negative correlation in 2014 (p-value = 0.036). Humidity has a positive correlation in 2014 (p-value = 0.024), and 2015 (p-value = 0.018). Rainfall has the greatest influence on DHF cases in Bandar Lampung City (36.9%).
Conclusion: These findings provide empirical evidence regarding the relationship between weather factors and DHF transmission and are expected to provide a scientific basis for the prevention and control of DHF.Latar belakang: DBD adalah penyakit tular vektor yang paling serius di Kota Bandar Lampung. Virus dengue dan vektornya Aedes aegypti sensitif terhadap perubahan cuaca, khususnya curah hujan, temperatur dan kelembapan.
Tujuan: Penelitian bertujuan mengetahui hubungan faktor cuaca dengan kasus DBD menggunakan periode tahun 2009-2018.
Metode: Data diperoleh dari laporan jumlah kasus bulanan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, dan iklim harian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang dikonversi menjadi rata-rata bulanan. Perangkat SPSS 24.0 digunakan pada semua tingkatan analisis (CL=95%), termasuk Pearson Correlation, Spearman rank Correlation, dan Multiple Linier Regression.
Hasil: Kami menemukan, kasus DBD tertinggi pada bulan Januari, Februari, dan Maret. Curah hujan berkorelasi positif dengan jumlah kasus DBD pada tahun 2011 (p-value=0,012), dan 2015 (p-value=0,020). Setiap tahunnya, periode hujan mendahului dimulainya waktu peningkatan kasus DBD. Temperatur berkorelasi negatif pada tahun 2014 (p-value=0,036). Kelembapan berkorelasi positif pada tahun 2014 (p-value=0,024), dan 2015 (p-value=0,018). Curah hujan memberikan pengaruh terbesar dalam hubungan dengan kasus DBD di Kota Bandar Lampung (36,9%).
Kesimpulan: Temuan ini memberikan bukti empirik mengenai hubungan faktor cuaca dengan penularan DBD, dan diharapkan dapat memberikan landasan ilmiah untuk pencegahan dan penanggulangan DBD
sikap pasien rawat jalan dalam pemanfaatan pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Di Rumah Sakit Petala Bumi Pekanbaru Provinsi Riau
The hospital has a very large role as a provider of health services to BPJS Health participants. The implementation of the BPJS Health program in the Hospital is inseparable from various problems such as BPJS participants who do not understand their rights and obligations as a result of lack of knowledge, community work related to BPJS Health, lack of exposure to information related to BPJS health to the attitudes and behavior of health workers towards patients. The purpose of the study was to find out what factors were related to the attitude of utilizing BPJS health services to outpatients in Petala Bumi Hospital, Riau Province. This was a quantitative analytic research with a cross-sectional design. Data analysis was carried out by univariate, bivariate, and multivariate using multiple logistic regression tests. The results showed that the variables significantly related to the attitudes of outpatients in the utilization of the Social Security Organizing Agency (BPJS) services namely knowledge (POR: 3.99; 95% CI; 1, 782-8,935), education (POR: 16, 67; 95% CI; 7,206-38,575) and exposure to information POR: 2.65; 95% CI; 1,228-5,704). It is recommended for health workers to further enhance their role in providing health promotion on health BPJS through integrated counseling by establishing cross-program and cross-sectoral cooperation including through integrated socialization from various parties involving ulemas, and community leaders through activities carried out by the community.Rumah Sakit memiliki peran yang sangat besar sebagai penyedia layanan kesehatan kesehatan kepada peserta BPJS Kesehatan.. Pelaksanaan program BPJS Kesehatan di Rumah Sakit tidak terlepas dari beragam permasalahan seperti peserta BPJS yang tidak memahami dengan baik hak dan kewajibannya sebagai dampak kurangnya pengetahuan, pekerjaan masyarakat terkait BPJS Kesehatan, kurangnya terpapar informasi terkait BPJS kesehatan hingga sikap dan perilaku petugas kesehatan terhadap pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan sikap pemanfaatan pelayanan BPJS kesehatanpada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Petala Bumi Provinsi Riau. Jenis penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan secara signifikan dengan sikap pasien rawat jalan dalam pemanfaatan pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yaitu pengetahuan (POR:3,99 ; CI 95%;1,,782-8,935), pendidikan (POR:16,67 ; CI 95%;7,206-38.575) dan keterpaparan informasi POR:2,65 ; CI 95%;1,228-5,704). Disarankan kepada tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan peran dalam pemberian promosi kesehatan tentang BPJS kesehatan melalui penyuluhan terpadu dengan menjalin kerjasama lintas program dan lintas sektoral diantaranya melalui sosialisasi terpadu dari berbagai pihak dengan melibatkan ulama, dan tokoh masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat
Efektifitas Media Sosial Youtube Modifikasi Teka Teki Silang Dalam Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Siswa - Siswi SDN 015 Sungai Sirih
The majority of Indonesian suffers from oral and dental disease specifically dental supporting tissue and tooth caries due to the neglect of oral hygiene. Based on data about the number of patched tooth done to elementary student of 015 Sungai Sirih there are 61% caries index by Public Health Center of Sungai Sirih. Behavior and formal education plays important role since oral and dental health is affected as the result of certain behavior. The purpose of this research is to know the effectiveness of youtube modification in crossword puzzle to student's knowledge in Elementary School 015 Sungai Sirih. This research is quantitative based using Quasi Experiment - Nonequivalent Control Design. It is consisted of 54 students of fifth grade. Respondents fill out questionnaires, pre-test, and post-test, and collected as primary data. Analysis applied in this research is Wilcoxon and Kruskal Wallis analysis. In terms of knowledge, with original crossword puzzle it has flattened a mean is 24.72 Mean. However, youtube modified crossword puzzle the number increased to mean is 79.94. From this study it can be concluded that youtube modified crossword puzzle is considered to be more effective attempt to enhance student's knowledge about oral and dental health in Elementary Schools 015 Sungai Sirih with category knowledge increase to 100 % Conclusion is youtube modified crossword puzzle giving effect to information oral health.Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat Indonesia adalah penyakit jaringan penyangga gigi dan karies gigi. Sumber kedua penyakit tersebut merupakan akibat dari terabaikannya kebersihan gigi dan mulut. Berdasarkan data dari UPTD Kesehatan Puskesmas Sungai bahwa masih sangat rendahnya pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak – anak. Hubungan perilaku dengan pendidikan (pengetahuan) sekolah sangatlah erat, karena kesehatan gigi dan mulut dapat dipengaruhi oleh perilaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas modifikasi Youtube dengan teka - teki silang tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap tingkat pengetahuan siswa - siswi SDN 015 Sungai Sirih. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain Quasi Eksperimen – Nonequivalent Control Design. Sampel pada penelitian ini adalah siswa – siswi kelas V Sekolah Dasar Negeri 015 Sungai Sirih yang berjumlah 54 orang. Data yang dikumpulkan data primer dari pengisian kuesioner pretest danposttest oleh responden. Analisis yang digunakan adalah Uji Wilcoxon dan Kruskal-wallis. Hasil penelitian ini yaitu pengetahuan siswa – siswi yang diberikan edukasi menggunakan Google Form memperoleh rata – rata mean yaitu 38,89 sedangkan yang diberikan edukasi teka – teki silang modifikasi Youtube memperoleh rata – rata yaitu 79,94. Media teka – teki silang modifikasi Youtube telah terbukti dalam meningkatkan pengetahuan siswa – siswi terhadap kesehatan gigi dan mulut di Sekolah Dasar Negeri 015 Sungai Sirih dengan kategori tingkat pengetahuan meningkat 100%. Kesimpulan media sosial Youtubemodifikasi teka teki silang sangat efektif pada penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Peneliti menyarankan untuk puskesmas dan peneliti selanjutnya untuk menggunakan strategi lain dalam penyuluhan kesehatan gigi mulut
Peran Pengawas Menelan Obat dalam Penanggulangan Tuberkulosis di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru
Tuberculosis (TB) is one of the 10 infectious diseases that can cause mortality worldwide. Geographically, the highest TB cases occurred in Southeast Asia (44%). Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Indonesia is among the 3 countries that account for two-thirds of TB cases in the world is 8%. The case finding rate in Riau Province was only 39% and in Pekanbaru City it was only 37.5%. The cure rate for TB patients in Indonesia reaches 73.2% and in Pekanbaru it is only 59.9%, which is still below the Ministry of Health's target of 85%. Family support is very important to observe patient reports for regular medication during the treatment period until it recovers. This study aims to see the role of family support in TB control efforts. Type of qualitative research. The research subjects were 1 holder of the TB Health Office program, 1 staff, 2 Puskesmas program holders, 2 family. Data collection was carried out by interview and document search. The results showed that the family support involved was the patient's family. Health workers provide health information to family related to modes of transmission, how to take TB drugs, schedule patient re-visits. The role of family support is still needed to be improved to support TB treatment. It is recommended to use information systems such as SMS, Web or YouTube to increase the role of family support and patient compliance to follow TB treatment procedures.
Keywords: Family support, drug, TuberculosisTuberkulosis (TB) termasuk 10 penyakit menular yang dapat menyebabkan angka kematian di seluruh dunia. Secara geografis, kasus TB tertinggi terjadi di Asia Tenggara (44%). Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Indonesia termasuk 3 negara yang menyumbang dua pertiga kasus TB di dunia sebesar 8%. Angka penemuan kasus di Provinsi Riau hanya 39% dan di Kota Pekanbaru hanya 37,5%. Angka kesembuhan pasien TB di Indonesia mencapai 73,2% dan di Pekanbaru hanya 59,9%, yang mana masih dibawah target Kementrian Kesehatan yaitu 85%. Pengawas menelan obat (PMO) sangat diperlukan dalam mengawasi pasien untuk teratur menelan obat selama dalam masa pengobatan hingga sembuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran PMO dalam upaya penanggulangan TB. Jenis penelitian yaitu kualitatif. Subjek penelitian yaitu 1 orang pemegang program TB Dinas Kesehatan, 1 orang staff, 2 orang pemegang program Puskesmas, 2 orang PMO. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan penelusuran dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMO yang dilibatkan adalah keluarga pasien. Petugas kesehatan memberikan informasi kesehatan kepada PMO terkait cara penularan, cara mengkonsumsi obat TB, jadwal kunjungan ulang pasien. Peran PMO masih perlu peningkatan untuk menunjang pengobatan TB. Disarankan perlu pemanfaatan sistem informasi seperti SMS, Web atau You tube dalam meningkatkan peran PMO dan ketaataan pasien untuk mengikuti prosedur pengobatan TB.
Kata kunci : Pengawas Menelan Obat,Tuberkulosis